1
jurnal desain komunikasi visual fakultas seni dan desain
–
unm.
ISSN: 2407
–
6066. Volume: 1. nomor:3 - 2014
1 PENERBIT
Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar
PENASEHAT
Rektor Universitas Negeri Makassar Dekan Fakultas Seni dan Desain
Prof.H. Sofyan Salam, Ph.D
PENANGGUNG JAWAB Ka. Prodi Desain Komunikasi Visual
DEWAN REDAKSI Abd. Azis Said, S.Sn., M.Sn Drs. Alimuddin Tjatjo, M.Sn
Drs. Sukarman, M.Sn
REDAKSI PELAKSANA Ketua Dian Cahyadi, M.Ds
Penyunting Pelaksana Irfan Kadir, S.Pd., M.Ds Drs. Aswar, M,.Ds Drs. Muh. Saleh Husain, M.Si
Ir. Agussalim Djirong, MT Irfan Arifin, S.Pd.,M.Pd Nurabdiansyah,S.Pd. M.Sn Baso Indra Wijaya Aziz, S.Sn.M.Sn.
Faisal. S.Pd.M.Pd.
Reviewer Prof.H. Sofyan Salam, Ph.D Abd. Azis Said, S.Sn., M.Sn Drs. Alimuddin Tjatjo, M.Sn
Drs. Sukarman, M.Sn Dian Cahyadi, M.Ds
TATA USAHA Andi Riris Noviarti, S.Ds.
PERANCANG GRAFIS Muhammad Sukardi M., S.Ds
DESAIN SAMPUL Dian Cahyadi, M.Ds.
Alamat Redaksi/ Tata Usaha: Program Studi Desain Komunikasi Visual
Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar Telp.(0411) 888524 Fax.(0411) 888524
Kampus Fakultas Seni dan Desain Jl. Daeng Tata, Parang Tambung
Makassar Sulawesi Selatan e-mail:
[email protected] web: http://jurnaldeskomvisunm.blogspot.com/
Redaksi menerima tulisan dan berhak mengedit serta mengubah sesuai dengan misi dan visi jurnal.
Terbit 3 kali dalam setahun @ Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
1 Daftar Isi
Redaksi i
Daftar Isi ii
Pengembangan Materi Ajar Mata Kuliah Menggambar I
pada Program Studi Desain Komunikasi Visual FSD UNM. Alimuddin. 1 – 16
Perancangan Container Box Pa’gandeng Gadde Juku’, Dian Cahyadi 17 – 29
Peningkatan Kompetensi Desain Produksi Kriya Keramik pada siswa kelas x Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Sombaopu Gowa (Studi tindakan dengan menggunakan media
pembelajaran berbasis computer). Aswar 30 – 35
Perkembangan Seni Rupa dan Desain Era Renaissans, Irfan 36 – 45
Adaptasi Konten Lokal dalam Metode Ambient
pada Desain Media Promosi, Dian Cahyadi 46 - 52
1 PENGEMBANGAN MATERI AJAR MATA KULIAH MENGGAMBAR I
PADA PROGRAM STUDI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL FSD UNM1
Alimuddin2
Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar Jln. Daeng Tata, Malengkeri, Parang Tambung, Makasar
Abstract Develompment of The Drawing I Subject Teaching Program in Visual Communication Design Studi FSD UNM. This study aims to (1) develop formulations of learning objectives as the translation competencies Drawing I, (2) determine the systematic framework and prepare to shine teaching Drawing I courses are competency based and (3) describe students' perceptions of teaching materials serving the eye Drawing I is structured to be a reference to the final revision. This research was conducted through the development of the field test, which was to develop a script, the script validates and implement teaching materials through testing.
The results showed that: (1) teaching materials arranged manuscript is divided into 5 parts and has been validated by expert content and media experts, namely the definition of drawing, visual elements in the drawing, important aspects in the drawing, the general procedure to draw objects and natural surroundings, and some examples of images of objects and natural surroundings; (2) the perception of the students stated that the presence of manuscript material of Drawing I met 85% said very important and 15% important and welcomed and deemed to be a reference in learning; (3) the script is declared effective and practically demonstrated significantly with an increase in the mean score of 26.67 on a small group and an increase in the mean score of 21.25 in the large group, too (4) students' perceptions of the effectiveness and practicality showed 20% said it is easy to understand, 45% easy to understand, and 35% said fairly easy to understand.
Keyword: develompment studies,drawing teaching
Abstrak Pengembangan Materi Ajar Mata Kuliah Menggambar I pada Program Studi Desain Komunikasi Visual FSD UNM. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menyusun rumusan-rumusan tujuan pembelajaran sebagai penjabaran kompetensi mata kuliah Menggambar I, (2) menentukan kerangka sistematika dan menyusun matari ajar mata kuliah Menggambar I yang berbasis kompetensi dan (3) mendeskripsikan persepsi mahasiswa terhadap sajian materi ajar mata kuliah Menggambar I yang disusun untuk dijadikan acuan pada revisi akhir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) naskah materi ajar yang tersusun terbagi ke dalam 5 bagian dan telah tervalidasi oleh ahli materi dan ahli media, yakni definisi menggambar, unsur-unsur rupa dalam menggambar, aspek-aspek penting dalam menggambar, prosedur umum menggambar benda dan alam sekitar, dan beberapa contoh gambar benda dan alam sekitar; (2) persepsi mahasiswa menyatakan bahwa kehadiran naskah materi ajar Menggambar I terpenuhi 85% menyatakan sangat penting dan 15% penting serta menyambut baik dan dipandang dapat menjadi acuan dalam pembelajarannya; (3) naskah dinyatakan efektif dan praktis ditunjukkan secara signifikan dengan skor peningkatan rerata 26,67 pada kelompok kecil dan terjadi peningkatan skor rerata 21,25 pada kelompok besar, juga (4) persepsi mahasiswa terhadap efektivitas dan kepraktisan menunjukkan 20% menyatakan sangat mudah memahami, 45% mudah memahami dan 35% yang menyatakan cukup mudah memahami.
Kata kunci: pengembangan materi ajar, pengajaran gambar
1
Dibiayai oleh DIPA UNM No.: 023.04.2.415222/2014, Tanggal 5 Desember 2013 Sesuai Surat Keputusan Rektor UNM Nomor: 881/UN36/PL/2010 Tanggal 23 Mei 2014.
2
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada Program Studi (Prodi) Desain Komonikasi Visual (DKV) FSD UNM dituntut mahasiswa memiliki kemampuan psikomotorik yang lebih dominan disamping kemampuan kognitif dan afektifnya. Mata kuliah ”Menggambar I” di Prodi DKV ini merupakan mata kuliah dasar-dasar berkarya praktek yang akan menjadi penunjang mata kuliah praktek selanjutnya terutama dalam membekali diri untuk kerja desain komunikasi visual. Untuk menempuh mata kuliah Menggambar I dengan baik sejogyanya mahasiswa didukung bakat dan motivasi yang besar, namun penting juga didukung fasilitas belajar yang memadai, antara lain dilengkapi dengan materi ajar. Sementara itu, belum tersedia materi ajar yang spesifik dalam menunjang pembelajaran yang berbasis kompetensi untuk menuntun mahasiswa dalam mencapai prestasi yang standar.
Perumusan Masalah
Pokok permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) bagaimanakah rumusan kompetensi pembelajaran mata kuliah Menggambar I pada Prodi DKV FSD UNM Makassar? (2) bagaimnakah kerangka sistematika dan penyusunan matari ajar mata kuliah Menggambar I yang berbasis kompetensi? (3) bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap sajian materi ajar mata kuliah Menggambar I yang disusun sebagai acuan untuk revisi akhir? (4) Bagaimanakah materi ajar mata kuliah Menggambar I yang efektif dan praktis?
TINJAUAN PUSTAKA
Kajian tentang Materi Ajar
Materi ajar merupakan produk teknolog cetak berupa bentuk buku yang berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pesan kepada halayak. Materi ajar tentu merupakan materi dalam wujud visual berupa teks atau visual yang diproduksi melalui proses percetakan secara mekanis dan fotografis. Bentuk materi ajar terdiri dari unsur teks, grafik,
foto/gambar atau representasi fotografik dan reproduksi. Materi ajar dapat diidentifikasi dalam bentuk salinan cetak dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Bentuk teks dibaca secara linear, sedangkan bentuk visual diamati berdasarkan ruang;
b. Bentuk teks dan visual menjalin komunikasi satu arah dan reseptif; c. Bentuk teks dan visual ditampilkan
statis (diam);
d. Pengembangan bentuk teks bergantung kepada prinsip-prinsip kebahasaan dan
visual pada persepsi;
e. Bentuk teks dan visual berorientasi (berpusat) pada mahasiswa;
f. Bentuk teks dan visual dapat diatur kembali atau ditata ulang oleh pemakai.
Permen No. 49 Thn 2014 tetang Standar Nasional Pendidikan Bagian Ketiga Standar Isi Pembelajaran Pasal 8 ayat (1) Standar isi pembelajaran merupakan kriteria minimal tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran. Tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran sebagaimana. Pasal 9 ayat (4) dituangkan dalam bahan kajian yang distrukturkan dalam bentuk mata kuliah. Selanjutnya pada Bagian Keempat Standar Proses Pembelajaran Pasal 11ayat (10) Berpusat pada mahasiswa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyatakan bahwa capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang mengutamakan pengembangan kreativitas, kapasitas, kepribadian, dan kebutuhan mahasiswa, serta mengembangkan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan.
pembelajaran (Kurikulum Prodi DKV FSD UNM, 2012).
Kajian tentang Menggambar
Definisi Menggambar
Istilah “menggambar (Inggris:
drawing) adalah kegiatan-kegiatan membentuk imaji, dengan menggunakan banyak pilihan teknik dan alat. Bisa pula berarti membuat tanda-tanda tertentu di atas permukaan dengan mengolah goresan dari
alat gambar”. Selanjutnya, terhadap orangnya atau “pelakunya populer dengan sebutan penggambar/juru gambar (Inggris:
draftsman) yang merupakan salah satu bagian pekerjaan dari perupa”
(http://id.wikipedia.org/wiki/Menggambar). Adrian Hill berpandangan bahwa pada hakekatnya menggambar itu adalah pengungkapan oleh seseorang secara mental dan visual dari apa yang dialaminya atau diamatinya ke dalam bentuk garis di atas bidang. Jadi menggambar tak lain adalah melukiskan apa yang terpikirkan melalui goresan-goresan pesil lain di atas kertas (Chuseri, 1984).
Hal ini sejalan yang diungkapkan Kathie Layfield yang dikenal pandangannya terhadap menggambar, yakni belajar menggambar berarti belajar melihat, yang pada hakekatnya keahlian menggambar adalah kemampuan menuangkan apa yang telah kau lihat ke atas sehelai kertas (Indradi, F.B, 1984). Untuk itu, ketika dalam proses menggambar diperlukan benda sebagai objek gambar untuk ditiru oleh pengambar. Agar gambar yang kita hasilkan betul-betul merupakan tiruan dari objek maka penting dipahami karakteristik alat dan bahan yang digunakan dalam menggambar.
Berdasarkan uraian di atas, maka menggambar didefinisikan sebagai upaya seseorang untuk menirukan penampakan sebuah atau sekelompok benda atau alam sekitar ke atas bidang gambar (kertas atau kanvas). Jika meniru bentuk benda maka
penggambar berupaya menangkap bentuk secara anatomis dan mencermati karakter banda yang ditirunya, sehingga pada karya yang dihasilkan akan tampak seperti bendanya, seolah-olah memindahkan benda ke atas bidang gambar (kertas/kanvas). Dalam kaitannya dengan mata kuliah Menggambar I pada Program Studi Desain Komunikasi Visual lasim disamakan dengan mata kuliah Menggambar Bentuk pada Program Studi Pendidikan Seni Rupa, yakni konten materinya menggambar berbagai bentuk benda dan alam sekitar.
1. Unsur-unsur Penting dalam
Menggambar
Unsur-unsur rupa dalam menggambar pada umumnya adalah mencakup, yaitu: titik, garis, bentuk, bidang, gelap-terang/warna, tekstur dan karakter serta ruang atau volume. Selanjutnya akan diuraikan secara singkat masing-masing unsur-unsur rupa tersebut sebagai berikut.
a.
Titik; didefinisikan bahwa titik sebagai ujung atau pangkal garis, tidak memiliki panjang dan atau lebar. Ketika sebuah titik yang kemudian dilebarkan atau ditebalkan akan mengambil bidang dan ruang maka tidak dapat lagi didefinikan sebagai titik. Ukuran titik relatif (nisbi).b.
Garis; berbagai definisi tentang garis, antara lain dapat dikatakan bahwa garis adalah titik-titik yang berkait dan berarah, memiliki panjang tetapi tidak memiliki tebal. Garis jika dipandang dari jenis dan bentuknya dapat dibedakan yaitu garis lurus, garis patah dan garis bengkok. Kesan garis pada suatu benda atau gambar juga dapat kita temukan, misalnya pertemuan suatu bidang atau batas suatu bidang warna yang berbeda dengan lainnya. Itulah kemudian disebut sebagai garis semu.persegi, bidang asimetris (tidak beraturan sisisnya) dan bidang lingkaran.
d.
Bentuk; bentuk merupakan raut yang memiliki ukuran (panjang, lebar dan tinggi); atau istilah lainya adalah kedalaman, ketinggian, keluasan dan sebagainya. Bentuk dapat berwujud persegi, bundar atau bulat serta bentuk tak beraturan, masing-masing dengan berbagai wujud ukuran dan bentuknya yang beragam. Dalam ilmu eksat juga dikenal dua jenis bentuk, yaitu bentuk simetris (bentuk beraturan) dan bentuk asimetris (bentuk tidak beraturan).e.
Gelap–Terang; gelap-terang (hitam-putih) pada gambar dinyatakan dengan kepadatan goresan, titik atau pulasan pensil, makin padat goresan atau pulasan pensil akan memberi kesan semakin gelap. Gelap-terang yang fungsinya akan memberi illusi atau kesan kedalaman pada gambar. Juga melalui gelap-terang dapat dinyatakan tingkat kedalaman bahkan dengan gelap-terang kita dapat tentukan bagian-bagian benda untuk menyatakan hal tertentu, misalnya jauh dekat, bagian yang kena cahaya atau bayangan benda itu sendiri dan sebagainya.Unsur gelap-terang penting dihadirkan dalam gambar sebab juga memberi kontribusi pada anatomi dan karakter pada gambar. Tanpa gelap-terang illusi atau kedalaman gambar tidak akan tampak. Hal ini, gelap-terang memberi kesan “hidup” terhadap gambar.
Bidang pada benda yang di illusikan tidak kena cahaya akan menghasilkan bayang-bayang, baik pada bidang dasarnya maupun pada benda itu sendiri. Berikut dapat diamati perbandingan gambar yang diberi gelap-terang pada bagian tertentu dibanding dengan gelap-terang yang merata pada gambar. Tentu kesan yang dilahirkan akan berbeda jika gelap-terang dihadirkan dalam gambar dengan menempatkan pada bagian yang tepat.
f.
Tekstur–Karakter; teksturmerupakan nilai rasa atau nilai raba dari
keadaan pada permukaan suatu benda, yang biasa disebut sebagai barik. Dari tekstur sebuah benda dapat berbeda dengan benda lainnya. Hal ini sifat dan jenis material benda sangat mempengaruhinya, misalnya ada benda dari material halus, kasar bahkan ada benda yang bergerigi dan berduri.
Pada sebuah karya gambar kesan halus, kasar dan berduri sekalipun dapat diwujudkan dengan melalui tekstur untuk melahirkan karakter. Itulah sebabnya dalam karya seni rupa dikenal dengan tekstur kasar-semu, yakni kesannya kasar tetapi jika diraba tetap halus.
g.
Ruang; ruang biasa disebut sebagai volume, mempunyai luas yakni panjang, lebar dan tinggi. Pada alam nyata kita alami ada ruang, ada ruang depan, belakang, samping, atas bahkan ruang pada bagian bawah kita. Karena itu pula kita dapat bergerak dari adanya ruang.Pada bidang gambar ruang harus perspektif pada gambar, akan diuraikan pada penjelasan berikutnya.
Aspek-aspek Penting dalam
Menggambar
Aspek-aspek terpenting yang perlu dihadirkan dalam menggambar benda dan alam sekitar agar hasil sesuai dengan objek yang digambar adalah aspek ketepatan bentuk. Disamping itu agar karya gambar dapat lebih menarik maka juga komposisi berperan penting serta pengunaan dan penguasaan media gambar. Berikut ini diuraikan masing-masing aspek sebagai berikut.
a. Aspek Ketepatan Bentuk
perspektif. Antara proporsi, anatomi dan perspektif pada gambar tidak dapat dipisahkan untuk mewujudkan gambar yang memiliki ketepatan bentuk. Aspek ketepatan bentuk inilah yang akan menampakkan benda atau alam sekitar pada gambar sebagaiman halnya dengan obyek yang digambar. Pada uraian berikut ini secara ringkas ketiga penerapan aspek tersebut akan dijelaskan.
1) Penerapan Aspek Anatomi (Anatomy); Istilah anatomi sering digunakan kalangan ilmu kedokteran untuk menyatakan bentuk dan letak atau hubungan bagian-bagian pada organ tubuh manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan. Organ tersebut telah terstruktur sehingga menjadi pembeda antara jenis mahluk hidup, misalnya manusia telah memiliki organ yang membedakan dengan makhluk lainnya. Bahkan antara jenis binatang yang satu dengan lainnya menjadi berbeda. Dari bentuk, letak atau ukuran telah memiliki pola umum sehingga dapat dinyatakan mempunyai struktur tertentu. Berdasarkan itulah sehingga manusia, binatang atau tumbuhan memiliki anatomi.
Istilah anatomi dalam seni rupa atau desain juga lasim digunakan. Secara khusus pada seni patung merupakan penampakan bagian-bagian atau struktur organ tubuh yang normal pada patung manusia, binatang atau patung lainya terutama karya patung realis. Oleh karena itu dalam karya gambar anatomi dapat dimaknai sebagai suatu struktur tentang bentuk, letak, ukuran dan bagian-bagian yang digambarkan secara tertentu.
Dalam mewujudkan bentuk benda atau alam sekitar yang tepat pada gambar maka penerapan aspek anatomi tidak dapat dipisahkan sebagaimana dengan penerapan proporsi. Untuk berkarya gambar maka kesadaran terhadap anatomi dalam menampakkan struktur benda baik bentuk, letak, atau ukuran betul-betul meniru objek yang digambar.
2) Proporsi (proportion); Proporsi diartikan sebagai perbandingan, bagian atau perimbangan. Proporsional adalah kesebandingan, kesesuaian atau perimbangan yang ideal antara bagian benda dengan bagian lainnya. Karya gambar yang mempunyai aspek proporsi antara bagian dengan lainnya akan mempengaruhi aspek ketepatan bentuk. Dengan demikian, penampakan gambar yang proporsinya tepat akan mirip bentuk benda yang ditiru, jika proporsi tidak tepat maka anatomi bendanya juga tidak tepat pula.
Kesadaran terhadap penerapan perbandingan ukuran (proporsi) benda dan alam sekitar pada saat menggambar sehingga akan tercipta suatu karya gambar yang harmonis, baik antara bagian benda dan bagian lainnya, bandingkan kedua contoh gambar botol antara bagian (a) mulut (b) leher dan (c) badan botol; demikian juga halnya antara benda-benda yang satu dan benda lainya termasuk alam lingkungannya (lihat gambar bagian bawah dan bandingkan antara besarnya sendok, botol, gelas minuman dan tutup botol. Kecermatan ketepatan bentuk benda sangat ditentukan oleh kecermatan penggambar dalam mewujudkan gambar dengan ukuran yang proporsional.
3) Perspektif; Penerapan perspektif merupakan perwujudan gambar untuk menyatakan kesan jauh antara bagian benda yang lebih dekat dengan bagian benda yang jauh dari pandangan mata. Pespektif penting dicermati dan diterapkan dalam gambar. Antara bagian-bagian objek benda yang lebih jauh dari mata pada penggambarannya semakin mengecil sehingga kesan pada gambar tampak bagian depan hingga bagian belakang benda. Penerapan perspektif pada karya gambar juga berdampak kesan ketepatan proporsi dan anatomi bendanya. Oleh karena itu menggambar benda penting dicermati posisi garis horison, ada benda berada di bawah, sejajar dan di atas garis horison.
Penempatan objek yang digambar di atas kertas akan menentukan tata-letak, yang juga lasim disebut komposisi. Komposisi menjadi salah satu aspek penting dalam menggambar baik pada gambar bentuk maupun pada gambar model, melalui ini terjadi pengaturan objek gambar. Pengaturan objek gambar yang baik akan mempengaruhi keberhasilan gambar melalui kesan yang ditimbulkan pada mata (dapat dirasakan ketika melihatnya).
Komposisi pada gambar dikenal komposisi horison, diagonal dan vertikal, semuanya akan baik bila memenuhi prinsip keseimbangan dan kesatuan. Berikut ini diuraikan satu persatu sebagai berikut:
1) Keseimbangan (balance); keseimbangan dalam menggambar perlu diadakan melalui peletakan objek gambar pada bagian tengah-tengah kertas. Kesan keseimbangan suatu komposisi karya gambar jika tata-letak objek gambar pada bidang tidak terasa berat sebelah.
2) Kesatuan (unity); kesatuan adalah tampilnya kesan gambar yang tidak terpisah. Dapat diadakan dengan menggerombolkan objek sebelum digambar, akan tetapi tentu dengan susunan yang menarik dan tidak saling menghalagi satu dengan lainnya, tetapi saling mendukung. Cara lain menghadirkan kesatuan dalam menggambar yaitu melalui goresan pensil yang senada.
3) Irama atau ritme merupakan aspek kesan yang ditimbulkan mata, yaitu keserasian atas terjadinya perulangan secara teratur. Hal ini dapat dirasakan pada gambar bila ada perulangan garis/goresan, bentuk, tinggi-rendah dan lain-lain.
c. Aspek Penguasaan Media Menggambar
Media gambar merupakan alat dan bahan perantara yang digunakan dalam mewujudkan gambar. Oleh karena itu pemahaman dan penguasaan media ini turut
mempengaruhi keberhasilan gambar, karakter objek yang digambarkan akan tampak bila memanfaatkan kelebihan dan sifat alat dan bahan secara baik, juga tentunya dapat mengeksplorasikan alat dengan teknik-teknik dalam menggambar. Pada uraian berikut ini diuraiakn secara terpisah tentang pemahaman alat dan bahan dengan teknik penggunaan alat dalam menggambar.
1) Pengetahuan Alat dan Bahan Menggambar
Alat pensil yang sering digunakan tentunya memiliki tipe, telah dilabeli dengan kode sifat pensil dari perusahaan (2B, 3B dst) menunjukkan sifat pensil yang semakin lunak. Sebaliknya pensil kode H, misalnya kode H (2H, 3H dst) yang semakain tinggi menunjukkan sifat pensil semakin keras. Pensil yang lunak (kode B) akan menghasilkan kesan gelap, semakin tinggi kode B-nya hasilnya semakin lunak dan gelap.
Kertas merupakan bahan dalam menggambar, sifat dan karakter kertas sesungguhnya penting untuk diketahui oleh penggambar, termasuk penting mengenal tebal-tipisnya, bertekstur (halus atau kasar) pada permukaan kertas karena dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan kesan yang unik pada karya gambar.
2) Penggunaan Teknik Manggambar Teknik yang sering digunakan adalah menggaris, hatching (penggarisan atau penggoresan), scribbling (mencakar-cakar), stippling (menggambar titik-titik), dan
blending (memadukan dari beberapa teknik)
dimaksudkan sebagai cara yang biasa dipergunakan dalam menggambar. Teknik yang biasa digunakan di antaranya adalah dengan cara arsir, dusel, dan titik-titik (pointilis) sebagaimana pada uraian beriku ini:
(a)Arsir; teknik arsir merupakan teknik menggambar obyek benda dengan menggunakan garis-garis arsir, misalnya dengan mengabungkan garis sejajar, menyilang, atau melengkung untuk memperoleh kesan terang gelap sehingga kesan gambar pada akhirnya akan membentuk kesen tiga dimensi.
(b)Dusel; teknik dusel adalah salah satu cara dalam menggambar dengan melalui goresan pensil di atas kertas, kemudian digosok dengan kapas atau jari sehingga arah goresan menyatu pada kertas yang digambari.
(c)Titik-titik (Pointilis); suatu teknik menggambar dengan cara membuat titik-titik sebanyak-banyaknya di atas bidang atau obyek gambar
Prosedur Umum dalam Menggambar
Sebelum memulai menggambar bentuk benda terlebih dahulu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Membuat sket; sket adalah rancangan gambar, biasanya berupa goresan-goresan atau garis-garis tipis sebagai kerangka bentuk. Garis tersebut berfungsi untuk membantu dalam pembentukan obyek yang akan menjadi gambar yang sebenarnya.
b) Penentuan terang-gelap; penentuan gelap-terang pada bagian tertentu benda yang dapat dilakukan dengan mencermati kekuatan cahaya yang mengenai pada objek yang digambar. Bagi penggambar yang memiliki kepekaan rasa dalam menyatakan gelap-terang. Hal ini, dapat dilakukan melalui pengolahan rasa seolah-olah tampak sekalipun tidak kasat pada mata ketika memandang objek.
c) Membuat background (latar belakang); background merupakan goresan yang biasanya di tempatkan pada bagian
belakang objek gambar. Background biasa disebut latar-belakang pada gambar atau suatu objek. Kehadirannya sangat memberi arti penting pada keberhasilan sebuah gambar bentuk. Hal ini, dapat berfungsi sebagai penegas gambar, menonjolkan gambar/objek, serta memperindah objek gambar. Disamping itu latar-belakang dapat berperan sebagai alternatif menyeimbangkan komposisi objek gambar.
Tinjauan tentang Mahasiswa
Untuk menjadi status mahasiswa sebagai peserta didik atau objek pembelajaran pada perguruan tinggi disebutkan dalam Peraturan Pemerintah RI No. 60 Th.1999, pada Bab X Pasal 108, Ayat: 1, disebutkan untuk menjadi mahasiswa seseorang harus: (a) memiliki Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) pendidikan menengah atas atau Sekolah Menengah Lanjutan Atas (SLTA); (b) memiliki kemampuan yang disyaratkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan, yang diatur oleh senat perguruan tinggi. Kemudian, Pasal 109 dan 110 mencakup ketentuan hak dan kewajiban sebagai mahasiswa pada suatu perguruan tinggi, yang diatur oleh pimpinan perguruan tinggi masing-masing (Edy Sudibyo, 1999: 59-61).
Inti dari kegiatan pembelajaran pada sistem pendidikan tinggi adalah pemberian bantuan dan dorongan terhadap mahasiswa untuk mencapai kedewasaan dan kemandirian dalam artian mampu berintraksi dengan lingkungannya. Kemampuan berintraksi dengan lingkungannya implikasinya adalah: (1) dapat bereaksi jika ada rangsangan kepadanya, sehingga memiliki aktivitas dan kebebasan bertindak; dan (2) kemampuan yang dimulai untuk menerima realita agar lepas dari ketergantungannya yang mencakup kemampuan untuk beridentifikasi, bekerjasama dan meniru
pendidiknya’ (Dwi Nugroho H., 1988: 51).
kegiatan pembelajaran pada level yang lebih tinggi setelah menamatkan pendidikannya pada tingkat SLTA.
Dalam pelaksanaan pembelajaran diperlukan perencanaan yang matang. Salah satu pertimbangan membuat perencanaan dapat lebih matang bilamana didasari informasi awal tentang karakteristik mahasiswa yang akan dibelajarkan. Hal tersebut akan menarik bagi guru bila mengenal peserta didiknya terhadap kemampuan dan bakat-minatnya. Karena itu, menguasai bahan pembelajaran tidaklah berarti akan dapat membelajarkan peserta didik dengan baik, tetapi harus didukung mengenal peserta didiknya (Nasution, S., 1982: 25).
Yang dimaksudkan mengenal adalah memperoleh informasi tentang latar belakang (permanent cumulative record) peserta didik. Pengenalan terhadap peserta didik dipandang akan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran, yakni pengetahuan dan keterampilan yang relevan yang telah dimiliki peserta didik pada saat akan mulai mengikuti suatu program pengajaran (Soejarno, 1986: 57).
Dari uraian tentang kemampuan awal kemahasiswaan tersebut tersebut di atas memberi justifikasi tentang perlunya atau mengetahui kemampuan awal peserta didik sebelum menyusun materi ajar untuk mendukung terlaksananya pembelajaran. Mengenal secara mendalam terhadap peserta didik (mahasiswa) maka pendidik akan mengambil langkah-langkah lebih bijaksana dalam mendorong anak didiknya untuk dapat berprestasi secara maksimal antara lain dengan menyususn materi ajar sebagai sarana pembelajarannya.
Penilaian Karya Gambar Mahasiswa
Pada pelaksanaan mata kuliah Menggambar I atau Menggambar Bentuk, idealnya oleh dosen melaksanakan pembelajaran dengan memulai dari
perencanaan, penyajian dan penilaian. Mahasiswa mengikuti perkuliahan sesuai yang dipersyaratkan, misalnya memenuhi syarat kehadiran, menyimak materi kuliah, melaksanakan dan membuat keseluruhan tugas-tugasnya. Dalam kaitan tugas-tugas mahasiswa pada mata kuliah ini, tentunya tidaklah penilaiannya lahir begitu saja tetapi mulai kesiapan mahasiswa, tahap proses berkarya hingga hasil karya gambar bentuknya.
Dalam Permen No. 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi Bagian Kelima Standar Penilaian Pembelajaran Pasal 23 ayat (1) Pelaporan penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) huruf e berupa kualifikasi keberhasilan mahasiswa dalam menempuh suatu mata kuliah yang dinyatakan dalam kisaran: (a) huruf A setara dengan angka 4 (empat) berkategori sangat baik; (b) huruf B setara dengan angka 3 (tiga) berkategori baik; (c) huruf C setara dengan angka 2 (dua) berkategori cukup; (d) huruf D setara dengan angka 1 (satu) berkategori kurang; atau (e) huruf E setara dengan angka 0 (nol) berkategori sangat kurang
Untuk menilai hasil karya gambar bentuk itu sendiri tentunya menilai atas aspek-aspek atau kreteria tertentu. Aspek-aspek atau kreteria penilaian hasil karya gambar bentuk dipandang perlu untuk mengacu dari konsep teoritis yang melandasinya tentang gambar bentuk itu sendiri. Oleh karena itu, maka kreteria penilaiannya, yakni (1) ketepatan bentuk (terkait dengan: proporsi, perspektif, karakter objek dan pencahayaan), (2) penyusunan komposisi dan (3) teknik penggunaan media (alat dan bahan). Kreteria penilaian gambar bentuk seperti tersebut juga dipertegas oleh Sofyan Salam (2001: 128) dengan mencontohkannya pada kemampuan murid dalam menggambar bentuk, yaitu (1) karakter obyek, proporsi, perspektif, dan pencahayaan, (2) menyusun komposisi dan (3) menggunakan media.
Bentuk instrumen penilaian dalam menilai gambar bentuk lasim dibuat dengan menggunakan tabel pengamatan
Contoh: Format Tabel Pengamatan dan Penilaian Menggambar Bentuk
ap
Sumber: Dikonversi dari Sofyan Salam (2001:128-135)
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
A. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan permasalahan penelitian tersebut di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian untuk: (1) menyusun rumusan-rumusan tujuan pembelajaran sebagai penjabaran kompetensi mata kuliah Menggambar I pada Prodi DKV FSD UNM Makassar, (2) menentukan kerangka sistematika dan menyusun matari ajar mata kuliah Menggambar I yang berbasis kompetensi dan (3) mendeskripsikan persepsi mahasiswa terhadap sajian materi ajar mata kuliah Menggambar I yang disusun untuk dijadikan acuan pada revisi akhir.
A. Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberi manfaat pada berbagai pihak, yaitu sebagai berikut: (1) bagi mahasiswa, diharapkan dapat menjadi bahan atau sumber pengetahuan dalam meningkatkan kemampuan menggambar, (2) bagi peneliti, dapat dijadikan sumber materi ajar pada mata kuliah yang diampuh terutama dalam pembelajaran Menggambar I dan (3) bagi lembaga, menjadi acuan untuk pengayaan dan sumber referensi pada mata kuliah Menggambar I dan Menggambar Bentuk pada FSD UNM Makassar.
METODE PENELITIAN
Sifat dan Jenis Penelitian
Karena penelitian ini merupakan penelitian pengembangan, maka secara metodelogis maka diperlukan uji lapangan. Oleh karena itu prosedur utama yang akan tampak adalah mengembangkan,
memvalidasi dan menerapkan suatu produk pendidikan.
Sasaran dan Lokasi Penelitian
Sasaran penelitian adalah mata kuliah Menggambar I yang akan dikenakan kepada mahasiswa Prodi DKV FSD UNM Makassar Angkatan 2014. Berdasarkan rencana penerimaan mahasiswa baru Tahun Akademik 2014/2015 akan diterima 60 orang mahasiswa yang terdiri dari dua kelas, selanjutnya diklaim sebagai populasi penelitian. Penentuan sampel untuk memperoleh data persepsi mahasiswa terhadap naskah materi ajar Manggambar I akan ditetapkan + 30 % melalui penarikan sampel secara acak (random sampling) yaitu dipilih dengan memperlakukan secara sama sehingga dapat digeneralisasikan.
Lokasi penelitian adalah Kampus FSD yang terletak di Jalan Daeng Tata (berada pada sisi perbatasan Jalan Malengkeri) Kampus Parangtambung UNM Makassar.
Prosedur dan Teknik Analisis Data
Prosedur diadopsi dari formulasi oleh Borg and Gall maka alur penelitian yang dilaksanakan ini yaitu dilakukan langkah-langkah atau prosedur, teknik pengolahan dan analisis data penelitian sebagai berikut:
1.
Merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran menggambar yang dikembangkan dari kompetensi mata kuliah. Untuk mendukung perumusan ini dilakukan melalui teknik kajian pustaka dengan sasaran pada Silabus atau deskripsi Mata Kuliah Menggambar I dan Kurikulum Prodi DKV FSD UNM Makassar.2.
Menetapkan kerangka sistematika naskah materi ajar, penetapan ini dilakukan atas dasar rumusan tujuan pembelajaran mata kuliah Menggambar I, hal ini juga dengan teknik kajian pustaka.4.
Validasi materi ajar oleh ahli materi, atas langkah validasi materi ajar ini merupakan teknik evaluatif. Naskah materi ajar mata kuliah Menggambar I yang disusun akan dinilai oleh sekurang-kurangnya dua orang ahli materi sebagai validator. Penting dilakukan untuk mendapatkan suatu materi ajar yang memiliki tingkat standarisasi dari kelayakan isi, kelayakan penyajian, kelayakan kebahasaan dan kelayakan kegrafikaan.5.
Uji coba penyajian, merupakan teknik eksperimen yang dimaksudkan sebagai langkah untuk menguji naskah materi ajar. Hasilnya diharapkan memiliki gambaran tingkat ketepatan, efisiensi dan efektifitas pada penerapan pelaksanaan pembelajaran.6.
Mempersepsikan materi ajar oleh mahasiswa, dilakukan melalui teknik observasi dengan instrumen tes dan angket. Langkah ini merupakan bagian dari langkah ke-lima di atas, yakni untuk merespon pelaksanaan uji coba penerapan materi ajar mata kuliah dengan mengevaluasi melalui persepsi mahasiswa.7.
Merevisi materi ajar dengan mengacu dari hasil persepsi mahasiswa, atas dasar hasil persepsi yang telah diolah dan diinterpretasikan akan dijadikan dasar untuk merevisi akhir pada materi ajar mata kuliah Menggambar I ini.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil-hasil Penelitian
1. Penelusuran Kompetensi dan
Perumusan Tujuan Pembelajaran
Hasil penelusuran kompetensi mata
kuliah yaitu: “memahami dan mampu membuat gambar dari berbagai bentuk benda dan alam sekitar secara anatomis dan proporsional dengan menunjukkan
berbagai karakternya” (Kurikulum DKV,
2012). Adapun perumusan tujuan-tujuan pembelajar yang dikembangkan dari kompetensi mata kuliah, yakni tujuan pembelajaran mahasiswa diharapkan dapat: 1) mengemukakan definisi menggambar
benda atau alam sekitar, 2) menunjukkan unsur-unsur rupa dalam gambar benda atau alam sekitar, 3) menjelaskan yang dimaksud anatomi, proporsi dan perspektif pada benda atau alam sekitar, 4) mengemukakan aspek-aspek penting dalam menggambar benda atau alam sekitar, 5) menunjukkan dan menguasai penggunaan alat dan bahan dalam menggambar benda atau alam sekitar, 6) mengkomposisikan karya gambar benda dan alam sekitar di atas bidang gambar, dan 7) menggambar benda atau alam sekitar secara anatomis dan proporsional serta sesuai karakter pada bidang gambarnya.
2. Menetapkan Kerangka Sistemati-ka Naskah Materi Ajar
Penetapan kerangka sistematika naskah materi ajar ini dilakukan atas dasar rumusan tujuan pembelajaran mata kuliah Menggambar I. Oleh karena materi ajar yang disusun merupakan materi pengantar mata kuliah dalam memenuhi kebutuhan sebagaimana kompetensi dan rumusan tujuan-tujuan pembelajaran, maka ditetapkanlah kerangka sistematika naskah materi ajar sebagai beriukut: 1) definisi menggambar, 2) unsur-unsur rupa dalam menggambar (titik, garis, bentuk, bidang, gelap-terang dan warna, tekstur dan kareakter serta ruang), 3) aspek-aspek penting dalam menggambar (ketepatan bentuk, komposisi dalam menggambar, penguasaan alat dan bahan menggambar serta penggunaan teknik menggambar), 4) prosedur umum menggambar alam benda, dan 5) beberapa contoh gambar benda dan alam sekitar.
3. Menyusun Materi Ajar
tujuan-tujuan pembelajaran, dan isi (secara garis besar yaitu: definisi menggambar, unsur-unsur rupa dalam menggambar, aspek-aspek penting dalam menggambar, prosedur umum menggambar alam benda dan beberapa contoh gambar benda dan alam sekitar). Tampilan cover (sampul awal) naskah materi ajar Menggambar I sebagaimana pada gambar 5.1 dan 5.2 berikut ini.
4. Validasi Materi Ajar
Berdasarkan hasil vilidasi materi ajar Menggambar I oleh masing-masing validator akan disajikan penilaian dan saran-saran yang telah dilaksanakan + 3 minggu (tanggal 1 sampai dengan 20 September 2014).
a. Hasil Evaluasi Ahli Materi
Hasil evaluasi (validasi) materi ajar oleh ahli materi (validator 2 orang) menunjukkan gambaran bahwa materi ajar Menggambar I yang telah disusun memenuhi aspek kelayakan penyajian dengan nilai bagus, yaitu rerata = 4,6 dengan kategori Bagus (A-) dan aspek kelayakan isi, yakni rerata = 4,56 juga dengan kategori Bagus (A-).
b. Hasil Evaluasi Ahli Media dan Dosen Pengguna Materi
Hasil evaluasi atau validasi materi ajar oleh ahli media (1 orang) telah disusun memenuhi aspek kelayakan penyajian sebagai bagian dari media pembelajaran dengan nilai bagus, yaitu rerata = 4,8 dengan kategori Bagus (A-) dan oleh dosen
(calon pengguna 1 orang) menilai materi ajar Menggambar I dari aspek kelayakan penyajian sebagai bahan pembelajaran, yakni rerata = 4,8 atau kategori Bagus (A).
5. Uji Coba Penyajian Materi Ajar
Pada pelaksanaan uji coba dengan melalui penyajian materi ajar yang telah diperbaiki atas saran-saran para ahli dan dosen pengampuh mata kuliah sehingga diasumsikan telah layak diujicobakan. Untuk menilai kelayakan materi ajar dari berbagai aspek akan disajikan data sehingga ada gambaran efektifitas, efisiensi dan kepraktisan penggunaannya. Gambaran tersebut diperoleh melalui instrumen tes awal dan tes akhir serta angket/ pertanyaan yang diajukan kepada peserta uji coba (mahasiswa) untuk mengukur tingkat pemahamannya. Adapun hasil uji coba masing-masing sebagai berikut:
a. Uji Coba Kelompok Kecil
Uji coba kelompok kecil diterapkan kepada mahasiswa sebanyak 3 orang melalui instrumen tes awal dan tes akhir (pre-test dan post-test) sebanyak 20 item soal bentuk cois (pilihan ganda). Pelaksanaan uji coba ini dilakukan dengan terlebih dahulu diberi tes awal kemudian diberikan/diserahkan naskah materi ajar untuk dibaca (tanpa penyajian atau penjelasan dari peneliti/dosen), akan tetapi responden ini diperkenankan membaca/menyimak dalam waktu + 24 jam dan selanjutnya dilakukan tes akhir pada esok harinya. Hasil tes awal dengan rerata = 53,33 dan tes akhir rerata = 80. Jadi terjadi peningkatan sebanyak rerata skor = 26,67.
b. Uji Coba Kelompok Besar
diberikan/diserahkan naskah materi ajar untuk dibaca dan disajikan oleh peneliti + 30 menit dan selanjutnya dilakukan tes akhir. Hasil tes awal rerata =47,25 dan tes akhir rerata = 68,5. Jadi ada peningkatan sebanyak rerata = 21,25.
6. Mempersepsikan Materi Ajar
Mempersepsikan naskah materi ajar mata kuliah dengan melalui persepsi mahasiswa baik pada responden kelompok kecil dan juga pada responden kelompok besar.
a. Persepsi Materi Ajar pada Kelompok Kecil
Hasil angket ini dari ketiga responden memberi persepsi sebagai berikut:
1) Persepsi tentang Pentingnya Materi Ajar:
Hendra: sebaiknya kita memiliki materinya.
Imam Fadli: dapat memperluas wawasan menggambar.
Arsyad Hidayat: ya, sangat penting diadakan.
2) Persepsi tentang Kemudahan Memahami Materi Ajar:
Hendra: saya lebih memahami tentang menggambar.
Imam Fadli: memudahkan memahami bagaimana menggambar
Arsyad Hidayat: tidak susah memahaminya
3) Persepsi tentang Kepraktisan Materi Ajar:
Hendra: dengan melihat contoh gambar praktis digunakan.
Imam Fadli: praktis menggambar dan dapat lebih cepat.
Arsyad Hidayat: praktis karena disertai contoh-contoh gambar.
4) Komentar dan saran-saran: --- (tidak ada yang mengisinya).
b. Persepsi Materi Ajar pada Kelompok Besar
Hasil persepsi dari responden kelompok besar terhadap naskah materi ajar ini dapat dilihat pada bagian uraian beriku ini.
1) Persepsi tentang Pentingnya Materi Ajar
Persepsi responden atau mahasiswa terhadap pentingnya kehadiran materi ajar dalam pelaksanaan mata kuliah Menggambar I, menunjukkan bahwa 85% menyatakan materi ajar sangat penting dan yang menyatakan penting 15%.
2) Persepsi tentang Kemudahan Memahami Materi Ajar
Persepsi mahasiswa yang masuk uji coba pada kelompok besar ini terhadap kemudahan memahami materi ajar dalam pelaksanaan mata kuliah Menggambar I, menunjukkan bahwa 20% menyatakan sangat mudah memahami, mudah memahami 45% dan yang menyatakan cukup mudah memahami 35%.
3) Persepsi tentang Kepraktisan Materi Ajar
Persepsi mahasiswa kelompok uji caba ini menyatakan bahwa kehadiran materi ajar dalam pelaksanaan mata kuliah Menggambar I dengan respon sebanyak 25% sangat praktis, 65% praktis dan 10% yang cukup praktis.
7. Merevisi Akhir Materi Ajar
direvisi, termasuk mengaktualkan isi materi sesuai perkembangan IPTEKS. Sebagai wujud perbaikan dari tampilan pada bagian cover seperti gambar berikut.
Pada bagian isi naskah materi ajar juga disempurnakan sistematika pada urutan sub bagian B dan bagian C ada penambahan, pengurangan dan pengambungan sub bagian (bandingkan dengan sistematika sebelum direvisi akhir) sebagai berikut: 1) definisi menggambar, 2) unsur-unsur rupa dalam menggambar (titik, garis, bidang, bentuk, gelap-terang, tekstur dan karakter, serta ruang), 3) aspek-aspek penting dalam menggambar (aspek ketepatan bentuk: penerapan aspek anatomi, penerapan aspek proporsi dan penerapan aspek perspektif; aspek komposisi dalam menggambar: keseimbangan, kesatuan dan keiramaan; dan aspek penguasaan alat dan bahan menggambar: pengetahuan, 4) prosedur umum menggambar alam benda bahan dan alat mengambar serta penggunaan teknik menggambar, dan 5) beberapa contoh gambar benda dan alam sekitar.
B.Pembahasan Hasil Penelitian
Perumusan tujuan-tujuan pembelajaran Menggambar I yang dikembangkan dari kompetensi mata kuliah. Untuk mendukung perumusan ini dilakukan melalui teknik kajian pustaka dengan sasaran pada Silabus atau deskripsi
Mata Kuliah Menggambar I pada Kurikulum Program Studi Desain Komunikasi Visual FSD UNM Makassar. Hasilnya telah dirumuskan 7 item tujuan pembelajaran oleh tim peneliti untuk dapat mewujudkan kompetensi mata kuliah Menggambar I (lihat tabel 5.1 di atas).
Menetapkan kerangka sistematika naskah materi ajar, penetapan ini dilakukan atas dasar rumusan tujuan pembelajaran mata kuliah Menggambar I, hal ini dilakukan oleh tim peneliti melalui kajian pustaka. Pada penetapan kerangkah sistematikah naskah ini dirancang atas dasar memenuhi seluruh tujuan-tujuan pembalajaran mata kuliah Menggambar I, karena berdampak pada kelayakan isi naskah. Disamping itu, sistematika yang dikembangkan telah dipikirkan aspek kepraktisan sehingga isi naskah cukup terbagi ke dalam 5 bagian, yaitu (a) definisi menggambar, (b) unsur-unsur rupa dalam menggambar, (c) aspek-aspek penting dalam menggambar, (d) prosedur umum menggambar benda dan alam sekitar, dan (e) beberapa contoh gambar benda dan alam sekitar (lihat kerangka sisitematika yang dikembangkan sebagaimana pada tabel 5.2 di atas).
Menyusun materi ajar mata kuliah Menggambar I, penyusunan ini dikembangkan setelah menetapkan sistematika naskah materi. Pengembangan materi ajar ini sangat bergantung dari kajian pustaka yang dilakukan. Namun demikian hal terpenting yang dilakukan dalam menyusun naskah materi ajar yang disusun hasilnya memenuhi aspek kelayakan penyajian, kelayakan isi, kelayakan kebahasaan dan kelayakan kegrafikaan. Semua itu dilakukan agar materi ajar ini dapat memenuhi efektivitas dan efisiensi dalam pembelajaran. Dari berbagai pertimbangan tersebut maka hasil penyusunan materi ajar Menggambar I sebagai pengantar dalam praktek latihan, (a) disajikan secara sistematis dan simpel, (b) bahasa penyejiannya sederhana dan
mudah dipahami, (c) disertai contoh-contoh sebagai ilustrasi yang dapat lebih mudah dan jelas untuk dipahami, dan (d) dapat disajikan untuk maksimal 2 kali petemuan perkuliahan bahkan dapat disajikan di kelas untuk 1 kali pertemuan, sehingga ada sisa waktu untuk berolah keterampilan melalui latihan dengan porsi waktu pertemuan yang jauh lebih banyak.
Validasi materi ajar oleh ahli materi, atas tahap validasi materi ajar ini merupakan teknik evaluatif terhadap naskah. Naskah materi ajar mata kuliah Menggambar I yang disusun talah dinilai oleh dua orang ahli materi sebagai validator. Selain itu, juga melibatkan validator ahli media dan dosen pengampuh sebagai pengguna materi ajar. Kesemuanya itu penting dilakukan untuk mendapatkan suatu materi ajar yang memiliki tingkat standarisasi dari kelayakan isi, kelayakan penyajian, kelayakan kebahasaan dan kelayakan kegrafikaan. Hasil validasi dari para ahli sesuai dengan data penelitian (lihat uraian pada hasil validasi di atas) masing-masin, yaitu: (a) ahli materi telah berpandangan bahwa materi yang dikembangakn memenuhi aspek kelayakan penyajian dan kelayakan isi, ditunjukkan dengan skor B+ (bagus). (b) ahli media menilai naskah materi ajar Menggambar I dikategorikan karena telah memenuhi aspek kelayakan sebagai bagian dari media pembelajaran, ditunjukkan dengan skor A– (hampir sangat bagus), dan (c) oleh validator/dosen calon pengguna juga menilai materi ajar dari aspek kelayakan penyajian sebagai bahan pembelajaran dengan skor A– (hampir sangat bagus). Sekalipun demikian, masing-masing validator tersebut juga memberikan komentar dan saran-saran perbaikan dan saran-saran perbaikan telah dilaksanakan, misalnya penyempurnaan isi, perbaikan sistematika, tata bahasa dan tulisan, melengkapi dan perbaikan gambar ilustrasi,
lay out pada naskah serta perbaikan cover.
Uji coba penyajian yang merupakan teknik eksperimen yang dimaksudkan sebagai langkah untuk menguji naskah materi ajar. Hasilnya memberi gambaran tingkat ketepatan, efisiensi dan efektifitas pada penerapan pelaksanaan pembelajaran. Pada uji coba ini responden kelompok kecil yakni 3 orang dan responden kelompok besar sebanyak 20 orang. Kedua kelompok uji coba tersebut terlebih dahulu diadakan tes awal kemudian diadakan perlakukan dan setelah perlakukan barulah diadakan tes akhir. Pada kelompok kecil diadakan perlakuan dengan membagikan materi ajar kepada peserta dan diberi kesempatan untuk membaca tanpa disajikan atau dijelaskan, setelah keesokan harinya barulah diadakan tes akhir. Perlakukan yang berbeda pada kelompok besar yaitu terlebih dahulu diadakan tes awal, lalu dibagikan materi dan disajikan melalui media power point (+30 menit) sesuai uraian dan contoh ilustrasi pada naskah materi ajar. Dari kedua hasil kedua kelompok menunjukkan ada kemajuan hasil belajar yang signifikan atau dengan hasil lebih baik, hal ini terlihat sebesarnya skor rerata 26,67 peningkatan pada kelompok kecil dan terjadi peningkatan skor rerata 21,25 pada kelompok besar. Sehingga dapat diasumsikan bahwa pembelajaran Menggambar I akan lebih efektif melalui materi ajar, juga dapat efisien tanpa memerlukan waktu yang banyak untuk menyajikannya. Bahkan dengan materi ajar ini tanpa diuraikan oleh dosen sudah dapat dipahami mahasiswa.
sangat mudah memahami, 45% mudah memahami dan 35% yang menyatakan cukup mudah memahami, dan (c) 25% memandang sangat praktis, 65% praktis dan 10% yang cukup praktis. Atas dasar persepsi mahasiswa inilah sehingga materi ajar ini penting diadakan, mudah memahami dan praktis untuk mengantar menguasai kemampuan keterampilan menggambar benda dan alam sekitar.
Merevisi materi ajar dengan mengacu dari hasil persepsi mahasiswa, atas dasar hasil persepsi yang telah diolah dan diinterpretasikan akan dijadikan dasar untuk merevisi akhir pada materi ajar mata kuliah Menggambar I ini. Sekalipun tidak ada respon mahasiswa melalui komentar dan saran untuk perbaikan naskah materi ajar yang telah disiapkan, namun oleh tim peneliti tetap mencermati dan memperbaiki hal-hal tertentu untuk penyempurnaannya. Oleh karena itu melalui tahap ini diharapkan naskah materi ajar Menggambar I ini dapat lebih baik dan penggunaan lebih efektif dalam mewujudkan kompetensi sebagaimana yang diharapkan dalam mata kuliah.
KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Berangkat dari permasalahan penelitian dan merujuk dari hasil-hasil penelitian serta pembahasannya maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Rumusan Kompetensi mata kuliah Menggambar I pada Program Studi Desain Komunikasi Visual FSD UNM yaitu memahami dan mampu membuat gambar dari berbagai bentuk benda dan alam sekitar secara anatomis dan proporsional dengan berbagai karakternya
2. Berdasarkan kompetensi mata kuliah Menggambar I yang telah dijabarkan dalam tujuan-tujuan pembelajaran maka kerangka sistematika yang disusun, yakni terbagi ke dalam 5 bagian, yaitu (a) definisi menggambar, (b) unsur-unsur rupa dalam menggambar dengan sub-sub bagian yakni: titik, garis, bidang, bentuk, gelap-terang,
tekstur dan karakter dan ruang; (c) aspek-aspek penting dalam menggambar dengan sub-sub bagian, yakni aspek ketepatann bentuk (anatomi, proporsi dan perspekti), aspek komposisi (keseimbangan, kesatuan dan keiramaan), aspek penguasaan alat dan bahan menggambar (pengetahuan alat dan bahan menggambar dan penguasaan teknik menggambar; (d) prosedur umum menggambar benda dan alam sekitar, dan (e) beberapa contoh gambar benda dan alam sekitar. Sistematika dan penyusunan isi naskah materi ajar ini telah divalidasi oleh 2 orang ahli materi, 1 orang ahli media dan 1 orang pengguna.dosen pengampuh mata kuliah.
3. Persepsi mahasiswa menyatakan bahwa kehadiran naskah materi ajar Menggambar I terpenuhi 85% menyatakan sangat penting dan 15% penting serta menyambut baik karena dipandang dapat menjadi acuan dalam pembelajarannya. Namun persepsi mahasiswa untuk revisi naskah akhir tidak memberi rekomendasi perbaikan pada saat pelaksanaan uji coba, akan tetapi oleh tim peneliti telah mencermati dan memperbaiki untuk penyempurnaannya.
4. Naskah materi ajar Menggambar I yang telah disusun ini dapat dinyatakan efektif dan praktis dalam penggunaannya sebagai acuan dalam mengantar mahasiswa memahami berbagai persoalan dalam menggambar benda dan alam sekitar menuju asa keterampilannya. Hal tersebut data menunjukkan bahwa ada kemajuan hasil belajar yang signifikan atau dengan hasil lebih baik, hal ini terlihat sebesarnya skor rerata 26,67 peningkatan pada kelompok kecil dan terjadi peningkatan skor rerata 21,25 pada kelompok besar. Selain itu, persepsi mahasiswa terhadap efektivitas dan kepraktisan menunjukkan 20% menyatakan sangat mudah memahami, 45% mudah memahami dan 35% yang menyatakan cukup mudah memahami, dan (c) 25% memandang sangat praktis, 65% praktis dan 10% yang cukup praktis.
B.Saran-saran
Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan tersebut di atas maka dapat disarankan bahwa:
pendukung lainnya sebagai kelanjutan, yaitu penelitian tentang pengembangan media dan instrumen penilaian menggambar benda dan alam sekitar, hal ini akan melengkapi perangkat pembelajaran mata kuliah Menggambar I. 2. Pada mata kuliah lain juga hendaknya dilakukan penelitian yang serupa sehingga akan memberi dampak terhadap kualitas dan mutu pembelajaran khususnya pada Program Studi Desain Komunikasi Visual FSD UNM.
DAFTAR PUSTAKA
Alimuddin, 2010. Perbandingan Prestasi Mata Kuliah Menggambar Bentuk Mahasiswa Dari Jalur Penerimaan PMJK, SNMPTN, UTUL, dan PMJPS Angkatan 2009 Pada Prodi Pendidikan Seni Rupa FSD UNM, Makassar: Lemlit UNM.
Apriyatno, Veri, 2004. Cara Mudah Menggambar dengan Pensil, Jakarta: Kawan Pustaka.
Chuseri (penerj.), 1984. Bagaimana Menggambar, Bandung: Angkasa.
Ching, Francis, D.K., TT. Menggambar: Sebuah Proses Kreatif, Ciracas Jakarta: Erlangga.
Gollwitzer, Gerhard, 1986. Menggambar: Bagi Pengembangan Bakat, Bandung: ITB.
Hasibuan, J.J., 1986. Proses Belajar Mengajar, Bandung Remaja Karya.
Murtahadi dan G. Gunarto, 1980. Dasar-dasar Menggambar, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nasition, S., 1984. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Bina Aksara.
Salam, Sofyan, 2001. Pendidikan Seni Rupa di Sekolah Dasar, Makassar: Universitas Negeri Makassar.
Simon, Howard, 1996. Teknik Menggambar. Semarang: Dahara Prize.
Soejarno, 1986. Desain Instruksional, Solo: Tiga Serangkai.
Sukarman dan Alimuddin, 1997.
Kemampuan Awal Menggambar Bentuk Mahasiswa Program Studi Seni Rupa Angkatan 1995 pada Jurusan Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan FPBS IKIP Ujung Pandang, Ujung Pandang: Lemlit IKIP Ujung Pandang.
Miles, M. B. dan Huberman, A.M., (terjemah: Tjetjep Rohendi R.), 1992.
Analisis Data Kualitatif, Jakarta : UI– Press.
Muslikh (Penyalin), 2000. Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa (Surat Keputusan MENDIKNAS RI No. 232/U/2000), Jakarta: Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat DEPDIKNAS – Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan.
Sahman, Humar, 1993. Mengenal Dunia Seni Rupa, Semarang: IKIP Semarang Press.
Wongkar, Ian dan Linkan, Patricia, T.Thn.
Melukis dengan Pensil (Benda dan Pemandangan), Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama (Kompas Gramedia).
http://id.wikipedia.org/wiki/Menggambar
PERANCANGAN
CONTAINER BOX PA’GANDENG GADDE’
JUKU’
Dian Cahyadi
Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar Jl. Malengkeri, Daeng Tata Raya, Parangtambung, Makassar
e-mail: [email protected]
Abstract. Pa’gandeng Gadde’ juku Container Box Designing. This research is designing project base aims to re-designing for the needs of itinerant fish peddler known as 'Pa'gandeng Gadde’ ‘ in
addition to lifting the economic potential of local content nuanced. Using the methods and concepts of designing a product by considering aspects of shapes, colors, ergonomic-anthropometry, structures and materials, as well as considering the psychology of shapes and colors to associate natural, clean, and hygienic. The results obtained a form design with a space management system and function, so every cabin has its own function and no longer united to one place as the form that has been used.
Abstrak. Perancangan Container Box Pa’gandeng Gadde Juku’. Penelitian ini berbentuk proyek perancangan bertujuan untuk merancang produk untuk kebutuhan penjaja ikan keliling
yang dikenal dengan istilah ‘Pa’gandeng Gadde Juku’’, disamping untuk mengangkat potensi
ekonomi bernuansa muatan lokal.Menggunakan metode dan konsep perancangan produk dengan mempertimbangkan aspek bentuk, warna, ergonomic-antropometri, struktur dan material, serta mempertimbangkan aspek psikologi bentuk dan warna kepada asosiasi produk yang alami, bersih, dan higienis. Hasil erancnagan diperoleh sebuah bentuk dengan sistim manajemen ruang dan fungsi, sehingga setiap ruang dan kabin memiliki fungsi tersendiri dan tidak lagi disatukan kepada satu tempat saja sebagaiamana pada bentuk yang selama ini digunakan.
Latar Belakang
Keberadaan pasar tradisional di perkotaan dari waktu ke waktu semakin terancam dengan semakin maraknya pembangunan pasar modern. Pasar tradisional yang panas, semrawut, kotor, becek, tidak aman karena banyak pencopet adalah sangat bertolak belakang dengan pasar modern yang ber-AC, nyaman, pelayanan mandiri dan cepat, serta realtif lebih aman dari pencopet. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan usaha para pedagang di pasar tradisional, yang pada umumnya merupakan pedagang kecil dan menengah
.
Seiring pesatnya perkembangan kota. Kota dipenuhi dengan tumbuhnya pembangunan kompleks-kompleks perumahan yang jaraknya dengan pasar tradisional maupun modern sangat jauh. Peluang pasar diantara pertarungan pasar tradisional dan modern kemudian diisi oleh pedagang-pedagang keliling yang menjajakan dagangannya menggunakan berbagai moda, seperti pikulan, gerobak, sepeda gandeng, motor gandeng, motor roda tiga, bahkan mobil yang dimodifikasi sesuai peruntukannya.
Kehadiran pedagang keliling di Kota Makassar telah hadir sejak lama dan berbagai desain alat angkut mengalami perkembangan seiring tuntutan perkembangan jaman. Pedagang keliling di Makassar saat ini dikenal dengan
sebutan “Pa’gandeng-gadde’”(pedagang keliling bersepeda).
“Pa’gandeng” berasal dari kata ‘Pa’ yang berarti kata ganti orang atau pelaku, dan kata
‘gandeng’ yang berarti ‘bonceng’,‘gadde’ yang
berarti ‘anyaman bambu’ sehingga, serta ‘juku’
yang berarti ‘ikan’. ‘Pa’gandeng’ berarti pedagang keliling yang menggunakan kendaraan yang dilengkapi dengan gandengan pemuat barang terbuat dari anyaman bambu (Bugis:
gadde)
Tiap pagi suara penjual ikan keliling, penjual sayur keliling, penjual tahu, tempe, ayam dan sebagainya selalu menghiasi hari yang baru dimulai dengan seruan dan teriakan khas sebagai cara menginformasikan identitas. Mereka berkeliling dari kompleks perumahan yang satu ke kompleks perumahan lainnya.
Para Pa’gandeng ini tidak berasal dari Kota Makassar. Mereka berasal dari wilayah-wilayah kabupaten disekitar Kota Makassar, biasanya dari Kabupaten Maros, Gowa, atau bahkan Takalar, jarak yang jauh jika berkendara dengan sepeda kayuh atau sepeda motor.
Gambar 1. Deskripsi Potensi dan Peluang Representasi Produk
Tampilan rancangan desain sepeda kayuh ataupun sepeda motor mereka sangat sederhana, hanya dengan anyaman bambu atau potongan jerigen besar (20 liter) atau dibuat dari papan-papan kayu seadanya, kemudian didudukkan di sadel belakang dan diikat kencang menggunakan simpul pengerat ikatan agar tidak terlepas atau goyang.
Desain yang terkesan tidak sehat dan sedap dipandang mata, tidak adanya sistem pendingin (bagi penjual ikan), dagangan yang terbuka menjadi masalah tersendiri bagi mereka, misalnya penjual sayur; sayurannya akan cepat layu, dan dikerubungi lalat atau serangga lainnya.
Banyak faktor desain yang belum teraplikasi dengan baik pada gandengan mereka, yakni: (1) faktor performansi, (2) faktor fungsi, (3) faktor produksi, (4) faktor pemasaran, dan (5) faktor kualitas bentuk.
Peran mereka cukup membantu bagi ibu rumah tangga yang tidak memiliki kesempatan atau tidak ingin bersusah payah ke pasar. Berangkat dari peluang tersebut maka diperlukan upaya perumusan perancangan desain kontainer gandengan yang hijenis, menarik, nyaman dan aman sesuai aturan standar kendaraan berlalu-lintas di jalan raya sehingga peran mereka mendapat apresiasi dari kegiatan perdagangan mereka.
Rumusan Malasah
Meningkatkn apresiasi peran Pa’gandeng
gadde sehingga memiliki nilai jual dan mampu masuk pada kelompok pembeli dari kelas menengah atas dan memiliki kepercayaan pasar, maka dalam upaya tersebut seabagi langkah awalnya adalah merumuskan dengan baik [1] konsep desain container box yang memenuhi standar kelayakan secara visual dan higienitas. Rumusan produk rancangan nantinya perlu pula untuk mempertimbangkan suatu kajian awal terhadap ergonomic terkait [2] bagaimana faktor antropometri terhadap ruang kerja saat terjadi interaksi antara pedagang dengan produk rancangan. Sehingga untuk penelitian ini {3] dibuat suatu studi pemodelan 3D menggunakan software 3D Max agar rumusan awal bentuk dapat diajdikan acuan pengembangan produk.
Tujuan Perancangan
Kegiatan perancangan ini diharapkan menghasilkan sebuah gagasan berupa konsep perancangan Container Box Pa’gandeng -gandeng yang tertuang dalam bentuk gambar kerja. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: [1] Mengetahui hasil akhir berupa spesifikasi produk Container Box Pa’gandeng-gandeng Juku, [2] Mengetahui hasil Analisa antropometri manusia (operator) terhadap produk., [3] Pemodelan 3 Dimensi alternatif dasar perancangan.
Kajian Awal dan Pustaka
Kegiatan analisa awal perancangan ini diharapkan dapat berkontribusi pada upaya penyadaran dan pemasyarakatan peran dan fungsi desain yang sesuai standar-standar dan kaidah-kaidah perancangan produk yang dapat mengangkat citra pedagang keliling (Pa’Gandeng-gandeng).
Latar, batasan, rumusan, tujuan masalah tercermin dari skema berikut ini.
Gambar 3. Skema perancangan
Desain merupakan suatu proses yang dapat dikatakan telah seumur dengan keberadaan manusia di bumi. Hal ini sering tidak kita sadari. Akibatnya, sebagian dari kita berpendapat seolah-olah desain baru dikenal sejak jaman modern dan merupakan bagian dari kehidupan modern.
Pengertian desain dapat dilihat dari berbagai sudut pandang dan konteksnya. Desain dapat juga diartikan sebagai suatu kreasi seniman untuk memenuhi kebutuhan tertentu dan cara tertentu pula. Desain juga dapat merupakan pemecahan masalah dengan suatu target yang jelas (Archer, 1965). Sedangkan menurut Alexander (1963) desain merupakan temuan unsur fisik yang paling objektif. Atau desain merupakan tindakan dan inisiatif untuk merubah karya manusia (Jones, 1970).
Jika istilah ‘desain’ maknanya adalah ‘rencana’, maka ‘rencana’ adalah bendanya
(benda yang dihasilkan dalam proses
perencanaan). Kegiatannya disebut’ merencana’ atau ‘mencananakan’. Pelaksananya disebut ‘perencana’, sedangkan segala sesuatu yang berkaitan erat dengan proses pelaksanaan pembuatan suatu rencana, disebut
‘perencanaan’. Jadi kata ‘mendisain’
mempunyai pengertian yang secara umum
setara dengan ‘merencana, merancang,
rancang bangun, atau merekayasa, yang artinya
setara dengan istilah ‘to design’ atau
‘designing’ (Bahasa Inggris). Istilah mendesain mempunyai makna: ‘melakukan
Latar
Masalah Gagasan Hasil
kegiatan/ aktivitas/proses untuk menghasilkan suatu desain (Palgunadi, 2007).
Berdasarkan definisi tersebut diatas, jelas bahwa desain tidak semata-mata rancangan dalam berbagai dinamikanya.
Desain produk merupakan salah satu bidang ke ilmuan yang terintegrasi dengan segala bentuk aspek kehidupan manusia dari masa kemasa. Memadukan unsur khayal dan orientasi penemuan solusi untuk berbagai masalah yang dihadapi manusia dengan menjembatani estetika serta teknologi yang masing-masingnya dinamis dan memiliki pola tertentu dalam perkembangannya.
Menurut Wignjosoebroto (2003) perancangan adalah suatu proses yang bertujuan menganalisa, memperbaiki dan menyusun suatu sistem. Sistem yang dimaksud adalah sistem fisik dan non fisik yang optimal untuk waktu yang akan datang dengan memanfaatkan informasi yang ada.
Perancangan suatu alat termasuk dalam metode teknik, dengan demikian langkah-langkah pembuatan perancangan akan mengikuti metode teknik. Asimow (1994) menjelaskan bahwa perancangan teknik adalah suatu aktivitas dengan maksud tertentu menuju kearah tujuan dari pemenuhan kebutuhan manusia. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam perancangan yaitu aktivitas dengan maksud tertentu, sarana pada pemenuhan kebutuhan manusia dan berdasarkan pertimbangan teknologi.
Ulrich dan Eppinger (2001) menjelaskan secara spesifik desain industri dapat digolongkan ke dalam fase yaitu penyelidikan kebutuhan pelanggan, konseptualisasi, perbaikan awal, perbaikan lanjutan dan pemilihan konsep akhir, pengambaran kontrol dan koordinasi dengan ahli teknik, manufaktur dan pengecer.
Droyfuss (1967) menjelaskan dalam membuat daftar lima tujuan penting dalam mengembangkan produk baru yaitu kegunaan, penampilan, kemudahan pemeliharaan, biaya dan komunikasi kegunaan yaitu hasil produksi manusia harus selalu aman, mudah menggunakan dan intuitif. Setiap ciri harus di bentuk sedemikian rupa sehingga memudahkan pemakai mengetahui fungsinya. Penampilan ialah bentuk, garis, proporsi dan warna yang digunakan untuk
menyatakan produk menjadi satu produk yang menyenangkan kemudahan pemeliharaan adalah produk harus di desain untuk memberitahukan bagaimana mereka merawat dan memperbaiki. Biaya yang dimaksudkan di sini adalah biaya yang rendah dalam membuat produk. Komunikasi ialah desain produk harus dapat mewakili filosofi desain perusahaan dan misi perusahaan melalui visualisasi kualitas produk.
Kajian Awal (Preliminary Design)
Lingkup desain produk dapat dikatakan hampir tidak terbatas, melingkupi semua aspek yang memungkinkan untuk dipecahkan oleh profesi/ kompetensi ini. Namun demikian jika mengacu pada perkembangan internasional, terdapat wilayah profesi yang tegas terdiri atasdesain produk, desain grafis, dan desain interior. Wilayah desain yang disebutkan ini wilayah desain yang diletakkan pada bidang seni rupa. Berdasarkan pembagian wilayah desain tersebut, desain produk merupakan salah satu dari wilayah desain yang ada.
Desain produk merupakan terjemahan dari Industrial Design. Sebagian para ahli menerjemahkan Industrial Design dengan desain produk. Sebagian yang lain menerjemahkan dengan desain industri. Penerjemahan yang terakhir dirasa kurang tepat, karena yang didesain bukanlah industrinya melainkan produknya. (Adhi Nugraha,1989).
Dalam perkembangan selanjutnya profesi ini terbagi atas beberapa kelompok kompetensi (mungkin juga dapat berkembang sejalan dengan perkembangan jaman), yaitu; (a) desain produk Sasaran itu berbeda-beda menurut kebutuhan dan kepentingan, [2] Setiap upaya desain harus berorientasi pada mencapai hasil yang seoptimal mungkin dengan biaya yang serendah-rendahnya.