• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seni Berpuis

Dalam dokumen sma12bhsind PiawaiBerbahasa Sunardi (Halaman 168-180)

Seni Berpuisi

Sumber: apresiasi puisi

Sastra adalah seni bahasa. Salah satu cirinya terletak pada keindahannya. Keindahannya tidak hanya tampak pada tampilan visual, tetapi juga pada cara mengekspresikan gagasan, perasaan, serta kemauan. Wujudnya beragam. Secara ekstrem ada dua wujud yaitu prosa dan puisi. Asalnya pun beragam. Ada yang berasal dari warisan nenek moyang dan sastra mancanegara. Ada yang lisan dan ada yang tertulis. Baik yang ditulis dengan huruf Latin maupun huruf Jawi. Semua itu mempekaya khasanah bagi sastra kita. Untuk memahaminya kita harus menyimak, membaca, memahami kandungan isinya, dan menikmati nilai seninya. Sastra adalah seni.

A. Mendengarkan

Tujuan Pembelajaran: Anda diharapkan dapat menentukan tema dan amanat puisi terjemahan yang dibacakan

Mengenal puisi terjemahan

Sejak dulu sastra asing diperkenalkan melalui saduran dan terjemahan, tidak hanya puisi atau prosa, tetapi juga drama. Maka tidak mengherankan, jika kemudian kita mengenal karya sastra dari berbagai bangsa dan negara seperti India, Persia, Amerika, Inggris, Belanda, Cina, Mesir, dan Rusia. Berikut salah satu di antaranya.

Pemuda Partisan Bosnia

Kami pemuda partisan Bosnia Kami cinta tanah air kami Kami sukarela Tito, membina Kemerdekaan ibu pertiwi

Hutan kami tempuh, senjata di tangan Bedil: ibu kami, hutan: rumah kami Rentak tembakan tak pernah seindah Yang dilepas pemuda partisan

Indah dari nyanyi burung: swara mitraliur Kerna pelor dilepas gadis-gadis kami

Dari Taslim Ali, Puisi Dunia I

Tema merupakan dasar puisi. Cakupannya luas, abstrak, dan netral. Apa saja dapat dijadikan tema. Tema dapat dicari dengan mengajukan pertanyaan “Mengapa penulis menulis itu?” Lain halnya dengan amanat. Amanat merupakan pesan penyair kepada pendengar atau pembaca. Umumnya dalam sebuah puisi hanya terdapat satu tema, sedangkan amanat mungkin lebih.

1. Rumuskan tema dan amanat puisi Pemuda Partisan Bosnia tersebut! 2. Rumuskan pula tema dan amanat puisi terjemahan di atas!

B. Berbicara

Tujuan Pembelajaran: Anda diharapkan dapat melisankan Gurindam XII untuk menemukan nilai- nilai dan kekhasannya dalam pengungkapan dan penggunaan diksi.

Melisankan dan menemukan nilai-nilai Gurindam XII

Gurindam adalah puisi. Membaca gurindam tidak hanya sebatas melisankan bahasa tulis, bukan menghafal atau berdeklamasi, melainkan menyampaikan isi, perasaan, pikiran, dan rasa estetika yang ada di dalamnya. Untuk keperluan itu, pembaca harus melakukan penghayatan dan penafsiran.

Lafal dan intonasi. Lafal dikatakan baik jika sesuai dengan isi yang dibaca. Untuk itu, ada baiknya puisi yang akan dibaca diberi tanda, misalnya perhentian sejenak dengan tanda (/), perhentian lebih lama dengan (//), dan kalau ada, pelompatan larik atau enjambemen

dengan tanda (=). Perhatikan contoh berikut!

Gurindam Dua Belas

Oleh Raja Ali Haji

Gurimdam pasal yang pertama

Barang siapa / tiada memegang agama / sekali-kali / tiada boleh / dibilangkan nama // Barang siapa / mengenal yang empat / maka / dia itulah / orang makrifat // Barang siapa / mengenal Allah / suruh dan tegahnya / tiada menyalah // Barang siapa / mengenal diri /

maka / telah mengenal / akan Tuhan yang Bahari// Barang siapa / mengenal akhirat /

tahulah dia / dunia mudarat //

1. Berilah tanda / untuk perhentian sejenak, tanda // untuk perhentian lebih lama, dan kalau ada tanda = untuk pelompatan larik atau enjambemen pada gurindam berikut! Setelah itu, bacalah dengan nyaring!

Tips Membaca Puisi

1. Persiapan sebelum membaca.

a. Berilah tanda-tanda intonasi pada teks puisi yang akan dibaca.

b. Berjalan menuju mimbar.

c. Berjalanlah ke mimbar dengan langkah pasti. d. Berdirilah dengan tenang dan wajar. e. Berilah salam dan hormat pada penonton

dengan santun.

f. Ambillah napas sebelum membaca. 2. Membaca puisi

a. Baca judul puisi dan pengarangnya dengan jelas, indah, dan wajar.

b. Lafalkan suku, kata, frase, dan kalimat harus dengan jelas dan benar.

c. Gunakan intonasi (nada, tempo, frekuensi, jungture, irama, dan dinamiknya) secara tepat dan bervariasi sesuai dengan isi puisi yang dibaca.

d. Ekspresikan mimik dan pantomimik dengan gerak wajar, indah, dan tidak dibuat-buat. 3. Meninggalkan mimbar

a. Setelah selesai membaca, berhentilah sejenak, atur napas kembali dan beri hormat pada penonton.

b. Berjalan dengan wajar saat meninggalkan mimbar.

C. Membaca

Gurindam XII

Oleh Raja Ali Haji

Gurindam pasal yang kedua

Barang siapa mengenal yang tersebut, tahulah ia makna takut.

Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang.

Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua termasa. Barang siapa meninggalkan zakat, tiadalah hartanya beroleh berkat. Barang siapa meninggalkan haji, tiadalah ia menyempurnakan janji.

2. Rumuskan ciri-ciri gurindam, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut! a. Berapa baitkah gurindam pasal pertama, pasal kedua, dan pasal ketiga? b. Berapa larikkah panjang gurindam setiap baitnya?

c. Bagaimana pola rima akhir gurindam itu?

d. Dapatkah setiap bait gurindam disebut kalimat majemuk? Jelaskan jawaban Anda! e. Bagaimanakah isi larik-larik pada setiap bait gurindam?

Tujuan Pembelajaran: Anda diharapkan dapat menganalisis puisi yang dianggap penting pada setiap periode untuk menemukan standar budaya yang dianut masyarakat dalam periode tersebut.

Menemukan standar budaya 1. Mengenal periodisasi sastra

Beberapa pakar sastra mencoba membagi-bagi perkembangan sastra Indonesia ke dalam beberapa periode. Usaha tersebut dinamakan periodisasi.

Tabel 13.1: Periodisasi sastra

Periodisasi H.B. Jassin Kesastraan Melayu Lama Kesastraan Indonesia Modern

Angkatan 20

Angkatan 33 atau Angkatan Pujangga Baru

Angkatan 45 Angkatan 66

Periodisasi Zuber Usman Kesastraan Lama

Zaman Peralihan Kesastraan Baru

Zaman Balai Pustaka (1908) Zaman Pujangga Baru (1933) Zaman Jepang (1942) Zaman Angkatan 45 (1945)

Periodisasi Nugroho Notosusanto Kesastraan Melayu Lama

Kesastraan Indonesia Modern

Masa Kebangkitan Periode 1920 Periode 1930 Periode 1942 Masa Perkembangan Periode 1945 Periode 1950

Periodisasi Ayip Rosisi

Masa Kelahiran atau Masa Kejadian (± 1900 – 1945)

Periode awal hingga 1933 Periode 1933 – 1942 Periode 1942 – 1945

Masa Perkembangan (1945 hingga sekarang)

Periode 1945 – 1953 Periode 1953 – 1960 Periode 1960 – sekarang

Kiranya mereka sependapat bahwa sastra Indonesia hanya terbagi dua periode utama: Sastra Indonesia Lama (sampai 1900), dan Sastra Indonesia Modern (1900 – sekarang). 2. Menemukan standar budaya masyarakat lama

Dalam setiap periode sastra Indonesia adakalanya menunjukkan ciri khasnya, baik ciri khas dalam wujud bentuk, pandangan hidup penyairnya, maupun pokok masalahnya. Pada periode sastra lama, puisi didominasi bentuk pantun dan syair; prosa didominasi dongeng dan hikayat. Dengan melakukan analisis bentuk-bentuk itu, kita dapat menemukan standar budaya masyarakat ketika itu.

Asam kandis asam gelugur,1... a

Ketiga asam siriang-riang.2... b

Menangis mayat di pintu kubur, ... a

mengenang badan tidak sembahyang. ... b

Dari Sabaruddin Ahmad, Seluk Beluk Bahasa Indonesia

Bentuk pantun dari dahulu hingga sekarang seperti itu. Setiap bait terjadi dari empat larik. Akhir larik pertama memiliki kesamaan bunyi dengan akhir larik ketiga. Demikian pula akhir larik kedua dan larik keempat. Persamaan bunyi akhir larik dirumuskan dengan pola a b a b.

Isi pantun tidak terletak pada larik pertama dan kedua, tetapi pada larik ketiga dan larik keempat.

Bagi masyarakat ketika itu Karya sastra bukan ciptaan perseorangan, tetapi ciptaan bersama. Wajar apabila nama pengarang tidak dikenal (anonim).

Bagi masyarakat lama, bentuk yang ada dipertahankan. Ikatan puisi mengenai bait, jumlah baris per bait, jumlah suku kata per baris, pola rima dan irama dipertahankan. Masyarakat tidak mau ambil risiko dengan membuat bentuk baru dengan pola baru. Hal itu wajar, mengingat peradaban mereka masih sederhana. Pola pikir masih sederhana. Tidak mustahil ekspresi serta kesan mereka terhadap sesuatu juga sederhana.

½ ¾ ¿sampiran ½ ¾ ¿isi

1. gelugur, mangga hutan; Garcinia macrophyllia

1. Mengapa pada puisi lama penyair enggan atau tidak mau mencantumkan nama pada karyanya?

2. Bagaimana pola rima akhir pada puisi berikut? Guliga1 di dalam puan2,

pakaian anak raja mandi. Alangkah payah gerangan tuan, dendam mana akan dicari.

3. Mengapa bentuk puisi lama harus mematuhi persyaratan bait, larik, rima, dan irama yang ketat?

4. Apakah tema, topik, dan amanat yang disampaikan melalui puisi berikut? a. Kemumu di dalam semak,

jatuh melayang selaranya. Meski ilmu setinggi tegak, tidak sembahyang apa gunanya. b. Kalau ‘nak pergi ke pekan,

yu beli belanak beli, ikan panjang beli dahulu. Kalau ‘nak pergi berjalan, ibu cari dan sanak cari, induk semang cari dahulu.

5. Bagaimanakah budaya masyarakat lama ditinjau dari puisi-puisi yang diciptakannya? Uji Kompetensi 1.3

1. guliga, batu dalam tubuh binatang (ular, landak, dan sebagainya) yang berkhasiat sebagai penawar bisa

D. Menulis

Tujuan Pembelajaran: Anda diharapkan dapat mengalihkan teks aksara Arab Melayu ke dalam aksara Latin serta menulis kembali cuplikan sastra Indonesia klasik dari teks berhuruf Arab Melayu ke dalam huruf Latin

Mengenal aksara Arab Melayu

1. Huruf Arab-Melayu

Huruf Arab ada 28. Lima belas di antaranya digunakan sebagai huruf Arab-Indonesia atau Arab-Melayu. Bentuknya berubah-ubah sesuai dengan posisinya dalam kata.

Huruf Lafal Huruf Bentuk Huruf

Arab Latin di Belakang di tengah di depan berdiri

sendiri alif a ba b ta t tsa ts jim j ha kh kha kh dal d dzal dh ra r za z sin s syin sy shad sh dhad dh tha th zha zh

‘ain ‘a ghain gh fa f qaf q kaf k lam l mim m nun n wau w ha h hamzah ‘ – – – ya y – – c – – ny – – g – – ng 2. Angka Arab 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0

3. Cara menulis dan membaca

Huruf Arab ditulis dan dibaca dari kanan ke kiri, kecuali angka. Umumnya huruf Arab ditulis serangkai dengan huruf sebelum dan sesudahnya.

Kata Penulisan

Terpisah Sesuai dengan Dirangkai

Posisinya

a-ku

ka-mi

1. Salinlah kata-kata berikut ke dalam huruf Arab Melayu! a. satu, ratu, kuku, cucu, pilu

b. cuci, guci, ciri, bunyi, tari

2. Salinlah teks berikut ke dalam huruf Latin! Uji Kompetensi 13.4

Ada Apa dalam Sastra Kita?

Rangkuman

Tujuan pembelajaran: Anda diharapkan dapat menulis karya sastra untuk majalah dinding dan buletin.

Menulis karya sastra

Menulis puisi adalah menyusun karya seni. Keindahannya tampak pada irama atau keteraturan larik-larik; rima, sajak, atau perulangan bunyi yang dipilih; ketepatan diksi atau pilihan kata; gaya penyampaian; isi; dan tipografinya. Adapun langkah yang perlu ditempuh adalah menentukan tema; menentukan topik, dan menuangkannya dalam larik-larik dan bait- bait. Kata, frase, dan kalimat yang tidak penting, juga yang mubazir, tidak perlu dipilih. Kaidah pemakaian huruf besar dan tanda baca boleh diabaikan.

1. Susunlah sebuah puisi! Tema, topik, judul, jumlah bait, jumlah larik, dan tipografinya bebas.

2. Suntinglah puisi yang Anda susun tersebut!

1. Merumuskan, tema dapat dicari dengan bertanya ”Mengapa penulis menulis itu?”

2. Membaca gurindam tidak hanya sebatas melisankan bahasa tulis, tetapi juga menyampaikan isi, perasaan, pikiran, dan rasa estetika yang ada di dalamnya. 3. Bentuk dan isi karya sastra lama mengindikasikan bahwa masyarakat lama tidak

menghendaki adanya perubahan bagi sesuatu yang dianggap sudah mapan. 4. Menulis puisi adalah menyusun karya seni. Keindahannya tampak pada (1) irama

(2) rima, (3) ketepatan diksi atau pilihan kata, (4) gaya, (6) isi, dan (7) tipografinya. Adapun langkah yang perlu ditempuh adalah (1) menentukan tema, (2) menentukan topik, dan (3) menuangkannya dalam larik-larik dan bait-bait. Kata, frase, dan kalimat yang tidak penting, tidak perlu dipilih. Kaidah pemakaian huruf besar dan tanda baca boleh diabaikan.

5. Huruf Arab ada 28. Bentuknya berubah-ubah sesuai dengan posisinya dalam kata. Huruf Arab ditulis dan dibaca dari kanan ke kiri, kecuali angka.

1. Bagaimanakah budaya masyarakat lama ditinjau dari puisi-puisi yang diciptakannya? 2. Jelaskan ciri-ciri khas gurindam!

3. Jelaskan maksud puisi! Banyak bulan perkara bulan, Tidak semulia bulan puasa Banyak Tuhan perkasa Tuhan Tidak semulia Tuhan Yang Maha Esa

4. Susunlah sebuah puisi pendek, minimal satu bait empat larik! Tema, topik, judul, jumlah bait, jumlah larik, dan tipografinya bebas!

5. Salinlah teks berikut ke dalam huruf Latin! a.

b.

Refleksi

Tanyakan kepada guru Anda masing-masing, berapa skor yang Anda peroleh dari jawaban Anda atas soal evaluasi di atas! Cocokkan dengan tabel berikut untuk mengetahui tingkat keberhasilan Anda dalam mempelajari materi pada pelajaran ini.

Tabel Penguasaan Materi

Skor Tingkat Penguasaan Materi

85 – 100 Baik sekali 70 – 84 Baik 60 – 69 Cukup

< 60 Kurang

Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai skor 70 ke atas, Anda tergolong siswa yang berhasil. Akan tetapi, kalau skor yang Anda peroleh di bawah 70, Anda harus mengulangi pelajaran ini, terutama bagian materi yang belum Anda kuasai.

Pelajaran 14

Dalam dokumen sma12bhsind PiawaiBerbahasa Sunardi (Halaman 168-180)