• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seni Suara ( doding )

2.2 Kependudukan dan Sistem Bahasa

2.3.3 Seni Suara ( doding )

Seni suara atau masyarakat Simalungun sebutkan dengan doding merupakan seni vokal yang melantunkan rasa Simalungun. Rasa dalam hal ini maksud penulis merupakan sebuah teknik yang dapat menghasilkan suara khas Simalungun yang disebut dengan inggou (lihat Bab I hal.4). Hal ini juga dapat disebut sebagai identitas musikal Simalungun yang membedakannya dengan gaya tradisi kebudayaan daerah lainnya.

Seni suara/ doding dalam masyarakat Simalungun memiliki jenis yang berbeda dengan peran yang berbeda pula yang disesuaikan berdasarkan penggunaanya (Dermawan Purba 2009:61). Adapun jenis doding tersebut antara lain:

1) Taur-taur, yaitu nyanyian yang dinyanyikan oleh sepasang muda-mudi untuk mengungkapkann perasaan mereka satu sama lain. Dalam melakukan taur-taur, sepasang muda-mudi tersebut akan melakukan dialog musikal yang membicarakan tentang perasaan mereka (asmara) dan mereka melakukannya secara bergantian.

2) Ilah, yaitu nyanyian yang dinyanyikan oleh sekelompok pemuda-pemudi untuk menunjukkan suatu bentuk keakraban dalam komunitas tersebut. Nyanyian ini dilakukan dengan bertepuk tangan bersama dalam posisi membentuk lingkaran.

3) Doding-doding, yaitu nyanyian yang dilakukan oleh seseorang maupun sekelompok orang untuk menyampaikan sesuatu baik itu dalam bentuk pujian, sindiran, dan bahkan dalam bentuk cerita. Nyanyian ini

39

dinyanyikan untuk mengungkapkan sesuatu baik itu perasaan sedih, sepi, dan juga untuk menyampaikan pesan. Terkait tulisan ini yang membahas tentang sebuah lagu yang sifatnya bercerita dengan judul parenjak-enjak ni huda sitajur akan menambah pemahaman tentang doding tersebut.

4) Urdo-urdo, yaitu nyanyian yang digunakan untuk menidurkan seorang anak. Hal ini biasanya dilakukan oleh seorang ibu kepada anaknya maupun seorang anak perempuan kepada adiknya. Urdp-urdo ini merupakan suatu bentuk kebiasaan yang dilkukan oleh masyarakat Simalungun untuk menidurkan anaknya karena hal itu diyakini akan membuat si anak dapat tidur lebih nyenyak dan bahkan membantu si anak untuk lebih merespon kepada orang tuanya.

5) Tihtah, yaitu nyanyian yang digunakan untuk mengajak seorang anak untuk bermain. Tihtah hampis sama dengan urdo-urdo, bedanya urdo- urdo untuk menidurkan anak sementara tihtah untuk bermain.

6) Tangis-tangis, yaitu nyanyian yang dinyanyikan oleh seorang istri karena suaminya telah meninggal. Nyanyian ini digunakan untuk meratapi kesedihannya atas meninggalnya suaminya. Tangis-tangis ini juga digunakan oleh seorang gadis yang akan menikah yang ditujukan kepada keluarga yang akan ditinggalkannya untuk mengungkapkan kesedihannya. 7) Manalunda/ Mangmang, yaitu mantra yang dinyanyikan oleh seorang datu

dalam melakukan ritual tertentu seperti dalam menembuhkan suatu penyakit. Manalunda/ mangmang ini dulunya digunakan untuk

40

menobatkan seorang raja agar diberi berkat dalam menjalani tahtanya sebagai seorang raja.

Di luar dari ketiga bentuk kesenian yang diungkapkan oleh Taralamsyah Saragih, masih ada bentuk kesenian lain Simalungun yang sampai saat ini masih dapat dilihat. Berdasarkan pengalaman penulis dalam pesta rondang bittang15 di Saribu Dolok, masih ada kesenian-kesenian Simalungun yang perlu dilestarikan seperti

1) Dihar, yaitu seni bela diri yang dipelajari untuk melindungi dirinya dari ancaman orang lain.

2) Gorga, yaitu seni ukir yang terdapat di dinding-dinding rumah dengan motif-moif khas Simalungun. Dan untuk menambahi estetikanya rumah tersebut juga dihiasi dengan seni patung yang terbuat dari batu maupun kayu.

3) Hiou, yaitu seni tenun yang dibentuk dari benang-benang untuk membuat sebuah selendang dengan motif-motif khas Simalungun. Seni dilakukan dengan tradisional ataupun buatan tangan dan bukan buatan pabrik. Seni ini massih dipertahankan hingga saat ini melihat mutu buatan tangan tersebut lebih bagus daripada buatan pabrik.

Bentuk-bentuk kesenian Simalungun tersebut merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan. Melihat eksistensi sebuah tradisi yang sudah melemah dalam ruang lingkup perkembangan zaman sekarang ini membuat keberadaanya susah

15

Dalam pest a rondang bit t ang m enam pilkan segala bent uk kegiat an aktivit as budaya t erlebih dalam bidang kesenian. Acara ini diselenggrakan oleh pihak inst ansi-inst ansi daerah Kabupat en Sim alungun yang dilakukan setiap t ahunnya dengan didukung oleh m syarakat Sim alungun secara keseluruhan yang t erdiri dari 32 kecam at an. Dalam pest a rondng bit t ang t ersebut set iap kecamat annya menampilkan setiap kesenian Sim alungun yang ada unt uk dipert andingkan dengan kecam at an yang lainnya. Dalam kegiat an inilah dapat dilihat kekayan kebudayaaan Sim alungun t erut am a dalam bidang kesenian.

41

dijangkau bahkan oleh masyarakatnya sendiri. Melihat bahan pembahasan tulisan ini (tradisi parenjak-enjak ni huda sitajur) yang membahas tentang suatu bentuk kesenian yang sudah hampir tidak terlihat keberadaannya. Kesenian tradisi seperti ini baik di luar kebudayaan Simalungun akan segera hilang apabila tidak didukung oleh masyarakatnya sendiri. Mengingat kesenian tradisional sekarang ini banyak ditinggalkan oleh masyarakatnya karena kurang sesuai dengan perkembangan zaman.

42

BAB III

HUSAPI SIMALUNGUN DALAM LAGU PARENJAK-ENJAK NI HUDA

SITAJUR

Masyarakat Simalungun memiliki tradisi lisan dalam bentuk nyanyian yang sifatnya bercerita yaitu parenjak-enjak ni huda sitajur. Dalam Setia Dermawan Purba kemudian dijelaskan bahwa nyanyian seperti ini dikategorikan dalam nyanyian rakyat yang bergenre atau berbentuk foklor yang disampaikan secara lisan dan berbentuk tradisional. Foklor yang dimaksud adalah cerita rakyat yang disampaikan secara tradisional. Dalam masyarakat Simalungun masih dikenal cerita-cerita rakyat atau dapat disebut sebagai foklor yang diyakini sebagai fakta maupun sebagai mitos. Ada banyak foklor yang diyakini oleh masyarakat Simalungun dengan berbagai jenis kategori pengaplikasian dalam ceritanya khususnya untuk keseniannya seperi foklor yang diceritakan untuk menciptakan sesuatu seperti membuat alat musik, foklor yang diceritakan semata- mata sebagai cerita yang harus dikenang, dan juga foklor yang diceritakaan kemudian diaplikasikan dalam sebuah konsep musikal.

Dalam tulisan ini penulis lebih terfokus terhadap foklor yang diceritakan kemudian diaplikasikan ke dalam bentuk konsep musikal. Dalam konsep musikal di sini maksudnya adalah suatu cerita yang diceritakan kepada pendengar dalam bentuk cerita yang dinyanyikan. Untuk itu penulis juga akan lebih menjelaskan instrumen musik sebagai pendukung cerita tersebut, sehingga terlihat lebih jelas

43

pengaplikasian yang dimaksud sebagai foklor yang diceritakan dalam sebuah konsep musikal.

Dokumen terkait