• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sentralisasi SDA oleh Negara dan Sengketa Agraria

KONFLIK KEAGRARIAAN DI TANAH-AIR

1. Sentralisasi SDA oleh Negara dan Sengketa Agraria

Sengketa agraria modern Indonesia berawal dari inter- vensi negara kolonial di abat ke 19 kedalam sistim pengua- saan sumberdaya dan sistim produksi masyarakat lokal dalam rangka intensifikasi exploitasi kolonial. Disebut seba- gai sengketa agraria modern untuk memisahkannya dari sengketa agraria yang pasti ada di dalam konteks negara- negara kerajaan pra-kolonial. Disebut sebagai sengketa agraria modern karena merupakan sengketa agraria yang meletakkan masyarakat lokal berhadapan dengan negara (kolonial) dalam rangka pengintegrasian ekonomi lokal dan sumberdaya lokal kedalam ekonomi dunia melalui kelem- bagaan ekonomi dan teknologi baru. Usaha untuk mengin- tegrasikan ekonomi lokal kedalam ekonomi dunia dengan

Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006-2007

merubah sistim penguasaan tanah di pedesaan sudah dimulai oleh kekuasaan kolonial interregnum Perancis dan Inggris. Namun tidak berlanjud karena sempitnya waktu dan persaingan imperialis diantara negara-negara adidaya saat itu. Setelah berkuasa kembali, Belanda tidak meneruskan experimen liberal dari Perancis dan Inggris sebelumnya, terutama atas pertimbangan bahwa kapitalis Belanda – dibandingkan kapitalis Perancis dan Inggris - belum siap memanfaatkan sistim kolonial liberal untuk menanam modalnya di kawasan kolonial. Strategi yang dipilih Belanda adalah exploitasi lebih langsung dengan menerapkan sistim tanam paksa, dimana negara kolonial sendiri yang memain- kan peranan utama. Strategi kolonial ini merupakan inter- vensi radikal pertama kedalam sistim kelembagaan pengu- asaan sumberdaya alam dan sistim pertanian lokal, dan hanya dapat diterapkan di Jawa dan beberapa enklave diluar Jawa karena keterbatasan jangkauan aparat kolonial. Inter- vensi radikal kedua yang mempunyai implikasi lebih luas adalah diberlakukannya Agrarische wet tahun 1870 (Suhendar & Winarni, 1997; Noer Fauzi, 1999). Salah satu inti perundangan tersebut, Domein Verklaring, merupakan langkah awal yang radikal dalam mengusahakan sentralisasi penguasaan tanah dan sumberdaya lain ketangan negara secara faktual. Ekonomi Belanda saat itu telah siap untuk expansi modalnya secara mendiri, tidak lagi diwakilkan pada negara kolonial seperti sebelumnya, didaerah kolonial. Ka- wasan yang dianggap bebas kepemilikan, terutama daerah dataran tinggi, di definisikan sebagai tanah negara dan dapat disewakan pada swasta selama 75 tahun. Di dataran rendah swasta dapat menyewa tanah dari penduduk. Perkebunan

tanaman keras bermunculan, dan kawasan tanam paksa (se- perti daerah tebu) sedikit demi sedikit beralih dari negara ketangan swasta.

Intervensi radikal dari negara (kolonial) kedalam sistim penguasaan tanah dan produksi masyarakat sejak awal telah berdampak besar pada kehidupan rakyat di desa maupun kelembagaan pemerintahan pedesaan. Penelitian dari peme- rintah Belanda sendiri memperlihatkan peningkatan kemis- kinan diantara penduduk desa. Studi-studi dari Boeke yang melontarkan pengertian ekonomi dualistik dan statik expan- sion – lepas dari penilaian terhadap pengertian-pengertian diatas – mengindikasikan kemandekan ekonomi rakyat. Demikianpun konsep involusi pertanian dari Geertz mengin- dikasikan berkurangnya tanah bagi petani dan pemiskinan. Daya jangkau dan teknologi saat itu tidak memungkinkan negara (kolonial) dan pemodal besarnya saat itu cepat berexpansi keseluruh kawasan Indonesia. Hanya beberapa enklave, seperti Sumatera Timur/Deli, menyaksikan expansi kapital dalam bentuk perkebunan-perkebunan tembakau dan berakibat pada penggusuran tanah-tanah penduduk di- prakarsai oleh penguasa pribumi yang mempunyai kepen- tingan sama dengan pekebun-pekebun asing. Di segi lain, expansi negara (kolonial) ini berdampak pada kebutuhan sistim pemerintahan yang langsung. Terutama di Jawa, peme- rintahan de desa berkembang menjadi bagian integral dari pemerintah pusat (kolonial), mengabdi dan loyal pada ke- pentingan pemerintahan pusat (kolonial) dan modal besar.2

Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006-2007

Masa pemerintahan Sukarno memperlihatkan gabungan unik dari manajemen sumberdaya alam yang konvensional dan usaha reforma agraria pertama (dan sampai kini terakhir) pasca kemerdekaan. Pada saat itu, paradigma pemusatan penguasaan sumberdaya alam setidaknya sebagian meru- pakan pencerminan dari semangat nasionalisme, usaha menghapuskan bentuk-bentuk “feodal” dan memberikan instrumen bagi negara untuk memobilisasi sumberdaya un- tuk ekonomi nasional. Di Jawa, strategi ini memperlihatkan wajahnya yang sinikal ketika petani-petani yang pada masa pendudukan Jepang dan revolusi fisik menduduki perke- bunan-perkebunan ex-zaman kolonial dikeluarkan oleh pemerintahnya sendiri. Selanjutnya nasionalisasi perke- bunan-perkebunan asing ternyata banyak diantaranya secara riil jatuh ketangan tentara. UUPA cukup menjanjikan untuk menggerakkan perubahan struktur agraria di Jawa. Lain halnya untk petani dan masyarakat adat di luar Jawa. Walau UUPA memberikan pengakuan hak-hak atas sumberdaya alam pada masayrakat adat, namun persyaratan-persyaraan yang menyertainya boleh dikatakan dengan mudah meniada- kan hak-hak masyarakat adat. Pada masa itu tidak banyak konsekwensi yang dialami penduduk di luar Jawa, karena

Wertheim W.F. (1956) Indonesian society in Transition. A Study of So- cial Change. Sumur Bandung; Wertheim W.F. (1978) Indonesie: van vorstenrijk ktot neo-kolonie. Boom Meppel, Amsterdam; Suhendar E. Dan Winarni Y.B. (1997) Petani dan Konflik Agraria. Akatiga.; Fauzi, Noer (1999) Petani dan Penguasa. Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indoneaia. Insist, KPA, Pustaka Pelajar; Untuk kawasan luar Jawa lihat Pelzer K.J. (1985) Toean Keboen dan Petani. Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatra Timur, 1863-1947. Penerbit Sinar Harapan.

sumberdaya pemerintah, swasta dan teknologi yang ada – mungkin juga ditambah oleh boikot negara-negara industri Barat terhadap Indonesia yang mengambil sikap pro-keman- dirian Dunia ke III – belum mampu memanfaatkan sumber- daya alam tersebut secara modern dan besar-besaran.

Konflik-konflik agraria yang terjadi di kawasan perke- bunan pada masa pemerintahan Sukarno dikompensir oleh gerakan land-reform yang dilansir pemerintah pada awal tahun 1960an. Sedangkan konflik-konflik agraria yang berkepanjangan dan memiliki dampak nasional terjadi justru akibat dari program land-reform dan pencerminan dari konflik diantara elite berkuasa mengenai strategi politik- ekonomi Indonesia kedepan: suatu strategi yang lebih popu- lis dan sosialistik atau strategi kapitalistik liberal. Sejarah mem- perlihatkan bahwa elite politik yang menjagoi strategi ekono- mi politik terakhir yang meraih kemenangan, dengan kon- sekwensi besar terhadap proses perkembangan struktur pengu- asaan dan sistim exploitasi smberdaya agraria di Indonesia.

Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa rezim Orde Baru dengan pemerintahan otoritarian dan strategi ekonomi lib- eral (note on kapitalisme semu), memperkuat kekuasaan negara thd. SDA untuk kepentingan modal besar.

Hal ini paling nyata di luar Jawa dimana Hak Menguasai Negara di dalam konteks politik ekonomi yang baru menjadi instrumen negara untuk mengelola sumberdaya alam bagi kepentingan suatu sistim “kapitalisme semu”. Salah satu konsekwensinya adalah didefinisikannya hampir 70% dari daratan Indonesia sebagai kawasan hutan. Suatu langkah yang tidak diambil melalui proses mendasar dari bawah, berdasarkan kondisi riil pada tataran lokal dan konsepsi

Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006-2007

masyarakat lokal mengenai lingkungan SDA mereka.3 Penentuan kawasan hutan negara secara sepihak ini – walau menggunakan istilan Kawasan Hutan Kesepakatan - mempunyai dampak luarbiasa bagi masyarakat-masyarakat desa/-adat, yang dalam sekejap kehilangan hak terhadap jutaan hektar sumberdaya dalam bentuk berbagai ekosis- tem4. Masyarakat-masyarakat ini harus hidup dibawah bayang-bayang perusahaan-perusahaan raksasa pemegang konsesi HPH /Hak Pengusahaan Hutan, HTI/Hutan Ta- naman Industri dan perkebunan, yang selanjudnya menen- tukan sistim manajemen dan pemanfaatan SDA yang secara formal dikuasai mereka. Dan dengan demikian juga nasib dari masyarakat-masyarakat desa/adat. Di Jawa rezim Orde Baru membungkam hak-hak demokratis orang desa dengan menerapkan kebijakan “massa mengambang”, sehingga dengan leluasa dapat menjalankan kebijakan pertanahan dan pertanian yang mengabdi pada kepentingan lapisan kelas menengah kota, dan lapisan petani kaya di pedesaan.

3 Untuk pembahasan detail kontroversi klaim Dep. Kehutanan terhadap kawasan hutan lihat Contreras & C. Fay (2006) Memperkokoh pengelolaan hutan Indonesia. ICRAF.

4 Masyarakat adat di luar Jawa, mengembangkan sistim penghidupan teradaptasi dengan tanah yang kurang subur, penduduk yang kecil serta teknologi sederhana – mengembangkan pertanian extensive, dengan sistim agroforestry dikombinasikan dengan pemanfaatan hail hutan, terutama hasil hutan non-kayu (getah, rotan). Dengan cepat masyarakat ini menyesuaikan sistim agroforestri mereka dengan meningkatnya kebutuha pasar internasional akan bahan mentah seperti karet, produk- produk getah lain, kopi, rotan, tengkawang, dll.