• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5 Senyawa Fitokimia Ekstrak Enhalus acoroides

Ekstrak kasar hasil ekstraksi dari lamun Enhalus acoroides menggunakan pelarut metanol (polar), etil asetat (semipolar) dan n-heksana (nonpolar) kemudian diuji komponen bioaktifnya dengan menggunakan uji fitokimia. Uji fitokimia adalah analisis yang mencangkup pada aneka ragam senyawa organik yang dibentuk dan ditimbun oleh makhluk hidup, yaitu mengenai struktur kimianya, biosintesisnya, perubahan serta metabolismenya, penyebarannya secara alamiah dan fungsi biologisnya (Harborne 1987). Fitokimia mempunyai peran penting dalam penelitian obat yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan (Sirait 2007). Uji fitokimia yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi uji alkaloid, flavonoid,

fenol hidrokuinon, steroid, triterpenoid, tanin dan saponin. Hasil uji fitokimia ekstrak lamun dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Hasil uji fitokimia ekstrak kasar lamun Enhalus acoroides Uji Fitokimia

Jenis pelarut

Standar (warna) Metanol Etil asetat n-heksana

Alkaloid memiliki kandungan senyawa bioaktif yang lebih banyak dibandingkan ekstrak etil asetat dan ekstrak n-heksana. Komponen bioaktif yang terdapat pada ekstrak metanol meliputi flavonoid, fenol hidrokuinon, steroid, tanin dan saponin.

Komponen bioaktif yang terdapat pada ekstrak etil asetat dan ekstrak n-heksana meliputi flavonoid, fenol hidrokuinon, steroid dan triterpenoid.

Alkaloid adalah senyawa kimia tanaman hasil metabolit sekunder yang terbentuk berdasarkan prinsip pembentukan campuran. Alkaloid memiliki fungsi dalam bidang farmakologis antara lain sebagai analgetik (menghilangkan rasa sakit), mengubah kerja jantung, mempengaruhi peredaran darah dan pernafasan,

antimalaria, stimulant uterus dan anaestetika lokal (Sirait 2007). Sumber senyawa alkaloid potensial adalah tumbuhan yang tergolong dalam kelompok angiospermae dan jarang atau bahkan tidak ditemukan pada tumbuhan yang tergolong dalam kelompok gimnospermae seperti paku-pakuan, lumut dan tumbuhan tingkat rendah lain (Harborne 1987). Alkaloid pada ekstrak kasar lamun Enhalus acoroides tidak terdapat pada ekstrak metanol, etil asetat maupun n-heksana. Bioaktif jenis alkaloid ini umunya larut pada pelarut organik nonpolar, akan tetapi ada beberapa kelompok seperti pseudoalkaloid dan protoalkaloid, kelompok ini larut pada pelarut polar seperti air. Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa. Alkaloid biasanya dalam kadar kecil dan harus dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari bagian tumbuhan (Lenny 2006).

Flavonoid umumnya terdapat dalam bahan-bahan alami seperti tumbuhan, buah dan sayuran (Helgmeier dan Zidorn 2010). Flavonoid terdapat pada seluruh bagian tanaman termasuk pada buah, tepung sari dan akar (Sirait 2007). Flavonoid merupakan golongan terbesar dari senyawa polifenol, oleh karena itu larutan ekstrak yang mengandung komponen flavonoid akan berubah warna jika diberi larutan basa atau ammonia. Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang paling beragam dan tersebar luas. Sekitar 5-10% metabolit sekunder tumbuhan adalah flavonoid dengan struktur kimia dan peran biologi yang sangat beragam (Setyawan dan Darusman 2008). Hasil uji fitokimia menunjukkan hasil bahwa ketiga ekstrak lamun Enhalus acoroides mengandung komponen bioaktif flavonoid. Komponen bioaktif flavonoid yang paling banyak terkandung pada ekstrak metanol. Penelitian Helgmeier dan Zidorn (2010) juga menunjukkan bahwa pada lamun jenis Posidonia oceanica terdapat kandungan flavonoid pada bagian daun.

Fenol meliputi berbagai senyawa yang berasal dari tumbuhan dan mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus hidroksil. Flavonoid merupakan golongan fenol yang terbesar yang ditemukan di alam (Lenny 2006). Penelitian Bitam et al. (2010) juga menemukan terdapat kandungan flavonoid pada lamun Halophila stipulacea. Kuinon adalah senyawa bewarna dan mempunyai kromofor dasar, seperti kromofor pada benzokuinon,

yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon-karbon. Kuinon untuk tujuan identifikasi dapat dipilah menjadi empat kelompok, yaitu benzokuinon, naftokuinon, antrakuinon dan kuinon isoprenoid.

Hasil uji fitokimia menunjukkan hasil bahwa ketiga ekstrak lamun Enhalus acoroides mengandung fenol hidrokuinon dengan jumlah terkuat pada

ekstrak etil asetat.

Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualena. Triterpenoid dapat dibagi menjadi empat kelompok senyawa, yaitu triterpen sebenarnya, steroid, saponin, dan glikosida jantung (Harborne 1987).

Steroid merupakan golongan triterpena yang tersusun atas sistem cincin cyclopetana perhydrophenanthrene. Steroid pada mulanya dipertimbangkan hanya sebagai komponen pada substansi hewan saja (sebagai hormon seks, hormon adrenal, asam empedu, dan lain sebagainya), akan tetapi akhir-akhir ini steroid juga ditemukan pada substansi tumbuhan (Harborne 1987).

Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa komponen triterpenoid terdeteksi ekstrak etil asetat (semipolar) dan ekstrak n-heksana (nonpolar), sedangkan pada

ekstrak metanol komponen bioaktif triterpenoid tidak terdeteksi. Hasil uji fitokimia pada komponen bioaktif steroid terdeteksi pada ketiga ekstrak. Hal

ini diduga karena prekursor dari pembentukan triterpenoid/steroid adalah kolesterol yang bersifat nonpolar (Harborne 1987), sehingga triterpenoid/steroid dapat larut pada pelarut organik (nonpolar). Hal ini menunjukkan bahwa wajar

apabila triterpenoid/ steroid terdeteksi pada ekstrak kasar lamun Enhalus acaroides pelarut nonpolar seperti n-heksana ataupun pada pelarut

semipolar seperti etil asetat.

Tanin merupakan komponen zat organik derivat polimer glikosida yang terdapat dalam bermacam-macam tumbuhan, terutama tumbuhan berkeping dua (dikotil). Ekstrak tanin terdiri dari campuran senyawa polifenol yang sangat

kompleks dan biasanya tergabung dengan karbohidrat rendah (Linggawati et al. 2002). Tanin diharapkan mampu mensubtitusi gugus fenol dan

resin fenol formaldehid untuk mengurangi pemakaian fenol sebagai sumberdaya alam tak terbarukan. Hasil uji fitokimia komponen bioaktif pada ketiga ekstrak

lamun menunjukkan hasil bahwa komponen bioaktif tanin hanya terdapat pada ekstrak kasar metanol. Tanin, polifenol dan flavonoid merupakan senyawa yang berfungsi sebagai antioksidan karena ketiga senyawa tersebut adalah senyawa-senyawa fenol, yaitu senyawa-senyawa dengan gugus –OH yang terikat pada cincin aromatik. Senyawa-senyawa ini terstabilkan secara resonansi dan tidak reaktif dibandingkan dengan kebanyakan radikal bebas yang lain (Jati 2008).

Saponin merupakan golongan senyawa alam yang rumit, yang mempunyai massa molekul besar dan kegunaan yang luas (Bogoriani et al. 2008). Saponin menyebabkan stimulasi pada jaringan tertentu misalnya pada epitel hidung, bronkus, ginjal dan sebagainya. Saponin bisa juga sebagai prekursor hormon steroid (Sirait 2007). Saponin dapat menimbulkan rasa pahit pada bahan pangan nabati. Hasil uji fitokimia komponen bioaktif saponin menunjukkan hasil bahwa saponin hanya terdeteksi pada ekstrak kasar metanol, sedangkan pada ekstrak etil asetat dan n-heksana saponin tidak terdeteksi.

4.6 Aktivitas Antioksidan Ekstrak Enhalus acoroides dengan Metode DPPH