• Tidak ada hasil yang ditemukan

I K H T I S A R

Dalam berurusan dengan industri ekstraktif global, pemerintahan nasional di banyak negara seringkali gagal mendapatkan nilai penuh dari sumberdaya yang mereka miliki. Inti masalahnya adalah karena kelompok-kelompok sektor swasta punya kepentingan untuk memaksimalkan keuntungan mereka dan meminimalkan apa yang seharusnya didapatkan oleh negara. Privatisasi penuh atas pengelolaan kekayaan migas kerap diwarnai penyimpangan yang sangat buruk, dengan pemerintah menerima deal yang terburuk pula. Bagi banyak negara yang memiliki manajemen publik berkualitas tinggi, dan dimana tidak ada persoalan ekstraksi yang rumit, perusahaan-perusahaan minyak nasional seringkali bisa memainkan peran sentral dalam pengelolaan sumberdaya. Sementara sejumlah negara lain menghadapi pilihan sulit dalam membangun hubungan dengan sektor swasta, apakah harus mengupayakan perbaikan manajemen sektor publik atau bergantung pada sektor publik yang mungkin korup dan tidak sempurna. Patut dicatat, dalam hal ini tujuan utama sektor swasta kerap berseberangan dengan kepentingan publik— yakni senantiasa selalu ingin meminimalkan pembayaran kepada publik. Bahkan dalam kasus-kasus ini ada sejumlah pedoman (guidelines) penting yang mestinya bisa diikuti pemerintah, demi memastikan pemerintah bisa mendapatkan harga yang pantas atas aset-aset yang dimiliki. Pedoman itu antara lain: Institusi-institusi harus selalu diperkuat sebelum terlibat dalam privatisasi; kesabaran harus dipegang teguh—karena kadang lebih baik

BERURUSAN DENGAN PERUSAHAAN MINYAK

28

membiarkan minyak tetap di perut bumi daripada menjualnya dengan harga murah; semua ketentuan harus ditetapkan untuk renegosiasi kontrak sebelumnya (ex ante); kontrak-kontrak harus dibuat semudah mungkin dan dievaluasi berdasarkan insentif dan performa yang diperlihatkan dalam skenario yang berbeda; akhirnya, timing atau waktu pembayaran haruslah difungsikan sebagai kesanggupan negara dalam menanggung risiko. Apapun pendekatannya, tujuan keputusan pemerintah haruslah memastikan transparansi, kepemilikan, dan keadilan.

P E N D A H U L U A N

Dalam bab pertama volume ini, kami mengidentifikasi salah satu

persoalan sentral yang menyokong kutukan sumberdaya: yakni terlalu seringnya negara tidak mendapatkan nilai penuh dari sumberdaya alam yang mereka miliki. Anggaplah sebuah pemerintahan benar-benar berniat memanfaatkan kekayaan sumberdaya alamnya untuk kepentingan rakyat sebesar-besarnya. Tapi, pertama-tama pemerintah tersebut harus mengekstraksi sumber alam tersebut dari dalam perut bumi dan menjualnya. Untuk melakukan itu, pemerintah mau tidak mau harus bergantung pada aparat pemerintahan dan/atau kontraktor swasta. Pemerintah bisa menyewa kontraktor swasta untuk melakukan tugas tertentu, atau pemerintah bisa menjual sumberdaya alam itu kepada mereka dengan biaya tertentu atau royalti atas apapun yang dijual nantinya. Meski demikian, sebagian besar pihak tempat pemerintah bergantung punya tujuan lain: yakni memaksimalkan penghasilan atau kesejahteraan mereka sendiri sebesar-besarnya, yang pada gilirannya berarti memperkecil jumlah pembayaran yang harus disetorkan kepada pemerintah. Ini

merupakan konflik kepentingan yang wajar dan tidak terelakkan. Baik di

sektor swasta maupun publik, banyak yang ingin mengambil manfaat dari kekayaan negara demi tujuan pribadi mereka. Jadi, tantangan utama yang dihadapi tiap pemerintahan adalah untuk mencari cara bagaimana bekerja sama dengan para aktor di luar pemerintahan ini, yang tujuan utamanya sangatlah berbeda secara radikal dari pemerintah.

Dalam bab ini, saya menyoroti satu pokok persoalan yang relevan menjawab pertanyaan: Bagaimana seharusnya pemerintah bekerja sama dengan sektor swasta untuk memaksimalkan total penerimaan pendapatan (nilai sekarang terdiskonto/present discounted value) dari kekayaan alam negaranya?

PERANAN NEGARA 29

Ada ungkapan tradisional yang menyatakan caveat emptor—pembeli harap berhati-hati!—yang mengingatkan pembeli agar waspada terhadap risiko yang mereka hadapi saat membeli barang di pasar. Bab ini menambahkan sebuah ungkapan baru: Pemilik harap berhati-hati! Tetaplah skeptis terhadap kelompok yang menawarkan diri untuk mengelola sumberdaya alam anda atau membelinya dari anda. Tujuan mereka bukanlah untuk meningkatkan kemakmuran anda, tapi justru untuk kemakmuran mereka sendiri. Dan seringkali, kondisi yang perlu dipenuhi sehingga anda bisa “mempercayai pasar” tidaklah terpenuhi!1 Ada lagi ungkapan lain: “Orang bodoh dan

uangnya akan segera berpisah jalan.” Ungkapan ini adalah peringatan yang lebih keras kepada rakyat di negara-negara kaya sumberdaya. Terlalu mudah bagi para politisi untuk berkomplot dengan mereka yang bergerak di sektor swasta dan mengambil hak milik anda. Ungkapan ini mungkin kurang menohok tapi tidak kalah penting: Kalau sudah menyangkut sumberdaya alam, bahkan warga yang sudah mendapatkan informasi lebih baik pun akan segera berpisah dengan uang yang seharusnya menjadi haknya.

P E R S O A L A N K E C U R A N G A N

Umumnya, prospek kecurangan sangat nyata dan sangat besar, dan bisa muncul pada tiap tahapan transaksi. Pemerintah mungkin akan mendapat lebih sedikit daripada yang seharusnya –bahkan mungkin ada upaya untuk membatasi persaingan tender. Apapun yang telah ditandatangani di atas kertas kontrak, perusahaan akan selalu berupaya untuk berlaku curang —seperti membayar lebih sedikit dari yang seharusnya— karena jumlah uang yang didapatkan dengan cara curang seperti itu ternyata sangat besar. Perilaku curang ini tidak hanya terjadi di negara berkembang. Pada 1980- an, saya menangani sebuah kasus kecurangan yang melibatkan beberapa perusahaan minyak besar di Alaska. Negara bagian AS yang kaya minyak ini memiliki perjanjian kontrak ekstraksi mineralnya dengan mensyaratkan perusahaan minyak membayar 12,5 persen dari penerimaan bruto, lebih kecil dari biaya pengiriman minyak dari lokasi bloknya yang jauh di Prudhoe Bay di Arctic Circle.2 Dengan membengkakkan estimasi biaya

hanya beberapa penny per galon (dan tentu saja jadi melipatgandakannya menjadi ratusan juta galon), perusahaan-perusahaan minyak tersebut akan

meningkatkan jumlah profit mereka secara luar biasa. Mereka tidak akan

sanggup menahan godaan tersebut.

BERURUSAN DENGAN PERUSAHAAN MINYAK

30

menjual minyak mereka ke anak-anak perusahaan sendiri, dengan mencatatkan harga lebih rendah dibanding nilai pasar yang wajar (lihat bab 4); atau menggunakan anak perusahaan lain untuk mengapalkan minyak

mereka keluar dan kemudian melaporkan biaya pengapalan fiktif yang

sangat mahal. Tiap kecurangan misterius itu sulit dideteksi, dan jajaran kejaksaan harus menganalisis ribuan transaksi—dengan biaya puluhan juta dolar. Pada akhirnya, tidak diragukan lagi telah terjadi kecurangan— dengan skala yang masif. Kasus itu diikuti rangkaian penyelesaian hukum yang melibatkan beberapa perusahaan minyak global—termasuk apa yang sekarang dikenal sebagai BP, ExxonMobil, dan ConocoPhillips—dengan jumlah ganti rugi lebih dari 6 miliar dolar.3

Alabama bahkan berhasil memperkarakan kasus yang lebih menggemparkan: Negara bagian Alabama melawan ExxonMobil Corp.4

Gugatan hukumnya berupa apakah Exxon boleh atau tidak memangkas biaya produksi dari pembayaran royalti sebagaimana memangkas gas yang digunakan untuk memompa sumur minyak. Kontraknya secara jelas menyebutkan bahwa cara itu tidak diijinkan. Lebih jauh lagi, memo- memo internal Exxon yang dihadirkan di pengadilan menunjukkan bahwa mereka paham betul soal itu dan mereka telah melakukan analisis untung-rugi (cost-benefit) tentang kemungkinan bakal ketahuan. Pengadilan kemudian memenangkan Alabama, lalu mewajibkan Exxon membayar senilai US$11,8 miliar sebagai hukuman dan US$63,6 juta untuk royalti yang tidak dibayarkan.5

Kemungkinan seperti itu bisa terjadi di AS, namun lebih banyak kemungkinan terjadi kecurangan di banyak negara yang institusinya jauh lebih lemah.

Dalam bab ini, saya menyediakan sejumlah panduan bagi pemerintah yang berupaya bergerak di dalam lingkungan yang serba rumit ini; saya menjelaskan tentang sejumlah cara dimana banyak negara bisa dan telah diperdayai menyangkut nilai sebenarnya dari sumberdaya alam mereka. Saya memberikan panduan kepada pemerintah tentang apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko dicurangi. Kalaupun ada pesan tunggal dalam bab ini, inilah dia: Tidak ada jalan yang mudah untuk keluar dari persoalan ini. Privatisasi—proses memindahkan aset-aset sumberdaya alam menjadi berada di bawah kendali sektor swasta—bukanlah jawaban, atau setidaknya tidak harus seperti itu jawabannya. Tetapi, sementara tidak ada solusi yang sederhana, pemerintahan di beberapa negara ternyata sudah jauh lebih baik dibanding beberapa negara lain, khususnya dalam memberikan bagian cukup besar dari nilai sumberdaya kepada rakyat di

PERANAN NEGARA 31

negeri mereka. Bab ini menjelaskan beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan bagian itu, termasuk memperkuat struktur institusional sebelum melakukan proses privatisasi, mematok korporasi agar mengikuti standar lebih tinggi, dan secara berhati-hati mengevaluasi klausul yang ada di dalam kontrak.

P R I V A T I S A S I D A N P E R S O A L A N P E R A G E N A N

Masalah sentral yang dihadapi negara-negara kaya sumberdaya alam mungkin mudah dikatakan: Ada beragam individual yang bernafsu menyelewengkan sebanyak mungkin berkah dari alam itu demi keuntungan pribadi mereka. Teori ekonomi modern telah menganalisis problema umum para agen (di sini maksudnya pejabat pemerintah) untuk bertindak demi kepentingan orang-orang yang seharusnya mereka layani (prinsipal, di sini arti umumnya adalah rakyat). Masalah peragenan ini mencuat manakala terdapat ketidaksempurnaan informasi, dan karena itu ada kebutuhan untuk menekankan transparansi, atau meningkatkan keterbukaan dan ketersediaan informasi dalam upaya mengontrol korupsi.6

Namun, masalah informasi bukanlah satu-satunya cara untuk mengurangi persoalan peragenan. Pembatasan bisa saja diterapkan terhadap tiap tindakan yang diambil. Pembatasan terhadap proses pembuatan keputusan mungkin bisa mengurangi besarnya distorsi yang muncul –sebagai contoh, syarat persetujuan yang berlapis-lapis justru bisa memperbanyak jumlah orang yang harus disuap untuk mendapatkan sumberdaya di bawah harga pasar. Karena itu, makin banyak orang yang terlibat, maka makin besar probabilitasnya yang membuat minimal ada satu orang yang tidak bisa dikorup, sehingga bisa mengurangi risiko

korupsi secara signifikan.7 Dengan perubahan hitungan cost-benefit terhadap

korupsi, maka kemungkinan tingkat korupsi akan semakin kecil.8

Setiap interaksi akan membuka peluang munculnya persoalan peragenan (dan korupsi hanyalah salah satu bentuk dari masalah peragenan ini). Ada masalah peragenan di dalam perusahaan, di dalam pemerintahan, dan dalam transfer aset-aset yang semula dikontrol pemerintah ke sektor swasta. Seluruh perangkat aturan yang mengatur ekstraksi sumberdaya alam memengaruhi besarnya persoalan peragenan—dan manfaat yang diperoleh rakyat dari sumberdaya alam negeri tersebut.9

BERURUSAN DENGAN PERUSAHAAN MINYAK

32

M A S A L A H U M U M P E N Y I M P A N G A N

Pengalaman di seluruh dunia menunjukkan banyaknya cara penyelewengan

sumberdaya, dan dalam prosesnya, efisiensi ekonomi pun ikut tergerus.

Di banyak negara berkembang, perusahaan minyak yang dikendalikan pemerintah kerap ditandai dengan tingginya tingkat korupsi; bahkan ketika tidak tampak praktik korupsi terang-terangan, para petinggi perusahaan itu kerap menggaji diri sendiri dan para pegawai mereka di atas gaji rata- rata umumnya. Akibatnya, makin sedikit uang tersisa untuk negara. Di banyak negara yang tingkat penganggurannya terbilang tinggi, jumlah pegawai di perusahaan milik pemerintah justru makin membengkak, karena masuknya secara tidak proporsional orang-orang yang punya koneksi ke dalam.

Banyak pembicaraan publik yang difokuskan terhadap korupsi pemerintah—yakni upaya para pejabat pemerintah untuk menyelewengkan sebanyak mungkin demi keuntungan pribadi mereka. Inilah yang menyebabkan banyak pihak (termasuk lembaga-lembaga keuangan internasional) mendorong privatisasi—sehingga dengan satu dan lain cara mengalihkan pengelolaan sumberdaya alam ke sektor swasta. Dua dekade lalu, pada awal gelombang privatisasi, ada harapan privatisasi akan mampu menyelesaikan semua persoalan ini. Perusahaan-perusahaan

swasta diyakini punya kemampuan untuk lebih efisien. Terutama jika

sumberdaya tersebut dijual melalui tender, pemenang yang terpilih adalah yang dianggap paling mumpuni dalam bidang ekstraksi sumberdaya;

efisiensi ekonomi akan lebih terjamin, dan pada saat bersamaan

pendapatan pemerintah bisa dimaksimalkan. Tapi, apa yang terjadi selama dua dekade terakhir menjadi semakin jelas, bahwa privatisasi ternyata tidak mampu menghapus praktik korupsi, atau lebih umum lagi, tidak mampu menghapus praktik peragenan. Ada masalah peragenan di dalam perusahaan swasta, sebagaimana di dalam perusahaan milik pemerintah. Kasus ini terutama terjadi di negara-negara yang tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) –yang berarti terjadi hampir di seluruh negara berkembang. Mereka yang mengontrol perusahaan (para petinggi perusahaan) secara tipikal punya peluang untuk menyelewengkan sumberdaya perusahaan demi keuntungan pribadi mereka –dan tidak jarang terjadi mereka mengambil manfaat dari kesempatan yang tersedia. Begitupun, karena pengawasan publik terhadap perusahaan swasta tidak sekuat terhadap perusahaan milik pemerintah, maka penyimpangannya justru makin besar.10

PERANAN NEGARA 33

Yang menjadi fokus perhatian kami di sini adalah dampak masalah peragenan ini terhadap pendapatan yang diperoleh pemerintah. Privatisasi biasanya tidak hanya menyebabkan pemerintah menerima satu kali pembayaran dari sektor swasta, tapi juga menerima arus pembayaran yang terus mengalir, dalam bentuk pajak. Leasing lahan blok juga mendatangkan aliran pembayaran dalam bentuk royalti. Dalam banyak kasus, pemerintah adalah pemegang saham (minoritas) di dalam perusahaan yang mendapatkan hak untuk mengekstraksi minyak atau sumberdaya alam. Tiap kesepakatan di dalamnya masing-masing membawa potensi “penyimpangan” yang berbeda dan persoalan peragenan yang berbeda pula, serta ada potensi pencurian dalam tiap tahapan transaksi. Potensi pencurian ini bisa terjadi pada saat kontrak ditandatangani dan pada saat diimplementasikan. Contoh, ketika perusahaan swasta—tempat pemerintah menjadi pemegang saham minoritas di dalamnya—dipercaya mengembangkan sebuah pertambangan atau ladang minyak, maka akan ada persoalan menyangkut perangkat standar tata kelola perusahaan. Wujudnya antara lain berbentuk penyingkiran pemegang saham minoritas oleh pemegang saham pengendali, atau penyingkiran pemegang saham oleh “manajer.” Seringkali terjadi, perusahaan mengontrak perusahaan asing untuk “mengelola” sumur minyak. Apakah kompensasinya yang paling tepat? Bahkan jika manajernya mendapatkan kompensasi langsung secara pantas, dia mungkin masih harus membayar jasa pihak ketiga di atas nilai pasar yang wajar –sehingga berakibat pindahnya pemasukan yang seharusnya masuk ke kas pemerintah.

Bahkan jika kelanjutan hubungan pemerintah-swasta itu hanya memberikan pajak atau royalti, masih ada masalah lain. Karena perusahaan mungkin tetap berusaha curang, berharap bila jumlah per barelnya cukup kecil, mereka tidak akan ketahuan. Padahal, jika jumlahnya dikalikan maka satu penny per barel bisa berlipat ganda menjadi ratusan juta dolar. Dalam awal bab ini, kami menjelaskan dua cerita tentang kecurangan seperti itu di AS.

A D A M S M I T H , T A N G A N T A K T A M P A K , D A N P E N C U R I A N

Tidaklah mengherankan bahwa privatisasi gagal memecahkan persoalan penyimpangan sumberdaya: bahwa secara alamiah, perusahaan swasta

mencari profit sebesar-besarnya dan berusaha membayar sekecil-

kecilnya kepada pemerintah atas hak kontrol pemanfaatan aset-asetnya.11

BERURUSAN DENGAN PERUSAHAAN MINYAK

34

sederhana: Tiap individu hanya memerhatikan seberapa banyak yang dia dapatkan untuk dirinya sendiri.

Dalam hal ini Adam Smith benar, bahwa di bawah kondisi yang sangat mengekang (tidak pernah terpuaskan), pengejaran kepentingan diri bisa

membawa pada ekonomi yang efisien, seolah dibimbing oleh tangan yang

tidak kelihatan. Tapi umumnya yang terjadi tidaklah seperti itu. Adam Smith dan para pengikutnya mengasumsikan adanya kesempurnaan informasi: atau minimal tidak ada persoalan peragenan (lihat Arnott et al. 1994; Greenwald and Stiglitz 1986). Dalam banyak kasus, pengejaran kepentingan diri (nama lainnya adalah rakus) oleh para CEO, bank-bank investasi, dan perusahaan akunting tidak menggiring ke arah investasi yang

efisien, meski sejumlah individu berhasil mendapat imbalan berlimpah.

Dan, sejauh ini, beberapa di antaranya berakhir dengan mendapat hukuman kriminal (untuk diskusi lebih lanjut, lihat Stiglitz 2003).

Sudah menjadi doktrin standar, setidaknya di antara kalangan ekonom Amerika dan komunitas bisnis, bahwa perusahaan harus memperbesar nilai pasar saham.12 Setiap sekolah bisnis mengajarkan bahwa itulah yang

harus dilakukan oleh para manajer. Jika mereka tak melakukannya, mereka akan dikenakan sanksi, entah dengan cara pemecatan oleh para pemegang saham ataupun dengan pengambilalihan.13 Doktrin ini berimplikasi kuat:

Jika sebuah perusahaan bisa mendapatkan kontrol minyak pada harga satu per sepuluh dari harga pasar dengan membayar suap US$10 juta kepada pejabat pemerintah, maka perusahaan yang mengemban tugas memperbesar nilai saham pemegang saham akan melakukannya, sepanjang ancaman sanksinya (kemungkinan ketahuan karena melanggar Foreign Corrupt Practices Act ditambah jumlah denda) tidak terlalu besar.14 Jika

sebuah perusahaan pertambangan bisa menutup usaha tambang dan keluar dari suatu negara tanpa harus membayar biaya penuh rehabilitasi lahan tambangnya, ia bisa melakukannya. Bila perlu dengan cara menyuap sejumlah pejabat pemerintah, atau memberikan kontribusi kampanye, dan itulah biaya bisnis yang diperlukan.15

Sementara sejumlah perusahaan barat akan menghindar dari perilaku serampangan seperti yang baru dijelaskan, sebaliknya ekonomi pasar justru memberi imbalan atas perilaku demikian. Contohnya jika sebuah negara melelang sumberdaya alamnya, perusahaan yang berani membayar

dengan harga tertinggi bukan berarti perusahaan yang paling efisien dalam

mengekstraksi sumberdaya . Boleh jadi pemenangnya adalah perusahaan yang

efisien dalam kemampuannya menyebabkan pemerintah mau mengurangi

PERANAN NEGARA 35

Dan tak sedikit perusahaan barat yang secara aktif terlibat dalam politik, utamanya dengan memberikan kontribusi kampanye (“investasi” yang mereka harapkan, dan biasanya mereka dapatkan imbalannya).

P R I V A T I S A S I D A N K E L E L U A S A A N P E N C U R I A N

Privatisasi sebenarnya meningkatkan keleluasaan (peluang dan dorongan) untuk korupsi, dengan meningkatkan potensi kerja sama diam-diam antara para pejabat pemerintah dan pihak-pihak lain untuk mengalihkan sumberdaya dari tujuan kemaslahatan rakyat. Kembalinya praktik korupsi sangat tinggi dan sekarang ada mekanisme pencurian yang lebih sulit dideteksi. Sebelum privatisasi, para pejabat pemerintah hanya bisa mencuri sebagian kecil saja dari arus pendapatan; tetapi dengan privatisasi, mereka sekarang dapat mencuri arus pendapatan di masa depan—nilai sekarang setelah terdiskonto (present discounted value) dari arus pendapatan nanti. Imbalan korupsi yang lebih besar makin mendorong praktik korupsi—dan catatan menunjukkan bahwa banyak individu yang semakin bersemangat melakukannya. Seperti kami jelaskan selanjutnya, privatisasi kerap menyediakan peluang besar bagi cara-cara yang kelihatannya legal (meski tidak transparan) dengan merendahkan harga yang harus dibayarkan untuk sumberdaya.

Persoalan yang ditulis rinci di paragraf berikutnya adalah, sebagian besar merupakan gabungan persoalan sektor publik dan swasta—problem peragenan di dua sektor itu saling terkait. Sektor swasta memanfaatkan persoalan peragenan di sektor publik, faktanya kepentingan pejabat pemerintah tidak harus sama sepenuhnya dengan mereka yang seharusnya dilayani. Dalam kaitannya dengan kebijakan resmi, bahkan jika perusahaan tidak perlu mengeksploitasi sektor publik, skema standar kompensasi di sektor swasta justru memberikan insentif kepada “agen-agen” mereka untuk melakukannya.

E F I S I E N S I

Sementara diskusi dalam bab ini terpusat pada persoalan memaksimalkan pendapatan untuk pemerintah, dan fokus secara khusus terhadap masalah pencurian, harus dibuat jelas bahwa ini bukanlah persoalan zero-sum game

BERURUSAN DENGAN PERUSAHAAN MINYAK

36

yang terlibat). Ini bukan pula semata persoalan pencurian. Dalam prosesnya, sumberdaya alam kerap tidak dimanfaatkan secara benar; sumberdaya mungkin diekstraksi terlalu cepat, tanpa memperhitungkan konsekuensi lingkungan. Sesungguhnya, membawa kekayaan keluar dari suatu negara untuk mengamankannya dari jangkauan tangan pemerintah bisa memiliki konsekuensi makroekonomi yang besar.

Perusahaan minyak negara milik Norwegia adalah contoh terbaik yang

dikenal karena keefisienannya dan bersih dari korupsi. Mungkin hanya

sedikit negara yang mampu memberikan untuk rakyatnya bagian besar dari nilai potensial sumberdayanya. Dalam kasus Norwegia, perubahan institusional mungkin hanya menimbulkan perubahan kecil; sebaliknya di tempat lain, kesempatan mencuri hasil sumberdaya tidak akan dilewatkan begitu saja.

Cerita sukses Norwegia menjadi penting (lihat bab 4) karena kesuksesannya menghancurkan pendapat yang mengatakan, bahwa

efisiensi dan memperbesar kemakmuran hanya bisa diperoleh melalui

privatisasi. Norwegia tidak sendirian. Malaysia juga menjadi jawara global dan berhasil membuktikan bahwa perusahaan minyak milik negeri itu mampu menghimpun bagian besar dari nilai sumberdaya minyak negara tersebut.16 Proses privatisasi terbukti memberikan peluang besar bagi

penyimpangan sumberdaya. Bagi mereka yang pro privatisasi, harus bisa menunjukkan bahwa kerugian akibat mempertahankan sumberdaya di dalam sektor publik lebih besar, daripada gabungan kerugian akibat transfer dan kerugian akibat persoalan peragenan setelah privatisasi.17

M E K A N I S M E P E N C U R I A N D A L A M P R I V A T I S A S I

Pada dasarnya ada empat (kadang saling terkait) mekanisme untuk privatisasi yang “korup”, di samping yang sudah jelas –yakni hanya memberikan sumberdaya itu kepada salah satu kroni. Atau seperti di AS, dengan sistem siapa duluan dia dapat, dimana bagi mereka yang sudah berada di lapangan berada di posisi yang lebih baik untuk mencengkeram sumber daya tersebut. Pertama, mengurangi persaingan; kedua (khususnya relevan dalam ekonomi transisi ketika pasar modal belum berkembang baik), menyalurkan dana ke kelompok favorit; ketiga, memberikan kelompok favorit informasi dari dalam tentang nilai produk yang akan dijual; dan keempat, mengajukan klausul yang asimetris.

PERANAN NEGARA 37

M E M B A T A S I P E R S A I N G A N

Manakala persaingan untuk mendapatkan sumberdaya itu terbatas —dan khususnya ketika diketahui itu memang terbatas—maka harga yang ditawarkan akan lebih rendah. Ada tiga cara membatasi kompetisi. Pertama, dengan tiba-tiba menyodorkan sebanyak mungkin blok untuk dikontrakkan—meningkatkan pasokan sehingga penawaran untuk tiap blok migas menjadi terbatas. Inilah yang dilakukan oleh Presiden Reagan pada awal 1980-an. Mirip penjualan obral—seolah-olah pemerintah harus

melepaskan semua kepemilikannya segera. Tapi pada kenyataannya, tidak ada alasan untuk melakukan itu; minyak juga tidak akan habis dalam waktu