• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Nyeri panggul kronik.

2.4. Serabut Saraf Endometrium eutopik pada endometriosis

Sangat sedikit yang diketahui tentang endometrium atau neurogenesis pada uterus, namun mereka dianggap penting dalam

pembentukan gejala nyeri terkait endometriosis yang dibuktikan dengan

peningkatan yang sangat signifikan dari ekspresi nerve growth factor

(NGF). 31

Ada bukti bahwa endometrium eutopik pada wanita dengan

endometriosis berbeda dengan endometrium wanita tanpa endometriosis

endometrium normal. Endometrium eutopik wanita dengan endometriosis

ini menunjukkan berbagai anomali dibandingkan dengan endometrium

wanita yang bebas penyakit yang menunjukkan bahwa defek utama dalam

endometriosis mungkin endometrium eutopik. 32,33

Adanya serabut saraf pada endometrium eutopik pada wanita

endometriosis diduga muncul karena adanya rangsangan yang memicu

munculnya perkembangan saraf lokal, dan diduga NGF berperan dalam

hal ini. NGF di ekspresikan dengan kuat pada kelenjar dan stroma lapisan

fungsional dan basal endometrium penderita endometriosis, dan hal ini

tidak diekspresikan pada endometrium eutopik wanita yang tidak

endometriosis. 34

Molekul yang memiliki peran penting dalam neurogenesis

termasuk novel neurotrophin-1 / B cell-stimulating factor-3 (NNT-1/BSF-3)

dan NGF, brain-derived neurotrophic factor (BDNF), neurotrophin-3 (NT-

3), neurotrophin-4/5 (NT-4/5), dan anggota famili glial-cell derived

neurotrophic factor (GDNF). 35,36

Pada wanita dengan endometriosis, ekspresi dari neurotrophin,

reseptornya dan molekul aktif neuronal lainnya meningkat dibandingkan

dengan wanita tanpa penyakit. Secara khusus, ekspresi NGF dan

reseptornya TrkA dan P75 meningkat pada wanita dengan endometriosis,

terutama pada lapisan fungsional dari endometrium. Reseptor ini tidak

dijumpai pada endometrium yang normal, tapi dijumpai pada serabut saraf

menimbulkan dugaan bahwa sekresi neurotrophin dan reseptornya

merupakan penyebab pertumbuhan serabut saraf.37

Selain itu ekspresi berbagai faktor angiogenik dan / atau

limfoangiogenik utama dan reseptornya yang juga secara neuronal aktif

diketahui berubah (kebanyakan meningkat) dalam endometrium eutopik

dari wanita dengan endometriosis dibandingkan dengan kontrol

endometrium. Sel neuroendokrin, yang dapat menghasilkan zat

neuromodulatorik dalam merespon stimulasi neurogenik atau kimia,

meningkat densitasnya secara signifikan pada endometrium wanita

dengan endometriosis. NGF dan neurotrophin lainnya, diproduksi oleh

berbagai sel imun termasuk sel T, sel B, makrofag, sel natural killer (NK),

sel mast dan sel dendritik. Menariknya, sejumlah populasi sel imun ini

diketahui meningkat densitasnya pada endometrium eutopik wanita

dengan endometriosis dan ini mungkin memainkan peran dalam

memfasilitasi ekspresi yang terganggu secara lokal dari molekul yang aktif

secara neuronal dalam endometrium eutopik pada endometriosis. 38,39

Endometrium pada wanita endometriosis mungkin menghasilkan

sejumlah molekul pengatur dengan efek neurotropik (misalnya factor

pertumbuhan saraf) untuk memicu pertumbuhan serabut saraf. Lebih

lanjut dari temuan peningkatan ekspresi neurogenesis, endometrium

eutopik dari wanita dengan endometriosis mengandung serabut saraf kecil

dan tidak bermielin dalam lapisan fungsional. Serabut saraf tidak dijumpai

pada wanita tanpa endometriosis. Serabut saraf dalam lapisan fungsional

otonom. Pada wanita dengan endometriosis densitas serabut saraf dalam

endometrium basal dan miometrium juga meningkat secara signifikan

dibandingkan dengan wanita tanpa endometriosis. Adanya serabut saraf

pada wanita dengan gejala nyeri menunjukkan bahwa pada wanita

dengan endometriosis endometrium eutopik mungkin terlibat dalam

pembentukan gejala nyeri. 5,7,26,40

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, patofisiologi rasa nyeri

yang dirasakan penderita endometriosis belum dapat diketahui secara

jelas. Bagaimana dapat terjadi jaringan endometrium yang tidak ada

serabut saraf dapat menimbulkan nyeri saat berada ditempat yang

berbeda.26

Adapun serabut saraf yang telah teridentifikasi sampai sekarang

adalah serabut saraf A delta, serabut saraf C, dan saraf otonom simpatis.

Schaible dkk, (2002) menunjukkan bahwa serabut saraf yang

termielinisasi hanya terdapat pada lapisan basal endometrium sedangkan

serabut saraf yang tidak termielinisasi tersebar pada seluruh jaringan

endometriosis.41

Penelitian Tulandi dkk. (2001) menggunakan penanda (marker)

neurofilamen dan menunjukkan bahwa jarak antara serabut saraf lebih

padat pada wanita endometriosis yang mengeluhkan gejala nyeri

dibandingkan yang tidak mengeluhkan gejala nyeri.42 Penelitian Anafdkk.

(2002) dengan penanda imunohistokimia protein S-110 juga menunjukkan

adenomiotik yang menunjukkan ekspresi nosiseptor dibanding yang

tidak.43

Serabut A delta (Aδ) adalah serabut saraf bermielin yang berdiameter 2-5 mikrometer. Serabut saraf ini dapat menghantar dengan

kecepatan 12-30 m/detik dalam peranan nyeri cepat (dirasakan dalam

waktu kurang dari satu detik) serta memiliki lokalisasi yang jelas dirasakan

seperti ditusuk, tajam. Serabut C merupakan serabut yang tidak bermielin

dengan kecepatan hantaran 0,4 –1,2 m/detik. Nyeri yang ditimbulkan

adalah nyeri lambat (dirasakan selama 1 (satu) detik atau lebih) dengan

sifat nyeri tumpul, berdenyut atau terbakar. Dibandingkan dengan serabut

A delta yang hanya ditemukan pada lapisan basal endometrium,rangsang

nyeri hilang timbul lebih dinamik dicetuskan oleh serabut C yang tersebar

baik di lapisan basal maupun fungsional endometrium.44,45

Penelitian Tokushige dkk, 2007 membuka sedikit tabir untuk mengarahkan

pada penjelasan atas kondisi ini. Penelitian ini berusaha untuk mencari

apakah terdapat perbedaan kandungan saraf diantara jaringan

endometrium penderita endometriosis dan tidak endometriosis. Polyclonal

rabbit anti-protein gene product 9.5 (PGP9.5) adalah salah satu penanda

yang digunakan dalam penelitian ini. Dengan menggunakan sampel

endometrium dari hasil histerektomi, didapati 10 wanita penderita

endometriosis dengan rentang usia berkisar antara 42-46 tahun dan 35

wanita yang non endometriosis dengan rentang usia berkisar antara 38-54

tahun (tidak ada yang menopause). Penelitian ini berhasil membuktikan

endometrium wanita tanpa endometriosis dan serabut saraf pada

penderita endometriosis secara signifikan berbeda dibanding yang bukan

penderita endometriosis. ditemukan serat saraf bermyelin, tidak bermyelin,

serta beberapa saraf sensoris pada endometrium. Pada lapisan fungsional

endometrium penderita endometriosis ditemukan serabut saraf sensori C

dan sensori Aδ, dan serabut saraf adrenergik pada lapisan basal endometrium. PGP9.5 adalah penanda seluruh jenis saraf yang sangat

spesifik.25

Gambar 7. Serabut saraf pada lapisan Basal Endometrium dan perbatasan endometrium – miometrium pada wanita endometriosis yang diwarnai dengan PGP 9,5.45

Gambar 8. Lapisan fungsional endometrium pada wanita endometriosis.45

Merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2007

tersebut, banyak penelitian lain dilakukan dengan dasar potensi

penggunaan deteksi serat saraf untuk melakukan diagnosis terhadap

endometriosis. Hal ini berhubungan kembali dengan tindakan laparoskopi

yang menjadi baku emas pemeriksaan saat ini. Laparoskopi yang invasif,

dengan biaya yang tidak sedikit, serta proses persiapan yang memakan

waktu, mendorong penemuan cara baru untuk diagnosis endometriosis

dengan lebih mudah dan lebih cepat.25,26

Pada tahun 2009, sebuah uji tertutup ganda oleh Al Jefout M dkk,

dilakukan untuk mencari kemungkinan penggunaan deteksi serat saraf

sebagai diagnosis endometriosis. Dalam penelitian ini juga digunakan

polyclonal rabbit anti-protein gene product 9.5 (PGP9.5) sebagai penanda,

diambil dari 99 wanita dengan rentang usia 20-50 tahun, sampel

didapatkan bahwa dari 64 orang yang terdiagnosis endometriosis secara

laparoskopik, hanya 1 orang yang tidak terdeteksi memiliki serat saraf di

endometriumnya, dan terdapat 6 orang tanpa endometriosis yang

ditemukan serat saraf pada endometriumnya. Dalam uji ini didapatkan

spesifisitas 83% dan sensitivitas sebesar 96%. Nilai yang diperoleh

metode ini cukup baik, bahkan mendekati keakuratan laparoskopi yang

dilakukan oleh ahli ginekologis.45

Sependapat dengan penelitian pada tahun 2009 tersebut, sebuah

uji lain pada tahun 2011 oleh Meibody dkk, yang dilakukan dengan

metode case control dengan menggunakan jaringan endometrium dari

hasil biopsi endometrium dari 12 penderita endometriosis dengan rerata

usia 39,5 ± 5,9 tahun dan 15 yang non endometriosis dengan rerata usia

41,6 ± 5,7 tahun yang akan dilakukan tindakan laparoskopi ataupun

laparotomi, untuk memeriksa kelayakan deteksi serat saraf ini sebagai

penunjang diagnosis endometriosis, dengan hasil yang juga menetapkan

bahwa deteksi serat saraf dengan menggunakan Polyclonal rabbit anti-

protein gene product 9.5 (PGP9.5) merupakan penanda diagnosis

endometriosis yang terpercaya. Pada penelitian yang berlangsung selama

2 tahun ini, digunakan metode menyerupai penelitian terawal (penelitian

oleh Tokushige dkk tahun 2007). Didapatkan hasil bahwa dari seluruh

penderita endometriosis, terdeteksi adanya serat saraf. Pada penderita

non endometriosis, ditemukan 3 dari 15 orang (20%) terdeteksi memiliki

serat saraf di endometriumnya. Tetap saja, ditemukan densitas serat saraf

endometriosis.7 Maka uji ini memberikan kesimpulan bahwa pendeteksian

serat saraf dengan menggunakan polyclonal rabbit anti-protein gene

product 9.5 (PGP9.5) adalah metode yang baik untuk digunakan secara

umum.46

Bahkan penelitian yang dilakukan Liutkeviciene R dkk, 2013, yang

dilakukan dengan metode case control pada 283 sampel endometrium

yang diperoleh dari hasil biopsi tanpa membedakan fase menstruasi,

dengan penderita endometriosis sebanyak 131 orang dan 152 orang non

endometriosis, dengan usia berkisar antara 26-46 tahun, menyatakan

bahwa densitas serabut saraf dari hasil biopsi endometrium yang diwarnai

dengan PGP 9,5 memiliki akurasi yang hampir sama dibanding dengan

laparoskopi dalam mendiagnosis endometriosis. Namun karena PGP 9.5

merupakan alat uji diagnostik yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas

yang tinggi, besar kemungkinan pemeriksaan ini dapat menjadi alat bantu

pada pasien infertilitas untuk menurunkan jumlah tindakan laparoskopi

tanpa menurunkan angka penderita endometriosis.8

Sayangnya penelitian terbaru, yang dilakukan Leslie C dkk, pada

bulan Maret 2013, justru memberikan hasil yang kontradiktif terhadap hasil

penelitian-penelitian sebelumnya. Pada penelitian yang dilakukan di King

Edward Memorial Hospital ini selama 2006-2011 dengan sampel 47

pasien endometriosis dengan rentang usia 22-53 tahun, 21 pasien non

endometriosis dengan rentang usia 21-50 tahun, dengan teknik biopsi

endometrium didapatkan hasil yaitu lebih banyak persentase

endometriosis (29% dibandingkan 19%). 7,46 Akhirnya, penelitian ini

menyimpulkan bahwa pemeriksaan serat saraf endometrial yang

dilakukan dengan teknik imunohistokimia standar pada spesimen biopsi

rutin terbukti tidak sensitif ataupun spesifik untuk mendiagnosis

endometriosis. Oleh sebab itu bila merujuk dari hasil penelitian ini maka

patologis dan ginekologis yang ingin menggunakan pendekatan diagnostik

ini harus mempertimbangkan teknik ini.7,45

Gambar 9. Jaringan Saraf di Endometrium dengan menggunakan Penanda neuron.30

Perbedaan tipe serabut saraf pada wanita dengan atau tanpa

endometriosis diyakini memiliki peran penting pada mekanisme

mediator inflamasi yang dilepaskan endometrium dapat mengaktivasi atau

melakukan sensitisasi terhadap serabut saraf sensoris C, yang

menyebabkan timbulnya rasa nyeri.5,7,8 Mekanisme ini belum sepenuhnya

jelas, tidak diketahui stimulus ataupun kondisi apa yang menyebabkan

tumbuhnya serabut saraf pada endometrium eutopik wanita penderita

endometriosis.44

Dokumen terkait