• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

9. Serapan Hara N Daun (mg/g)

Data serapan hara N daun dari stek dan hasil analisis sidik ragam dapat

dilihat pada Lampiran 51 dan Lampiran 52. Hasil sidik ragam memperlihatkan

perlakuan naungan dengan paranet (N), jumlah buku stek (C) dan perlakuan

media tumbuh (M) tidak berpengaruh nyata terhadap serapan hara daun. Demikian

juga interaksi perlakuan antara penggunaan naungan (paranet) dengan perlakuan

jumlah buku stek serta media tumbuh tidak menunjukan pengaruh yang nyata

terhadap serapan hara daun. Respon pertumbuhan gambir di berbagai penaungan

paranet, jumlah buku stek dan media tumbuh di pembibitan terhadap serapan

76

Tabel 15. Serapan Hara N Daun (mg/gr) Stek Gambir di Berbagai Penaungan Paranet, Jumlah buku Stek Gambir dan Media Tumbuh

Serapan Hara N Daun (mg/g)

Perlakuan Media tumbuh Rataan

M0 M1 M2 M3 Jumlah buku --- mg/gr ---(C X M) C1 2,10 2,07 2,19 2,04 2,10 C2 2,02 2,25 1,87 2,02 2,04 C3 1,96 1,92 2,02 2,04 1,99 Penaungan Paranet % (NxM) N0 2,00 1,98 2,11 2,11 2,05 N1 2,07 1,97 2,02 2,02 2,02 N2 2,04 2,20 1,98 2,00 2,05 N3 2,00 2,16 2,00 2,00 2,04 Rataan 2,03 2,08 2,03 2,03

Jumlah Buku Stek Penaungan Paranet ( N0 X C X M ) N0 C1 2,10 2,08 2,24 2,36 2,19 N0 C2 1,92 1,96 1,89 2,06 1,95 N0 C3 1,98 1,91 2,20 1,91 2,00 N1 C1 2,19 2,03 2,15 1,91 2,07 N1 C2 2,03 2,04 1,91 2,01 1,99 N1 C3 1,98 1,85 2,01 2,13 1,99 N2 C1 2,08 2,03 2,24 1,91 2,06 N2 C2 2,05 2,53 1,82 1,96 2,09 N2 C3 1,99 2,03 1,88 2,12 2,00 N3 C1 2,03 2,12 2,12 1,96 2,05 N3 C2 2,08 2,48 1,87 2,03 2,11 N3 C3 1,89 1,87 2,01 2,01 1,94 Rataan 2,02 2,07 2,02 2,03

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf sama pada kolom sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% berdasarkan uji jarak Duncan.

MO = Subsoil 100 % C1 = tiga buku M1 = Topsoil 100% C2 = empat buku

M2 = Subsoil 90% + Kompos krinyu 10% C3 = lima buku M3 = Subsoil 90% + Pupuk kandang ayam) 10%

M3 = Subsoil 90% + Pupuk kandang ayam) 10% N0 = 0 % tanpa paranet (cahaya 100%

N1 = 25% Naungan dengan hambatan cahaya 25% N2 = 50% Naungan dengan hambatan cahaya 50% N3 = 75% Naungan dengan hambatan cahaya 75%

77

Pembahasan

Intensitas Cahaya Matahari

Cahaya matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan, tanpa

adanya cahaya matahari kehidupan tidak akan ada (Pearse, 1939 set Wilsie, 1962).

Bagi pertumbuhan tanaman ternyata pengaruh cahaya selain ditentukan oleh

kualitasnya ternyata ditentukan intensitasnya (Hari Suseno, 1976). Intensitas

cahaya berpengaruh nyata terhadap sifat morfologi tanaman. Tanaman yang

mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi menyebabkan lilit

batang tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih sempurna,

internodianya lebih pendek, daun lebih tebal, tetapi ukurannya lebih kecil

dibanding dengan tanaman yang terlindung (Wilsie, 1962). Beberapa effek dari

cahaya matahari yang penuh (yang melebihi) kebutuhan optimum dapat

menyebabkan layu, fotosistesis lambat, laju respirasi meningkat tetapi cenderung

mempertinggi daya tahan tanaman.Intensitas cahaya yang tinggi di daerah tropis

tidak seluruhnya dapat digunakan oleh tanaman (Curtis & Clark, 1950, Suseno,

1974).

Pengaruh cahaya juga berbeda pada setiap jenis tanaman. Tanaman C4,

C3, dan CAM memiliki reaksi fisiologi yang berbeda terhadap pengaruh

intensitas, kualitas, dan lama penyinaran oleh cahaya matahari (Onrizal, 2009).

Selain itu, setiap jenis tanaman memiliki sifat yang berbeda dalam hal

fotoperiodisme, yaitu lamanya penyinaran dalam satu hari yang diterima tanaman.

Perbedaan respon tumbuhan terhadap lama penyinaran atau disebut juga

fotoperiodisme, menjadikan tanaman dikelompokkan menjadi tanaman hari netral,

78

Kekurangan cahaya matahari akan mengganggu proses fotosintesis dan

pertumbuhan, meskipun kebutuhan cahaya tergantung pada jenis tumbuhan.

Selain itu, kekurangan cahaya saat perkembangan berlangsung akan menimbulkan

gejala etiolasi, dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah

dan daunnya berukuran kecil, tipis dan berwarna pucat ( tidak hijau ). Gejala

etiolasi tersebut disebabkan oleh kurangnya cahaya atau tanaman berada di tempat

yang gelap. Cahaya juga dapat bersifat sebagai penghambat (inhibitor) pada

proses pertumbuhan, hal ini terjadi karena dapat memacu difusi auksin ke bagian

yang tidak terkena cahaya. Cahaya yang bersifat sebagai inhibitor tersebut

disebabkan oleh tidak adanya cahaya sehingga dapat memaksimalkan fungsi

auksin untuk penunjang sel – sel tumbuhan sebaliknya, tumbuhan yang tumbuh

ditempat terang menyebabkan tumbuhan – tumbuhan tumbuh lebih lambat dengan

kondisi relative pendek, lebih lebar, lebih hijau, tampak lebih segar dan batang

kecambah lebih kokoh.

a. Panjang Tunas Stek

Penggunaan penaungan paranet berpengaruh sangat nyata terhadap panjang

tunas stek gambir pada perlakuan N3 di 3 minggu setelah tanam (3 MST) sebesar

0,66 cm, 5 minggu setelah tanam (5 MST) sebesar 1,46 cm. Interaksi nyata pada

parameter Panjang Tunas di 5 minggu setelah tanam (5 MST) senilai 1,77 cm

pada kombinasi perlakuan C1N3 dan nyata pada kombinasi perlakuan C2M0

pada 9 minggu setelah tanam (9 MST) sebesar 4,40 cm. Dari hasil penelitian yang

diperoleh bahwa pada pembibitan pencahayaan yang tinggi ternyata

mempengaruhi pertumbuhan tunas yang lebih kecil dibandingkan dengan

79

pertumbuhan tinggi semakin meningkat untuk mendapatkan energi berkaitan

dengan kebutuhan tanaman terhadap matahari sebagai sumber energi. Ini

dipengaruhi oleh Fototropisme yang pergerakan pertumbuhan tanaman yang

dipengaruhi oleh rangsangan cahaya seperti pertumbuhan koleoptil rumput

menuju arah datangnya cahaya. Koleoptil merupakan daun pertama yang tumbuh

dari tanaman monokotil yang berfungsi sebagai pelindung lembaga yang baru

tumbuh.

Beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hal ini dapat disebabkan kecepatan

pemanjangan sel-sel pada sisi batang yang lebih gelap lebih cepat dibandingkan

dengan sel-sel pada sisi lebih terang karena adanya penyebaran auksin yang tidak

merata dari ujung tunas. Hipotesis lainnya menyatakan bahwa ujung tunas

merupakan fotoreseptor yang memicu respons pertumbuhan. Fotoreseptor adalah

molekul pigmen yang disebut kriptokrom dan sangat sensitif terhadap cahaya biru.

Namun, para ahli menyakini bahwa fototropisme tidak hanya dipengaruhi oleh

fotoreseptor, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai macam hormon dan jalur

signaling.

Koleoptil merupakan daun pertama yang tumbuh dari tanaman monokotil

yang berfungsi sebagai pelindung lembaga yang baru tumbuh. Beberapa hipotesis

menyebutkan bahwa hal ini dapat disebabkan kecepatan pemanjangan sel-sel pada

sisi batang yang lebih gelap lebih cepat dibandingkan dengan sel-sel pada sisi

lebih terang karena adanya penyebaran auksin yang tidak merata dari ujung tunas.

Etiolasi adalah pertumbuhan tumbuhan yang sangat cepat di tempat gelap

namun kondisi tumbuhan lemah, batang tidak kokoh, daun kecil dan tumbuhan

80

Pada sisi gelap auksin akan aktif dan memperpanjang sel terus menerus dan

batang akan lebih panjang pada sisi gelap, sedangkan pada sisi terang auksin

terurai. Kondisi gelap juga memacu produksi hormon auksin. Auksin adalah

hormon tumbuh yang banyak ditemukan di sel-sel meristem, seperti ujung akar

dan ujung batang. Itulah sebabnya pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat.

Hasil penelitian F.W Went, ahli fisiologi tumbuhan, pada 1928 menunjukkan

produksi auksin terhambat pada tanaman yang sering terkena sinar matahari.

b. Laju Tumbuh Relatif

Laju tumbuh relatif nyata pada pengamatan laju tumbuh relatif ke 3 ( minggu

ke 7 s/d 9) sebesar 0,241 g/tanaman serta bobot kering tanaman sebesar 0,879 gr.

Pada kombinasi perlakuan N1C1M2 laju tumbuh relatif 3 ( minggu ke 7 s/d 9)

diperoleh nilai tertinggi 0,406 g/tanaman . Laju tumbuh relatif nyata pada

pengamatan 7 s/d 9 minggu setelah tanam, karena pada tanaman yang berumur 7

s/d 9 minggu sudah mempunyai akar lebih banyak maka proses penyerapan unsur

hara akan lebih meningkat lagi dibandingkan dengan pada pengamatan 1 dan ke 2.

Hal ini juga didukung oleh Lek (1925) cit. Leopold (1955), menyatakan

bahwa zat kimia yang dihasilkan oleh tunas dan diangkut melalui jaringan floem

ke dasar potongan stek akan merangsang pembentukan akar dan tunas yang kuat

dan juga mengakibatkan pertumbuhan yang kuat pula.

Hartman dan Kester (1975) menyatakan, bahwa dalam tanaman terdapat

korelasi antara pertumbuhan tunas dan akar. Pertumbuhan tunas yang baik

menyebabkan pembentukan akar akan baik dan pembentukan akar yang baik

maka pembentukan daun akan baik, sehingga proses fotosintesis dan pembuatan

81

dan air yang diserap lebih banyak, sehingga pertumbuhan tunas menjadi lebih

baik pula.

c. Bobot Kering Tanaman Stek Gambir

Seluruh taraf perlakuan penaungan dengan paranet yang terbaik adalah pada

perlakuan cahaya 25% (N3) kecuali pada parameter volume akar yang didapati

nilai tertinggi pada perlakuan N0 (cahaya 100%) sebesar 0,558 ml. Pada

penelitian ini, intensitas cahaya (perlakuan paranet dengan berbagai tingkat

kerapatan), belum mendapatkan pengaruh yang nyata terhadap volume akar.

Hal ini berbeda dengan teori yang menyatakan bahwa pertumbuhan tunas

pada stek adalah sangat penting untuk menstimulir terbentuknya akar, akan tetapi

pada stek batang gambir akar yang terbentuk ini akan menyerap unsur hara dari

tanah yang selanjutnya akan ditranslokasikan ke atas melalui jaringan xilem untuk

pertumbuhan tunas dan daun sehingga tunas dan akar yang tumbuh dapat

seimbang dalam pertumbuhannya.

Hal ini dapat saja terjadi karena pada stek tanaman gambir diduga

pertumbuhan tunas dengan pertumbuhan akar tidak proporsional. Tunas yang

terbentuk tidak diikuti oleh terbentuknya akar, sehingga pertumbuhan tanaman

hanya ditunjang oleh cadangan bahan makanan yang terdapat dalam stek tersebut.

Hal ini terkait dengan kerja enzim dan hormon terutama auksin dalam

pembentukan tunas dan akar. Menurut Goldsworthy dan Fisher (1992),

tersedianya kandungan karbohidrat yang banyak cenderung meningkatkan proses

fisiologis pada tanaman dalam hal pembelahan, pembesaran dan pembentukan

jaringan, seperti pada Panjang Tunas stek, laju tumbuh relatif, bobot kering

82

Tanaman yang kurang mendapatkan cahaya matahari akan mempunyai akar

yang pendek, hal ini diperkuat oleh pendapat Shirley sit Wilsie (1962) bahwa

cahaya matahari penuh menghasilkan akar lebih panjang dan lebih berbuku.

Begitu juga diperkuat oleh Yos Sutiyoso (1995) menyatakan bahwa tanaman

anggrek yang cukup sinar matahari perakaran akan berkembang lebih baik, jumlah

akar akan banyak, ukurannya besar dan banyak berbuku. Akar keluarnya lebih

awal, jadi tidak seberapa jauh dari puncak tanaman jenis anggrek monopodial

seperti Vanda, Arachnis. Bila cahaya matahari kurang, karena tanaman anggrek

berada dalam keadaan terlalu teduh, maka proses assimilasi akan berkurang,

sehingga hidrat arang sebagai hasil proses tersebut juga kurang jumlahnya.

Perbanyakan Tanaman Gambir

Dari hasil penelitian, perbanyakan tanaman gambir dengan menggunakan tunas stek dari semua perlakuan menunjukan persentase pertumbuhan rata-rata sekitar 50 - 60%, tetapi belum memperlihatkan pengaruh yang nyata. Hal ini sesuai dengan pendapat Hasan et al (2000) yang menyatakan bahwa penyetekan pada tanaman gambir mempunyai tingkat keberhasilan sekitar 50%.

Berbeda dengan Danian et al (2004), menyatakan bahwa perbanyakan dengan vegetatif tingkat keberhasilannya rendah. Gambir umumnya diperbanyak secara generatif (dengan biji). Perbanyakan dengan cara vegetatif seperti cangkok, setek dan layering dapat tumbuh namun tingkat keberhasilannya sangat rendah dan biayanya mahal.

Hal ini dapat terjadi karena pada penelitian ini, stek yang digunakan adalah stek yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda yaitu pada perlakuan C2 ( 4

83

jumlah buku stek dengan perlakuan media tumbuh yaitu pada perlakuan C2M3

sebesar 1,020 gr.

Dari hasil penelitian Stek yang berasal dari jaringan yang sedikit berkayu

dan berkayu bertahan hidup lebih lama karena mempunyai kandungan bahan

makanan yang lebih tinggi dibanding dengan setek yang berasal dari jaringan

lunak. Dari segi ukuran pun setek yang berasal dari jaringan yang sedikit berkayu

dan berkayu cenderung mempunyai umur yang lebih besar dibanding stek yang

berasal dari jaringan lunak yang diambil dari bagian arah ke pucuk tanaman. Hal

ini sesui dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Wudianto (1999), bahwa stek

sebaiknya diambil dari cabang yang tidak terlalu muda ataupun tidak terlalu tua.

Jika stek berasal dari bahan yang terlalu muda, mengakibatkan jaringannya akan

mudah layu, dan akhirnya kering, sedangkan jika diambil dari jaringan tua, maka

jaringan tersebut akan lama membentuk tunas, karena yang cepat bertunas adalah

jaringan yang merismatik.

Hasan et al. (2000) juga mengemukakan bahwa tanaman gambir sampai saat

ini umumnya diperbanyak melalui perbanyakan generatif, yaitu melalui biji yang

disemaikan lebih dulu dengan prosedur tertentu untuk memperoleh bahan tanaman

yang memiliki daya tumbuh lebih baik. Selanjutnya dibibitkan di tempat khusus

sebelum ditanam di lapangan. Namun demikian, tanaman gambir juga dapat

dikembangkan melalui perbanyakan vegetatif, seperti stek, perundukan, dan kultur

jaringan (Hasan dan Edirman, l996), tetapi cara ini tidak umum dilakukan petani

dan biasanya dilakukan untuk kepentingan penelitian dan pengkajian, terutama

sekali dalam rangka mempertahankan kelangsungan tersedianya bibit.

84

Media Tumbuh Pembibitan

Bobot Kering Tanaman Stek Gambir

Pengaruh dari media tumbuh nyata mempengaruhi bobot kering tanaman, dimana pada perlakuan penggunaaan media tumbuh M3 (90% tanah sub soil yang diberikan pupuk kandang

ayam 10% mendapatkan hasil 0,887 kg yang merupakan nilai tertinggi. Interaksi nyata pada

parameter bobot kering tanaman 9 minggu setelah tanam (9 MST) senilai 1,020

gr pada kombinasi perlakuan C2M3. Hal ini karena pupuk kandang dapat

memperbaiki sifat fisik tanah sehingga dapat menunjang pertumbuhan dan

perkembangan akar tanaman didalam pembibitan. Peranan dari pupuk kandang ini

dapat mengembangkan beberapa unsur hara seperti fosfor, nitrogen, sulfur, dan

kalium, dan meningkatkan kapasitas tukar kation tanah. Disamping itu pupuk kandang

dapat melepaskan unsur P dari oksida Fe dan Al, dan dapat memperbaiki sifat - fisik

dan struktur tanah, serta dapat membentuk senyawa kompleks dengan unsur makro

dan mikro sehingga dapat mengurangi proses pencucian unsur.

Suwardjono, (2003) mengatakan bahwa pemberian pupuk kandang dapat

memperbaiki sifat fisik tanah sehingga, dapat menunjang pertumbuhan dan

perkembangan perakaran tanaman. Peranan dari pupuk kandang antara lain (1)

mengembangkan beberapa unsur hara seperti fosfor, nitrogen, sulfur, dan

kalium, (2) meningkatkan kapasitas tukar kation tanah, (3) melepaskan unsur P dari

oksida Fe dan Al, (4) memperbaiki sifat fisik dan struktur tanah, dan (5)

membentuk senyawa kompleks dengan unsur makro dan mikro sehingga dapat

mengurangi proses pencucian unsur.

85

pupuk kandang pada berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus

meningkatkan pH tanah walaupun peningkatan pH tanah tidak sedrastis

penurunan Al-dd. Peningkatan pH diikuti dengan peningkatan P tersedia tanah.

Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan

P dan hasil tanaman jagung karena setelah bahan organik terdekomposisi akan

menghasilkan beberapa unsur hara seperti N, P dan K serta menghasilkan asam

humat dan fulvat yang memegang peranan penting dalam pengikatan Fe dan Al

yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat (Hasanudin,

86

KESIMPULAN

Intensitas cahaya berpengaruh secara signifikan terhadap parameter

pertumbuhan tanaman kecuali terhadap volume akar stek tanaman gambir.

Intensitas cahaya 25 % (N3) meningkatkan laju tumbuh relatif 3 ( minggu ke 7

s/d 9) sebesar 0,241g/tanaman ( peningkatan 5,7 % dari intesitas 100%) ,

bobot kering tanaman sebesar 0,879 kg ( peningkatan 25,57 % dari intensitas

100 %).

Jumlah buku stek tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan

akar stek tanaman gambir.

Media tumbuh berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan

tanaman yaitu pada media Subsoil 90 % + Pupuk kandang ayam 10% (M3)

berpengaruh terhadap peningkatan bobot kering tanaman sebesar 0,887

(peningkatan 25,10% . Sedangkan volume akar stek gambir tidak berpengaruh

secara signifikan pada media tumbuh.

Interaksi intensitas cahaya, jumlah buku stek dan media tumbuh tanaman

tidak berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan tunas dan

87

SARAN

Perlu dilakukan perbanyakan bibit tanaman gambir dengan cara vegetatif

stek tunas dan perundukan serta membandingkan pertumbuhan dan produktifitas

kedua cara vegetatif tersebut.

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan berbagai jenis penaungan

88

Dokumen terkait