Peter Carey Orang Cina, Bandar Tol, Candu , & Perang Jawa
Bengal, setelah dihapuskannya blokade angkatan laut Inggris terhadap perairan Indonesia pada Agustus 1811 dan tekanan keuangan terhadap pemerintahan Raffles.3 Orang Tionghoa sekali lagi menjadi terkenal sebagai bandar candu dan pengecernya di wilayah kerajaan secara terus- menerus. Inilah yang kemudian menjadi sasaran kebencian rakyat ketika keadaan ekonomi di Jawa Tengah selatan mulai menurun tajam akibat musim kemarau dan kegagalan panen pada 1821–1825.4
Statistik menunjukkan penjualan candu resmi dan pemakaian candu di wilayah kerajaan mengalami peningkatan di Yogyakarta selama tahun- tahun tersebut. Penjualan berlipat ganda antara 1802 dan 1814, saat nilai borongan satu peti candu (148 pon avoirdupois—suatu sistem pengukuran berat 1 pon = 16 oz) juga mengalami kenaikan dua kali lipat terkait dengan pengaruh inlasi dan pelaksanaan monopoli Inggris yang lebih keras.5 Selama dekade berikutnya (1814–1824), pajak dari perdagangan candu di Yogyakarta menjadi lima kali lipat. Pada 1820, terdapat sebanyak 372 tempat terpisah yang mendapat izin resmi untuk menjual secara eceran di wilayah Sultan, yakni hampir di setiap gerbang-gerbang utama (bandar), subgerbang (rangkah), dan pasar di kesultanan.6
Sulit untuk memastikan berapa jumlah pasti para pecandu itu. Atas dasar angka-angka pemakaian candu yang dikumpulkan pada akhir abad ke-19, seorang pejabat Pemerintah Belanda menyimpulkan bahwa ternyata sekitar 16% orang Jawa telah menjadi pemakai candu.7 Akan tetapi, angka pemakaian candu hampir dapat dikatakan jauh lebih tinggi jika melihat fakta merakyatnya pemakaian jenis-jenis candu yang disebut candu “orang-orang miskin”, seperti rokok yang dicelupkan ke dalam candu, kopi yang dibumbui candu, dan buah pinang yang dibubuhi candu.8
Beberapa laporan impresionistis tersedia dari awal abad ke-19. Seorang pengembara Belanda yang mengunjungi wilayah kerajaan pada
1812 mengungkapkan begitu meluasnya pemakaian candu oleh anggota perkumpulan pemikul barang (gladhag) dan para buruh menganggur di kota tempat istana kerajaan berada. Ia juga menekankan bagaimana penyaluran candu via gerbang tol menyebabkan efektivitas penyebaran kebiasaan nyandu (mencandu) di lingkungan penduduk pedesaan.9 Ketika ia pada suatu pagi berjalan melintasi Pasar Klaten yang sibuk, ia menyaksikan betapa penuhnya sarang tempat pengisapan candu serta betapa usangnya pakaian para penduduk; beberapa orang hampir tidak berpakaian, yang lainnya berpakaian kain lusuh.10
Dapat dipastikan bahwa kebiasaan memakai candu itu merupakan suatu kemewahan bagi orang kebanyakan. Harga segumpal kecil tembakau yang dibubuhi candu sebanyak 76 miligram (1/5 mata) saja berharga 1½ sen. Saat itu harga 1½ sen setara dengan sekitar 15% penghasilan harian seorang buruh pemikul barang.11 Namun, bagi kebanyakan orang, candu memberikan kesempatan satu-satunya melepaskan diri dari kesulitan hidup yang tak pernah berhenti. Misalnya, di Pacitan, biasanya uang upah akan mereka gunakan untuk nyandu setelah selamatan besar-besaran yang diadakan untuk merayakan berakhirnya masa panen kopi.12
Candu secara luas juga digunakan sebagai stimulan dan menjadi bagian berharga ilmu obat-obatan orang Jawa dalam mengobati berbagai macam penyakit.13 Selama Perang Jawa, misalnya, terdapat laporan bahwa banyak anggota pasukan Diponegoro yang “jatuh sakit” karena kekurangan obat. Kemudian orang Tionghoa penjaja mendapatkan keuntungan yang baik di garis belakang ketika perasaan anti-Tionghoa yang kejam pada bulan-bulan pertama peperangan tersebut mulai sedikit mereda.14 Beberapa orang pangeran dari Yogyakarta dan sejumlah pejabat tinggi juga terjerumus pada kegemaran mengisap candu bermutu tinggi. Tercatat pula bahwa ada kalangan pangeran
yang menjadi pecandu di antara para pengikut Diponegoro di Selarong pada Juli 1825.15
Jika kecanduan opium merupakan hiburan bagi orang kaya, bagi orang miskin itu adalah bencana. Bahkan kegemaran sekecil apa pun terhadap obat tersebut akan menghabiskan uang simpanan langka para petani Jawa dan membuat keadaan ekonominya semakin genting. Jalan menuju kemerosotan sosial serta kejahatan setiap saat terbuka lebar. Hal itu sesuai dengan yang dikemukakan oleh Residen Yogyakarta, Nahuys van Burgst, selama Perang Jawa. Ia memerintahkan untuk melakukan penangkapan atas ribuan buruh serta gelandangan yang berkeliaran dan memenuhi daerah pedesaan Jawa. Mereka dijuluki “orang-orang yang tidak mempunyai sawah, dengan bahu serta telapak tangannya halus, sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda sebagai buruh, dan matanya serta warna bibirnya mengungkapkan kebiasaan mereka menggunakan candu”.16
Berbagai akibat sosial dari kecanduan opium serta posisi yang semakin penting yang dimainkan oleh orang Tionghoa sebagai pengecer candu disejajarkan secara erat dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh perluasan yang cepat gerbang tol di wilayah kerajaan setelah 1816, khususnya di Yogyakarta. Telah diajukan banyak referensi mengenai sifat menindas para pemungut pajak di kesultanan ini, jika dibandingkan dengan wilayah yang berdekatan, seperti Kesunanan dan Mangkunegaran. Dalam waktu satu dekade (1811–1821), setelah orang Eropa melakukan perampasan perdagangan candu, jumlah gerbang tol di wilayah Yogyakarta bertambah, dari 34 buah bandar utama dan sekitar 70 buah untuk yang lebih kecil menjadi 45 gerbang tol ditambah dengan pasar,106 subgerbang tol, dan 187 pos pasar.17 Sebagai tambahan, sampai tahun 1824, terdapat tiga buah gudang tembakau utama (gedhong tembakau) di perbatasan
antara provinsi pedalaman dan pantai utara. Di sana, kiriman tembakau ditimbang dan diperiksa juru taksir Tionghoa dan kewajiban bea cukainya ditetapkan sebelum hasil bumi tersebut (terutama yang berasal dari Kedu dan Bagelen) dikirimkan ke daerah pesisir.18 Pada periode yang sama, total pajak dari gerbang tol daerah Yogyakarta saja hampir tiga kali lipat. Hal ini terjadi setelah kehilangan daerah Kedu (dengan bandarnya) pada Juli 1812 serta penghapusan gerbang tol di sepanjang Bengawan Solo atas “Surat Perintah Rafles di dalam Dewan” pada 11 Februari 1814.19
Sebelum dilanjutkan dengan melakukan penilaian atas dampak ekonomi dan sosial dari perkembangan tersebut, penting kiranya untuk melihat ke tepi sekilas, menyaksikan bagaimana sebenarnya sistem gerbang tol utama dan gerbang tol yang lebih kecil itu bekerja. Menurut para Komisaris Belanda yang menyelidiki sistem tersebut pada 1824, gerbang- gerbang tol asli negara Mataram didirikan di sepanjang jalan tempat pemberhentian (pesanggrahan) bagi pelancong yang menggunakan jalur dagang utama. Setiap pesanggrahan yang berada di pinggir jalan ini berjarak satu hari perjalanan dengan berjalan kaki. Tempat itu sering dikunjungi antara lain oleh pedagang-pedagang Tionghoa. Beberapa dari mereka membeli hak dari Kapitan Cina setempat untuk memasang sejumlah kecil cukai kepada pelancong lainnya, sebagai pembayaran atas jasanya memelihara barang-barang mereka.
Secara berangsur, seiring berjalannya waktu, didirikanlah gerbang tol yang lengkap. Gerbang tol itu dikelola oleh orang Tionghoa yang kadang- kadang berkembang dari asalnya—yaitu warung-warung pinggir jalan— yang selama ini melayani tempat penginapan. Kemudian, dengan semakin akrabnya orang Tionghoa ini dengan daerah pedesaan di sekelilingnya dan semakin besarnya tekanan yang diberikan Kapitan Cina kepada mereka untuk membayar sewa yang lebih tinggi lagi, pos-pos yang lebih kecil
Peter Carey Orang Cina, Bandar Tol, Candu , & Perang Jawa
(rangkah) disediakan oleh mereka pada jalan-jalan yang berdekatan. Hingga menjelang Perang Jawa, sesuai perkataan para komisaris tersebut, sejenis gerbang tol dapat ditemukan “pada hampir setiap jalan masuk ke setiap kampung dan dusun kecil” di Jawa Tengah.20
Daerah bea cukai yang rumit, yang membatasi zona-zona yang disewakan oleh bandar Tionghoa, didirikan beserta pos pengamatan (salaran) pada semua jalur ke distrik yang terpisah. Adapun tujuan dari pendirian pos pengamatan itu adalah untuk memeriksa bahwa setiap pelancong telah membayar semua cukai yang diperlukan, sebelum mereka memasuki wilayah bea cukai yang lain. Tangan mereka akan dicap mengggunakan cat nila yang dapat menghilang secara perlahan-lahan, sebagai tanda terima cukai yang telah mereka bayar. Kewajiban membayar pajak penuh dikenakan kepada bandar barang dagang utama setiap zona bea cukai. Selanjutnya barang-barang ini tidak akan dikenakan pajak lagi, kecuali pembayaran upeti (“wang peniti”) pada gerbang tol yang lebih kecil di sebelahnya. Namun, jika suatu muatan hanya akan dibawa dalam jarak pendek saja dan hanya perlu melewati sebuah gerbang tol kecil, barang- barang tersebut hanya dikenakan setengah dari besarnya pajak.21
Tingkat tarif pajak untuk barang perdagangan pokok22 ditentukan oleh para subpemungut pajak pada masing-masing gerbang tol setelah dikonsultasikan dengan pemungut pajak utama dan residen setempat di daerah itu. Tingkat tarif pajak didasarkan pada kedudukan gerbang tol serta tingkat kemakmuran rata-rata di distrik itu. Misalnya, sepikul (61,175 kg) beras harus membayar pajak sebesar 44 sen di Ampel—sebuah gerbang tol Surakarta yang telah lama didirikan pada jurusan Solo–Salatiga—tetapi hanya akan terkena pajak sebesar 15 sen pada gerbang tol utama di Ponorogo di Jawa timur, 8 sen di bandar Pacitan di pantai selatan, dan hanya ditarik pajak sebesar 2 sen saja di rangkah Pager Waru di daerah
Pengadilan Distrik (Landraad) di Pai, Jawa Tengah, dengan Kapitan Cina, Oei Hotam (Paling Kiri)
(Sumber: Litograi dari foto karya Walter Woodbury dan James Page,1865–1876, seizin Leiden Universiteits Bibliotheek) Pacitan. Selain itu, para pedagang Tionghoa berpura-pura diharuskan membayar bea cukai barang dagangannya tiga kali lebih banyak daripada pedagang Jawa. Ditambah, semua kewajiban pajak harus tertera sehingga mudah dapat ditunjukkan pada pos-pos bea cukai.23
Jika berdasarkan teori, seperti itulah seharusnya sistem bekerja; akan tetapi, pelaksanaannya biasanya sangat berbeda. Sering terjadi kasus, misalnya, bahwa sebuah bandar dan subordinasi rangkah yang
berdekatan, dipungut oleh dua orang Tionghoa penyewa berbeda yang masing-masing akan mengenakan pajak yang penuh.24 Tingkat tarif hampir tidak pernah diperlihatkan dengan baik, oleh karena kebanyakan para petani dan pedagang-pedagang kecil Jawa buta huruf; mereka tidak dapat membacanya pada beberapa kasus.25
Sebagaimana yang sudah dicatat sebelumnya, bandar-bandar Tionghoa selalu bersikap lebih toleran kepada orang senegerinya dibandingkan kepada orang-orang Jawa. Oleh karena itu, tingkat tarif khusus yang seharusnya dikenakan kepada pedagang Tionghoa tidak pernah dilaksanakan.26 Kelemahan terbesar yang dialami oleh para petani Jawa biasa adalah tidak terdapat ketentuan tetap mengenai pajak yang harus dibayar untuk bahan pangan umum dan hasil pertanian setempat— seperti buah-buahan dan sayur-sayuran yang ditanam di pekarangannya— termasuk barang yang sering diperdagangkan di pasar-pasar setempat. Retribusi yang dikenakan kepada barang-barang tersebut sepenuhnya diserahkan kepada pertimbangan penjaga gerbang tol. Di sini mereka mengenakan pajak persentase (unusan; pelayang) yang pada hakikatnya mereka menarik uang sebanyak mungkin. Para penjaga gerbang tol ini kadang terpaksa untuk bertindak keras, oleh karena mereka sendiri adalah subpenyewa gerbang tol dari beraneka ragam perantara dan sangat membutuhkan pula uang tersebut untuk mengganti pengeluarannya.27
Seorang pejabat Belanda menggolongkan gerbang-gerbang tol dan perkumpulan pengangkat barang sebagai dua lembaga yang paling merugikan di dalam masyarakat petani Jawa. Pada awal abad ke-19, ia memberikan laporan menyedihkan tentang suatu pemandangan yang sudah terkenal pada gerbang-gerbang tol di seluruh Jawa Tengah pada periode ini. Ia menggambarkan bagaimana seseorang petani Jawa disuruh menunggu selama berjam-jam sebelum bawaannya diperiksa,
dan bagaimana bandar Tionghoa itu menggertaknya dengan keras serta mengancam agar menyerahkan pembayaran persentase yang besar untuk memperoleh hak melewati gerbang tol. Jika kondisinya sudah seperti itu, petani hanya bisa menyerahkan nasibnya kepada kemurahan hati penjaga gerbang tol, sambil memohon, “Ampun, Tuan. Keluarga saya miskin, Tuan!” Akan tetapi, jika pada akhirnya ia menolak membayar maka ia menghadapi risiko seluruh barang bawaannya akan disita.
Selama proses menunggu yang begitu lama, sering kali petani tergoda untuk menggunakan candu yang hampir selalu dijual eceran di gerbang- gerbang tol. Jika petani tersebut harus menginap maka akan ditambah dengan menghadapi tipu daya gadis penari desa/pelacur (ronggeng) dan pesta judi yang tentu saja lebih menguras uang simpanannya yang sudah amat sedikit. Jika ia mengalami nasib sial di dalam permainan kartu tersebut, ia terpaksa harus berpisah dengan pakaian serta persediaan uang tunainya, yang oleh banyak petani dan pedagang desa didapat dengan meminjam dari kepala desa (lurah) mereka untuk keperluan membayar kewajiban tol yang harus mereka penuhi. Dalam keadaan demikian, bukanlah suatu hal yang luar biasa jika seorang petani lebih memilih mengembara daripada harus menghadapi hinaan karena kembali lagi ke desa dengan tangan hampa.28
Tentu saja, hanya ada sedikit cara terbuka untuk memperbaiki keadaan itu bagi petani. Pengaduan kepada para pejabat Jawa tentang penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh penjaga gerbang tol sering kali sia-sia oleh karena para pejabatnya sendiri telah menerima berbagai pemberian, berupa uang pelicin (douceurs) agar mereka menutup mata atas praktik-praktik pemerasan itu. Ditambah, lika-liku prosedur untuk mengajukan kasus ke pengadilan atau ke hadapan para penguasa adalah cara-cara yang berada di luar kemampuan rata-rata para petani.29 Satu-
Peter Carey Orang Cina, Bandar Tol, Candu , & Perang Jawa
satunya cara yang dapat ditempuh, untuk dapat membalaskan dendamnya secara sungguh-sungguh, adalah dengan meminta bantuan jago-jago setempat untuk menjarah gerbang tol atau membakarnya.
Kasus pembakaran tersebut sering terjadi pada tahun-tahun menjelang Perang Jawa. Banyak pula penjaga gerbang tol yang menemui ajalnya dengan cara brutal.30 Namun, pembalasan rakyat dengan cara seperti itu sering mengakibatkan bencana penduduk di desa tetangganya. Berdasarkan ketentuan undang-undang pidana Jawa, desa tetangga yang terkena imbas itu berkewajiban untuk membayar ganti rugi mencapai dua pertiga dari nilai barang yang dicuri atau sebuah “harga darah” kepada keluarga laki-laki yang terbunuh, kalau kejahatan itu tidak berhasil diselesaikan dengan memuaskan.31 Sementara itu, dihadapkan pada ancaman serangan yang terus-menerus, para penjaga gerbang tol itu pun mulai mengorganisasikan “tentara pribadi” mereka sendiri. Biasanya terdiri dari tukang pukul dan pengawal yang diambil dari orang Jawa; sehingga menambah lagi alur ke dalam jalinan kekerasan di daerah pedesaan menjelang Perang Jawa.32
Pemerintahan kolonial Eropa sesungguhnya menyadari sepenuhnya pengaruh buruk setempat dari gerbang tol. Mereka pun telah berupaya untuk membatasi pengaruhnya sebelum 1825. Sebagaimana telah kita lihat, Inggris telah menghapuskan bandar-bandar di sepanjang aliran Bengawan Solo pada 1814 dan Belanda pun mengikuti jejak tersebut di Kedu pada 1824. Tindakan tersebut segera membawa efek meningkatnya jumlah pasar dan tingkat perdagangan di provinsi.33 Pada tahun yang sama, gubernur jenderal mengangkat sebuah tim komisaris—dipimpin oleh Residen Surakarta dan Residen Yogyakarta—untuk melakukan penyelidikan cara kerja gerbang tol di seluruh daerah kerajaan. Pada Oktober 1824, tim itu melapor kembali kepada gubernur jenderal, dan
secara tegas menganjurkan penghapusan semua pos-pos bea cukai dalam negeri tersebut. Untuk mengganti kerugian yang dialami pemerintah atas pajak yang hilang (diperkirakan sekitar satu juta gulden), disarankan supaya merampas daerah-daerah terpencil bagian barat Provinsi Banyumas dan Bagelen.
Mereka juga mendesak agar semua orang Tionghoa di desa dan dusun diperintahkan pindah ke ibu kota kerajaan. Setiap orang Tionghoa yang belum menikah yang berada di daerah kerajaan kurang dari dua tahun harus diusir secepatnya, bersama dengan mereka yang tidak mempunyai pekerjaan atau mereka yang bersalah melakukan pemerasan. Selain itu, tidak ada lagi izin imigrasi untuk orang-orang Tionghoa baru.34 Menurut pendapat mereka, begitu lama berlangsungnya tindakan-tindakan pemerasan dan penindasan oleh sistem gerbang tol itu hanya mungkin terjadi karena “sifat baik dan kedamaian (!)” orang-orang Jawa. Tim itu mengakhiri laporannya dengan suatu ramalan yang sangat mengerikan:
Kami berharap agar mereka [orang Jawa] tidak akan sampai terbangun dari keadaan tidur nyenyaknya ini, oleh karena kami memperhitungkan, sebagai sesuatu yang sudah pasti, bahwa kalau gerbang-gerbang tol tersebut tetap diizinkan melakukan terus kegiatannya, maka waktunya tidak akan lama lagi, pada saat orang-orang Jawa itu akan bangkit dengan cara yang mengerikan.35
Kendati terdapat peringatan yang mengerikan tentang bahaya keresahan para petani yang mengancam dari hampir setiap pejabat yang mempelajari masalah tersebut, pemerintahan Belanda pasca-1861 tidak mau melepaskan berbagai pajak yang begitu menguntungkan dari gerbang tol di daerah kerajaan.36 Kenaikan keuntungan tahunan sebanyak
tiga kali lipat yang diperoleh dari pemungut pajak seluruh gerbang tol di Yogyakarta antara 1816 dan 1823 tampaknya telah membuat para pegawai tinggi kolonial di Batavia menjadi buta terhadap kenyataan bahwa para bandar tanpa dapat dikendalikan lagi telah melumpuhkan perdagangan di wilayah kesultanan.
Seorang Tionghoa penjaga gerbang tol menulis pada November 1824 dan melaporkan tentang kebangkrutannya hanya dalam waktu dua bulan setelah mengambil alih pengelolaan bandar yang selalu menguntungkan di daerah Bantul dan Jatinom, selatan Yogyakarta. Musim kering yang berkepanjangan sejak awal tahun tampaknya telah menghancurkan tanaman kapas dan bahan-bahan pangan pokok, seperti jarak, kacang kedelai, dan jagung, sehingga persediannya sangat sedikit. Harga beras melambung tinggi, dan kegiatan perdagangan di pasar-pasar setempat hanya sedikit karena perdagangan secara efektif telah ambruk sama sekali.37
Pada bulan-bulan yang mengerikan sebelum meledaknya Perang Jawa, pedesaan di Jawa merupakan tempat di mana orang hidup saling curiga dan saling meneror. Gerombolan bersenjata beroperasi dengan sangat bebas dari tuntutan hukum. Pembunuhan banyak terjadi dan kegiatan harian para petani setempat berlangsung di bawah pengawasan ketat mata-mata para penjaga gerbang tol yang ditempatkan di setiap desa dan setiap jalan desa untuk mencegah terjadinya penghindaran kewajiban membayar pajak.38 Bahkan orang mati sekalipun, ketika diantarkan ke kuburan, akan terbebani pajak pula. Terlebih hanya melintasi sebuah gerbang tol saja, kendati tidak membawa suatu barang yang dikenai pajak, akan menyebabkan seorang pelancong dikenakan apa yang secara kasar dinamakan oleh orang Jawa sebagai “pajak bokong”.39 Para pegawai Jawa yang berkedudukan tinggi pun tidak luput dari perlakuan ini.
Bupati Nganjuk (masuk wilayah Surakarta) yang telah beruban, dalam sebuah wawancara dengan seorang pejabat Belanda, dengan muka masam mengutarakan bahwa ia merasa lebih berani terhadap harimau yang memenuhi hutan jati dalam perjalanan lintas alamnya ke ibu kota Kesunanan, daripada harus berhadapan dengan jagoan tak tahu malu yang menjaga gerbang tol sepanjang jalan raya Nganjuk–Surakarta.40 Pegawai lainnya, dengan kepahitan yang hampir tidak dapat disembunyikan lagi, mengutarakan prosedur asusila yang dilakukan oleh bandar Tionghoa pendatang baru dari Tiongkok yang hampir tidak bisa berbahasa Melayu dalam menggeledah isik para istri dan kaum perempuan untuk menjarah perhiasan mereka.41
Peran orang Tionghoa yang semakin menonjol sebagai penyewa tanah di daerah kerajaan antara 1816 dan 1823 juga telah memperburuk perasaan rakyat terhadap mereka.42 Utamanya bukan sebagai akibat dari cara pertaniannya yang agresif secara komersial, tetapi sebagai akibat tingkah laku mereka yang sombong dalam berurusan dengan para petani Jawa dan para pejabat setempat. Perubahan sikap mereka disinggung dalam sebuah laporan oleh seorang pangeran Yogyakarta yang berjuang bersama dengan Diponegoro:
Di antara orang desa yang memberikan bantuan kepada Diponegoro, terdapat orang yang tidak mempunyai apa pun lagi untuk dimakan dan mereka yang mata pencahariannya adalah melakukan kejahatan, perampokan, dan pencurian, membantunya berdasarkan rencana jahat mereka sendiri. Sedangkan mereka yang tidak terlibat di dalam kegiatan kejahatan, seperti para pegawai desa [demang desa] dan para pengumpul pajak [Bekel], (kebanyakan mengikutinya) sebagai akibat dari keluhannya terhadap orang Tionghoa yang tingkah lakunya menjadi sangat berbeda dengan
Peter Carey Orang Cina, Bandar Tol, Candu , & Perang Jawa
perilaku mereka sebelumnya. Sekarang mereka menghendaki agar rakyat menyembah mereka, sebagai penghormatan penuh takzim dan mereka duduk di atas (yaitu di atas kursi), sedangkan para Demang harus duduk (sambil bersila) di atas lantai, di hadapan mereka (mesti duduk seba ada dibawa).43
Selama berlangsungnya Perang Jawa, Pemerintah Belanda pada akhirnya bertindak secara cepat memodifikasi kerja sistem gerbang tol di daerah kerajaan, dan membatasi masuknya penduduk Tionghoa ke daerah pedesaan.44 Akan tetapi, pada saat itu tindakan modiikasi tersebut sudah sangat terlambat; perang telah meluluhlantakkan daerah pedesaan dan orang Tionghoa. Mereka pada masa itu dimaklumi di ranah istana sebagai penasihat keuangan yang tidak ternilai, rekan dagang, dan ahli perpajakan, tetapi sekarang telah menjadi sasaran-sasaran khusus kebencian dan kejijikan rakyat.
Catatan Belakang
1. Lihat M.L. van Deventer (peny.), Nederlandsch Gezag, hlm. 322–323 (Pasal 4 dari perjanjian
antara Pemerintah Inggris dan Sultan Hamengku Buwono III, 1 Agustus 1812); hlm. 328 (Pasal 4 dari perjanjian antara Pemerintah Inggris dan Sunan Pakubuwono IV, 1 Agustus, 1812). Sebagai imbalan atas konsesi-konsesi ini, Sultan dan Sunan masing-masing mendapat persenan seiap tahun sebesar 100.000 dan 120.000 dollar Spanyol.
2. Mengenai masalah keuangan yang dialami oleh pemerintahan Rales, lihat John Basin,
The �aive Policies of Sir Stamford Rales in Java and Sumatra; An Economic Interpretaion (Oxford: Clarendon Press, 1957), hlm. 17–21; dan mengenai kebijakan Rales terhadap gerbang tol, lihat Clive Day, The Policy and Administraion of the Dutch in Java (Kuala