• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

3.6 Prosedur Penelitian

3.6.1 Pembuatan pelarut HCl 0,1 N

Diencerkan 8,3 ml HCl 37% (v/v) dengan 1 Liter akuades (Ditjen POM RI,

1979). Perhitungan pembuatan pelarut dapat dilihat pada Lampiran 4 halaman 42.

3.6.2 Pembuatan larutan induk baku (LIB) parasetamol

Ditimbang dengan seksama 50 mg baku pembanding parasetamol BPFI, kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, dilarutkan dengan HCl 0,1 N hingga larut, dicukupkan volume dengan HCl 0,1 N sampai garis tanda sehingga didapatkan larutan dengan konsentrasi 1000 μg/ml (LIB I). Dari larutan LIB I dipipet 5 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, dicukupkan dengan HCl 0,1 N sampai garis tanda sehingga didapatkan larutan dengan konsentrasi 100 μg/ml (LIB II). Bagan alir prosedur penelitian dapat dilihat pada Lampiran 5 halaman 43.

3.6.3 Pembuatan larutan induk baku kafein

Ditimbang dengan seksama 50 mg baku pembanding kafein BPFI, kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, dilarutkan dengan HCl 0,1 N hingga larut, dicukupkan volume dengan HCl 0,1 N sampai garis tanda sehingga didapatkan larutan dengan konsentrasi 1000 μg/ml (LIB I). Dari larutan LIB I dipipet 5 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, dicukupkan dengan HCl 0,1 N sampai garis tanda sehingga didapatkan larutan dengan konsentrasi 100 μg/ml (LIB II). Bagan alir prosedur penelitian dapat dilihat pada Lampiran 6 halaman 44.

3.6.4 Pembuatan spektrum serapan maksimum parasetamol

Diambil sebanyak 0,65 ml dari LIB II parasetamol (konsentrasi = 100

μg/ml) kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml. Selanjutnya larutan diencerkan dengan pelarut HCl 0,1 N sampai garis tanda, lalu dikocok sampai homogen untuk memperoleh larutan parasetamol dengan konsentrasi 6,5 μg/ml. Diukur serapannya pada panjang gelombang 200-400 nm. Bagan alir prosedur penelitian dapat dilihat pada Lampiran 5 halaman 43.

3.6.5 Pembuatan spektrum serapan maksimum kafein

Diambil sebanyak 0,86 ml dari LIB II kafein (konsentrasi = 100 μg/ml) kemudian dimasukan ke dalam labu tentukur 10 ml. Selanjutnya larutan diencerkan dengan pelarut HCl 0,1 N sampai garis tanda, lalu dikocok sampai homogen untuk memperoleh larutan kafein dengan konsentrasi 8,6 μg/ml. Diukur serapannya pada panjang gelombang 200-400 nm. Bagan alir prosedur penelitian dapat dilihat pada Lampiran 6 halaman 44.

3.6.6 Pembuatan larutan standar parasetamol

Diambil sebanyak 0,3 ml; 0,45 ml; 0,65 ml; 0,75 ml; dan 0,9 ml dari LIB II parasetamol, kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam 5 labu tentukur 10 ml. Diencerkan dengan pelarut HCl 0,1 N untuk membuat larutan standar parasetamol dengan konsentrasi 3,0 μg/ml; 4,5 µg/ml; 6,5 μg/ml; 7,5 µg/ml; dan 9,0 μg/ml. Bagan alir prosedur penelitian dapat dilihat pada Lampiran 7 halaman 45.

3.6.7 Pembuatan larutan standar kafein

Diambil sebanyak 0,4 ml; 0,6 ml; 0,86 ml; 1,0 ml; dan 1,2 ml dari LIB II kafein, kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam 5 labu tentukur 10 ml. Diencerkan dengan pelarut HCl 0,1 N untuk membuat larutan standar kafein dengan konsentrasi 4,0 μg/ml; 6,0 µ g/ml; 8,6 μg/ml; 10,0 µg/ml; dan 12,0 μg/ml. Bagan alir prosedur penelitian dapat dilihat pada Lampiran 8 halaman 46.

3.6.8 Penentuan serapan larutan standar

Larutan standar parasetamol dengan konsentrasi 3,0 μg/ml; 4,5 µg/ml; 6,5 μg/ml; 7,5 µg/ml; dan 9,0 μg/ml dan larutan standar kafein dengan konsentrasi 4,0 μg/ml; 6,0 µ g/ml; 8,6 μg/ml; 10,0 µg/ml; dan 12,0 μg/ml yang masing-masing telah dibuat enam kali perulangan, diukur serapannya pada panjang gelombang 200-400 nm. Nilai serapan kedua senyawa ditentukan dengan menggunakan persamaan regresi yang dioperasikan pada data konsentrasi dan absorbansi masing-masing komponen pada setiap panjang gelombang pengukuran.

Dari persamaan regresi yang diperoleh: y = ax + b Keterangan:

3.6.9 Penentuan panjang gelombang analisis dari tumpang tindih spektrum Dibuat larutan parasetamol dengan konsentrasi 6,5 μg/ml dan larutan kafein dengan konsentrasi 8,6 μg/ml, kemudian kedua larutan ini diukur serapannya masing-masing pada panjang gelombang 200-400 nm. Selanjutnya, spektrum serapan dari masing-masing komponen ditumpang tindihkan, pembacaan spektrum ini dilakukan pada rentang panjang gelombang 215-300 nm, karena pada rentang panjang gelombang ini parasetamol dan kafein tumpang tindih secara keseluruhan. Kemudian dipilih 5 titik sebagai panjang gelombang yang akan digunakan, pemilihan panjang gelombang diambil dari spektrum serapan komponen mulai memberikan serapan sampai hampir tidak memberikan serapan. Bagan alir prosedur penelitian dapat dilihat pada Lampiran 9 halaman 47.

3.6.10 Penentuan spektrum serapan campuran baku parasetamol dan kafein Ditimbang masing-masing 10 mg parasetamol BPFI dan kafein BPFI, masing-masing dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml, dilarutkan dengan pelarut HCl 0,1 N sampai garis tanda. Kemudian dipipet sebanyak 0,65 ml dari larutan parasetamol (konsentrasi = 1000 μg/ml) dan 0,86 ml dari larutan kafein (konsentrasi = 1000 μg/ml). Kedua larutan dicampurkan ke dalam labu tentukur 10 ml, dicukupkan dengan pelarut HCl 0,1 N sampai garis tanda. Kemudian dari larutan tersebut dipipet 1 ml, dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml, dilarutkan dengan pelarut HCl 0,1 N sampai garis tanda. Diukur serapan pada panjang gelombang 200-400 nm. Bagan alir prosedur penelitian dapat dilihat pada Lampiran 10 halaman 48.

3.6.11 Penentuan kadar parasetamol dan kafein dalam tablet

Ditimbang 20 tablet dan digerus dalam lumpang sampai halus dan homogen. Selanjutnya ditimbang seksama sejumlah serbuk setara dengan 10 mg parasetamol (penimbangan dilakukan sebanyak 6 kali pengulangan), dihitung kesetaraan kafein yang terkandung di dalamnya. Dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml dan dilarutkan dengan pelarut HCl 0,1 N sampai garis tanda, dihomogenkan dengan sonikator selama 15 menit. Larutan tersebut kemudian disaring, lebih kurang 10 ml filtrat pertama dibuang, filtrat selanjutnya ditampung. Kemudian dipipet 1,58 ml larutan filtrat, dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml.

Kemudian ditambahkan 4,03 ml larutan kafein (konsentrasi = 100 µg/ml), dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml yang di dalamnya terdapat 1,58 ml filtrat, lalu dicukupkan dengan pelarut HCl 0,1 N sampai garis tanda sehingga diperoleh larutan yang di dalamnya terdapat parasetamol dengan konsentrasi 6,5 µg/ml dan kafein dengan konsentrasi 8,6 µg/ml. Diukur serapan pada panjang gelombang yang telah ditentukan. Bagan alir prosedur penelitian dapat dilihat pada Lampiran 11 halaman 49.

Menurut Harmita (2004), dalam metode adisi standar (penambahan bahan baku), sejumlah sampel yang dianalisis ditambah analit dengan kadar yang diperlukan dari kadar analit yang diperkirakan, dicampur dan dianalisis kembali. Selisih kedua hasil dibandingkan dengan kadar yang sebenarnya.

% Kadar sampel = x 100 % Keterangan:

Ca = konsentrasi perolehan sampel setelah penambahan baku Cb = konsentrasi baku yang ditambahkan

3.6.12 Perhitungan kadar parasetamol dan kafein dalam campuran.

Perhitungan kadar masing-masing komponen dalam campuran dilakukan atas dasar serapan campuran (Ac) dan serapan tiap komponen pada multi panjang gelombang yang telah diketahui dari hasil pengukuran dengan menggunakan persamaan matriks:

[c] = [[a] x [a1]]-1 x [a] x Ac] Keterangan :

[c] = konsentrasi komponen dari campuran

[a] = matriks serapan senyawa penyusun campuran

[a1] = transpose matriks serapan senyawa penyusun campuran [[a] x [a1]]-1 = invers matriks dikali transpose matriks serapan senyawa

penyusun campuran

[Ac] = matriks nilai serapan sampel 3.6.13 Analisis Hasil

Analisis hasil dilakukan untuk mengetahui validitas metode yang digunakan dalam penelitian, berikut parameter yang diukur:

a. Akurasi

Nilai akurasi dihitung dari hasil matriks kadar yang diperoleh dibandingkan dengan kadar teoritis dikalikan % kadar sertifikat analisis. Akurasi dikatakan baik jika berada dalam rentang 90,0-110,0% (Andrianto, 2009).

Akurasi dari hasil matriks diperoleh dengan rumus:

Akurasi dari hasil matriks = x % kadar sertifikat analisis

b. Uji Presisi

Penentuan presisi berdasarkan nilai koefisian variasi (KV) atau Coefficient of variation (CV). Jika KV lebih kecil dari 2% maka dinilai mempunyai presisi yang baik (Andrianto, 2009).

Koefisien variasi diperoleh dengan rumus:

KV =

x 100%

c. Analisis Data Penetapan Kadar Secara Statistik

Data perhitungan kadar parasetamol dan kafein dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji ttabel distribusi t dapat dilihat pada Lampiran 20 halaman 71 dan 72.

Rumus yang digunakan adalah : SD =

Untuk mencari t hitung digunakan rumus: thitung =

Data diterima jika thitung < ttabel pada interval kepercayaan 95% dengan nilai

α = 0,05. Keterangan :

SD = standard deviation / simpangan baku x = kadar dalam satu perlakuan

x = kadar rata-rata dalam satu sampel n = jumlah perlakuan

α = tingkat kepercayaan

Menurut Sudjana (2005), untuk menghitung kadar parasetamol dan kafein sebenarnya dalam sampel secara statistik dapat digunakan rumus:

μ = ± ttabel x Keterangan :

SD = standard deviation / simpangan baku x = kadar rata-rata dalam satu sampel n = jumlah perlakuan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait