Tujuh MADEKUR
SESEORANG DAN LAIN-LAIN
Jangan mati dulu bapak
WASKA MENYEMBUR ORANG ITU
WASKA
Kalau aku mati memangnya kenapa?
SESEORANG
Saya sedih, bapak
WASKA
Alaaaah, sudah. Jangan berpura-pura
SESEORANG
Tapi setidak-tidaknya sempatkan berpidato dulu, bapak. SEMUA ORANG MENGIYAKAN
WASKA
Umang-umang anakku, soal mati itu urusan Tuhan yang maha kuasa. Karenanya tidak perlu lagi kita pusingkan, persoalan terpenting hanyalah soal stasiun tua ini. Aku ingin kita sudah pindah sebelum saya mati.
SESEORANG
Beres bapak
WASKA
Kembali soal mati, dapat saya katakana bahwa pada umumnya orang mengisi waktu dan usianya dengan segala macam kegiatan yang mengarah pada suatu angan-angan yang gila, yaitu…. Eh, begini sederhananya: hidup bagi sebagian besar orang adalah persiapan untuk menghadapi cara mati. Untuk saya pribadi….
SESEORANG DAN LAIN-LAIN
Nanti dulu bapak, nanti dulu
Belum, belum. Saya bicara apa tadi?
SESEORANG
Untuk saya pribadi
WASKA
Untuk saya pribadi hidup adalah hidup, mati adalah mati
SESEORANG
Maksud bapak?
WASKA
Aku sendiri tidak begitu jelas
WASKA LALU BANGKIT DAN BERGERAK
SESEORANG
Kemana bapak?
WASKA
Mau ngopi
NYANYIAN ANGIN BERGELOMBANG, WASKA MUNCUL LAGI MERAUNG MARAH. NYANYIAN LAGI. WASKA MUNCUL LAGI, MARAH, NYANYI DAN TERUS NYANYI SAMPAI TERDENGAR SUAR TEMBAKAN YANG SANGAT MEMEKAKAN TELINGA YANG MENJADIKAN SEMUA ORANG TERDIAM DAN FIRASAT MASING-MASING MENGATAKAN BAHWA ITU PASTI KEMATIAN WASKA
DAN BENAR KEMUDIAN MUNCUL SEMAR DENGAN SAPU TANGAN SEDIHNYA.
NABI
Siapa yang mati, Semar?
SEMAR
Waska
SESEORANG
Polisi yang nembak? Karena ia melarikan diri? Atau salah seorang di antara kita yang dengki? (Baris ini menyebabkan Madekur merasa nggak enak) jelaskan kalau memang jelas, Semar!
NABI
Siapa yang menembaknya?
SEMAR
Mula-mula begini…..
Tidak perlu bagaimana permulaannya, yang penting siapa yang menembak. Kalau ada persoalan, itu urusan mereka berdua. Kita hanya perlu tahu siapa yang menembaknya.
SEMUA ORANG MENDUKUNG ORANG TADI
SESEORANG
Bagaimana pun, kita banyak berhutang kepada Waska. Bukan saja ia telah memberikan jalan terang kepada kita ketika kita luntang-lantung meraba-raba hampir putus asa dalam kegelapan dan kesemrawutan jalan-jalan Jakarta.
SESEORANG
Ia juga menuntun kita setiap kali kita tersesat ke dalam sikap putus asa
SESEORANG
Ia juga memutuskan tali yang telah dipersiapkan buat menggantung leher kita sendiri
SESEORANG
Ia yang mengurungkan telunjuk kita menarik pelatuk pistol yang akan ditembakkan atas kepala kita
SESEORANG
Dan ia yang menyadarkan dan membangunkan harga diri kita
SESEORANG
Dan ia juga yang membelokkan kita dari jalan hina para pengemis
SESEORANG
Singkat kata, dialah ‘api nan tak kunjung padam’ bagi barisan para penganggur yang memenuhi kota-kota yang gemerlap namun gelap, yang gelap namun gemerlap
SESEORANG MENANGIS SANGAT MEMILUKAN SEKALI
SESEORANG
Tangis yang panjang yang paling panjang yang pilu yang paling pilu tak akan juga seimbang untuk menghormati jenazah yang mulia itu. Tuhan, Tuhan…
NYANYIAN
Angin berwarna ungu Angin berwarna ungu
Menghembus perlahan batang-batang Cemara yang kelabu
Dan sepi menunggunya Dan sepi menunggunya Waska
Lelaplah dalam senyap Lelap lelap senyap senyap Angin berwarna ungu
NABI
Sebentar, Semar. Saya kira orang-orangmu sudah keterlaluan menanggapi tokoh Waska
SEMAR
Saya kira juga, tuanku. Malah lebih dari itu, mereka sudah menyimpang dari teks
SESEORANG
Sebentar, sebentar, jangan ngobrol yang tidak-tidak dulu. Pertanyaan kami belum dijawab. Siapa yang menembak Waska?
SEMAR
Waska ditembak tepat pada pelipisnya dengan lubang peluru yang mengagumkan lurusnya dan penembaknya adalah Waska sendiri.
SEMUA ORANG MENGATAKAN BAHWA PERBUATAN ITU TIDAK MUNGKIN DILAKUKAN OLEH WASKA
SEMAR
Coba, tenang sebentar. Jangan bicara sendiri-sendiri. Kalau terus kalian bicara begini, penonton yang sebenarnya dan nanti mereka menduga-duga secara berlebihan seperti bisaanya
SESEORANG
Saya tahu motif serta alas an mengapa Waska bunuh diri
SEMAR
Kamu tidak tahu. Yang tahu Cuma Arifin, saya dan Tuhan. Sebab itu dengarkan. Waska bunuh diri karena malu
SESEORANG
Lantaran hutang?
SEMAR
Selebihnya bukan urusan kamu dan siapapun. Itu semata-mata urusan Waska sendiri, pribadi SEMUA ORANG SEKETIKA MUNDUR KETIKA MUNCUL TARKENI YANG EMRAYAP-RAYAP SECARA MENGERIKAN SEKALI. SELURUH TUBUHNYA PENUH DENGAN BOROK KECIL-KECIL YANG SEMUANYA BERNANAH. SETIAP BOROK KECIL ITU DIBUMBUI OLEH BEBERAPA EKOR LALAT, SEMENTARA DARAH KERING DI PINGGIR-PINGGIRNYA DAN NANAH KENTAL MELELEH. TARKENI DENGAN SUSAH PAYAH MENDEKATI MADEKUR YANG MASIH TIDUR SANGAT NYENYAK.
NABI
Sejuta borok kecil mengerumuni keindahanmu. Berjuta lalat singgah mengerumuni borok- borokmu. Dan darah dan nanah meleleh-leleh
Bagaimana pun perasaan kita, hidung kita tetap tidak tahan akan baunya
SESEORANG
Seharusnya kamu berobat
TARKENI
Jelas
SESEORANG
Kenapa tidak?
TARKENI
Nggak punya duit
SESEORANG
Cari dong
TARKENI
Tidak usah nyocot. Tanpa kamu bilang aku sudah berusaha, hanya saja aku belum dapat
SESEORANG
Saya kira lebih baik dia pergi ke rumah sosial TARKENI MELUDAH
SESEORANG
Atau dia bisa datang ke rumah pastur atau dokter atau sosiawan atau….
TARKENI
Aku tidak akan pernah datang ke rumah-rumah mereka. Penyakit dan kelaparan yang sekarang kutanggung adalah penyakitku dan kelaparanku, bukan penyakit mereka kelaparan mereka
SESEORANG
Tempo hari pernah ada seorang pelacur yang menderita seperti dia datang ke rumah seorang dokter-pastur dan beberapa bulan kemudian dia sudah kembali cantik seperti keluar dari kap salon dan kemudian ia aktif lagi sebagai pelacur
SESEORANG
Kemarin pernah orang cerita….
DAN KEMUDIAN SETIAP ORANG BERCERITA MENGENAI PENGALAMANNYA YANG HAMPIR SERUPA ITU, MENDENGAR ITU SEMUA, TARKENI JADI JENGKEL DAN IA PUN SEGERA MELEMPARI ORANG-ORANG ITU DENGAN APA SAJA YANG DIDAPAT DAN ORANG-ORANG ITU PUN MNEYINGKIR SEMUA. SETELAH ITU, TARKENI MEMBANGUNKAN MADEKUR DENGAN MESRA SEKALI, SEPERTI IA MEMBANGUNKAN MADEKUR DI KAMAR YANG INDAH DI SEBUAH RUMAH KAMPUNG DI DESANYA.
TARKENI
Mad, Mad….
MADEKUR(Sambil bangun menggeliat enak sekali)
Ah, matahariku
TARKENI
Menyenangkan mimpimu?
MADEKUR
Luar bisaa, tapi mencapekkan pinggang
TARKENI
Aku juga mimpi yang sama
MADEKUR
Sebentar lagi luka-lukamu kering, sayang. Jangan kecil hati
TARKENI
Aku tidak pernah kecil hati seperti kau tahu
MADEKUR
Memang, dan itulah yang membuatku tergila-gila padamu
TARKENI
Bagaimana pun, samara-samar aku masih bisa membayangkan ketika pada suatu sore kau mengintip aku mandi
MADEKUR
Waktu itu aku masih bocah dan aku malu karena tertangkap basah
TARKENI
Mad….
MADEKUR
Tar….
KEDUANYA SALING MENATAP SAMA TERSENYUM, TAMPAK BETAPA KEDUANYA SALING MENCINTA
MADEKUR
Waktu tidak berhasil merusak keheningan matamu, sayang. Matamu tetap bulat bening seperti ketika untuk pertama kalinya aku memperhatikanmu
TARKENI
Ketika aku belajar mengaji di rumah Nyi Rohmah?
MADEKUR
TARKENI
Oh, tiba-tiba aku ingin berkerudung sekarang
MADEKUR
Sapu tangan ini bisa kau gunakan sebagai kerudung LALU TARKENI MEMAKAI KERUDUNG
MADEKUR
Siapa bilang kau busuk?
TARKENI
Jangan hiraukan omongan orang
MADEKUR
Kau tetap cantik mengagumkan
TARKENI
Aku selalu gemetar setiap mendengar suaramu
MADEKUR
Kita berbahagia, bukan
TARKENI
Sangat, sangat
MADEKUR
Ya, karena ternyata kita berhasil dan selalu berhasil mengatasi penderitaan demi penderitaan
TARKENI
Mad, aku merasa sebentar lagi aku akan mati
MADEKUR
Aku juga merasa begitu
TARKENI
Kalau begitu, setubuhi aku. Aku ingin….
MADEKUR
Aku mengerti, aku mengerti. ANGIN PUN BERDESIR
TARKENI
Mad….
MADEKUR
NYANYIAN
Bunga-bunga plastik warna-warni Tidak bergoyang, tidak bergoyang Sementara angin menghembusnya Hanya debu-debu yang menari-nari Nanah yang meleleh
Dosa yang meleleh Langit pun terbuka Memberkas cahaya Cahaya perak kemerlap Bumi pucat senyap Dedaun perak kemerlpa Melayang meratap Nanah yang meleleh Dosa yang meleleh Menyerbu angkasa Menggedor cahaya Madekur mandi cahaya Semua jadi bunga Tarkeni mandi cahaya Semua jadi doa
IBM
Para penonton yang berbahagia – semoga. Amien.
Bertahun-tahun lamanya Ibu Madekur mengembara sebagai pengemis di jalan-jalan Jakarta, mencari dan mencari Madekur dan Tarkeni. Tidak seorang pun tahu. Tidak seorang pun yang tahu. Dan pada suatu dini hari di bawah jembatan Semanggi perempuan tua itu, yang sedang kedinginan dalam tidur sepinya dibangunkan oleh seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan – sepasang kuda putih. Kedua anak kecil itu membisikan di telinganya bahwa Madekur dan Tarkeni telah wafat. Mendnegar itu, Ibu Madekur bangkit dan kedua anak itu kemudian gaib menjelma dua titik embun.
Begitulah perempuan tua itu kembali mengembara dan mengembara dan kali ini bermaksud menziarahi kuburan anak-anaknya; Madekur dan Tarkeni. Tapi tidak seorang pun tahu. Tidak seorang pun yang tahu. Dan pada suatu senja di sebuah tong sampah perempuan tua itu mengais-ngais, tapi tong itu kosong. Tong itu kosong. Tapi ibu it terus mengais dan mengais, lantaran percaya di bawah tong itulah pasti Madekur dan Tarkeni terkubur. Dan benar, perempuan itu menemukan Madekur dan Tarkeni yang sedang nyenyak tidur berpelukan. Dipandanginya anak-anak itu, diciuminya anak-anak itu, direstuinya anak-anak itu. Dan seketika Madekur dan Tarkeni gaib menjelma dua lembar daun kering yang siap menjadi debu.
Para penonton yang bahagia – semoga, Amin. Kemudian ibu itu berbisik pada daun-daun kering itu
“Bagaimana pun kalian adalah putra-putra ku yang terbesar bagiku….”