• Tidak ada hasil yang ditemukan

SESEORANG DAN LAIN-LAIN

Dalam dokumen Ayolah kita menonton lenong (Halaman 76-84)

Tujuh MADEKUR

SESEORANG DAN LAIN-LAIN

Jangan mati dulu bapak

WASKA MENYEMBUR ORANG ITU

WASKA

Kalau aku mati memangnya kenapa?

SESEORANG

Saya sedih, bapak

WASKA

Alaaaah, sudah. Jangan berpura-pura

SESEORANG

Tapi setidak-tidaknya sempatkan berpidato dulu, bapak. SEMUA ORANG MENGIYAKAN

WASKA

Umang-umang anakku, soal mati itu urusan Tuhan yang maha kuasa. Karenanya tidak perlu lagi kita pusingkan, persoalan terpenting hanyalah soal stasiun tua ini. Aku ingin kita sudah pindah sebelum saya mati.

SESEORANG

Beres bapak

WASKA

Kembali soal mati, dapat saya katakana bahwa pada umumnya orang mengisi waktu dan usianya dengan segala macam kegiatan yang mengarah pada suatu angan-angan yang gila, yaitu…. Eh, begini sederhananya: hidup bagi sebagian besar orang adalah persiapan untuk menghadapi cara mati. Untuk saya pribadi….

SESEORANG DAN LAIN-LAIN

Nanti dulu bapak, nanti dulu

Belum, belum. Saya bicara apa tadi?

SESEORANG

Untuk saya pribadi

WASKA

Untuk saya pribadi hidup adalah hidup, mati adalah mati

SESEORANG

Maksud bapak?

WASKA

Aku sendiri tidak begitu jelas

WASKA LALU BANGKIT DAN BERGERAK

SESEORANG

Kemana bapak?

WASKA

Mau ngopi

NYANYIAN ANGIN BERGELOMBANG, WASKA MUNCUL LAGI MERAUNG MARAH. NYANYIAN LAGI. WASKA MUNCUL LAGI, MARAH, NYANYI DAN TERUS NYANYI SAMPAI TERDENGAR SUAR TEMBAKAN YANG SANGAT MEMEKAKAN TELINGA YANG MENJADIKAN SEMUA ORANG TERDIAM DAN FIRASAT MASING-MASING MENGATAKAN BAHWA ITU PASTI KEMATIAN WASKA

DAN BENAR KEMUDIAN MUNCUL SEMAR DENGAN SAPU TANGAN SEDIHNYA.

NABI

Siapa yang mati, Semar?

SEMAR

Waska

SESEORANG

Polisi yang nembak? Karena ia melarikan diri? Atau salah seorang di antara kita yang dengki? (Baris ini menyebabkan Madekur merasa nggak enak) jelaskan kalau memang jelas, Semar!

NABI

Siapa yang menembaknya?

SEMAR

Mula-mula begini…..

Tidak perlu bagaimana permulaannya, yang penting siapa yang menembak. Kalau ada persoalan, itu urusan mereka berdua. Kita hanya perlu tahu siapa yang menembaknya.

SEMUA ORANG MENDUKUNG ORANG TADI

SESEORANG

Bagaimana pun, kita banyak berhutang kepada Waska. Bukan saja ia telah memberikan jalan terang kepada kita ketika kita luntang-lantung meraba-raba hampir putus asa dalam kegelapan dan kesemrawutan jalan-jalan Jakarta.

SESEORANG

Ia juga menuntun kita setiap kali kita tersesat ke dalam sikap putus asa

SESEORANG

Ia juga memutuskan tali yang telah dipersiapkan buat menggantung leher kita sendiri

SESEORANG

Ia yang mengurungkan telunjuk kita menarik pelatuk pistol yang akan ditembakkan atas kepala kita

SESEORANG

Dan ia yang menyadarkan dan membangunkan harga diri kita

SESEORANG

Dan ia juga yang membelokkan kita dari jalan hina para pengemis

SESEORANG

Singkat kata, dialah ‘api nan tak kunjung padam’ bagi barisan para penganggur yang memenuhi kota-kota yang gemerlap namun gelap, yang gelap namun gemerlap

SESEORANG MENANGIS SANGAT MEMILUKAN SEKALI

SESEORANG

Tangis yang panjang yang paling panjang yang pilu yang paling pilu tak akan juga seimbang untuk menghormati jenazah yang mulia itu. Tuhan, Tuhan…

NYANYIAN

Angin berwarna ungu Angin berwarna ungu

Menghembus perlahan batang-batang Cemara yang kelabu

Dan sepi menunggunya Dan sepi menunggunya Waska

Lelaplah dalam senyap Lelap lelap senyap senyap Angin berwarna ungu

NABI

Sebentar, Semar. Saya kira orang-orangmu sudah keterlaluan menanggapi tokoh Waska

SEMAR

Saya kira juga, tuanku. Malah lebih dari itu, mereka sudah menyimpang dari teks

SESEORANG

Sebentar, sebentar, jangan ngobrol yang tidak-tidak dulu. Pertanyaan kami belum dijawab. Siapa yang menembak Waska?

SEMAR

Waska ditembak tepat pada pelipisnya dengan lubang peluru yang mengagumkan lurusnya dan penembaknya adalah Waska sendiri.

SEMUA ORANG MENGATAKAN BAHWA PERBUATAN ITU TIDAK MUNGKIN DILAKUKAN OLEH WASKA

SEMAR

Coba, tenang sebentar. Jangan bicara sendiri-sendiri. Kalau terus kalian bicara begini, penonton yang sebenarnya dan nanti mereka menduga-duga secara berlebihan seperti bisaanya

SESEORANG

Saya tahu motif serta alas an mengapa Waska bunuh diri

SEMAR

Kamu tidak tahu. Yang tahu Cuma Arifin, saya dan Tuhan. Sebab itu dengarkan. Waska bunuh diri karena malu

SESEORANG

Lantaran hutang?

SEMAR

Selebihnya bukan urusan kamu dan siapapun. Itu semata-mata urusan Waska sendiri, pribadi SEMUA ORANG SEKETIKA MUNDUR KETIKA MUNCUL TARKENI YANG EMRAYAP-RAYAP SECARA MENGERIKAN SEKALI. SELURUH TUBUHNYA PENUH DENGAN BOROK KECIL-KECIL YANG SEMUANYA BERNANAH. SETIAP BOROK KECIL ITU DIBUMBUI OLEH BEBERAPA EKOR LALAT, SEMENTARA DARAH KERING DI PINGGIR-PINGGIRNYA DAN NANAH KENTAL MELELEH. TARKENI DENGAN SUSAH PAYAH MENDEKATI MADEKUR YANG MASIH TIDUR SANGAT NYENYAK.

NABI

Sejuta borok kecil mengerumuni keindahanmu. Berjuta lalat singgah mengerumuni borok- borokmu. Dan darah dan nanah meleleh-leleh

Bagaimana pun perasaan kita, hidung kita tetap tidak tahan akan baunya

SESEORANG

Seharusnya kamu berobat

TARKENI

Jelas

SESEORANG

Kenapa tidak?

TARKENI

Nggak punya duit

SESEORANG

Cari dong

TARKENI

Tidak usah nyocot. Tanpa kamu bilang aku sudah berusaha, hanya saja aku belum dapat

SESEORANG

Saya kira lebih baik dia pergi ke rumah sosial TARKENI MELUDAH

SESEORANG

Atau dia bisa datang ke rumah pastur atau dokter atau sosiawan atau….

TARKENI

Aku tidak akan pernah datang ke rumah-rumah mereka. Penyakit dan kelaparan yang sekarang kutanggung adalah penyakitku dan kelaparanku, bukan penyakit mereka kelaparan mereka

SESEORANG

Tempo hari pernah ada seorang pelacur yang menderita seperti dia datang ke rumah seorang dokter-pastur dan beberapa bulan kemudian dia sudah kembali cantik seperti keluar dari kap salon dan kemudian ia aktif lagi sebagai pelacur

SESEORANG

Kemarin pernah orang cerita….

DAN KEMUDIAN SETIAP ORANG BERCERITA MENGENAI PENGALAMANNYA YANG HAMPIR SERUPA ITU, MENDENGAR ITU SEMUA, TARKENI JADI JENGKEL DAN IA PUN SEGERA MELEMPARI ORANG-ORANG ITU DENGAN APA SAJA YANG DIDAPAT DAN ORANG-ORANG ITU PUN MNEYINGKIR SEMUA. SETELAH ITU, TARKENI MEMBANGUNKAN MADEKUR DENGAN MESRA SEKALI, SEPERTI IA MEMBANGUNKAN MADEKUR DI KAMAR YANG INDAH DI SEBUAH RUMAH KAMPUNG DI DESANYA.

TARKENI

Mad, Mad….

MADEKUR(Sambil bangun menggeliat enak sekali)

Ah, matahariku

TARKENI

Menyenangkan mimpimu?

MADEKUR

Luar bisaa, tapi mencapekkan pinggang

TARKENI

Aku juga mimpi yang sama

MADEKUR

Sebentar lagi luka-lukamu kering, sayang. Jangan kecil hati

TARKENI

Aku tidak pernah kecil hati seperti kau tahu

MADEKUR

Memang, dan itulah yang membuatku tergila-gila padamu

TARKENI

Bagaimana pun, samara-samar aku masih bisa membayangkan ketika pada suatu sore kau mengintip aku mandi

MADEKUR

Waktu itu aku masih bocah dan aku malu karena tertangkap basah

TARKENI

Mad….

MADEKUR

Tar….

KEDUANYA SALING MENATAP SAMA TERSENYUM, TAMPAK BETAPA KEDUANYA SALING MENCINTA

MADEKUR

Waktu tidak berhasil merusak keheningan matamu, sayang. Matamu tetap bulat bening seperti ketika untuk pertama kalinya aku memperhatikanmu

TARKENI

Ketika aku belajar mengaji di rumah Nyi Rohmah?

MADEKUR

TARKENI

Oh, tiba-tiba aku ingin berkerudung sekarang

MADEKUR

Sapu tangan ini bisa kau gunakan sebagai kerudung LALU TARKENI MEMAKAI KERUDUNG

MADEKUR

Siapa bilang kau busuk?

TARKENI

Jangan hiraukan omongan orang

MADEKUR

Kau tetap cantik mengagumkan

TARKENI

Aku selalu gemetar setiap mendengar suaramu

MADEKUR

Kita berbahagia, bukan

TARKENI

Sangat, sangat

MADEKUR

Ya, karena ternyata kita berhasil dan selalu berhasil mengatasi penderitaan demi penderitaan

TARKENI

Mad, aku merasa sebentar lagi aku akan mati

MADEKUR

Aku juga merasa begitu

TARKENI

Kalau begitu, setubuhi aku. Aku ingin….

MADEKUR

Aku mengerti, aku mengerti. ANGIN PUN BERDESIR

TARKENI

Mad….

MADEKUR

NYANYIAN

Bunga-bunga plastik warna-warni Tidak bergoyang, tidak bergoyang Sementara angin menghembusnya Hanya debu-debu yang menari-nari Nanah yang meleleh

Dosa yang meleleh Langit pun terbuka Memberkas cahaya Cahaya perak kemerlap Bumi pucat senyap Dedaun perak kemerlpa Melayang meratap Nanah yang meleleh Dosa yang meleleh Menyerbu angkasa Menggedor cahaya Madekur mandi cahaya Semua jadi bunga Tarkeni mandi cahaya Semua jadi doa

IBM

Para penonton yang berbahagia – semoga. Amien.

Bertahun-tahun lamanya Ibu Madekur mengembara sebagai pengemis di jalan-jalan Jakarta, mencari dan mencari Madekur dan Tarkeni. Tidak seorang pun tahu. Tidak seorang pun yang tahu. Dan pada suatu dini hari di bawah jembatan Semanggi perempuan tua itu, yang sedang kedinginan dalam tidur sepinya dibangunkan oleh seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan – sepasang kuda putih. Kedua anak kecil itu membisikan di telinganya bahwa Madekur dan Tarkeni telah wafat. Mendnegar itu, Ibu Madekur bangkit dan kedua anak itu kemudian gaib menjelma dua titik embun.

Begitulah perempuan tua itu kembali mengembara dan mengembara dan kali ini bermaksud menziarahi kuburan anak-anaknya; Madekur dan Tarkeni. Tapi tidak seorang pun tahu. Tidak seorang pun yang tahu. Dan pada suatu senja di sebuah tong sampah perempuan tua itu mengais-ngais, tapi tong itu kosong. Tong itu kosong. Tapi ibu it terus mengais dan mengais, lantaran percaya di bawah tong itulah pasti Madekur dan Tarkeni terkubur. Dan benar, perempuan itu menemukan Madekur dan Tarkeni yang sedang nyenyak tidur berpelukan. Dipandanginya anak-anak itu, diciuminya anak-anak itu, direstuinya anak-anak itu. Dan seketika Madekur dan Tarkeni gaib menjelma dua lembar daun kering yang siap menjadi debu.

Para penonton yang bahagia – semoga, Amin. Kemudian ibu itu berbisik pada daun-daun kering itu

“Bagaimana pun kalian adalah putra-putra ku yang terbesar bagiku….”

Dalam dokumen Ayolah kita menonton lenong (Halaman 76-84)

Dokumen terkait