• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ayolah kita menonton lenong

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ayolah kita menonton lenong"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

ORKES

MADUN I

ALIAS

MADEKUR

DAN TARKENI

Karya Arifin C. Noer

Catatan:

Naskah ini diketik ulang dari buku kumpulan naskah drama Orkes Madun yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Firdaus bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation ISBN 979-541-119-5

Publikasi naskah ini dimaksudkan sebagai upaya penyediaan naskah drama dan sebagai bahan referensi pembelajaran bagi individu atau kelompok-kelompok teater yang membutuhkannya.

Disarankan bagi siapa saja yang memiliki cukup akses, agar membeli buku terkait. Itupun dalam upaya membantu pengarang dan keluarganya. Kekayaan hak intelektual naskah ini tetap ada pada pengarangnya.

Dan dimohon bagi pengunduh naskah ini untuk tidak menghapus catatan ini, sebagai bukti pertanggung jawaban saya sebagai pihak yang mengetik ulang.

(2)

PENGANTAR

(3)

SATU

MEREKA SEMUA MENYANYIKAN LAGU KEBANGSAAN. SAYA TIDAK TAHU APAKAH MEREKA KHUSYUK TIDAK DALAM MENYANYIKANNYA.

DUA

BADUT PERTAMA

Tuhan, kedua belah tangan yang kotor ini adalah tangan bumi, dan tangan ini memohon ampun atas segala perbuatan yang tidak pernah jelas mengandung dosa atau kebajikan; kalimat-kalimatmu terlalu tinggi mutu sastranya, sehingga tidak terlalu jelas isi maksudnya. Karena itulah, kalau tangan ini merentang semata-mata lantaran kalimatMu. Dan apabila kelak ternyata tiada dosa atas perbuatan kami padahal kami telah terlanjur memohon ampun, maka limpahkanlah kami apa saja yang bernama berkah, entah pangan ujudnya maupun angan-angan. Sebentar, Tuhan.

Para penonton yang bahagia maupun yang tidak, terlebih dahulu sebelum ada kesalahpahaman perlu saya jelaskan bahwa ini sandiwara sungguh-sungguh sandiwara, dan ini sandiwara menyangkut masalah pencopet dan pelacur dan segala tetek bengek persoalan-persoalan lain yang terseret tidak disengaja dan tidak dinyana. Dan sebagai lumrahnya ini sandiwara sekedar permainan, namun sedikit banyak mengandung kesungguhan dan kesungguh-sungguhan, bak kehidupan itu sendiri laiknya.

Dipandang dari segala sudut sandiwara, ini dijamin baik mutunya dan pasti disenangi oleh segala lapisan masyarakat, tua maupun muda, baik pencopet maupun pelacur, baik dokter hewan maupun dokter lainnya, baik komunis maupun muslim. Dan kenapa ini sandiwara pasti akan disenangi, sebab ini sandiwara dan sandiwara merupakan hiburan buat hati yang lara. Sebentar penonton. Siapa berhati lara?

BADUT KEDUA

Saya

BADUT KETIGA

Saya!

BADUT KEEMPAT

Saya!!

BADUT KELIMA

Saya!!!

(4)

DUA RIBU EMPAT RATUS TAHUN. SETENGAH MATI BERUSAHA MEREDAKAN KEKACAUAN ITU. MULA-MULA IA BERSIKAP SEPERTI SEORANG KHOTIB YANG MENCOBA MENENANGKAN HADIRINNYA, TAPI GAGAL. KEMUDIAN IA KELIHATAN AGAK PUTUS ASA. IA MEMERAS KERINGAT DAN MONDAR-MANDIR DIANTARA KEKACAUAN INI, TIBA-TIBA IA MENEMUKAN AKAL DAN TEPAT PADA SAAT ITU SESEORANG MEMBERIKAN KEPADANYA SEHELAI KARTON BEKAS. SAMBIL MEMBAWA KARTON ITU IA KEMBALI KE ATAS MIMBARNYA, DENGAN KEYAKINAN YANG PASTI, DAN SAMBIL MEMPERHATIKAN ORANG-ORANG DISEKITARNYA YANG SEMAKIN KACAU IA MENGGULUNG KARTON TADI YANG AKAN IA GUNAKAN SEBAGAI MEGAPON

BADUT PERTAMA (dengan megapon) Polisi! Polisi! Polisi!

(SEKETIKA PENTAS JADI SENYAP, SEMUA ORANG TUTUP MULUT. DAN SEKETIKA PENTAS KEMBALI SEPERTI SEBUAH UPACARA KEAGAMAAN, SEPERTI SEBELUMNYA. DAN DENGAN AMAN DAN GAYA KETUA-TUAAN, BADUT PERTAMA MEMPERINGATKAN SEMUA ORANG DENGAN ISYARAT JARI PADA MULUTNYA. SEMENTARA SESEKALI MATANYA MELIHAT KE ATAS. DAN SEMUA ORANG MELIHAT KE ATAS DAN MENGERTI DAN SALING MEMPERINGATKAN DENGAN CARA YANG SAMA. SEMUANYA KEMUDIAN MENGANGGUK-ANGGUK MENGERTI).

BADUT PERTAMA

Resapkan resep-resep Tuhan, niscaya kesembuhan selalu kita dapatkan. Dan tenang, tertib. Dalam mengajukan permohonan, pengaduan dan lain-lain sebagainya tidak perlu berebutan seperti rakyat Indonesia pada seperempat abad usia kemerdekaannya. Tertib, tenang, aman. Nah, sekarang silakan mengacungkan tangan siap-siapa saja berhati lara.

SERENTAK SEMUANYA MENGACUNGKAN TANGAN, KECUALI YANG BUNTUNG TADI TENTU DAN SEORANG PEREMPUAN YANG TULI DAN BISU (BARU KEMUDIAN TIRU-TIRU). SI BUNTUNG TAMPAK BETAPA IA MENDERITA LANTARAN TIDAK MAMPU MENYATAKAN IHWAL DERITANYA. KELIHATAN IA MAU PROTES, TAPI KETIKA INGAT AKAN ‘LANGIT ITU’ IA KEMUDIAN HANYA LANGAK-LONGOK GERAK SETENGAH MENANGIS , SEMENTARA SI BISU SESEKALI MEMPERHATIKAN TERSENYUM (SEBELUMNYA IA JUGA MENDERITA KETIKA ORANG-ORANG MENERIAKKAN SUARANYA) AKHIRNYA SI BUNTUNG NGGAK TAHAN DAN BICARALAH HATI-HATI KEPADA ORANG DI DEKATNYA

SI BUNTUNG

Saya lara

ORANG YANG DI DEKATNYA CUMA MENGISYARATKAN AGAR MENGACUNGKAN TANGAN. DAN SI BUNTUNG MENGGELENGKAN KEPALA. LALU ORANG ITU TIDAK MAU AMBIL PEDULI DAN KEMBALI MEMBANGGAKAN ACUNGAN TANGANNYA

(5)

Saya lara! Saya lara!

(SEMUA ORANG MENGHUS DAN IA SETENGAH MENANGIS BERTERIAK TANPA SUARA ‘SAYA LARA’)

BADUT PERTAMA

Acungkan tangan saja, gampang dan tertib.

SI BUNTUNG (Hati-hati dan lembut sekali. Tertahan) Saya tidak bisa.

BADUT PERTAMA

Ya, bodohnya.

SI BUNTUNG

Saya bunting

BADUT PERTAMA

Yang kanan?

SI BUNTUNG

Dua-duanya

BADUT PERTAMA

Apa sebab demikian lengkap? Kecelakaan?

SI BUNTUNG

Kecelakaan alam

SEMUA ORANG MEMBELALAKAN MATANYA KARENA HERAN KEPADA LELAKI ITU

SI BUNTUNG

Ketika lahir saya sudah begini. Pernah dan keinginan untuk menanyakan hal brengsek ini kepada orang tua saya, tapi keinginan itu hanya tinggal keinginan sebab sampai sekarang saya tidak tahu siapa orang tua saya. Tapi seseorang kemudian saya temui yang ternyata Ibu saya. Ibu saya bilang “nggak tahu ya, tahu-tahu begitu”

BADUT PERTAMA

Bagaimana dengan kaki?

SI BUNTUNG

Alhamdulillah, lengkap.

BADUT PERTAMA (Memberi isyarat dengan mengangkat megapon dan seketika semua diam, lalu ia bicara bisa)

(6)

SERENTAK MEREKA MENGACUNGKAN TANGAN SETINGGI-TINGGINYA, DAN SEPERTI BISAA KEMUDIAN MEREKA SALNG ATAS MENGATASI. SEMENTARA ITU SI BUNTUNG TADI MENANGIS SEPI SENDIRIAN. ADA SEKALI IA MENCOBA DENGAN MELONJAK-LONJAKKAN BADANNYA, MELOMPAT-LOMPAT TAPI KEMUDIAN PUTUS ASA DAN SEMENTARA DENGAN SIKAP LUMAYAN SESEORANG YANG BERTUBUH PENDEK KUNTET MEMPERHATIKANNYA

BADUT PERTAMA

Jangan berlebihan, Tuhan tidak akan senang. (Dan semua orang pun mewajar-wajarkan dirinya) Sekarang turunkan tangan serendah-rendahnya, siapa yang berhati terlara!?

(serentak semuanya menurunkan tangan dan sebisa-bisanya menyembunyikannya) Nah, sekarang kau bisa, Buntung. Ternyata kau yang terlara.

SEKETIKA SI BUNTUNG MENYADARI HAL ITU DAN LALU MELONJAK-LONJAK KEGIRANGAN KAYAK ANAK KECIL SEMENTARA YANG LAINNYA MENCIBIR

SESEORANG

Demonstratif!

SESEORANG

Sok!

SESEORANG

Kolokan!

SESEORANG

Emangnya elu raja sengsara? Gua jadi penasaran! DAN SEGERA PENTAS PUN KEMBALI BISING

BADUT PERTAMA

Tenang, tenaaaaaaang! Ingat ada apa di atas!! (Serentak bunyi kembali mengunci mulut mereka, hening pun terjelma) Sekarang, suarakan apa saja yang menurut hati kalian masing-masing bermakna keluh dan pengaduan, atau kalau tidak, bagi yang tidak bisa melakukannya lebih baik segera membeli karcis dan duduk sebagai penonton.

(7)

BADUT PERTAMA

Kau saksikan sendiri, Tuhan saya tidak mempengaruhi sedikit pun mereka dalam demonstrasi dan pengaduan ini. Mereka berkumpul di sini karena di sini bisaa mereka berkumpul, maklum ini pasar. Mereka mengacungkan tangan mereka karena mereka ingin mengacungkannya. Dan sesuai dengan anjuranMu dalam semua buku-buku karanganMu, saya bersama-sama mereka setiap kali datang menghadap kepadaMu mengadu sambil mengadu untung kalau-kalau kejatuhan reze…rezekiMu. Kau sendiri yang memanggil kami, dan kami memenuhi panggilanMu.

Kalau sekarang mereka telah menurunkan tangan mereka, itu pun saya yakin, lantaran kemauan mereka sendiri. Selama ini saya hanya sekedar bertanya. Coba (kepada seseorang) kenapa kamu menurunkan tangan?

BADUT KEDUA

Karena saya capek.

BADUT PERTAMA

Kau dengar sendiri, Tuhan. Apa katanya. Capek. Coba lagi (kepada semua) siapa yang merasa capek, acungkan tangan!

SERENTAK SEMUA MENGACUNGKAN TANGAN, KECUALI SI BUNTUNG TENTU Lihat, semuanya kecapekan. Capek dalam arti yang luas sekali. Kau tentunya lebih tahu sebagai generasi. Dan kalau mereka terlalu capek bukan tidak mungkin mereka lalu melakukan hal yang bukan-bukan., maklum orang capek. Kau tentu lebih tahu sebagai spesialis. Dan kalau demikian halnya, maksud saya kalau sampai terjadi semacam huru-hara, baik taraf perorangan maupun taraf gerombolan, jelasnya taraf taraf masyarakat, siapakah yang salah?

SEMUA

kami? Enak saja. Orang sudah capek dimarahin.

BADUT PERTAMA

Atau kau? Jelas saya tidak akan seceroboh itu dan sebodoh itu menyalahkan kau. Seperti sejarah pun tidak pernah membela kami. Saya sendiri yakin dan menginsyafi ini bukan lagi persoalan salah menyalahkan antara kita, sebab kalau demikian kita tidak akan pernah punya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain. Sudah pasti dan sudah jelas Kau tidak salah – setidak-tidaknya tidak mau disalahkan – dan mereka, maksud saya Kami pun tidak mau disalahkan; kalau pun sesekali ada di antara kami yang mau bilang bersalah, saya percaya tak lebih banyak basa-basi semata.

SEMUA (Menggumam) Hhhh, capek…..

BADUT PERTAMA

(8)

kita sebab kita sama-sama saling tidak pernah, sama-sama bernafsu untuk menetapkan siapa diantara kita yang benar dan yang salah, atau…. Kau tidak ada.

SEMUA(Marah) Capek!

BADUT PERTAMA

Istirahat dong, kan gampang! Turunkan tangan, lemaskan otot-otot sambil….

TIGA

ORKES MADUN PERTAMA (Muncul; Menyanyi)

Sambil menyanyi Lagunya enak Lagunya enak Merdu sekali

Oplet tua menabrak cacing Cacing ditelan pencopet bencong Jikalau rembulan sedang bunting Ayolah kita menonton lenong

NABI PERTAMA (Anggota Orkes I menyanyi)

Buah rambutan tidak beruban Dimakan Zainal tinggal bijinya Gusti Pangeran tidak beruban Tapi nggak ada potret bayinya

NABI KEDUA (menyanyi)

Dimakan Zainal tinggal bijinya Tapi bijinya bisa ditanam Justru gak ada potret bayinya Tanda ilmunya sangatlah dalam

NABI KETIGA

Bijinya bisa dibikin jimat

Ditaburi kembang setiap Jum’at Gusti Pangeran sangat keramat Menabur rahmat setiap saat

NABI KEEMPAT

Biji rambutan makanan rakyat Rasanya pahit tapi ya pahit Gusti Pangeran punya maklumat Siapa mencubit bakal kejepit

SEMUA

(9)

Pit Pit

Aduh aduh aduh Kit

Kit Kit

Dihimpit sakit Diintip sakit Sedikit sakit Sakit sedikit Sedikit Sakit

ORKES I

Telor dadar makanan Zainal Diceplok Cina pagi sekali Sikap sabar mengobat kesal Biar digaplok pagi sekali

SEMUA

Bar bar bar bar barbar Bar bar bar bar barbar

ORKES I

Hulahula tarian nikmat

Membuka gemas lenggak-lenggoknya Ini sandiwara suguhan rakyat

Walaupun pedas, tinggi gizinya

SEMUA

Bar bar bar barbar Bar bar bar barbar (Makin panas) Bar bar bar barbar Bar bar bar barbar Barbar

Barbar

ORKES I

Sabar Sabar

BEGITU MUSIK SELESAI BEGITU BADUT PERTAMA MENYALAM NABI PERTAMA DENGAN CARA YANG MERUNDUK SEKALI

BADUT PERTAMA

Tuanku, kembali kita bertemu

(10)

Semarku, kau bertambah lucu

BADUT PERTAMA

Tuanku berlebihan, tapi juga terimalah pujianku; orkes tuanku semakin nyaring dan merdu

NABI PERTAMA

Semarku, kau berlebihan, tapi juga dengarlah komentarku. Dagelanmu semakin runcing tanpa tedeng aling-aling

BADUT PERTAMA

Dagelan-dagelan lama dalam gaya baru, tuanku. Tanpa kostum, tanpa rias dan tanpa tetek bengek lainnya.

NABI PERTAMA

Ide bagus

BADUT PERTAMA

Bukan ide pangkal musababnya, tuanku. Tapi

NABI PERTAMA

Kau begitu lain, Semar. Ketika kita pertama kali berjumpa.

BADUT PERTAMA

Dua ribu tahun yang lalu?

NABI PERTAMA

Kau pelupa. Bukan,

BADUT PERTAMA

Yayayayaa. Suling itu.

NABI PERTAMA

Kau membuatnya untuk pertama kali dank au meniupnya dengan syahdu sekali.

BADUT PERTAMA MENGENANGKAN SAAT-SAAT LAMPAU ITU SEOLAH-OLAH TAMPAK BAGAIMANA WAKTU MENGALIRI AIR MUKANYA

NABI PERTAMA

Mana dia? Tiuplah sebuah lagu untuk kenangan kita

BADUT PERTAMA

Menyesal sekali tuanku. Saya sudah lupa sama sekali. Semua lagu saya sudah lupa dan malah saya pun sudah lupa bagaimana membuat suling itu

NABI PERTAMA

Tidak masuk akal., bagaimana bisa terjadi?

(11)

Panjang lakonnya, tuanku. Lain kali saya akan ceritakan pada tuanku seorang diri. Saya kira para penonton sudah mulai terampas waktunya oleh percakapan nostalgia kita. Selain itu saya lupa memperkenalkan tuanku dan tuan-tuan yang lain.

NABI PERTAMA

Tapi sambil lalu, masih kamu jadi tukang penjaja mainan?

BADUT PERTAMA

Masih, tuanku. Dan akan tetap begitu. Maafkan tuanku (kepada semua) perlu kalian ketahui bahwa rombongan orkes ini terdiri dari para nabi. Harap memberi tabe

ORANG-ORANG AKAN BERSUJUD

NABI PERTAMA

Cukup, kami memahami dan merasakan hormat kalian.

BADUT PERTAMA

Demi keamanan, terpaksa kami tidak dapat menyebut nama beliau (Pada nabi pertama) maafkan, tuanku. Terpaksa kami ambil tindakan begini karena sekelompok besar orang-orang di sini tidak mengizinkan nabi mereka disandiwarakan secara blak-blakan;semata-mata lantaran takzim mereka jua (Pada hadirin dan semua pemain) Sekalipun demikian, tak ada jeleknya dan salahnya kalau di sii dalam kesempatan ini saya boleh memperkenalkan beliau-beliau tidak atas nama, melainkan atas nomor-nomor, meski saya sadar, lama-lama akan ketahuan jua perbedaan satu dan lainnya. Yang mulai Nabi Pertama

NABI PERTAMA (Menunjukan dirinya, para hadirin bertepuk)

BADUT PERTAMA

Yang mulia Nabi Kedua

NABI KEDUA (Melakukan hal serupa dan hadirin bertepuk)

BADUT PERTAMA

Yang mulia Nabi Ketiga

NABI KETIGA (melakukan hal serupa dan hadirin bertepuk)

BADUT PERTAMA

Yang mulia Nabi Keempat

NABI KEEMPAT (Melakukan hal serupa dan hadirin bertepuk)

BADUT PERTAMA

Adalah kesempatan yang mulia sekali bahwa malam ini kita ketamuan tamu-tamu yang mulia. Dan lebih dari itu tentu kita akan sempat pula menikmati lagu-lagu terbaru dan album-album baru beliau-beliau.

(12)

NABI PERTAMA

Maafkan, maafkan kami karena kami tidak mempunyai album baru, tapi kami berjanji akan bernyanyi dan menghibur kalian. Dan sebaliknya kamipun akan dengan senang menyaksikan pertunjukan kalian.

(semua bersorak dan bersuit)

Tapi terlebih dahulu sudah tentu alangkah baiknya kalau saya pun boleh memperkenalkan kalian kepada para penonton.

(segera keempat badut menyusup bersembunyi diantara para pemain)

Saya akan memperkenalkan dari belakang, maksud saya dari angka belakang. Badut keempat alias Bagong

(Bagong tampil manja dan malu-malu seperti bisaanya, dan semua bertepuk)

Petruk alias badut ketiga

(Petruk yang jangkung itu tampil dengan penuh ahrga diri dan para hadirin bertepuk. lalu belum nabi pertama menyebut namanya lebih dulu gareng tampil)

Dan ini badut kedua alias Gareng

(para hadirin bertepuk)

Dan kini tampil Semar alias badut pertama. Selain sebagai pemain juga memimpin dan menyutradarai pertunjukan-pertunjukan rombongannya

(Semar dengan gayanya, tampil memperkenalkan diri, para hadirin bertepuk)

Malam ini lakon apa mar?

BADUT PERTAMA

Orkes Madun karangan Arifin C Noer

ORKES II MUNCUL TERDIRI DARI SENIMAN-SENIMAN

Dan kini perkenankan saya memperkenalkan rombongan orkes kedua yang terdiri dari seniman-seniman. Tapi lantaran di sini terlalu banyak nama seniman, maka demi menyelamatkan kemungkinan satu sama lain, maka untuk mereka tidak perlu kami sebut satu persatu namanya, cukup dengan angka seperti nabi-nabi.

ORKES II MEMPERKENALKAN DIRI DAN PARA HADIRIN BERTEPUK TANGAN

BADUT DAN NABI PERTAMA

(13)

EMPAT

KEDUA ORANG ITU BERMAIN SEMENTARA PARA BADUT MENARI-NARI. DI ANTARA MEREKA KEMUDIAN MUNCUL DADU, BOCAH MENANGIS MENCARI SESEORANG SETIAP KALI IA BERHENTI PADA SESEORANG DAN MEMPERHATIKAN ORANG ITU, TAPI SETIAP KALI PULA IA MENGGELENGKAN KEPALANYA DAN KEMBALI MENANGIS. KEMUDIAN DADU BOCAH LENYAP ENTAH KEMANA. BEGITU IA LENYAP KEMUDIAN ENTAH DARIMANA MUNCUL KARTI, BOCAH YANG JUGA MENCARI SESEORANG DAN MELAKUKAN HAL YANG SEPERTI DADU LAKUKAN , DAN KEMUDIAN IA PUN HILANG ENTAH KEMANA.

Satu

Ada seorang pemuda /Madekur namanya

Asal dari desa / tinggal dan cari nafkah / di Jakarta Sebagai normalnya orang Jakarta / bagus dandanannya Cacat muka tidak / tampan tidak / sedeng namanya Ada seorang pemudi / Tarkeni namanya

Asal dari desa / tinggal dan cari nafkah / di Jakarta Sebagai normalnya orang Jakarta / bagus dandanannya Cacat muka tidak / cantik tidak / sedeng namanya Madekur dan tarkeni / bertemu di atas ranjang Ketika sama bergoyang / mereka sama melayang Kala menyusup dalam tamasya syahwat di khayangan Terbitik oleh Madekur / suatu pikiran

Apa itu? Nanti dulu

Tidak semua orang Jakarta / punya pekerjaan Tapi Madekur / lelaki cekat / dan punya martabat Ia punya pekerjaan tetap / yang sangat berat

Memang madekur / lelaki rajin / dan keras kemauan Tidak semua orang Jakarta / punya pekerjaan

Tapi Madeku r/ perempuan cekat / dan punya martabat Ia punya pekerjaan tetap / yang sangat berat

Memang madekur / perempuan rajin / dan keras kemauan Dua-dua sama rajin / sama cekat

Dua-dua berpeluk di ranjang sangat erat Bulan kolokan di celah genteng

(14)

Dua

KEMUDIAN FORMASI MEMBUYAR DAN DALAM BEBERAPA DETIK TERCIPTALAH SUASANA PLANET SENEN, SUATU KOMPLEKS PELACURAN DI JAKARTA PADA MALAM HARI. SEBAGIAN DI ANTARA MEREA BERMAIN ORKES, BERJOGET, SEBAGIAN BERCUMBU DAN BERANEKA PERBUATAN YANG UMUM TERJADI DI SUATU TEMPAT SEMACAM ITU.

DI ATAS PENTAS ADA TIGA BALE-BALE ATAU RANJANG YANG KWALITET RENDAHAN TERPISAH LETAKNYA SATU SAMA LAIN. DI ATAS KETIGANYA ADA TIGA PASANG LELAKI DAN PEREMPUAN . KALAU SAJA LAMPU CUKUP TERANG DAN LALU LALANG PEMAIN-PEMAIN LAIN TIDAK MENGHALANGI AKAN TAMPAK DENGAN JELAS BAHWA MEREKA SEDANG BERSETUBUH. TAPI JUGA ADAT KITA MELARANG MEMPERTONTONKAN PERISTIWA ITU SECRA BLAK-BLAKAN DI ATAS PENTAS, MAKA SAYA SARANKAN BILA DIANGGAP PERLU SEORANG PEMAIN LAIN BERLAKU SUATU PERBUATAN ATAU PENJELASAN BUAT PENONTON BAHWA “DEMI KESOPANAN DAN ADAT YANG SELALU BERSIH, MAKA ADEGAN-ADEGAN KOTOR TERPAKSA DI BIKIN BERSIH”

KEMUDIAN SEDIKIT DEMI SEDIKIT SUNYI MUNCUL, ARTINYA MENUJU ADEGAN TANPA SUARA, LALU PADA SAAT-SAAT SAMA SEKALI HENING PARA PEMAIN MENYINGKIR, KECUALI MADEKUR DAN TARKENI DI ATAS RANJANG YANG TAMPAK SEDANG MELEPAS LELAH. BEBERAPA KALI TERDENGAR SUARA DARI NAFAS MEREKA. SEORANG PEREMPUAN TUA, DARSIH NAMANYA (NGGAK BEGITU TUA!) MUNCUL.

DARSIH

Buruan, dong! (Sambil Exit) kalau mau nginap bilang kek!

LALU KEDUANYA SAMA BANGKIT. MENGHEMPAS NAPAS LAGI, KEDUANYA SALING MEMANDANGI. KEDUANYA SALING TERSENYUM. DAN PADA SAAT ITU MUNCUL SEORANG GADIS KECIL SEPERTI UMUMNYA DI DESA. DIA MEMBAWA KERUPUK

GADIS

Mad! Mad!

LALU MUNCUL SEORANG JEJAKA KECIL, SEGERA SI GADIS MEMBELAH KERUPUK JADI DUA DAN DENGAN MALU-MALU YANG SEBELAH DIBERIKAN KEPADA SI JEJAKA. LALU SAMBIL TERTAWA KECIL, MALU-MALU SI GADIS LARI EXIT. DENGAN SENANG SI JEJAKA MENCUBIT KERUPUK ITU, LALU MEMELUKNYA. KETIKA TERDENGAR SUARA ANAK YANG LAIN MEMINTA KERUPUK ITU SEGERA IA MENYEMBUNYIKAN KERUPUK ITU DALAM LIPATAN SARUNGNYA

JEJAKA

(15)

LALU KEDUANYA BANGKIT BERDIRI. TANPA BERKATA APA-APA KEDUANYA MENGENAKAN PAKAIAN. SETELAH SELESAIU, MADEKUR TERPEKUR SEJENAK SEMENTARA TARKENI MENANTI (BAYARAN TENTU

SUARA DARSIH

Sedang bertelor apa?

MADEKUR

Bagaimana kalau kita kawin saja!?

TARKENI

Gampang. Bayar saja dulu yang sekarang.

MADEKUR

Bajingan! Masa nggak percaya sama saya. Mengeluarkan uang dari dalam saku celananya. Dengan gaya si kaya ia menghitung beberapa lembar lalu menyerahkannya pada Tarkeni)

minggu yang lalu saya bayar berapa?

TARKENI

Bisaa. Dua.

MADEKUR

Malam ini tujuh. Hitung saja.

TARKENI (Setelah menghitung) Kamu sungguh-sungguh rupanya.

MADEKUR

Kamu kira uang palsu?

TARKENI

Rejeki nomplok?

MADEKUR

Mana ada rejeki nomplok. Tahi kuping yang nomplok! Keringat!

TARKENI (mengiyakan sambil menghapus keringat dengan uang)

Keringat menetes Tes

Air mani menetes Tes

Lalu semua menetes Tes

Dan yang paling akhir air mata Tes

MADEKUR

(16)

TARKENI

Jangan kayak anak-anak ah.

MADEKUR

Saya serius dan umur saya dua puluh lima, neng.

TARKENI

Say dua satu

MADEKUR

Nah, apalagi? Pekerjaan saya sudah punya.

TARKENI

Saya juga punya.

MADEKUR

Lebih bagus lagi. Dan lebih dari itu ketika kecil kita pernah jadi penganten-pengantenan. Dan saya kira saya masih cinta sama kamu.

TARKENI

Kalau saya tidak?

MADEKUR

Belakangan kan bisa!? SUNYI SEJENAK

MADEKUR

Bagaimana?

TARKENI

Kenapa mesti kawin?

MADEKUR

Seperti umumnya orang. Biar gampang.

TARKENI

Begini kan gampang.

MADEKUR

Lebih gampang lagi kalau kita kawin. Sudahlah jangan banyak Tanya. Bagaimana?

TARKENI

Kita rundingkan di luar.

LALU KEDUANYA KELUAR

(17)

Madekur seorang pencopet Lantaran di Jakarta ia tergencet Bulan dari Jatibarang yang ia kepit Bersama kertas ijazah di ketiaknya Lusuh dan kehilangan cahaya Dilemparkannya di kali Ciliwung

Bulan itu mengapung-apung bersama tahi

Dan kertas-kertas rencana Negara yang terbengkalai Dan diiringi kwitansi-kwitansi yang dipalsukan Pegawai negeri

Di tepi kali Malang

Matahari yang pijar berkaca-kaca Dengan susah payah

Sambil menyumpah

Madekur menjambak rambut matahari Dan kemudian menyertnya kemana-mana Adapun Tarkeni seorang pelacur

Lantaran di Jakarta tak mau dikubur Bulan dari jatibarang yang ia bawa

Bersama kertas ijazah dalam kertas plastiknya Lusuh dan kehilangan cahaya

Bulan itu mengapung-apung bersama tahi

Dan kertas-kertas rencana Negara yang terbengkalai Dan diiringi kwitansi-kwitansi yang dipalsukan Pegawai negeri

Di tepi kali Malang

Matahari yang pijar berkaca-kaca Dengan susah payah

Sambil menyumpah

Madekur menjambak rambut matahari Dan kemudian menyertnya kemana-mana

Empat

DI DESA, KELUARGA MADEKUR MENEMPATI BALE PERTAMA DAN KELUARGA TARKENI MENEMPATI BALE KEDUA. ADEGAN DI BAWAH INI ADEGAN DUET, AYAH MADEKUR BERDUET DENGAN AYAH TARKENI, IBU DENGAN IBU, MADEKUR DENGAN TARKENI

AYAH & AYAH

Tidak mungkin, tidak mungkin

IBU & IBU

(18)

AYAH & AYAH

Coba, kamu bisa membayangkan apa kata orang-orang seluruh desa ini kalau Madekur / Tarkeni kawin dengan Tarkeni / Madekur. Aib, aib. Betapa sia-sianya dia kerja payah-payah di Jakarta. Kamu mimpi apa semalam?

IBU & IBU

Saya kira nggak mimpi apa-apa

AYAH & AYAH

Saya kira! Tidak mungkin kamu nggak mimpi apa-apa. Pasti kamu mimpi, hanya kamu lupa. Kalau kamu mau mengingat-ingat pasti kamu akan menejrit karena ternyata kamu mimpi buruk

IBU & IBU (Menjerit)

AYAH & AYAH

Kenapa?

IBU & IBU

Ya, saya mimpi

AYAH & AYAH

Nah, apa kata saya!? Kamu pasti mimpi mandi di kubangan Haji Bakir.

IBU & IBU

Bukan. Saya kira dalam mimpi itu saya mandi di comberan di … saya kira…. Dekat pelabihan di Cirebon.

AYAH & AYAH

Di comberan? Di dekat pelabuhan? Kamu tahu comberan dekat pelabuhan artinya air kotoran orang seluruh jagat bertemu jadi satu dan itu berarti mempunyai takwil yang bukan saja buruk tapi aib setebal tahi kerbau!?

IBU & IBU

Ya, saya ingat. Tahi kerbau.

AYAH & AYAH

Sudah pasti, kemudian kamu megap-megap hanyut….

IBU & IBU

Nggak. Kemudian saya terbangun karena asma saya.

AYAH & AYAH

(19)

kek kalau bisa. Tiba-tiba setelah dewasa, punya pekerjaan, punya penghasilan yang lumayan dia datang keapda kita mengutarakan niatnya akan kawin dengan seorang pelacur / pencopet. Buat saya yang tidak punya penyakit jantung hal itu tidak begitu membahayakan jiwa, dan saya bisa secara jernih menimbang dan merundingkan dan meyakinkan, tapi buat yang berpenyakit jantung? (Kepada istrinya) tidak, tidak – kamu jangan sekali-kali membantu dia untuk memaksa saya mengambil keputusan gila

IBU & IBU (Pada penonton)

Pada satu hari, nak saya berkata pada saya “ Bu, saya pengen pergi ke Jakarta”

AYAH & AYAH

Siapa pun tahu di Jakarta orang bisa jadi apa saja, bahkan menjadi presiden sekali pun.

IBU & IBU

Tapi yang pertama kali saya pikirkan bukan itu. Saya takut anak saya tertubruk mobil, karena kata orang di sana lebih banyak mobil daripada pohon kelapa.

AYAH & AYAH

Saya tahu betul di dalam benak kepala anak saya berkumpul seluruh impian termasuk di dalamnya impian-impian saya.

IBU & IBU

Saya kira siapa pun lebih senang mati di tanah sendiri.

AYAH & AYAH

Tapi tak ada orang yang sempat memilih tempat buat dia mati.

IBU & IBU

Selain itu saya kira di sini pun dia akan bisa besar, berkeluarga dan mati.

AYAH & AYAH

Saya punya cerita. Anak tetangga saya, Fadoli namanya. Saya belum pernah melihat anak yang lebih bodoh dari dia, sekali pun ayahnya termasuk orang penting di desa ini. Walapun saya tidak pernah diberitahu tapi saya tahu ketika sekolah rakyat anak saya mendapat penghasilan dari Fadoli karena ikut merampungkan pekerjaan menghitungnya. Ketika sekolah menengah ia dikirim orang tuanya ke Jakarta, tiggal bersama pamannya. Dan beberapa minggu yang lalu ia dan keluarganya mampir ke desa ini. Semua orang di desa ini ternganga melihat anak sebodoh itu bisa punya mobil. Saya tidak tahu persis jadi apa ia, tapi yang pasti ia orang penting. Nah, sekarang gampang diduga apa yang ada dalam kepala saya ketika anak saya bilang mau ke Jakarta. Segera saya bilang kepadanya: pergilah anakku. Selamat berjuang! Ya, saya kira saya sangat bijaksana waktu itu. Dan memang Jakarta medan juang yang paling gampang karena musuh kita di sana suma sesame, sedangkan di sini musuh kita semata-mata alam dan kita hanya memiliki satu pacul untuk sebelas petak.

IBU & IBU

(20)

menengah ia pergi ke Jakarta. Seperti umumnya banyak orang ia ke sana dengan ijazah sekolahnya dan cita-cita sederhana. Setahuhn lamanya dia cari pekerjaan dan tidak pernah berhasil, sehingga tentu saja bibinya pada siapa ia numpang makan semakin bermuka kecut. Pada tahun kedua ia minta diri bibinya untuk kembali ke desa ini, tapi sebenarnya ia tidak pernah kembali. Beberapa bulan putus hubungan antara Rogayah dengan keluarganya. Sampai pada suatu hari seluruh orang desa ini gempar ketika seorang pemuda membawa selembar Koran di mana termuat mayat Rogayah. Saya dengar ada belati di perutnya dan rupanya sebelum peristiwa naas itu ia telah mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dari sebuah keluarga orang kaya.

AYAH & AYAH

Cerita serupa itu tidak perlu di Jakarta. Beberapa bulan lalu di Toangan dekat jembatan sana kami menemukan mayat. Pendek kata Jakarta adalah jalan pendek. Dan nyatanya?

IBU & IBU

Memang hanya beberapa bulan saja kemudian Madekur/Tarkeni anak saya kembali terbungkus pakaian yang sangat bagus yang kami sendiri tidak pernah mampu membelinya. Benar-benar hari itu hari yang bahagia buat kami. Oh, gusti saya tidak pernah memimpikan akan saya segagah dan secantik itu.

AYAH & AYAH

Ya, dan sebelas perut ditambah dua perut kami benar-benar buncit saat itu.

IBU & IBU

Ia membelikan saya seperangkat pakaian.

AYAH & AYAH

Ia membelikan saya sehelai kain palekat cap delima buatan Tasik, di samping sebuah korek api yang sangat bagus. Sampai sekarang korek api itu tidak pernah saya pergunakan. Saya simpan saja dan saya pajang sebagai hiasan di lemari.

IBU & IBU

Ya Gusti, ia mengenakan arloji emas dan cincin emas.

AYAH & AYAH

Ya, dan sekarang akankah ia kita biarkan memilih jalan yang salah kawin dengan seorang pelacur/pencopet? Pakah akan kita biarkan ia melumuri wajahnya Lumpur aib seorang pelacur/pencopet?

IBU & IBU (Kepada Suami) Tapi ia bilang, ia cinta

AYAH & AYAH

Tidak kurang gadis/jejaka di desa ini untuk dicintai. Dan demi segala kehormatan saya tidak akan mau dan sudi berhubungan keluarga dengan keluarga jahanam itu. Sebelum lahir saya sudah membenci keluarga yang sok suci itu. Tingeling!

IBU & IBU

(21)

AYAH & AYAH

Kau tinggal saja di sini, saya kira akan bicara sendiri dengan anak itu.(Perempuan itu akan bangkit kembali) Diam di sini!

LALU AYAH DAN AYAH PERGI KELUAR

Lima

IBU & IBU(Kepada Penonton)

Yang paling sulit adalah….

IBU II (pada yang lain) Kamu duluan deh.

IBU I

Yang paling sulit adalah kedudukan itu. Siapa pun tahu tidak gampang memilih pihak, lebih-lebih semua pihak sama-sama berarti dan cintai dan celakanya adapt hidup selalu menjatuhkan kita pada salah satu pihak sekalipun kita tidak menjatuhkan pilihan alias kita tidak bisa lepas dari kedudukan sebagai korban. Karena itu sekali waktu kita menganggap menjatuhkan pilihan adalah yang terbaik dalam hidup ini, sebab kita memerlukan kepuasan memiliki hak memilih sebagai kompensasi atas kesia-siaan kita.

IBU & IBU

Secara pribadi saya punya pendirian lain dengan suami saya

IBU I

Yang penting buat saya anak saya senang, biarlah dia kawin dengan siapa pun yang dia maui kalau memang sudah merupakan jodohnya. Coba saja meskipun kita ngotot dalam hal ini pasti anak saya yang akan keluar sebagai pemenang, karena dalam zaman ini kedudukan anak sedang mendapat angin. Selain itu, saya belum yakin benar bahwa Tarkeni menjadi pelacur di Jakarta seperti yang dibisikan banyak orang. Juga saya demikian terharu mengetahui betapa anak saya yang sejak kecil diam-diam mencintai Tarkeni.

IBU II

Pernah suami saya memergoki mereka sedang jalan berduaan di pematang sawah dekat pekuburan Ki Kede dan tanpa komentar suami saya menyeret Tarkeni pulang. Di dapur, suami saya mencambuk Tarkeni dengan ikat pinggangnya yang setebal telapak tangan. Bagaimana tangis Tarkeni tidak perlu diceritakan.

IBU I

Keluarga itu sudah bebuyutan, sudah sedemikian tua permusuhan kami sampai kami sendiri tidak pernah tahu duduk masalahnya.

IBU & IBU

Satu-satunya yang kami tahu sejak kecil adalah kami bermusuhan

(22)

Ada seorang paman kami pernah mencoba menjelaskan kenapa kami bermusuhan . pada suatu malam pada bulan puasa, kakek kami ketika masih perjaka berkelahi dengan kakek mereka di pekarangan mesjid. Persoalannya kakek kami dan kakek mereka sama-sama jtuh cinta kepada seorang gadis, kalau tidak salah ingat gadis itu dari keluarga moyang mang Miskak juru kunci mesjid. Siapa yang menang sudah pasti kakek kami karena paman bilang itu kakek jago silat. Hanya sayangnya nasib berkata lain, sehingga dua-duanya tidak sempat mengawini gadis itu lantaran tergesa meninggal. Nah, sebenarnya bisa saja kemudian sama-sama saling menuduh telah bebruat jahat terhadap sang gadis. kakek kami menuduh kakek mereka telah mengirimkan guna-guna agar gadis itu terpaut hanya pada hatinya, tapi agaknya salah mantra sehingga menyebabkan gadis itu malah meninggal secara mendadak.

IBU I

Seorang paman kami pernah bercerita bahwa sebenarnya moyang kami pernah besanan dengan moyang mereka. Jelasnya buyut kami pernah satu tempat tidur dengan salah seorang buyut mereka, tapi lantaran buyut perempuan mereka terbukti serong dengan laki-laki lain, maka buyut kami menjatuhkan talak tiga sekaligus terhadap buyut perempuan mereka (dengan gaya mengucapkan rahasia) memang keluarga mereka keluarga gampang gatel.

IBU II

Sedangkan salah seorang bibi kami pernah menceritakan bahwa pada suatu hari jumat… (Kesal dengan ceritanya sendiri)

IBU I

Sedangkan salah seorang uwak kami pernah menceritakan bahwa pada suatu hari Sabtu…. (Kesal dengan ceritanya sendiri)

IBU & IBU

Pendeknya begitulah. Sekarang saya sudah saatnya saya harus berusaha menimbun lobang permusuhan bebuyutan ini sebab kita sama-sama tidak menghendaki akhir Romeo dan Juliet terulang dalam sandiwara ini. Jadi, sekali lagi, saya tidak berkeberatan anak-anak saya kawin dengan anak-anak mereka, meskipun saya akan lebih senang kalau anak saya bisa memilih jodoh yang lain (bersemangat) tidak. Tidak. Saya harus berani mengutarakan pikiran saya blak-blakan kepada suami saya kalau memang anak saya berani membujuk suami saya supaya berubah sikap, lantaran toh akhir sandiwara ini mereka akan kawin juga.

Enam

MUNCUL AYAH DAN AYAH DIIKUTI MADEKUR DAN TARKENI

AYAH & AYAH

(23)

perasaan, melainkan juga terutama pikiran. Bu, kamu setuju anakmu kawin dengan pelacur/pencopet?

IBU & IBU

Naudzubillahi min dzalik, eh, tidak!

AYAH & AYAH

Atau kamu setuju anakmu kawin dengan keluarga itu yang….

IBU & IBU

Tidak.

AYAH & AYAH

Kamu dengar sendiri bagaimana ibumu mengatakan tidak dan kamu sendiri tahu ibumu sangat jernih dalam berpikir. Sekarang lebih baik kamu istigfarlah dulu.

IBU & IBU (Pada penonton)

Sebenarnya mulut saya mau bilang setuju, tapi mata suami saya terlalu besar, nanti saya akan bilang juga.

AYAH & AYAH

Persoalan cinta tidak sesepele seperti yang banyak diduga orang dan memahaminya lebih sukar daripada memotong kuku dengan golok, namun percayalah saya menyintai kamu sekaligus kehormatan kamu dan hari depan kamu. Janganlah sekali-kali kamu salah mengira saya telah berlaku tidak sayang karena menghalangi niat kamu kawin dengan…. Anak perempuan/lelaki keluarga itu. Jangan juga kamu mengira saya tidak memahami niatmu yang suci, saya paham dan saya menaruh hormat, tapi rupanya kamu lupa bahwa sesuatu yang suci memerlukan tempat yang suci juga.

Juga rupanya kamu tidak menyadari betapa banyak pilihan yang bisa kamu lakukan, dan kamu cukup mengerti bahwa yang terbaik adalah emmilih yang terbaik. Tahu kalau kamu masih belum bisa yakin juga, cobalah Tanya para penonton (pada penonton) Setujukah Anda kalau anak Anda kawin dengan pelacur/pencopet? Kalau Anda bilang setuju artinya Anda munfik sejati. Karena Anda telah mengkhianati hati Anda sendiri. Marilah kita akui sama-sama bahwa pada dasarnya kita menyukai kebangsawanan sekalipun perut kita kosong. Dengan mengatakan setuju berarti Anda telah sempurna dalam mengobral kata-kata muluk berbunga kebajikan, sementara dalam perbuatan nyata Anda kurang lebih sepaham dengan saya. Tapi Anda saksikan sendiri saya satu tingkat lebih tinggi dari Anda lantaran saya satu antara perkataan dan perbuatan. Sungguh-sungguh kita ini ningrat yang terselubung.

MAD & TAR (pada penonton)

(24)

Ketika di negeri-negeri lain orang sudah sedemikian sibuk dan kerja keras, rang-orang tua kita masih belum selesai dengan sarapannya, dan yang sebagian lagi sibuk merenungkan hikmah hidup tanpa sarapan.

AYAH & AYAH

Berhenti nak. Kamu tidak patut kurang ajar seperti itu, tidak layak menghina orang tuamu sendiri di depan umum seperti ini.

MAD & TAR

Seperti bapak saya sedang mencoba belajar mempergunakan pikiran saya, sama sekali saya tidak sedang melakukan penghinaaan kecuali membeberkan keburukan.

AYAH & AYAH

Satu kalimat lagi berarti merahlah, nak. Tanpa bercermin saya sudah tahu mata saya mulai merah.

MAD & TAR (Pada penonton)

Anda lihat sendiri betapa tidak dewasanya orang-orang tua menghadapi kritik.

AYAH & AYAH

Hanya batu yang bertahan menghadapi kritik

MAD & TAR

Tapi batu yang satu ini tidak.

(keempatnya saling bertatapan sementara Ibu & Ibu sama menghela napas. Beberapa saat tableu begitu. Kemudian terdengar suara gong satu kali)

AYAH & AYAH

Baiklah kita ulang lagi. Marilah kita bciara bertiga dengan lebih tenang. Atur napas dengan baik supaya darah beredar teratur dan tertib, supaya kita bisa bekerja dengan pikiran dan tidak dengan perasaan. Bu, saya sudah bicara, anakmu sudah bicara, kini giliran kamu bicara.

IBU & IBU

Sebenarnya…. (pada penonton) sebenarnya saya setuju dengan pendirian anak saya, tapi juga sebenarnya pikiran suami saya benar juga (kepada suami dan anaknya) sebenarnya sama saja.

AYAH & AYAH

Kamu ini sedang bicara, atau…..?

IBU & IBU

(25)

Nah, biarkanlah saya mengumpamakan persoalan ini dengan dua tangkai bunga melati dan seorang gadis delapan tahun. Yang setangkai berwarna putih, sedang setangkai lagi berwarna hitam. Mula-mula sudah jelas gadis itu merasa heran dan sangat lama bertanya dalam hati kenapa ada setangkai bunga melati yang berwarna hitam, sekalipun sebelumnya dia tidak pernah merasa heran bertanya dalam hati ketika pertama kalinya ia melihat bunga melati berwarna putih.

Begitulah seperti yang saya bilang tadi bahwa gadis itu lama bertanya dalam hati, lama merasa heran. Tapi heran yang lama. Kemudian menjelma menjadi takjub dan akhirnya hati gadis itu tertarik ingin melati yang hitam. Begitulah ketika jari-jarinya yang lembut bergetar oleh kekaguman siap mematahkan melati hitam dari tangkainya, gadis itu tiba-tiba ingat bahwa rambutnya juga berwarna hitam. Selain itu ia juga ingat tidak seorang pun di Jatibarang yang menghias rambutnya dengan melati hitam, bahkan sekalipun perempuan yang ebrambut putih seperti neneknya.

AYAH & AYAH

Sebentar, sebentar. Lebih baik kamu singkatkan saja bicaramu. Bagaimana?

IBU & IBU

Kamu sendiri bagaimana? Kamu akan memetik melati putih atau melati hitam?

AYAH & AYAH

Seperti umumnya orang saya amemetik melati putih yang sudah pasti keindahannya.

IBU & IBU

Tapi kamu tidak tahu bahwa melatih hitam itu mempunyai warna putih di sebelah dalam dan malah di dalamnya ada sebutir berlian sebesar geraham saya yang tanggal beberapa tahun lalu

AYAH & AYAH

Mana mungkin! Lagi kamu tidak mengatakan hal itu sebelumnya.

IBU & IBU

Karena melati hitam itu belum jelas maka kemungkinannya tentu lebih luas.

MAD & TAR

Juga melati hitam telah saya petik ketika ayah memetik yang putih

AYAH & AYAH

Tidak bisa. Saya belum memetik, baru berniat memetik dan sekarang saya akan memetik melati yang hitam

MAD & TAR

Tidak bisa, yang hitam telah saya petik

AYAH & AYAH

Tidak bisa, yang hitam milik saya

(26)

Tidak bisa, luar bisaa harumnya

AYAH & AYAH

Ya Tuhan harumnya

AYAH &AYAH

Kurang ajar. Lepaskan melati itu

MAD & TAR

Ya Tuhan, harumnya

AYAH & AYAH

Lepaskan, bajingan.

MAD & TAR

Harumnya

AYAH &AYAH

Bajingan

IBU & IBU

Begitulah, siapapun pasti akan memilih yang terbaik. Tapi tahukah bahwa yang terbaik adalah melati putih?

MAD & TAR

Kalau begitu biarlah yang hitam untuk bapak.

AYAH & AYAH

Kamu jangan kurang ajar, nak. Melati putih itu telah saya petik.

MAD & TAR

Mana mungkin, padahal bapak baru saja berniat akan memetiknya. Tidak, pak. Biarlah yang putih buat saya.

AYAH & AYAH

Nak, golok di dapur Cuma sebilah dan itu milik saya

MAD & TAR

Biarlah bapak mengambil golok dan saya memetik melati putih

SANGAT TIBA-TIBA SEKALI, AYAH DAN AYAH MENGHUNUS GOLOK ITU DAN SIAP AKAN MEMANCUNG KEPALA MAD & TAR DAN IBU & IBU MENJERIT

IBU & IBU

Saya lupa memberitahu bahwa yang putih ada dua tangkai dan kesimpulannya kalian berdua sama-sama bersikeras menghendaki yang terbaik (Mendekati anaknya) nak, kamu ingin senang, bukan?

(27)

Senang sekali, bu.

IBU & IBU

Kau pikir bapak akan menjerumuskan kamu?

MAD & TAR

Pasti tidak, bu.

IBU & IBU (mendekati suaminya)

Kamu pasti tidak bermaksud menjerumuskan anakmu.

AYAH & AYAH

Pasti

IBU & IBU

Dan menghendaki anakmu senang?

AYAH & AYAH

Senang sekali kalau bisa

IBU & IBU

Kalau begitu, beres. Tidak satu pun yang simpang selisih. Sekarang bicaralah satu sama lain tanpa nafsu amarah

AYAH & AYAH

Boleh

MAD & TAR

Boleh

AYAH & AYAH

Kamu masih tetap pada pendirianmu?

MAD & TAR

Masih dan bahkan makin kuat

AYAH & AYAH

Saya juga masih. Kalau begitu kita harus meningkatkan pertengkaran kita (Gong berbunyi lagi) saya sampai pada pikiran untuk menyampaikan ultimatum

MAD & TAR

Sebaliknya mental saya telah siap menerima apa saja

IBU & IBU

Kalian sudah terlalu jauh, kalian….

AYAH & AYAH

(28)

MAD & TAR

Saya menunggu ultimatum itu, pak

AYAH & AYAH

Bagus. Dengan ultimatum ini saya hanya akan menyederhanakan dan mempersingkat perdebatan yang nonsense ini. Begini, kalau kamu tetap pada niatmu kawin dengan pelacur/pencopet itu saya hanya minta agar hubungan kita sebagai anak dan bapak putus.

IBU & IBU

Pak….

AYAH & AYAH

Kau tak berdaya, bu.

MAD & TAR

Bapak serius?

AYAH & AYAH

Kamu kira main-main?

MAD & TAR

Putus?

AYAH & AYAH

Putus

MAD & TAR

Sudah bapak pikirkan masak?

AYAH & AYAH

Saya kuatir malah terlalu masak

MAD & TAR

Baiklah….

IBU & IBU

Nak….

MAD & TAR

Belum, bu, belum selesai. Saya baru akan mempelajari ultimatum itu.

IBU & IBU

Bagus, nak. Pelajarilah baik-baik.

AYAH & AYAH (berbisik)

(29)

Tujuh

MADEKUR

Bagaimana?

TARKENI

Kamu bagaimana?

MADEKUR

Buat saya nggak ada soal. Kamu yang sejak semula bersikeras ingin meminta izin dan restu orang tua sekarang punya persoalan karena ultimatum mereka.

TARKENI

Persoalan ini sangat berat buat saya

MADEKUR

Buat siapapun sangat berat, kecuali bagi saya

TARKENI

Bagaimana ya?

MADEKUR

Saya tahu kamu sentimental seperti umumnya para penonton sandiwara. Cobalah putuskan.

TARKENI

Kalau saya berpihak kepada orang tua dan niat kawin kita urungkan….

MADEKUR

Kamu akan segera menjadi bintang keluarga dan penonton akan terharu, sementara diam-diam mengutuk orang tua.

TARKENI

Kalau sebaliknya?

MADEKUR

Kamu segera akan diludahi dari segala penjuru dan penonton menganggap lakon ini kurang menarik, sementara mengharapkan akhirnya kamu kembali bersujud di depan orang tua mu.

TARKENI

Dan saya sendiri?

MADEKUR

Berbahagia tidur bersama saya sambil sekali-sekali membayangkan rambut orang tua mu yang semakin memutih.

TARKENI

(30)

MADEKUR

Bernapas seperti bisaanya dan nasibnya sudah diatur seperti orang-orang tua yang lain

TARKENI

Tidak pernah mereka memikirkan saya.

MADEKUR

Pernah setiap akan tidur tapi tak lebih dari lima menit.

TARKENI

Kamu sendiri bagaimana?

MADEKUR

Buat saya sangat gampang membenci orang tua saya karena mereka tidak pernah memperhatikan saya kecuali setelah mereka ditinggalkan saudara-saudara saya yang lainnya, dan saya menunjang biaya rumah tangganya secara tetap.

TARKENI

Kamu pahit sekali

MADEKUR

Saya kira bukan pahit, enteng. Seperti hidup ini memperlakukan kita.

TARKENI

Enteng.

MADEKUR

Enteng.

TARKENI

Saya sudah putuskan

MADEKUR

Bagus.

TARKENI

Enteng.

MADEKUR

Enteng.

GONG LAGI, ATAU KALAU BOSAN YA CARI YANG LAIN

Delapan

AYAH & AYAH DAN IBU & IBU MUNCUL DI TEMPAT MASING-MASING

(31)

Merokok dulu (Dengan nikmat menghisap rokoknya dan kemudian menghembuskan asapnya) Lalu bicara dengan tenang. Bagaimana nak?

IBU & IBU (Dengan lagu lain)

Jangan membisu nak.

MAD & TAR

Tidak bu.

AYAH & AYAH

Kalau begitu bicaralah. Apa keputusanmu?

MAD & TAR

Bapak tetap dengan keputusan bapak?

AYAH & AYAH

Tetap. Tetap.

IBU & IBU

Nak…..

AYAH & AYAH

Tapi hati-hati dengan keputusanmu nanti, nak.

MAD & TAR

Jangan kuatir. Keputusan bapak telah menjadi keputusan saya

IBU & IBU

Maksudmu, nak?

AYAH & AYAH (Sama lagu) Maksudmu, nak?

MAD & TAR

Terus terang bapak sangat bijaksana sekali memecahkan soal ini, sedikitpun saya tidak mempunyai kesan bapak bersikap mengancam. Malah sebaliknya. Ultimatum bapak atau tepatnya keputusan bapak merupakan sikap yang paling maju sekali. Lebih dari kebenaran bahwa hubungan keluarga atau hubungan darah merupakan pangkal dari segala macam sengketa, karena pada dasarnya hubungan itu Cuma hubungan emosionil belaka, dan itu merupakan beban yang sangat berat yang kita seret sampai di lobang kubur.

Ketika bapak memberikan jalan keluar, yaitu menawarkan putusnya hubungan antara kita seketika saya merasa lebih sehat dan tubuh saya kehilangan berat sama sekali sehingga saya merasa ringan apa saja.

AYAH & AYAH

Jadi….

(32)

Nak…..

MAD & TAR

Ya, bapak benar sekali lebih baik kita putuskan hubungan antara kita sebagai orang tua dan anak. Dengan demikian, bapak dan ibu bisa tenang karena tidak lagi punya persoalan dan kecuali pun kehormatan bapak dan ibu tetap tak ternoda, seperti bapak sendiri bilang kehormatan adalah sesuatu yang nilainya satu tingkat di bawah Tuhan. Sedangkan untuk saya mulai hari ini saya tak perlu menyisihkan hasil jerih payah saya, seluruh penghasilan saya boleh saya habiskan sampai rupiah yang paling akhir.

IBU & IBU

Kau dengar pak? Kau dengar? Sebelum ia berpikir seperti itu saya telah membayangkan kesusahan apa yang akan terjadi kalau ia sudah nekat seperti itu.

AYAH & AYAH

Nak, kau rupanya belum cukup lama memperlajari ultimatum bapak

MAD & TAR

Cukup. Cukup.

AYAH & AYAH

Barangkali kau belum mengerti benar ultimatum bapak.

MAD & TAR

Kalimat bapak jelas sekali dan selain itu telinga saya sangat baik. Dan percayalah semua penonton akan mendukung penuh sikap dan keputusan bapak yang maju itu.

AYAH & AYAH

Sebentar nak, jangan terburu nafsu. Hematlah dengan kata-kata. Kau kelihatan gugup sekali, tidak mampu mengusasi diri.

MAD & TAR

Tidak, saya senang sekali seperti orang mati

AYAH & AYAH

Kamu mengerti apa yang kau ucapkan?

MAD & TAR

Apakah itu berarti bapak tidak mengerti dengan apa yang bapak telah putuskan?

AYAH & AYAH

Maksud saya cukup sadarkah kau?

MAD & TAR

Cukup, cukup sadar.

AYAH & AYAH

(33)

sampai detik ini saya masih mencoba mengindari amarah. Sekarang jawablah dengan baik-baik. Benar kamu menghendaki putus hubungan antar kita sebagai keluarga?

MAD & TAR

Saya Cuma mendukung pikiran bapak yang cemerlang. Atau tepatnya bapaklah yang menghendaki itu dan saya mendukungnya.

IBU & IBU

Kau tidak perlu mendukung pikiran itu, gagasan itu buruk, paling buruk.

MAD & TAR

Gagasan itu sanagt bagus, sangat bagus.

AYAH & AYAH (Marah sekali)

Tapi kamu tidak perlu mendukung gagasan itu.

IBU & IBU

Gagasan itu sangat buruk, nak. Sangat buruk.

AYAH & AYAH

Apa kamu tidak mengerti ultimatum itu semata-mata Cuma gertak sambal saja? Ancaman kosong?

MAD & TAR

Tidak, malah saya menghargai ultimatum itu sebagai gagasan orang tua yang paling berani dan maju. Saya yakin Cuma beberapa gelintir saja yang punya pikiran cemerlang semacam itu.

AYAH & AYAH

Jadi kamu tetap bersikeras ingin supaya putus hubungan antara kita?

MAD & TAR

Sesuai dengan kamuan bapak

IBU & IBU

Nak!

AYAH & AYAH

Sungguh-sungguh!?

MAD & TAR

Sungguh-sungguh.

AYAH & AYAH

Putus?

MAD & TAR

(34)

AYAH & AYAH

Lalu kamu akan melangsungkan niat kamu kawin begitu saja tanpa orang tua?

MAD & TAR

Begitulah kira-kira.

IBU & IBU

Lalu siapa yang akan merestui? Yang mendoa?

MAD & TAR

Pegawai catatan sipil tentu saja

AYAH & AYAH

Baiklah… baiklah…..

IBU & IBU

Pak….

AYAH & AYAH

Jangan cengeng menghadapi sikap sombong seperti itu. Kalau tidak tahan menangislah, tanpa air mata supaya anak sombong itu tidak sempat tahu. Kamu kira (kepada anaknya) Cuma kamu saja yang tega memutuskan hubungan antara kita? Lebih dari itu saya tega. Bahkan saya juga tega memutuskan kepalamu dari dadamu yang kau busung-busungkan itu dan kemudian saya gecek kepalamu dengan batu kali.

Sombong. Atau kamu mengira tenaga saya tidak cukup kuat emnghadapi otot-ototmu yang masih segar? Jangan lupa gigi saya masih utuh dan kuat (pada penonton) apakah diantara kalian ada yang mengharapkan agar saya bersikap lembut menghadapi sikap kurang ajar seperti itu? Mengharap agar saya meminta-minta supaya anak biadab itu kembali menyebut diri saya sebagai bapaknya?

IBU & IBU

Dengarkan sebentar, pak. (memberikan segelas air putih) tenang sebentar. (berbisik) kamu lupa kita akan kewalahan kalau sampai membiarkan ia tidak lagi mengaku anak kepada kita?

AYAH & AYAH

Kewalahan apa!?

IBU & IBU (berbisik)

Kau lupa tahun-tahun belakangan ini kita sangat bergantung kepada anak itu. Dari mana kamu akan mendapatkan uang dengan tulang-tulangmu yang rapuh?

AYAH & AYAH

Kita jual pekarangan belakang dengan empangnya sekaligus dan sebelumnya kita bisa makan dari hasil pohon papaya.

(35)

Kita tidak bisa menjual pekarangan mana pun karena kita telah menjualnya beberapa tahun lalu. Kamu juga tidak bisa menjual rumah ini kecuali kalau kita boleh merombak mesjid jadi dapur.

AYAH & AYAH

Kita masih memiliki seekor kerbau dan tiga kambing perahan.

IBU & IBU

Semua itu telah kita jual. Semua itu sudah habis. Bahkan tanpa sepah.

SEBELUM MELANJUTKAN BICARA AYAH & AYAH MELIHAT SEBENTAR KEPADA ANAKNYA

AYAH & AYAH (Makin berbisik) Jadi kita sudah tidak punya apa-apa?

IBU & IBU

Tidak punya apa-apa. Malah belakangan ini selalu timbul kekuatan dalam diri saya apakah kita mampu menyelenggarakan penguburan buat jenazah kita nanti.

AYAH & AYAH

Seminggu yang lalu saya juga berpikir barangkali lebih baik kita beli kain kafan mulai sekarang semester demi semester.

IBU & IBU

Kalau begitu kita juga perlu menanam kembang biar kita tidak usah beli nanti untuk keranda kita dan makam kita.

AYAH & AYAH

Jadi sudah habis semua.

IBU & IBU

Semua sudah habis dijual, sudah kita makan.

AYAH & AYAH

Saya pikir saya juga bisa mencuri

IBU & IBU

Kamu ingat mayat Mukidi yang berlumur darah karena mencuri di rumah Ki Warad!?

AYAH & AYAH

Orang-orang tidak akan memukuli saya, karena saya sudah tua. Mereka akan jatuh kasihan dan kemudian membiarkan saya memiliki barang curian saya dan bukan tidak mungkin saya mendapat pula tambahan uang.

IBU & IBU

(36)

AYAH & AYAH

Saya juga berpikir begitu. Tapi malu mengatakannya. Ya, saya kira itu lebih baik, hanya kita harus mencari cara supaya kekalahan kita terhormat.

IBU & IBU

Gampang itu.

TIBA-TIBA AYAH & AYAH DAN IBU & IBU BERUBAH SIKAP

AYAH & AYAH (Dengan gemas memegang gemas pada pundaknya)

Saya terharu, nak. Sungguh terharu akan ketabahanmu. Ujian dan cobaan yang ibu dan bapak tampakkan sedikit pun tidak menggoyangkan niat sucimu. Kini kami baru yakin betapa besar cintamu kepada kekasihmu.

MAD & TAR

Tidak terlalu besar tapi besar.

IBU & IBU (merenggutkan anaknya dari suaminya lalu memeluknya) Anakku, kau lulus.

AYAH & AYAH

Maafkan bapak, karena bapak terlalu kasar. Maafkan juga karena bapak telah menyebut calon istri/suamimu pelacur/pencopet.

MAD & TAR

Bapak tak perlu minta maaf karena dia memang pelacur/ pencopet. (Ayah & Ayah dan Ibu & Ibu mengambil jarak terhadap anaknya) Tarkeni/Madekur memang pelacur/pencopet tapi orang tuanya tidak tahu dan tidak percaya.

AYAH & AYAH (Pada istrinya) Apa kita akan berubah sikap lagi?

IBU & IBU

Bingung.

MAD & TAR

Dan saya sendiri memang pencopet/pelacur tapi ibu bapak tidak tahu dan tidak percaya.

ORANG TUA

Kami….

MAD & TAR

Pencopet/pelacur

IBU & IBU (Pada suaminya) Apa yang harus saya lakukan?

AYAH & AYAH

(37)

IBU & IBU

Saya tidak bisa. Saya tidak percaya.

MAD & TAR

Karena tidak sesuai dengan impian, sekalipun sesuai dengan impian buruk

AYAH & AYAH

Kamu tidak bergurau, nak.

MAD & TAR

Kenapa?

AYAH & AYAH

Kalau pun benar lebih bijaksana kalau kamu berbohong saja

MAD & TAR

Baiklah, saya bohong.

AYAH & AYAH

Jadi tidak benar kamu pencopet/pelacur?

MAD & TAR

Siapa bilang saya pencopet/pelacur?

AYAH &AYAH

Ternyata Cuma fitnah, bukan?

MAD & TAR

Bukan Cuma fitnah tapi penghinaan terhadap gubernur Jakarta

IBU & IBU

Anak kita gubernur, pak.

AYAH & AYAH

Ya

IBU & IBU

Syukur. Syukur.

AYAH & AYAH

Apapun jadinya kita harus bersyukur

IBU & IBU

Syukur-syukur

(38)

Sembilan

MEREKA BERTEMU DI TENGAH PENTAS

IBU

Hari jum’at hari baik.

AYAH

Tidak. Hari Sabtu.

IBU

Minggu yang baik

AYAH

Senen

AYAH

Selasa

IBU

Rabu

IBU

Kamis

AYAH

Jum’at

AYAH

Minggu

IBU

Jum’at.

IBU

Minggu.

MADEKUR

Khrreeeeeeeeeekkk….

TARKENI

Tek – tek ….

AYAH

Jum’at

MADEKUR

(39)

IBU

Minggu.

TARKENI

Tek – Tek….

IBU

Jum’at

MADEKUR

Tek – Tek….

(Sebentar diam)

TARKENI

Tek.

IBU

Jum - …. Teruskan.

MADEKUR

Tekek.

IBU

Jum’at

Tokek taoke kita

Cendekia di atas cendekia

Sepuluh

PESTA KAWIN. PUNCAK ACARA MERUPAKAN BARISAN-BARISA KETIKA DUA BUAH KERANDA MASUK BAGAI BARONGSAI!!! LAMPU TIBA-TIBA MATI.

KETIKA PARA NABI BANGUN OLEH SINAR FAJAR YANG TIDAK LAGI BERNAMA FAJAR, MEREKA SAMA TERKEJUT KARENA DI HADAPAN MEREKA ATAU DI SEPUTAR MEREKA – TIADA SEORANG PUN MANUSIA. YANG DI DEKAT ATAU DI SEPUTAR MEREKA HANYALAH PUING-PUING. PUING DAN PUING. ASAP DI MANA-MANA. BAU MERCON DI MANA-MANA, POTONGAN KAKI DI MANA-MANA, POTONGAN TANGAN DI MANA-MANA. BEBERAPA TOMBAK BEBERAPA PELURU KENDALI TERTANCAP DI LANGIT.. BEBERAPA GUMPAL MEGA MERAH KE HITAMAN OLEH DARAH.

PARA NABI

Apa yang terjadi?

(40)

Bau mesiu, goblok Mercon

Mesiu

Pokoknya sesuatu yang meledak Tangan siapa ini?

Kaki siapa ini?

Cari kepalanya, nanti kamu kamu! Kepala siapa ini

Cari KTP nya KTP siapa ini? Baca!

Nggak terbaca, akrena darah beku menutup namanya.

Apa yang terjadi semalam? Mereka baru saja menyelesaikan dua babak dari keenam babak sebuah sandiwara reyog-reyogan

Musik!

(Seseorang meniup suling) Beberapa tombak… Peluru kendali, goblok. Beberapa tombak. Peluru kendali

Beberapa peluru kendali tertancap di langit. Bukan saja bumi luka-luka, rupanya langit juga. Pasti bukan lagi mega atau pun awan yang berarak itu. Memang awan memang mega namun berselimut darah beku.

Kalau semua sudah menjelma padang sunyi seperti ini pertanda orkes kita tamat riwayatnya.

Siapa yang akan kita hibur?

NYANYIAN

Siapa akan kita hibur? Siapa mau kita hibur? Bumi kosong

Langit kosong.

Adalah sebidang padang sunyi Adalah sebaris para penyanyi Saling memantulkan sunyi Siapa akan kita hibur? Siapa mau kita hibur? Bumi kosong

Langit kosong

Kosongnya kosong melompong Kosongnya kosong yang gosong A…..

Huruf a melayang entah ke mana I…..

Huruf I bersembunyi entah dimana AAAA

(41)

AIA AIA A……

SAYUP-SAYUP TERDENGAR SUARA REYOGAN ROMBONGAN SEMAR CS - Suara apa itu?

+ Suara mereka

- Kalau begitu, mereka masih hidup + Kalau ternyata tape recorder? - Ya nggak apa-apa

+ Kita cari mereka

- Ya, kita perlu tahu babk-babak lain sandiwara mereka. + kenapa? Ada apa? Kok merenung begitu?

- Sejak tadi saya yakin mereka masih hidup. + Alaaa! Ayo kita berangkat

(mereka berangkat menjelajahi sunyi demi sunyi)

- lihat rombongan sandiwara semalam?

YANG DITANYA

Lihat!

NABI

Di mana mereka sekarang?

YANG DITANYA

Saya juga sedang cari

LALU ORANG ITU BERGABUNG, BEGITULAH MEREKA BERJALAN MENGARUNGI SUNYI DEMI SUNYI DALAM BARISAN YANG MAKIN LAMA MAKIN PANJANG. DAN SETIAP KALI MEREKA BERPAPASAN DENGAN ORANG LAIN YANG BERTUJUAN SERUPA

NABI

Suaranya makin jelas. Ya, makin jelas.

NABI

Ya. (Tiba-tiba semuanya diam) Pasti mereka. Betul kamu ternyata Cuma rekman suara mereka. Itu siapa yang berbaris di sana?

MEREKA KEMUDIAN KELUAR DAN MUNCUL SEMAR CS YANG ROBOH SATU-SATU LANTARAN? LALU MUNCUL ROMBONGAN NABI CS

NABI

Semar, semar….

SEMAR

(42)

NABI

Kalian darimana mau ke mana?

SEMAR

Dari cari penonton mau cari penonton

NABI

Gila sekali bahwa selama ini kita saling mencari penonton, cari mereka. Kalau begitu segeralah main. Penonton sudah berkumpul sekarang.

SEMUA BADUT-BADUT BERDIRI LUNGLAI DAN MEMANDANGI HADIRINNYA.

SEMAR

Jadi kalian masih hidup?

HADIRIN MENGANGGUK. BADUT CS MENANGIS PILU SEKALI (TIDAK KOMIKAL

SEMAR

Kami kira permainan kami semalam yang terakhir KEMBALI BADUT CS MENANGIS

NABI

Sudahlah. Sudahlah.

SEMAR

Kami sedih tentang kalian

NABI

Sudahlah, sudahlah.

SEMAR

Selama ini kami bergurau tentang kalian

KALI INI BADUT CS MENANGIS LEBIH MEMILUKAN LAGI.

NABI

Musik! (Seseorang memainkan biola) Silakan Semarku, lanjutkan pertunjukanmu, kamu kelak ingin tahu nasib Madekur dan Tarkeni selanjutnya. (Semar cs tiba-tiba menangis lebih keras lagi) Kenapa? Ada apa?

SEMAR

Seperti lakon-lakon Arifin yang lain, mereka mati secara mengerikan sekali. Secara detail kami tak tahan melukiskannya.

NABI

(43)

SEMAR

Kedua mayatnya dalam satu lubang bersama sampah Jakarta

SESEORANG

Bagaimana bisa terjadi

SEMAR

Gampang saja. Mereka mati di pinggir kali atau di dekat tong sampah. Atau di trotoar, atau di bawah Monas. Atau di… atau di… gampang saja.

NABI

Tapi cobalah lukiskan selengkapnya.

SESEORANG

Nanti dulu. Saya protes. Bagaimana mungkin mereka dibiarkan oleh pemerintah begitu saja?

SEMAR

Pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah telah meminjamkan turk sampahnya dan membiayai ongkos penguburan sekedarnya.

SESEORANG

Seharusnya mereka dikubur di taman pahlawan. Jelas mereka pahlawan yang tangguh, ulet dan tahu harga diri.

SESEORANG

Kenapa tidak di taman pahlawan?

SEMAR

Karena bukan pahlawan.

SESEORANG

Kenapa bersama sampah?

SESEORANG

Karena sampah.

SEMAR

Terus terang dalam suasana murung tanpa harapan sama sekali seperti sekarang ini saya tidak berdaya bersandiwara lagi.

NABI

Semuanya sudah habis, sobatku. Bakatmu yang besar pasti sanggup mengusir kegeramanmu dan menggantikannya dengan kecerahan bocah menyajikan kekocakan-kekocakan, hiburan-hiburan serta harapan-harapan.

SEMAR

(44)

diterima? Dalam beberapa detik, semuanya berubah. Dalam satu hentakan segala sumber kehidupan dikeringkan bersama-sama. Dan….

Badut lain menampilkan diri sebagai badut-badut bisu.

SEMAR

Seketika para badut dan para penyanyi bisu bersama-sama.

NABI

Kalian hanya terlalu capek, yang kalian perlukan hanyalah hiburan, miuman dan makanan.

NYANYIAN

Tak pernah mutlak gelap Tak pernah mutlak gelap Tak pernah mutlak senyap Tak pernah mutlak senyap Tak pernah mutlak gelap Tak pernah mutlak gelap Mesti ada setitik cahaya Meski setitik setitik hanya

WASKA

Bencana telah dibencanakan oleh semangatku oleh ruhku, oleh namaku. Waska, Waska, Waska…..

KOOR

Waska, Waska, Waska…..

WASKA

Peran Waska akan tampil memecah puing-puing yang berserakan sepanjang tepi senja, akan menghidupkan mayat-mayat dan dendam kesumat.

KOOR

Waska, Waska, Waska…..

WASKA

Peran Waska akan tampil memberi ruh pada jasadku yang lunglai kecapekan, yang kosong, yang gosong yang bagai kepompong.

KOOR

Uuuuuuuuuuuu…..

WASKA

Langit hanya berisi angin hari itu dan warna hitamku tumpah di seantero di mana-mana dan aku Waska sedang minum air kelapa.

TARKENI

(45)

WASKA

Ada apa anakku? Kenapa menangis pilu itu?

TARKENI

Sakit kepalaku sampai ke kalbu lantaran dipukul suamiku.

WASKA

Madekur!!!

MADEKUR

Madekur luka hatinya, disobek-sobek oleh cemburu buta.

WASKA

Ya, karena belum matang jiwanya.

NABI I

Saya kira bukan soal matang, Semar. Kau belum tahu persoalannya seperti juga penonton yang lain.

WASKA

Pengalaman Waska sama kaya dengan alam

NABI I

Pengalaman saya sebaliknya, hanya sepertiga. Tapi dalam persoalan Madekur, saya yakin kau terlalu tergesa.

KOOR

Sebagai suami yang baik, Madekur semakin giat mencopet. Sebagai istri yang baik tarkeni semakin giat melonte.

Begitulah, pada suatu malam

Adalah enam belas lelaki antre depan Tarkeni

Lantaran Tarkeni semakin popular goyang pinggulnya Dan Madekur suaminya terselip sebagai lelaki ke enam belas Menunggu giliran dan jatah kemesaraan

WASKA

Lalu karena dia juga mendapat perlakuan sama seperti lelaki lain, Madekur cemburu.

SESEORANG

Apa kau juga bayar seperti lelaki lain?

MADEKUR

Sudah pasti dan saya bisa pastikan saya membayarnya dengan tarif tertinggi yang tidak akan pernah orang mau. Kalian bisa bayangkan betapa kecewa hati saya, malam itu., sementara berahi meregang-regang, sementara hasil uang copetan di tangan akan kuserahkan, saya harus menunggugiliran ke enam belas tanpa kebijaksanaan sedikitpun.

WASKA

(46)

MADEKUR

Bukan karena itu. Itu soal kecil. Ada soal yang lebih besar.

NABI I

Percaya gak? Saya bisa pastikan….

WASKA

Jangan menduga-duga, dengar saja faktanya.

MADEKUR

Inilah soal besar itu: diantara ke enam belas lelaki tersebut adalah Maskat sahabatnya, yang ikut bersetubuh dengan Tarkeni.

WASKA

Apa salah Maskat kalau lelekai-lelaki yang lain berbuat serupa?

MADEKUR

Aku yang meyalahkan!!!

LALU DIA BERKELAHI DENGAN MASKAT SAMPAI MASKAT BABAK BELUK SEMENTARA ORANG-ORANG MELERAIKAN.

MADEKUR

Dengan ini saya umumkan beberapa ketentuan tata-tertib praktek pelacuran Tarkeni: 1. Persetubuhan boleh berlangsung atas dasar suka sama suka.

2. Tarif persetubuhan damai dan dibayar di muka

3. Setiap yang merasa sebagai lelaki boleh ikut dalam transaksi tersebut, kecuali saudara-saudara/famili/sahabat/kerabat dan suaminya.

4. Ketentuan ini berlaku surut, mulai beberapa saat yang lalu Dan kau terkena ketentuan itu, Maskat!!!.

TARKENI

Aku tidak terima. Aku tidak terima. Ini sama sekali tidak adil kalau dia boleh mencopet siapa saja, kenapa saya tidak boleh ebrsetubuh dengan siapa saja?

WASKA

Apa komentar tuanku?

NABI I

Saya menganggap kecemburuan Madekur pada tempatnya.

WASKA

Ya, memang pada tempatnya, dan tempatnya adalah jiwa yang mentah. Madekur!!!

MADEKUR

Ya bapak.

(47)

Kau tahu kenapa orang cemburu!?

MADEKUR

Tahu bapak. Karena mukanya jelek

WASKA

Apa mukamu jelek?

MADEKUR

Tidak, bapak.

WASKA

Kalau begitu, kamu tidak usah cemburu dan ketentuan tata tertib di atas dengan ini aku batalkan.

MADEKUR

Jadi, bapak?

WASKA

Tarkeni bebas berstubuh dengan siapa saja, di bayar atau tidak, di muka atau di belakang. KETIKA WASKA MENCARI TEMPAT DUDUK, ORANG-ORANG SAMA MENYINGKIR MEMBERIKAN TEMPATNYA, DAN TARKENI SELALU DI SISINYA. SEPERTI PUTRID KESAYANGANNYA

WASKA

Aku kecewa sekali kau bertingkah kayak bocah. Seharusnya dulu tak kuijinkan kalian kawin seperti juga saudar-saudara kalian yang lain.

NABI I

Kenapa mereka diijinkan? Apa itu tak bertentangan dengan watak Waska?

SEMAR/WASKA

Apa Waska berwatak? Lagi waska anggap saja perkawinan itu sebagai salah satu bentuk rekreasi dan dengan alas an itu ia mengijinkan perkawinan mereka (selanjutnya pada Madekur sebagai Waska) Tapi itu tidak berarti kuijinkan segala tetek bengek persoala-persoalan seperti cemburu, pertengkaran pura-pura dan tangis-tangisa. Apa itu? Lebih berharga air kelapa!!

TIBA-TIBA WASKA MENYEMBURKAN AIR KELAPA DARI MULUTNYA KEA RAH MADEKUR DAN TARKENI

WASKA

Referensi

Dokumen terkait

Ya bawa senang dengan makan, saya kalau makan sampai sekarang pengennya yang enak-enak, sampai-sampai saya kena lagi stroke ni, ya saya menganggap gak ada penyakit aja,

Saya malah senang menjadi lesbian dan subjek 266 kalau mereka bertanya, karena kalau gak kan mereka dengan terbuka menjelaskan 267 bisa jadi musuh dalam selimut yang

Biar dia juga ada teman bicara kalau lagi susah atau gimana, karena saya orang tua dia satu-satunya jadi saya harus selalu siap kalau dia butuh saya untuk cerita... Kalau anak

untuk akhlak terhadap hewan yang saya lakukan yaitu selau menasehati anak saya untuk sayang hewan, makanya sekarang anak saya kalau sama kucing sayang sekali sampai dikasih

Jawab: Saya malah senang mas anak saya masuk di PAUD, lha disana malah menjadi anak yang mandiri we (dengan senyum), sekarang sudah bisa ganti pakaian sendiri, makan sendiri

Pernah, jadi kakak saya itu kalau d rumah saya selalu cerita tentang anaknya, karena kakak saya iitu sangat peduli, waktu itu pernah tanya sama saya apakah anak saya itu kalau

Jawab: Saya malah senang mas anak saya masuk di PAUD, lha disana malah menjadi anak yang mandiri we (dengan senyum), sekarang sudah bisa ganti pakaian sendiri, makan sendiri

Jadi kalau yang ditanyakan ke saya akan beda jawabannya kalau ditanyakan ke anak yang lebih muda, kalau saya sendiri kan dulunya bekerja di swasta tapi kan karena usia saya sudah usia