• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sesi keempat, kekerasan seksual

Dalam dokumen PRAKTIK PELATIHAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK (Halaman 93-98)

PRAKTIK PENDIDIKAN SEKS DI SD AL-AZHAR 20 CIBUBUR

3.2 Implementasi Praktik Pendidikan Seks

3.2.4 Sesi keempat, kekerasan seksual

Usai materi tentang dorongan seksual, kemudian materi yang keempat adalah mengenai kekerasan seksual. Seperti biasa sebelum memulai materi diawali terlebih dahulu dengan games, diketahui bahwa para peserta merupakan siswa SD maka pemilihan games sebelum dimulainya materi untuk mengembalikan fokus siswa. Games yang dipilih yaitu games kucing tikus, fasilitator meminta 2 orang untuk menjadi kucing dan tikus. Tikus harus menuliskan barang/benda kesayangannya yang paling dijaga pada kertas karton yang akan dikalungkan dan kucing harus merampas

57

Kutipan pendapat siswa pada saat proses pelatihan berlangsung, , 26 Februari 2014, Lokasi: di kelas SD Al-Azhar 20 Cibubur

kertas karton yang dikalungkan oleh tikus tersebut. Maksud dari games ini adalah kita harus bisa menjaga apa yang kita miliki apalagi jika itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Games ini jadi pengantar untuk materi pelecehan seksual karena masih saling berkaitan.

Seteah games usai fasilitator menjelaskan kepada peserta tentang bentuk-bentuk pelecehan seksual dan bagaimana mencegah agar tidak terjadi pelecehan seksual. Pada materi ini peserta sangat antusias sekali, banyak dari mereka yang menceritidak an pengalamannya berkaitan dengan pelecehan seksual baik yang terjadi di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Setelah itu fasilitator mengadakan Simulasi mengenai bagaimana harus bersikap atau menghadapi pelecehan yang terjadi diluar. Secara keseluruhan selama pemberian materi berlangsung peserta memang terlihat antusias terbukti dengan banyaknya peserta yang bertanya pada setiap materi yang disampaikan. Terdapat temuan-temuan baru ketika para siswa diberikan waktu luang untuk bercerita mengenai kejadaian pelecehan seksual terhadap pribadi atau melihat kejadian tersebut pada orang lain. Salah seorang siswa cerita bahwa dia pernah menjadi korban pelecehan seksual oleh teman sekelasnya. Gadis kecil berinisial NA tersebut mengatakan:

Waktu itu guru matematika sedang ada di meja guru, ibu guru meminta mengumpulkan tugas jika telah kelar. Aku dan teman-teman segera mengumpulkan sehingga meja guru ramai, tiba-tiba salah seorang teman aku yang berinisial HL dengan sengaja merangkul, aku kaget tapi takut untuk lapor ke guru.58

58

Kutipan pendapat siswa pada saat proses pelatihan berlangsung, , 26 Februari 2014, Lokasi: di kelas SD Al-Azhar 20 Cibubur

Peristiwa tersebut memang bukanlah fenomena biasa dalam kehidupan anak sekolah, namun kenyataan tidak bisa ditampik bahwa semakin seringnya perilaku seksual yang sering dilakukan oleh siswa. Malu dan marah menjadi siswi berinisial N, tapi tindakan HL tidak berani ia laporkan kepada guru hal tersebut dikarenakan si N malu untuk melapor. Tindakan HL sebenarnya telah memasuku perilaku yang tidak konformis dengan nilai dan norma, setelah diusut ternyata N bukanlah korban pertama dari HL ada beberapa temannya juga yang telah menjadi korban.

Selain siswi berinisial N ada juga siswi lain yang mulai berani bercerita, kisah ini bukan pribadi tentang dirinya namun pengalaman yang telah disaksikan langsung olehnya. Inisial siswa tersebut adalah AN.

Saya pernah digodain dan diajak ke rumah kakek-kakek, kebetulan deket dengan rumah saya. dan ternyata kakek-kakek tersebut sering melakukan pelecehan seksual kepada beberapa anak kecil yang ada dilingkungan rumah, untung saya gak mau diajak ke rumahnya.59

Selain kasus tersebut harus segera diatasi ada titik di mana mengenai ketegasan sikap berupa asertif. diketahui korban-korban telah berjatuhan, mereka ketika ditanya oleh fasilitator apa yang dilakukan setelah kejadian, cuma diam dan tidak berani melapor atau bertindak terhadap pelaku. Sikap asertif atau melakukan penolakan secara halus harusnya diajarkan, serta keberanian dalam melakukan tindakan seperti melapor atau menegur palaku perlu dilatih.

59

Kutipan pendapat siswa pada saat proses pelatihan berlangsung, 26 Februari 2014, Lokasi: di kelas SD Al-Azhar 20 Cibubur

Seusai para peserta menceritakan pengalamannya Co. Faslitator menuliskan cerita-cerita yang muncul dari mereka, selanjutnya nama-nama pelaku dan korban segera dituliskan. Nama pelaku dan korban yang ditulis nantinya akan diberikan kepada guru BK agar pelaku dapat diberi teguran dan pengawasan sedangkan korban dapat langsung dikonseling oleh guru BK agar tidak terjadi trauma yang mendalam. Pernyataan-pernyataan yang muncul dari para korban dapat dianalisa bahwa siswa laki-laki di sekolah tersebut belum bisa mengkontrol dorongan seksual sehingga timbul perilaku seksual seperti memegang dada siswi dan menyentuh vagina. Sekolah tersebut merupakan berisikan para anak-anak dari kaum borjusi gadget dan internet bukanlah hal mewah, kebanyakan dari mereka timbulnya dorongan seksual dari gadget dan internet. Seorang siswa pernah bilang bahwa si HL menyalakan infocus di kelas dan menonton video clip seksi berupa wanita berbikini, hal tersebut dapat terjadi karena adanya fasilitas yang menunjang dan dilakukan ketika pengawasan guru sedang lemah. Terlebih lagi para korban tidak berani untuk bertindak minimal berteriak ketiak pelecehan seksual terjadi terhadap dirinya, pendidikan seks di sekolah mengajarkan cara menolak secara halus terkait pelecehan bahkan mengajarkan tindakan perlawan untuk hal tersebut.

Semua materi telah selesai kemudian fasilitator mengajak peserta untuk duduk bersama membentuk sebuah lingkaran kecil. Fasilitator meminta tiap peserta untuk memberikan kesan pesannya untuk pemberian informasi kesehatan reproduksi ini. Kemudian peserta diminta untuk menuliskan apa yang diharapkan untuk dirinya sendiri, misalnya “aku ingin menjadi remaja sehat dan bermanfaat. Lalu peserta

menempelkan post it tersebut ke pohon harapan yang telah dibuat. Serangkaian kegiatan pemberian informasi selesai, terakhir Co. Fasilitator membagikan kembali post test, yang tujuanya adalah untuk mengetahui perubahan pengetahuan yang telah mereka dapatkan setelah pemberian informasi. Co. Fasilitator menutup kegiatan dengan doa dan memberikan peserta alamat facebook, twitter serta kontak tim CMM yang bisa dihubungi apabila ada pertanyaan lebih lanjut serta ada peserta yang ingin melakukan konseling atau konsultasi

BAB IV

Dalam dokumen PRAKTIK PELATIHAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK (Halaman 93-98)