KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI Pengelolaan Kolaboratif Sumberdaya Hayati
PENGARUH MODEL KAMPUNG KONSERVASI TERHADAP EKONOMI MASYARAKAT DAN KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI
6. Kalender Musim Nafkah 1. Sebelum MKK
6.2. Setelah/saat MKK Jenis Nafkah Frekuensi
Panen
Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Pertanian
75
Lampiran 5 Panduan pertanyaan A. Panduan Pertanyaan untuk Responden
1. Menurut anda seberapa penting sumberdaya alam yang ada di kawasan TNGHS bagi perekonomian keluarga?
2. Apa pendapat anda ketika balai pengelola TNGHS memperkenalkan Model Kampung Konservasi?
3. Bagaimana peran pihak lain dalam memfasilitasi masyarakat terhadap model kampung konservasi?
4. Bagaimanakah akses anda dalam memperoleh sumberdaya hutan? (sebelum dan sesudah MKK)
5. Seperti apakah akses yang diperbolehkan atau dilarang oleh pengelola TNGHS kepada masyarakat? (sebelum dan sesudah MKK)
6. Bagaimana sistem pembagian hasil dari pemanfaatan lahan atau kegiatan terkait dengan akses? (sebelum dan sesudah MKK)
7. Apakah terdapat kesulitan yang dirasakan oleh anda saat melaksanakan kegiatan pertanian dan non-pertanian terkait akses? (sebelum dan sesudah MKK)
8. Apakah terdapat perbedaan ketika sebelum dan sesudah adanya Model Kampung Konservasi terkait dengan perekonomian masyarakat di sekitar wilayah TNGHS?
9. Bagaimana cara anda memenuhi kebutuhan hidup selama tinggal di Kampung Sukagalih?
10. Apa yang anda harapkan dari pengelolaan sumberdaya alam di kawasan TNGHS, terkait dengan adanya Model kampung Konservasi?
B. Panduan Pertanyaan Informan (Aparat Desa dan Pakar/Ahli)
1. Dimanakah letak Kampung Sukagalih, Desa Cipeuteuy? Berada di kawasan dalam atau luar dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak?
2. Bagaimana pendapat anda mengenai kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya alam yang ditetapkan dan diatur oleh TNGHS berupa Model Kampung Konservasi?
3. Menurut pendapat anda, apakah ekonomi masyarakat mengalami perubahan dari sebelum adanya MKK dengan sesudah adanya MKK?
4. Seperti apa sajakah perubahan yang terjadi dari adanya Model Kampung Konservasi?
5. Bagaimana akses masyarakat dalam memperoleh sumberdaya (yang diperbolehkan dan yang dilarang) pada kawasan TNGHS sebelum dan sesudah adanya MKK?
6. Bagaimanakah pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat terkait dengan konservasi sumberdaya alam?
7. Apakah pengetahuan lokal tersebut masih dilestarikan oleh masyarakat hingga kini (setelah ada MKK)? Bagaimana pengetahuan lokal masyarakat sebelum adanya MKK?
8. Apasajakah jenis-jenis yang dikonservasi oleh masyarakat dan pengelolan taman nasional?
76
a. Akses dan kepemilikan (yang diperbolehkan/dilarang)?
b. Aturan-aturan apasaja yang terdapat di Kampung Sukagalih mengenai pengelolaan sumberdaya hutan terkait pada MKK?
c. Sanksi yang akan didapatkan apabila terjadi pelanggaran?
d. Kegiatan yang dilakukan secara intensif oleh masyarakat dan pengelola taman nasional?
10. Bagaimana harapan anda terhadap masyarakat yang tinggal di kawasan TNGHS? Apa harapan anda terhadap Model kampung Konservasi yang dilaksanakan di desa ini?
C. Panduan Pertanyaan Informan (Pengelola Taman Nasional Gunung Halimun Salak)
1. Jelaskan mengenai latar belakang dari Model Kampung Konservasi yang terdapat pada Taman Nasional Gunung Halimun Salak?
2. Apa saja yang menggagas atas ide Model Kampung Konservasi?
3. Apa pendapat anda mengenai keberadaan Model kampung Konservasi di masyarakat yang tinggal di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak?
4. Apa pendapat anda mengenai pengaruh penetapan Model kampung Konservasi di wilayah TNGHS bagi kehidupan ekonomi masyarakat? 5. Apakah terdapat perbedaan pandangan antara pihak TNGHS dan
masyarakat terkait pemanfaatan sumberdaya alam dengan Model kampung Konservasi? Bagaimana upaya yang dilakukan untuk mengatasi perbedaan pandangan tersebut?
6. Bagaimanakah peran dari masing-masing pihak dalam Model Kampung Konservasi?
7. Dengan upaya kolaboratif tersebut apakah dapat dijadikan sebagai upaya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar kawasan taman nasional Gunung Halimun Salak?
8. Bagaimana keadaan lingkungan dalam atau sekitar kawasan taman nasional sebelum dan sesudah terdapat program Model Kampung Konservasi?
9. Bagaimana ketentuan mengenai:
a. akses dan kepemilikan (yang diperbolehkan/dilarang)?
b. aturan-aturan yang ada tentang pengelolaan sumberdaya hutan? c. sanksi yang akan didapatkan apabila terjadi pelanggaran? d. kegiatan yang dilakukan secara intensif kepada masyarakat 10. Seperti apa keberlanjutan program Model Kampung Konservasi?
77
Lampiran 6 Dokumentasi
Persiapan mulsa pada lahan garapan Tanaman cabai dan kacang pada mulsa
Papan informasi adopsi pohon “Yamaha Green United”
Papan informasi adopsi pohon “Yamaha Jelajah Alam”
Kegiatan adopsi pohon oleh peserta Papan informasi pada zona inti
78
Saung masyarakat Kampung Sukagalih Cabai siap panen
Papan informasi kawasan TNGHS Salah satu bantuan kepada masyarakat
Papan informasi “Pencanangan Pengelolaan Zona Khusus TNGHS
Bersama Masyarakat (MKK)”
Domba hasil ternak oleh masyarakat Kampung Sukagalih dengan bantuan
79
86
87
Lampiran 9 Kriteria Penetapan Kawasan dan Zonasi Taman Nasional Berdasarkan PP No. 68 Tahun 1998 dan Permenhut No. P.56/Menhut-II/2006
Kriteria Penetapan Taman Nasional (PP No. 68 Tahun 1998) • Mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses secara alami
• Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami • Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang amsih utuh
• Memiliki keadaan alam yang asli & alami untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam
• Merupakan kawasan yang dapat dibagi ke dalam zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba dan zona lain karena pertimbangan kepentingan rehabilitasi kawasan, ketergantungan penduduk sekitar kawasan, dan dalam rangka mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dapat ditetapkan sebagai zona tersendiri
Kriteria Penetapan Zona (Permenhut No. P.56/Menhut-II/2006)
Zona Taman Nasional
Zona Inti Zona
Rimba Zona Pemanfaatan Zona Lain Zona Tradisional Zona Rehabilitasi
Zona Religi, Bud & Sejarah
Zona Khusus • Mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa
serta ekosistem ▪ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐
• Mewakili formasi biota tertentu & atau unit-unit
penyusunnya ▪ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐
• Mempunyai kondisi alam yg masih asli & tidak atau
belum diganggu manusia ▪ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐
• Mempunyai luas yang cukupdan bentuk tertentu yg menunjang pengelolaan yg efektif & menjamin berlangsungnya proses ekologis secara alami
▪ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐
• Mempunyai ciri khas potensinya & dapat menjadi contoh yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi
▪ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐
• Mempunyai komunitas tumbuhan & atau satwa serta ekosistemnya yg langka atau keberadaannya terancam punah
▪ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐
• Merupakan habitat satwa dan/atau tumbuhan tertentu yg
prioritas & khas/endemik ▪ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐
8
Kriteria Penetapan Zona (Permenhut No. P.56/Menhut-II/2006)
Zona Taman Nasional Zona Inti Zona
Rimba Zona Pemanfaatan Zona Lain Zona Tradisional Zona Rehabilitasi Zona Religi, Bud & Sejarah
Zona Khusus
• Merupakan tempat aktivitas & kehidupan satwa migran ▪ ▪ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐
• Kawasan yang merupakan habitat atau daerah jelajah untuk melindungi & mendukung upaya
perkembangiakan jenis satwa
‐ ▪ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐
• Memiliki ekosistem dan/atau keanekaragaman jenis yang mampu menyanga pelestarian zona inti & zona
pemanfaatan
‐ ▪ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐
• Mempunyai daya tarik alam/formasi ekosistem
tertentu/geologi yg indah & unik ‐ ‐ ▪ ‐ ‐ ‐ ‐
• Mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi & daya tarik untuk pariwisata & rekreasi alam
‐ ‐ ▪ ‐ ‐ ‐ ‐
• Kondisi lingkungan di sekitarnya yang mendukung pemanfaatan jasa lingkungan, pengembangan pariwisata alam, rekreasi, penelitian & pendidikan
‐ ‐ ▪ ‐ ‐ ‐ ‐
• Merupakan wilayah yang memungkinkan dibangun sarana prasarana bagi kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan, pariwisata alam, rekreasi, penilitian & pendidikan
‐ ‐ ▪ ‐ ‐ ‐ ‐
• Tidak berbatasan langsung dengan zona inti ‐ ‐ ▪ ‐ ‐ ‐ ▪
• Adanya potensi dan kondisi sumber daya alam hayati non kayu tertentu yang telah dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat setempat
‐ ‐ ‐ ▪ ‐ ‐ ‐
8
Kriteria Penetapan Zona (Permenhut No. P.56/Menhut-II/2006)
Zona Taman Nasional Zona Inti Zona Rimba Zona Pemanfaatan Zona Lain Zona Tradisional Zona Rehabilitasi Zona Religi, Bud & Sejarah Zona Khusus • Di wilayah perairan terdapat potensi dan kondisi
sumber daya alam tertentu yg telah dimanfaatkan melalui kegiatan perkembangbiakan, perbanyakan & pembesaran oleh masyarakat setempat
‐ ‐ ‐ ▪ ‐ ‐ ‐
• Adanya perubahan fisik, sifat fisik dan hayati yang secara ekologi berpengaruh kepada kelestarian ekosistem yang pemulihannya memerlukan campur tangan manusia
‐ ‐ ‐ ‐ ▪ ‐ ‐
• Adanya invasi spesies yang menggangu jenis dan
spesies asli dalam kawasan ‐ ‐ ‐ ‐ ▪ ‐ ‐
• Pemulihan kawasan dimaksud sekurang-kurangnya
memerlukan waktu 5 tahun ‐ ‐ ‐ ‐ ▪ ‐ ‐
• Adanya lokasi untuk kegiatan religi yang masih
dipelihara dan dipergunakan oleh masyarakat ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ▪ ‐
• Adanya situs budaya dan sejarah baik yang
dilindungi undang-undang maupun tidak dilindungi undang-undang
‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ▪ ‐
• Telah terdapat sekelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupan sebelum wilayah tsb
ditunjuk/ditetapkan sebagai taman nasional
‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ▪
• Telah terdapat sarana prasarana telkom, fasilitas transportasi & listrik sebelum wilayah tsb ditunjuk/ditetapkan sebagai taman nasional
‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ▪
91
Lampiran 11 Glosarium
No. Istilah Pengertian
1 TNGH Taman Nasional Gunung Halimun 2 TNGHS Taman nasional Gunung Halimun Salak
3 BTNGHS Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, pengelola kawasan komservasi
4 Stakeholer Pemangku kepentingan 5 MKK Model Kampung Konservasi
6 PHKA Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam
7 MoU Memorandum of Understanding
8 Hutan Produksi
Hutan yang memberikan hasil hutan berupa kayu dan non-kayu
9 Hutan Konservasi
Kawasan hutan yang difungsikan untuk menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati seperti tumbuhan, satwa dan ekosistem didalamnya
10 SISDUK Sistem Dukungan, proyek yang pertama kali diterapkan dengan masa uji coba tiga tahun (2008-2010), merupakan kerja sama, Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Pemerintah Kabupaten Sukabumi, dan Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) dan masyarakat. Diharapkan dari program tersebut masyarakat dapat mandiri, tak bergantung pada hasil hutan.
11 FO Field Officer, petugas lapang
12 KOPEL Kelompok Pelestari Lingkungan, kelompok yang di bentuk oleh masyarakat Kampung Sukagalih
13 Property Resource Kepemilikan sumberdaya 14 Common Pool Resource
Ostrom (1990), sumber daya yang merupakan milik bersama, yang terdiri dari sistem sumber daya alam atau buatan manusia, yang ukuran atau karakteristiknya merupakan komoditi mahal, untuk memberikan pengecualian terhadap penerima manfaat potensial dari penggunaan sumberdaya tersebut. Tidak seperti barang publik murni, sumberdaya alam milik bersama menghadapi beberapa masalah atas keadaaan yang tidak terukur. Sementara sumber daya inti yang akan dilindungi atau dipelihara sangat memungkinkan untuk eksploitasi terus-menerus dengan unit pinggiran dapat dipanen atau dikonsumsi. Sumberdaya yang pengelolaannya tidak bisa menolak orang lain untuk memanfaatkan karena memerlukan besarnya biaya dalam pengelolaannya.
15 Tragedy of the
common
Keadaan saat sumberdaya alam yang dimanfaatkan secara terus-menerus untuk kepentingan pihak-pihak tertentu sehingga merugikan orang lain
16 Tumpang Sari
Cara bertanam dengan dua atau lebih tanaman pada satu area lahan tanam dalam waktu yang bersamaan
92