PROFIL PENGANGGURAN 2001 ‐ 2006
2.6. Setengah Pengangguran
2.6.1. Setengah Pengangguran Terpaksa
2.6.1.1. Setengah Pengangguran Terpaksa menurut Propinsi, 2002‐2006
Berdasarkan Tabel 2.5 dapat dilihat bahwa propinsi yang memiliki TSP Terpaksa terendah selama periode tahun 2002‐ 2006 adalah DKI Jakarta yaitu hanya berkisar antara 2,37 persen sampai dengan 3,67 persen, sedangkan propinsi yang memiliki TSP Terpaksa tertinggi berbeda‐beda setiap tahunnya. Pada tahun 2002 Papua menjadi propinsi dengan TSP Terpaksa tertinggi yaitu sebesar 18,85 persen, sedangkan tahun 2003 propinsi NTB yaitu sebesar 23,68 persen. NTT dengan TSP Terpaksa sebesar 23,36 persen menjadi yang tertinggi pada tahun 2004. Pada tahun 2005 bulan Pebruari posisi TSP
bulan Nopember diduduki oleh NTT yaitu sebesar 24,20 persen, sedangkan pada tahun 2006 bulan Pebruari dan Agustus posisi TSP Terpaksa tertinggi ditempati oleh propinsi yang sama yaitu Sulawesi Barat.
Tabel 2.5. Tingkat Setengah Penganggur Terpaksa menurut Propinsi, Tahun 2002 – 2006
PEB NOP PEB AGT
NAD 17,70 21,22 16,36 17,54 19,70 18,33 17,29 SUMATERA UTARA 11,25 11,52 9,56 12,08 13,94 11,72 9,91 SUMATERA BARAT 13,55 14,31 13,88 14,61 15,03 14,21 16,11 RIAU 14,15 10,99 16,05 11,08 11,92 15,25 18,52 JAMBI 16,72 11,68 13,82 17,25 13,47 13,50 13,21 SUMATERA SELATAN 14,29 14,15 13,62 13,38 11,93 14,16 12,94 BENGKULU 7,89 8,13 12,72 11,09 8,90 10,47 10,88 LAMPUNG 11,41 10,87 12,05 10,35 11,72 11,32 13,31 BABEL 12,56 10,03 14,91 13,82 13,18 12,41 13,36 KEP. RIAU - - - - - 8,69 5,94 DKI JAKARTA 2,37 2,78 2,68 3,15 3,12 3,67 3,43 JAWA BARAT 9,98 10,96 10,48 11,33 9,96 10,28 11,41 JAWA TENGAH 11,03 11,80 11,95 12,84 12,97 12,57 12,13 DI YOGYAKARTA 10,16 8,60 10,02 8,93 9,27 8,87 8,44 JAWA TIMUR 13,74 15,33 16,09 16,73 14,43 17,04 15,23 BANTEN 8,56 7,46 10,66 10,46 11,29 9,44 8,19 BALI 10,84 12,88 15,41 12,85 11,80 11,30 13,10 NTB 17,68 23,68 20,95 23,07 21,22 21,38 18,56 NTT 16,88 18,11 23,36 20,29 24,20 24,84 19,14 KALIMANTAN BARAT 15,19 14,59 11,21 16,31 16,93 12,74 12,56 KALIMANTAN TENGAH 9,15 9,65 7,61 10,85 13,39 14,58 13,92 KALIMANTAN SELATAN 14,04 16,19 11,93 14,64 17,35 14,97 17,43 KALIMANTAN TIMUR 9,85 7,76 7,29 13,24 9,90 11,59 10,95 SULAWESI UTARA 13,47 12,65 14,81 13,41 13,35 14,00 11,80 SULAWESI TENGAH 14,80 15,73 16,57 16,23 21,56 17,19 21,48 SULAWESI SELATAN 17,49 17,70 17,26 18,23 17,88 19,11 13,55 SULAWESI TENGGARA 18,43 22,35 19,44 17,78 18,51 22,20 19,96 GORONTALO 13,82 12,45 15,57 11,37 19,62 16,50 13,80 SULAWESI BARAT - - - - - 26,93 26,89 MALUKU 10,45 15,21 4,66 10,13 11,27 5,33 11,00 MALUKU UTARA 7,64 15,79 5,50 17,15 18,15 16,80 21,37 PAPUA BARAT - - - - - 14,63 18,91 PAPUA 18,85 22,52 17,96 18,40 13,91 7,86 16,66 TOTAL 12,09 12,89 12,91 13,53 13,13 13,37 12,95 2006 PROPINSI 2002 2003 2004 2005 Sumber : Sakernas 2002‐2006, BPS
http://www.bps.go.id
Ada beberapa propinsi yang TSP Terpaksa pada bulan Agustus 2006 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2002, tiga diantaranya yang cukup signifikan adalah Sulawesi Selatan, Jambi dan Kalimantan Barat. TSP Terpaksa Sulawesi Selatan tahun 2002 sebesar 17,49 persen sedangkan Agustus 2006 sebesar 13,55 persen, TSP Terpaksa Jambi tahun 2002 sebesar 16,72 persen sedangkan Agustus 2006 sebesar 13,21 persen dan TSP Terpaksa Kalimantan Barat tahun 2002 sebesar 15,19 persen sedangkan Agustus 2006 hanya sebesar 12,56 persen.
2.6.1.2. Setengah Pengangguran Terpaksa menurut Jenis Kelamin, 2001‐2006
Secara umum TSP Terpaksa perempuan lebih tinggi dibanding dengan TSP Terpaksa laki‐laki , hal ini dapat dilihat pada Grafik 2.2. Pada tahun 2001‐2006 TSP Terpaksa perempuan berkisar antara 13,09 persen sampai dengan 14,96 persen sedangkan TSP Terpaksa laki‐laki hanya berkisar antara 10,60 persen sampai dengan 12,68 persen.
Grafik 2.2 Tingkat Setengah Penganggur Terpaksa menurut Jenis Kelamin Tahun 2001‐2006 10,60 11,51 11,88 11,74 12,68 12,24 12,47 12,22 13,16 13,09 14,59 14,93 14,96 14,71 14,95 14,22 10,00 11,00 12,00 13,00 14,00 15,00 16,00
2001 2002 2003 2004 Peb '05 Agt '05 Peb '06 Agt '06
LAKI-LAKI PEREMPUAN
Sumber: Sakernas 2001‐2006, BPS
Pada periode tahun 2001‐2006, TSP Terpaksa baik laki‐ laki maupun perempuan cenderung meningkat. TSP Terpaksa laki‐laki pada tahun 2001 sebesar 10,60 persen naik sebesar 1,62 persen menjadi 12,22 persen pada Agustus 2006, begitu pula dengan TSP Terpaksa perempuan sebesar 13,16 persen pada tahun 2001 naik sebesar 1,06 persen menjadi 14,22 persen pada Agustus 2006.
TSP Terpaksa tertinggi baik pada perempuan maupun laki‐laki selama kurun waktu 6 tahun sejak 2001 terjadi pada bulan Pebruari 2005. TSP Terpaksa perempuan mencapai 12,68 persen sedangkan laki‐laki mencapai 14,96 persen. TSP Terpaksa terendah periode tahun 2001‐2006 untuk laki‐laki terjadi pada tahun 2001 yaitu sebesar 10,60 persen dan untuk perempuan pada tahun 2002 yaitu sebesar 13,09 persen. 2.6.1.3. Setengah Pengangguran Terpaksa menurut Tingkat Pendidikan, 2001 ‐ 2006 Setengah Penganguran Terpaksa masih didominasi oleh kelompok dibawah pendidikan Sekolah Dasar (SD) yaitu kelompok yang tidak/belum sekolah dan tidak/belum tamat SD serta kelompok yang berpendidikan SD. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.6 yaitu tiga TSP Terpaksa tertinggi pada periode tahun 2001‐2006 berkisar antara tiga kelompok tersebut. Pada 2001 posisi TSP Terpaksa tertinggi pertama diduduki oleh tidak/Belum tamat SD yaitu sebesar 14,33 persen, sedangkan tertinggi kedua ditempati oleh tidak/belum
Sumber: Sakernas 2001‐2006, BPS
tamat sekolah yaitu sebesar 13,42 persen dan tertinggi ketiga oleh pendidikan SD yaitu sebesar 13,26 persen, begitu pula pada Agustus 2006 TSP Terpaksa tertinggi pertama ditempati oleh tidak/belum tamat SD yaitu sebesar 16,40 persen, tertinggi kedua oleh tidak/belum sekolah yaitu sebesar 16,32 persen dan tertinggi ketiga oleh pendidikan SD yaitu sebesar 15,86 persen. Tabel 2.6. Tingkat Setengah Penganggur Terpaksa menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Tahun 2001 ‐ 2006
PEB NOP PEB AGT
TDK/BLM SEKOLAH 13,42 15,84 19,62 18,70 17,90 17,53 15,04 16,32 TDK/BLM TAMAT SD 14,33 15,46 17,26 16,91 16,93 14,18 17,22 16,40 SD 13,26 13,59 14,75 15,02 15,81 13,56 16,26 15,86 SLTP UMUM/SMP 11,04 11,51 12,44 12,06 13,11 13,24 13,00 12,75 SLTP KEJURUAN 11,26 10,83 11,78 11,73 12,34 12,59 14,95 14,40 SLTA UMUM/SMU 7,49 7,55 7,34 7,74 8,85 12,16 8,26 8,01 SLTA KEJURUAN/SMK 6,74 7,08 5,99 6,93 7,82 11,33 6,90 6,78 DIPLOMA I/II 7,57 5,30 7,34 8,62 9,76 11,29 8,66 9,71 AKADEMI/DIPLOMA III 4,21 4,38 3,67 6,13 4,83 12,14 5,96 5,34 UNIVERSITAS 7,13 6,98 6,73 7,00 7,44 13,03 6,00 5,50 TOTAL 11,58 12,09 12,89 12,91 13,53 13,13 13,37 12,95 2005 2006 2001 2002 2003 2004 PENDIDIKAN TERTINGGI
Pada Agustus 2006 TSP Terpaksa menurut pendidikan tertinggi cenderung mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2001 pada semua tingkat pendidikan kecuali Universitas. TSP
Terpaksa tingkat pendidikan Universitas sebesar 7,13 persen pada tahun 2001 mengalami penurunan sebesar 1,63 persen menjadi 5,50 persen pada Agustus 2006.
2.6.1.4. Setengah Pengangguran Terpaksa menurut Kelompok Umur, 2001‐2006
Merujuk pada Tabel 2.7, TSP Terpaksa menurut kelompok umur tahun 2001‐2006, kelompok umur (15‐19) tahun mempunyai TSP Terpaksa yang paling tinggi dibandingkan dengan kelompok umur lainnya yaitu sebesar 17,26 persen pada tahun 2001 dan 16,51 persen pada Agustus 2006. Posisi TSP Terpaksa tertinggi kedua dan ketiga diduduki oleh kelompok umur (20‐24) tahun dan (25‐29) tahun yaitu sebesar 13,83 persen dan 12,26 persen pada tahun 2001 dan sebesar 15,01 persen dan 13,54 persen pada Agustus 2006.
TSP Terpaksa pada Agustus 2006 cenderung lebih tinggi dibanding pada tahun 2001 pada hampir semua kelompok umur. TSP Terpaksa Agustus 2006 yang lebih rendah dibanding tahun 2001 hanya terjadi pada dua kelompok umur
Sumber: Sakernas 2001‐2006, BPS
umur (15‐19) tahun pada tahun 2001 sebesar 17,26 persen mengalami penurunan sebesar 0,75 persen menjadi sebesar 16,51 persen pada Agustus 2006, sedangkan untuk kelompok umur (60+) tahun sebesar 10,34 persen pada tahun 2001 mengalami sedikit penurunan yaitu sebesar 0,17 persen menjadi 10,17 persen pada Agustus 2006.
Tabel 2.7. Tingkat Setengah Penganggur Terpaksa menurut
Kelompok Umur, Tahun 2001 ‐ 2006
PEB NOP PEB AGT
15 - 19 17,26 17,65 17,13 16,79 19,01 17,53 18,24 16,51 20 - 24 13,83 14,30 14,61 14,43 15,21 14,18 15,40 15,01 25 - 29 12,26 13,19 13,09 13,53 14,00 13,56 14,60 13,54 30 - 34 11,14 11,63 12,79 12,91 13,60 13,24 13,61 12,77 35 - 39 11,14 11,35 11,21 11,33 12,64 12,59 12,91 12,75 40 - 44 9,46 10,53 11,37 11,52 11,70 12,16 11,92 12,27 45 - 49 9,52 10,40 11,44 10,92 12,00 11,33 12,19 11,79 50 - 54 9,71 10,53 11,28 11,80 11,19 11,29 10,81 11,38 55 - 59 9,85 11,50 12,55 12,32 12,30 12,14 11,52 11,67 60 + 10,34 8,95 12,92 13,89 12,72 13,03 10,47 10,17 TOTAL 11,58 12,09 14,36 12,91 13,53 13,13 13,37 12,95 2005 2006 2001 2002 2003 2004 KELOMPOK UMUR
http://www.bps.go.id
2.6.1.5. Setengah Pengangguran Terpaksa menurut Daerah Tempat Tinggal, 2001‐2006
Berdasarkan Grafik 2.3 menunjukkan bahwa selama periode tahun 2001‐2006 TSP Terpaksa di daerah pedesaan selalu lebih tinggi dibanding TSP Terpaksa di daerah perkotaan. Pada tahun 2001 TSP Terpaksa daerah perkotaan hanya sebesar 6,84 persen sedangkan TSP Terpaksa daerah pedesaan mencapai 14,88 persen, begitupula tahun‐tahun berikutnya TSP Terpaksa di daerah pedesaan sekitar dua kali lipat dibanding TSP Terpaksa di daerah perkotaan. Grafik 2.3 Tingkat Setengah Penganggur Terpaksa menurut Daerah Tempat Tinggal, Tahun 2001‐2006 2001 2002 2003 2004 Peb '05 Agt '05 Peb '06 Agt '06 14,8815,90 17,04 17,13 17,35 17,49 17,50 17,26 6,84 6,80 6,97 6,85 8,09 6,92 7,46 6,85 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 16,00 18,00 PERKOTAAN PEDESAAN
http://www.bps.go.id
Selama perode tahun 2001‐2006 TSP Terpaksa tertinggi di daerah perkotaan terjadi pada Pebruari 2005 yaitu sebesar 8,09 persen sedangkan di daerah pedesaan terjadi pada Pebruari 2006 yaitu sebesar 17,50 persen. TSP Terpaksa terendah selama periode tahun 2001‐2006 untuk daerah perkotaan terjadi pada tahun 2002 yaitu sebesar 6,80 persen sedangkan untuk daerah pedesaan terjadi pada tahun 2001 yaitu sebesar 14,88 persen.
2.6.1.6. Setengah Pengangguran Terpaksa menurut Lapangan Pekerjaan, 2001‐2006
Berdasarkan Tabel 2.8 menunjukkan bahwa selama periode tahun 2001‐2006 jumlah setengah pengangguran terpaksa paling banyak berada pada sektor pertanian yaitu berkisar antara 7 juta orang sampai dengan 10 juta orang. Jumlah setengah pengangguran tertinggi kedua ditempati oleh sektor perdagangan yaitu berkisar antara 1,1 juta orang sampai dengan 1,4 juta orang.
Tabel 2.8. Jumlah Setengah Penganggur Terpaksa menurut Lapangan Pekerjaan, Tahun 2001 – 2006
(dalam ribuan)
Pebruari Nopember Pebruari Agustus PERTANIAN 7 894,8 8 552,2 9 692,7 9 569,7 10 155,9 9 882,4 9 976,0 9 291,0
PERTAMBANGAN 102,3 81,9 68,9 102,3 90,5 98,4 122,1 113,9
INDUSTRI 754,5 848,0 830,0 684,9 846,3 787,4 858,9 969,8
LISTRIK, GAS DAN AIR 3,5 12,8 12,8 14,2 12,6 16,4 10,5 18,7
BANGUNAN 181,2 242,6 187,1 184,3 207,0 216,9 236,8 238,8 PERDAGANGAN 1 194,2 1 166,5 1 230,3 1 435,4 1 417,5 1 309,3 1 384,4 1 402,4 ANGKUTAN 245,5 276,0 253,1 306,3 341,0 382,4 341,0 414,2 KEUANGAN 40,9 26,9 29,2 32,2 39,6 41,9 50,2 53,3 JASA 1 024,9 981,3 936,9 1 088,7 1 209,0 1 161,9 1 230,5 1 272,9 TOTAL 11 441,9 12 188,4 13 240,9 13 418,1 14 319,4 13 897,2 14 210,4 13 774,9 2004 2005 2006 LAPANGAN PEKERJAAN 2001 2002 2003 Selama periode 2001‐2006 jumlah setengah penganggur terpaksa pada semua sektor/lapangan pekerjaan sangat fluktuatif tetapi mempunyai kecenderungan untuk terus meningkat. Jumlah setengah penganggur terpaksa pada bidang pertanian mencapai angka yang paling tinggi pada Pebruari 2005 yaitu mencapai 10,16 juta orang, sedangkan pada sektor perdagangan terjadi pada tahun 2004 yaitu mencapai 1,44 juta orang
Sumber: Sakernas 2001‐2006, BPS
2.6.1.7. Setengah Pengangguran Terpaksa menurut Status, Pekerjaan Utama, 2001‐2006
Dari Tabel 2.9 menunjukkan bahwa selama periode tahun 2001‐2006 setengah pengangguran terpaksa yang status pekerjaan utamanya pekerja tak dibayar mempunyai jumlah yang tertinggi yaitu berkisar antara 3,8 juta orang sampai dengan 5,2 juta orang. Sedangkan setengah pengangguran terpaksa yang status pekerjaan utamanya berusaha dibantu buruh tidak tetap memiliki jumlah terbesar ke dua yaitu berkisar antara 2,5 juta orang sampai dengan 3,4 juta orang. Posisi terbesar ketiga adalah setengah pengangguran terpaksa yang status pekerjaan utamanya berusaha sendiri yaitu berkisar antara 1,9 juta orang sampai dengan 2,4 juta orang.
Jumlah setengah penganggur terpaksa pada status pekerja tak dibayar mencapai angka yang tertinggi yaitu 5,2 juta orang pada Pebruari 2005, sedangkan pada status berusaha dibantu buruh tidak tetap terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 3,4 juta orang.
STATUS PEKERJAAN
UTAMA Pebruari Nopember Pebruari Agustus
BERUSAHA SENDIRI 1 961,6 2 073,8 1 924,2 2 200,8 2 129,9 2 143,6 2 301,6 2 451,5 BERUSAHA DIBANTU BURUH TDK TETAP 2 520,6 3 032,8 3 359,2 3 329,8 3 242,9 3 254,9 2 900,8 2 798,5 BERUSAHA DIBANTU PEKERJA TETAP 157,6 159,2 183,8 179,3 233,1 231,5 172,4 202,1 BURUH/KARYAWAN 1 458,6 1 290,7 1 153,8 1 284,0 1 462,9 1 435,5 1 478,6 1 558,4 PEKERJA BEBAS PERTANIAN 1 040,3 1 334,6 1 400,8 1 379,5 1 582,4 1 679,4 1 917,7 1 777,3 PEKERJA BEBAS NON
PERTANIAN 315,9 467,2 365,5 375,6 480,1 506,8 635,3 629,1 PEKERJA TAK DIBAYAR 3 987,3 3 830,1 4 853,7 4 669,1 5 188, 4 645,5 4 803,9 4 358, TOTAL 11 441,9 12 188,4 13 240,9 13 418,1 14 319,4 13 897,2 14 210,4 13 774,9 2004 2005 2006 2001 2002 2003 Tabel 2.9. Jumlah Setengah Penganggur Terpaksa menurut Status Pekerjaan Utama, Tahun 2001 – 2006 (dalam ribuan)