asisten menangani masalah di lapangan. Mandor I bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan antar mandor, bersama asisten menyusun program kerja,
41 membuat rencana kerja harian, memeriksa rotasi panen, koordinasi dengan bagian transportasi untuk pengangkutan tandan, mengawasi taksasi produksi, melakukan fieldcheck dan memeriksa seluruh pekerjaan setiap hari beserta mandor yang bersangkutan. Ketika asisten sedang tidak berada di tempat, seluruh tanggung jawab asisten dipegang oleh mandor I.
Mandor Pemupukan. Mandor Pupuk berkewajiban mengikuti lingkaran
pagi, menjaga absensi, melaksanakan Block Manuring System (BMS), membagi hanca karyawan, menyiapkan alat/bahan, memberikan pengarahan teknis pemupukan, mengawasi pengeceran pupuk, mengawasi pelaksanaan pemupukan, mengecek pekerjaan yang telah dilaksanakan, mengisi buku kegiatan mandor (BKM). Pemupukan MOP dilakukan oleh delapan karyawan perempuan di blok H007 dan H008. Realisasi pemupukan dilaporkan setelah kegiatan pemupukan dan dicatat dalam BKM.
Mandor Penyemprotan dan Tankos. Teluk Siak Estate menggunakan
Block Spraying System (BSS). Mandor penyemprotan memiliki tanggung jawab mengikuti lingkaran pagi, memimpin apel pagi, melakukan absensi karyawan, membagi hanca, bertanggung jawab terhadap alat-alat dan mengisi BKM. Selama mendampingi mandor penyemprotan kegiatannya adalah mengawasi 25 karyawan dan menghitung dosis herbisida yang digunakan.
Tanggung jawab mandor tankos tidak berbeda jauh dengan mandor yang lain. Perbedaannya mandor harus mengawasi jumlah tankos yang masuk dengan karcis timbang dari PKS. Jumlah karyawan yang diawasi adalah 4 - 5 orang setiap hari. Divisi I menyatukan dua kemandoran dengan alasan pekerjaan tersebut bersifat kondisional (tidak setiap hari), sehingga kewenangannya dapat dipegang oleh satu mandor. Penyemprotan dilakukan selama sepuluh hari (rayon dengan Divisi II dan III), sedangkan aplikai tankos dilakukan jika ada tankos yang masuk.
Mandor Rawat Jalan dan LSU. Mandor perawatan jalan bertugas untuk
mengikuti apel pagi, melakukan absensi, mengarahkan karyawan (operator alat berat dan karyawan rawat jalan) pada tempat yang harus dikerjakan dan mengisi BKM setiap hari. Pekerjaan yang dilakukan oleh alat berat (mini excavator, TLB, grader dan bomak) antara lain: pembuatan rorak, parit, perataan jalan, penimbunan tanaman dan lain-lain. Pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan
antara lain: penimbunan lubang di jalan, perawatan parit jalan, penanaman tanaman bermanfaat dan penunasan tepi jalan.
Mandor rawat jalan juga berwenang sebagai mandor Leaf Sampling Unit (LSU) di Divisi I. Tanggung jawab mandor LSU adalah menyediakan karyawan untuk melakukan LSU, menyiapkan alat dan bahan, mengawasi kegiatan LSU, mengumpulkan hasil LSU dan membawanya ke Minamas Research Center untuk selanjutnya dianalisis. Divisi I juga menyatukan kedua kemandoran ini karena pekerjaan ini juga bersifat kondisional.
Mandor Panen. Mandor Panen bertanggung jawab membagi hanca,
menerapkan Block Harvesting System (BHS), mengontrol hanca pemanen, mengisi BKM, memonitor taksasi potong tandan, koordinasi dengan kerani panen untuk pengecekan tandan, melakukan fieldcheck, mengecek peralatan panen, memberikan pengarahan dan pembinaan karyawan, mengorganisasikan karyawan, melakukan taksasi serta mengawasi dan menjaga rotasi panen. Kegiatan saat mengikuti mandor panen adalah mengontrol hanca pemanen (fieldcheck), melakukan taksasi dan mengawasi pekerjaan panen pada 3 kemandoran panen.
Kerani Cek Sawit. Tugas kerani cek sawit (KCS) adalah berkoordinasi
dengan mandor I dan kerani divisi untuk penyediaan unit, menghitung jumlah tandan, memeriksa mutu buah, mengisi notes tandan, membuat laporan potong tandan (LPB) dan menyortasi tandan di TPH. Mutu buah dicatat dan jika ditemukan selain tandan matang atau TPH tidak bersih maka KCS akan mendenda pemanen. Khusus tandan mentah di TPH, KCS akan menyuruh pemanen untuk membelah tandan sehingga tandan tidak menjadi contoh grading di PKS. Tugas saat mengikuti KCS adalah mencatat jumlah tandan setiap pemanen, memeriksa mutu buah dan kondisi TPH dan membantu membuat LPB.
Kerani Brondolan. Tugas kerani brondolan adalah berkoordinasi dengan
mandor I untuk penyediaan unit, menghitung bobot brondolan setiap pemanen dan akumulasinya, memeriksa mutu brondolan, berkoordinasi dengan KCS untuk membuat laporan potong buah (LPB) dan memilah brondolan di TPH. Tugas saat mengikuti kerani brondolan adalah mencatat bobot brondolan setiap pemanen, memuat brondolan ke unit transportasi dan membantu membuat LPB.
43
Kerani Keliling. Pekerjaan kerani keliling jarang ditemukan pada kebun
bahkan perusahaan lain. Kerani keliling mempunyai pekerjaan untuk memeriksa kehadiran karyawan seluruh kemandoran, membantu administrasi kantor divisi, membantu dalam pelaksanaan fieldcheck dengan mantri tanaman, memberikan surat berobat, memeriksa surat sakit dan permohonan cuti, membagikan premi beras pada karyawan, mengontrol nest box di kebun dan melakukan kegiatan administrasi lainnya. Kegiatan saat mengikuti kerani keliling adalah memeriksa kehadiran beberapa kemandoran, memeriksa nest box dan ikut dalam fieldcheck.
Kerani Divisi. Tugas dan tanggung jawab kerani divisi adalah membuat
laporan (harian, mingguan dan bulanan), membuat permintaan bahan/material yang dibutuhkan, membuat daftar hadir karyawan seluruh divisi, mengisi catatan lembur karyawan, mencatat seluruh kegiatan harian perawatan dan produksi, membuat dan merekap data produksi serta mengisi monitoring produksi dan biaya. Kegiatan selama mengikuti kerani divisi adalah membantu administrasi divisi, memeriksa absensi, mengisi monitoring produksi dan biaya serta beberapa administrasi lainnya.
Pendamping Asisten Divisi
Asisten divisi bertanggung jawab langsung kepada asisten kepala dan estate manager. Asisten dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh mandor I, mandor dan kerani. Asisten bertugas memimpin lingkaran pagi asisten, menjelaskan rencana kerja harian dan evaluasi pekerjaan sebelumnya, mengawasi seluruh kegiatan di kebun baik teknis maupun administrasi, mengelola seluruh yang ada di divisi untuk mencapai target produksi, berwenang memberi izin (sakit, cuti, izin dan lembur) dan bertanggung jawab secara penuh selama 24 jam.
Kegiatan selama mendampingi asisten adalah mengawasi kegiatan pada setiap kemandoran, fieldcheck dengan asisten dan Plantation Sustainable Quality Management (PSQM), mengawasi seluruh pekerjaan Divisi I, membantu pelaporan yield enhancement Divisi I dan serangkaian kegiatan dalam Strategic Operating Unit 16 (SOU-16), menilai kualitas kerja karyawan, menjadi panitia Field Visit and Training of Indonesia Suistainable Palm Oil (ISPO) dan bersama asisten mengawasi kegiatan peat leveling pertama di Teluk Siak Esatate.
Manajemen Pemanenan Tandan Buah Segar
Aspek-aspek teknis budidaya yang telah dilakukan bertujuan untuk mendapatkan produk melalui aspek pemanenan kelapa sawit. Pemanenan merupakan titik awal dari produksi. Panen menurut Sunarko (2010) merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kualitas dan kuantitas produksi. Setyamidjaja (2006) menambahkan bahwa produksi adalah hasil yang diperoleh dari panen setelah melalui proses pascapanen. Hasil panen berupa tandan buah segar (TBS), produksinya berbentuk MKS dan IKS (kernel), yang merupakan bahan industri sangat penting karena kegunaannya sangat luas.
Manajemen panen TBS merupakan seluruh kegiatan yang dilakukan untuk mencapai sasaran panen dengan mengelola unit produksi yang berorientasi pada TBS. Manajemen panen juga memiliki tujuan untuk memaksimalkan hasil panen dan meminimalkan kehilangan. Hal ini agar pelaksanaan panen menjadi efektif (Sunarko, 2010). Manajemen panen dipengaruhi oleh sistem panen yang diterapkan oleh Divisi I dan kegiatannya meliputi persiapan panen, organisasi panen dan pengangkutan TBS.
Sistem Panen
Sistem panen yang digunakan Divisi I TSE adalah Block Harvesting System (BHS), sistem panen yang kegiatan panennya setiap hari kerja dari blok ke blok lain secara terkonsentrasi pada satu seksi panen tetap berdasarkan interval yang telah ditentukan. Sistem ini menggunakan hanca tetap. Menurut Sunarko (2010) hanca tetap adalah lokasi panen tertentu setiap pemanen sehingga kegiatan panen selalu dilakukan pada tempat yang sama oleh setiap pemanen. Kelebihan hanca tetap menurut Pahan (2011) adalah mempermudah pembagian hanca harian (karena tetap), tanggung jawab pemanen terhadap hanca tinggi, mempermudah pengawasan dan evaluasi pekerjaan mudah dilakukan serta pemanen lebih mudah menemukan solusi masalah hancanya sendiri.
45 Divisi I TSE tidak menerapkan penggunaan Division of Labour (Non-DOL) sehingga seluruh kegiatan panen dilakukan oleh satu tenaga pemanen. Hal ini dilakukan untuk tujuan efisiensi tenaga kerja dan biaya. Kendala yang muncul adalah tidak tercapainya basis borong dan ketinggalan hanca karena seluruh pekerjaan panen dilakukan sendiri. Pemanen akan mengulang hanca, membagi pekerjaan panen, atau dengan bantuan pemanen lain (berdasarkan instruksi mandor) sehingga rotasi normal tetap terjaga. Kinerja mandor sangat dibutuhkan dalam hal ini untuk selalu mengawasi, mengelola dan menyelesaikan masalah yang dapat terjadi.
Berkaitan dengan pembagian kerja, beberapa pemanen berinisiatif membawa tenaga pembantu sebagai pengutip (picker). Tenaga pengutip adalah istri pemanen yang bekerja sebagai karyawan harian lepas (KHL) pemupukan atau sanak-saudara pemanen. Perbandingan hasil panen antara pemanen yang membawa pengutip dengan yang tidak membawa pengutip dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Perbandingan Rata-Rata Hasil Panen oleh Pemanen dengan Pengutip dan Tanpa Pengutip
Pemanen Hasil tandan Tonase Brondolan
...(tandan)... ...(kg)... ...(kg)...
Dengan Pengutip 262.2tn 3 865tn 268tn
Tanpa Pengutip 220.2tn 3 223tn 234tn Keterangan: tn = tidak berbeda nyata pada taraf 5%
Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata hasil panen, maka pemanen dengan pengutip memiliki hasil yang lebih banyak baik dari tandan, tonase, maupun brondolan daripada pemanen tanpa pengutip. Meskipun hasil uji t-student menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata, tetapi selisih yang terjadi cukup banyak sehingga jika Divisi I menerapkan pembagian kerja maka produksi Divisi I dapat meningkatkan produksi TBS.
Persiapan Panen
Persiapan panen merupakan kegiatan manajemen panen yang penting karena dengan persiapan yang baik dan efektif akan menentukan keberhasilan
panen. Persiapan panen meliputi persiapan alat dan waktu panen, pemahaman kriteria tandan matang dan rotasi panen serta taksasi (AKP).
Divisi I bertanggung jawab dalam penyediaan alat bagi tenaga panen yang baru. Tenaga panen yang telah mengikuti pelatihan akan dibekali dengan beberapa alat panen seperti yang tertera dalam Tabel 8. Alat panen yang telah diberikan menjadi tanggung jawab pemanen. Kemudian waktu panen dilakukan mulai pukul 07.00 sampai semua TBS hasil panen terkumpul pada TPH yaitu pukul 14.00 WIB (sesuai 7 jam kerja). Pelaksanaan waktu panen kadang terkendala dengan tandan yang keluar hingga pukul 18.00 WIB disebabkan pemanen yang terlalu banyak menggunakan waktu untuk beristirahat, sehingga mandor panen harus mampu menekankan pengaturan waktu pada pemanen sehingga waktu untuk pann dan beristirahat efektif.
Kriteria panen. Kematangan tandan yang ingin dicapai adalah matang
fisiologis, yaitu tandan telah sempurna bentuknya serta kandungan minyaknya optimal. Matang fisiologis ini ditunjukan dengan jatuhnya brondolan dari tandan dan brondolan inilah yang kemudian dijadikan kriteria tandan harus dipetik. Menurut Pahan (2011) kriteria panen sangat penting dalam proses pemanenan, yaitu 1-2 brondolan/kg tandan tandan. Divisi I menerapkan kriteria panen minimum ripeness standart (MRS), yaitu ≥ 5 brondolan/tandan. Pemahaman inilah yang perlu diberikan kepada pemanen karena kriteria panen sangat menentukan kematang tandan.
Berdasarkan hasil pengamatan pada Tabel 9 terlihat bahwa kriteria panen MRS hampir sepenuhnya diterapkan oleh pemanen di Divisi I TSE sehingga kualitas tandan yang dihasilkan sudah baik, yaitu lebih dari 95%. Pemanen dari kemandoran I telah menerapkan kriteria panen MRS seluruhnya (100%). Kemandoran II dan III masing-masing telah menerapkan 97.3% dan 98.7% dari kriteria MRS karena menurunkan tandan kosong (empty bunch). Beberapa tandan kosong yang dipanen disebabkan hanca yang dikerjakan bukan merupakan hanca tetap pemanen yang diamati. Alasan tandan kosong diturunkan adalah untuk menjaga sanitasi tanaman karena tanaman yang kotor dapat menjadi inang hama dan penyakit. Penyelesaian masalah ini adalah masing-masing kemandoran panen melakukan pengawasan yang rutin pada seluruh tenaga pemanen yang ada.
47
Rotasi panen. Rotasi panen erat kaitannya dengan kerapatan panen,
kapasitas pemanen, cuaca dan kondisi pabrik. Standar rotasi panen normal yang digunakan Divisi I TSE adalah 7 - 9 hari sesuai standar Minamas Plantation, tetapi pada kenyataannya rotasi panen dapat berubah sesuai kondisi lapangan. Rotasi merupakan faktor pembatas baik dalam menentukan produksi TBS, kualitas tandan, transportasi, maupun biaya eksploitasi.
Rotasi panen pada aktual Divisi I selama tiga bulan terakhir adalah bulan Februari 6 - 8 hari, Maret 4 - 8 hari dan April 5 - 9 hari. Hasil tersebut menunjukkan selama tiga bulan rotasi divisi terlalu cepat, yaitu 4 - 6 hari. Penyebab rotasi Divisi I yang terlalu cepat adalah penurunan potensi buah. Penurunan potensi buah (trek buah) adalah kondisi saat tanaman mengalami penurunan produksi TBS sehingga tandan matang yang dapat dipanen sedikit. Menurut Pahan (2011) penurunan produksi disebabkan kerapatan tandan matang mengalami penurunan, sedangkan pemanen dituntut untuk mencapai basis sehingga pemanen mengambil resiko dengan memanen tandan mentah atau kurang matang untuk memenuhi basis panen.
Beberapa hal yang mempengaruhi rotasi panen adalah jumlah tenaga kerja, kondisi hanca dan kondisi cuaca. Jumlah tenaga kerja yang berlebihan dengan luasan yang tetap akan menyebabkan rotasi menjadi cepat, sedangkan jumlah tenaga kerja yang kurang akan menyebabkan rotasi terlambat. Kondisi hanca yang tidak datar dan bersemak cenderung memperlambat rotasi panen karena memperlambat pekerjaan panen. Hujan menyebabkan rotasi terlambat karena menghambat pekerjaan panen dan transportasi hasil, selain itu dapat menyebabkan banjir pada lahan rendahan. Menurut Pahan (2011) masalah rotasi yang tidak normal dapat diatasi dengan melakukan pemantauan pada daftar rotasi panen divisi, informasi umur tanaman dan AKP, jumlah tenaga kerja, jumlah borongan, persentase siap borong dan curah hujan.
Taksasi dan AKP. Taksasi produksi adalah kegiatan menghitung jumlah
tandan buah segar yang akan diperoleh pada waktu panen berdasarkan jumlah dan keadaan bunga betina yang kemungkinan menjadi tandan buah (Sunarko, 2010). Taksasi harian adalah menghitung jumlah tandan yang siap dipanen berdasarkan
angka kerapatan panen (AKP) dikalikan bobot tandan rata-rata. AKP adalah persentase jumlah tandan yang dapat dipanen dengan jumlah tanaman suatu blok.
Tujuan taksasi adalah memperkirakan produksi yang akan diperoleh, mempermudah pengaturan dan pelaksanaan panen, memperkirakan kebutuhan tenaga kerja dan menyediakan unit transportasi pengangkut TBS. AKP menyesuaikan umur, jenis dan iklim. Menurut Santosa et al. (2011) faktor agroekologi menentukan akurasi ramalan prouksi kelapa sawit. Divisi I TSE memiliki pertanaman dengan tahun tanam 1995-1998 dan terdapat beberapa varietas yang ditanam sehingga dilakukan pengamatan AKP sesuai umur tanaman. Hasil pengamatan AKP tiga blok dengan tahun tanam 1996 sampai 1998 dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Perbandingan Angka Kerapatan Panen pada Tiga Tahun Tanam Tahun Tanam Ulangan Angka Kerapatan Panen
...(blok)... ...(%)...
1996 3 18.00tn
1997 3 20.81tn
1998 3 19.39tn
Sumber: Hasil pengamatan penulis 2012
Keterangan: tn = Hasil uji t-student tidak berbeda nyata pada taraf 5%
Berdasarkan data hasil AKP pada Tabel 12 menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Nilai tengah AKP masing-masing tahun tanam tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Artinya meskipun selisih umur antara 1 - 2 tahun, tetapi ketiga tahun tanam mempunyai potensi produksi yang sama.
Pengamatan selanjutnya membandingkan antara jumlah TBS dan tonase berdasarkan nilai AKP dengan jumlah TBS dan tonase aktual berdasarkan perhitungan KCS di lapang dan karcis timbang dari PKS. Perbandingan tersebut disajikan dalam Tabel 13.
Tabel 13. Perbandingan AKP dan Tonase Berdasarkan Pengamatan dan Aktual
Tahun Tanam 1996 1997 1998
AKP Pengamatan 18.00tn 20.81tn 19.39*
AKP aktual 15.63tn 19.50tn 30.35*
Sumber: Hasil Pengamatan Penulis (2012)
49 Perbandingan AKP hasil pengamatan dan aktual pada Tabel 13 menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada tahun tanam (TT) 1996 dan 1997, sebaliknya pada TT 1998 menunjukkan hasil yang nyata. Penyebabnya adalah ketidakseragaman jenis yang ditanam pada blok dengan TT sama. Pada TT 1996 dan 1997 menggunakan jenis Marihat, sedangkan TT 1998 menggunakan tiga jenis yaitu Marihat, Guthrie dan Socfindo. Menurut Pahan (2008) pada kondisi ideal, Marihat mampu memproduksi TBS 27 ton/ha/tahun, Guthrie 25 ton/ha/tahun, sedangkan Socfindo 32 ton/ha/tahun.
Organisasi Panen
Organisasi panen kelapa sawit merupakan kegiatan manajemen panen yang dimulai dari penyusunan seksi potong dan penentuan hanca, penentuan jumlah tenaga kerja, pelaksanaan panen, sampai pemeriksaaan mutu hancak dan mutu buah. Seksi panen adalah pengelompokan blok-blok pertanaman menghasilkan yang berfungsi sebagai kerangka kerja harian sehingga mempermudah melakukan pekerjaan panen, kontrol dan pengangkutan TBS. Pembagian seksi panen Divisi I TSE disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14. Pembagian Seksi Panen Divisi I Teluk Siak Estate
Seksi Blok Tahun Tanam Luas Total
...(ha)... A G007 1997 177.71 G008 1997 G009 1998 G010 1996 B H011 1998 H010 1997 140.58 C H007 1997 H008 1996 145.98 D H009 1996 185.68 I012 1995 I011 1998 E J011 1996 I010 1998 118.3 F J010 1998 I009 1998 141.63
Terlihat pada tabel di atas bahwa luas masing-masing seksi berbeda. Jika dilihat berdasarkan luas lahan tanaman menghasilkan di Divisi I, yaitu 910 ha, maka luas estimasi per seksi (tanpa perbedaan jam kerja) adalah 151, 67 ha. Perbedaan luas masing-masing seksi lebih ditentukan oleh hasil identifikasi blok, yaitu: kondisi topogafi, posisi blok terhadap blok lain dan kemandoran panen. Topogafi di Divisi I TSE sangat beragam (datar sampai berbukit). Kemudian posisi blok yang ada tidak semuanya berbentuk kotak dan tersusun rapih. Seksi A, B dan C ditentukan oleh letak blok yang berdekatan, seksi E dan F ditentukan oleh topogafi yang datar, sedangkan seksi D dikelola oleh dua kemandoran panen.
Tenaga Kerja. Penetapan tenaga panen di Divisi I TSE tidak ditentukan
dari perhitungan taksasi karena Divisi I menggunakan BHS dan menggunakan hanca tetap. Penetapan tenaga pemanen di Divisi I menggunakan rumus kebutuhan TK sebagai berikut:
Kebutuhan TK panen Luas TM
Kapasitas hanca pemanen
910 ha
18 ha 50.5 orang Luas TM Divisi I: 910 ha, kapasitas hanca pemanen = 3 ha x 6 hari = 18 ha Selanjutnya penghitungan TK panen, menggunakan rumus:
TK panen Kebutuhan TK panen 10% x Kebutuhan TK panen = 50.5 + (10% x 50.5)
= 55.6 = 56 orang
Berdasarkan perhitungan kebutuhan tenaga pemanen, standar kebutuhan tenaga panen Divisi I untuk menyelesaikan lahan tanaman menghasilkan seluas 910 ha adalah 51 orang. Penambahan 10 % jumlah tenaga panen digunakan untuk menanggulangi pemasalahan absensi tenaga panen sehingga kegiatan panen dapat berlangsung tanpa penurunan produksi. Tenaga cadangan tersebut dipekerjakan pada kegiatan yang kondisional seperti aplikasi tankos, rawat jalan, BTP dan pelangsir TBS sehingga saat dibutuhkan sebagai pemanen pekerjaan kondisional tersebut dapat ditunda.
Divisi I TSE memiliki jumlah seluruh pekerja cukup banyak, yang disebut Serikat Kerja Unit (SKU). SKU tersebut dibagi menjadi dua yaitu SKU Bulanan (SKU-B) dan SKU Harian (SKU-H). Tabel 15 menunjukkan jumlah tenaga kerja di Divisi I sesuai jenis SKU dan jenis kelamin.
51 Tabel 15. Jumlah Tenaga Kerja Non-Staf Divisi I TSE
Bulan SKU-B SKU-H Total Pekerja
L P Jumlah Juli 2011 11 82 37 119 130 Agustus 2011 11 81 37 118 129 September 2011 11 81 37 118 129 Oktober 2011 11 81 37 118 129 November 2011 13 78 37 115 128 Desember 2011 13 84 37 121 134 Januari 2012 13 83 37 120 133 Februari 2012 13 80 37 117 130 Maret 2012 13 85 35 120 133 April 2012 13 85 35 120 133 Rata-rata 130.8 Sumber: Kantor Divisi I TSE (2012)
Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa sejak bulan November terdapat penambahan dua orang SKU-B. Rata-rata jumlah pekerja Divisi I adalah 131 orang/bulan dan ditambah 11 orang KHL. Indeks tenaga kerja (ITK) standar kebun adalah 0.16, artinya pada luas 1 063.16 ha terdapat 170 tenaga kerja. Divisi I memiliki ITK aktual 0.13. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata jumlah tenaga kerja per bulan di bawah standar kebun. Divisi I membutuhkan tambahan 28 orang untuk mencukupi kebutuhan tenaga kerja ideal (170 orang) sehingga divisi dapat dikelola secara lebih optimal.
Pelaksanaan panen. Pelaksanaan panen menjadi kegiatan utama dari
rangkaian kegiatan panen. Tahapan pelaksanaan panen adalah memilih tandan matang sesuai kriteria panen MRS, menggunakan alat potong yang tepat (egrek untuk tanaman yang tinggi dan dodos untuk tanaman yang rendah), memotong pelepah songgo, memotong tandan, menyusun pelepah membentuk huruf U, mengumpulkan TBS dan brondolan ke TPH serta menyusun TBS dan mengumpulkan brondolan sekaligus penomoran menggunakan stempel dari divisi.
Pengawasan mutu. Pengawasan mutu terbagi menjadi dua, yaitu mutu
hanca dan mutu buah. Pengawasan mutu dilakukan oleh mandor, KCS, asisten, mantri, PSQM dan pihak lainnya. Pengawasan mutu hanca meliputi tandan matang tidak dipanen, tandan matang, tandan busuk, brondolan (loose fruit) dan susunan pelapah. Hasil pengamatan mutu hanca dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Mutu Hanca pada Tiga Kemandoran Panen Mandor Harvesting Bunch Loose Fruit Pelepah Sengkleh Susunan Pelepah Over Pruning Under Pruning ...(tandan)... ...(brondolan)... ...(tanaman)...
I 14.6 15.6 0.4 0.0 0.0 7.0
II 7.0 13.0 2.2 3.8 0.0 5.2
III 15.0 18.4 0.2 2.8 0.8 3.4
Sumber : Hasil Pengamatan Penulis (2012) Keterangan : Tanaman contoh sebanyak 80 tanaman
Pada Tabel 16 dapat dilihat potensi buah (HB/tanaman) yang dipanen pada Mandor I dan III adalah 18.25 % dan 18.75 % di atas standar (18 %, termasuk potensi sedang), tetapi Mandor II memiliki potensi tandan yang rendah yaitu 8.75%. Kehilangan brondolan (LF/HB) masing-masing mandor secara berurutan adalah 1.1 brondolan/tandan, 1.3 brondolan/tandan dan 1.9 brondolan/tandan. Nilai kehilangan masih di bawah standar, yaitu ≤ 2 brondolan/tandan, tetapi pada Mandor II harus lebih diperhatikan agar kehilangan brondolan tidak melebihi standar. Kondisi pelepah masih di bawah standar, yaitu ≤ 8 tanaman. Meskipun kondisi pelepah baik, tetapi usaha perawatan hanca tetap dilakukan.
Pengawasan mutu buah di TPH meliputi tandan mentah, tandan matang, tandan kosong, tandan busuk, potongan tangkai dan lain-lain. Hasil pengamatan mutu buah terdapat pada Tabel 17.
Tabel 17. Perbandingan Mutu buah Divisi I dengan Target Produksi Jenis Buah Keterangan Target Pengamatan* Arsip**
…….…(%)…... Mentah 0 brondolan/tandan 0 0.00 0.25 Kurang Matang 1 - 9 brondolan/tandan < 3 1.20 2.43 Matang ≥ 10 brondolan/tandan > 97 97.38 97.21 Tandan
Kosong ≥ 95 % buah mem-brondol 0 0.30 1.65
Tinggal Tandan terpanen lebih
dari 48 jam 0 0.40 0.11
Gagang
Panjang Gagang tandan lebih dari 5 cm 0 0.00 0.48 Kontaminasi Bahan pengotor, pasir,
tanah 0 0.00 0.00
Keterangan * = Berdasarkan Pengamatan Penulis selama 10 Hari ** = Berdasarkan Arsip Kebun selama 8 Bulan
53 Berdasarkan Tabel 17, terdapat perbedaan antara pengamatan dengan arsip kebun. Pada penggolongan tandan mentah dan gagang panjang hasil pengamatan memenuhi target 0 %. Target tandan kurang matang dan matang terpenuhi oleh keduanya, yaitu kurang matang 1.2 % dan matang 97.38 %. Keduanya masih belum mencapai target 0 % untuk tandan kosong dan tandan tinggal. Tidak ada