BAB IV APLIKASI PEMAKNAAN PENDERITAAN DALAM KITAB AYUB

C. Katekese Pembebasan dengan Model Shared Christian Praxis (SCP)

3) Shared

Istilah ini menunjuk pengertian komunikasi yang timbal balik, sikap partisipasi aktif dan kritis dari semua peserta, sikap terbuka (inklusif) baik untuk

kedalaman diri pribadi, kehadiran sesame, maupun untuk rahmat Allah. Ujian ini juga menekankan proses katekese yang menggarisbawahi aspek dialog, kebersamaan, keterlibatan dan solidaritas. Dalam “sharing”, semua peserta diharapkan secara terbuka siap mendengarkan dengan hati dan juga dapat berkomunikasi dengan kebebasan hati. Dalam kata “sharing” juga terkandung hubungan dialektis antara pengalaman hidup factual peserta dengan tradisi dan visi kristiani. Unsure kebersamaan menggarisbawahi hubungan antar subyek yaitu peserta dengan pendamping, dan antar peserta sendiri. Dengan keterbukaan yang ada pada masing-masing peserta, hubungan diantara mereka semakin erat, dan melalui perjumpaan antar pribadi, peserta dapat semakin menyadari pentingnya sikap solidaritas terhadap permasalahan yang satu dengan yang lainnya. Dapat dikatakan bahwa melalui dialog yang terjalin antar peserta dalam katekese, semua peseta dapat menjadi partner yang dapat saling menguhkan dan menguatkan satu sama lain terutama dalam situasi atau permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam hidup. Hal ini disebabkan adanya rasa memiliki perjuangan dan visi yang sama.

Di dalam proses ini, peserta tidak hanya mendengar dengan telinga, tetapi juga hati. Ada keterlibatan aktif dari peserta yang lain. Hal ini akan menghantarkan peserta pada suatu dialog yang kemudian melalui refleksi-kritis dapat menemukan penegasan, penilaian, serta pengambilan keputusan yang mendorong pada keterlibatan baru. Dapat dipertegas kembali bahwa melalui refleksi-kritis dari suatu dialog bersama, peserta dapat menentukan niat-niat yang akan dilakukan untuk menanggapi permasalahan hidup yang sedang terjadi secara konkret dalam hidup keluarga maupun masyarakat, dan pada akhirnya adalah suatu

aksi nyata untuk mengatasi permasalahan atau menjawab kebutuhan hidup peserta (Heryatno W.W., 1997: 4).

c. Langkah-langkah Model Shared Christian Praxis (SCP)

1)Langkah 1: Pengungkapan Praksis Factual (Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta)

Langkah ini mengajak para peserta untuk mengungkapkan pengalaman hidup dan keterlibatan mereka dalam bentuk cerita, puisi atau video singkat, dll. dalam proses pengungkapan itu, peserta dapat menggunakan perasaan mereka, menjelaskan nilai, sikap, kepercayaan dan keyakinan yang melatarbelakanginya. Dengan cara itu, diharapkan peserta dapat semakin bersikap kritis dan dapat terbuka serta peka terhadap situasi yang ada disekitarnya. Selain itu, peserta juga dapat memaknai pengalaman hidupnya sendiri. Disamping pengalaman pribadi, peserta juga dapat mengungkapkan pengalaman orang lain atau masyarakat.

2) Langkah 2: Refleksi Kritis Pengalaman Factual (Mendalami Pengalaman Hidup Konkret Peserta)

Langkah kedua ini mendorong peserta untuk lebih aktif, kritis, dan kreatif dalam memahami dan mengolah keterlibatan hidup mereka sendiri maupun masyarakat. Tujuan langkah ini adalah memperdalam refleksi dan mengantar peserta pada kesadaran kritis akan keterlibatan mereka, akan asumsi dan alasan (pemahaman), motivasi, sumber historis, kepentingan dan konsekuensi yang disadari dan hendak diwujudkan (imajinasi). Dengan refleksi-kritis pada pengalaman konkret peserta diharapkan sampai pada nilai dan visinya yang pada langkah keempat akan dikonfrontasikan dengan pengalaman iman Gereja sepanjang sejarah (tradisi) dan visi kristiani. Langkah ini bersifat analitis yang kritis (Heryatno W.W., 1997: 6).

3) Langkah 3: Mengusahakan Supaya Tradisi Dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau (Menggali Pengalaman Iman Kristiani)

Pokok dari langkah ini adalah mengusahakan supaya tradisi dan visi kristiani menjadi lebih terjangkau, lebih dekat dan relevan bagi peserta pada zaman sekarang. Pada langkah ini, pendamping diharapkan dapat menjadi fasilitator yang professional, dapat membuka peluang yang seluas-luasnya kepada peserta untuk menemukan nilai-nilai dari tradisi dan visi kristiani. Seperti yang telah dijelaskan di awal, yang dimaksud dengan tradisi adalah iman kristiani yang sungguh dihidupi dan diperkembangkan Gereja dalam sejarahnya. Maka tradisi Gereja tidak terbatas pada pengajaran Gereja (dogma), tetapi juga merangkum Kitab Suci, spiritualitas, devosi, kebiasaan hidup beriman, dll. visi merefleksikan harapan dan janji, serta tanggungjawab yang muncul dari tradisi suci yang bertujuan untuk mendorong dan meneguhkan iman jemaat dalam keterlibatannya untuk mewujudkan kehadiran nilai-nilai Kerajaan Allah. supaya tradisi dan visi kristiani semakin terjangkau dan relevan untuk kehidupan peserta, tradisi dan visi kristiani perlu dijelaskan dan diinterpretasikan (Heryatno W.W., 1997: 6).

4) Langkah 4: Interpretasi Dialektis antara Praksis dan Visi Peserta Dengan Tradisi Dan Visi Kristiani (Menerapkan Iman Kristiani dalam situasi Peserta Konkret)

Langkah ini mengajak peserta supaya dapat meneguhkan, mempertanyakan, memperkembangkan dan menyempurnakan pokok-pokok penting yang telah ditemukan pada langkah pertama dan kedua. Untuk selanjutnya pokok-pokok penting itu dikonfrontasikan dengan hasil interpretasi tradisi dan visi kristiani dari langkah ketiga. Dari proses konfrontasi itu diharapkan peserta dapat secara aktif menemukan kesadaran atau sikap-sikap baru yang hendak diwujudkan. Dengan

kesadaran baru itu peserta akan lebih bersemangat dalam mewujudkan imannya dan dengan itu diharapkan supaya nilai-nilai Kerajaan Allah makin dapat diraskan di tengah-tengah kehidupan bersama. Interpretasi yang dialektis ini akan memampukan peserta untuk menginternalisasikan dan mensosialisasi nilai tradisi dan visi kristiani sehingga menjadi bagian hidup mereka sendiri. Hidup dan praksis factual peserta diintegrasikan ke dalam tradisi kristiani dan sebaliknya peserta mempersonalisasi tradisi dan visi kristiani menjadi milik mereka sendiri. Di samping itu, perwujudan kesadaran iman yang baru dapat memperkaya dan mendinamisir tradisi dan visi kristiani juga menjadi pokok penting pada langkah ini. Dengan proses itu, diharapkan hidup iman peserta menjadi lebih aktif, dewasa, dan misioner (Heryatno W.W., 1997: 7).

5) Langkah 5: Keterlibatan Baru demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah Di Dunia (Mengusahakan Aksi Konkret)

Karena keprihatinan utama model “Shared Christian Praxis” adalah keterlibatan iman, maka langkah yang terakhir ini bertujuan mendorong peserta supaya sampai pada keputusan konkret bagaimana menghidupi iman kristiani pada konteks hidup yang telah dianalisa dan dipahami, direfleksi secara kritis, dinilai secara kreatif dan bertanggungjawab. Inilah tanggapan praktis peserta terhadap situasi konkret mereka yang telah dikonfrontir dengan tradisi dan nilai kristiani. Keputusan konkret dari langkah ini dipahami sebagai puncak dan buah dari metode ini. Tentu saja tanggapan peserta dipengaruhi oleh tema dasar yang direfleksikan, nilai-nilai kristiani yang diinternalisasikan, dan konteks kepentingan religious, politik, social, dan ekonomi peserta (Heryatno W.W., 1997: 7).

4. Usulan Program Katekese Pembebasan dan Contoh Persiapan Katekese Pembebasan dengan Model Shared Christian Praxis (SCP)

Bertitik tolak dari pemikiran dalam Bab I, II dan III, maka penulis mengusulkan sebuah program katekese pembebasan dengan model Shared Christian Praxis beserta contoh persiapannya. Usulan program dan contoh persiapan katekese ini diharapkan dapat membantu umat kristiani, terutama bagi orang muda atau orang dewasa dalam memaknai realitas penderitaan yang terjadi dalam hidupnya. Program dan contoh persiapan katekese ini tidak bersifat baku, maksudnya usulaan program ini masih dapat ditambah atau dikurangi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan para peserta katekese. Pada penulisan skripsi ini, penulis membuat 4 program. Dari 4 program tersebut, penulis akan menjabarkan 1 contoh katekese pembebasan dengan model Shared Christian Praxis (SCP) yaitu nomor 3. Adapun program dan contoh katekese pembebasan dengan model Shared Christian Praxis (SCP) tersebut adalah sbb:

Tema Umum : Menjadi orang kristiani yang memiliki kedewasaan iman dalam memaknai penderitaan hidup

Tujuan Umum : Bersama pendamping, melalui katekese pembebasan, peserta diajak untuk menemukan makna penderitaan dalam hidupnya, dengan harapan peserta dapat semakin didewasakan dalam iman, sehingga akhirnya peserta termotivasi dalam menentukan aksi nyata untuk terlibat mengatasi penderitaan diri dan sesame. Tema I : Penderitaan manusia

Tujuan : Bersama pendamping, peserta dapat semakin menyadari dirinya sebagai makhluk yang terbatas dan merupakan ciptaan Allah yang miliki kebebasan untuk menerima atau menolak kebaikan Allah terutama pada saat dilanda penderitaan. Diharapkan, dengan begitu, peserta dapat semakin memiliki kesadaran untuk

mengambil sikap yang tepat bertitik tolak dari imannya yang teguh akan Allah, khusunya ketika berhadapan dengan realitas penderitaan

Tema II : Meneladani sikap Ayub dalam menghadapi penderitaan

Tujuan : Bersama pendamping, peserta diajak untuk belajar dari sikap ketaatan Ayub pada Allah ketika dia mengalami penderitaan, dan dari situ peserta juga belajar untuk menemukan makna dibalik penderitaan orang benar melalui kacamata iman kristiani, sehingga iman peserta semakin berkembang dan mendalam

Tema III : Bagaimana sikap orang Kristiani dalam menghadapi penderitaan hidup

Tujuan : Bersama pendamping, sebagai orang Kristiani para peserta diajak untuk mencari, menggali dan menemukan makna dibalik penderitaan yang terjadi dalam hidupnya, supaya peserta semakin didewasakan dalam iman, dan dapat ikut ambil bagian dalam menghadapi penderitaanya sendiri dan orang lain secara dewasa dengan bertolak dari cara pandang iman Kristiani. Tema IV : Ikut sengsara bersama Yesus Kristus

Tujuan : Bersama pendamping, peserta menyadari sebab terjadinya penderitaan manusia, serta mampu melihat dan memahami penderitaan Yesus Kristus sehingga peserta semakin dapat meneladani sikap Yesus secara konkret dalam hidup sehari-hari

a. Contoh Persiapan Katekese Pembebasan Model Shared Christian Praxis (SCP)

Berikut ini adalah contoh katekese pembebasan. Sebagai contoh persiapan katekese, di sini penulis akan menggunakan katekese pembebasan dengan

menggunakan model Shared Christian Praxis (SCP). Shared Christian Praxis

adalah model katekese yang diperkenalkan oleh Thomas H. Groome (Heryatno W.W, 1997).

Katekese Pembebasan

Model Shared Christian Praxis (SCP)

Tema : Bagaimana sikap orang Kristiani dalam menghadapi penderitaan hidup

Tujuan : Bersama pendamping, sebagai orang Kristiani para peserta diajak untuk mencari, menggali dan menemukan makna dibalik penderitaan yang terjadi dalam hidupnya, supaya peserta semakin didewasakan dalam iman, dan dapat ikut ambil bagian dalam menghadapi penderitaanya sendiri dan orang lain secara dewasa dengan bertolak dari cara pandang iman Kristiani.

Peserta : Orang Kristiani kelompok Dewasa Waktu : Selama 90 menit

Model : Shared Christian Praxis

Metode : tanya jawab, sharing, informasi, refleksi pribadi, dan pemutaran film

Sarana : LCD, laptop, mikrofon, Kitab Suci, film singkat “Oscar Arnulfo Romero

Sumber Bahan : Ayub 1: 13-22

PEMIKIRAN DASAR

Di dunia ini, manusia dihadapkan dengan berbagai macam peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Peristiwa-peristiwa itu seperti: kesedihan, kesukaran, kegembiraan, kebahagiaan, kesuksesan, dan kegagalan. Ini merupakan fenomen kehidupan yang dialami oleh manusia. Manusia tidak pernah luput dari penderitaan, karena penderitaan merupakan hal yang manusiawi dan tidak terelakkan dari pengalaman hidup manusia. Penderitaan merupakan pengalaman yang sangat dekat dengan manusia. Dapat dikatakan bahwa hidup dan penderitaan adalah dua hal yang berbeda, namun keduanya tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan manusia. Maksudnya, meskipun kita tidak mengharapkan penderitaan terjadi, penderitaa itu akan tetap terjadi di kehidupan ini. Karena menyadari hal itulah, maka penderitaan harus disikapi secara tepat. Ini bertujuan supaya hidup kita semakin terarah, jelas, mempunyai makna dan nilai, bukan sebaliknya menjadi sesuatu yang harus ditakuti.

Dalam bacaan Ayub 1: 13-22 digambarkan bagaimana kemalangan demi kemalangan menimpa Ayub. Di sana, Ayub mengalami banyak kehilangan: kehilangan hartanya, yakni ternak-ternaknya, dan kehilangan anak-anaknya. Kehilangan-kehilangan itu rupanya terjadi seketika hal itu digambarkan oleh adanya laporan dari pembantunya yang memberitahukan perihal bencana itu. Artinya, kemalangan yang terjadi dan didengar Ayub disusul dengan kemalangan lain yang juga didengarnya. Singkatnya, Ayub tidak memiliki waktu untuk

merenungkan atau untuk berdiam diri merenungi nasibnya, sebab ketika bencana pertama didengarnya, langsung saja disusul dengan berita bencana kedua dan seterusnya. Ini dapat dikatakan Ayub seperti disambar petir. Bertubi-tubi dia mendengar berita yang sesungguhnya tidak seorangpun ingin mendengarnya dan setelah berita terakhir dia baru bisa menyikapinya: berdiri, mengoyak jubah dan mencukur kepalanya, lalu sujud dan menyembah Tuhan Allah (Ayb 1: 13-20). Dalam pengalaman penderitaan itu, ia tidak berbuat dosa (Ayb 1: 21-22). Dapatkah kita meneladani sikap iman Ayub ketika berhadapan dengan pengalaman penderitaan?

Sikap atau cara seseorang dalam menanggapi penderitaannya akan menunjukan kualitas dirinya sebagai pribadi, terutama sebagai orang beriman. Maksudnya, orang beriman akan menyikapi realitas hidupnya yang penuh penderitaan dengan cara pandang imannya. Tentu saja hal itu akan berbeda dengan mereka yang belum memiliki iman yang kuat. Hanya saja, persoalan praktisnya adalah bagaimana orang beriman dapat menyikapi realitas penderitaan yang terjadi dalam hidupnya.

Dalam katekese ini, para peserta diajak merefleksikan pengalaman hidupnya, terutama ketika mengalami atau berhadapan dengan penderitaan. Sebagai orang Kristiani yang beriman, peserta akan diajak membandingkannya dengan sumber wahyu tertulis yakni Kitab Suci, secara khusus adalah Kitab Ayub. Di sini peserta katekese akan belajar dari Ayub yang merupakan tokoh utama dalam Kitab Ayub: Bagaimana Ayub menanggapi penderitaanny?

PENGEMBANGAN LANGKAH-LANGKAH 1. Pembukaan

a. Pengantar

Bapa/ibu, saudara/saudari terkasih, syukur kepada Allah sebab kita dapat berkumpul di sini untuk bersama-sama menemukan makna hidup kita, sehingga semua pengalaman-pengalaman hidup yang telah kita lewati tidak berlalu begitu saja secara sia-sia tanpa makna. Pada kesempatan yang penuh rahmat ini, secara bersama-sama dan penuh rasa persaudaraan, kita mencoba untuk mencari, menggali dan menemukan makna kehidupan dan kehendak Allah atas diri kita, tentu saja semua usaha itu dilandasi oleh kesadaran kita sebagai umat Kristiani yang beriman kepada-Nya. Untuk mengawali pertemuan kita pada hari ini, saya mengajak Bapak/Ibu dan saudara-I sekalian untuk menyanyi bersama.

b. Lagu Pembukaan“Dia mengerti” c. Doa Pembukaan

Dengan penuh kerendahan hati dihadapan Allah kita dapat menyiapkan diri untuk berdoa. Marilah kita berdoa:

Allah Bapa yang penuh belas kasih, puji syukur dan terimakasih kami ucapkan atas segala berkat yang boleh kami terutama secara istimewa untuk mala mini, sehingga kami dapat berkumpul ditempat ini dalama nama-Mu.

Allah Bapa disurga, pada kesempatan ini, kami bersama-sama hendak mencari, menggali dan menemukan makna terdalam pengalaman hidup yang boleh kami jalani selama ini.

Ya Bapa, curahkanlah Roh Kududs-Mu atas diri kami masing-masing supaya kami dapat menemukan apa yang kami cari, dan bimbinglah kami Bapa

supaya dapat memahami kehendak-Mu yang nyata dalam hidup kami, terutama dalam pertemuan hari ini.

Ya Bapa, bantu kami sebagai saudara seiman, dapat saling percaya dan terbuka satu sama lain, sehingga pengalaman-pengalaman berharga kami dapat diungkapkan secara bebas dan sadar, guna untuk saling menguatkan dan meneguhkan satu sama lain terutama dalam menanggapi penderitaan hidup. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Dalam dokumen Belajar dari Kitab Ayub: menemukan makna dibalik penderitaan manusia dan aplikasinya melalui katekese pembebasan model Shared Christian Praxis (SCP). (Halaman 154-169)