• Tidak ada hasil yang ditemukan

SHERLOCK HOLMES

Dalam dokumen Sadar Penuh Hadir Utuh (Halaman 40-43)

Siapa yang tak kenal Sherlock Holmes, detektif andal dalam cerita karangan Sir Arthur Conan Doyle yang mendunia itu. Seolah tak kenal zaman, sepak terjang detektif asal Inggris ini selalu dinikmati penggemarnya sejak awal kemunculannya pada 1887 hingga masa kini.

Bahkan, untuk kesekian kalinya beberapa tahun lalu kisah detektif ini kembali difilmkan di layar lebar dan diangkat menjadi serial televisi dengan latar waktu yang disesuaikan dengan zaman sekarang.

Tentu saja kemampuan Sherlock Holmes yang luar biasa dalam memecahkan kasus-kasus yang dihadapinya adalah salah satu daya tarik sehingga cerita ini tidak pernah terasa membosankan walaupun telah ditampilkan berulang kali dalam berbagai macam format dan bentuk pertunjukan.

Kecerdasan yang ditunjukkan Sherlock Holmes tak jarang menimbulkan anggapan bahwa tokoh ini memiliki daya ingat yang luar biasa, kemampuan pemikiran yang dahsyat, dan otak yang mampu menyimpan banyak data dan informasi. Akan tetapi, ternyata hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

Memang Sherlock Holmes memiliki daya ingat dan pemikiran yang dahsyat, dengan kemampuan deduksi yang

dimilikinya—kemampuan tersebut tidak bisa disangkal lagi. Namun, perihal kemampuan otaknya yang mampu menyimpan banyak data dan informasi, ternyata tidak benar.

Otak Sherlock Holmes tidak ada bedanya dengan otak kita, manusia biasa, yang punya keterbatasan. Hal yang membuat luar biasa adalah Sherlock dengan sangat selektif memilih dan memilah informasi apa saja yang diizinkannya mengisi otaknya.

Ini dijelaskan dalam novel A Study in Scarlet saat tokoh Sherlock Holmes pertama kali muncul dan mulai diperkenalkan kepada pembaca. Di situ Sherlock Holmes menyamakan otak manusia dengan loteng kecil yang kosong di sebuah rumah. Kita kemudian mengisi loteng kecil tersebut dengan barang-barang.

Orang-orang biasa akan mengisi loteng tersebut dengan barang apa saja yang mereka miliki. Jadi, selain loteng tersebut cepat penuh, kita akan menemukan kesulitan untuk mencari barang atau perkakas yang benar-benar sedang kita butuhkan karena tertimbun barang-barang lain yang sebenarnya tidak begitu penting.

Berbeda dengan orang-orang ahli, dalam hal ini Sherlock Holmes salah satunya, akan secara hati-hati memilah dan memilih barang apa saja yang akan ditempatkan di “loteng kecilnya”.

Hanya barang-barang dan perkakas yang benar-benar dibutuhkan oleh orang-orang tersebut untuk membantu menyelesaikan pekerjaannyalah yang dimasukkan ke sana.

Saat orang tersebut membutuhkan perkakas atau peralatan untuk menyelesaikan pekerjaan yang dihadapi, dia langsung dapat menemukannya di loteng karena tersusun dan tertata rapi sesuai kebutuhan.

Sebagai contoh, ternyata Sherlock Holmes tidak peduli tentang Bumi yang mengelilingi Matahari atau Matahari yang mengelilingi Bumi. Ini cukup mengejutkan karena pada masa itu konsep heliosentris sudah cukup umum dikenal masyarakat. Namun, Sherlock Holmes malah tidak tahu dan tidak peduli tentang hal tersebut.

Menanggapi hal itu, Sherlock balik bertanya, apakah ada manfaat mengetahui Bumi yang mengeliling Matahari dan bukan sebaliknya, terhadap yang sedang dikerjakan sekarang?

Jika tidak ada, buat apa menyimpannya di “loteng kecil” kita? Hanya akan menumpuk dan memenuhi loteng, menutupi hal-hal lain yang jauh lebih berguna untuk menyelesaikan pekerjaan saat ini.

Sherlock juga berpendapat, otak kita bukan sebuah ruang fleksibel yang akan membesar mengikuti banyaknya barang yang ada di dalamnya. “Loteng kecil” di otak kita ukurannya akan selalu tetap dan mungkin cenderung mengecil.

Itulah mengapa jika terlalu banyak barang dan perkakas yang disimpan di dalamnya, kita cenderung akan melupakan beberapa hal lain yang sebelumnya telah tersimpan di sana.

Pendapat Sherlock tentang “loteng kecil” di otak ini mungkin sangat tepat untuk menjelaskan bahwa salah satu langkah untuk mengurangi kecemasan, stres, dan depresi adalah dengan menyingkirkan hal-hal yang tidak perlu dari pikiran kita.

Pikiran di otak kita, jika tidak dibebani kenangan dan penyesalan dari masa lalu, biasanya dihantui ketakutan dan kecemasan akan masa depan.

Kedua hal itu sering kali tak lebih dari timbunan peralatan dan perkakas di “loteng otak” kita, yang tak jarang malah menjadi penghalang saat kita membutuhkan barang dan perkakas yang kita perlukan untuk membuat kita menyadari keberadaan kita yang sedang berada di sini, saat ini, sekarang.

SUPERMAN

Ma Kent: I still don’t understand

why you’re taking the train when you can….

Clark Kent: Flying’s too fast Mom. I want this to take time. (Earth One: Volume One)

Beberapa bulan lalu saya membaca sebuah novel grafis keluaran DC Comics berjudul Earth One: Volume One. Novel grafis karya J. Michael Straczynski dan Shane Davis ini bercerita tentang kehidupan Clark Kent khususnya di hari-hari pertama pindah ke Metropolis dan hari-hari-hari-hari pertama dalam kehidupannya untuk tampil sebagai Superman.

Cerita dan tentu saja gambar-gambar yang ditampilkan di novel grafis ini sangat menarik. Tak heran jika kemudian menjadi The #1 New York Times Bestseller.

Namun, dari sekian lembar halaman, hal yang menurut saya menggelitik dan menarik perhatian adalah bagian pembuka dari kisah dalam novel ini.

Pada bagian tersebut, digambarkan Clark Kent sedang berada di stasiun menanti kereta dan flashback mengingat percakapannya dengan Ma Kent, ibu angkat yang mengasuhnya sejak dia mendarat di Bumi.

Alasan hal tersebut menarik buat saya adalah pertama, pertanyaan saya selama ini tentang cara Clark Kent “merantau” dari Smallville ke Metropolis untuk pertama kalinya.

Apakah dengan cara terbang (karena dia memiliki kemampuan itu) ataukah dengan kendaraan umum? Ternyata pertanyaan tersebut telah terjawab. Clark Kent ke Metropolis menggunakan kereta.

Dulu saya juga berpikir, jika Clark Kent berangkat dengan kendaraan umum, bukankan akan banyak waktu yang terbuang selama di perjalanan dibandingkan terbang?

Pertanyaan ini juga terjawab pada grafik novel ini dan sekaligus menjadi alasan kedua mengapa saya menyukai bagian pembuka cerita tersebut.

Ternyata, cepat tidaklah selalu baik. Sebaliknya, memperlambat atau bahkan berhenti sejenak juga bukan selalu bentuk “buang-buang waktu”. Dalam hal ini, Clark Kent membutuhkannya untuk sejenak hening dalam kereta tersebut.

Itu juga yang sebaiknya diterapkan dalam kehidupan kita. Kita seolah ingin selalu bergerak cepat dengan alasan tak ingin waktu terbuang percuma. Memperlambat atau bahkan berhenti sejenak adalah sebuah kesia-siaan yang tiada ampun lagi.

Tanpa sadar kita selalu bergerak dan selalu ingin cepat. Pikiran kita, tanpa kita sadari, hampir selalu dibebani dan diisi berbagai macam informasi yang bisa jadi sebagian besar informasi itu tidak begitu penting untuk kita.

Coba kita ingat, selain saat tidur, kapan kita mengistirahatkan pikiran kita? Bahkan di saat luang, pikiran kita tetap dipaksa bekerja dengan membuka gadget kita, memeriksa akun-akun sosial media, membaca timeline, atau bermain game.

Kemudian, saat waktu luang tersebut selesai, pikiran kita kembali diterpa hal-hal yang harus diselesaikan yang berkaitan dengan pekerjaan, kuliah, atau tugas sekolah.

Jika demikian, bagaimana kita tidak mudah stres, depresi, dan cemas? Kita tidak pernah memberikan kesempatan kepada pikiran kita untuk “bernapas”.

Mari, mulai sekarang selain saat tidur, coba kita luangkan waktu barang sejenak, untuk sejenak hening, berhenti sejenak.

Berikan pikiran kita waktu beristirahat, dengan tidak mengingat-ingat masa lalu, tidak memikirkan apa yang akan dilakukan nanti, melainkan menyadari diri dan pikiran kita sedang berada di sini, saat ini, sekarang.

Dalam dokumen Sadar Penuh Hadir Utuh (Halaman 40-43)

Dokumen terkait