Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas
KATAKUNCI A B S T R A C T olah tanah, Carbon, Nitrogen, mulsa organik, ampas tebu
Pemanfaatan mulsa organik yang merupakan bahan alami tidak terpakai dapat berperan mengurangi limbah dan meningkatkan kontribusi pada kesuburan tanah. Melalui proses dekomposisi, dengan bantuan mikroorganisme alami tanah, dapat mengembalikan unsur hara ke dalam tanah. Penelitian dilakukan pada perkebunan tebu (Saccharum officinarum) dengan pemberian mulsa berupa ampas tebu yang tidak terpakai. Pengamatan mikroorganisme tanah dalam penelitian dilakukan pada empat perlakuan: 1) sistem olah tanah dengan mulsa; 2) olah tanah tanpa mulsa; 3) tanpa olah tanah dengan mulsa; 4) tanpa olah tanah tanpa mulsa. Pengamatan dilakukan pada makro nurisi seperti Carbon dan Nitrogen di tanah. Hasil penelitian memperlihatkan kondisi total Carbon dan total Nitrogen di tanah pada masing masing perlakuan. Kondisi total Carbon dan Nitrogen terbanyak didapatkan pada perlakuan tanpa olah tanah dengan penambahan mulsa organik.
KORESPONDENSI
E-mail: [email protected]
1. PENDAHULUAN
Ampas tebu (bagas) adalah sisa batang tebu setelah dihancurkan. Ampas tebu sebagai limbah padat masih berpotensi untuk digunakan kembali di industri tebu dan juga dapat bermanfaat di areal perkebunan tebu. Di lokasi penelitian ini, di Lampung Indonesia, Gunung Madu Plantation (GMP) yang merupakan perkebunan tebu dan industri gula, menggunakan ampas tebu sebagai mulsa dan juga menggunakannya untuk kompos.
Mulsa dapat berupa lapisan jerami basah, daun, yang terdapat di sekitar, dapat digunakan untuk memperkaya unsur hara tanah. Di daerah tropis, mulsa mempengaruhi suhu tanah. Penutupan ini penting untuk menjaga kelembaban tanah dan untuk pertumbuhan tanaman. Tampilan dan tingkat efek mulsa organik pada sifat-sifat kimia tanah yang dipengaruhi tidak hanya oleh jumlah dan komposisi sisa tanaman yang digunakan tetapi juga oleh konsentrasi awal nutrisi dalam tanah serta kondisi lingkungan seperti suhu dan curah hujan. Pemanfaatan mulsa efektif dalam pencegahan erosi permukaan tanah (Sarno, 2004). Bahan sisa tanaman; seperti jerami padi, jagung, dengan C dan N tinggi dapat digunakan sebagai
mulsa organik yang dapat mengurangi erosi dan meningkatkan ketersediaan air tanah (Utomo, 2012). Untuk menentukan praktek praktek olah tanah yang dapat memperbaiki kondisi tanah. mencegah degradasi dan meningkatkan produksi tanaman, perlu dianalisis masalah organik tanah seperti C dan N. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh sistem pengelolaan tanah terhadap C dan N di tanah dengan dan tanpa mulsa ampas tebu.
2. METODOLOGI
Lokasi penelitian di Lampung Indonesia, Gunung Madu Plantation (GMP) yang merupakan perkebunan tebu dan industri gula, menggunakan ampas tebu sebagai mulsa dan juga menggunakannya untuk kompos. Penelitian ini mengamati setelah satu tahun sistem tanpa olah tanah dengan mulsa (NTM), tanpa olah tanah (NT), tanpa olah tanah dengan mulsa (CTM) dan olah tanah tanpa mulsa (CT) dilakukan.
SHNTASILVIA/ PROSIDINGSNSTL III 2018 69 – 71
70
Asam Hippuric disiapkan sebagai standar pada 25, 40, 65, dan 80 mg. Dua gram sampel tanah diukur dan diletakkan di atas plat nikel. Kemudian, plat nikel itu dimasukkan pada pemanas flash untuk analisis. C dan N secara otomatis diukur dengan menggunakan MACRO CORDER JM1000CN. Untuk mengukur C dan N tanah, terlebih dahulu harus menghitung berat nyata pada data. Berat nyata adalah berat yang dihitung dengan mengukur kandungan air dan berat kering setelah dioven (24 jam). Analisis Statistik
Efek dari pengelolaan tanah pada komunitas mikroba dari yang berbeda perawatan dianalisis analisis multivariat permutasi multivariat (PERMANOVA). Jumlah total kuinon, C, N, hasil dianalisis dengan menggunakan split plot analisis dua arah varians (ANOVA). Analisis perbandingan ganda dan t-test digunakan untuk membandingkan setiap perlakuan. Analisis statistiknya adalah dilakukan menggunakan R 2.7.2 (R Development Core Team, 2011).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Carbon dan Nitrogen di tanah
Carbon tanah dalam perlakuan NTM, NT, CTM dan CT masing masingnya adalah 1,1, 1,05, 0,83 dan 0,59%, (Gambar 3.1). Carbon yang terdapat pada tanah setelah beroperasi setahun menunjukkan bahwa sistem tanpa olah tanah (NTM dan NT) lebih tinggi dari sistem dengan mengolah lahan (CTM dan CT). Sistem tanpa olah tanah dengan pemberian mulsa (NTM) memperlihat kotribusi Carbon tertinggi di tanah. Hal ini memperlihakan bahwa kondisi tanpa olah tanah dapat mempertahannkan Carbon yang terdapat di dalam tanah dan dengan pemberian mulsa kondisi Carbon di tanah dapat terjaga dan lebih tinggi keberadaannya.
Gambar 3.1 Carbon di tanah pada masing masing perlakuan Keterangan:
NT = No Tillage (tanpa olah tanah)
NTM = No Tillage with Mulch (tanpa olah tanah dengan mulsa) CT = Conventional Tillage (olah tanah)
CTM = Conventional Tillage with Mulch (olah tanah dengan mulsa)
Nitrogen pada tanah dalam perlakuan NTM, NT, CTM dan CT masing-masingnya adalah 0,08, 0,07, 0,06 dan
0,04% (Gambar 3.2). Nitrogen pada tanah pada tahun pertama juga menunjukkan sistem tanpa olah tanah lebih tinggi daripada sistem persiapan lahan. Untuk menguji efek pengelolaan tanah pada tanah C dan N dianalisis menggunakan ANOVA dan Kruskal-Wallis (p <0,05). Hasilnya menunjukkan sistem tanpa olah tanah memiliki jumlah C yang lebih besar, dan juga N dibanding dengan sistem olah lahan.
Gambar 3.2 Nitrogen di tanah pada masing masing perlakuan
Keterangan:
NT = No Tillage (tanpa olah tanah)
NTM = No Tillage with Mulch (tanpa olah tanah dengan mulsa) CT = Conventional Tillage (olah tanah)
CTM = Conventional Tillage with Mulch (olah tanah dengan mulsa)
4. KESIMPULAN
Studi ini menetapkan bahwa pengolahan tanah dan ampas ampas memiliki efek pada Carbon dan Nitrogen di tanah.. C dan N lebih tinggi dalam praktik tanpa pengolahan tanah (NT dan NTM) dibandingkan dengan yang ada dalam praktik persiapan lahan (CT dan CTM). Ini menunjukkan bahwa persiapan lahan (olah lahan) memiliki efek kehilangan C dan N di tanah.
Koagulan PAC lebih efektif dibandingkan dengan Aluminium Sulfat karena dosis optimum PAC pada rentang kekeruhan 6,7-5.632 NTU sebesar 5-20 ppm dan Aluminium Sulfat 5-60 ppm sehingga PAC lebih murah dibandingkan dengan Aluminium Sulfat yaitu dengan selisih biaya rata-rata Rp100.000,-/hari;
Koagulan PAC lebih efisien dibandingkan dengan Aluminium Sulfat karena lebih cepat dalam pembentukan dan pengendapan flok yaitu selama 20 menit, sedangkan dengan Aluminium Sulfat selama 45 menit.
DAFTAR PUSTAKA
Bronick, C. J., & Lal, R. (2005). Soil structure and management: a review. Geoderma, 124(1-2), 3–22. doi:10.1016/j.geoderma.2004.03.005
Hobbs, P. R., Sayre, K., & Gupta, R. (2008). The role of conservation agriculture in sustainable agriculture. Philos Trans R Soc Lond B Biol Sci, 363(1491), 543–555. doi:10.1098/rstb.2007.2169
SHNTASILVIA/ PROSIDINGSNSTL III 2018 69 – 71
71 Houghton, R. A. (1995). Land-use change and the carbon
cycle. Global Change Biology, 1, 275–287. doi:10.1111/j.1365-2486.1995.tb00026.x
Hue, N. V., & Silva, J. A. (2000). Chapter 15. Organic soil amendements for sustainable agriculture: Organic sources of Nitrogen, Phosphorus, and Potassium. Plant Nutrient Management in Hawaii‟s soil. Approacess for tropical and subtropical agriculture. Retrieved from http://www.ctahr.hawaii.edu/oc/freepubs/pdf/pnm 15.pdf
IPCC. (2000). Land Use, Land-Use Change, and Forestry. Forestry. doi:DOI: 10.2277/0521800838
Larson, W. E., & Pierce, F. J. (1994). The dynamics of soil quality as a measurement of sustainable management. Defining Soil Quality for a Sustainable Environment, 551(1), 37–51. Retrieved from http://scholar.google.com/scholar?hl=en&btnG=S earch&q=intitle:THE+DYNAMICS+OF+SOIL+ QUALITY+AS+A+MEASURE+OF+SUSTAINA BLE+MANAGEMENT#0
Niles, J. O., Brown, S., Pretty, J., Ball, A. S., & Fay, J. (2002). Potential carbon mitigation and income in developing countries from changes in use and management of agricultural and forest lands. Philosophical Transactions. Series A, Mathematical, Physical, and Engineering Sciences,
360(1797), 1621–1639.
doi:10.1098/rsta.2002.1023
Pretty, J. N., Ball, a S., Xiaoyun, L., & Ravindranath, N. H. (2002). The role of sustainable agriculture and renewable-resource management in reducing greenhouse-gas emissions and increasing sinks in China and India. Philosophical Transactions. Series A, Mathematical, Physical, and Engineering Sciences, 360(1797), 1741–1761. doi:10.1098/rsta.2002.1029
R Development Core Team, 2011. www.r-project.org/ Sarno, Lumbanraja, J., Afandi, Adachi, T., Oki, Y., Senge,
M., & Watanabe, A.(2004). Effect of weed management in coffee plantation on soil chemical properties. Nutrient Cycling in Agroecosystems, 69, 1–4.
Utomo, M., Buchari, H., & Banuwa, I. S. (2012). Conservation tillage: Mitigation technology of green house gas from food agriculture. Lampung, Indonesia: Lampung University Research Centre.
SNSTLIII,20SEPTEMBER 2018,PADANG,SUMATRA BARAT
Seminar Nasional Sains dan Teknologi Lingkungan III
| ISSN (Print) 2356-4938 | ISSN (Online) 2541-3880 |
Attribution-NonCommercial 4.0 International. Some rights reserved