Paulus menyebut tiga golongan manusia dalam 1 Korintus 2:12-3:4, yaitu manusia
duniawi (2:14), manusia rohani yang bertabiat duniawi (3:2), dan manusia yang dewasa di dalam Kristus (2:15). Seorang konselor harus dapat mengerti siapakah konseli yang ia hadapi. Si konseli mungkin termasuk salah satu klasifikasi berikut:
1. Orang duniawi:
o orang yang bukan Kristen (orang yang belum menerima Kristus sebagai
Juru Selamat).
o orang Kristen duniawi (KTP/Kristen Tanpa Pertobatan).
2. Bayi dan kanak-kanak rohani:
o orang Kristen yang lahir baru (bayi rohani).
o orang Kristen "kanak-kanak", satu ciri khasnya ialah ia sering bertengkar seperti kanak-kanak.
3. Orang Kristen dewasa:
Orang Kristen yang mengenal tindakan-tindakan Tuhan dan ia hidup bergaul dengan Tuhan. Sepanjang pengalaman Anda sebagai konselor, Anda akan menjumpai banyak orang Kristen dewasa yang tidak terus bertumbuh, melainkan orang Kristen dewasa yang sudah mundur. Ia mundur mungkin karena kecewa atau patah hati. Ada juga orang Kristen yang pernah mundur tetapi telah
menyerahkan dirinya kembali kepada Tuhan atau penyerahan diri ulang. Selain itu, Anda juga akan menjumpai orang Kristen yang matang, stabil, dan terus berjalan bersama dengan Tuhan melalui berbagai persoalan.
Anda sebaiknya mengerti konseli yang Anda layani itu termasuk golongan yang mana. Jangan terkelabuhi oleh usia dan penampilan seseorang. Ada perbedaan di antara usia rohani dan usia jasmani. Seorang konselor harus memiliki mata yang jeli. Janganlah heran jika Anda bertemu dengan rohaniwan yang belum lahir baru.
Sumber:
Bahan diambil dan disunting dari buku online: Nama situs: Christian Counseling Center Indonesia Judul buku: Kursus Pelayanan Pribadi
89
Tips: Membaca Bahasa Tubuh Konseli
Ucapan yang keluar dari mulut tidak pernah bersumber hanya dari mulut. Ia berkaitan dan berhubungan dengan hati dan anggota-anggota tubuh yang lain seperti mata, kepala, wajah, tangan, kaki, dan seluruh tubuh. Ucapan itu juga berhubungan dengan nada suara yang menyertainya. Anggota tubuh kita senantiasa bergerak sesuai perintah otak.
Emosi dan perasaan sangat mudah terlihat. Ia mengalir bagaikan air meluap dari sumber yang tidak terbendung. Emosi biasanya jujur dan alami. Bahasa dan gerak tubuh banyak dipakai dalam hidup sehari-hari. Orang yang sedang marah mungkin akan mengepalkan tangan kuat-kuat atau wajahnya memerah. Wajah orang yang ketakutan biasa tampak pucat pasi. Wajah orang yang bersukacita biasa tersenyum berseri-seri. Orang yang merasa sedang tidak suka mungkin akan cemberut atau membuang muka. Masih banyak lagi bahasa nonverbal lainnya.
Tentu saja bahasa tubuh manusia tidak selalu sama dalam setiap kebudayaan. Bahkan, makna bahasa tubuh di dalam kebudayaan yang berbeda pun bisa sangat berbeda, misalnya: anggukan kepala berarti "ya" bagi orang Indonesia, tetapi "tidak" bagi orang Bulgaria; gelengan kepala berarti "tidak" bagi orang Indonesia, tetapi "ya" bagi orang India; orang Indonesia akan menempelkan telunjuk jari menyilang di dahi ketika
menyebut seseorang gila, sebaliknya orang Amerika mengartikan gerakan itu sebagai isyarat seorang yang sedang berpikir keras. Jadi, bahasa tubuh dan budaya setiap bangsa berbeda-beda.
Pada umumnya, orang Indonesia menggunakan bahasa tubuh berikut ini.
Berbicara dengan tangan.
Gerakan tangan bisa menyampaikan banyak hal. Gerakan tangan orang yang sedang berbicara sering mengikuti irama suaranya. Coba perhatikan gerakan tangan seseorang yang sedang berbicara di telepon. Ketika ia memberikan penekanan pada sesuatu, gerakan tangannya tampak sesuai dengan suasana batinnya. Itulah bahasa tangan orang Indonesia. Jika kita perhatikan dengan saksama, kita akan dapat memahami perasaan dan emosi orang yang sedang berbicara itu.
Gerakan tangan memang sering dipakai menyertai gerak tubuh lainnya. Dengan tangan akan diketahui siapakah yang sedang dituju (mereka, dia, engkau) atau bahkan diri sendiri. Gebrakan tangan di meja atau lemparan barang bisa menunjukkan kemarahan. Bagian pergelangan dan telapak tangan bisa dipakai untuk bertopang dagu/pipi ketika orang sedang berpikir keras. Lambaian tangan bisa menyatakan isyarat/salam
90
Berbicara dengan kepala.
Gerakan kepala, meskipun tidak sebanyak gerakan tangan, bisa menyampaikan isi hati, pikiran, dan emosi seseorang. Jika kita memahami maksud lawan bicara, kita bisa mengatakan "Oh..." sambil menganggukkan kepala. Jika kita terkejut, mungkin kita akan mengatakan "Hah..." atau "Oh..." sambil mendongakkan kepala dan wajah. Jika kita sudah sepakat, mungkin kita akan menganggukkan kepala beberapa kali. Jika kita tidak sepakat, mungkin kita akan menggelengkan kepala beberapa kali. Gerakan memukul kepala dengan tangan menunjukkan rasa kesal atau penyesalan. Orang menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat sambil memandang ke bawah sebagai tanda ia kecewa dan kesal hati. Keterampilan menafsirkan arti gerakan kepala akan memperkaya
pemahaman kita mengenai seseorang.
Berbicara dengan roman muka.
Suasana hati seseorang dapat mudah terbaca melalui roman muka atau perubahan raut wajah. Roman muka orang yang sedang bahagia tentu berbeda dari orang yang sedih atau marah. Roman muka memang paling mudah mengungkapkan getaran emosi orang. Andilnya mencapai kira-kira 30%, dibanding kata-kata verbal yang mencapai 7%. Sedikit saja tampak perubahan roman muka sudah menyatakan suatu makna tertentu. Pada umumnya, orang mudah berbicara dengan roman mukanya. Perubahan ekspresi wajah mengalir dengan alami, bahkan sering terjadi secara spontan. Namun orang-orang tertentu mampu menyimpan isi batinnya hingga tidak tampak pada wajahnya. Orang seperti itu biasanya memang pandai bersandiwara; ada yang menyebut mereka bermuka dua. Mereka pandai menyembunyikan suasana hati dan emosi sehingga tidak tampak pada wajah mereka.
Jika kita sedang berbahagia atau gembira, roman muka kita tampak cerah. Jika bersedih hati, wajah kita tampak kusut dan kuyu. Jika kita marah, wajah kita mungkin memerah disertai gejolak emosi bergelora. Jika terkejut, roman muka kita berubah dan mungkin disertai gerakan mulut terbuka. Keterampilan membaca roman muka orang akan menolong kita memahami isi hati, emosi, dan pikiran rekan bicara kita.
Berbicara dengan mata.
Mata manusia mudah bergerak lincah menyertai isi pikiran, perasaan, dan emosinya. Setiap gerakan mata pasti mengandung makna tertentu dan sudah menyampaikan sesuatu meskipun orang itu belum mengatakan apa pun.
Jika mata seseorang terbelalak, itu bisa berarti ia sedang terkejut. Jika orang mengangkat dua kelopak matanya, ia mungkin merasa heran. Mata yang sering
berkedip menandakan suatu kebingungan. Tatapan mata disertai kelopak mata sedikit membesar dapat menandakan perhatian dan minat yang tinggi terhadap objek yang
91
dibicarakan. Memandang ke bawah ketika berbicara menandakan perasaan takut dan gelisah.
Pandangan dan tatapan mata yang agak lama memiliki dampak emosional. Hubungan yang semakin dekat membuat tatapan mata semakin lama. Tatapan itu mengandung banyak makna. Kedipan mata mengisyaratkan arti tertentu, apalagi ketika kedipan mata itu disertai dengan senyuman. Mengamati gerakan bola mata akan membantu kita untuk lebih memahami emosi, perasaan, dan pikiran mitra bicara kita.
Keserasian bahasa tubuh, ucapan, dan suara.
Seharusnya, di antara perkataan, nada bicara, dan bahasa tubuh terdapat keserasian dan keselarasan. Anggota-anggota tubuh selalu berhubungan satu dengan yang lain. Otak sebagai pusat aktivitas akal budi pasti berkaitan dengan hati sebagai pusat emosi dan perasaan. Reaksi otak dan hati akan tampak pada bahasa tubuh dan perubahan nada bicara.
Oleh sebab itu, seseorang yang sedang marah cenderung berbicara dengan nada suara tinggi dan bergetar. Ini juga tampak pada perubahan roman muka. Ucapan-ucapannya juga agak kurang terkontrol.
Jadi, dalam suatu percakapan, konselor perlu mengamati kaitan antara perkataan, perubahan nada bicara, dan bahasa tubuh. Pengamatan perubahan itu secara utuh dan menyeluruh akan memungkinkan konselor menyelami kondisi hati, pikiran, dan emosi konseli. Jika konselor hanya memperhatikan salah satu unsur, ia tidak mungkin
memahami masalah konseli secara menyeluruh. Oleh sebab itu, konselor perlu berlatih menangkap ketiga hal tersebut dengan sebaik-baiknya. Dari sanalah konselor akan mendengar sesuatu yang tidak diucapkan oleh mulut, tetapi didengar oleh hati dan tampak oleh mata.
Sumber:
Diambil dan disunting dari:
Judul artikel asli: Membaca Gerak-Gerik Tubuh Konseli Judul buku: Dasar-Dasar Konseling Pastoral
Penulis: Tulus Tu'u
Penerbit: ANDI, Yogyakarta 2007 Halaman: 139 -- 143
92