BAB VII RENCANA STRATEG
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
18. Music Director
3.4. Siaran dan Penyiaran 1 Siaran
Siaran berasal dari kata siar yang berarti menyebarluaskan informasi melalui pemancar. Kata siar ditambah akhiran –an membentuk kata benda yang memiliki makna apa yang disiarkan. Siaran dapat berupa siaran audio (radio), dapat pula dalam bentuk siaran audio visual, gerak dan sinkron, seperti pada siaran televisi.
Siaran sebagai output stasiun penyiaran yang dikelola oleh organisasi penyiaran merupakan hasil perpaduan antara kreatifitas manusia dan kemampuan sarana atau alat perangkat keras dan lunak.
Produksi acara siaran, tidak selalu diselenggarakan di dalam studio, tetapi ada yang diproduksi di luar studio. Produksi di luar studio ini ada yang hanya direkam untuk keperluan siaran tunda dan ada yang disiarkan secara langsung (live broadcast). Tugas dari stasiun penyiaran hanyalah memancarkan siarannya dari pemancar stasiun penyiaran, sementara lebih jauh lagi untuk
menyebarluaskannya adalah wewenang dari pengelola telekomunikasi, misalnya di Indonesia PT. Telkom dan Indosat.
Siaran radio adalah pemancaran gelombang elektromagnetik yang membawa muatan signal suara yang terbentuk melalui mikrofon, kemudian pancaran ini diterima oleh sistem antena untuk diteruskan ke pesawat penerima (radio). Signal suara itu kemudian diubah kembali menjadi suara di dalam audio (loudspeaker).
Siaran adalah rangkaian mata acara dalam bentuk suara atau gambar yang dapat diterima oleh khalayak dengan pesawat penerima (radio), dengan atau tanpa alat bantu melalui pemancaran gelombang elektromagnetik, kabel, serat optik, atau media lainnya. Siaran radio hanyalah pemancaran gelombang elektromagnetik yang bermuatan signal suara. Tempat diadakan perencanaan siaran, produksi siaran, administrasi siaran, manajemen siaran, dan siaran itu sendiri disebut stasiun penyiaran. Siaran, baik produksi maupun jadwal siarannya harus direncanakan. Stasiun radio harus memiliki studio dan sarana serta pemancar ataun transmisi milik perusahaan atau jawatan atau perum telekomunikasi. Pengelola siaran harus selalu berorientasi pada pasar, yaitu pendengar. Pengelola siaran harus mengetahui selera pasar dengan secara periodik mengadakan penelitian selera atau audience profile research dan menyesuaikan materi siaran dengan selera pendengar.
3.4.2. Penyiaran
Penyiaran adalah kegiatan pembuatan dan proses menyiarkan acara siaran radio serta pengelolaan operasional perangkat lunak dan keras yang meliputi segi ide, kelembagaan, dan sumber daya manusia untuk memungkinkan terselenggaranya siaran (Wahyudi, 1994). Kegiatan penyiaran dilakukan oleh organisasi penyiaran. Organisasi penyiaran didukung oleh tiga unsur utama, yaitu siaran teknik dan administrasi. Siaran merupakan output satu-satunya dari organisasi penyiaran. Siaran radio hanya menyajikan informasi audio dan mampu mendatangi khalayak tanpa membedakan status dan usia selama lebih kurang 24 jam setiap hari.
Siaran sebagai output medium radio, memiliki fungsi yang sama dengan media massa lain, yaitu fungsi mendidik, menginformasikan, meneruskan nilai- nilai budaya bangsa, menghibur, mempromosikan atau iklan, dan melakukan kontrol sosial. Setiap mata acara siaran direncanakan, diproduksi, dan disajikan kepada khalayak dengan isi pesan yang bersifat informatif, edukatif, persuasif, dan komunikatif.
3.5. Kuesioner
3.5.1. Pembuatan Kuesioner
Kuesioner adalah media pengumpulan data yang umum digunakan dalam penelitian survei yang berisi pernyataan/pertanyaan yang harus diisi/dijawab oleh responden. Tujuan pembuatan kuesioner adalah untuk memperoleh informasi
yang relevan dengan tujuan penelitian serta informasi dengan reliabilitas dan validitas yang tinggi.
Kuesioner berisi pertanyaan mengenai beberapa hal (Singarimbun, 1979:176), seperti:
a. Fakta, misalnya umur, pendidikan dan sebagainya.
b. Pendapat dan sikap, menyangkut sikap responden terhadap obyek tertentu. c. Informasi, menyangkut apa yang diketahui oleh responden tentang sesuatu hal. d. Persepsi diri, dimana responden menilai perilakunya sendiri dalam
hubungannya dengan orang lain.
Dalam pembuatan kuesioner, jenis pertanyaan yang diajukan, antara lain:
1. Pertanyaan terbuka, kemungkinan jawabannya tidak ditentukan terlebih dahulu dan responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan.
2. Pertanyaan tertutup, kemungkinan jawabannya sudah ditentukan terlebih dahulu dan responden tidak diberi kesempatan untuk memberikan jawaban yang lain.
3. Pertanyaan kombinasi tertutup dan terbuka, dimana jawaban telah ditentukan tetapi kemudian disusul dengan pertanyaan tambahan.
4. Pertanyaan semi terbuka, dimana alternatif jawaban sudah tersusun tetapi masih ada kemungkinan jawaban tambahan.
Beberapa petunjuk dalam membuat pertanyaan, antara lain:
2. Pertanyaan harus jelas dan tidak mengandung tafsir majemuk. 3. Pertanyaan harus berkaitan dengan masalah dan sasaran penelitian.
4. Pertanyaan tidak boleh berisi informasi (pengetahuan) yang tidak dimiliki responden.
5. Pertanyaan tidak boleh menggiring responden untuk memberikan alternatif jawaban tertentu.
6. Pertanyaan tidak memuat hal-hal yang bersifat pribadi dan peka sehingga responden mungkin menolak untuk menjawab.
7. Pertanyaan tidak boleh bersifat klise agar jawaban juga tidak klise.
Hasil kuesioner akan menjelma dalam angka-angka, tabel-tabel, analisis statistika dan uraian serta kesimpulan hasil penelitian. Analisis data kuantitatif dilakukan berdasarkan hasil kuesioner tersebut.
3.5.2. Tingkat Pengukuran
Pengukuran adalah pengumpulan angka-angka pada suatu variabel menurut aturan tertentu. Tingkat pengukuran yang luas digunakan dalam penelitian sosial adalah yang dikembangkan oleh S. S. Steven (Singarimbun, 1979:175), yang membagi tingkat ukuran ke dalam empat kategori, yaitu:
1. Ukuran nominal, yakni tingkat pengukuran yang paling sederhana. Pada ukuran ini tidak ada asumsi tentang jarak maupun urutan antara kategori- kategori dalam ukuran tersebut. Contohnya adalah variabel jenis kelamin, ditentukan kode 1: pria dan kode 2: wanita.
2. Ukuran ordinal, yang banyak digunakan untuk mengukur tingkat kepentingan dan sikap. Melalui pengukuran ini, responden dapat ranking dari tingkat paling rendah sampai tingkat paling tinggi menurut suatu atribut tertentu. Ranking tersebut dinilai atas dasar sikapnya terhadap obyek atau tindakan tertentu. Misalnya 1. sangat tidak setuju, 2. tidak setuju, 3. tidak ada pendapat, 4. setuju, 5. sangat setuju.
3. Ukuran interval, yang mengurutkan obyek berdasarkan suatu atribut dan memberikan informasi tentang interval antar suatu obyek dengan obyek lain. Ukuran ini tidak memberikan informasi tentang jumlah absolut yang dimiliki oleh seseorang. Ukuran interval ditandai oleh unit pengukuran yang tetap dengan menggunakan angka-angka sebagai pembanding.
4. Ukuran rasio, diperoleh apabila selain informasi tentang urutan dan interval, diinginkan informasi nilai absolut yang dimiliki oleh obyek. Ukuran ini merupakan suatu ukuran yang mempunyai titik nol yang nyata. Perbandingan setiap titik pada unit pengukuran adalah bebas.