ada waktu karena dari kehendak bunyi Pasal 58 Ayat (3) itu. Terima kasih Pimpinan, kami kembalikan terima kasih.
PIMPINAN SIDANG: DR (HC) A. M. FATWA (KETUA SEMENTARA DPD RI) Saudara, saya sampaikan juga secara pribadi bahwa saya mengalami gangguan di dalam soal pendengaran tetapi saya dibantu tadi bahwa ini Saudara Rijal ini mengusulkan untuk tidak harus malam ini, tapi kalau kita perhatikan semua anggota yang terhormat disini mayoritas memiliki untuk diteruskan pada malam hari ini. Teruskan ya? Ya oke.
KETOK 2X
PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (KETUA KOMITE I DPD RI) Pak Ketua, mohon maaf Pak Ketua.
Saya ingin memberikan masukan.
PIMPINAN SIDANG: DR (HC) A. M. FATWA (KETUA SEMENTARA DPD RI) Ya kepada Saudara Bahar diteruskan.
PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (KETUA KOMITE I DPD RI) Pak Fatwa untuk memberi jalan kepada Pak Bahar. Terima kasih.
Kebetulan dalam Panmus, itu ada tim jadwal dan tim kajian dan yang pasti bahwa Panmus kemarin itu tidak sempat memutuskan tim kajian. Dalam hal ini seperti Saudara Rijal Sirait, bagaimana mekanisme dan seterusnya. Oleh karena itu sebelum Saudara Bahar Ngitung menyampaikan, membacakan mengenai mekanisme, kami meminta kepada forum ini agar Saudara Bahar setelah menyampaikan itu kemudian diputuskan bahwa itu menjadi keputusan Paripurna, begitu, terima kasih.
PIMPINAN SIDANG: DR (HC) A. M. FATWA (KETUA SEMENTARA DPD RI) Silakan, lanjut.
PEMBICARA: Drs. H. BAHAR NGITUNG, M.B.A (KETUA TIM KAJIAN)
Mungkin saya perlu menjelaskan pimpinan, bahwa legitimasi untuk membicarakan, untuk membacakan ini harus merupakan keputusan Paripurna yang seharusnya laporan ini saya bacakan di depan Sidang Panmus tapi kemarin karena tidak sempat menjadi Keputusan Panmus maka forum ini mengambil alih dan memutuskan jadi harus diketok palu. Ketok palu untuk tim kajian baca di Paripurna bukan di Panmus. Terima kasih.
PIMPINAN SIDANG: DR (HC) A. M. FATWA (KETUA SEMENTARA DPD RI) Teruskan, iya silakan.
PEMBICARA: Drs. H. BAHAR NGITUNG, M.B.A (KETUA TIM KAJIAN) Bismillahirrahmanirrahiim.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
I. Pedoman tata cara penjaringan bakal calon pimpinan DPD RI periode April 2017 sampai dengan September 2019.
1. Dasar hukum Undang-Undang MD3 Nomor 42 Tahun 2014. 2. Peraturan DPD RI Nomor 1 Tahun 2017 tentang Tata Tertib. 3. Keputusan Paripurna DPD RI tanggal 4 April 2017
II. Prinsip-prinsip penyelenggaraan Sidang
1. Bakal calon pimpinan DPD RI dari wilayah dipilih dari dan oleh anggota dalam rapat wilayah yang di pimpin oleh pimpinan sementara.
2. Pimpinan sementara sebagaimana dimaksud pada butir 1 terdiri dari 1 orang anggota tertua dan 1 orang anggota termuda dari provinsi yang berbeda di wilayah tersebut. 3. Dalam hal anggota tertua dan atau anggota termuda di wilayah tersebut berhalangan
sebagaimana penggantinya adalah anggota tertua dan atau anggota termuda berikutnya.
4. Setiap anggota wajib menandatangani daftar hadir sebelum menghadiri rapat wilayah, Pasal 244 Ayat (1).
5. Rapat dapat dibuka setelah sidang dihadiri oleh lebih dari setengah jumlah anggota. III. Prinsip-prinsip pemilihan
1. Pemilihan bakal calon pimpinan dilakukan dengan pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat terlebih dahulu sebelum mengambil pengambilan keputusan dengan suara terbanyak.
2. Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak secara rahasia dilakukan apabila menyangkut orang atau masalah lain yang dipandang perlu.
3. Setiap anggota mempunyai hak memilih dan dipilih. IV. Tahap penjaringan di masing-masing wilayah
1. Setiap anggota berhak mencalonkan diri sebagai bakal calon Pimpinan DPD RI melalui masing-masing wilayah.
2. Masing-masing wilayah memilih 3 bakal calon pimpinan DPD dalam rapat wilayah diselenggarakan sebelum Sidang Paripurna pemilihan pimpinan DPD dilaksanakan dan ditentukan berdasarkan musyawarah mufakat atau suara terbanyak.
3. Dalam hal mekanisme musyawarah tidak tercapai, bakal calon pimpinan yang terdaftar hanya 3 orang atau kurang maka pimpinan sidang menetapkan nama-nama bakal calon pimpinan tersebut untuk dibawa dalam Sidang Paripurna guna mengikuti tahap pemilihan calon pimpinan.
4. Dalam hal bakal calon pimpinan lebih dari 3 orang maka pimpinan sidang menetapkan pemilihan melalui mekanisme pemungutan suara.
5. Masing-masing anggota di wilayah memilih 3 nama sebagai bakal calon di wilayah tersebut.
6. Anggota yang memperoleh suara tertinggi 1, 2 dan 3 ditetapkan sebagai bakal calon dari wilayah yang bersangkutan.
8. Hasil penjaringan sebagai dimaksud dalam butir 2 ditandatangani oleh pimpinan rapat sementara untuk ditetapkan sebagai calon Pimpinan DPD RI dalam Sidang Paripurna DPD RI.
9. Bakal calon pimpinan diusulkan oleh masing-masing wilayah secara tertulis kepada Pimpinan Sementara untuk ditetapkan sebagai menjadi calon pimpinan DPD dalam Sidang Paripurna.
V. Tahap pemilihan ulang bakal calon pimpinan DPD jika suara sama
1. Dalam hal terdapat bakal calon pimpinan yang memperoleh suara terbanyak nomor 3, 3 sama dan mekanisme pemungutan suara maka dilakukan pemilihan ulang tertutup terhadap bakal-bakal calon tersebut.
2. Setiap anggota memilih nama dari bakal calon pimpinan DPD dari masing-masing wilayah yang memperoleh suara yang sama.
3. Bakal calon yang memperoleh suara terbanyak pada masing-masing wilayah ditetapkan menjadi calon pimpinan DPD terpilih.
VI. Sekretariat Jenderal berkewajiban memfasilitasi pertemuan wilayah Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PEMBICARA: Dr. H. BAMBANG SADONO, S.H., M.H (JATENG) Pimpinan.
PIMPINAN SIDANG: DR (HC) A. M. FATWA (KETUA SEMENTARA DPD RI) Tunggu dulu.
PEMBICARA: Dr. H. BAMBANG SADONO, S.H., M.H (JATENG) Bambang Sadono, Pimpinan.
Tidak, sebelum disahkan saya ingin sampaikan. Pimpinan, Bambang Sadono.
Saya tadi mendengar apa yang dibacakan oleh tim kajian memang prosesnya begitu lengkap, begitu sistematis tetapi saya mengusulkan karena juga tadi alasan waktu dan sebagainya dan kita juga akan mengalami kesulitan kalau kita tidak segera mempunyai kepemimpinan yang baru. Itu berarti nanti terjadi kekosongan pemimpin maka agar dimungkinkan apabila terjadi proses-proses yang lebih sederhana. Jadi misalnya kalau kita bisa menyepakati nama itu dengan cepat dan tidak ada kontroversi maka itu bisa kita putuskan sebagai keputusan pemilihan ini, tanpa harus mengikuti seluruh proses yang panjang tadi. Artinya ini dijadikan salah satu alternatif dari apa yang sudah disusun oleh tim kajian itu, terima kasih.
PEMBICARA: Drs. H. BAHAR NGITUNG, M.B.A (KETUA TIM KAJIAN)
Pimpinan, saya sudah bacakan tadi. didalam setiap proses pemilihan selalu didahului dengan musyawarah mufakat. Kalau terjadi musyawarah mufakat, kita tidak perlu ikuti proses ini. Jadi itu yang harus diambil, terima kasih.
PIMPINAN SIDANG: DR (HC) A. M. FATWA (KETUA SEMENTARA DPD RI) Iya, saya kira kita terima saja apa yang sudah disampaikan oleh Ketua Tim Acara tadi.
PEMBICARA: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M (KETUA KOMITE IV DPD RI)
Sebentar sebentar sebentar Pimpinan interupsi Ajiep, Ajiep.
PIMPINAN SIDANG: DR (HC) A. M. FATWA (KETUA SEMENTARA DPD RI) Silakan pak Ajiep.
PEMBICARA: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M (KETUA KOMITE IV DPD RI)
Tidak mengurangi apa yang dibacakan tadi, saya hanya mengingatkan bagaimana kalau terjadi sebuah wilayah tidak bisa kuorum? Bagaimana kalau sebuah wilayah tidak bisa kuorum sehingga tidak bisa melahirkan wakil dari wilayah tersebut? Nah itu saja pertanyaan saya.
PEMBICARA: FACHRUL RAZI, M.IP (ACEH)