• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sifa Andrea Choirunissa (General, Content Marketing)

Dalam dokumen LAMPIRAN Lampiran 1 : Transkrip Wawancara (Halaman 21-24)

- Selamat…, sebelum memulai sesi interview boleh perkenalkan diri terlebih daulu? Serta in-charge di bagian apa?

Halo saya Cho selaku content marketing di Friendchised, saya in-charge dalam pembuatan segala bentuk konten di Friendchised serta strateginya.

Jadi di semua media sosial saya mengambil bagian dalam pembuatan kontennya baik kebutuhan internal maupun eksternal. Jadi kalau dibilang day to daynya ngapain, ya berurusan dengan penulisan konten dan penentuan strategi berdasarkan kebutuhan target audience deh.

- Sampai saat ini, ada strategi pemasaran apa saja yang dilakukan Friendchised?

Strategi pemasaran yang kita jalanin itu mulai dari social media marketing yang dimana gue incharge di bagian situ, terus ada dari digital marketingnya juga di bagian paid ads ya kaya Facebook ads maupun Instagram ads, terus ada influencer marketing yang didalamnya itu pakai strategi affiliate marketing juga. Itu kalau onlinenya. Kalau offline kita ada ikut cenderung lebih kearah event sih dan memanfaatkan tim sales.

- Apakah dalam menjalankan strateginya friendchised memahami dan berpacu kepada sebuah metode/teori tertentu? Kalau iya, apa fokus utamanya?

Untuk metode sih dari awal kita pakai fundamental ya, pakai taori marketing funnel yang dimulai dari awareness sampai ke retention itu. Tapi kalau untuk media sosial sendiri pakainya lebih sering ke teori content marketing dan pemahaman algoritma media sosial yang Friendchised gunakan. Terus kalau fokus utama Friendchised itu sendiri untuk sekarang kita fokus kepada tahap conversion. Karena dari tahap awarenessnya sendiri sudah dibilang cukup baik.

- Bagaimana proses pembentukan strategi pemasaran di Friendchised? Dan siapa saja yang terlibat?

Proses pembentukan strategi pemasaran di Friendchised itu melibatkan 1 tim marketing yang biasanya dipimpin langsung sama CMO kita. Dan biasanya per inisiatif akan dipegang oleh masing-masing role di dalam divisi marketing.

- Dalam membentuk konten adakah dimensi2 yang dituju oleh Friendchised?

Dimensi yang dimaksud lebih kearah metrik kali ya? Kalau ngomongin metrik keberhasilan itu kita hitung secara angka. Engagement Rate itu sebagai tingkat ketertarikan audience terhadap pendistribuasian konten, jadi tolak ukur seberapa valueable konten yang kita distribusikan baik melalui media sosial internal maupun eksternal seperti influencer. Terus untuk metrik website tap dan profile visit itu menugukur seberapa berhasil tolak ukur call to action yang sudah kita bentuk dan pesan persuasi yang kita sampaikan itu berhasil apa tidak. Yang tentunya juga pasti berdasarkan guideline identitas dan objective perusahaan.

- Bagaimana proses pembentukan konten pemasaran yang dilakukan oleh Friendchised

Kalau proses kita mungkin sama seperti di tempat lain, dimulai dari content planning, terus content research, content writing, terus conten design baru deh ke distribusi. Tapi dalam pembentukan content writingnya kita berpacu kepada consumer behavior ya, mungkin kalau udah tau AIDA, dimulai dari Attention Interest Desire lalu Action. Jadi kurang lebih itu runtutan penyusunan pembuatan konten di Friendchised dalam susunan penulisannya.

- Adakah riset yang dilakukan terkait pembentukan konten terhadap influencer dalam affiliate marketing yang digunakan? Kalau ada, bagaimana prosesnya?

Yap, pertama kita menyesuaikan antara tone of voice dan personal branding dari influencernya terhadap key message yang Friendchised ingin sampaikan sih. Jadi kita melakukan diskusi juga sama influencer terkait pembentukan pesannya dari segi penyampaiannya berdasarkan teori AIDA tadi apabila di mix dengan influencer penyampaiannya baiknya seperti apa. Jadi berurutan tuh dimulai dari headline yang menarik, lalu penjelasan fitur, penjabaran promosi, hingga cara pendaftaran ke Friendchised. Karena berbeda target audience juga akan memiliki cara penyampaian yang berbeda-beda sih. Jadi dimulai dari analisis target audience, penyesuaian ke personal branding influencer, baru deh pembentukan konten yang akan disebarkan, dan jangan lupa untuk dievaluasi.

- Adakah objective yang dituju dalam menjalankan startegi konten pemasaran melalui affiliate marketing

Dari segi objective sendiri, sudah ditentukan untuk meningkatkan jumlah conversion dari Friendchised sendiri, jadi menumbuhkan tingkat registrasi berbayar dari para franchisor.

- Adakah key message tertentu yang harus disebarkan oleh para influencer?

Apakah pesan utama yang ingin disampaikan?

Untuk key message sendiri, kita berfokus mulai dari edukasi bahwa franchise atau waralaba sebagai alternatif baru dari bentuk investasi. Karena secara bisnis cukup banyak franchisor yang belum aware terhadap pentingnya membuka sistem waralaba. Jadi sistem ini bisa menjadi sumber passive income untuk usaha mereka sendiri,.

- Apakah key message yang sudah dibentuk oleh Friendchised dalam strategi afiliasi pemasaran ini tersmapaikan dengan baik?

Sejauh ini setelah saya melakukan evaluasi dari segi pesannya sudah sangat tersampaikan dengan baik kepada audience. Hampir gak ada audience kita yang salah persepsinya mengenai Friendchised sebagai penyedia jasa informasi waralaba, karena kita berfokus kepada satu key message jadi influencer juga mendistribusikannya sesuai brief dari kita sih.

- Strategi apa yang dimiliki oleh Friendchised dalam membentuk konten dalam affiliate marketing?

Dalam menjalankan strategi affiliate marketing, konten yang kita distribusikan itu semua dalam bentuk edukasi. Jadi start dari edukasi dulu, tapi dalam pelaksanaan konten writingnya dimulai dari AIDA jadi dilengkapi dengan call to action kepada brand Franchise dan daftarkan bisnis bareng Friendchised.

- Bagaimana hasil proses evaluasi yang dilakukan oleh Friendchised terhadap kualitas konten ? dan kapan evaluasi tersebut dilakukan.

Proses evaluasi dilakukan H+1 minggu dari perjalanan durasi kampanye.

Kita evaluasi dari hasil efektivitas CTA konten terhadap perilaku konsumen.

Tapi pada kenyataannya mungkin masih ada beberapa kekurangan dari segi strategi awal. Lebih tepatnya dari brand trust yang belum kebentuk, jadi call to actionnya kurang nendang ke masyarakat.

Lampiran 2 : Bukti

Dokumentasi

Dalam dokumen LAMPIRAN Lampiran 1 : Transkrip Wawancara (Halaman 21-24)

Dokumen terkait