BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
1. Sifat dan Jenis Penelitian
Jadi metode penelitian yaitu cara-cara ilmiah atau alat tertentu yang digunakanuntuk menguji suatu kebenaran untuk memecahkan permasalahan yang ada dan turut menentukan hasil yang diperoleh, supaya mendapatkan hasil yang lebih maksimal maka peneliti melakukan penelitian hukum dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut:
Penelitian ini merupakan penelitian normatif yang bersifat deskriptif analitis.Dengan demikian, sifat penelitian dikategorikan penelitian dekriptif
dengan analitis yang bersifat kualitatif.Penelitian bersifat deskriptif analitis adalah
27Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Sinar Grafika,2009,hal.105
28Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta:Univeristas Indonesia, 1986, hal.43
untuk menggambarkan, menelaah dan menjelaskan serta menganalisa perundang-undangan yang berlaku berdasarkan teori hukum yang bersifat umum.29
1. Sumber Data
Penelitian ini didukung dengan penelitian lapangan (Field Reseach), yakni untuk menjawab permasalahan yang ada dalam pokok masalah diperlukan data primer, berupa data yang langsung diperoleh dari responden seperti, keterangan dari Majelis Pengawas Daerah (MPD) notaris dan keterangan dari notaris penerima Protokol Notaris yang berumur 25 tahun atau lebih kemudian didukung dari peraruran perundang-undangan yang relevan denganpenelitian ini.
Pengumpulan data adalah bagian penting dalam suatu penelitian, karena dengan pengumpulan data akan diperoleh data yang diperlukan untuk selanjutnya dianalisis sesuai kehendak yang diterapkan. Dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan kepustakaan.30 Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara menghimpun data dengan melakukan penelaahan bahan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.31
a. Bahan Hukum Primer yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian Data Sekunder diperoleh melalui studi pustaka atau literature, data sekunder tersebut meliputi :
29Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1997
30Bambang Sunggono, MetodologiPenelitian Hukum Suatu Pengantar, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2003, hal.10
31Soejono Soekanto dan Sri Manudji, Op,Cit, hal.38
ini.32Bahan hukum primer yang dipergunakan tentunya peraturan perundang-undangan yang mempunyai relevansi dengan judul yang penulis pilih.Dari penelitian ini, maka diperoleh bahan-bahan hukum yang mengikat karena dikeluarkan oleh pemerintah dan berbentuk peraturan perundang-undangan.33
b. Bahan Hukum Sekunder yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan badan hukum primer dan dapat membantu menganalisis danmemahami bahan hukum primer, yaitu buku-buku, hasil-hasil penelitian bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti pendapat pakar hukum, doktrin atau teori-teori yang diperoleh dari literatur hukum, hasil penelitian, jurnal-jurnal hukum, artikel ilmiah maupun website yang terkait dengan penelitian.
Yaitu Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tetang Kearsipan, yurisprudensi, dan bahan hukum dari zaman penjajahan yang hingga kini masih berlaku seperti KUHPerdata, KUHPidana serta Perundangan lainnya yang dapat mendukung penelitian ini.
34
c. Bahan Hukum Tersier atau bahan non hukum, yaitu berupa kamus, ensiklopedia dan lain-lain.35
2. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
32Ronny Hanitijo, Metode Penelitian Hukum Dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hal.53
33Soerjono Soekanto, Op. cit, Pengantar Penelitian Hukum, hal 52.
34Peter Mahmud Marzuki, PengantarIlmuHukum,Jakarta: Kencana Pranda Media Group, 2008, hal. 182-183.
35Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2010, hal 156-159
Dalam melakukan penelitian dikenal dua jenis teknik pengumpulan data, yaitu penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research).Penelitian kepustakaan (library research) dilakukan untuk
mengumpulkan data sekunder melalui pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan, literatur-literatur, tulisan-tulisan para pakar hukum, bahan kuliah yang berkaitan dengan penelitian ini.36 Penelitian lapangan (field research) merupakan penelitian yang dilakukan dengan cara mendatangi langsung tempat yang menjadi objek penelitian. 37
Di dalam penelitian, pada umumnya dikenal tiga jenis alat pengumpulan data yakni studi dokumen, pengamatan dan pedoman wawancara.Ketiga alat pengumpulan data tersebut dapat dipakai secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri.
Penelitian lapangan (field research) dilakukan dengan melakukan wawancara kepada beberapa informan yang dinilai memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing, terkait dengan penelitian yang akan dilakukan.
Peneliti akan menggunakan teknik pengumpulan data berupa studi dokumen atau kepustakaan atau penelitian kepustakaan (library research) yang didukung pula oleh penelitian lapangan (field research) untuk memperoleh data sekunder yang berupa bahan-bahan hukum primer, sekunder, dan tersier.
38
1. Studi dokumen.
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
36Riduan, Metode dan Teknik Menyusun Tesis, Bina Cipta, Bandung, 2004, hal 97.
37Mohammad Nazir, Metode Penelitan, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2005, hal. 65.
38Soerjono Soekanto, Op.Cit.hal.21.
Studi dokumen dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder yang terkait dengan permasalahan yang diajukan dengan cara mempelajari buku hukum, tesis, jurnal hukum, laporan hukum, makalah dan media cetak atau elektronik.
2. Pedoman wawancara.
Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara, merupakan wawancara yang dilakukan dengan teknik wawancara terarah (directive interview), dimana wawancara dilakukan dengan berdasarkan pada pedoman
wawancara yang telah disusun sebelumnya.
Wawancara dilakukan secara tidak kaku atau luwes dengan tetap memperhatikan dan membuat rencana pelaksanaan wawancara, mengatur daftar pertanyaan atau pedoman wawancara, serta membatasi aspek-aspek wawancara yang hanya berkaitan dengan pokok permasalahan dalam penelitian ini.39
3. Analisis Data
Suatu penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola kategori dalam suatu uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.40
Pengolahan, analisis dan konstruksi data penelitian hukum normatif dapat dilakukan dengan cara melakukan analisa terhadap kaidah hukum dan kemudian
39Ibid. hal.229.
40Ronny Hanitijo, Op.Cit, hal 3.
kostruksi dilakukan dengan cara memasukan pasal-pasal ke dalam kategori-kategori atas dasar pengertian-pengertian dasar dari sistem hukum tersebut.
Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan menggunakan data dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.41
a. Tahapan pengumpulan data, misalnya ketentuan perundang-undangan yang berkaitan langsung dengan permasalahan yangsedang diteliti, artikel atau jurnal atau karya tulis dalam bentuk lainnya akan dikumpulkan sedemikian rupa sebagai bahan refrensi;
Bahan-bahan hukum yang disebutkan di atas, secara sederhana dapat diuraikan dalam beberapa tahapan, sebagaimana diterangkan berikut:
b. Tahapanpemilihan data, dimana dalam tahapan ini seluruh data yang telah dikumpulkan sebelumnya akan dipilah-pilah dengan mempedomani konteks yang sedang diteliti, sehingga akan lebih memudahkan dalam melakukan kajian lenih lanjut terhadap permasalahan di dalam penelitian tesis ini.
c. Tahapan analisa dan penulisan hasil penelitian, sebagai tahapan klimaks dimana seluruh data yang telah diperoleh dan dipilah tersebut akan dianalisa dengan seksama dengan melakukan interpretasi atau penafsiran yang diperlukan, sejauh mungkin diupayakan untuk berpedoman terhadap konsep, asas dan kaidah hukum yang dianggap relevan dan sesuai dengan tujuan utama dari pada penelitian ini.
41Bambang Sunggono, Op.Cit, hal.106
Setelah pengumpulan data dilakukan dengan cara sekunder, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif, yaitu bertolak dari suatu proposisi umum yang kebenarannya telah diketahui (diyakini) dan berakhir pada suatu kesimpulan (pengetahuan baru) yang bersifat lebih khusus.42
42Bambang Sunggono, Op.cit.,hal. 11.
BAB II
PROTOKOL NOTARIS DIKAITKAN DENGAN PEMUSNAHAN ARSIP MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG
KEARSIPAN DAN MENURUT DOKTRIN
A. Protokol Notaris menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
1. Pengertian Protokol Notaris
Menurut Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Protokol Notaris adalah kumpulan dokumen yang merupakan Arsip Negara yang harus disimpan dan dipelihara oleh notaris sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Protokol notaris merupakan dokumen Negara yang salah satu fungsinya adalah dapat digunakan sebagai alat bukti mengenai adanya perbuatan hukum yang telah dilakukan oleh para pihak terkait dengan perjanjian dalam ranah hukum perdata.Protokol notaris itu harus selalu disimpan dan dipelihara dalam keadaan apapun meskipun Notaris si pemilik protokol tengah cuti maupun meninggal dunia.
Tan Thong Kie berpendapat bahwa protokol adalah milik masyarakat, bukan milik Notaris yang membuat akta-akta, dan juga tidak milik notaris yang ditugaskan ditunjuk oleh menteri Kehakiman untuk menyimpannya.Seseorang yang menyimpan dokumen dalam protokol seorang notaris pada umumnya mengetahui bahwa sebuah dokumen itu aman di tangan seorang Notaris.43
Pasal 65 Undang Nomor 2 Tahun 2014 perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris menentukan: Notaris, Notaris Pengganti dan Pejabat Sementara Notaris bertanggungjawab atassetiap
43Tan Thong Kie,Studi Notariat &Serba-Serbi Praktek Notaris, Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2013, hal. 545.
akta yang dibuatnya meskipun protokol notaris telah diserahkan atau dipindahkan kepada pihak penyimpan protokol notaris.
2. Jenis-Jenis Protokol Notaris
Dalam Penjelasan Pasal 62 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, disebutkan bahwa protokol notaris terdiri atas:
a. Minuta Akta;
Minuta akta adalah asli akta Notaris, dimana di dalam minuta akta ini terdiri dari (dilekatkan) data-data diri para penghadap dan dokumen lain yang diperlukan untuk pembuatan akta tersebut. Setiap bulannya minuta akta harus selalu dijilid menjadi satu buku yang memuat tidak lebih dari 50 akta.Pada sampul setiap buku tersebut dicatat jumlah minuta akta, bulan dan tahun pembuatannya.44
b. Buku daftar akta atau Repertorium;
Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai menjelaskan bahwa Minuta akta harus telah bermeterai. Jika ditemukan minutaakta belum bermeterai, maka dapat dilakukan pemeteraian kemudian oleh Pejabat Pos di Kantor Pos.
Dalam Repertorium ini, setiap hari Notaris mencatat semua akta yangdibuat oleh atau dihadapannya baik dalam bentuk minuta akta maupun Originali
44Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 perubahan atas Undang Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
dengan mencantumkan nomor urut, nomor bulanan, tanggal,sifat akta dan nama para penghadap.
c. Buku daftar akta di bawah tangan yang penandatanganannya dilakukan di hadapan Notaris atau akta di bawah tangan yang didaftar; Notaris wajib mencatat surat-surat di bawah tangan, baik yang disahkan maupun yang dibukukan dengan mencantumkan nomor urut, tanggal, sifat surat dan nama semua pihak.
Kewajiban Notaris berkaitan dengan Buku-Buku Daftar, diatur dalamPasal 58 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris sebagai berikut:
1. Notaris membuat daftar akta, daftar surat di bawah tangan yang disahkan, daftar surat di bawah tangan yang dibukukan, dan daftar surat lain yang diwajibkan oleh Undang-Undang ini.
2. Dalam daftar akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1), notaris setiap harimencatatsemua akta yang dibuat oleh atau di hadapannya, baik dalam bentuk minuta akta maupun originali,tanpa sela kosong, masing-masing dalam ruang tertutup dengan garis-garis tinta, dengan mencantumkan nomor urut, nomor bulanan, tanggal, sifat akta, dan nama semua orang yang bertindak baik untuk dirinya sendiri maupun sebagai kuasa orang lain.
3. Akta yang dikeluarkan dalam bentuk originali yang dibuatdalam rangkap 2 (dua) atau lebih pada saat yang sama, dicatat dalam daftar dengan satu nomor.
4. Setiap halaman dalam daftar diberi nomor urut dan diparaf oleh Majelis Pengawas Daerah, kecuali halaman pertama dan terakhir ditandatangani oleh Majelis Pengawas Daerah.
5. Pada halaman sebelum halaman pertama dicantumkan keterangan tentang jumlah halaman daftar akta yang ditandatangani oleh Majelis Pengawas Daerah.
6. Dalam surat di bawah tangan yang disahkan dan daftar surat di bawah tangan yang dibukukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), notaris setiap hari mencatat surat di bawah tangan yang disahkan atau dibukukan, tanpa sela-sela kosong, masing-masing dalam ruang yang ditutup dengan garis-garis tinta, dengan mencantumkan nomor urut, tanggal, sifat surat, dan nama semua orang yang bertindak baik untuk dirinya sendiri maupun sebagai kuasa orang lain.
d. Buku daftar nama penghadap atau Klapper;
Notaris wajib membuat daftar Klapper yang disusun menurut abjad dan dikerjakan setiap bulan, dimana dicantumkan nama semua orang atau pihakyang menghadap, sifat dan nomor akta.
Kewajiban Notaris yang berkaitan dengan buku klapper di atur dalam Pasal 59 Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notarissebagai berikut : 1. Notaris membuat daftar klapper untuk daftar akta dan daftar surat di
bawah tangan yang disahkansebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1), disusun menurut abjad dan dikerjakan setiap bulan.
2. Daftar klapper sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat nama semua orang yang menghadap dengan menyebutkan di belakang tiap-tiap nama, sifat, dan nomor akta, atau surat yang dicatat dalam daftar akta dan daftar surat di bawah tangan.
e. Buku daftar protes;
Setiap bulan Notaris menyampaikan Daftar Akta Protes dan apabila tidakada, maka tetap wajib dibuat dengan tulisan “NIHIL”.
Pasal 16 ayat (1) huruf h Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris mengatur Kewajiban Notaris berkaitan dengan buku daftar protes, adalah membuat daftar akta dari Akta protes terhadap tidak dibayar atau tidak diterimanya surat berharga.
f. Buku daftar wasiat; danKewajiban notaris berkaitan dengan wasiat adalah :45 1. Membuat daftar akta yang berkenaan dengan wasiat, menurut urutan
waktu pembuatan akta setiap bulan.Kewajiban yang diatur dalam ketentuan ini adalah penting untuk memberi jaminan perlindungan terhadap kepentingan ahli waris, yang setiap saat dapat dilakukan penelusuran atau pelacakan akan kebenaran dari suatu akta wasiat yang telah dibuat dihadapan notaris.
2. Mengirim daftar akta sebagaimana dimaksud dalam huruf i atau daftar nihil yang berkenaan dengan wasiat ke Pusat Daftar Wasiat pada
45Pasal 16 ayat (1) huruf i Undang Nomor 2 Tahun 2014 perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
Kementrian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum dalam waktu 5 hari pada minggu pertama setiap bulan berikutnya.
Catatan : setelah perubahan Daftar Pusat Wasiat menjadi Pusat Daftar Wasiat.
3. Mencatat dalam repertorium tanggal pengiriman daftar wasiat pada setiap akhir bulan.
Pencatatan dalam repertorium dilakukan pada hari pengiriman, hal ini penting untuk membuktikan bahwa kewajiban notarissebagaimana dimaksuddalam huruf i dan huruf j telah dilaksanakan
g. Buku daftar lain yang harus disimpan oleh Notaris.
Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Salah satunya adalah Buku Daftar Perseroan Terbatas, yang mencatat kapan Pendiriannya dan dengan akta nomor dan tanggal berapa, Perubahan Anggaran Dasar atau perubahan susunan anggota Direksi, anggotaDewan Komisaris atau Pemegang Sahamnya.
3. Prosedur Penyerahan Protokol Notaris
Subekti mengemukakan pendapatnya terkait dengan pengertianpenyerahan.Penyerahan yang sering juga disebut dengan istilah
“levering” atau “overdracht” mempunyai dua arti.Pertama perbuatan yang berupa penyerahankekuasaan belaka (“feitelijke levering”). Kedua perbuatan hukum yang bertujuan memindahkan hak milik kepada orang lain(“juridische levering”).46
46Habib Adjie, Hukum Notaris Di Indonesia, Bandung, PT.Refika Aditama, 2009, Hal. 5
.
Notaris adalah pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Ketika wewenang itu diberikan makaakan melekat tanggung jawab kepada notaris terhadap peralihan protokol tersebut, termasuk kepada notaris penerima protokol notaris.
Semua akta yang dibuat di hadapan notaris dapat disebut sebagai aktaautentik. Ada pihak lainyang berwenang membuat akta autentik, yaitu kepolisiandan catatan sipil. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, akta autentik adalah sebuah akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang atau dibuat di hadapan pejabat umum yang berwenang di tempat pembuatan akta itu.Proses pembuatan dan penandatanganan akta autentik dilakukan dihadapan notaris.Akta autentik dapat membantu bagi pemegang atau pemiliknya jika tersangkut kasus hukum. Sebuah akta disebut akta autentik, jika memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Bentuk akta tersebut sesuai dengan yang ditentukan Undang-Undang.Sebuah akta autentik sudah memiliki bentuk pola sendiri. Jadi, seseorang yang ingin membuat akta autentik dihadapan notaris tidak dapat membuat dengan format sembarangan.
2. Akta autentik dibuat di hadapan pejabat umum yang diangkat Negara.
Notaris adalah salah satu pejabat umum yang mempunyai wewenang untuk membuat akta autentik.
3. Akta autentik dibuat oleh pejabat yang berwenang atau notaris yang berhak.
Seorang Notaris yang sedang cuti atau sedang bermasalah tidak berwenang untuk membuat akta autentik. Seorang Notaris yang sedang dibekukan izinnya atau yang belum memiliki izin, tidak dapat membuat sebuah akta autentik47
Pasal 63 Ayat (5) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris menyebutkan bahwa: “Protokol Notaris dari Notaris lain yang pada waktu penyerahnnya berumur 25 (dua puluh lima) tahun atau lebih diserahkan oleh Notaris penerima Protokol Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah”.
Penyerahan protokol notaris kepada Notaris lain diatur dalam Pasal 62, Pasal 63 dan Pasal 64, serta Pasal 65 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Setiap calon Notaris pada saat mendaftarkan diri sebagai Notaris kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sudah diwajibkan menandatangani surat pernyataan yang isinya adalah bersedia menerima Protokol Notaris dari Notaris lain. Jadi tidak ada alasan lain bagi notaris lain yang ditunjuk oleh Majelis Pengawas Daerah sebagai penerima Protokol untuk menerima dan memelihara Protokol tersebut. Penunjukan notaris penerima Protokol karena Notaris pembuat akta meninggal dunia, dan juga terhadap notaris yang diberhentikansementara lebih dari 3 (tiga) bulan, dilakukan oleh Majelis Pengawas Daerah.
.
47Ira Koesoemawati, Yunirman Rijan, Ke Notaris, Jakarta: 2009, Raih Asa Sukses, hal. 83
Penunjukkan notaris penerima Protokol karena Notaris pembuat akta telah berakhir masa jabatannya, minta sendiri, tidak mampu secara rohani dan atau jasmani untuk melaksanakan tugas jabatan sebagai Notaris secara terus menerus lebih dari 3 (tiga) tahun, pindah wilayah jabatan, diberhentikan sementara dilakukan oleh Menteri atas usul Majelis Pengawas Daerah. Penunjukkan Notaris penerima Protokol oleh Majelis Pengawas Daerah belum terdapat peraturan pelaksanaan yang mengatur untuk menunjuk siapa Notaris yang akan menerima protokol dari notaris lain. Notaris yang ditunjuk sebagai penerima protokol notaris lain harus menyimpan dan memelihara protokol notaris dengan baik selayaknya Arsip Negara.
B. Arsip Negara menurut Undang-Undang Kearsipan Nomor 43 Tahun 2009
1. Tinjauan tentang Arsip
Istilah arsip berasal dari kata archief dari bahasa Belanda.Dalam pengertian Belanda, archief terbagi atas dua jenis yaitu dynamisch archief dan statisch archief, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai arsip dinamis dan
arsip statis. Sedangkan menurut bahasa Inggris dynamisch archief diartikan sebagai records dan statisch archief diartikan sebagai archives.48
Sebenarnya istilah arsip berasal dari kata arche – ta archea – archeio – archivum atau archium yang artinya:49
1. permulaan;
2. jabatan;
3. fungsi;
48SulistyoBasuki, Kamus Istilah Kearsipan, Kanisius, Yogyakarta, 2005. hal 7
49Lalang Gs., Muchsin P. dan Nandang A.D., Pengantar Kearsipan, Bandung : FISIP UNPAD,1997, hal. 2-12.
4. peradilan/bursa hukum;
5. dokumen-dokumen;
6. catatan-catatan kertas kerja bidang pemerintahan;
7. balai kota (bangunan pemerintah).
Arsip adalah suatu kumpulan dokumen yang disimpan secara sistematis karena mempunyai suatu kegunaan agar setiap kali diperlukan dapat secara cepat ditemukan kembali.50 Zulkifli Amsyah menyatakan arsip adalah setiap catatan yang tertulis, tercetak atau ketikan, dalam bentuk huruf, angka atau gambar, yang mempunyai arti atau tujuan tertentu sebagai bahan komunikasi informasi, yang terekam pada kertas (kartu, formulir), kertas film (slide, film-strip, mikro film), media komputer (pita tape, piringan, rekaman, disket), kertasphoto copy dan lain-lain.51
Sir Hirary Jenkison mengartikan arsip sebagai semua surat-surat dan copy yang telah dibuat atau dipergunakan di sebuah kantor atau executive transaction.
Terakhir, William Benedon mengartikan arsip sebagai suatu kertas, buku, potret, film kecil, peta, lukisan, bagan, kartu, pita magnetis atau sesuatu Salinan ataupun cetakan yang telah diciptakan atau diterima oleh suatu perusahaan atau satuan-satuan pelaksananya dan telah dipergunakan oleh perusahaan atau satuan-satuan-satuan-satuan pelaksananya atupun penggantinya tersebut sebagai buktidari kegiatan-kegiatannya atau karena adanya keterangan yang terkandung di dalamnya.52
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa arsip adalah rekaman yang dibuat dan diterima oleh setiap lembaga atau
50Agus Sugiarto dan Teguh Wahyono, Manajemen Kearsipan Modern, Yogyakarta: Gava Media, 2005, hal. 4
51Zulkifli Amsyah, Manajemen Kearsipan, Cet. Ke-9 Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001, hal. 3
52Nandang Alamsah Deliarnoor, Op.Cit, hal 1.6
organisasi baik kelompok maupun perseorangan, lembaga pemerintahan maupun swasta. Kemudian arsip juga dapat diartikansebagai dokumen yang berupa catatan pada kertas, rekaman suara, video yang mempunyai nilai guna tertentu yang disimpan secara sistematis baik secara manual maupun elektronik sehingga pada saat diperlukan dapat ditemukan dengan mudah, tepat, dan cepat.
organisasi baik kelompok maupun perseorangan, lembaga pemerintahan maupun swasta. Kemudian arsip juga dapat diartikansebagai dokumen yang berupa catatan pada kertas, rekaman suara, video yang mempunyai nilai guna tertentu yang disimpan secara sistematis baik secara manual maupun elektronik sehingga pada saat diperlukan dapat ditemukan dengan mudah, tepat, dan cepat.