• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sifat dan Karakter Anak Menurut Elisabeth B. Hurlock

Manurut Elizabeth B. Hurlock, baik faktor kondisi internal maupun faktor kondisi eksternal akan dapat mempengaruhi tempo/kecepatan dan sifat atau kualitas perkembangan anak. Tetapi sejauh mana pengaruh kedua faktor tersebut sukar untuk ditentukan, terlebih lagi untuk dibedakan mana yang penting dan kurang penting. Tetapi bailklah beberapa diantara faktor faktor-faktor tersebut ditinjau:

1. Intelligensi

Intellegensi merupakan faktor yang terpenting. Kecerdasan yang tinggi disertai oleh perkembangan yang cepat, sebaliknya jika kecerdasan rendah, maka anak akan terbelakang dalam pertumbuhan dan perkembangan.

Berdasarkan penelitian Terman LM (Genetic studies of Genius) dan Mead TD (The age of walking and talking in relation to general intelligence) telah dibuktikan adanya pengaruh intellegensi terhadap tempo perkembangan anak terutama dalam perkembangan berjalan dan berbicara.

2. Seks

Perbedaan perkembangan antara kedua jenis seks tidak tampak jelas. Yang nyata kelihatan adalah kecepatan dalam pertumbuhan jasmaniyah. Pada waktu lahir anak laki-laki lebih besar dari perempuan, tetapi anak perempuan lebih cepat perkembangannya dan lebih cepat pula dalam mencapai kedewasaannya dari pada anak laki-laki.

Anak perempuan pada umumnya lebih cepat mencapai kematangan seksnya kira-kira satu atau dua tahun lebih awal dan pisiknya juga tampak lebih cepat besar dari pada anak laki-laki. Hal ini jelasa pada anak umur 9 sampai 12 tahun.

3. Kelenjar-kelenjar

Hasil penelitian di lapangan indoktrinologi (kelenjar buntu) menunjukkan adanya peranan penting dari sementara kelenjar-kelenjar buntu ini dalam pertumbuhan jasmani dan rohani dan jelas pengaruhnya terhadap perkembangan anak sebelum dan sesudah dilahirkan.

4. Kebangsaan (ras)

Anak-anak dari ras Meditarian (Lautan tengah) tumbuh lebih cepat dari anak-anak eropa sebelah timur. Amak-anak negro dan Indian pertumbuhannya tidak terlalu cepat dibandingkan dengan ank-anak kulit putih dan kuning.

5. Posisi dalam keluarga

Kedudukan anak dalam keluarga merupakan keadaan yang dapat mempengaruhi perkembangan. Anak kedua, ketiga, dan sebagainya pada umumnya perkembangannya lebih cepat dari anak yang pertama. Anak bungsu biasanya karena dimanja perkembangannya lebih lambat.

Dalam hal ini anak tunggal biasanya perkembangan mentalitasnya cepat, karena pengaruh pergaulan dengan orang-orang dewasa lebih besar.

6. Makanan

Pada tiap-tiap usia terutama pada usia yang sangat muda, makanan merupakan faktor yang penting peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan. Bukan saja

makanannya, tetapi isinya yang cukup banyak mengandung gizi yang terdiri dari pelbagai vitamin. Kekurangan gizi/vitamin dapat menyebabkan gigi runtuh, penyakit kulit dan lain-lain penyakit.

7. Luka dan penyakit

Luka dan penyakit jelas pengaruhnya kepada perkembangan, meskipun terkadang hanya sedikit dan hanya menyangkut perkembangan fisik saja.

8. Hawa dan sinar

Hawa dan sinar pada tahun-tahun pertama merupakan faktor yang penting. Terdapat perbedaan antara anak-anak yang kondisi lingkungannya baik dan yang buruk.

9. Kultur (budaya)

Penyelidikan Dennis di kalangan orang-orang Amerika dan Indiana menunjukan bahwa sifat pertumbuhan anak-anak bayi dari kedua macam kultur adalah sama. Ini menguatkan pendapat bahwa sifat-sifat anak bayi itu adalah universal dan bahwa budayalah yang kemudian merubah sejumlah dasar-dasar tingkah laku anak dalam proses perkembangannya. Yang termasuk faktor budaya disini selain budaya masyarakat juga di dalamnya termasuk pendidikan, agama, dsb.

2.5.1. Faktor yang Mempengaruhi Rasa Takut Anak

Anak-anak mempunyai ciri khas rasa takut seperti halnya orang dewasa. Sebagai contoh, sebagian besar anak berusia 3 tahun mempunyai rasa takut yang ditentukan situasi, sedangkan anak usia 3 tahun yang terlalu cepat matang umunya mempunyai rasa takut yang bersifat lebih umum dan tertuju pada hal yang dikhayalkan. Anak-anak yang cepat dewasa cenderung mempunyai ketakutan yang lebih banyak dibandingkan dengan teman sebaya ereka karena anak-anak tersebut lebih sadar terhadap kemungkinan bahaya.

1. Jenis Kelamin

Pada semua tingkat usia dan ditinjau sebagai suatu kelompok, anak-anak perempuan memperlihatkan lebih banyak ketakutan dibandingkan dengan anak laki-laki. Disamping itu, ketakutan anak-anak perempuan kepada objek tertentu seperti ular dan binatang kecil lebih dapat diterima secara sosial.

2. Status Sosial Ekonomi

Anak-anak dari keluarga berstatus sosial ekonomi rendah pada semua tingkat usia mempunyai ketakutan yang lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga kelas menengah keatas. Mereka terutama takut pada kekerasan, yang merupakan hal yang tidak terlalu ditakuti anak-anak keluarga menengah ke atas.

3. Kondisi Fisik

Jika anak-anak dalam keadaan letih, lapar dan kurang sehat, mereka bereaksi dengan ketakutan yang lebih besar dibandingkan dengan dalam keadaan normal, dan mereka lebih mudah takut terhadap berbagai macam situasi yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan rasa takut.

4. Hubungan Sosial

Berada bersama anak lain yang sedang ketakutan juga menimbulkan rasa takut. Jika jumlah individu di dalam kelompok bertambah, maka ketakutan akan diraskan bersama dan jumlah rasa takut dari setiap anak akan bertambah

5. Urutan Kelahiran

Anak pertama cenderung mempunyai ketakutan yang lebih banyak dibandingkan dengan anak anak yang lahir kemudian karena mereka dibayangin sikap orang tua yang terlalu melindungi. Semakin banyak anak yang lebih muda berhubungan dengan kakak mereka, semakin banyak ketakutan yang mereka alami.

6. Kepribadian

Anak yang emosinya tidak tentram cenderung lebih mudah merasa takut dibandingkan dengan anak yang tentram. Anak yang berkepribadian ekstrovet belajar rasa takut lebih banyak dengan cara menirukan orang lain dibandingkan dengan anak berkepribadian introvet (Hurlock, 1978, p. 217).

2.5.2. Sifat dan Karakteristik Anak dan Hubungannya dengan Warna

Dalam perancangan sebuah interior rumah sakit khususnya ruang rawat inap khusus anak, memiliki banyak faktor yang perlu di perhatikan. Salah satunya adalah peran warna yang dapat menunjang penyembuhan, karena warna memilki korelasi yang cukup berhubungan erat dengan kesehatan organ tubuh manusia. Akan tatapi dalam penerapannya perancangan desain interior sebuah rumah sakit tidaklah mungkin untuk menerapkan seluruh warna tersebut dalam sebuah ruang perawatannya, hal ini mengingat

ragam jenis penyakit yang diderita pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Oleh karena itu, pemilihan warna dalam sebuah desain interior rumah sakit perlu dipertimbangkan:

a. Latar belakang calon pengguna rumah sakit tersebut, dalam hal ini adalah anak-anak.

b. Dampak psikologis yang akan ditimbulkan oleh warna tersebut.

c. Pengaruh warna terhadap organ-organ tubuh tertentu.

Dari ketiga pertimbangan diatas maka perlu diambil kompromi-kompromi yang akan menghasilkan suatu optimalisasi yang akan diterapkan pada desain interior, yaitu:

a. Dari latar belakang calon penggun, dapat ditempatkan are tunggu bagi orang tua/

keluarga pasein anak

b. Desain interior yang lebih sesuai dengan karakteristik anak, sehingga anak merasa nyaman dengan lingkungan barunya meskipun hanya untuk sementara.

Dari berbagai tinjaun pustaka yang direferensikan oleh penulis, sifat dan karakteristik anak dalam berbagai hal, adalah sebagaii berikut:

a. Usia 0- balita: Pemalu, takut, khawatir, canggung, merengek, tertawa, tersenyum, berceloteh, menangis, cemburu, rangsangan agresif bila marah

b. Usia 5-13 tahun: Hampir sama dengan 0- balita namun mempunyai rasa cemas dan keingintahuan lebih tinggi.

Dokumen terkait