• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. TINJAUAN PUSTAKA. Universitas Kristen Petra"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

2. TINJAUAN PUSTAKA

Warna memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat digunakan untuk mengekspresikan perasaan dan keadaan seseorang pada saat itu.

Memiliki kehidupan yang beraneka ragam budaya, suku dan bangsa dapat memberikan kita citra serta pengalaman yang berbeda dan ramai. Begitu pula dengan banyaknya ragam warna yang dimiliki, mampu mewarnai hari-hari kita agar menjadi lebih baik.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai warna.

2.1. Warna

2.1.1. Pengertian Warna

Cahaya memiliki karakteristik yang berbeda dari pantulan yang satu dengan pantulan yang lainnya. Perbedaan setiap pantulan cahaya atau yang biasa kita sebut bias cahaya memiliki spektrum warna yang berbeda-beda. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yang dikatakan oleh Poerwadaminta, (1998) warna dapat diartikan sebagai kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang dikenainya. Sehingga benda-benda tersebut memiliki spektrum warna tertentu sesuai dengan biasa cahaya yang dihasilkan (p. 108). Hal ini juga diperkuat oleh pendapat John F. Pile (1997) dalam buku Colour In Interior Design yang mengartikan warna sebagai suatu karakteristik cahaya atau dari permukaan atau objek yang tampak jelas oleh penglihatan manusia dan dibedakan dari beragam nama warna seprti merah atau biru (p.

13). Sedangkan menurut Feisner (1997) dalam bukunya yang berjudul How to Use Colour in Art and Design warana diartikan secara psikologis berarti sensasi sinar yang diterima oleh otak melalui mata, sehingga kita dapat melihat perbedaan warna antara benda yang satu dengan benda yang lainnya (p. 200)

2.1.2. Fungsi Warna

Warna memiliki fungsi yang berbeda setiap spektrumnya dan dapat mempengaruhi kondisi dan situasi psikologis seseorang, berikut adalah fungsi warna menurut literature:

(2)

2.1.2.1. Menurut Buku Warna dan Tinta

Warna memilki beraneka ragam fungsi sesuai dengan jenis warnanya yang beranekaragam. Diantaranya adalah fungsi estetis, fungsi isyarat, fungsi psikologis, warna sebagai alat pengenal, fungsi membedakan dan fungsi alamiah atau fisika. Fungsi- fungsi yang lebih mendukung dalam analisa data adalah:

1. Fungsi Estetis

Secara umum warna memiliki kekuatan untuk membangkitkan memberi rasa keindahan. Hal ini membuat terciptanya keharmonisan warna.

2. Fungsi psikologis

Warna dapat memberikan pengaruh tertentu terhadap perangai, dan kondisi jiwa kita.

Beberapa macam warna seperti abu-abu dan hijau membuat kita lebih tenang sedangkan warna lain seperti merah dan kuning membuat kitta gelisah dan aktif. Efek lainnya yang ditimbulkan oleh warna gelap akan membuat suasana berkesan lebih berat dari pada warna-warnba terang. Warna gelap memberikan kesan lebih kecil terhadap suatu permukaan dari warna terang terhadap permukaan yang sama besarnya.

(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978).

2.1.3. Pengaruh Warna dan Simbolisme Warna

2.1.3.1. Menurut Buku Colour: How to Use Colour in Art and Design

Warna memberikan informasi baik secara visual maupun psikologis. Di dalam budaya yang berbeda, warna dapat memiliki pengertian yang berbeda pula. Contohnya seorang wanita memakai gaun putih untuk acara penting. Di negara Barat, dia menjadi oengantin dalam suatu pernikahan, sedangkan di Korea, dia ada di suatu acara pemakaman.

Beberapa warna tampak menyampaikan secara universal, dan telah disusun menurut UU oleh organisasi seperti Occupational Safety and Health Administrator (OSHA) dari Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat. Contohnya warna kuning, sebagai warna yang mudah terlihat, oleh karena itu digunakan pada bis sekolah dan mobil angkutan umum. Peraturan OSHA mendesain kuning untuk peringatan dan tanda-tanda sedangkan untuk tanda bahaya pada peralatan pemadam kebakaran.

(3)

Warna dapat mengubah artinya melewati waktu dengan fashion dan kesadaran perubahan sosial. Pada abad 19 warna hijau menjadi warna yang tidak populer dan merupakan warna sial untuk mobil. Pada masa sekarang warna hijau kembali pada fashion. Kita sering menggunakan warna untuk menggambarkan emosi dan perasaan kita.

Namun warna adalah tidak sama bagi semua orang.

Tabel 2.1 Hubungan Warna dalam Bahasa dan Emosi

Warna Konotasi Positif Konotasi Negatif

Hitam

Kekuatan, Seksualitas, Sophistication (fashion)

Kematian, kekosongan, depresi dan celaan.

Putih

Kemurnian, kelahiran, kebersihan, kedamaian.

Menyerah (bendera putih), sikap pengecut.

Abu-abu

Kepandaian, teknologi. Kebingungan.

Merah

Cinta (mawar merah), keberuntungan, gairah, daya tarik seksual, perayaan.

Perang, revolusi dan anarki, prostitusi, api, bahaya, hutang, iblis.

Merah muda

Kesehatan, feminime, manis, cantik.

Pandangan politik, meremehkan.

Coklat

Bumi, kayu, keamanan dan kenyamanan

Kesuraman, melankolis dan kejenuhan.

Kuning

Kecerian, matahari, kesegaran, alami, kesehatan, kesejukan

Racun, iri hati, mudah tertipu, keasaman, kurang pengalaman, ketidakdewasaan

   

(4)

Tabel 2.1 Hubungan Warna dalam Bahasa dan Emosi (sambungan)

Biru

Kebangsawanan, surga, kesejukan, kebenaran, kesetiaan.

Tidak senonoh.

Ungu

Keberanian, misteri, hal-hal yang berhubungan dengan spiritual.

Kematian, kemarahan, kesombongan, berkabung.

Sumber: Feisner (2000, p. 118-121)

2.1.3.2. Menurut Buku The Design of Medical and Dental Facilities

Tabel 2.2 Simbolisme Warna

Warna Simbolisme Warna

Biru

Ketenangan, sejuk, kesunyian, kecerdasan, kebenaran, keagungan, diam (tenang), melankolis, ketulusan, kemurahan hati, ketenangan, harapan, kenyamanan, terkontrol, kesetiaan, introspeksi.

Kuning

Kebahagian, kenangan, kemakmuran, kepandaian, kesakitan, pengecut, penyakit, hasil yang diperoleh dengan baik, keagungan, harapan, prasangka

Merah

Hati, darah, tragedy, peperangan, ganas, kedengkian, kekuatan, pemberani, cinta akan kehidupan, api, kemarahan yang besar, nafsu, kecantikan, ketertarikan, bahaya, stop.

Hijau

Damai, muda, harapan, kemenangan, kecemburuan, hidup, alam, keabadian, pergantian yang baik, keseimbangan, keamanan, konvensional.

Hitam

Setan, kesedihan, kematian, teror, horror, kegelapan, kejahatan, melankolis, kerahasiaan, misteri, ilmu gaib, bimbang, kesungguhan, potensi, status sosial.

(5)

Tabel 2.2 Simbolisme Warna (sambungan)

Putih

Kejujuran, tidak bersalah, kemurnian, keperawanan, kesucian, kesopanan, kesederhanaan, kerendahan hati, terang, cinta, persahabatan.

Abu-abu

Penebusan dosa, kerendahan hati, kesedihan, umur, kematian, ketakutan, kesuraman, kematangan, tanpa emosi, isolasi.

Sumber: Malkin (1982,p. 263)

2.1.4. Kajian Psikologis Warna

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1998: 1008) dapat diartikan kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang dikenainya.

Menurut John F. Pile, (1997) warna adalah suatu karakteristik cahaya atau dari permukaan atau objek yang tampak jelas dari penglihatan manusia dan dibedakan dari beragam nama warna, seperti merah atau biru (p. 13). Sedangkan menurut IES (Illuminatting Engineering Society) Lighting Handbook seperti yang di kutip oleh Halse, (1968) mengatakan bahwa warna disadari sebagai kejadian mental yang ditimbulakn oleh cahaya mengenai bagian belakang mata melewati media ocular (p. 21). Jadi dapat disimpulkan bahwa warna dapat berarti karakteristik cahaya yang dipantulkan dari permukaan objek dan tampak jelas oleh mata setelah melewati media ocular.

2.1.5. Efek Psikologis Warna

Menurut Albert O. Halse (1968) menyebutkan bahwa dari hasil pengamatan dapat terlihat warna memiliki efek emosional yang sangat kuat pada manusia, antara lain:

1. Wara biru memilki efek menurunkan gairah dan kemudian membantu seseorang untuk berkonsentrasi. Warna biru juga mendinginkan dan meringankan sakit.

2. Warna hijau memiliki efek menyejukkan dan meringankan sakit 3. Warna jingga dapat menstimulasi efek.

(6)

4. Warna kuning sebagai perwujudan warna matahari memiliki efek gembira, memberi semangat dan menarik perhatian.

5. Warna merah menggairahkan dan menstimulasi otak, sedangkan medium red memiliki efek pada kesehatan dan vitalitas.

6. Warna coklat bersifat menenangkan dan menghangatkan, tetapi harus dikombinaskan dengan jingga, kuning, atau emas karena dapat menghilangkan semangat apabila digunakan tanpa menggabungkan warna-warna tersebut.

7. Warna abu-abu berkesan dingin dan seperti coklat dapat memuramkan asalakan digabungkan/ dikombinasikan dengan minimal satu warna hangat.

8. Warna putih, di satu sisi menyenangkan apabila di kombinasikan dengan warna merah, kuning, dan jingga.

9. Warna ungu berefek mengurangi sakit dan menyejukkan (p. 45-46).

Dibawah ini korelasi secara umum dan psikologi antara warna dan orang.

Tabel 2.3. Respon Psikologis Warna

WARNA RESPON PSIKLOGI CATATAN

Merah

Power, energi, kehangatan, cinta, napsu, agresi dan bahaya

Warna merah kadang berupa arti jika dikombinasikan dengan warna lain

Biru

Kepercayaan, konservatif, keamanan, teknologi, kebersihan dan keteraturan

Banyak digunakan sebagai warna untuk memberikan kesan kepercayaan

Hijau

Alami, sehat, keberuntungan, pembaharuan

Warna hijau tidak terlalu sukses untuk ”ukuran” global

Kuning

Optimis, harapan, filosofi, ketidakjujuran, pengecut, penghianatan

Kuning adalah warna keramat dalam agama Hindhu

Tabel 2.3. Respon Psikologis Warna (sambungan)

(7)

Ungu

Spiritual, misteri, kebangsawanan, transformasi, kekasaran, keangkuhan

Warna ungu sangat jarang ditemui di alam

Oranye

Energi, keseimbangan, kehangatan Menekankan sebuah produk yang tidak mahal

Coklat

Tanah/ bumi, realiability, comfort, daya tahan

Kemasan makanan di Amerika sering menggunakan warna coklat dan sangat sukses.

Abu-abu

Intelek, masa depan, kesederhanaan, kesedihan

Warna abu-abu adalah warna yang paling mudah dilihat oleh mata

Putih

Kesucian, kebersihan, ketepatan, ketidakbersalahan, steril, kematian

Di Amerika melambangkan perkawinan. Tetapi banyak di daerah Timur (terutama India dan

China) warna putih

melambangkan kematian

Hitam

Power, seksualitas, kecanggihan, kematian, misteri, ketakutan, kesedihan, keanggunan

Melambangkan kesedihan dan kematian di budaya Barat.

Sebagai warna kemasan, hitam melambangkan keanggunan (elegance), kemakmuran (wealth) dan kecanggihan (sophisticated)

Selain itu menurut Ambika Wauters dan Gerry Thompsom (2001) menyebutkan bahwa warna-warna tersebut di bawah ini dapat dimanfaatkan untuk pengobatan dan

(8)

menunjang proses penyembuhan, karena dalam hal ini warna dapat memberikan suasana yang tenang, damai dan nyaman dalam beristirahat, antara lain:

Tabel 2.4. Peranan Warna bagi Tubuh dan Emosional Anak

WARNA EFEK FISIK EFEK EMOSIONAL/

PSIKOLOGIS

Merah

Mensuplai fisik tubuh dengan energi dan fitalitas, merangsang sirkulasi darah dan memacu adrenalin.

Meringankan pikiran, memberi rasa percaya diri, semangat dan mengatasi depresi, rasa takut atau kekhawatiran bagi anak.

Kuning

Sebagai pusat yang penting untuk seluruh sistem saraf, pengobatan yang baik untuk saraf yang lemah, membantu mengontrol proses pencernaan.

Mendorong kecakapan

intelektual, membangkitkan

semangat, menjaga

keseimbangan dan rasa optimisme anak.

Jingga

Merangsang napsu makan, membantu proses-proses asimilasi, distribusi, dan sirkulasi tubuh, merangsang reproduksi dan mengontrol limpa.

Membangkitkan semangat dan vitalitas, mengatasi depresi, memberikan rangsangan fisik dan mental serta pelepasan energi bagi anak.

Hijau  

Menenangkan sistem saraf, digunakan untuk berbagai macam masalah kesehatanberkenaan dengan organ jantung dan tekanan darah yang tidak normal.

Merupakan warna keseimbangan, sangat bermanfaat untuk kondisi- kondisi emosional anak pada saat sedang stree, emosi dan mengalami rasa takut di rumah sakit.

(9)

Tabel 2.4. Peranan Warna bagi Tubuh dan Emosional Anak (sambungan)

Biru

Memperkuat kondisi tubuh dan pikiran, menenangkan kondisi jiwa anak yang sedang galau saat menjalani perawatan.

Memulihkan stress dan menciptakan kondisi yang tenang bagi pasien anak.

Biru Kehijauan

Meningkatkan kekebalan terhadap segala macam pengaruh yang tidak dikehendaki.

Meningkatkan daya tahan terhadap pengaruh emosional.

Nila

Menurunkan tekanan darah, sangat berhubungan dengan sistem saraf.

Sangatbkuat berpengaruh bagi saraf, mental dan aspek-aspek psikis, meredam amarah.

Violet

Digunakan dalam kasus-kasus gangguan pencernaan, ginjal dan sistem saraf.

Membangun rasa percaya diri, menekan amarah dan membantu pembentukan kemampuan psikis dan spiritual.

Magenta (ungu kemerahan)

Membantu dalam meningkatkan sistem saraf dan menenangkan kondisi tubuh anak yang sedang sakit.

Membantu untuk memulihkan keseimbangan energi.

Sumber: Wauters dan Thompson (2001,p. 93-101)

2.1.5.1. Efek Psikologi Warna pada Manusia

Menurut Jurnal Dimensi Interior Volume 1. No. 2, dari sisi psikologi warna memiliki pengaruh kuat terhadap suasana hati dan emosi manusia, membuat suasana panas atau dingin, provokatif atau simpati, menggairahkan atau menenangkan.

Efek psikologis golongan warna panas, seperti merah, jingga dan kuning memberi pengaruh psikologis panas, menggembirakan, menggairahkan dan merangsang.

(10)

Golongan warna dingin seperti hijau dan biru memberi pengaruh psikologis menenangkan, damai, sedangkan warna ungu membawa pengaruh menyedihkan. Untuk warna putih memberi pengaruh bersih, terang dan terbuka. Warna hitam memberikan pengaruh berat, formal dan tidak menyenangkan.(Mayang Sari, 2003, p. 151-152).

Sedangkan menurut Wauters and Thompsom (2001) Buku Terapi Warna Prinsip-Prinsip Penyembuhan dengan Warna, dapat kita lihat pada bagan sejumlah arti dan efek psikologis warna-warna pokok yang telah diakui, (p. 36-40), antara lain:

Tabel 2.5. Art dan Efek Psikologis Warna-Warna Pokok

Warna Arti dan Efek Psikologis

Biru Tua

Bertanggung jawab, dapat diandalkan, cerdas, bijaksana, meyakinkan, konservatif, intuitif, arif.

Biru Muda

Penuh kedamaian, penuh cinta, penyayang, tulus, komunikatif, kreatif, memiliki kemauan keras.

Biru Kehijauan

Pintar, kreatif, cerewet, teratur

Hijau

Penuh kedamaian, setia, seimbang, baik hati, stabil, sensitif, ulet, penuh kasih.

Kuning Kehijauan

Tanpa prasangka, penuh rasa takut.

Kuning

Periang, antusias, cerdas, kuat, kompetitif, berubah-ubah.

Putih

Rapi, teratur, kritis, mandiri, berhati-hati, termotivasi, positif, spiritual.

(11)

Tabel 2.5. Art dan Efek Psikologis Warna-Warna Pokok (sambungan)

Abu-abu

Memberi ketenangan, terasing, waspada.

Hitam

Pintar, serius, berkuasa, dramatis, berwibawa, aman, penuh teka- teki, kematian, tak dikenal.

Coklat keabu-abuan

Seimbang, pekerja keras, dapat menyesuaikan dengan baik, dapat diandalkan, jujur.

Coklat

Pasif, mudah memahami, setia, sederhana, mengerti kewajiban, pekerja keras, pekerjaan menjemukkan.

Jingga

Hangat, kreatif, penuh kegembiraan, tidak bertele-tele, tegas, ekspresif, seksual.

Merah jambu

Penuh cinta, ramah-tamah, rileks, keibuan.

Merah

Penuh semangat, sensual, sukses, menurut kata hati, tidak sabar, resah, hebat

Ungu

Spiritual, sensitif, berpandangan terbuka, terbuka.

Menurut Birren (1969), warna memiliki peran cukup besar dalam kehidupan sehari- hari. Percaya atau tidak, warna dapat mempengaruhi kenaikan pangkat, memenangkan argument, membantu penyembuhan, memberikan rasa nyaman dan meningkatkan gairah.

Hal ini dikarenakan efek psikologis dari warna, dimana berhubungan dengan reaksi emosi kita yang kuat terhadap warna. Penelitian telah membuktikan bahwa respon kita

(12)

sebagian adalah fisiologis, berdasarkan pada efek warna yang diterima mata dan sistem saraf kita, dan sebagian dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman kita.

Dibawah ini adalah keterangan mengenai berbagai macam kegunaan warna yang berhubungan dengan kesehatan.

1. Merah

• Melambangkan kegembiraan, bahaya, nafsu, kekuatan, serangan dan kesuksesan.

• Warna ini dapat membangkitkan tekanan darah, membangkitkan semangat, memacu denyut nadi, mengaktifkan kelenjar ludah dan mudah menarik perhatian.

• Warna ini juga dapat mengirim energi dan keberanian, memberi orang kekuatan untuk menyelesaikan sesuatu.

• Warna ini merupakan pilihan yang tepat untuk melewati ruang dimana kita tidak menghabiskan banyak waktu, seperti lobby, kamr mandi tamu. Di kamar anak, warna ini juga dapat menyebabkan insomnia

• Warna merah dapat membuat orang merasa hangat.

2. Kuning

• Sebagai warna dari matahari, kuning dapat menyemarakkan kehidupan kita.

• Secara psikologis warna ini merupakan warna paling bahagia dalam spekrum, memberi perasaan optimis, kegembiraan, watak riang dan spontanitas.

• Warna kuning dapat meningkatkan vitalitas dari warna-warna lainnya, membuat warna hangat tampak briliant dan dan membawa warna sejuk dalam hidup.

3. Jingga

• Warna jingga merupakan warna yang dapat menstimulasi dan memberikan energi dimana berkesan ramah dan berenergi.

• Orang yang menggunakan warna jingga dianggap kreatif, antusias, menyenangkan namun memungkinkan untuk sedikit tanggung jawab.

(13)

• Dikarenakan warna jingga merupakan warna yang aktif maka warna ini menjadi warna yang favorit bagi anak-anak, remaja dan atlit.

• Dalam chromatherapy, warna jingga dianggap stimulan untuk proses penyembuhan, meningkatkan kekebalan, mendukung kebahagian, meningkatkan potensi seksual.

• Warna ini menandakan kekuatan, kesabaran dan kesuksesan.

4. Hijau

• Warna hijau digunakan untuk simbol keamanan di seluruh dunia.

• Warna ini dianggap memiliki kekuatan untuk penyembuhan dan kemampuan untuk menenangkan dan menyagarkan.

• Pale green merupakan warna paling merilekskan dan menenangkan dalam spektrum warna.

• Vibrant green mengingatkan pada musim semi, alam, kehidupan dan energi anak muda.

• Darker green dihubungkan dengan stabilitas pertumbuhan, memberi kesan status ekonomi tinggi dan kesuksesan.

5. Biru

• Warna biru merupakan warna yang paling disukai dari keseluruhan warna, terutama disukai oleh sebagian besar pria.

• Warna biru berhubungan dengan hal yang positif, lebih produktif, warna kedamaian, membuat ruang tampak lebih luas, dan waktu terasa berjalan lebih lamban dari seharusnya.

• Navy blue mewakili kesetiaan, rasa hormat, dapat dipercaya, kepatuhan dan integritas.

• Deep blue berhubungan dengan kekayaan dan kemewahan dalam berbagai kebudayaan.

• Darker blue menandakan pendidikan yang baik, status sosial tinggi, stabilitas dan martabat.

• Brighter blue cocok digunakan untuk pesta dan pertemuan sosial karena warna biru berkesan ramah dan menyenangkan.

(14)

6. Ungu

• Warna ungu dihubungkan dengan kekayaan, kebangsawanan dan pemborosan.

• Royal purple memancarkan kelas sosial, napsu, kekuasaan, sensualitas, dan kemewahan.

• Deep plum merupakan warna spiritual dan misterius, dapat menyebabkan depresi.

• Lavender dan violet memiliki daya tarik yang manis, romantis dan nostalgic.

• Orang yang menggunakan warna ungu dianggap penug gairah dan berhasrat untuk disenangkan.

7. Merah muda

• Warna merah muda merupakan warna paling pasif dari keseluruhan warna, dianggap sebagai warna yang paling feminim karena dihubungkan dengan perasaan terharu.

• Warna ini dapat menenangkan dan menyejukkan, dan dianggap dapat membantu pencernaan.

• Dalam chromateraphy, sebuah ruang berwarna merah muda disarankan bagi orang yang memiliki kesulitan untuk tenang karena warna merah muda dapat mengurangi rasa marah dan tenaga fisik, sehingga berguna untuk memperkecil resiko bunuh diri dan tingkat kekerasan.

8. Coklat

• Warna coklat merupakan warna yang hangat dan nyaman yang dihubungkan dengan bumi, pohon, perapian dan rumah.

• Orang yang menggunakan warna coklat dianggap mampu diandalkan, dapat dipercaya, tulus hati dan pekerja keras.

• Dalam desain interior warna coklat disadari sebagai dasar dari keseluruhan warna lainnya yang dapat menyamaratakan.

(15)

9. Abu-abu

• Dalam desain interior dark grey bersifat agung, mulia dan formal, tetapi dapat menjadi sedikit suram. Sedangkan lighter grey lebih bersifat menenangkan.

• Warna abu-abu juga dihubungkan dengan kedewasaan dan kebajikan.

• Warna abu-abu mewakili ketidakterlibatan, memberi kesan formal, bermatabat dan hak konservatif.

10. Putih

• Melambangkan kemurnian, rasa tidak bersalah, kebaikan dan kebenaran.

• Walaupun warna putih adalah netral, juga disadari sebagai warna sejuk karena dihubungkan dengan salju dan es.

• Warna putih sering digunakan untuk memberikan kesan kesederhanaan, sterilitas dan keamanan.

• Keamanan dan produk medis sering menggunakan warna putih untuk memberikan kebersihan antiseptik.

11. Hitam

• Tidak diragukan lagi, warna hitam merupakan warna yang paling bersifat authoritative dan overpowering. Warna ini juga dapat mengintimidasi, dapat terlihat agresif bila berlebihan.

• Warna hitam memberi kesan gelap dan dalam

• Warna hitam dianggap konservatif, serius, bermatabat dan digunakan untuk menunjukkan rasa hormat pada acara formal dan khidmat. (p. 85-91)

2.1.5.2. Efek Psikologi Warna Pada Ruang

(16)

Sedangkan menurut Faber Birren dalam bukunya Light, Colour and Environment, menyebutkan mengenai warna dan pengaruhnya pada persepsi ruang kita antara lain:

1. Pada pintu masuk seharusnya dicat dengan warna komplementer.

2. Warna mengubah bentuk arsitektural seperti dapat meluas, memendek, melebar, memanjang, dan memberikan kesan merendahkan atau meninggikan plafon.

3. Warna terang tampak ringan dalam berat dengan merubah ‘berat’ menjadi ’ringan’, seperti merah, biru, ungu, jingga, hijau dan kuning.

4. Objek terang dapat memberi kesan berbeda dalam ukuran. Warna kuning tampak besar dengan warna putih, merah, hijau, biru dan hitam tampak menurun.

5. Objek terang tampak besar dalam latar belakang gelap, sedangkan objek gelap akan tampak kecil dalam latar belakang gelap.

6. Dinding sebelah jendela seharusnya dibiarkan terang atau akan menyerap banyak sinar di siang hari.

7. Warna hangat berkesan meningkatkan, sedangkan warna sejuk berkesan menyusut.

8. Warna terang dan patra berukuran kecil secara visual dapat memperbesar ruang sedangkan warna gelap dan patra berukuran besar dapat membuat ruang tampak kecil.

(Birren, 1969: 25).

2.2. Rumah Sakit

2.2.1. Pengertian Rumah Sakit

Rumah sakit merupakan tempat untuk menampung orang sakit dan membantu penyembuhannya. Berikut adalah pengertian rumah sakit:

Menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer pengertian rumah sakit adalah:

rumah sakit dapat berarti rumah tempat pelayanan berbagai macam masalah kesehatan seperti merawat dan mengobati orang sakit Salim (1991, p. 1290). Sedangkan Menurut Buku Peranan Informed Consent dalam Transaksi Terapeutik (Persetujuan dalam Hubungan Dokter dan Pasien) Suatu Tinjauan Yuridis pengertian rumah sakit di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 159b/Men.Kes/Per/II/1988 disebutkan bahwa pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah adalah kegiatan pelayanan berupa pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap, dan pelayanan gawat darurat yang mencakup

(17)

pelayanan medik dan penunjang medik Komalawati, (2002, p. 98). Menurut Keputusan Dirjen Pelayanan Kesehatan Departemen Kesehatan RI No. 895/Yankes/PPI/81 menyebutkan bahwa rumah sakit adalah tempat menyelenggarakan pelayanan medis, pelayanan rawat tinggal secara preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif melalui kegiatan rawat jalan dan rawat tinggal. Menurut Buku The Design od Medical and Dental Facilities Rumah sakit merupakan rancangan arsitektur yang terdiri atas koridor dengan ruang-ruang kecil yang terpisah Malkin, (1982, p, 299).

Jadi dapat disimpulkan bahwa rumah sakit dapat berarti tempat pelayanan berbagai macam kesehatan seperti merawat dan mengobati orang sakit dengan memberikan pelayanan berupa pelayanan medis. Pelayanan rawat tinggal dan rawat jalan secara preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif serta pelayanan gawat darurat yang mencakup pelayanan medik dan penunjang medik.

2.2.2. Fungsi Rumah Sakit

Setiap bangunan yang ada dan dirikan, memiliki fungsi dan tujuannya masing- masing. Sama halnya dengan mendirikan rumah sakit memiliki fungsi tertuntu, diantaranya:

Menurut Buku Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan di dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 dirumuskan bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan Arkola, (1992, p. 5). Menurut Buku Peranan Informed Consent dalam Transaksi Terapeutik (Persetujuan dalam Hubungan Dokter dan Pasien). Suatu Tinjauan Yuridis rumah sakit merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang akan disoroti adalah rumah sakit, karena rumah sakit mempunyai sifat atau karakteristik sebagai organisasi yang sangat kompleks dan dapat mempunyai berbagai fungsi, seperti yang disebutkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 159b/Men.Kes/Per/II/1988, bahwa fungsi rumah sakit adalah sebagai berikut:

(18)

1. Menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan medik, pelayanan penunjang medik, pelayanan perawatan, pelayanan rehabilitasi, pencegahan dan peningkatan kesehatan.

2. Sebagai tempat pendidikan dan latihan tenaga medik

3. Sebagai tempat penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi bidang kesehatan.

Didalam Undang-Undang No 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan dikatakan bahwa sarana kesehatan dalam penyelengaraan kegiatannya tetap memperhatikan fungsi sosial, yaitu harus memperhatikan kebutuhan pelayanan kesehatan golongan masyarakat yang kurang mampu dan tidak semata-mata mencari keuntungan. (Pasal 57:2).

2.2.3. Fasilitas Ruang Rawat Inap Pasien

Menurut Buku Planning The Community Hospital Alasan dari keberadaan rumah sakit adalah demi kepentingan pasiennya, bagaimana ia mendapatkan fasilitas terbaik selama tinggal di rumah sakit, atau apabila keseluruhan dari masa tinggalnya dihabiskan di tempat tidur. Sebagian besar dari hal yang terjadi pada diri pasien di kamarnya adalah hal yang dapat terjadi di tempat tidurnya sendiri. Kamar tidur rumah sakit kemudian dapat dianggap melengkapi sistem rawat inap pasien.

Perbedaan mendasar antara pasien yang dirawat di rumah dengan yang tinggal di rumah sakit adalah belakngan ini memusat pada kemampuan merawat, perhatian secara medis, dan fasilitas terapeutik karena perawatan memberikan pengawasan 24 jam pada pasien.

Kekuasaan pada individual adalah sama dalam keadaan normal dan dalam lingkungan rumah sakit yang abnormal, tetapi toleransi menurun ketika seseorang sakit.

Bagaimanapun, meski ada perbedaan pendapat dari segala arah, kesimpulan dari studi wawancara terhadap pasien Yale menunjukkan bahwa factor individual diseimbangkan dengan kesadaran tingkat social bahwa pasien di kelas I dan II (strata atas) meminta pilihan untuk privasi, sementara pasien di kelas social IV dan V (strata bawah) tidak begitu sensitive akan kebutuhan ini. Keinginan untuk privasi merupakan sikap yang berhubungan dengan kelas social I dan II untuk mengurangi kelas III. Pada kelas IV dan V, di sisi lain, tidak menyadari privasi sebagai keistimewaan utama dalam akomodasi rumah sakit.

(19)

Satu ruang inap pasien berisi satu tempat tidur untuk fleksibilitas. Masalah fleksibilitas, tentu saja menimbulkan pertanyaan berapa banyak tempat tidur setiap ruangnya. Hal ini menjadi perlu untuk memisahkan berdasarkan jenis kelamin dan kondisi medis atau yang berkaitan dengan pembedahan sama dengan pertimbangan masalah usia, menjadi hal yang tidak praktis dalam rumah sakit dari kurang 200 tempat tidur untuk membagi pasien menjadi kelompok lebih dari empat. Fleksibilitas maksimum merupakan hal yang dapat dicapai dengan satu tempat tidur dalam satu ruang, alasan untuk meningkatkan popularitas.

Studi yang dilakukan Universitas Yale mengenai efisiensi desain mencatat 60%

dari pemindahan dalam dua unit yang berbeda meliputi pemindahan baik dari ruang pasien ke ruang pasien atau dari ruang pasien ke beberapa unit lain. Hudenburg, (1967, p.

8, 65, 74, 78-80).

Menurut Buku Psikologi Kesehatan fasilitas rumah sakit bagi orang-orang yang menjalani rawat inap di rumah sakit biasanya merupakan suatu hal yang tidak menyenangkan. Orang-orang tidak memilih masuk rumah sakit kecuali terpaksa atas dasar alasan- alasan medis. Meskipun telah dilakukan berbagai perbaikan di dalam perawatan rumah sakit, namun tinggal di rumah sakit merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Kecemasan barangkali merupakan perasaan yang paling umum yang dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit Sarafino, (1990, p. 98). Akan tetapi pasien juga menunjukkan berbagai tanda bermasalah yang lain, seperti depresi, perasaan gugup yang mengarah kepada insomnia, mimpi buruk, dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi (Smet, 1994: 262-264).

2.2.3.1. Persyaratan Ruang Rawat di Rumah Sakit

Tiap rumah sakit memiliki unit-unit/ bagian-bagian yang bervariasi menurut kebutuhan rumah sakit tersebut. Berikut ini adalah beberapa bagian/unit rumah sakit dan persyaratan-persyaratannya.

Unit Gawat Darurat (UGD): bertugas untuk memberikan pelayanan medis darurat termasuk diagnosa, pengobatan, perawatan, dan pencegahan penyakit. Beberapa kriteriannya adalah sebagai berikut:

1. Harus mudah diakses.

(20)

2. Mudah dikenali dari luar.

3. Entrance dipisahkan dari entrance rumah sakit dan memiliki cukup ruang untuk 3 mobil (sedapat mungkin terhindar dari angin dan hujan).

4. Memiliki akses langsung ke ICU.

5. Harus mempunyai beberapa fasilitas seperti ruang steril, ruang peralatan, tempat cuci, listrik, oksigen, dan tekanan udara yang terpisah dari milik rumah sakit.

Unit radiologi: bertugas memberikan pelayanan radiologi, yaitu penyinaran ionisasi untuk diagnosa dan untuk terapi. Contohnya adalah diagnosa rontgen yaitu terapi penyinaran medis dengan tenaga nuklir. Beberapa kriterianya adalah:

1. Mudah dicapai baik oleh pasien dalam maupun luar, dari perawatan intensif, ruang bedah, maupun UGD.

2. Udara dalam ruang harus cukup kering (suhu udara 18˚-22˚ C) untuk menetralisir uap dari tubuh.

3. Bahan buangan harus melalui alat penetralisir sebelum disalurkan ke saluran pembuangan.

4. Dinding harus anti radiasi dan tebalnya minimal 20cm.

5. Lantai terbuat dari bahan yang mudah debersihkan dan tahan asam, 6. Tinggi plafon dari lantai ± 3 meter.

7. Tinggi bovenlight ± 2.10 meter.

8. Pintu yang berhubungan langsung dilapisi Pb minimal 7 mm, begitu juga dengan kusen.

Unit Laboratorium: ada banyak jenis laboratorium, di antaranya adalah laboratorium kimia (menganalisis jaringn tubuh dan cairan), laboratorium hematologi (mempelajari jenis darah), laboratorium imunologi (mempelajari kekebalan tubuh anak), laboratorium serologi (menganalisis serum-serum), dan lain-lain. Beberapa kriteria untuk laboratorium adalah:

1. Mudah dicapai dari unit rawat tinggal, unit rawat jalan, dan dari entrance, 2. Temperatur ruang berkisar antara 18˚ C,

3. Lantai dan dinding terbuat dari bahan yang tidak lembab, tahan terhadap cairan kimia, dan mudah dibersihkan,

4. Bahan buangan harus dinetralisir sebelum disalurkan ke saluran pembuangan.

(21)

Unit rawat inap: beberapa syarat ruangnya adalah:

1. Terhindar dari pencemaran udara dan suara,

2. Tidak mengganggu lingkungan dan tidak terganggu oleh kondisi lingkungan sekitar, 3. Berhubungan erat dengan fasilitas penunjang diagnostik, service, dan unit penunjang

medis,

4. Jarak unit perawatan dan ruang operasi maksimal 200 meter, 5. Di setiap blok perawatan terdapat satu pos perawat.

Dalam unit perawatan juga diperlukan beberapa ruang penunjang, yaitu:

1. Nurse station: dengan kriteria jarak capai maksimum pos perawat ke tempat tidur pasien adalah 24-30 meter atau jarak satu pos ke pos yang lain maksimum 40 pasien, letaknya harus strategis dan sentral terhadap keseluruhan unit perawatan untuk mendapatkan kontrol visual yang maksimal.

2. Ruang isolasi: jumlah ruang isolasi adalah 4% dari jumlah tempat tidur

3. Ruang strecher atau kereta: terletak di daerah sentral dan dekat dengan nurse station.

2.2.3.2. Sistem Pencahayaan

Pencahayaan dalam perancangan interior bukan hanya berfungsi sebagai pengadaan cahaya agar ruang dapat terlihat saja, akan tetapi pencahayaan memiliki fungsi lebih, seperti:

1. Membentuk suasana ruang sebagai contoh penerangan yang tenang akan membentuk suasana yang intim, penerangan yang terang akan membentuk suasana yang dinamis dan sebagainya.

2. Untuk mengadakan fasilitas tertentu dalam sebuah fasilitas, sebagai contoh penerangan digunakan untuk menuntun manusia menuju fasilitas tertentu.

3. Membentuk bayangan tertentu agar ekspresi visual dari sebuah bentuk/ tekstur dapat terlihat.

4. Untuk membernuk ekspresi spasial tertentu dalam ruang, seperti kesan jauh, dalam, dangkal, dan sebagainya. (Pile, 1990, p. 292-328).

(22)

Tabel 2.6. Efek Psikologi Cahaya

Cahaya Efek Psikologi Ruang

Terang Formal, riang, megah Ruang public (toko, terminal, dll) ruang anak-anak, kantor, ruang tamu.

Agak redup Akrab, romantis, hangat, nyaman

Ruang keluarga, ruang makan, restoran, taman

Redup Tenang, hening, syahdu Ruang tidur Sumber: Laksmiwati (1990, p. 45)

Jenis-jenis pencahayaan adalah: (Conran, et al, .p. 26-36)

• Ambient Lighting

Jenis lighting ini diperlukan untuk menciptakan sinar yang rata dan tidak langsung untuk menghilangkan bayangan obyek yang mengganggu kenyamanan mata di bidang kerja akibat sinar langsung dari downlight maupun jendela. Lighting ini diterapkan melalui lampu TL dan SL yang disembunyikan di samping plafon yang sinar lampunya dipantulkan oleh plafon ke bidang kerja.

• Downlight

Jenis lighting ini diperlukan untuk menciptkan sinar langsung dari atas ke bidang display sebagai sumber penerangan yang terutama.

• Task Lighting

Jenis lighting ini diperlukan untuk menciptakan sinar langsung dengan intensitas yang sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhan display detail.

• Uplighting

Jenis lighting ini menciptakan sinar yang ke atas sehingga ruang terkesan ”melayang”

dan ringan. Uplighting digunakan untuk menciptakan suasana yang hangat dan bersahabat dan juga sebagai sumber aspek dekoratif.

2.2.3.3. Sistem Akustik

Faktor kenyamanan akustik ini memegang peranan yang cukup penting dalam sebuah rumah sakit. Elemen akustik ini merupakan pengendali terhadap bising yang menggangu, yang dapat masuk kedalam ruang. Bising dapat mempengaruhi dan

(23)

menggangu proses tindakan medis yang sedang berlangsung dalam rumah sakit dan ini akan berpengaruh dengan rasa ketidak nyamanan terhadap pasien (Pile, 1990, p. 410- 426).

2.2.3.4. Sistem Penghawaan

Penghawaan merupakan sakah satu faktor kenyamanan yang secara langsung dapat dirasakan oleh pengguna/pasien. Manusia akan merasa tidak nyaman berada dalam sebuah ruangan bila ruangan tersebut terlalu panas atau dingin. Titik kenyamanan manusia secara umum berkisar 22˚C sampai dengan 24˚C.

Pencapaian penghawaan yang baik harus didukung dengan adanya ventilasi yang baik dan optimal. Keadaan tersebut akan mempengaruhi pada bentuk visual elemen interior (Pile, 1990, p. 410-426).

Air conditioner mengatur bebrapa aspek udara, yaitu:

1. Kecepatan sirkulasi udara 2. Pembersih udara

3. Pengaturan temperatur 4. Kelembaban udara

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan untuk pemakaian air conditioner:

1. Jumlah kebutuhan suplai udara bersih per meter persegi 2. Luasan ruang

Berdasarkan pada pertimbangan faktor diatas, maka berlaku hukum keseimbangan

“Makin besar luas suatu ruang, makin besar pula suplai udara bersih yang dibutuhkan”.

Ada bebrapa jenis AC menurut peletakkannya: (Vilma, Bar and Charles Broudy. 68-69) 1. Mounted type : ditanam di dalam dinding atau plafon

2. Ceiling type : ditananm atau dipasang diatas langit-langit.

3. Custom floor type : diletakkan diatas lantai tanpa ada pemasangan khusus.

4. Wall mounted type : ditanan dalam dinding.

Untuk penghawaan yang baik ventilasi harus cukup memadai dan harus diperhatikan dengan baik. Sirkulasi penghawaan dipengaruhi oleh beberapa factor:

1. Pemanasan baik eksternal maupun internal.

2. Pengontrolan temperature dan kelembapan.

(24)

3. Perbedaan temperature antara ruang dan pengadaan udara.

Untuk pendistribusian udara yang baik, sebaiknya membuat lubang di langit-langit.

Untuk tempat menyimpan makanan dan area penyimpanan harus mendistribusikan udara dengan baik. Dengan tingkat kelembaban rendah untuk mencegah dari kelapukan. (David Mun. 40).

2.2.3.5. Ergonomi dan Antropometri

Dimensi dalam ruang rumah sakit sangat perlu dipertimbangkan karena berhubungan dengan keamanan dan kenyamanan aktivitas si pengguna, baik dari sisi pasien maupun orang yang melakukan tindakan medis. Namun besaran ruang yang cocok tidaklah mutlak tetapi tergantung dengan berbagai aspek lainnya. Antara lain peralatan yang dipakai, jenis pengobatan dan sebagainya.

Gambar 2.1. Pos Perawat Sumber: Ching (1996, p. 85)

(25)

Gambar 2.2. Tempat Tidur Pasien Sumber: Ching (1996, p. 85)

Gambar 2.3. Standart Pintu Masuk Ruang Pasien Sumber: Ching (1996, p. 90)

(26)

Gambar 2.4. Standart Tempat Tidur Pasien Sumber: Ching (1996, p. 92)

Gambar 2.5. Lavatory Pada Kamar Pasien Sumber: Ching (1996, p. 94)

(27)

Gambar 2.6. Standart Besaran Aktivitas Pemakai Sumber: Ching (1996, p. 98-99)

2.3. Penerapan Warna Pada Desain Interior

Dalam suatu interior desain, penerapan sebuah warna menjadi unsure yang sangat penting karena dengan warna maka suatu desain akan mempunyai arti dan nilai lebih dari utilitas karya tersebut. Dengan warna dapat menciptakan suasana ruang yang berkesan kuat, menyenangkan, dan sebagainya sehingga secara psikologis memberikan pengaruh emosional. (Pile, 1995, p. 81).

John F. Pile dalam Colour in Interior Design (1997) mengutip Munsell mengenai pembagian warna kedalam dimensi hue, value, chrome or intensity. Selain dimensi warna, hal lain yang menurut Pile sangat erat keterkaitannya terhadap warna adalah iluminasi dan komposisi. (Sari, 2003, p. 150-151).

(28)

Gambar 2.7. Implementasi Warna pada Desain Interior Sumber: Sari (2003, p. 150-151) 

Penerapan warna dalam ruang interior dapat membuat perbedaan besar dalam mempengaruhi karakter ruang, suatu dapat dirasakan secara psikologis, dan kemudian reaksi akan warna itu. Hue tertentu yang cocok pada lantai dapat menimbulkan reaksi berbeda sepenuhnya ketika diterapkan pada plafon.

1. Warna merah

• Plafon : memaksakan, menggangu, berat

• Dinding : agresif, memajukan/mempercepat

• Lantai : sadar, siaga

Dalam situasi praktis, pure red jarang digunakan, kecuali sebagai aksen. Meskipun secara psikologis dapat menampilkan karakteristik seperti yang disebutkan diatas.

Penggunaan dari saturated red yang berlebihan dapat menambah kompleksitas dalam ruang. Modifikasi dari pure red lebih sesuai.

WARNA 

DIMENSI  KOMPOSISI  ILUMINASI 

HUE 

VALUE 

           

•  

•  

ELEMEN DESAIN  INTERIOR 

 

(29)

2. Warna merah muda

• Plafon : lembut, nyaman atau terlalu intim, tergantung pada kecenderungan individu.

• Dinding : lemah, terlalu manis jika tidak dicampur dengan warna abu-abu

• Lantai : terlalu lembut, kurang sesuai untuk lantai.

3. Warna coklat

• Plafon : menyesakkan dan berat (jika gelap)

• Dinding : aman dan meyakinkan jika berbahan kayu

• Lantai : kokoh dan stabil

Desainer harus berhati-hati dalam menggunakan warna coklat pada institusi tertentu, karena dapat menimbulkan fecal associations.

4. Warna jingga

• Plafon : menstimulasi, mencari perhatian.

• Dinding : hangat, bercahaya

• Lantai : menggiatkan, motion-oriented

Hue ini lebih lembut dibandingkan warna merah dan memiliki lebih livable charm.

Refleksi pada kulit dapat memperkuat tones kulit.

5. Warna kuning

• Plafon : terang (jika toward lemon), bercahaya, menstimulasi

• Dinding : hangat (jika toward orange). Menggangu (jika highly saturated)

• Lantai : mengangkat/ meninggikan, mengasyikkan.

Warna kuning memiliki jarak penglihatan yang tinggi, sehingga sering digunakan untuk membantu tujuan keamanan, khususnya dalam lingkungan industri. Warna ini juga

(30)

tampak lebih terang jika dibandingkan dengan warna putih dan berguna dalam kurangnya iluminasi dan ruang yang suram.

6. Warna hijau

• Plafon : protektif (refleksi pada kulit menjadi kurang menarik)

• Dinding : sejuk, aman, tenang, dapat diandalkan, pasif, mengiritasi jika menyolok

• Lantai : natural, lembut, menenangkan, dingin (jika mengarah pada biru hijau) Warna hijau hampir mendekati biru-hijau, menyediakan lingkungan yang baik untuk meditasi dan pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi.

7. Warna biru

• Plafon : yang berhubungan dengan angkasa, sejuk (jika terang), berat dan menyesakkan (jika gelap).

• Dinding : sejuk dan jauh (jika terang), mendorong dan ruang yang dalam (jika gelap)

• Lantai : menginspirasi gerakan tanpa tenaga (jika terang), kokoh, kuat (jika gelap)

Warna biru cenderung dingin dan suram jika diterapkan pada area luas, khususnya dalam hallways dan koridor yang panjang. Medium atau deep tones tepat dalam incindetal area. Biru muda dibiaskan tajam oleh lensa mata. Oleh karena itu cenderung untuk mengaburkan detail dan objek. Hal ini dapat menyebabkan penderitaan bagi beberapa orang yang dibatasi dalam area tertentu untuk jangka waktu yang lama.

8. Warna ungu

Jarang digunakan dalam interior ruang kecil untuk icidental areas. Dalam ruang yang luas, warna ini dapat menggangu fokus mata. Secara psikologis, warna ini dapat terlihat membingungkan dan melemahkan.

(31)

9. Warna abu- abu

• Plafon : menyerupai bayangan

• Dinding : netral membosankan

• Lantai : netral

Warna abu-abu kurang dalam penerapan psychotherapeutic. Model desain sekarang ini adalah warna ini dihubungkan dengan merah muda, ungu, atau ungu-merah dalam aksen dinding dan perabot. Prakteknya telah dilakukan pada semua jenis lingkungan, dari restran sampai pada fasilitas kesehatan.

10. Warna putih

• Plafon : kosong, membantu untuk mendifusi sumber cahaya dan mengurangi bayangan.

• Dinding : netral, kosong, steril, tanpa energi

• Lantai : touch-inhibiting (tidak untuk dilewati)

Ada pembenaran secara psikologis dan fisiologis untuk tidak menggunakan warna putih atau off white sebagai dominant dalam mayoritas sebuah lingkungan.

11. Warna hitam

• Plafon : menyesakkan

• Dinding : tidak menyenangkan

• Lantai : terasing, aneh, abstrak (Mahnke dan Mahnke, 1993, p. 13-16).

2.3.1. Penerapan Warna Pada Elemen Pembentuk Ruang

Penerapan warna pada elemen interior sangat berpengaruh dalam memberikan dan menciptakan suasana ruang yang kita inginkan. Oleh sebab itu, harus disesuaikan dengan karakter penghuninya dan memiliki prinsip-prinsip desain dalam pengaplikasiannya. Dengan demikian akan tercipta suasana ruang yang baik.

(32)

2.3.1.1. Plafon

Menurut Buku Desain Interior Pengantar Merencana Interior Untuk Mahasiswa Interior dan Arsitektur Ceiling atau plafon adalah salah satu unsur penting dalam interior, sebagai pembentuk ruang (space). Secara umum dapat dikatakan ceiling adalah sebuah bidang (permukaan) yang terletak diatas garis pandangan normal manusia, berfungsi sebagai pelindung (penutup) lantai atau atap dan sekaligus sebagai pembentuk ruang dengan bidang yang ada dibawahnya. Kesan lebih tinggi atau rendah dapat diperoleh melalui warna, dengan warna terang plafon terasa tinggi dan ringan sedangkan dengan warna gelap plafon terasa rendah dan menekan. Kesan memanjang atau memendek dapat diperoleh dengan menggunakan warna yang kontras (Suptandar, 1999, p. 160-165).

Sedangkan menurut Buku Interior Design Illustrated plafon berwarna terang yang memantulkan cahaya membawa kesan luas dan tinggi dari plafon, dapat direndahkan dengan menggunakan warna gelap dan warna terang yang kontras dengan warna dinding (Ching, 1987, p. 194).

Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan warna terang dapat membuat plafon berkesan tinggi dan ringan sedangkan warna gelap memberikan efek sebaliknya yaitu berkesan rendah dan menekan.

2.3.1.2. Dinding

Menurut Buku Disain Interior Pengantar Merencana Interior untuk Mahasiswa Desain dan Arsitektur dinding merupakan unsur penting dalam pembentukan ruang, baik sebagai unsur penyekat/ pembagi ruang maupun sebagai unsur dekoratif. Pengaruh warna pada dinding atau penutup dinding adalah pada dasarnya warna-warna yang mengkilat lebih banyak memantulkan sinar dan sebaliknya warna yang buram kurang memantulkan sinar. Warna yang terang menimbulkan kesan ringan dan luas dalam suatu ruang, sedang warna gelap memberi kesan berat dan sempit.

Penggunaan warna yang tepat berdampak pada efek psikologis dinding, antara lain:

1. Penggunaan warna pucat atau muda dapat memberikan kesan ruang yang lebih tinggi.

(33)

2. Penggunaan warna gelap pada plafon dapat memberikan kesan ruang yang tidak terlalu tinggi.

3. Penggunaan warna sejuk pada dinding dapat membuat ruang yang kecil agak terlihat lebih besar.

4. Penggunaan warna hangat pada dinding dapat membuat ruang yang terlalu besar supaya terasa lebih kecil.

5. Penggunaan warna muda atau dengan desain 2 (dua) dinding yang rendah berkesan dapat membuka ruang yang sempit.

6. Penggunaan warna hangat seperti merah dadu atau merah bata akan memberi kesan lebih hangat (Suptandar, 1999, p. 147-154).

Sedangkan menurut Buku Interior Design Illustrated warna kontras dalam warna, tekstur, atau patra dapat memunculkan kesan bidang dinding yang berbeda dari plafon dan lantai. Dapat pula digunakan untuk membedakan bidang dinding yang satu dengan yang lainnya dan mengartikulasi bentuk ruang.

Dinding memberi latar belakang untuk perabot dan pemakai ruang. Bila halus dan netral dalam warna, berkesan seperti latar belakang pasif untuk elemen latar depannya.

Bila diberi shape dalam bentuk tidak beraturan, atau diberi tekstur, patra, atau warna yang penuh semangat, dinding menjadi berkesan lebih aktif dan seakan bersaing demi perhatian kita.

Dinding berwarna terang akan memantulkan cahaya dengan efektif dan berfungsi sebagai latar belakang yang efisien untuk elemen yang ditempatkan didepannya. Warna hangat pada dinding memancarkan kehangatan, sementara warna sejuk meningkatkan kelapangan suatu ruang. Sedangkan dinding berwarna gelap menyerap cahaya, membuat ruang semakin sulit untuk terang, memberi kesan tertutup dan perasaan intim.

(Ching, 1987, p. 182-185).

Jadi dapat disimpulkan bahwa efek warna terang pada dinding dapat memantulkan cahaya dan memberi kesan ruang yang ringan dan luas, sedangkan warna gelap dapat membuat ruang menjadi sempit dan berkesan berat.

(34)

2.3.1.3. Lantai

Menurut Buku Disain Interior Pengantar Merencana Interior untuk Mahasiswa Disain dan Arsitektur, Lantai merupakan salah satu bagian yang penting dari ruang.

Lantai dapat menunjang fungsi atau kegiatan yang terjadi dalam ruang, dapat memberi karakter dan dapat memperjelas sifat ruang misalnya dengan memberikan oermainan pada permukaan lantai itu sendiri. Efek luas lantai dipengaruhi oleh panjang, lebar ketinggian, bahan dan warna. Warna lantai yang gelap akan menjadikan ruang tampak kecil, warna yang formal menjadikan ruang tampak agung. Begitu pula penggunaan warna-warna pada penutup lantai dapat memberi kesan tertentu terhadap ruang, misal warna biru memberi kesan sejuk dan warna merah memberi kesan panas. Warna yang ringan akan menjadikan ruang tampak lebih luas (Suptandar, 1999, p. 123-123).

Sedangkan menurut Buku Interior Design IllustratedLantai dengan warna teranga dapat mempertinggi tingkat cahaya dalam ruang, sementara lantai dengan warna gelap akan menyerap banyak cahaya yang jatuh di permukaan. Dalam kondisi hangat, warna terang dapat mempertinggi efek dari lantai, sedangkan lantai gelap dapat memberi kesan aman. Dalam kondosi sejuk, warna terang menerikan kesan lapang dan menekankan kelicinan pada lantai yang diberi pelitur sedangkan warna gelap memberi pada bidang lantai kesan kedalaman dan berat (Ching, 1987, p. 166).

Jadi dapat disimpulkan bahwa efek warna sejuk dapat memberik kesan sejuk dan warna panas dapat memberi kesan panas. Untuk warna terang dapat menjadikan ruang berkesan lebig lapang sementara warna gelap berkesan berat dan menjadikan ruang tampak kecil.

2.3.2. Penerapan Warna Pada Perabot

Menurut Buku Desain Interior Pengantar Merencana Interior untuk Mahasiswa Disain dan Arsitektur, penataan perabot harus disesuaikan dengan kebutuhan guna kenyamanan si pemakai sedang fingsi perabot tidak dapat dipisakan dengan faktor estetika. Dalam perencanaan kita harus mengetahui terlebih dahulu jenis aktivitas, sehingga kita tahu bentuk perabot yang akan dibuat terhadap luas ruang, sistem pencahayaan, pemilihan warna serta kondisi-kondisi lainnya. Sedang intensitas warna

(35)

pola atau warna-warna yang berani akan mempengaruhi suasana ruang secara langsung (Suptandar, 1999, p. 173 dan 178).

2.3.3. Penerapan Warna Pada Unsur Dekorasi

Menurut Buku Disain Interior Pengantar Merencana Interior untuk Mahasiswa Disain dan Arsitektur, untuk mencapai hasil yang optimal dari suatu perancangan tata ruang dalam, banyak unsur-unsur yang mendukungnya. Salah satu diantaranya adalah unsue dekorasi, karena tanpa dekorasi keindahan ruang akan menjadi berkurang. Suatu ruang yang akan di dekor dengan terlalu banyak variasi warna akan menjadi kecerobohan yang besar. Begitu pula ruang yang di dekorasi dengan warna yang monoton atau warna- warna halus dan lembut akan tampak kurang hidup. Dengan demikian jelaslah bahwa warna ternyata mempuntyai pengaruh dalam dekorasi (Suptandar, 1999, p. 195-196).

2.4. Penerapan Warna Pada Ruang Rawat Inap di Rumah Sakit

Ruang rawat inap rumah sakit harus memiliki standart-standart dan prosedur yang sudah di tetapkan oleh pemerintah, baik fasilitas nya, pelayanan nya dan tingkat kenyamanan interior rumah sakit itu sendiri. Berikut ini adalah penerapan warna yang dapat menunjang kenyamanan untuk proses penyembuhan pasien.

2.4.1. Penerapan Warna Pada Elemen Pembentuk Ruang 2.4.1.1. Penerapan Warna Pada Dinding

Dinding sebagai elemen pembentuk ruang yaitu pembatas memiliki faktor yang signifikan karena langsung terlihat dan dapat dirasakan langsung oleh pengguna ruang.

Pada desain rumah sakit disebutkan bahwa dinding hendaknya memakai warna yang lembut, karena mempunyai efek memantulkan sebanyak 40%, dengan kata lain tidak terlalu cocok seperti warna krem, biru muda, turquoise, peach, off white/ putih kombinasi, hijau emerald/ hijau muda, kuning pastel dan merah muda (Birren, 1982, p.

84-85). Selain itu penggunaan warna lembut dan terang akan membuat ruangan berkesan lebih besar (Eckstut, 1992, p. 34).

Adapun sifat dan karakteristik warna-warana tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kombinasi Coklat (Krem):

(36)

Krem membantu orang menghadapi kenyataan, meyakinkan bahwa nanti pada akhirnya akan baik-baik saja. Mereka senang bisa membuat dasar yang kuat, tapi bisa mengambil resiko untu melindungi orang-orang yang mereka sayangi. Warna coklat menghibur, memberikan rasa aman, dukungan pada saat badai dan stress (Verner-Bonds, 1989, p. 67).

2. Kombinasi Biru (Biru Muda):

Biru muda memiliki kepercayaan dan kemurnian seorang anak. Warna ini juga memiliki inspirasi dan kedewasaan spiritual. Mereka selalu berjuang mencari sesuatu yang lebih tinggi dan memiliki ambisi yang kuat. Penyembuh spiritual yang hebat ada dalam warna ini. Secara emosional, warna biru memberikan kedamaian, membantu orang beristirahat, menenangkan dan menyejukkan. Hal ini berguna untuk instropeksi diri, membawa orang ke masa lalu, kepada identitasnya mula-mula. Biru berguna untuk melawan kecemasan akan masa depan dan ketakutan untuk melangkah maju. Biru membantu orang menguasai kuasa kata-kata yang diucapkan-terutama untuk menolong diri sendiri, bahwa kita tidak meminta-maka kita jarang mendapat.

2.8. Kamar tidur anak dengan dinding warna biru muda Sumber: IDea (2010, p. 18)

Kelenjar yang berhubungan dengan warna biru adalah kelenjar tiroid dan palatiroid. Biru mempengaruhi daerah tenggorokan, paru-paru atas, lengan dan tengkorak bagian bawah. Infeksi pada daerah tenggorokan secara psikologis sering terjadi karena

(37)

tidak mengeluarkan uneg-uneg dalam hati. Warna biri membanru mengeluarkan uneg- uneg pada situasi tersebut. Biru adalah warna yang sangat penting untuk mengobati penyakit anak-anak: sakit pada saat gigi mulai tumbuh, telinga, tenggorokan, masalah dengan kemampuan bicara/ vokal (Verner-Bonds, 1989, p. 59-60).

3. Turquoise

Turquoise muda mendapatkan kegembiraan dalam hidup. Mereka cenderung romantis, selalu mencari pasangan hidup mereka, sehingga kurang memperhatikan pekerjaan. Warna yang menyenangkan.

Gambar 2.9. Kamar mandi dengan warna turquoise Sumber: IDea (2010, p. 25)

Secara emosional Turquoise bekerja agak lambat dalam penyembuhan, namun meluruskan masalah dalam hati, mendorong keberanian untuk menyelidiki diri sendiri dan menghilangkan kebingungan. Turquoise adalah warna yang menaruh diri sendiri di tempat perama. Cocok untuk orang yang merasa sendirian dan tidak dicintai.

Memberikan dukungan pada orang yang menderita penyakit saraf. Turquoise mengembalikan kepercayaan diri yang hilang.

Apabila dihubungkan dengan tenggorokan dan dada, warna Turquoise dapat menenangkan dan meyembuhkan sistem saraf. Mengobati luka, digigit serangga dan masalah kulit yang lain, juga baik untuk demam ringan dan infeksi. Membantu menumbuhkan sel terutama karena terbakar. Menghilangkan bekas luka. Turquoise sangat penting untuk masalah penuaan dini (Verner-Bonds, 1989, p. 72-73).

(38)

4. Peach/ Kombinasi Jingga

Warna Peach memiliki kekuatan untuk membujuk dengan halus, warna ini mampu untuk meyakinkan bahwa melompat aman untuk dilakukan. Peach merupakan kominakator yang baik, mempunyai bakat untuk mendorong anak-anak muda yang tidak mempunya ide tentang apa yang akan mereka lakukan dalam hidup. Penatua-penatua yang bijaksana memiliki karakter warna peach. Peach menciptakan lingkunga yang aman untuk meyelesaikan urusan dengan ingatan yang menyakitkan.

Memiliki perasaan sebagai penyerap, peach adalah laboratorium untuk usus.

Dihubungkan dengan perut dan ginjal, usus dan kelenjar adrenal. Bila daerah jingga tidak teratur orang tidak bisa menyerap kehidupan, baik secara emosi maupun fisik.

Peach membantu asma dan bronkitis, epilepsy dan kelainan mental, rematik, otot yang robek dan patah tulang. Dapat langsung disinarkan pada tungkai dan otot. Sangat baik untuk radang selaput lendir. Kombinasi warna jingga dan kuning mengobati stress.

Jingga menstabilkan hormon dan menolong dalam masalah (Verner-Bonds, 1989, p. 45- 46).

5. Putih Kombinasi

Putih membawa semua warna dan spektrum. Karakteristik utama putih adalah persamaan. Semua warna bisa disejajarkan dengan putih. Kepribadian putih menimbulkan pengharapan, memiliki kecerahan dan menyatukan kumpulan dari kemurnian semangat. Terlalu banyak putih menimbulakn kekosongan, frustasi dan kehilangan semangat.

Secara emosional putih mendorong rasa damai dan murni. Tempatkan diri dalam ruangan putih bila ingin memperbaiki keseimbangan. Jangan terlalu lama dalam warna putih karena rasa terasing akan mengambil rasa damai di hati. Putih bisa dipakai sebagai obat yang menaikkan semua warna pada sistem tubuh. Putih menumbuhkan ide-ide baru, membuka jalan menuju kreativitas dan meluaskan jalan.

Putih tidak membedakan organ-organ tubuh. Putih menyangkut semua warna.

Bola mata dihubungkan dengan putih. Bayangan putih dipakai untuk mendiagnosa. Putih sangat baik untuk membersihkan sistem limpa. Visualisai putih membersihkan diri dan membersihkan daerah perut dan bagian bawah lengan. Putih membantu menjaga kulit

(39)

tetap lentur dan lembab. Merupakan pelumas yang menjaga tubuh tetap tangkas, membersihkan bakteri, berfungsi sebagai antiseptic (Verner-Bonds, 1989, p. 80-81).

6. Kuning Pastel

Secara emosional, warna kuning lembut sangat baik untuk depresi dan melankoli.

Membawa orang pada pa yang perlu dilihat, membuat orang berbicara. Secara mental, meyingkirkan gangguan dan pemikiran negative. Secara emosional mrnaikkan harga diri, mendorng orang bergembira dan tertawa, sangat baik untuk menghilangkan ketakutan dan fobia.

Gambar 2.10. Organ tubuh yang dipengaruhi warna kuning.

Sumber: Health Design (1990, p. 85)

Warna kuning secara menyeluruh dihubungkan dengan pankreas, jaringan saraf simpatis, hati, empedu, limpa, saluran pencernaan, perut tengah, kulit dan sistem saraf.

Baik untuk mengeluarkan racun, melancarkan keluarnya getah lambung, memperbaharui dan membersihkan sistem, merangsang sistem limpa, meringankan kesulitan haid.

Kuning digunakan untuk membersihkan pencernaan, sembelit, ruam kulit, masalah telinga, abrasi, meringankan diabetes, rematik dan anoreksia (Verner-Bonds, 1989, p.

47-48).

7. Hijau Emerald dan Hijau Muda

Hijau Emerald memiliki kualitas tertinggi dari kemurahan hati, toleransi dan adaptasi. Mereka bisa masuk ke dalam inti masalah dan menyelesaikannya tanpa kesulitan. Hijau Emerald memiliki banyak gagasan dan materi. Mereka seperti kakek/

nenek yang menghibur dan memberikan perasaan aman. Sedangkan hijua muda

(40)

menunjukkan awal baru, selalu muda, menunggu. Pribadi hijau muda selalu berada pada permulaan sesuatu yang baru: proyek baru, petualangan baru, percintaan baru. Mereka baik hati dan lemah lembut. Mereka menunjukkan belas kasih dan simpati kepada orang lain, namun pada saat yang sama juga sulit memutuskan sesuatu dan tidak dewasa karena mereka kurang pengalaman. Hijau menstabilkan, menyeimbangkan, menyembuhkan dan meringankan beban.

Pada saat terjadi pertengkaran hijau akan mendinginkan emosi. Hijau membantu menentukan keputusan, membantu pikiran tetap terpusat pada hal yang penting.

Mengatasi penyakit sarap dan gagap dan membantu menenangkan seseorang yang sedang depresi.

Gambar 2.11. Organ tubuh yang dipengaruhi warna hijau.

Sumber: Ching (1990, p. 85)

Warna hijau berhubungan dengan kelenjar thymus, hati, bahu, dada dan paru-paru bawah, lengan tangan, jantung dan sirkulasi darah. Warna ini membantu mengatasi shock dan kelelahan, mabuk udara, meringankan sakit kepala, meringankan klaustrofobia dan menurunkan demam. Hijau sangat membantu menenangkan saraf, meringankan keluhan di liver karena dapat menghilangkan racun, juga bisa meringankan malaria. Hijau sangat membantu pada penyakit-penyakit yang berhubungan dengan hati, baik penyakit fisik maupun penyakit emosionil (Verner-Bonds, 1989, p. 53-54).

8. Merah Muda

Merah muda adalah percampuran antara merah dan putih, memiliki cinta tanpa syarat dan baik digunakan pada saat kritis, juga mengurangi depresi dan kesepian.

(41)

Bersifat menghibur dan melelahkan hal-hal yang tidak diinginkan. Bila seorang muda menyukai merah muda pucat, artinya mereka siap membangun potensi mereka dan memiliki waktu untuk membangun harapan. Bila warna ini dipilih oleh seorang dewasa, orang ini harus melepaskan mimpi yang kurang realistis. Merah muda yng lebih gelap menunjukkan kedewasaan dan kecantikan dari dalam juga mewakili kecantikan jiwa, cinta. Belas kasihan, potensi yang berkembang (Verner-Bonds, 1989, p. 77).

2.4.1.2. Penerapan Warna Pada Elemen Lantai

Selain dinding yang mempunyai efek memantulkan, lantai juga mempunyai efek yang sama, malah lantai mempunyai efek memantulkan yang lebih besar dari pada dinding sebesar 60%, sehingga penggunaan warna pada lantai tidak boleh terlalu gelap (Birren, 1982, p. 84), seperti warna hitam, ungu marron, coklat tua, dan sejenisnya karena akan memberikan efek kurang bersi dan memberikan kesan ruang yang lebih gelap karena menyerao cahaya matahari, dan juga tidak boleh terlalu terang seperti warna putih, kuning tua, hijau menyala, biru langit, karena warna tersebut warna mencolok yang akan melelahkan mata (room redux). Warna yang direkomendasikan pada kajian literatur kali ini, antara lain: Coral/ krem, peach, Aqua, Turquoise muda, dan sebagainya (Birren, 1982, p. 85). Karakter dan sifat warna-warnba tersebut telah disebutkan 2.1.4.1 no 1.

2.4.1.3. Penerapan Warna Pada Elemen Pembentuk Ruang Plafon

Penerapan warna pada plafon sebaiknya menggunakan warna terang. Warna tersebut harus lebih terang pada warna yang digunakan pada dinding sedangkan list/

border menggunakan warna yang lebih gelap daripada plafon maupun dinding agar ruangan berkesan lebih tinggi dan sejuk (room redux). Tidak diperkenankan menggunakan warna gelap seperti hitam, coklat tua, biru tua, dan sebagainya karena akan memberikan efek mempersempit atau memperpendek ruangan, selain itu secara psikologis akan memberikan efek menekan sehingga membuat orang stress dan depresi.

Warna-warna lain yang dihindari adalah warna mencolok seperti merah, ungu, kuning tua, dan sejenisnya karena akan memberi efek melelahkan yang memang sesuai karakter warna tersebut yang bersemangat, sehingga tidak sesuai untuk pasien yang sedang sakit

(42)

yang membutuhkan ketenangan, terutama pasien anak-anak (Pile, 1990, p. 121). Warna- warna yang sesuai untuk plafon rumah sakit adalah warna putih dengan kombinasinya, kuning muda, krem, serta warna-warna terang namun lembut (Birren, 1998, p. 84). Sifat dan karakter warna tersebut telah dibahas pada sub bab sebelumya.

2.4.1.4. Penerapan Warna Pada Elemen Pintu dan Jendela

Dikatakan bahwa pintu dan jendela harus berwarna terang agar tidak terlalu kontras dengan warna langit. Karena sesuatu yang kontras akan menimbulkan sakit kepala dan mata lelah. Hal ini berlaku apabila ruangan tersebut mendapat cukup pemandangan luar dari jendela maupun pintu, dengan kata lain dapat melihat langsung langit dan mendapat cahaya langsung dari sinar matahari. Warna terang dapat menyerap panas dari sinar matahari, yang tentunya berdampak mengurangi hawa panas dari dalam ruangan yang disebabkan oleh cahaya matahari tersebut. Warna-warna yang dapat diterapkan antara lain: putih, kuning muda, dan warna pastel lainnya (Malkin, 1982, p.

265).

Gambar 2.12. Ruangan dengan pintu berwarna terang.

2.4.1.5. Penerapan Warna Pada Perabot Dan Elemen Estetisnya

Idealnya perabot yang digunakan di rumah sakit tidak boleh ada sisi yang tajam apalagi dalam studi kasus kali ini yang dibahas adalah ruang rawat inap khusus anak.

Faktor ergonomis sangat penting bagi pengguna, yaitu pasien. Sebagai contoh, tempat

(43)

tidur untuk anak harus disesuaikan dengan karakter anak tersebut, tinggi tempat tidur, alas tidur hingga perabot kamar mandinya. Penerapan warna pada perabot tidak terlalu ada batasan-batasannya namun disarankan menggunakan warna yang cenderung gelap agar tidak mudah kotor dan menggunakan material yang mudah dibersihkan. Untuk kamar mandi boleh menggunakan warna terang karena pada umumnya material kamar mandi terbuat dari keramik atau batu alam sehingga tidak mudah kotor. Warana untuk tempat tidur, lemari, meja, kursi, dan sebagainya juga harus disesuaikan dengan warna yang diterapkan pada elemen interior lainnya agar menjadi satu kesatuan tema dan bentuk. Untuk alas tidur ada baiknya menggunakan warna yang terang seperti putih, kuning, biru muda, selain berkesan bersih, warna-warna tersebut memberi pengaruh psikologis tertentu, seperti warna putih yang bersifat desinfektan/ membersihkan bakteri.

Warna kuning membuat orang tertawa, warna biru memberikan efek menyejukkan, warna merah muda/ pink membuat orang merasa dicintai (Malkin, 1982, p. 270).

Sedangkan pada elemen estetis yang lain seperti gorde, lampu hias, lukisan, jam dinding maupun elemen penghias lainnya, hendaknya tidak terlalu mencolok dan ramai (khususnya gorden), selain tidak pantas untuk orang yang sedang istirahat dan yang sedang melakukan penyembuhan karena akan menimbulkan keterkejutan yang berakibat pasien merasa dibatasi sehingga dorongan untuk menjadi bosan bertambah. Warna yang tidak dianjurkan adalah merah terang, kuning terang, hitam dan warna sejenisnya (Birren, 1982, p. 84).

2.5. Sifat dan Karakter Anak Menurut Elisabeth B. Hurlock

Manurut Elizabeth B. Hurlock, baik faktor kondisi internal maupun faktor kondisi eksternal akan dapat mempengaruhi tempo/kecepatan dan sifat atau kualitas perkembangan anak. Tetapi sejauh mana pengaruh kedua faktor tersebut sukar untuk ditentukan, terlebih lagi untuk dibedakan mana yang penting dan kurang penting. Tetapi bailklah beberapa diantara faktor faktor-faktor tersebut ditinjau:

1. Intelligensi

Intellegensi merupakan faktor yang terpenting. Kecerdasan yang tinggi disertai oleh perkembangan yang cepat, sebaliknya jika kecerdasan rendah, maka anak akan terbelakang dalam pertumbuhan dan perkembangan.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini pemberian ventilasi melalui filter hijau pada tutup wadah kultur memungkinkan terjadinya pertukaran udara dengan nilai Kv 81,35 GE/hari, sehingga

Pertimbangan putusan hakim Pengadilan Agama dalam menyelesaikan perkara perceraian karena nushu>z berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan menyatakan

 Ekspansi ini diharapkan dapat mendukung target penjualan CSAP pada tahun 2018 yang diharapkan naik 14% menjadi Rp11 triliun dibandingkan dengan tahun lalu.. Penjualan dari

Titik Aries ini adalah satu titik yang berada di sepanjang ekuator langit, yaitu perpanjangan dari ekuator/khatulistiwa bumi, merupakan lingkaran besar dari Timur ke Barat – tapi

Pemahaman tentang sistem hirarki, prinsip, kriteria, indikator dan pengukur sangat penting untuk proses perumusan model kriteria dan indikator. Pemahaman tentang konsep dengan

Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI