BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Sifat Kimia Ester Gliserol Gondorukem Hidrogenasi
Kadar abu merupakan sisa pembakaran gondorukem pada suhu 625 ± 5 °C dinyatakan dalam persen (RSNI3 2010). Kadar abu ester gliserol gondorukem
0 100 200 300 400 500 600 510.38 K a d a r A b u (p p m )
hidrogenasi yang dihasilkan berkisar lengkap tersaji pada Gambar 14.
Gambar 14 Histogram rataan kadar abu ester gliserol gondorukem hidrogenasi. Gambar 14 memperlihatkan nilai kadar abu cenderung menurun seiring dengan meningkatnya persentase gliserol yang ditambahkan
tertinggi dihasilkan dari penambahan gliserol sebesar 2%. Nilai kadar abu pada gondorukem hidrogenasi yang tinggi diduga karena terdapat gliserol yang tidak bereaksi dan terperangkap pada produk gondorukem yang dihasilkan, sehingga menjadi pengotor pada produk gondorukem. Kadar abu berkaitan dengan kadar kotoran, semakin kecil nilai kadar abu maka semakin baik kualitas ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang dihasilkan karena semakin sedikit kadar kotorannya. Tingginya nilai kadar kotor
kualitas getah yang digunakan dalam penyulingan gondorukem. Kualitas getah dipengaruhi kotoran yang terkandung di dalamnya baik yang dapat terlihat maupun yang tidak terlihat oleh mata tanpa alat pembantu. Kotoran ya
terlihat dapat terjadi sebagai hasil proses kimia dari getah dengan air dan logam yang mudah berkarat serta pengaruh sinar matahari (Sumadiwangsa 1974
Silitonga 1988).
Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa
ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang dihasilkan. Berdasarkan nilai R2= 0,8022, ini menunjukkan bahwa 80,22% variasi nilai kadar abu ester gliserol
2% 4% 6% 8% 10% 12% 510.38 326.54 284.48 154.07 308.74 259.77 Penambahan Gliserol
hasilkan berkisar 154,07-510,38 ppm. Nilai kadar lengkap tersaji pada Gambar 14.
Histogram rataan kadar abu ester gliserol gondorukem hidrogenasi. Gambar 14 memperlihatkan nilai kadar abu cenderung menurun seiring dengan meningkatnya persentase gliserol yang ditambahkan. Nilai kadar abu tertinggi dihasilkan dari penambahan gliserol sebesar 2%. Nilai kadar abu pada gondorukem hidrogenasi yang tinggi diduga karena terdapat gliserol yang tidak bereaksi dan terperangkap pada produk gondorukem yang dihasilkan, sehingga i pengotor pada produk gondorukem. Kadar abu berkaitan dengan kadar kotoran, semakin kecil nilai kadar abu maka semakin baik kualitas ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang dihasilkan karena semakin sedikit kadar kotorannya. Tingginya nilai kadar kotoran dan kadar abu diduga akibat pengaruh kualitas getah yang digunakan dalam penyulingan gondorukem. Kualitas getah dipengaruhi kotoran yang terkandung di dalamnya baik yang dapat terlihat maupun yang tidak terlihat oleh mata tanpa alat pembantu. Kotoran ya
terlihat dapat terjadi sebagai hasil proses kimia dari getah dengan air dan logam yang mudah berkarat serta pengaruh sinar matahari (Sumadiwangsa 1974
analisis keragaman (Lampiran 1) pada selang kepercayaan 95% menunjukkan bahwa penambahan gliserol berpengaruh nyata terhadap kadar abu ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang dihasilkan. Berdasarkan nilai = 0,8022, ini menunjukkan bahwa 80,22% variasi nilai kadar abu ester gliserol 510,38 ppm. Nilai kadar abu secara
Histogram rataan kadar abu ester gliserol gondorukem hidrogenasi. Gambar 14 memperlihatkan nilai kadar abu cenderung menurun seiring
. Nilai kadar abu tertinggi dihasilkan dari penambahan gliserol sebesar 2%. Nilai kadar abu pada gondorukem hidrogenasi yang tinggi diduga karena terdapat gliserol yang tidak bereaksi dan terperangkap pada produk gondorukem yang dihasilkan, sehingga i pengotor pada produk gondorukem. Kadar abu berkaitan dengan kadar kotoran, semakin kecil nilai kadar abu maka semakin baik kualitas ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang dihasilkan karena semakin sedikit kadar an dan kadar abu diduga akibat pengaruh kualitas getah yang digunakan dalam penyulingan gondorukem. Kualitas getah dipengaruhi kotoran yang terkandung di dalamnya baik yang dapat terlihat maupun yang tidak terlihat oleh mata tanpa alat pembantu. Kotoran yang tidak terlihat dapat terjadi sebagai hasil proses kimia dari getah dengan air dan logam yang mudah berkarat serta pengaruh sinar matahari (Sumadiwangsa 1974 dalam
pada selang kepercayaan 95% penambahan gliserol berpengaruh nyata terhadap kadar abu ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang dihasilkan. Berdasarkan nilai
0 2 4 6 8 10 12 14 2% 13.20 B il a n g a n A s a m (m g K O H / g )
gondorukem hidrogenasi yang dihasilkan disebabkan oleh faktor peningkatan penambahan gliserol. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa penambahan gliserol sebesar 8% memiliki nilai kadar abu yang paling kecil. Persentase ini memberikan pengaruh yang sama dengan penambahan glis
10%, dan 12% terhadap nilai kadar abu sehingga penambahan gliserol yang efektif yaitu penambahan gliserol 4%.
4.3.2 Bilangan Asam
Bilangan asam
diperlukan untuk menetralkan
senyawa gondorukem (RSNI3 2010). Bilangan asam ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang dihasilka
Gambar 15 Histogram rataan hidrogenasi. Gambar di atas memperl
gliserol gondorukem hidrogenasi cenderung mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya persentase gliserol. Penurunan bilangan asam gondorukem dalam proses esterifikasi diduga karena gugus karboksil asam resin pada ester gliserol gondorukem hidrogenasi bereak
H sebagai pembawa sifat asam dari gugus karboksil asam resin berikatan dengan OH dari gliserol. Hal ini menyebabkan jumlah atom H dalam asam resin berkurang yang berdampak pada penurunan bilangan asam gondoru
dihasilkan. 2% 4% 6% 8% 10% 12% 13.20 8.08 5.82 5.27 6.19 5.73 Konsentrasi Gliserol
enasi yang dihasilkan disebabkan oleh faktor peningkatan penambahan gliserol. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa penambahan gliserol sebesar 8% memiliki nilai kadar abu yang paling kecil. Persentase ini memberikan pengaruh yang sama dengan penambahan gliserol sebesar 4%, 6%, 10%, dan 12% terhadap nilai kadar abu sehingga penambahan gliserol yang efektif yaitu penambahan gliserol 4%.
Bilangan Asam
Bilangan asam didefiniskan sebagai banyaknya KOH dalam
diperlukan untuk menetralkan satu gram asam resin yang terkandung dalam senyawa gondorukem (RSNI3 2010). Bilangan asam ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang dihasilkan berkisar antara 5,27–13,20 mg KOH/ g (Gambar 15).
Histogram rataan bilangan asam ester gliserol hidrogenasi.
Gambar di atas memperlihatkan bahwa nilai bilangan asam pada ester gondorukem hidrogenasi cenderung mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya persentase gliserol. Penurunan bilangan asam gondorukem dalam proses esterifikasi diduga karena gugus karboksil asam resin pada ester gliserol gondorukem hidrogenasi bereaksi dengan gliserol membentuk ikatan ester. Atom H sebagai pembawa sifat asam dari gugus karboksil asam resin berikatan dengan OH dari gliserol. Hal ini menyebabkan jumlah atom H dalam asam resin berkurang yang berdampak pada penurunan bilangan asam gondoru
5.73
enasi yang dihasilkan disebabkan oleh faktor peningkatan penambahan gliserol. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa penambahan gliserol sebesar 8% memiliki nilai kadar abu yang paling kecil. Persentase ini erol sebesar 4%, 6%, 10%, dan 12% terhadap nilai kadar abu sehingga penambahan gliserol yang
dalam mg yang sam resin yang terkandung dalam senyawa gondorukem (RSNI3 2010). Bilangan asam ester gliserol gondorukem 13,20 mg KOH/ g (Gambar 15).
ester gliserol gondorukem
ihatkan bahwa nilai bilangan asam pada ester gondorukem hidrogenasi cenderung mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya persentase gliserol. Penurunan bilangan asam gondorukem dalam proses esterifikasi diduga karena gugus karboksil asam resin pada ester gliserol si dengan gliserol membentuk ikatan ester. Atom H sebagai pembawa sifat asam dari gugus karboksil asam resin berikatan dengan OH dari gliserol. Hal ini menyebabkan jumlah atom H dalam asam resin berkurang yang berdampak pada penurunan bilangan asam gondorukem yang
Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa penambahan gliserol memberikkan pengaruh yang sangat nyata terhadap nilai bilangan asam pada ester gliserol gondorukem hidrogenasi. Berdasarkan nilai R2 = 0,9997, ini menunjukkan bahwa 99,97% variasi nilai bilangan asam ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang dihasilkan disebabkan oleh faktor peningkatan penambahan gliserol. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa penambahan gliserol sebesar 4%, 6%, 8%, 10%, dan 12% memberikan pengaruh yang sama terhadap nilai bilangan asam, akan tetapi penambahan gliserol 2% memberikan pengaruh yang berbeda pada nilai bilangan asam.
4.3.3 Kadar Logam Timbal (Pb) dan Arsen (As)
Logam Timbal adalah salah satu bahan logam berat yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (Suharto 2005). Timbal berwarna putih kebiru-biruan dengan pancaran yang terang. Timbal sangat lunak, mudah dibentuk,
ductile, memiliki resistasi tinggi terhadap korosi dan bukan konduktor listrik yang
baik (Mohsin 2006).
Keberadaan logam timbal di lingkungan sangat tidak diharapkan apalagi dalam makanan karena sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang merupakan hasil modifikasi gondorukem diharapkan dapat diaplikasikan sebagai tambahan dalam pembuatan makanan (minuman ringan dan permen karet) harus bebas dari logam berat seperti timbal (Pb) maupun Arsen (As). Pengujian kadar Timbal dan Arsen dalam ester gliserol gondorukem hidrogenasi dilakukan dengan metode Atomic Absorption
Sektrofotometer (AAS). Hasil pengujian menunjukkan nilai rataan kadar timbal
yang paling tinggi dihasilkan oleh ester gliserol gondorukem hidrogenasi dengan penambahan gliserol sebanyak 2% dan paling rendah pada penambahan gliserol 4% (Gambar 16).
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 K a d a r Pb (p p m )
Gambar 16 Histogram rataan hidrogenasi
Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa penambahan gliserol tidak berpengaruh nyata terhadap nilai kadar Pb pada ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang dihasilkan. Kadar P
gondorukem hidrogenasi ini diduga berasal dari Petroleum Benzene. Petroleum Benzene yang digunakan sebagai pelarut dalam pembuatan gondorukem hidrogenasi yang merupakan bahan baku untuk pembuatan ester gliserol gondorukem hidrogenasi mengandung
juga diduga berasal dari kayu pinus.
Sama halnya seperti Timbal (Pb), keberadaan Arsen (As) di lingkungan sangat tidak diharapkan apalagi terdapat di dalam makanan karena sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Gambar 17 menunjukkan nilai kadar Arsen yang diperoleh pada penelitian ini.
0 2 4 6 8 10 12 1.18 3.09 0.54 2.99 2.24 1.48 1.71 Penambahan Gliserol
Histogram rataan kadar Timbal (Pb) ester gliserol gondorukem hidrogenasi.
analisis keragaman menunjukkan bahwa penambahan gliserol tidak berpengaruh nyata terhadap nilai kadar Pb pada ester gliserol gondorukem hidrogenasi yang dihasilkan. Kadar Pb yang terdapat pada ester gliserol gondorukem hidrogenasi ini diduga berasal dari Petroleum Benzene. Petroleum Benzene yang digunakan sebagai pelarut dalam pembuatan gondorukem hidrogenasi yang merupakan bahan baku untuk pembuatan ester gliserol m hidrogenasi mengandung ≤0,00001% Pb. Selain itu, kadar logam Pb juga diduga berasal dari kayu pinus.
Sama halnya seperti Timbal (Pb), keberadaan Arsen (As) di lingkungan sangat tidak diharapkan apalagi terdapat di dalam makanan karena sangat agi kesehatan manusia. Gambar 17 menunjukkan nilai kadar Arsen yang diperoleh pada penelitian ini.
12 1.71
ester gliserol gondorukem
analisis keragaman menunjukkan bahwa penambahan gliserol tidak berpengaruh nyata terhadap nilai kadar Pb pada ester gliserol gondorukem b yang terdapat pada ester gliserol gondorukem hidrogenasi ini diduga berasal dari Petroleum Benzene. Petroleum Benzene yang digunakan sebagai pelarut dalam pembuatan gondorukem hidrogenasi yang merupakan bahan baku untuk pembuatan ester gliserol 0,00001% Pb. Selain itu, kadar logam Pb
Sama halnya seperti Timbal (Pb), keberadaan Arsen (As) di lingkungan sangat tidak diharapkan apalagi terdapat di dalam makanan karena sangat agi kesehatan manusia. Gambar 17 menunjukkan nilai kadar Arsen
Gambar 17 Histogram rataan hidrogenasi
Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa penambahan gliserol tidak berpengaruh nyata terhadap nilai kadar As pada ester gliserol gondoruk hidrogenasi yang dihasilkan.
gondorukem hidrogenasi
memungkinkan gondorukem ini dijadikan bahan tambahan untuk pembuatan makanan (minuman ringan