Menurut Moekijat (2012 :69) Sifat perubahan dalam inovasi di kelompokkan kedalam 6 bagian yaitu:
1. penggantian (substation)
Inovasi yang dimaksud didalam hal ini yaitu,penggantian jenis sekolah,penggantian bentuk perabotan, alat-alat atau sistem ujian yang lama diganti dengan yang baru.
2. perubahan (alternation)
Perubahan yang di maksud adalah semisal mengubah guru yang tadinya hanya bertugas sebagai pengajar dan kemudian di tambah menjadi guru pembimbing dan penyuluhan/ mengubah kurikulum sekolah yang semula bercorak teoritis akademis menjadi kurikulum dan mata pelajaran yang berorientasi bernuansa keterampilan hidup praktis.
3. Penambahan (addition)
Penambahan yaitu adanya pengenalan cara penyusunan dan analisa item tes objektif di kalangan guru sekolah dasar dengan tidak mengganti dan mengubah cara cara penelitian yang sudah sah.
4. Penyusunan Kembali (Restrtuctturing)
Adalah Upaya menyusun kembali susunan peralatan menyusun kembali komposisi serta ukuran dan daya tampung kelas, menyusung kembali urutan mata pelajaran keseluruhan system pelajaran,system kepangkatan, sistem pembinaan karir baik untuk tenaga edukatif maupun pada tenaga admistratif, tekhnis dalam upaya perkembangan keseluruhan sumber daya manusia dalam sistem.
5. Penghapusan (elimination)
yaitu upaya menghapus mata matapelajaran tertentu, menulis halus atau menghapus kebiasaan untuk senangtiasa berpakian seragam dan rapi.
6. Penguatan (Reinforcement)
adalah upaya peningkatan atau pemantapan kemampuan tenaga tenaga atau fasilitas sehingga berfungsi secara optimal dalam permudahan tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Ruang lingkup inovasi dalam organisasi Axtell dalam Janssen (2003 :69) yaitu bergerak mulai dari dan implementasi ide baru yang mempunyai dampak pada teori, praktek,produk atau skala yang lebih rendah yaitu perbaikan proses kerja sehari hari dan desain kerja, oleh karenanya, penelitian inovasi dalam organisasi dapat dilakukan tiga level yaitu pada inovasi individu, kelompok dan organisasi.
Lebih lanjut De Jong & Den Hartog (2003: 36) menguraikan bahwa inovasi incremental terlihat dar dua sektor yaitu.
a. knowledge-intesentive Service yakni usahanya meliputi pengembangan ekonomi sebagai contoh konsultan akutansi administrasi, R&D service, teknik computer, dan manajemen. sumber utama inovasi dari kemampuan mereka untuk memberikan hasil desain yang sesuai untuk pengguna layanan mereka hadirkan setiap kali dan tidak terstruktur.
b. supplier dominated service meliputi perdagangan retail, pelayanan pribadi.
B. Konsep Tentang Pemerintah Daerah 1. Pengertian Pemerintah
Secara etimologi kata pemerintah berasal dari kata “perintah” yang kemudian mendapat imbuhan “pe” menjadi kata “pemerintah” yang berarti badan atau organ elit yang melakukan pekerjaan mengurus suatu Negara.
Secara ilmiah, pengertian pemerintah dapat dibedakan dalam dua pengertian yaitu pemerintah sebagai organ (alat) negara yang menjalankan tugas (fungsi) dan perintah sebagai fungsi dari pada pemerintah.Istilah pemerintah dalam organ dapat pula dibedakan antara pemerintah dalam arti luas dan pemerintah dalam arti sempit.Pemerintah dalam arti luas adalah semua organ negara dan pemerintah dalam arti sempit adalah kekuasaan yang dimiliki oleh lembaga eksekutif (Kansil, 1984:21).
Pemerintah adalah organ yang berwenang memproses pelayanan publik dan berkewajiban memproses pelayanan civil bagi setiap orang melalui hubungan pemerintahan sehingga setiap anggota masyarakat yang bersangkutan menerimanya pada saat diperlukan, sesuai dengan tuntutan dan harapan yang diperintah. Dalam hubungan itu, bahkan warga negara asing atau siapa saja yang pada suatu saat berada secara sah (legal) di wilayah Indonesia berhak menerima layanan civil (sipil) tertentu, dan pemerintah wajib melayaninya.
Pemerintah maupun yang diperintah berada pada berbagai posisi dan melakukan berbagai peran satu terhadap yang lain, baik timbal balik maupun searah, seimbang maupun tidak. Hal inilah yang membentuk hubungan pemerintahan.
Berbagai konsep tentang pemerintah antara lain:
1. Pemerintah dalam arti sempit yaitu lembaga negara yang memegang kekuasaan eksekutif saja.
2. Pemerintah dalam arti luas adalah semua lembaga negara yang oleh
konstitusi negara disebut sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan. Hal ini telah diatur dalam UUD 1945, di mana dinyatakan bahwa kekuasaan pemerintahan meliputi fungsi legislatif dan fungsi eksekutif. Bahkan kepada presiden dilimpahkan “concentration of power and responsibility”
(terpusat pada kekuasaan dan tanggung jawab).
3. Pemerintah dalam konsep pemerintah pusat, yaitu pengguna kekuasaan negara pada tingkat pusat (tertinggi), pada umumnya dihadapkan pada konsep pemerintah daerah.
4. Pemerintah dalam konsep pemerintah daerah. Berbeda dengan pemerintah pusat yang dianggap mewakili negara, pemerintah daerah dianggap mewakili masyarakat karena daerah adalah masyarakat hukum yang tertentu batas-batasnya.
Pembentukan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 menjadi dasar dari berbagai produk undangundang dan peraturan perundang-undangan lainnya yang mengatur mengenai pemerintah daerah.
Tujuan pembentukan daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat disamping sebagai sarana pendidikan politik ditingkat lokal.
Menurut Suhady dalam Riawan (2009:197) Pemerintah (government) ditinjau dari pengertiannya adalah sebagai pengarahan dan administrasi yang berwenang atas kegiatan masyarakat dalam sebuah Negara, kota dan sebagainya.
Pemerintahan dapat juga diartikan sebagai lembaga atau badan yang
menyelenggarakan pemerintahan Negara, Negara bagian, atau kota dan sebagainya. Pengertian pemerintah dilihat dari sifatnya yaitu pemerintah dalam arti luas meliputi seluruh kekuasaan yaitu kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif, dan kekuasaan yudikatif.Sedangkan pemerintah dalam arti sempit hanya meliputi cabang kekuasaan eksekutif saja. (W. Riawan Tjandra 2009:197).
Pemberian otonomi seluas-luasnya kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Disamping itu melalui otonomi seluas-luasnya daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pemerintahan daerah dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan otonomi daerah, perlu memperhatikan hubungan antar susunan pemerintah dan antarpemerintah daerah, potensi dan keanekaragaman daerah.
Sebagaimana telah disebut di atas Undang-undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah.Pasal 18 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menyebutkan adanya pembagian pengelolaan pemerintahan pusat dan daerah. Pemberlakuan sistem otonomi daerah merupakan amanat yang diberikan oleh Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen Kedua Tahun 2000 untuk dilaksanakan berdasarkan undang-undang yang dibentuk khusus untuk mengatur pemerintahan daerah.
Undang-Undang Dasar 1945 pasca-amandemen itu mengatur mengenai pemerintahan daerah dalam Bab VI, yaitu Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B.
Sistem otonomi daerah sendiri tertulis secara umum dalam Pasal 18 untuk diatur lebih lanjut oleh undang-undang.Pasal 18 ayat (2) menyebutkan, “Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.”Selanjutnya, pada pasal 18 ayat (5) tertulis, “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat.”Pasal 18 ayat (6) menyatakan, “Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.
Sesuai dengan dasar hukum yang melandasi otonomi daerah, pemerintah daerah boleh menjalankan otonomi seluas-luasnya kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat.Maksudnya pelaksanaan kepemerintahan yang dilakukan oleh pemerintah daerah masih berpatokan pada undang-undang pemerintahan pusat. Siswanto Sunarno (2009:8) berpendapat bahwa konsep pemikiran tentang otonomi daerah mengandung pemaknaan terhadap eksistensi otonomi tersebut terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemikiranpemikiran tersebut antara lain :
Pemikiran pertama, bahwa prinsip otonomi daerah dengan menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya.Arti seluas-luasnya ini mengandung makna bahwa daerah diberikan kewenangan membuat kebijakan daerah, untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang
bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.Pemikiran kedua, bahwa prinsip otonomi daerah dengan menggunakan prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab.Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang, dan kewajiban yang senyatanya telah ada, serta berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. Dengan demikian, isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya.
Adapun otonomi yang bertanggung jawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi, yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan Nasional.
Sedangkandalam kajian pemerintah yang baik (good governance) yang di kutif oleh Mardiasmo (2002: 17) mendefinisikan good governance sebagai berikut:
a. Sebagai penyelenggara manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab dengan prinsip dasar efisiensi
b. Menghindari salah alokasi dana investasi dan mencegah korupsi, baik secara praktek maupun administrasi.
c. Menjalankan disiplin anggaran penciptaan legal dan political frame work bagi tambahnya aktifitas usaha.
Secara sedehana pengertian good governance adalah pemerintahanyang bersih dan beribawa.
Mardiasmo (2000 : 18) mengutip pendapat United Nation Developmen program (UNDP), bahwa karakteristik pelaksanaan good governance adalah sebagai berikut.
a. Partticipation, yaitu adanya keterlibatan masyarakat baik langsung maupun tidaklangsung melalui lembaga wakil rakyat menyampaikanapresiasi atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif.
b. Tranparancy, yaitu transparansi di bangun atas dasar kebebasan memperoleh informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik secara langsung yang dapat diperoleh oleh yang membutuhkan.
c. Responsivenes, yaitu lembaga lembaga publik harus cepat tanggap dalam melayani stakeholder.
d. census Orientasion yaitu berorientasi pada kepentingan masyarakat yang lebih luas.
e. Equity, yaitu setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama memperoleh kesejahtraan dan keadilan.
f. Efficiency and effectiveness, yaitu pengelolaan sumber daya publik yang di lakukan secara berdaya guna dan berhasil guna.
g. Accountability, yaitu bertanggung jawab kepada publik yang atas setiap aktivitas yang di lakukan.
h. strategi Visoin, yaitu berorientasi pada visi yang telah ada.
Dari kesembilan karateristik di atas terdapat tiga hal yang dapat diperankan oleh akntansi pemerintah yaitu:
a. penciptaan transparansi b. akuntabilitas public
c. value for Money ( ekonomi, efficiency and effectivieness)
Selanjutnya Governance Finance Associationdalam bukunya governmental accounting Auditing and financial Reforting dalam Sugiarto (1995 : 2) mengemukakan bahwa untuk dapat memehami model pemerintahan dengan dengan tepat diperlukan tiga hal sebagai berikut :
1. Struktur pemerintahan, struktur pemerintahan pada umumnya di butuhkan untuk melindungi dan melayani kebutuhan warga Negaranya.
2. Sifat dan sumber daya di sektor swasta terdapat hubungan langsung antara barang dan jasa yangt di berikan dengan harga yang harus di bayar, sedangkan di sector public kepuasana masyarakat dan ketaatan pada aturan mejadi perhatian.
3. Proses politik