Beberapa dekade terakhir di abad ke 21 ini Tiongkok telah mampu naik ke panggung ekonomi global, kebangkitan Tiongkok bukan hanya di bidang ekonomi namun juga dalam hal geopolitik. Tiongkok saat ini menjadi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, akibat dari hal ini membuat Tiongkok
79
mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan perekonomian dunia. Kekuatan ekonomi yang dimiliki Tiongkok ini kemudian memiliki peran yang cukup besar dalam perekonomian global dimana integrasi ekonomi Tiongkok mampu membawa seperlima populasi global ke dalam sistem perdagangan
dunia.103 Alhasil dari dampak ini adalah adanya peningkatan potensi pasar global
untuk menawarkan peluang dalam meningkatkan produksi, perdagangan, dan konsumsi dunia dengan potensi untuk meningkatkan kesejahteraan negara yang terlibat. Selain itu kebangkitan perekonomian Tiongkok juga menghasilkan beberapa eksternalitas global yang signifikan berkaitan dengan: 1) meningkatknya persaingan dari produksi berbiaya rendah Tiongkok dan meningkatnya pangsa produk buatan Tiongkok, 2) peran Tiongkok dalam ketidakseimbangan ekonomi global, 3) kenaikan harga komoditas, termasuk harga energi dan mineral, sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya permintaan Tiongkok akan hal tersebut guna tetap mengembangkan manufakturnya, 4) meningkatnya emisi rumah kaca yang
dihasilkan dari industrialisasi Tiongkok.104
Peningkatan perekonomian Tiongkok ini dibuktikan dengan kemampuan Tiongkok bersama dengan lima negara lainnya dalam BRICS (Brazil, Rusia, India, China, South Africa) yang menyumbang 42% dari populasi dunia dan 18% dari produk domestik bruto (PDB). Secara nasional juga perekonomian Tiongkok memiliki PDB ekonomi yang besar berdasarkan dari daya belinya. Sehingga hal ini kemudian mampu berpengaruh terhadap pasar internasional untuk barang-barang manufaktur yang padat karya, bahan baku dan komoditas dan valuta asing.
103 Jane Golley and Ligang Song,2011, Rising China: Global Challenges and Opportunities, Canberra: ANU E Press, hal. 1
80
Peningkatan perekonomian Tiongkok juga berdampak pada perannya dalam memberikan bantuan maupun investasi terhadap negara-negara lain khususnya negara berkembang. Meskipun disisi lain perekonomian Tiongkok dalam beberapa dekade belakangan ini mengalami perkembangan yang cukup melambat, hal ini tidak menutup kemungkinan baginya untuk tetap memainkan peranannya secara global.
Gambar 2.5
Kegiatan Ekspor-Impor Tiongkok 1979-2017
Sumber: China’s Economic Rise: History, Trends, Challenges, Implications for the United State from IMF, and Chinese National Bureau of Statistic
Perekonomian Tiongkok ini sebagian besar ditopang oleh transaksi ekspor-impornya di kawasan Samudera Hindia, sehingga ini menjadi alasan kenapa sampai saat ini Samudera Hindia masih menjadi wilayah yang vital bagi Tiongkok. Tiongkok memandang Samudera Hindia sebagai wilayah yang vital
81
akan jalur komunikasinya serta kekayaan sumber daya yang dimiliki. Hingga akhirnya membuat Tiongkok membangun berbagai infrastruktur di wilayah tersebut. Tiongkok di Samudera Hindia memiliki banyak investasi, mulai dari pembangunan Belt Road Initiative (BRI), pangkalan militer, investasi di berbagai negara pesisir Samudera Hindia hingga infrastruktur fasilitas pelabuhan.
Sekitar tahun 2000-an, konsumsi energi Tiongkok meningkat lebih dari dua kali lipat karena pertumbuhan ekonominya menjadi overdrive. Tiongkok telah menyumbang sebesar 63% dari permintaan energi baru dunia, 19% dari tenaga
hidroelektriknya, dan 10% dari minyaknya.105 Menurut International Energy
Agency (IEA) pada 2009, konsumsi energi Tiongkok melampaui konsumsi Amerika Serikat. Dalam hal ini Tiongkok menjadi konsumen energi terbesar dunia. Akibat dari hasrat Tiongkok dalam memenuhi kebutuhannya akan energi membuat para penguasa dan elit intelektualnya mulai khawatir terhadap keamanan energi negara tersebut, sehingga perlu bagi Tiongkok dalam meningkatkan
kemampuan guna menjaga pasokan yang mereka butuhkan.106 Memang
ketergantungan Tiongkok akan impor terhadap energi tidak dapat lagi dihindarkan, karena ini menjadi salah satu bahan baku bagi manufaktur Tiongkok demi untuk mengembangkan perekonomiannya. Pada tahun 2000, Tiongkok mengonsumsi 4.8 juta barel per hari (bph), kemudian pada 2009 angka itu
melonjak menjadi 8.6 juta bph konsumen minyak terbesar di dunia.107
Berdasarkan hal ini IEA memproyeksikan bahwa bahwa pada tahun 2035 permintaan Tiongkok akan melebihi 15 juta bph lalu menjadi. Di tahun 2009 juga
105 Andrew B Kennedy, 2011, China’s Petroleum Predicament: Challenges and opportunities in Beijing’s Search for Energy Security, Canberra: ANU E Press, hal. 121
106 Ibid. 107 Ibid.
82
Tiongkok melakukan impor minyak sebesar 53%, ini menjadi salah satu bukti
akan ketergantungan Tiongkok terhadap minyak dari negara-negara luar.108
Tiongkok untuk menghadapi ketergantungannya terhadap minyak, pemerintahnya kemudian berusaha untuk meningkatkan keamanan energinya salah satunya dengan menjalin kesepakatan bilateral dengan negara penghasil energi. Selain itu Tiongkok juga berupaya untuk melakukan ekspansi internasional terhadap National Oil Companies (NCOs) sendiri¸mendiversifikasi pasokannya, memperkuat angkatan lautnya, dan untuk mengembangkan cadangan
minyak strategisnya sendiri.109 Ekspansi perusahaan Tiongkok dilakukan melalui
berbagai investasi di luar negeri guna untuk mendapatkan akses yang lebih besar ke sumber daya di luar negeri. Adapun kebijakan pemerintah Tiongkok dalam menjaga keamanan energinya yaitu dengan cara menjalin kesepakatan, sampai saat ini terdapat 43 kesepakatan akuisisi minyak dan gas asing yang terpisah
antara tahun 2002 dan 2010, kesepakatan ini bernilai sekitar US $ 65 miliar.110
Hasil dari kesepakatan ini, NOC kini beroperasi di 31 negara berbeda di seluruh duina. Mereka memiliki produksi ekuiditas di 20 negara tersebut, meskipun
sebagian besar terfokus di Kazhakhstan, Venezuela, Sudan, dan Angola.111
Selain melalui kesepakatan, Tiongkok juga menjalin hubungan baik dengan beberapa negara dunia seperti dengan Pakistan. Tiongkok dengan Pakistan bekerja sama dalam melakukan pembangunan pelabuhan-pelabuhan Pakistan di Laut Arab. Hal ini yang kemudian mendorong spekulasi Tiongkok bahwa ia ingin
108 Ibid.
109 Ibid. 110 Ibid. 111 Ibid.
83
menjalin hubungan yang semakin erat dengan Teluk Persia.112 Hubungan ini
dibangun untuk memenuhi kepentingan Tiongkok dalam menjaga jalur pasokan energinya. Bukan hanya itu, upaya Tiongkok juga dilakukan melalui penguatan angkatan laut Tiongkok di beberapa tempat yang menjadi jalur pasokan minyaknya. Tiongkok dalam hal ini telah melakukan pembangunan armada pangkalan laut di beberapa tempat seperti Kyauukpyu, Chittagong, Kolombo, Hambantota, Teluk Aden, Djibouti, dan Gwadar.
Pembangunan pangkalan laut ini dimaksudkan untuk melindungi jalur impor energinya yang berasal dari Timur Tengah melalui Samudera Hindia. Selain itu Tiongkok juga berupaya membuat projek Belt Road Initiative (BRI)
merupakan strategi besar Tiongkok, yaitu 21st Century Maritime Silk Road dan
Silk Road Ecoomic Belt.113 Masing-masing dari inisiatif ini diumumkan pada 2013 oleh Xin Jinping, inisiatif BRI sering kali disebut dengan One Belt One Road (OBOR). Inisiatif dari BRI ini insentif dengan trajektori dalam kurun waktu beberapa dekade yang dipandang sebagai alat bagi Tiongkok untuk memperbaiki
hubungan kerja sama komersial dengan dunia.114 Adapun tujuan dari BRI ini yaitu
koordinasi kebijakan, konektivitas fasilitas, perdagangan tanpa rintangan,
integrasi finansial, dan people to people.115 Program BRI ini akan membangun
infrastruktur melintasi Asia, Afrika, Eropa dan Timur Tengah serta membentuk
pasar baru bagi produk, Tiongkok dan asing.116
112 Ibid.
113 Danika Ramadhani A.F, Belt Road Initiatives (BRI): Intensi Tiongkok Sebagai Supremasi di
Samudera Hindia dan Respon Counterbalance dari India, Jurnal Hubungan Internasional,
UNAIR, Vol, 11, No, 2 (2018), Surabaya: GARUDA, hal. 245 114 Ibid.
115Ibid.
84
BRI juga merupakan program bagi Tiongkok untuk meningkatkan ekspansi komersilnya di berbagai negara. Bagi Tiongkok BRI dibentuk guna meningkatkan integrasi ekonomi khususnya antara Tiongkok dengan negara-negara pada rute BRI. BRI ini memiliki dua perbedaan bagi hubungan Tiongkok dengan mitranya, pertama the Belt menjadi rute darat yang melewati Asia Tengah dan Eropa yang mana itu akan mengaitkan dua kekuatan ekonomi adidaya di
dunia.117 Koridor ini nantinya akan berpeluang bagi Asia Tengah dan Eropa
Timur khususnya dalam suplier energi dan pertambangan. Sedangkan the Road atau Maritime Road menjadi arena yang penu (A.F, 2018)h dengan konsumen dan peluang industri, sebenarnya ini sama dengan jalur the Belt dimana jalur yang akan dikaitkan yaitu antara Tiongkok dan Eropa. Namun, jalur yang dilewatinya
adalah Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika Timur.118
Jalur-jalur tersebut menjadi Jalur-jalur yang berpeluang besar dalam membangun perekonomian Tiongkok, sebab 63% dari populasi dunia dan menyumbang 44% GDP dunia. Selain itu, melalui BRI cukup banyak hal yang bisa diperoleh Tiongkok misalnya pembelajaran terkait dengan kompetensi perusahaan pada skala global, mengadopsi praktik internasional terbaik, mendapatkan teknologi
terkemuka, dan menjadi pemain terbaik pasar asing.119 Inisiatif dari pembangunan
BRI ini akan mempermudah perusahaan Tiongkok dalam menjalin perdagangan yang melintasi Asia, Afrika, Eropa dam Timur Tengah. Selain itu pembangunan BRI ini adalah strategi bagi Tiongkok dalam melakukan ekpsansi atas pengaruh komersil dan politiknya, serta berupaya untuk bisa menjadi negara yang cukup memiliki pengaruh dalam skala global.
117 Ibid.
118 Ibid.
85
BRI menjadi strategi utama dalam mengglobalnya Tiongkok dikarenakan spesifikasi pembangunan jalur BRI baik darat maupun laut membentang mulai dari Eropa, Asia, Afrika hingga Timur Tengah. Strategi pembangunan ini yang kemudian menjadi senjata bagi Tiongkok untuk memperluas pasar dan memenuhi kepentingan negaranya dalam mengamankan jalur komunikasi perdagangannya baik ekspor maupun impor. Tiongkok dalam hal ini bersikeras untuk mengamankan jalur perekonomiannya terutama dalam hal pasokan energinya yang melalui Samudera Hindia. Tiongkok begitu menjaga pasokan energinya dikarenakan sumber utama dari industri manufaktur Tiongkok sebesar 60%
memerlukan bahan energi yang cukup padat.120 Selain itu Tiongkok melalui BRI
berupaya untuk melakukan perimbangan kekuatan ekonomi dan kerja sama
multilateral pembangunan infrastruktur.121 Selain projek BRI, Tiongkok juga
menetapkan kebijakan pembangunan pangkalan militer di kawasan Samudera Hindia khususnya di Afrika Timur. Pembangunan pangkalan militer Tiongkok terletak di Djibouti, pangkalan militer ini menjadi pangkalan pertama Tiongkok
yang berada di luar negeri.122 Tiongkok secara sengaja dalam melakukan
pembangunan pangkalan militer ini guna untuk memenuhi kepentingan nasionalnya dalam bidang keamanan dan ekonomi. Djibouti dipilih oleh Tiongkok dengan alasan lokasinya yang terbilang strategis. Wilayah Djibouti memiliki jalur terbaik dalam melakukan akses mulai dari el Mandeb, Tears yaitu selat antara
120 Syahroni Alby, Op. Cit., hal. 1
121 Yandry Kurniawan, One Belt One Road (OBOR): Agenda Keamanan Liberal Tiongkok?, Jurnal Politica, Vol, 7, No, 2 (2016), Jakarta: Pusat Penelitian, Badan Keahlian DPR RI, hal. 235
122 Kiki Wijayanti Pri Utami, Kepentingan Cina dalam Membangun Millitary Support Hub di
86
Enitrea dan Yaman, Laut Merah, dan Terusan Suez.123 Sehingga dari sini Djibouti
memiliki jalur laut strategis sekaligus tersibuk di dunia.
Gambar 2.6
Lokasi Strategis bagi Pembangunan Pangkalan Militer Tiongkok
Sumber: Defense Secretary Mattis Arrives at Only U.S Base in Africa, diakses
melalui
https://smallwarsjournal.com/blog/defense-secretary-mattis-arrives-at-only-us-base-in-africa, (9 Maret 2020, 10.46 WIB)
Selain itu Djibouti dari segi ekonominya sendiri didasarkan dari aktivitas pelayanan yang diasosiasikan dengan kondisi negara yang terletak pada posisi
strategis.124 Hal tersbut menjadi dasar dari perekonomian Djibouti karena lokasi
Djibouti yang terletak pada jalur perdagangan bebas menjadikan pusat dari pelabuhan atau transit kapal-kapal besar di Djibouti baik itu pelabuhan untuk
123 Djibouti Country Handbook, Loc., Cit. 124 Ibid., hal. 48
87
kapal regional maupun internasional. Selain aktivitas ekonomi yang didasarkan pada pelabuhan dari jalur perdagangan bebas itu, Djibouti juga mendapatkan income dari fasilitas pelabuhan, industri, dan basis militer.125 Beberapa aktivitas yang dilakukan ini menjadi senjata utama bagi Djibouti untuk bisa meningkatkan perekonomian negaranya. Sehingga hal ini menjadi alasan bagi negara – negara lain untuk melakukan kerjasama dengan Djibouti baik dari sisi perekonomian dalam hal perdagangan bebas maupun dari segi keamanannya, karena dari baiknya hubungan yang dijalin oleh Djibouti dengan beberapa negara lain membuatnya menjadi wilayah yang memiliki kondisi keamanan cukup stabil. Djibouti menjadi negara yang memiliki intensitas ancaman terhadap perang juga lebih kecil atau bisa dikatakan menjadi wilayah yang cukup stabil secara politis. Oleh sebab itu, tidak sedikit negara yang menginginkan pembangunan pangkalan militer disana seperti Perancis, Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok.
Tiongkok melalui pembangunan pangkalan militer di Djibouti bertujuan untuk berpartisipasi dalam mengatasi permasalahan pembajakan di sekitar Teluk Aden. Isu pembajakan di kawasan Samudera Hindia cukup sering dan perlu untuk segera diatasi, maka dari itu Tiongkok berupaya untuk mengatasi hal tersebut juga memenuhi kepentingannya seperti mendapatkan kemudahan dalam pengamanan jalur perdagangan dan pasokan energi, pengisian bahan bakar terhadap kapal-kapal angkatan laut Tiongkok. Selain itu juga kemudahan akses menuju Teluk Aden dan Teluk Arabia yang mana rute ini menjadi rute ekonomi signifikan. Rute ekonomi ini dianggap signifikan karena 20% dari ekspor global dan 10% dari total ekspor minyak transit per tahun, tidak hanya itu rute tersebut juga melalui el
125 Index of Economic Freedom, diakses dalam https://www.heritage.org/index/country/djibouti (13/11/2018, 22.39 WIB)
88
Mandeb yakni rute utama yang menghubungkan Laut Mediterania, Terusan Suez,
dan Laut Merah ke Samudera Hindia dan pasar Asia.126
Sehingga dari apa yang diupayakan oleh Tiongkok ini menjadi strategi yang dilakukan guna memenuhi kepentingan nasionalnya yakni menjaga keamanan SLOCs di kawasan Samudera Hindia untuk pengembangan manufakturnya. Selain itu juga Tiongkok menginginkan perkembangan perekonomiannya terhadap pasar-pasar di negara-negara pesisir Samudera Hindia terus berkembang yang mana hal ini akan dapat berdampak pada peningkatan GDP Tiongkok itu sendiri. Proyeksi Tiongkok terhadap Samudera Hindia adalah ingin menjadi negara yang memiliki power serta sebagai negara adi daya mengimbangi Amerika Serikat. Tiongkok juga ingin menjadi pemain utama dalam tata kelola global di dunia.