• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Ibu Hamil

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 33-40)

2.5.1. Pengertian Sikap

Sikap merupakan reaksi yang mencerminkan rasa senang, tidak senang atau perasaan biasa biasa saja pada seseorang atau pada sesuatu seperti situasi, kejadian atau pada benda, sikap dibagi menjadi sikap positif atau

48 sikap perasaan senang dan sikap negatif atau perasaan tidak senang (Ramdani et al., 2019). Sikap sendiri adalah proses penilaian yang di lakukan oleh seseorang untuk menilai suatu objek atau kondisi tertentu yang di iringi dengan perasaan tertentu positif atau negatif, ibu hamil yang memiliki sikap kuat akan memiliki perilaku yang berpengaruh dalam pemeriksaan ANC pada ibu hamil (T. Lestari, 2015). Dalam situasi COVID-19 sikap ibu hamil dalam melaksanakan pemeiksaan ibu hamil masih banyak yang kurang mengerti seputar kehamilan semasa COVID-19, sikap positif pada ibu hamil berpengaruh kepada risiko penularan COVID-19 ibu menjadi khawatir dan lebih waspada agar tidak terinfeksi COVID-19, sebaliknya apabila ibu bersikap negatif maka ibu akan lebih mengabaikan kehamilan ibu baik kesehatan ibu sendiri maupun kesehatan janin (Dewi et al., 2020; Lee, Loy, Yang, Chan, & Tan, 2020; Shahriarirad, 2020).

Adapun ciri ciri sikap ibu :

1 Sikap favorable yang berarti memihak atau mendukung atau sikap positif pada ibu hamil sikap favorable cenderung bersemangat dan peduli terhadap baik terhadap kehamilan ibu maupun kesehatan ibu sendiri seperti keikutsertaan ibu dalam melakukan pemeriksaan kehamilan ataupun kegiatan lainnya (Mardha &

Panjaitan, 2020). Sikap favorable atau sikap positif pada ibu hamil ibu hamil cenderung khawatir dan takut tertular COVID-19 di masa pandemi COVID-19 dan lebih memperhatikan kehamilannya lebih teliti (Maharlouei et al., 2020)

49 2 Sikap unfavorable yang berarti tidak mendukung pada ibu hamil sikap unfavorable ibu cenderung tertutup baik terhadap orang terdekatnya maupun petugas kesehatan, seperti ibu enggan atau bersikap tidak perduli dengan kehamilannya. (Mardha &

Panjaitan, 2020). Sikap unfavorable atau sikap negatif pada ibu hamil cenderung tidak perduli kepada kehamilannya dan tidak khawatir menganggap pandemi adalah hal yang biasa saja (Maharlouei et al., 2020).

2.5.2. Komponen Sikap

Komponen sikap menurut Secord & Backman dalam (Setiawan, 2017) komponen sikap terdiri atas 3 komponen yaitu :

1. Komponen Kognitif

Komponen kognitif atau pemikiran adalah komponen yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap suatu objek yang di dapatkan dari pengalaman individu atau objek lain. Komponen kognitif pada sikap ibu hamil seperti seorang ibu yang bersikap negatif terhadap pemeriksaan kehamilan karena adanya kepercayaan bahwa pelayanan kesehatan tidak berdampak apapun bagi ibu ibu begitupun sebaliknya apabila ibu memiliki kepercayaan bahwa pelayanan kesehatan berdampak bagi ibu makai ibu cenderung bersikap positif terhadap kehamilannya (Witcahyo, 2015)

2. Komponen Afektif

Komponen afektif atau perasaan merupakan berkaitan dengan rasa senang atau rasa tidak senang terhadap sesuatu, komponen ini

50 lebih menyangkut masalah emosional subyektif terhadap suatu objek sikap. Komponen afektif pada sikap ibu hami meliputi kesadaran dan kepedulian ibu terhadap kehamilannya dan kebutuhan ibu selama kehamilan seperti kehamilan pertama ibu yang sudah lama ibu cenderung peduli terhadap kehamilannya dikarenakan ibu mencintai kehamilan pertamanya, sebaliknya ibu yang sudah memiliki anak banyak karena sudah memiliki pengalaman dalam merawat kehamilan dan merawat anak ibu lebih bersikap biasa saja (Witcahyo, 2015) 3. Komponen Konatif

Komponen konatif (predisposisi tindakan) atau komponen perilaku merupakan kecenderungan seseorang berperilaku tertentu tergantung dari sikap seseorang, menunjukkan besar kecilnya kecenderungan untuk bertindak. Apabila seseorang bersikap positif maka akan cenderung mendukung sebaliknya jika seseorang bersikap negatif maka ia akan cenderung mengganggu dan merusak objek.

Pada ibu hamil sikap komponen konatif ibu akan memiliki kecenderungan bereaksi pada kehamilannya yang berkaitan dengan perkembangan kehamilannya serta persalinan yang akan dihadapinya dengan cara tertentu bereaksi positif atau reaksi negatif yang menguntungkan atau merugikan ibu ataupun kehamilannya dan bersikap sesuai kondisi tertentu (Witcahyo, 2015)

2.5.3. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Kesehatan

Menurut Lawrence Green dalam (Adventus, Jaya, & Mahendra, 2019) perilaku kesehatan seseorang dipengaruhi oleh :

51 1. Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi terdiri dari umur, pekerjaan, pendidikan, pengetahuan, sikap dan kepercayaan yang terdapat dalam diri individu maupun masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan.

2. Faktor Pemungkin

Faktor pemungkin terdiri dari lingkungan dan jarak menuju fasilitas kesehatan, untuk berperilaku sehat, masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung, misalnya perilaku melakukan kunjungan antenatal untuk memperoleh informasi seputar kehamilan.

3. Faktor Penguat

Faktor penguat terdiri atas dukungan keluarga, orang terdekat atau masyarakat dorongan dari suami atau keluarga memperkuat perilaku ibu dalam melakukan kunjungan antenatal.

2.6 Kecemasan

4.7.1. Pengertian Kecemasan

Kecemasan merupakan suatu respon yang tidak terfokus yag meningkatnya kewaspadaan seseorang terhadap ancaman baik secara nyata maupun pikiran, kecemasan memiliki perbedaan dengan ketakutan takut merupakan reaksi terhadap ancaman yang terfokus sedangkan cemas tidak terfokus (Amelia Kurniati, 2018). Kecemasan sering di deskripsikan sebagai perasaan tertekan serta berpikiran tidak tenang kacau yang dapat mengakibatkan reaksi tubuh mengalami perubahan seperti menggigil, jantung berdetak kencang, berkeringat dingin, mual, badan terasa lemas bahkan berefek seseorang sampai berimajinasi. (Enie Noviestari, 2020).

Selama pandemi COVID-19 banyak memicu perubahan psikologis pada

52 kalangan masyarakat salah satunya ibu hamil banyak dari ibu hamil yang mengalami kecemasan, perubahan yang terjadi di karenakan berubahnya pola kehidupan masyarakat serta kebiasaan yang di batasi guna mengurangi risiko tertular COVID-19. Kecemasan pada ibu hamil dapat menyebabkan risiko preeklamsia, skor APGAR rendah, BBLR, pesalinan prematur bahkan depresi (Akgor et al., 2021; Alipour, Ghadami, Farsham, & Dorri, 2020; Ben-Ari, O. T., Chasson, M., Sharkia, S. A., & Weiss, 2020).

Ketidakpastian tentang durasi COVID-19 pandemi meningkatkan tingkat kecemasan wanita hamil, namun belum ada informasi pasti tentang pengaruh COVID- 19 tentang kesehatan mental wanita hamil (Kahyaoglu Sut & Kucukkaya, 2020). Pandemi COVID-19 saat ini telah menyebabkan meningkatnya kecemasan di kalangan ibu hamil. Karena para wanita ini mengkhawatirkan anak mereka yang belum lahir dan kondisi kesehatan mereka sendiri (Salehi et al., 2020). Permasalan psikologi pada ibu hamil mengalami gejala depresif dan dan kecemasan lebih tinggi saat adanya pandemi COVID-19 dibandingkan sebelumnya, termasuk kecendungan ingin melukai dirinya sendiri sehingga menimbulkan kondisi bahaya selama kehamilan sehingga dapat berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janinnya (Nurhasanah, 2020)

4.7.2. Faktor Penyebab Terjadinya Kecemasan

Faktor penyebab terjadinya kecemasan ada 2 yaitu faktor internal dan faktor ekternal, pada faktor internal yang terdiri atas yaitu kepercayaan persalinan dan perasaan menjelang persalinan sedangkan faktor eksternal

53 terdiri atas informasi dari tenaga kesehatan dan dukungan suami (Rahmita, 2017)

4.7.3. Tingkatan Kecemasan

Menurut (Rahmita, 2017) tingkat kecemasan terdiri atas 4 tingkatan yaitu :

1. Ansietas Ringan : merupakan suatu perasaan yang merasa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan perhatian khusus.

2. Ansietas Sedang : merupakan suatu perasaan yang menganggu dan menyebabkan sedikit perasaan gugup.

3. Ansietas Berat : merupakan suatu perasaan yang di alami seseorang yang merasa terdapat ancaman dan sesuatu yang berbeda yang menyebabkan seseorang tidak berpikir tentang hal lain.

4. Ansietas Sangat Berat : merupakan suatu tingkat tertinggi dari kecemasan atau ansietas yaitu dimana seseorang merasa di terror dan menyebabkan respon fight dan tidak dapat merasakan apapun.

Menurut (Nursalam, 2015) tingkat kecemasan HARS (Hamiliton Anxiety Rating Scale) penilaian kecemasan terbagi atas :

0 : tidak ada kecemasan (tidak ada gejala sama sekali)

1 : ringan (hanya terdapat 1 gejala)

2 : sedang (separuh dari tanda gejala)

3 : berat (lebih dari separuh dari gejala yang ada)

4 : sangat berat (semua gejala ada)

54 Menurut (Nursalam, 2015; Ramdan, 2019) komponen penilaian HARS terdiri atas, perasaan, ketegangan, ketakutan, gangguan tidur, daya ingat , depresi , ketegangan otot, gejala sensorik, gejala kardiovaskular, gejala pernafasan, gejala gastrointestinal, gejala urogenetalia, gejala vegetative

2.7 Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Antenatal

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 33-40)

Dokumen terkait