• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap/kecenderungan (dispotition) para pelaksana

SKEMA KAB/KOTA LAYAK ANAK

4.2 Deskripsi Data

4.3.3 Sikap/kecenderungan (dispotition) para pelaksana

Namun, untuk dapat mewujudkan itu, haruslah melibatkan banyak pihak dan tidak mungkin bekerja sendiri. Untuk itu, di bentuklah gugus tugas KLA yang masing-masing SKPD mempunyai tupoksinya masing-masing. Berikut pemaparan yang disampaikan oleh Kepala Seksi Suku Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Jakarta Utara bahwa :

“kalau pihak mana saja, kita punya gugus tugas KLA. Gugus tugas KLA

itu pemainnya atau yang berperan didalamnya itu adalah lintas sektor terkait tapi hampir menyetuh semua SKPD, karena pembangunan pada

saat ini berbasis terhadap anak, harus memikirkan hak anak, keselamatan anak, dan kenyamanan anak pada saat program-program mereka digulirkan. Misalnya salah satunya dishub punya program angkutan Bus Sekolah, yang mana Bus Sekolah itu kan gratis bagi mereka yang berseragam sekolah dan Bus Sekolah itu mempuyai jalur-jalur yang pasti akan melewati sekolah-sekolah. kemudian untuk zona selamat sekolah harusnya dibuat, tapi untuk saat ini di Jakarta Utara dishub nya belum membuat itu karena terkait dengan anggaran. Sebenarnya sudah di himbau oleh pak Walikota, sudah diminta supaya zona selamat sekolah segera dibuatkan tapi karena memang anggarannya yang tidak

mencukupi. Tadinya juga SKPD terkait belum “engeh”, nah kalau sekarang kita sedang di “genjot”. Mungkin sekarang dana nya sudah

dianggarkan, dan mungkin tahun depan sudah mulai dibuat. Kemuan PJU, dia harus memikirkan dimana dia harus mendirikan lampu-lampu sorot pada jalan yang aman bagi anak dimana jalanan tersebut banyak anak-anak atau memang jalanan tersebut harus diberikan penerangan. Terus juga taman, taman juga harus di pikirkan, tumbuhan yang tidak berbahaya bagi anak misalnya tumbuhan-tumbuhan yang berduri, kemudian tempat duduk juga harus diperhatikan. Pokonya fasilitas harus memperhatikan keselamatan anak. Kemudian ada Sekolah Ramah Anak (kegiatan, fisik, infrastruktur). Lalu RPTRA di Jakarta Utara terpadu karena semua SKPD masuk kesitu, sebagian kecil indikator KLA ada di RPTRA agar anak-anak bisa bersosialisasi disana. .” (wawancara dengan Ibu Yuni Astuti 4 Agustus 2017 pukul 15.30 wib di Kantor PPAPP). Berdasarkan pemaparan beliau bahwa seluruh SKPD terkait sama-sama menjalankan tugasnya sesuai dengan Gugus Tugas KLA yang sudah dibentuk. Lintas sektor 1 dengan lintas sektor yang lain bekerja sama untuk dapat mewujudkan program tersebut menjadi nyata. Karena untuk mewujudkan program tersebut harus adanya kerjasama baik dari pihak pemerintah maupun dari masyarakatnya itu sendiri.

Itu sebenarnya sudah dibagikan di setiap kluster-kluster, seperti pemenuhan hak sipil itu ditangani oleh dukcapil. Nah kalo kluster-kluster lainnya seperti pendidikan itu ditangani oleh dinas pendidikan, kesehatan ditangani oleh dinas kesehatan, kemudian lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif itu ditangani sama dinas keluarga berencana, lalu

kluster ke lima yang perlindungan khusus ditangani oleh dinas sosial. Jadi memang sudah dibagikan sesuai dengan klusternya masing-masing.

a. Hak Sipil dan Kebebasan

Pada dasarnya dalam mewujudkan kota yang ramah anak, pembangunan haruslah memperhatikan hak anak. Kinerja implementasi kebijakan dapat dilihat keberhasilannya jika tujuan dari program tersebut sudah tepat sasaran. Dalam hal ini, kebijakan kota layak anak di Jakarta Utara merupakan keikutsertaan Indonesia dalam komitmen dunia menciptakan Dunia Layak Anak. Berdasarkan realita yang terjadi di masyarakat terkait dengan keberadaan anak dilingkungan kota, bahwa hak anak haruslah terpenuhi. Seperti yang dipaparkan oleh Kepala Seksi Suku Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Jakarta Utara bahwa :

“Terutama yang sangat diperhatikan oleh pemerintah disini mengenai hak sipil anak untuk mempunyai akta kelahiran. Kalau anak yang tidak punya itu kan susah anak itu kelak bergerak. Makanya pemerintah membuat program untuk dukcapil itu supaya pengadaannya di gratiskan, di permudah sehingga semua masyarakat siapapun itu entah miskin atau kaya dia bisa mempunyai akta kelahiran” (wawancara dengan Ibu Yuni Astuti 4 Agustus 2017 pukul 15.30 wib di Kantor PPAPP).

Berdasarkan wawancara tersebut, untuk menuju kota yang layak bagi anak harus lah memperhatikan hak anak terutama hak sipil anak. Pemenuhan hak sipil merupakan hak anak yang paling mendasar, karena dengan memiliki akta kelahiran akan berdampak terhadap kehidupannya di masa mendatang. Dengan begitu, anak tersebut akan mudah memperoleh akses pendidikan dan kesehatan.

Selain itu, untuk mempermudah pengurusan surat-surat kelahiran maka Pemerintah pun mengratiskan biaya pengurusan yang bertujuan supaya semua masyarakat bisa memiliki akte kelahiran dan Kartu Keluarga. Berikut pemaparan yang disampaikan oleh Kepala Seksi Data Informasi dan Pengawasan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Administrasi Jakarta Utara bahwa :

“sudah bebas bea sejak tahun 2013, semua pelayan sudah gratis.”

(wawancara dengan Ibu Yuni Saanah 21 Juli 2017 pukul 11.00 wib di Kantor Dukcapil Jakarta Utara).

Berdasarkan pemaparan beliau, bahwa sejak tahun 2013 untuk pengurusan surat-surat hak sipil sudah bebas bea. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara sendiri dalam memudahkan masyarakat untuk mengurus hak sipil anak selain sudah bebas bea sejak tahun 2013, maka pemerintah membuat suatu program dimana program tersebut sudah terintegrasi dengan jaminan kesehatan dan lainnya.

Program tersebut dinamakan SIDUKUN (Sistem Terintegrasi Pelayanan Dokumen Kependudukan). Program ini dibuat untuk memudahkan bagi para ibu yang baru melahirkan seorang anak dan ingin langsung membuat surat akte kelahiran tanpa harus melalui kantor-kantor dinas terkait, maka dapat melalui SIDUKUN ini. Seperti yang dipaparkan oleh Kepala Seksi Data Informasi dan Pengawasan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Administrasi Jakarta Utara bahwa :

“kita ada inovasi pelayanan di RSUD Koja namanya SIDUKUN (Sistem

Terintegrasi Pelayanan Dokumen Kependudukan) sudah berjalan 3 tahun. Program ini 3 in 1 maksudnya, melayanani Akte Kelahiran, KK, dan

Kartu Indentitas Anak yang sudah langsung terintegrasi Kartu Kesehatan atau BPJS dan kartu-kartu lainnya. Biasanya yang menjadi kendala disini adalah anak yang belum memiliki nama dari orang tuanya, jadi seharusnya prosesnya 3 hari, karena kendala belum adanya nama anak

jadi agak sedikit lama. Kemudian kegiatan “Jemput Bola” yang dilakukan

setiap bulan. Ada juga pendataan cakupan kepemilikian akte kelahiran, jadi dukcapil mendekati masyarakat melalui RT untuk melakukan pendataan.” (wawancara dengan Ibu Yuni Saanah 21 Juli 2017 pukul 11.00 wib di Kantor Dukcapil Jakarta Utara).

Berdasarkan pemaparan yang disampaikan oleh beliau, bahwa saat ini masyarakat dapat dengan mudah mengurus akte kelahiran atau KK di RSUD Koja dengan mudah dan cepat prosesnya yang hanya memakan waktu 3 hari dan secara otomatis sudah langsung terintegrasi dengan kartu-kartu lainnya seperti kartu kesehatan atau BPJS.

Bagi masyarakat khususnya anak-anak yang belum memiliki surat akte kelahiran, maka dapat mengurus surat-surat tersebut tanpa harus datang langsung ke kantor dukcapil tetapi dapat melalui kelurahan. Berikut pemaparan yang disampaikan oleh Kepala Seksi Data Informasi dan Pengawasan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Administrasi Jakarta Utara bahwa :

“kalau DKI kita turunkan pelayanan di Kelurahan, agar warga juga lebih mudah. Kalau dulu, itu adanya di sudin, jadi masyarakat untuk melakukan pencatatan kelahiran harus ke sudin dulu. Nah kalau sekarang sudah diturunkan ke kelurahan-kelurahan sejak tahun 2015. Kebanyakan yang belum punya akte justru bukan anak-anak melainkan orang tua.”

(wawancara dengan Ibu Yuni Saanah 21 Juli 2017 pukul 11.00 wib di Kantor Dukcapil Jakarta Utara).

Berdasarkan pemaparan beliau bahwa sejak tahun 2015, masyarakat dapat dengan mudah mengurus surat-surat yang berkaitan dengan kependudukan baik

itu akte kelahiran, KK maupun KTP dengan gratis dan mudah, terutama bagi anak-anak yang belum mempunyai surat akte kelahiran. Maka tidak ada lagi alasan bagi mereka yang anaknya belum memiliki akte kelahiran terkait dengan prosedurnya yang berbelit-belit dan dipungut biaya, karena faktanya sudah diberikan kemudahan dan di bebas bea kan sejak tahun 2013.

Manusia pada dasarnya ialah makhluk sosial, dimana mereka saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Meneluarkan pendapat serta berkekspresi sesuai dengan bakat yang mereka miliki. Sama halnya dengan anak-anak, mereka pun merupakan makhluk sosial yang keberadaanya kadang menjadi kaum marginal. Padahal, pada dasarnya mereka merupakan para generasi penerus bangsa yang kelak akan menggantikan pemimpin yang ada.

Di usia yang belia, anak-anak biasanya suka mengekspresikan dirinya melalui hobi yang mereka sukai. Untuk dapat mengekspresikan diri mereka, perlu adanya ruang atau wadah yang mendukung untuk menyarkan bakat-bakat mereka. Dalam hal ini, pemerintah Jakarta Utara telah membangun taman-taman yang di sebut dengan RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak). RPTRA ini sebagai wadah dimana anak-anak dapat mengekspresikan kemampuan dirinya melalui kegiatan-kegiatan yang bernilai positif. Seperti yang di paparkan oleh Koordinator RPTRA Sungai Bambu Jakarta Utara, bahwa keberadaan RPTRA ini sangat menguntungkan bagi masyarakat khususnya anak-anak karena dapat menjadi penampung ekspresi anak-anak. Berikut pemaparan Koordinator RPTRA Sungai Bambu Jakarta Utara, bahwa keberadaan RPTRA :

“alhamdulillah anak-anak merasakan dampaknya, kita kan sering mengadakan Gebyar RPTRA yang bertujuan untuk mengembangkan bakat-bakat anak yang ada di RPTRA seperti lomba menari, lomba futsal, lomba lego, lomba mewarnai, dan kegiatan-kegiatan di RPTRA kita lombakan dan beberapa perlombaan sudah kita juarai.” (wawancara dengan ibu Leny di RPTRA Sungai Bambu tanggal 28 Agustus 2017 pukul 10.38 wib)

Berdasarkan pemaparan beliau, dengan keberadaan RPTRA ini sangat memberikan dampak yang positif bagi masyarkat khususnya anak-anak. Anak-anak bisa bermain sambil belajar di RPTRA, karena di suguhi dengan fasilitas yang membuat anak-anak merasa betah berada didalamnya. Anak-anak juga mengikuti kegiatan yang diadakan di RPTRA, sehingga membangkitkan semangat kompetisi untuk saling berinteraksi dengan teman sebayanya.

Dengan keberadaan RPTRA ini, diharapkan dapat memberikan dampak yang positf bagi anak-anak. Karena selain bermain, mereka pun bisa berinteraksi dengan lingkungan luar serta secara tidak langsung hak bermain mereka sudah terpenugi. Dengan begitu, dapat mengasah kemampuan motorik anak sehingga menjadi anak yang lebih aktif dan mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan minat bakatnya. Seperti yang disampaikan oleh Koordinator RPTRA Sungai Bambu Jakarta Utara :

“in sya Allah ya kita kan berharap anak-anak sekitar sini baik masyarakat maupun anak-anak sekitar sini terpenuhi karena anak-anak ketika sedang berada di RPTRA kita memberikan pengetahuan atau mengajarkan anak-anak untuk menjaga kebersihan, menjaga diri dan juga menjaga lingkungan sekitarnya. Maka saat ini anak-anak sudah dapat mengigatkan rekan-rekannya untuk tetap menjaga kebersihan atau dengan bersikap yang santun. Dan untuk masyarakat sekitar sini kita memberikan pelatihan-pelatihan seperti membuat kue dan lain sebagainya ibaratnya memberikan keterampilan kepada masyarakat, jadi masyarakat disekitar sini dapat menambah pendapatan keluarga. Lokasi pelatihan tersebut kita

adakan di RPTRA karena kan ini merupakan tempat yang strategis lah untuk melakukan kegiatan.” (wawancara dengan ibu Leny di RPTRA Sungai Bambu tanggal 28 Agustus 2017 pukul 10.38 wib)

Berdasarkan pemaparan beliau, beliau menyebutkan bahwa keberadaan RPTRA hingga saat ini sudah memenuhi hak anak dalam kategori bermain sesuai dengan salah satu indikator KLA yaitu pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya. Karena di RPTRA ini, selalu rutin mengadakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan anak-anak itu sendiri. Masyarakat pun merespon baik dengan adanya RPTRA tersebut, berikut pemaparannya :

yang saya tahu sampai saat ini, ya RPTRA ini. Di RPTRA sendiri juga termasuk yang sudah bagus karena diberikan sarana dan prasarana untuk tumbuh kembang anak. Seperti perpustakaan, wahana permainan yang aman bagi anak, adanya ruang untuk ibu menyusui. Di RPTRA juga sering ada kegiatan-kegiatan.” (wawacara dengan masyarakat)

Selain dengan melibatkan anak-anak dalam berkegiatan, masyarakat sekitar pun para orang tua memperoleh dampak positif lainnya yaitu dengan adanya pelatihan keterampilan kepada pada masyarakat, yang diharapkan mampu memberikan dampak yang postif. Beikut pemaparan yang disampaikan oleh Koordinator RPTRA Sungai Bambu Jakarta Utara :

“alhamdulillah masyarakat disini mendapatkan manfaatnya ya selain kita ini berada dilingkungan masyarakat penduduk yang cukup padat dan menengah ke bawah jadi mereka merasa kalau RPTRA itu tempat yang nyaman dan aman serta murah karena kita sama sekali tidak memungut biaya sepersen pun. Sementara itu, anak-anak disini tidak hanya sekedar bermain namun anak-anak di sini mendapatkan pembelajaran-pembelajaran baik anak-anak itu belajar, bermain, meluangkan bakatnya seperti latihan menari atau yang lainnya sehingga orangtua merasa senang bahwa anak-anaknya lebih aman bermain ke RPTRA. Selama saya disini jarang melihat orang tua yang mencari anaknya ketika bermain di RPTRA karena mungkin sudah tau bahwa anaknya main disini ya sudah

gitu, makanya kita sebagai pengelola selalu mengingatkan saat siang tiba anak-anak diperkenankan untuk pulang dan tidur siang karena tidur siang kan baik buat anak-anak. Saat pulang sekolah mereka masih memakai baju sekolah kita anjurkan mereka untuk pulang dulu ganti baju agar orangtua tidak mencarinya. Terus untu orangtua sini tuh merasa saat ada lomba-lomba mereka senang, karena mereka tahu bahwa anak-anaknya berprestasi jadi saat di RPTRA tidak hanya bermain namun anak-anak

sambil belajar, bisa diruangkan bakatnya. Jadi orangtua jadi tau „oh

anakku bisa ini loh‟ gitu dan dari situ orangtua bisa menggali terus bakat

dari anak-anaknya.” (wawancara dengan ibu Leny di RPTRA Sungai Bambu tanggal 28 Agustus 2017 pukul 10.38 wib)

Beliau menyampaikan bahwa masyarakat khususnya para orangtua merasa tenang apabila mengetahui anaknya sedang bermain di RPTRA, karena para orangtua sudah tahu bahwa RPTRA menjadi ruang yang aman bagi anak-anaknya bermain sambil belajar. Para orangtua juga mempercayai anak-anaknya kepada pengelola RPTRA untuk dapat dibimbing dengan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di RPTRA.

b. Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif;

Dalam menjadikan Jakarta Utara sebagai kota yang layak bagi anak, maka haruslah tau permasalahan apa yang terjadi di lingkungan kota tersebut agar dapat mengetahui jalan keluar atau kebijakan apa yang akan di ambil oleh pemerintah khususnya Pemerintah Jakarta Utara. Seperti yang dipaparkan oleh Kepala Seksi Suku Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Jakarta Utara bahwa :

“Untuk mempunyai anak yang bisa diandalkan lewat peningkatan kualitas otomatis pemerintah juga harus memperhatikan hak-hak anak. Jadi kalau ingin sumber dayanya berkualitas, hak-hak anak tersebut harus

dipenuhi.” (wawancara dengan Ibu Yuni Astuti 4 Agustus 2017 pukul 15.30 wib di Kantor PPAPP).

Berdasarkan pemaparan di atas bahwa di Jakarta Utara menerapkan kota layak bagi anak ialah karena anak-anak merupakan generasi bangsa yang kelak akan menggantikan pemimpin-pemimpin di Indonesia. Begitupun pemaparan dari masyarakat dalam menanggapi program KLA di Jakarta Utara :

“menurut saya kalau program itu memprioritaskan hak anak, sangatlah positif ya. Semoga kedepannya akan lebih baik lagi. Kita sebagai masyarakat hanya bisa berharap bahwa Pemerintah dapat bertanggung jawab atas apa yang mereka keluarkan, contohnya ya program KLA itu.”

(wawancara dengan masyarakat )

Dengan dibuatnya program kota layak anak ini, bertujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa sesungguhnya hak-hak anak haruslah di prioritaskan. Di mulai dari kesehatan, hak tumbuh kembang, pendidikan, bahkan pemanfaatan waktu bermain. Karena di usia anak-anak lah, imajinasi mereka berkembang sehingga perlu wadah untuk menampung imajinasi mereka. Dengan ini, pemerintah dalam mewujudkan kota yang layak bagi anak telah membangun ruang-ruang terbuka yang didalamnya dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang tentunya aman bagi anak-anak. Berikut yang di sampaikan oleh Koordinator RPTRA Sungai Bambu Jakarta Utara :

tujuannya kan kita agar menjadi kota layak anak, makanya bekerjasama dengan PKK menuju kota layak anak maka dibuatlah RPTRA, maka RPTRA itu adalah tempat ruang publik ramah anak maka disini kita diusahakan/diupayakan semuanya itu baik permainan ataupun area-area yang ada di RPTRA itu ramah anak dan amanlah untuk anak-anak disini dan terutama para pengunjung tidak diperkenanakan untuk merokok dan tidak diperkenankan marah-marah juga di RPTRA karena RPTRA itu adalah salah satu project atau contoh untuk anak-anak dimasa mendatang. Dan di RPTRA ini selalu ramai didatangi masyarakat khususnya anak-anak, dan banyak juga remaja yang aktif berkegiatan di

RPTRA ini. (wawancara dengan ibu Leny di RPTRA Sungai Bambu tanggal 28 Agustus 2017 pukul 10.38 wib)

Berdasarkan pemaparan yang disampaikan oleh beliau, untuk mewujudkan kota yang layak bagi anak salah satunya ialah dengan dibangunnya RPTRA ini. Di RPTRA ini karena semuanya berbasis anak, tidak diperkenankan bagi masyarakat yang tidak mempunyai kepentingan seperti perokok tidak dibolehkan masuk ke area ini, karena RPTRA adalah ruang terbuka bebas asap rokok. Juga bagi masyarat, tidak diperkenankan untuk marah-marah ketika berada di RPTRA.

Ruang terbuka sangatlah dibutuhkan apalagi di kota-kota besar yang kasusnya sudah sangat minim ruang terbuka karena sudah didirikan bangunan dan gedung-gedung tinggi. Terlebih lagi, setiap saat jumlah penduduk semakin bertambah baik dari urbanisasi maupun dari kelahiran. Hal ini mengakibatkan semakin menjamurnya bangunan-bangunan liar yang berdiri di tanah-tanah yang tak seharusnya, semisal di pinggir-pinggir kali dan bahkan di pinggir-pinggri rel kereta api yang memiliki resiko teinggi terhadap keselamatan jiwanya.

Kasus tersebut semakin membuat kota menjadi lebih sempit dan tidak ada lagi ruang terbuka yang bisadinikmati warga kota khususnya bagi mereka anak-anak yang seharusnya memiliki ruang tersendiri untuk pertumbuhan hak kembangnya. Berikut yang disampaikan oleh Kepala Seksi Pendidikan Dasar & Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara Wilayah 1 yang mejelaskan bahwa ruang terbuka yang ada di Jakarta Utara dalam mendukung Kota Layak Anak:

“kalau sekarang data yang ada itu RPTRA, karena RPTRA itu sebagai pusat kegiatan anak. Di RPTRA ada pelatihan anak, ada tempat bermain

anak, ada tempat edukasi anak seperti taman baca dan lain-lain yang mendukung kegiatan anak.” (wawancara dengan Bapak Salikun 27 Juli 2017 di kantor Sudin Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Utara).

Berdasarkan pemaparan yang disampaikan oleh beliau, bahwa keberadaan ruang terbuka di Jakarta Utara sudah mula mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat juga memanfaatkan runag tersebut dengan yang semestinya.

Selain dengan adanya ruang terbuka, untuk menuju kota yang layak bagi anak pun, harus didukung dengan infrastruktur yang berbasis anak. Seperti bangunan-bangunan yang dilengkapi dengan fasilitas berbasis anak, misalnya bangunan sekolah yang infrastrukturnya berbasis anak atau memprioritaskan keselamatan anak-anak. Terlebih lagi, sekolah merupakan fasilitas yang menunjang kegiatan belajar mengajar anak-anak maka dari itu haruslah sangat memperhatikan dari segi bangunan serta dilengkapi dengan jalur-jalur evakuasi yang bertujuan apabila terjadi hal-hal yang sifatnya tidak terduga seperti bencana alam dan lain sebagainya.

Di Jakarta Utara sendiri untuk sekolah ramah anak itu sudah ada, seperti yang disampaikan oleh Kepala Seksi Suku Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Jakarta Utara :

“sekolah ramah anak ada, sekolah ramah anak itu adalah sekolah-sekolah yang mendapatkan penghargaan ADIWIYATA, kebanyakan sekolah itu sudah bisa mencapai untuk sekolah ramah anak. Karena sekolah yang mendapat penghargaan ADIWIYATA itu sekolah yang lingkungannya di nilai, dia juga melakukan pelajaran-pelajaran yang ramah anak artinya pelajaran itu mengarah ke pendidikan karakter, kemdian sarananya juga ynag sudah ada alur-alur evakuasi, kemudian ada kantin sehat, cuman disini deklarasi masih akan tapi kemarin sudah diharapkan untuk sekolah

ramah anak itu dari sekolah yang mendapatkan ADIWIYATA, yang sudah menang sekolah sehat, yang sudah di SK kan oleh pihak sekolahnya untuk

menjadi sekolah ramah anak.” .” (wawancara dengan Ibu Yuni Astuti 4

Agustus 2017 pukul 15.30 wib di Kantor PPAPP).

Dari pemaparan yang disampaikan beliau, bahwa untuk sekolah ramah anak di Jakarta Utara itu sendiri sudah ada sekolah-sekolah yang kiranya memenuhi syarat untuk menjadi sekolah yang ramah bagi anak. Sekolah tersebut adalah sekolah-sekolah yang mendapatkan penghargaan ADIWIYATA.

Mengapa sekolah-sekolah yang mendapat penghargaan tersebut dapat dijadikan sekolah yang ramah bagi anak, tentunya memiliki beberapa alasan misalnya sekolah yang mendapat penghargaan otomatis memiliki kualitas terbaik, baik dari segi siswanya, model pembelajaran, guru-gurunya, dan juga fasilitas penunjang. Maka dari itu, sekolah-sekolah yang mendapat penghargaan ADIWIYATA dinobatkan menjadi sekolah-sekolah yang ramah bagi anak.

Namun hingga saat ini, sekolah-sekolah yang dinobatkan menjadi sekolah

Dokumen terkait