• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Sikap Kemandirian Belajar

Memahami tentang sikap kemandirian belajar secara komprehensip, penulis terlebih dahulu akan menguraikan satu persatu maknanya. Hal ini sebagai cara untuk memudahkan gambaran dan maksud dari rumusan sikap kemandirian belajar.

33

1. Pengertian sikap kemandirian belajar mahasiswa

Sikap adalah kesiapan seseorang yang bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu (Sarlito Wirawan. 1976:94). Sikap dapat bersifat positif dan dapat bersikap negatif. Dalam sikap positif, tindakannya cenderung mendekati, menyenangi, berharap objek tertentu, sedangkan dalam sikap negatif cenderung menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai objek tertentu. Menurut Nurhadi Jamal, sikap adalah kecenderungan untuk berpikir atau bertindak yang terjadi pada orang atau persoalan-persoalan, sifatnya insidental tergantung pada situasi sesaat, disamping kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukannya (Noerhadi Jamal. 1985:74). Sedangkan menurut H. Abu Ahmadi, sikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dan perbuatan-perbuatan yang mungkin akan terjadi (H. Abu Ahmadi.1984:162).

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan, bahwa sikap adalah tingkah laku seseorang yang bersifat positif dan ada pula yang bersifat negatif dalam tingkah laku sosial.

Istilah kemandirian berasal dari kata mandiri yang mendapat awalan ke- dan akhiran –an yang berarti berdiri sendiri (W. J. S. Poerwodarminto. 1982:625). Dalam perpektif ilmu ekonomi, sikap kemandirian sseseorang merupakan bagian dari wiraswata. Manusia wiraswasta adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk berprestasi. Ia senantiasa memiliki motivasi yang besar untuk maju berprestasi. Dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun, manusia wiraswasta mampu menolong dirinya sendiri di dalam mengatasi segala permasalahan yang terjadi di dalam kehidupannya. Dengan kekuatan yang ada pada dirinya, manusia wiraswasta mampu berusaha mampu untuk memenuhi segala kebutuhannya.

34

Persoalan maju dan tidaknya kehidupan manusia tergantung pada manusia sendiri. Manusia wiraswasta selalu berusaha mmelengkapi diri dengan jiwa besar. Oleh karena itu, seseorang manusia wiraswasta berkepribadian kuat. Manusia yang berkepribadian kuat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Memiliki moral tinggi.

b. Memiliki sikap mental mandiri.

c. Memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan. d. Memiliki ketrampilan.

Merangkai dua istilah sikap dan kemandirian, dapat dijadikan suatu rumusan pengertian, yakni sikap yang sudah mampu berdiri sendiri dalam mengatasi persoalan yang di hadapinya. Belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan. Belajar merupakan dasar untuk merubah tingkah laku suatu perbuatan bagi setiap orang. Adapun definisi belajar sebagai berikut:

a. S. Nasution

Belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumplah pengetahuan. Disini yang dipentingkan mengenai pendidikan intelektual. Diberikan bermacam-macam atau pelajaran untuk menambah pengetahuan yang dimiliki (S. Nasution. 1982:71).

b. Sardiman AM

Belajar adalah sesuatu usaha yang senantiasa merupakan perubahan perilaku dengan serangkaian kegiatan, seperti membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan sebagainya (Sardiman AM:22)

35 c. Pasaribu

Belajar adalah suatu proses perubahan kegiatan, reaksi terhadap lingkungan. Perubahan tersebut tidak dapat disebut belajar apabila oleh pertumbuhan atau keadaan sementara seseorang seperti kelelahan atau disebabkan obat-obatan (Dra. Pasaribu.1983:59).

d. Oemar Hamalik.

Belajar adalah suatu bentuk perubahan atau pertumbuhan dalam tingkah laku berkat pengalaman dan latihan (Umar Hamalik.1983:21).

Berdasarkan berbagai pendapat diatas, penulis dapat memberikan batasan tentang pengertian belajar, yaitu usaha untuk mengubah tingkah laku seseorang melalui pengetahuan, pengalaman, latihan-latihan dan kegiatan yang berinteraksi langsung dengan lingkungan, sehingga mampu menghadapi masalah yang dihadapi dan bertanggung jawab serta dengan sendirinya dapat menumbuhkan sikap kemandirian belajar anak.

2. Cara Belajar yang baik dan Tujuan Belajar

Cara belajar merupakan suatu hal yang penting dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Belajar yang tidak di ikuti dengan cara atau metode yang tepat, hasilnya tidak akan maksimal. Oleh karena itu, Belajar yang baik harus menggunakan metode supaya mendapatkan prestasi yang baik pula. Menurut Bimo Walgito, Cara belajar yang baik dengan memperhatikan lingkungan dan materi yang dipelajari (Bimo Walgito.1995:120). Faktor lingkungan berhubungan dengan tempat, alat-alat untuk belajar, suasana, waktu dan pergaulan. Faktor bahan yang dipelajari menentukan metode belajar yang akan ditempuhnya. Hal ini dapat dicontohkan, mempelajari mata pelajaran eksakta

36

berbeda dengan mata pelajaran yang bersifat sosial. Meski demikian, pada hal-hal tertentu bisa mengguanakan metode yang sama.

Keberhasilan belajar juga dipengaruhi oleh faktor fisik dan psikis. Pada faktor psikis, seorang peserta didik harus mempunyai kesiapan mental (mental set) untuk menghadapi tugas yang harus dipelajari. Mental set ini akan mempengaruhi di dalam soal motivasi, minat, perhatian, konsentrasi dan sebagainya. Pada faktor fisik, kondisinya harus dijaga betul agar selalu sehat. Jika badan sakit akan mempengaruhi di dalam belajar. Menurut Siti Partini Suardiman, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor intern dan faktor exteren. Faktor intern adalah suatu faktor yang terdapat pada diri seseorang peserta didik yang berupa kematangan. Keadaan fisik atau jasmani dan keadaan psikis (Siti Partini Suardiman.1986:53). Faktor ekstern adalah suatu yang terdapat diluar individu. Faktor ini dapat berupa:

a. Adanya orang lain yang mempengaruhi belajarnya.

Seseorang yang sedang belajar kemudian didatangi oleh temannya dan mengajak bermain, bercengkrama dan sebagainya.

b. Letak sekolah

Sekolah yang terletak di tengah keramaian akan menggangu peserta didik yang ada di dalamnya.

c. Alat-alat Belajar.

Semua alat yang dapat membantu terselenggaranya proses belajar, misalnya buku tulis atau pelajaran, alat peraga dan alat lainnya.

37

3. Perspektif Islam tentang Sikap Kemandirian

Islam merupakan sebuah tatanan yang bersifat universal, melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia. Islam tidak sekedar berbicara tentang ketuhanan semata, bahkan memberikan petunjuk kepada umat manusia mengenai hidupnya baik sebagai pribadi, maupun anggota masyarakat. Dengan demikian, dapat disebutkan, bahwa ajaran islam adalah tuntunan yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Berkaitan dengan masalah kepentingan manusia, islam memberikan dorongan agar manusia memaksimalkan potensi yang dimilikinya sehingga akan memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Manusia tidak diperkenankan untuk berpangku tangan, menunggu sesuatu yang datangnya tanpa diusahakan. Manusia di haruskan mempunyai sikap pantang menyerah dan tidak bergantung pada orang lain. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah:

























“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”. (Qs. An Najm:39-40). (Departemen Agama RI.1995:874).

Ayat di atas memberikan pemahaman,bahwa setiap orang tidak akan memperoleh sesuatu yang di inginkan kecuali dirinya sendiri yang berusaha. Dalam hadis juga dijelaskan sebagai berikut:

ربنملا ىلعٌىً ملسً ويلع الله ىلص الله لٌسر تعمس لٌقي رم اع هب تبقع هع

لٌقي

:

لاا ىمرلا ةٌقلا نا لاا ىمرلا ةٌقلا نا لاا ةٌق هم متعطتساام ميلاًدعاً

38

ىمرلا ةٌقلا نا

(

ملسملا هاًر

)

Artinya:

Dari „Ukbah Bin „Amir r.a katanya Dia mendengar Rosulullah saw bersabda di atas mimbar: “Siapkanlah untuk menghadapi (musuh) kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah! Sesungguhnya kekuatan itu ialah keterampilan memanah. Ketahuilah! Sesungguhnya kekuatan itu ialah keterampilan memanah. Ketahuilah! Sesungguhnya kekuatan itu ialah keterampilan memanah. (HR. Muslim). (Terjemah Hadis” Shahih Muslim”. 1984: 56)

Dalam hadis ini dapat dimaknai, bahwa setiap pribadi manusia diharuskan mempunyai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah tidak akan memberi rezeki yang membawa keberkahan kepada orang yang hanya berpangku tangan, menunggu pemberian orang lain. Segala sesuatu yang di inginkan perlu adanya usaha keras tanpa kenal lelah.

Penegasan untuk senantiasa hidup mandiri juga dijelaskan Allah sebagaimana firmannya berikut ini:

































“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (Qs, Al Jumu‟ah;10) (Departemen Agama.1995:933),.

39

Sikap kemandirian seseorang dalam meraih sesuatu merupakan manifestasi dari keimanannya terhadap Allah. Ia telah meyakini bahwa apa yang dilakukan demi kebahagiaan hidupnya akan memperoleh pertolongan dari Allah. Ia tidak merasa khawatir, bahwa pemberian Allah yang ada dalam dirinya akan mempunyai nilai guna dan bukan sesuatu yang sia-sia. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, sikap kemandirian yang tertanam pada diri seseorang muslim pada dasarnya cerminan dari keyakinannya kepada Allah SWT.

Dokumen terkait