• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Muslim Terhadap Keragaman Berbasis Tauhid

Islam merupakan petunjuk bagi manusia menuju jalan yang lurus, benar dan sesuai dengan tuntunan kitab suci Al Qur’an yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kalau dikaitkan dengan kontets perubahan zaman sekarang, bagaimana Islam memandang keberagaman/pluralitas yang ada dinegeri ini, bahkan di dunia. Sebagaimana yang telah disebutkan berkali-kali oleh Allah SWT didalam Al Qur’an. Islam sangat menjunjung keberagaman/pluralitas, karena keberagaman/pluralitas merupakan sunnatullah, yang harus kita junjung tinggi dan kita hormati keberadaannya. Sebagai umat muslim kita harus bisa menghormati dan mengasihi seperti yang di contohkan Rasulullah SAW. Allah juga telah menciptakan makhluknya dengan keanekaragaman dan perbedaan di alam semesta ini dengan keindahan dan keseimbangan, berbagai bentuk dan keistimewaannya masing-masing, dan dalam setiap jenis makhluk, di dalamya juga terdapat keanekaragaman bentuk, warna, kemampuan dan lain-lain. Dengan adanya keberagaman ini, bukan berarti menganggap kelompok, madzab, ataupun keberagaman yang lain sejenisnya menganggap kelompoknyalah yang paling benar. Yang harus kita ketahui disini adalah, keberagaman sudah ada sejak zaman para sahabat, yaitu ketika Nabi wafat, para sahabat saling mengklaim dirinyalah yang pantas untuk menjadi pengganti Nabi. Ajaran islam mengutamakan persaudaraan atau ukhuwah dalam menyikapi keberagaman, istilah Ukhuwah dijelaskan dalam Qs. Al-Hujurat, 49:10,

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”

Ketegasan syariah islam memberikan gambaran betapa perhatiannya Islam terhadap permasalahan keberagaman, dengan mengutamakan persaudaraan, keharmonisann, dan perdamaian. Beberapa hadist memeberikan perumpaan bahwa sesama muslim diibaratkan satu tubuh, “perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu tubuh anggota sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam” (HR.Muslim).

Islam juga memberikan beberapa prinsip dasar dalam menyikapi dan memahami pruralisme ini.

1) Prinsip keberagamaan yang lapang

Salah satu masaah yang serius dalam menyikapi keberagamaan adalah masalah klaim kebenaran. ). Padahal untuk mencapai kepasrahan yang tulus kepada tuhan (makna generik dari kata islam) diperlukan suatu pemahaman yang sadar dan bukan hanya ikut-ikutan. Oleh sebab itu sikap kelapangan dalam mencapai kebenaran ini bisa dikatakan sebagai makna terdalam keislaman itu sendiri. Diceritakan dalam hadist nabi bersabda kepada sahabat Utsman bin

4

Mazhun “ Dan sesungguhnya sebaik-baik agama disisi Allah adalah semangat pencarian kebenaran yang lapang (Al Hanifiyah Al Samhah) “.

2) Keadilan yang obyektif

Dalam konteks pruralisme, keadilan mencakup pandangan maupun tindakan kita terhadap pemeluk agama lain. Kedangkalan dalam tindakan seringkali karena kita tidak suka dan menganggap orang lain sebagai bukan bagian dari kelompok kita (outsider) maka kita bisa berbuat tidak adil terhadap mereka dalam memutuskan hukum, interkasi sosial maupun hal-hal lain. Islam mengajarkan bahwa kita harus menegakkan keadilan dalam sikap dan pandangan ini dengan obyektif terlepas dari rasa suka atau tidak suka (like and dislike). Seperti yang diterangkan dalam QS. Al-Maidah ayat 8,

“hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena adil itu lebih dekat kepada taqwa”

3) Menjauhi kekerasan dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain termasuk ketika melakukan dakwah

“Serahkanlah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan jalan bijaksana dan pelajaran yang baik dan bantahlahlah mereka dengan lebih baik” QS. An Nahl ayat 12

“Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat” QS. Al Baqoroh ayat 256

Dalam berdawah kita harus mengutamakan dialog, kebijaksanaan dan cara-cara argumentatif lainnya (interfaith dialogue). Tiap agama mempunyai logikanya sendiri dalm memahami tuhan dan firmannya, kedua bahwa dialog bukanlah dimaksudkan untuk saling menyerang tetapi adalah upaya untuk mencapai kesepahaman, dan mempertahankan keyakinan kita.

“Katakanlah olehmu (wahai Muhammad) wahai Ahli kitab marilah menuju ketitik pertemuan antara kami dan kamu” QS. Ali Imran ayat 64

4) Menjadikan keragaman agama tersebut sebagai kompetisi positif dalam kebaikan

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang mereka menghadap kepadanya, maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan” QS. Al Baqarah ayat 148

Ketika ada pemeluk agama lain berbuat amal sosial dengan semisal melakukan advokasi terhadap masyarakat tertindas seperti kaum buruh, pelecehan seksual dan sebagainya maka kita tidak boleh begitu mencurigainya sebagai gerakan pemurtadan atau bahkan berusaha menggagalkannya tetapi hal tersebut haruslah menjadi pemacu bagi kita kaum muslimin untuk berusaha menjadi lebih baik dari mereka dalam hal amal sosial.

Kalau keempat prinsip ini bisa kita pegang Insya Allah akan tercipta hubungan yang lebih harmonis antar umat beragama, hubungan yang dilandasi oleh sikap saling menghargai, menghormati dan saling membantu dalam kehidupan sosial. Sehingga kehadiran agama (khususnya islam) tidak lagi menjadi momok bagi kemanusiaan tetapi malah menjadi rahmat

5

bagi keberadaan tidak hanya manusia tetapi sekaligus alam semesta ini (Wallahu A’lam Bishawab).

Beragama Antara Sikap Ekslusif(Al-Inhilaq) dan Inklusif(Al-Infitah) Ekslusif(Al-Inhilaq).

Setiap agama memiliki kekhususan tersendiri yang tidak dimiliki agama lain dan tidak boleh dicampur adukkan. Karena mencampuradukkan kedua hal tersebut dengan keyakinan lainnya diyakini tidak hanya menjadikan tertolaknya aqidah dan ibadah tersebut, namun juga dapat mengilangkan eksistensi agama itu sendiri dan tentu akhirnya akan mempengaruhi kepada keharmonisan antar umat beragama bahkan melahirkan kondisi sosial kemasyarakatan yang tidak sehat.

1. Inklusif(Al-Infitah)

Tercermin dalam sikap sosial, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Orang yang memiliki sikap eksklusif (al-inghilaq), akan selalu mengakui kebenaran agamanya, bahkan hanya agamanya saja yang benar. Pandangan seperti ini tidak bisa begitu saja dikatakan salah, karena dorongan intrinsik agamanya yang melandasi pandangan seperti ini.

2. Ekslusif(Al-Inhilaq)

Setiap agama memiliki kekhususan tersendiri yang tidak dimiliki agama lain dan tidak boleh dicampur adukkan. Karena mencampuradukkan kedua hal tersebut dengan keyakinan lainnya diyakini tidak hanya menjadikan tertolaknya aqidah dan ibadah tersebut, namun juga dapat mengilangkan eksistensi agama itu sendiri dan tentu akhirnya akan mempengaruhi kepada keharmonisan antar umat beragama bahkan melahirkan kondisi sosial kemasyarakatan yang tidak sehat.

Dengan bukti-bukti di atas yang telah tertulis dapat disimpulkan bahwa agama islam adalah agama yang paling menjungjung tinggi keanekaragaman dan perbedaan apapun itu baik ras, suku, agama, atau hal lainnya, tetapi tidak dapat dipungkiri dengan keanekaragaman pasti terdapat konflik.

Contoh perbuatan yang bisa menimbulkan konflik di kalangan masyarakat :

1) Munculnya sifat kecurigaan/ prasangka buruk yang berlebihan terhadap kelompok lain 2) Munculnya interpretasi yang juga menjadi penyebab adanya kecurigaan tanpa bukti yang berujung pada konflik

3) Mencari kejelekan-kejelekan orang lain

“hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”

Q.S. Al-Hujurat ayat 12

6

Oleh karena itu, untuk mencegah adanya perpecahan dalam persatuan dan kesatuan bangsa maka kita harus menjunjung tinggi toleransi dan senantiasa menjaga tali silaturrahmi dalam berbagai aspek kehidupan. Berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk mengharapkan ridho-Nya.

Dan kita pasti bisa menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan konflik perbedaan yang ada di Indonesia.

Beberapa cara untuk menghindari konflik :

1. Masyarakat harus mempunyai rasa kehormatan antara agama satu dengan yang lain.

2. Masyarakat harus mempererat tali persahabatan dan berusaha mengenal lebih jauh antara satu dengan yang lain.

3. Dalam masyarakat harus ada keadilan dan rasa ketidakadilan itu harus dihilangkan agar tidak menimbulkan rasa kebencian.

7

BAB III

PENUTUP

Dokumen terkait