• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERAGAMAN DAN SIKAP MUSLIM BERBASIS TAUHID

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KERAGAMAN DAN SIKAP MUSLIM BERBASIS TAUHID"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

KERAGAMAN DAN SIKAP MUSLIM BERBASIS TAUHID

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Aqidah Dosen Pengampu: Endang Listiowaty

Disusun Oleh :

Addin Nurullayali (2105025034) Amelia Zakirani (2105025046)

PROGRAM STUDI GIZI FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. UHAMKA

JAKARTA 2021

(2)

i

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah dalam bidang studi Akidah dengan judul “Keragaman dan Sikap Muslim Berbasis Tauhid”. Kemudian Salam dan Shalawat kita sampaikan kepada Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam gelap gulita menuju alam yang terang menderang.

Mungkin dalam pembuatan makalah ini masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi penulisan, isi dan lain sebagainya. Maka kami sangat mengharapkan kritikkan dan saran guna perbaikan untuk pembuatan makalah di hari yang akan datang.

Demikianlah sebagai pengantar kata, dengan iringan serta harapan semoga tulisan sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi semua pembaca.

Atas semua ini kami mengucapkan terimakasih bagi segala pihak yang telah ikut membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Jakarta, 17 Maret 2022

Penulis

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB 1 ...1

PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...1

C. Tujuan ...1

BAB II ...2

PEMBAHASAN ...2

A. Realitas Keberagaman di Masyarakat...2

B. Sikap Muslim Terhadap Keragaman Berbasis Tauhid ...3

BAB III ...6

PENUTUP ...7

A. Kesimpulan ...7

DAFTAR PUSTAKA...8

(4)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keragaman merupakan keniscayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi keragaman juga bisa memicu konflik di kalangan masyarakat jika tidak di kelola dengan baik, jadi dengan adanya keragaman ini bisa berdampak lebih baik atau lebih buruk untuk kehidupan Keragaman dan Sikap Muslim Berbasis Tauhid sama seperti sikap toleransi kepada sesama orang muslim. Salah satu yaitu saling menghargai mazhab yang berbeda. Ada salah satu cara untuk selalu menghargaidengan cara bertauhid, karena Allah memberikan kehidupan

beragam sifat,manusia juga memiliki sudut pandang yang berbeda, dan memiliki pemahaman yang berbeda.Di Indonesia, berbagai konflik antar sukubangsa, antar penganut

keyakinankeagamaan, ataupun antarkelompok telah memakan korban jiwa dan raga serta harta benda, seperti kasus di Aceh, Lampung Selatan, dan di Papua. Masyarakat di Indonesia masih belum bisa mengelola tatanan kehidupan bermasyarakat dengan baik jadi masih banyak konflik yang muncul di negara kita ini.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud realitas keberagaman di masyarakat?

2. Bagaimana sikap muslim terhadap keragaman yang berbasis tauhid?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud realitas keberagaman di masyarakat 2. Untuk mengetahui sikap muslim terhadap keberagaman yang berbasis tauhid

(5)

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Realitas Keberagaman di Masyarakat

Keragaman adalah suatu kondisi di dalam masyarakat yang terdapat banyak perbedaan dalam berbagai bidang. Indonesia merupakan negara kepulauan dan negara yang sangat luas sehingga menjadikan Indonesia menjadi negara yang penuh dengan keberagaman dan perbedaan. Perbedaan tersebut meliputi suku bangsa, ras, agama, dan antargolongan.

Perbedaan dalam masyarakat merupakan keberagaman Indonesia yang dapat dirangkai dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.Sunnatullah adalah ketetapan Allah yang azali dan abadi yang berlaku pada makhluk-makhluk-Nya di alam semesta. Allah subhanahu wata’ala menciptakan keanekaragaman di alam semesta dan dalam kehidupan manusia. Perbedaan dalam realitas kehidupan adalah anugerah dalam hidup ini. Keanekaragaman suku, bahasa, agama, golongan dan budaya merupakan kekayaan, tetapi tidak jarang menimbulkan konflik sosial di tengah- tengah masyarakat.

Terdapat Ayat Al-Quran tentang keragaman suku bangsa yang seringkali dijadikan landasan keniscayaan kehidupan berbangsa dan bernegara, adalah surah al-Hujurat [49]: 13, yang isinya adalah sebagai berikut:

اَهُّيَأاَي ساَّنلا اَّنِإ م كاَنْقَلَخ ن ِ م رَكَذ ىَثن أ َو ْم كاَنْلَعَج َو اًبو ع ش

َلِئاَبَق َو او ف َراَعَتِل َّنِإۚ

ْم كَم َرْكَأ َدنِع َِّاللّ

ْم كاَقْتَأ َّنِإۚ ََّاللّ

ميِلَع ريِبَخ

Yang artinya “Wahai manusia! Sesungguhnya kami telah menciptakan kalian menjadi laki- laki dan perempuan, dan (dengan menciptakan manusia berpasangan) kami telah jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal.” Dari ayat Al-Quran tersebut, itu menunjukan bahwa Allah sendiri lah yang telah menciptakan keberagaman, artinya keberagaman dunia ini mutlak adanya. Dari perbedaan tersebut, Allah memerintahkan agar kita saling mengenal, saling menghormati dan mengasihi, bukan untuk saling memusuhi atau mengganggu satu sama lainnya, tetapi untuk soal aqidah lakum dīnukum wa liya dīn(Untukmu agamamu, dan untukkulah,agamaku).

Terdapat juga Pilar – Pilar Kerukunan Dalam Beragama. Kerukunan umat beragama merupakan pilar kerukunan nasional dan dinamis harus terus dipelihara dari waktu ke waktu.

Kerukunan umat beragama dapat diartikan sebuah keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pilar-pilar kerukunan dalam beragama tersebut diantaranya adalah :

(6)

3 1. Kedewasaan Umat Dalam Beragama.

2. Mengembangkan Dialog yang Tulus antarumat Beragama.

3. Penegaan Kewibawaan Hukum secara adil dan Konsisiten.

4. Kebijakan perintah harus jelas dan tegas, adil dan poporsional 5. Meningkatkan Rasa Toleransi Antar umat Beragama secara benar.

B. Sikap Muslim Terhadap Keragaman Berbasis Tauhid

Islam merupakan petunjuk bagi manusia menuju jalan yang lurus, benar dan sesuai dengan tuntunan kitab suci Al Qur’an yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kalau dikaitkan dengan kontets perubahan zaman sekarang, bagaimana Islam memandang keberagaman/pluralitas yang ada dinegeri ini, bahkan di dunia. Sebagaimana yang telah disebutkan berkali-kali oleh Allah SWT didalam Al Qur’an. Islam sangat menjunjung keberagaman/pluralitas, karena keberagaman/pluralitas merupakan sunnatullah, yang harus kita junjung tinggi dan kita hormati keberadaannya. Sebagai umat muslim kita harus bisa menghormati dan mengasihi seperti yang di contohkan Rasulullah SAW. Allah juga telah menciptakan makhluknya dengan keanekaragaman dan perbedaan di alam semesta ini dengan keindahan dan keseimbangan, berbagai bentuk dan keistimewaannya masing-masing, dan dalam setiap jenis makhluk, di dalamya juga terdapat keanekaragaman bentuk, warna, kemampuan dan lain-lain. Dengan adanya keberagaman ini, bukan berarti menganggap kelompok, madzab, ataupun keberagaman yang lain sejenisnya menganggap kelompoknyalah yang paling benar. Yang harus kita ketahui disini adalah, keberagaman sudah ada sejak zaman para sahabat, yaitu ketika Nabi wafat, para sahabat saling mengklaim dirinyalah yang pantas untuk menjadi pengganti Nabi. Ajaran islam mengutamakan persaudaraan atau ukhuwah dalam menyikapi keberagaman, istilah Ukhuwah dijelaskan dalam Qs. Al-Hujurat, 49:10,

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”

Ketegasan syariah islam memberikan gambaran betapa perhatiannya Islam terhadap permasalahan keberagaman, dengan mengutamakan persaudaraan, keharmonisann, dan perdamaian. Beberapa hadist memeberikan perumpaan bahwa sesama muslim diibaratkan satu tubuh, “perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu tubuh anggota sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam” (HR.Muslim).

Islam juga memberikan beberapa prinsip dasar dalam menyikapi dan memahami pruralisme ini.

1) Prinsip keberagamaan yang lapang

Salah satu masaah yang serius dalam menyikapi keberagamaan adalah masalah klaim kebenaran. ). Padahal untuk mencapai kepasrahan yang tulus kepada tuhan (makna generik dari kata islam) diperlukan suatu pemahaman yang sadar dan bukan hanya ikut-ikutan. Oleh sebab itu sikap kelapangan dalam mencapai kebenaran ini bisa dikatakan sebagai makna terdalam keislaman itu sendiri. Diceritakan dalam hadist nabi bersabda kepada sahabat Utsman bin

(7)

4

Mazhun “ Dan sesungguhnya sebaik-baik agama disisi Allah adalah semangat pencarian kebenaran yang lapang (Al Hanifiyah Al Samhah) “.

2) Keadilan yang obyektif

Dalam konteks pruralisme, keadilan mencakup pandangan maupun tindakan kita terhadap pemeluk agama lain. Kedangkalan dalam tindakan seringkali karena kita tidak suka dan menganggap orang lain sebagai bukan bagian dari kelompok kita (outsider) maka kita bisa berbuat tidak adil terhadap mereka dalam memutuskan hukum, interkasi sosial maupun hal-hal lain. Islam mengajarkan bahwa kita harus menegakkan keadilan dalam sikap dan pandangan ini dengan obyektif terlepas dari rasa suka atau tidak suka (like and dislike). Seperti yang diterangkan dalam QS. Al-Maidah ayat 8,

“hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena adil itu lebih dekat kepada taqwa”

3) Menjauhi kekerasan dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain termasuk ketika melakukan dakwah

“Serahkanlah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan jalan bijaksana dan pelajaran yang baik dan bantahlahlah mereka dengan lebih baik” QS. An Nahl ayat 12

“Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat” QS. Al Baqoroh ayat 256

Dalam berdawah kita harus mengutamakan dialog, kebijaksanaan dan cara-cara argumentatif lainnya (interfaith dialogue). Tiap agama mempunyai logikanya sendiri dalm memahami tuhan dan firmannya, kedua bahwa dialog bukanlah dimaksudkan untuk saling menyerang tetapi adalah upaya untuk mencapai kesepahaman, dan mempertahankan keyakinan kita.

“Katakanlah olehmu (wahai Muhammad) wahai Ahli kitab marilah menuju ketitik pertemuan antara kami dan kamu” QS. Ali Imran ayat 64

4) Menjadikan keragaman agama tersebut sebagai kompetisi positif dalam kebaikan

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang mereka menghadap kepadanya, maka berlomba- lombalah dalam berbuat kebajikan” QS. Al Baqarah ayat 148

Ketika ada pemeluk agama lain berbuat amal sosial dengan semisal melakukan advokasi terhadap masyarakat tertindas seperti kaum buruh, pelecehan seksual dan sebagainya maka kita tidak boleh begitu mencurigainya sebagai gerakan pemurtadan atau bahkan berusaha menggagalkannya tetapi hal tersebut haruslah menjadi pemacu bagi kita kaum muslimin untuk berusaha menjadi lebih baik dari mereka dalam hal amal sosial.

Kalau keempat prinsip ini bisa kita pegang Insya Allah akan tercipta hubungan yang lebih harmonis antar umat beragama, hubungan yang dilandasi oleh sikap saling menghargai, menghormati dan saling membantu dalam kehidupan sosial. Sehingga kehadiran agama (khususnya islam) tidak lagi menjadi momok bagi kemanusiaan tetapi malah menjadi rahmat

(8)

5

bagi keberadaan tidak hanya manusia tetapi sekaligus alam semesta ini (Wallahu A’lam Bishawab).

Beragama Antara Sikap Ekslusif(Al-Inhilaq) dan Inklusif(Al-Infitah) Ekslusif(Al-Inhilaq).

Setiap agama memiliki kekhususan tersendiri yang tidak dimiliki agama lain dan tidak boleh dicampur adukkan. Karena mencampuradukkan kedua hal tersebut dengan keyakinan lainnya diyakini tidak hanya menjadikan tertolaknya aqidah dan ibadah tersebut, namun juga dapat mengilangkan eksistensi agama itu sendiri dan tentu akhirnya akan mempengaruhi kepada keharmonisan antar umat beragama bahkan melahirkan kondisi sosial kemasyarakatan yang tidak sehat.

1. Inklusif(Al-Infitah)

Tercermin dalam sikap sosial, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Orang yang memiliki sikap eksklusif (al-inghilaq), akan selalu mengakui kebenaran agamanya, bahkan hanya agamanya saja yang benar. Pandangan seperti ini tidak bisa begitu saja dikatakan salah, karena dorongan intrinsik agamanya yang melandasi pandangan seperti ini.

2. Ekslusif(Al-Inhilaq)

Setiap agama memiliki kekhususan tersendiri yang tidak dimiliki agama lain dan tidak boleh dicampur adukkan. Karena mencampuradukkan kedua hal tersebut dengan keyakinan lainnya diyakini tidak hanya menjadikan tertolaknya aqidah dan ibadah tersebut, namun juga dapat mengilangkan eksistensi agama itu sendiri dan tentu akhirnya akan mempengaruhi kepada keharmonisan antar umat beragama bahkan melahirkan kondisi sosial kemasyarakatan yang tidak sehat.

Dengan bukti-bukti di atas yang telah tertulis dapat disimpulkan bahwa agama islam adalah agama yang paling menjungjung tinggi keanekaragaman dan perbedaan apapun itu baik ras, suku, agama, atau hal lainnya, tetapi tidak dapat dipungkiri dengan keanekaragaman pasti terdapat konflik.

Contoh perbuatan yang bisa menimbulkan konflik di kalangan masyarakat :

1) Munculnya sifat kecurigaan/ prasangka buruk yang berlebihan terhadap kelompok lain 2) Munculnya interpretasi yang juga menjadi penyebab adanya kecurigaan tanpa bukti yang berujung pada konflik

3) Mencari kejelekan-kejelekan orang lain

“hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”

Q.S. Al-Hujurat ayat 12

(9)

6

Oleh karena itu, untuk mencegah adanya perpecahan dalam persatuan dan kesatuan bangsa maka kita harus menjunjung tinggi toleransi dan senantiasa menjaga tali silaturrahmi dalam berbagai aspek kehidupan. Berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk mengharapkan ridho-Nya.

Dan kita pasti bisa menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan konflik perbedaan yang ada di Indonesia.

Beberapa cara untuk menghindari konflik :

1. Masyarakat harus mempunyai rasa kehormatan antara agama satu dengan yang lain.

2. Masyarakat harus mempererat tali persahabatan dan berusaha mengenal lebih jauh antara satu dengan yang lain.

3. Dalam masyarakat harus ada keadilan dan rasa ketidakadilan itu harus dihilangkan agar tidak menimbulkan rasa kebencian.

(10)

7

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Indonesia merupakan negara yang penuh dengan perbedaan dan keberagaman. Mulai dari perbedaan suku, bahasa, agama, golongan dan budaya. Walaupun Indonesia memiliki keragaman, hal itu tidak menjadikan penghalang bagi masyarakat Indonesia untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan keanekaragaman di alam semesta dan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu islam telah mengajarkan umatnya untuk hidup dalam toleransi. Untuk menjaga persatuan ini maka umat harus menjaga tali silaturrahmi antar manusia dan juga menjunjung tinggi toleransi.

Maka sudah seharusnya kita mampu menyikapi perbedaan dengan saling menghargai adanya keberagaman. Dengan demikian maka akan terjadi keharmonisan dalam hubungan masyarakat, sehingga kedamaian akan terus berjalan dan perpecahan tidak akan terjadi.

(11)

8

DAFTAR PUSTAKA

istighfarahmq. (2016). Konsep islam tentang keragaman dalam keberagaman . wordpress.com.

Pratiwi, W. (2021). Keragaman dan sikap muslim berbasis tauhid . blogspot.com.

Referensi

Dokumen terkait

Mahasiswa dituntut memiliki beberapa kemampuan terhadap keyakinan yang dimiliki atas solusi pemecahan masalah yang dimiliki dalam menyusun skripsi agar dapat

Dalam ayat di atas, umat Islam diajarkan bahwa akidah Islam tidak boleh tergadaikan dengan cara mengikuti keyakinan dan peribadatan agama lain.. Kepada non-muslim

Namun, secara khusus perbankan syariah memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh perbankan konvensional, di antaranya sistem harus berdasarkan prinsip syariah yang bersumber

Sekolah Dasar bercirikan agama Islam, pada umumnya memiliki keunggulan khusus dalam mencetak siswa/i untuk menjadi Hafidz Qur’an dan memiliki karakter kepribadian

Pertama, ia merupakan realitas sosial dalam masyarakat yang heterogen, dan kedua multikulturalisme berarti keyakinan, ideologi, sikap, atau kebijakan yang menghargai

Toleransi beragama bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan dan juga bukan untuk saling bertukar agama atau keyakinan dengan kelompok lain yang memiliki keyakinan berbeda, namun

toleransi yang diterapkan oleh masyarakat Muslim dan Kristen di Jorong Sentosa Nagari Panti terbagi dalam dua bentuk yaitu: 1 Bentuk toleransi agama yaitu; saling menghargai keyakinan

Hasil akhir dari penelitian ini memperoleh kesimpulan bahwa nasabah berminat memilih KPR berbasis syariah karena memiliki keyakinan dan ketaatan yang kuat dengan aturan agama Islam,