BAB V PEMBAHASAN
5.3 Sikap Petugas Kesehatan dalam Kegiatan IMD
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas petugas kesehatan (79,1%) memiliki sikap yang baik mengenai IMD, tetapi masih ada petugas kesehatan yang sikapnya cukup sebesar 20,9%. Sikap yang cukup ini dapat terjadi karena kurang baiknya pengetahuan dari petugas kesehatan mengenai IMD. Sikap yang cukup ini nantinya bisa berdampak terhadap tindakan petugas kesehatan dalam
kegiatan IMD. Berdasarkan tabulasi silang antara sikap petugas kesehatan dengan tindakan terhadap pelaksanaan IMD dapat diketahui bahwa petugas kesehatan yang memiliki sikap baik sebesar 61,8% memiliki tindakan yang kurang dalam pelaksanaan kegiatan IMD, 26,5% memiliki tindakan yang cukup dan 11,8%
memiliki tindakan yang kurang. Petugas kesehatan yang memiliki sikap cukup sebesar 100% memiliki tindakan baik dalam pelaksanaan kegiatan IMD.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap tidak dapat memengaruhi tindakan petugas kesehatan dalam kegiatan IMD karena petugas kesehatan yang sikapnya baik terhadap kegiatan IMD masih ada yang tindakannya berada pada kategori kurang, hal tersebut dapat terjadi karena kondisi yang terjadi saat persalinan seperti kondisi ibu dan bayi yang tidak fit sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan kegiatan IMD.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hajrah (2012) bahwa tidak adanya hubungan antara sikap dan perilaku dalam pelaksanaan IMD. Namun, bertolak belakang dengan penelitian Juliani (2015) bahwa adanya hubungan sikap bidan praktek swasta terhadap pelaksanaan IMD, bidan dengan sikap baik cenderung melaksanakan IMD (55,4%) dan sikap yang kurang baik tidak melaksanakan IMD (56,5%). Juga dengan hasil penelitian Idhya (2012) bahwa ada hubungan antara variabel sikap bidan dengan pelaksanaan IMD, bidan yang memiliki sikap positif pelaksanaan IMD akan cenderung tinggi 4,53 kali dibandingkan bidan yang memiliki sikap negatif.
Adapun pernyataan-pernyataan mengenai sikap dalam kegiatan IMD yang pertama yaitu IMD merupakan program pemerintah yang harus dilaksanakan.
Terdapat 9,3% petugas kesehatan yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Hal tersebut dapat terjadi karena tidak adanya evaluasi dari pemerintah mengenai IMD sehingga petugas merasa tidak harus melaksanakan kegiatan IMD tersebut.
Selanjutnya mengenai tahap IMD yang merupakan pernyataan negatif yaitu setelah lahir, bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, diberi cap dan dimandikan kemudian baru dilakukan IMD. Mengacu pada paket modul kegiatan IMD dan ASI eksklusif 6 bulan yang diterbitkan oleh Depkes RI pada tahun 2008 bahwa setelah lahir, bayi secepatnya dikeringkan seperlunya kemudian langsung dilakukan IMD, sedangkan untuk kegiatan menimbang, mengukur, dan memberi cap pada bayi dapat dilakukan setelah bayi selesai menyusu. Namun, berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa masih ada sebesar 11,6% petugas kesehatan yang menjawab salah yang artinya setuju dengan pernyataan tersebut.
Kemudian sikap mengenai operasi caesar yang merupakan penghambat dalam pelaksanaan IMD. Menurut Roesli (2012) meskipun proses bayi merangkak mecari payudara ibunya secara standar tidak dapat dilakukan, tetapi ibu yang melahirkan dengan tindakan seperti operasi caesar bukanlah suatu penghambat untuk pelaksanaan IMD. IMD tetap dapat dilakukan dengan dukungan dari tenaga dan pelayanan kesehatan. Menyusu pertama dapat dilakukan di ruangan operasi.
Jika keadaan ibu ataupun bayi belum memungkinkan, bayi dapat diberikan pada ibu dikesempatan tercepat atau selagi menunggu ibu sadar ayah dapat menggantikan ibu untuk memberikan kontak kulit dengan bayi sehingga bayi tetap hangat. Hal tersebut juga diterdapat pada paket modul IMD dan ASI
eksklusif yang diterbitkan oleh Depkes 2008. Dari hasil penelitian didapati masih banyak petugas kesehatan yang menganggap kalau operasi caesar merupakan penghambat IMD yaitu sebesar 30,2%.
Pernyataan selanjutnya yaitu setelah melahirkan, ibu terlalu lelah untuk segera menyusui bayinya, oleh sebab itu IMD dapat ditunda kemudian.
Pernyataan tersebut merupakan mitos, yaitu sesuatu yang dipercaya oleh masyarakat yang belum tentu mengandung nilai kebenaran. Faktanya, kecuali dalam situasi darurat, ibu yang baru melahirkan mampu meneteki bayinya segera.
Memeluk dan meneteki bayi dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah ibu setelah melahirkan. Hal tersebut terdapat dalam paket modul IMD dan ASI eksklusif 6 bulan yang diterbitkan oleh Depkes RI tahun 2008 mengenai mitos-mitos IMD.
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebanyak 18,6% petugas kesehatan yang menjawab salah.
Kemudian tentang pernyataan sikap suami dan keluarga tidak perlu
mendampingi ibu saat melaksanakan IMD. Sebanyak 8 orang (18,6%) petugas kesehatan menjawab salah karena setuju dengan pernyataan tersebut. Sedangkan menurut Roesli (2012) terdapat 10 langkah yang perlu diperhatikan untuk menyukseskan terjadinya IMD, dan langkah yang pertama yaitu dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan dan langkah yang ketujuh bahwa dukungan dari ayah dalam IMD dapat meningkatkan rasa percaya diri ibu.
Berikutnya tentang bayi tidak perlu dibimbing menemukan puting susu ibu. Sebanyak 41,9% petugas kesehatan tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Hal ini juga dijelaskan dalam paket modul kegiatan IMD dan ASI eksklusif 6
bulan, terdapat pada tahap-tahap dalam IMD yang kelima yaitu bayi ditengkurapkan didada atau perut ibu dan dibiarkan mencari sendiri puting susu ibunya, bayi tidak dipaksakan ke puting susu karena pada dasarnya bayi memiliki naluri yang kuat untuk mencari puting susu ibunya. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa hampir dari setengah petugas kesehatan yang menjawab salah yang artinya bahwa sikap mereka mengenai pernyataan ini dinilai kurang baik.
Sedangkan untuk sikap mengenai peranan penting petugas kesehatan dalam pelaksanaan IMD di Indonesia, colostrum harus diberikan kepada bayi, IMD dapat meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif, dan apabila pada hari-hari pertama setelah bersalin produksi ASI hanya sedikit, bayi dapat diberi susu formula atau cairan lain, seluruh petugas kesehatan telah menjawab dengan benar.
Perubahan perilaku seseorang dapat terjadi melalui tahap-tahap atau proses dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Petugas kesehatan yang memiliki pengetahuan yang baik mengenai kegiatan IMD akan mewujudkan sikap yang positif terhadap kegiatan IMD tersebut yang kemudian akan mendorong mereka untuk bertindak dengan baik dalam kegiatan IMD. Namun, tidak selalu pengetahuan dan sikap yang baik akan selalu menghasilkan tindakan yang baik.
Karena dalam melakukan suatu tindakan itu juga diperlukan adanya faktor pendukung yaitu situasi dan kondisi yang memungkinkan sehingga IMD dapat terlaksana. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan bidan di masing-masing rumah sakit diketahui bahwa pasien yang melakukan persalinan di rumah sakit sebagian besar merupakan pasien rujukan dari bidan praktek maupun klinik bersalin yang ada di kota tersebut yang persalinannya membutuhkan tindakan
khusus.
Hasil penelitian ini sesuai dengan dugaan awal seperti yang telah disebutkan pada latar belakang bahwa alasan IMD tidak selalu dilakukan di masing-masing rumah sakit tersebut adalah karena kondisi ibu dan bayi yang tidak memungkinkan dan juga kegiatan IMD yang dilakukan di rumah sakit tersebut jarang melakukan kontak dari kulit ke kulit antara ibu dan bayi, sehingga hal tersebut menyebabkan tidak terjadinya juga proses bayi merangkak (breast crawl) di perut atau dada ibu untuk mencari puting susu ibunya, padahal hal tersebut merupakan hal utama yang harus dilakukan pada kegiatan IMD.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
1. Karakteristik petugas kesehatan di RSI Ibnu Sina dan RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh berdasarkan jumlah terbanyak yaitu berada pada kelompok umur 21-30 tahun, jenis pendidikan D-III Kebidanan, lama bekerja sebagai petugas kesehatan selama 1-10 tahun dan lebih banyak yang tidak pernah mengikuti pelatihan IMD.
2. Perilaku petugas kesehatan terdiri atas pengetahuan, sikap dan tindakan yang mayoritas termasuk kepada kategori baik yaitu pengetahuan sebesar 83,7%, sikap sebesar 79,1% dan tindakan sebesar 69,8%.
3. Karakteristik petugas kesehatan yang terdiri dari umur, jenis pendidikan, lama bekerja dan pelatihan IMD tidak dapat memengaruhi petugas kesehatan dalam melakukan kegiatan IMD.
4. Pengetahuan yang baik dan sikap yang positif tidak akan selalu mewujudkan tindakan yang baik dalam pelaksanaan kegiatan IMD, karena suatu tindakan akan dapat dilakukan apabila situasi dan kondisi mendukung.
6.2 Saran
Untuk mempertahankan pengetahuan dan sikap baik pada petugas kesehatan serta untuk meningkatkan tindakan dalam pelaksanaan kegiatan IMD di RSI Ibnu Sina dan RSUD dr. Adnaan WD Kota Payakumbuh maka disarankan : 1. Rumah sakit agar mewajibkan kepada petugas kesehatan penolong
ada indikasi medis yang dapat menghambat pelaksanaan IMD serta memberikan sanksi tegas bagi yang tidak melaksanakan kegiatan tersebut.
2. Petugas kesehatan mau melakukan tanggungjawabnya dengan melakukan kegiatan IMD kepada bayi baru lahir jika tidak ada pertimbangan medis yang dapat menjadi penghambat terlaksananya kegiatan tersebut dan mau mengikuti pelatihan terkait IMD (jika diadakan) untuk menunjang pengetahuan serta keterampilan.
3. Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh untuk lebih menyosialisasikan tentang pengaruh dari IMD terhadap pencapaian ASI eksklusif kepada petugas kesehatan khususnya penolong persalinan.
DAFTAR PUSTAKA
Aryani, F. 2013. “Gambaran Perilaku Bidan dalam Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Puskesmas Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan tahun 2013” (Skripsi). Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah.
Dinartiana, A dan Sumini, N.L. 2011. “Hubungan Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini dengan Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu yang Mempunyai Bayi Usia 7-12 bulan di Kota Semarang” Jurnal Dinamika
Kebidanan (Online).
Jurnal.abdihusada.ac.id/index.php/jurabdi/article/view/13. Diakses tanggal 24 Januari 2017.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tahun 2014. Padang: Dinkes.
Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI. 2008. Paket Modul Kegiatan-Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif 6 Bulan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
DPRD Kota Payakumbuh. 2015. Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif.
Hajrah. 2012. “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Bidan dalam Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Kabupaten Berau Tahun 2012” (Skripsi). Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.
Hastuti, T.P. 2010. “Faktor-faktor yang berhubungan dengan Pelaksanaan Inisisasi Menyusu Dini oleh Bidan di Puskesmas Kabupaten Magelang”
(Tesis). Semarang: Undip.
Idhya, B. 2012. “Faktor-faktor yang berhubungan dengan Pelaksanaan Inisisasi Menyusu Dini oleh Bidan Praktek Swasta di Kota Bukittinggi tahun 2012” (Skripsi). Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.
Indrayani, Eka dan Mahkota, R. 2013. “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Praktik Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini oleh Bidan di Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2013” (Jurnal). Depok: UI Juliani, Sri. 2015. “Analisis Faktor yang Memengaruhi Pelaksanaan Inisiasi
Menyusu Dini pada Bidan Praktek Swasta di Kota Binjai tahun 2015”
(Tesis). Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat USU
Juliastuti, Rani. 2011. “Hubungan Tingkat Pengetahuan, Status Pekerjaan Ibu dan Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini dengan Pemberian ASI Eksklusif”
(Tesis). Surakarta: Pascasarjana Universitas Sebelas Maret
Kementerian Kesehatan RI. 2010. “Menkes Mengajak Seluruh Fasilitas Kesehatan Terapkan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui” (Artikel).
Diakses dari www.depkes.co.id. Diakses Tanggal 4 Mei 2017.
_______. 2012. Peraturan Pemerintah RI No. 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif. Diakses dari www.depkes.go.id. Diakses Tanggal 27 Desember 2016.
_______. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013 dalam Angka Provinsi Sumatera Barat. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
_______. 2013. Riset Kesehatan Dasar tahun 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
_______. 2013. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012. Jakarta:
Badan Pusat Statistik.
Legawati, dkk. 2011. “Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini terhadap Praktek Menyusui 1 Bulan Pertama” Jurnal Gizi Klinik Indonesia (Online).
Diakses dari
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph/article/view/1122. Diakses Tanggal 30 Desember 2016
Linkages. 2007. Pemberian ASI Eksklusif atau ASI Saja: Satu-satunya Cairan yang dibutuhkan Bayi Usia Dini. http://www.linkagesproject.org
Machfoedz, I. 2009. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Fitramaya.
Mardiah. 2011. “Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kinerja Bidan dalam Mendukung Program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Kota Pekanbaru Tahun 2011” (Online). http://eprints.undip.ac.id/18000/. Diakses tanggal 27 April 2017.
Maryunani, A. 2012. Inisiasi Menyusu Dini, ASI Eksklusif, dan Manajemen Laktasi. Jakarta: CV Trans Info Media.
Niswah dan Noveri, A. 2010. “Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Bidan tentang Inisisasi Menyusu Dini (IMD) di Puskesmas Kota Semarang”
Majalah Ilmiah Sultan Agung (Online). Diakses dari http://journals.unissula.ac.id/majalahilmiahsultanagung/article/view/147/
108. Diakses Tanggal 30 Desember 2016.
Notoatmodjo, S. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
_______. 2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.
Ornanisasi Kesehatan Dunia. 2009. Alasan Medis yang Dapat Diterima sebagai
Dasar Penggunaan Pengganti ASI. http://indonesia.mercycorps.org.
Diakses tanggal 9 Mei 2017.
Purnama, E.F. 2008. “Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Petugas Kesehatan dalam Kegiatan Inisisasi Menyusu Dini di Wilayah Kelurahan Siringo-ringo Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhan Batu tahun 2008”
(Skripsi). Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.
Rati, S., Djunaidi M.D., Sukmawati. 2013. “Perilaku Ibu Postpartum dalam Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Puskesmas Batua Kota Makassar” Jurnal Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (Online).
Diakses dari repository.unhas.ac.id/handle/123456789/5485. Diakses Tanggal 11 Februari 2017.
Raya, R.P. 2008. “Pengetahuan Bidan Mengenai IMD” Majalah Keperawatan
Unpad (Online). Diakses dari
http://journals.unpad.ac.id/mku/article/view/123/105. Diakses Tanggal 30 Desember 2016.
Roesli, U. 2012. Panduan Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif. Jakarta:
Pustaka Bunda.
Setiarini, T. 2012. “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Bidan dalam pelaksanaan Insisiasi Menyusu Dini di RSIA Budi Kemuliaan Jakarta”
(Tesis). Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.
Syafrina. 2011. “Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Bidan Kelurahan Siaga dalam Kegiatan Inisisasi Menyusu Dini (IMD) di Kota Dumai tahun 2011”
(Skripsi). Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.
Wawan, A dan Dewi, M. 2011. Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.
Yusnita, V. 2012. “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) oleh Bidan di 12 Puskesmas Agam Timur Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Agam Provinsi Sumatera Barat tahun 2012”
(Skripsi). Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.
Zainal, E.; Sutedja, E.; Madjid, T.H. 2014. “Hubungan Antara Pengetahuan Ibu, Sikap Ibu, Inisisasi Menyusu Dini dan Peran Bidan dengan Pelaksanaan ASI Eksklusif Serta Faktor-faktor yang Memengaruhi Peran Bidan pada IMD dan ASI Eksklusif (Artikel Ilmiah). Bandung: Program Studi Magister Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran.
GAMBARAN PERILAKU PETUGAS KESEHATAN DALAM KEGIATAN INISIASI MENYUSU DINI (IMD) DI RSI IBNU SINA DAN RSUD DR.
ADNAAN WD KOTA PAYAKUMBUH TAHUN 2017
No. Responden :
Petunjuk Pengisian : Isilah titik-titik pada tempat yang tersedia dan memilih salah satu pertanyaan dengan memberi tanda silang (X)
I. DATA UMUM RESPONDEN
1. Nama petugas kesehatan :
2. Umur :
3. Pendidikan :
4. Lama bekerja sebagai petugas kesehatan :
5. Pelatihan IMD : Pernah/ Tidak Pernah
II. PENGETAHUAN PETUGAS KESEHATAN 1. Apa yang dimaksud dengan inisiasi menyusu dini?
a. Bayi dibiarkan menyusu sendiri segera setelah lahir b. Kemampuan bayi untuk menyusu sendiri
c. Bayi dibersihkan dan ditimbang baru disusui 2. Kapan inisiasi menyusu dini (IMD) dilakukan?
a. Begitu bayi lahir, langsung diletakkan di dada atau perut ibu b. Setelah lahir
c. Sebaiknya setelah dibersihkan, ditimbang dan diukur terlebih dahulu 3. Bagaimana tata laksana inisiasi menyusu dini yang benar?
a. Begitu lahir, potong tali pusat, kemudian lakukan IMD
b. Begitu lahir, keringkan bayi kecuali tangannya, potong dan ikat tali pusat, bayi ditengkurapkan di perut ibu dan dibiarkan merangkak sendiri untuk
mulut bayi.
4. Apa manfaat IMD yang anda ketahui?
a. Membantu ibu menyusui bayinya
b. Bayi mendapatkan kolostrum dan mencegah hypothermi
c. Bayi mendapat kolostrum, menurunkan risiko kematian akibat hypothermi, membuat ibu dan bayi merasa lebih tenang
5. Bagaimana tata laksana IMD pada operasi caesar?
a. Tidak usah melaksanakan inisiasi menyusu dini karena ibu masih lemah.
b. Bayi ditengkurapkan di dada/perut ibu dan kemudian dibiarkan untuk mencari sendiri puting susu ibunya.
c. Sama dengan partus normal, tetapi jika jika keadaan ibu tidak memungkinkan, bayi diberikan pada ibu pada kondisi yang tercepat.
6. Apa saja keuntungan pelaksanaan kegiatan IMD bagi ibu, yang anda ketahui?
a. Dapat mencegah perdarahan pada ibu
b. Membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan ibu, merangsang hormon yang dapat membuat ibu tenang
c. Merangsang hormon progesteron yang berguna untuk mengeluarkan plasenta dan memperbanyak ASI
7. Apa yang dimaksud dengan kolostrum?
a. Cairan kental yang berwarna kekuningan yang keluar pertama kali sampai dengan hari ke-3, yang berguna untuk imunisasi pertama pada bayi.
b. Colostrum merupakan makanan terbaik bagi bayi yang dikeluarkan pada
a. Bayi yang melakukan IMD, dapat dengan mudah menyusu kemudian, sehingga mencegah kegagalan menyusui, hal ini dapat meningkatkan cakupan ASI eksklusif
b. IMD dapat meningkatkan keberhasilan menyusu c. Tidak berhubungan sama sekali
9. Apa yang anda ketahui tentang ASI eksklusif?
a. Pemberian ASI pada bayi yang berusia 0-6 bulan pertama,
b. Pemberian ASI tanpa makanan tambahan lain pada bayi berumur 0-6 bulan.
c. Pemberian ASI pada bayi yang berusia 0-6 bulan pertama, dan dapat diberi susu formula jika ASI tidak mencukupi agar tidak kurang gizi.
10. Apa manfaat ASI bagi bayi?
a. Manfaatnya tidak jauh beda dengan susu formula b. Memenuhi kebutuhan gizi anak
c. Meningkatkan daya tahan tubuh bayi dan meningkatkan kecerdasan anak.
III. SIKAP PETUGAS KESEHATAN
No. Pernyataan Setuju Tidak Setuju
1. Inisiasi menyusu dini merupakan program pemerintah yang harus dilaksanakan
2. Petugas kesehatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan IMD di Indonesia
3. Setelah lahir, bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, diberi cap dan dimandikan kemudian baru dilakukan IMD
4. Colostrum harus diberikan kepada bayi
5. Operasi caesar adalah salah satu penghambat dalam pelaksanaan IMD
6. Setelah melahirkan, ibu terlalu lelah untuk segera menyusui bayinya, oleh sebab itu IMD
8. Suami dan keluarga tidak perlu mendampingi ibu saat melaksanakan IMD
9. Bayi tidak perlu dibimbing menemukan puting susu ibu
10. Jika hari-hari pertama setelah bersalin produksi ASI hanya sedikit, bayi dapat diberi susu formula atau cairan lain
IV. TINDAKAN PETUGAS KESEHATAN
No. Pertanyaan Ya Tidak Alasan
1. Apakah anda memberikan penyuluhan tentang IMD kepada ibu hamil pada saat pemeriksaan kehamilan?
2. Apakah anda memberikan penjelasan tentang kolostrum dan manfaatnya kepada ibu hamil/bersalin?
3. Apakah sebelumnya anda memberi informasi kepada ibu hamil/keluarga bahwa anda akan melakukan IMD pada bayi segera setelah lahir?
4. Apakah anda melaksanakan tindakan IMD pada bayi segera setelah lahir? (Jika jawaban tidak, lanjutkan ke nomor 10)
5. Apakah anda selalu melaksanakan IMD pada setiap bayi?
6. Apakah anda menyodorkan puting susu ibu ke mulut bayi saat pelaksanaan IMD?
7. Apakah anda dalam pelaksanaan IMD bayi ditengkurapkan didada atau diperut ibu ? 8. Apakah anda dalam pelaksanaan IMD lemak
putih (vernix) pada tangan bayi dikeringkan?
9. Apakah anda melibatkan suami pasien atau keluarga lain dalam pelaksanaan IMD?
10. Apakah anda memberikan susu formula atau cairan lain selain ASI kepada bayi baru lahir?
Lampiran 2.
MASTER DATA
No Res
Pengetahuan Sikap Tindakan
p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10 p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10 p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1
3 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1
4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1
5 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1
6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1
8 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1
9 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1
11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
12 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1
13 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1
14 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1
15 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1
16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1
17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1
18 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1
19 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0
20 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1
25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
26 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1
27 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1
28 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1
29 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1
30 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1
31 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1
32 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1
33 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
34 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1
35 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1
36 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1
37 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1
38 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1
39 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1
40 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1
41 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1
42 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1
43 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1
Keterangan
No Res : Nomor Responden p1 – p10 : pertanyaan no 1 – 10
No Res Nama Umur Pendidikan Lama Bekerja Pelatihan IMD Kategori Pengetahuan Kategori Sikap Kategori Tindakan
1 L 34 DIV Bidan Pendidik 11 Pernah Baik Baik Baik
2 N 28 DIII Kebidanan 7 Tidak Pernah Baik Baik Baik
3 S 31 DIII Kebidanan 9 Pernah Baik Baik Baik
4 Z 29 DIII Kebidanan 7 Pernah Baik Baik Baik
5 I 36 DIII Keperawatan 11 Tidak Pernah Baik Baik Cukup
6 ZA 29 DIII Kebidanan 8 Tidak Pernah Baik Baik Baik
7 NS 27 DIII Keperawatan 6 Tidak Pernah Baik Baik Cukup
8 SA 32 DIII Kebidanan 10 Pernah Baik Baik Baik
9 D1 27 DIII Keperawatan 6 Tidak Pernah Baik Baik Baik
10 P 28 DIII Kebidanan 7 Tidak Pernah Baik Baik Cukup
11 V 24 DIII Kebidanan 2,5 Tidak Pernah Baik Baik Baik
12 NSA 30 S1 Keperawatan 8 Tidak Pernah Baik Baik Baik
13 RY 24 DIII Kebidanan 2,5 Tidak Pernah Baik Baik Baik
14 D2 25 DIII Kebidanan 2 Pernah Baik Baik Baik
15 Ar 33 DIII Kebidanan 10 Pernah Baik Baik Cukup
16 Y1 30 DIII Kebidanan 8 Pernah Baik Baik Baik
17 WS 24 DIV Bidan Pendidik 2 Pernah Baik Baik Baik
18 D3 32 DIII Kebidanan 9 Tidak Pernah Cukup Baik Cukup
19 A 43 DIII Kebidanan 23 Tidak Pernah Baik Baik Kurang
20 Y2 40 DIII Kebidanan 24 Pernah Baik Baik Baik
21 D4 26 DIII Kebidanan 2 Pernah Baik Baik Baik
22 LR 29 DIII Kebidanan 7 Tidak Pernah Cukup Baik Baik
26 M 45 DIII Kebidanan 14 Tidak Pernah Baik Baik Cukup
27 E 54 DIII Kebidanan 34 Tidak Pernah Baik Baik Cukup
28 D4 31 DIII Kebidanan 18 Pernah Baik Baik Baik
29 D5 30 DIII Kebidanan 9 Tidak Pernah Baik Baik Kurang
30 F 24 DIII Kebidanan 2 Pernah Baik Baik Baik
31 G 30 S1 Keperawatan 8 Tidak Pernah Baik Cukup Baik
32 RS 24 DIII Kebidanan 2,5 Tidak Pernah Baik Cukup Baik
33 T 27 DIII Kebidanan 6 Pernah Baik Baik Baik
34 S 32 DIII Kebidanan 10 Pernah Baik Baik Baik
35 E 36 DIII Keperawatan 11 Tidak Pernah Baik Baik Cukup
36 YA 25 DIII Kebidanan 2 Tidak Pernah Baik Cukup Baik
37 ES 30 DIII Kebidanan 8 Tidak Pernah Cukup Cukup Baik
38 FA 24 DIII Kebidanan 2 Tidak Pernah Cukup Cukup Baik
39 HF 32 DIII Kebidanan 9 Tidak Pernah Cukup Cukup Baik
40 DH 43 DIII Kebidanan 23 Tidak Pernah Cukup Cukup Baik
41 ED 40 DIII Kebidanan 24 Tidak Pernah Cukup Cukup Baik
42 NS 26 DIII Kebidanan 2 Tidak Pernah Baik Cukup Baik
43 R 24 DIII Kebidanan 2,5 Tidak Pernah Baik Baik Baik
HASIL PENGOLAHAN DATA DENGAN SPSS
Karakteristik Responden
Umur Responden
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Baik 34 79,1 79,1 79,1
Cukup 9 20,9 20,9 100,0
Total 43 100,0 100,0
Frequency Percent Valid Percent
Apa yang dimaksud dengan inisiasi menyusu dini?
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Cumulative