• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Tindakan Petugas Kesehatan dalam Kegiatan IMD

Tindakan petugas kesehatan dalam kegiatan IMD dapat dipengaruhi oleh faktor pendukung antara lain kemauan dari petugas kesehatan untuk melakukan IMD, kesediaan ibu bersalin untuk dilakukan IMD terhadap bayinya, kondisi ibu dan bayi yang memungkinkan untuk dilakukannya tindakan IMD serta dukungan dari keluarga ibu bersalin terutama suaminya yang dapat menimbulkan kepercayaan diri dari ibu untuk melakukan IMD kepada bayinya.

Menurut hasil Riskesdas Provinsi Sumatera Barat tahun 2013, persentase proses mulai menyusu pada anak usia 0-23 bulan, kategori proses mulai menyusu kurang dari 1 jam (IMD) di Kota Payakumbuh adalah sebesar 53,8%, kategori mulai menyusu 1-6 jam sebesar 39,8% dan kategori proses menyusu 7-23 jam sebesar 6,3%. Berdasarkan hasil Riskesdas tersebut dapat diketahui bahwa cakupan IMD di Kota Payakumbuh sudah tergolong cukup baik.

Pemerintah Kota Payakumbuh telah mengeluarkan peraturan mengenai ASI eksklusif yaitu yang terdapat dalam Perda Kota Payakumbuh nomor 9 tahun 2015 pada pasal 13 yang mewajibkan kepada tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan untuk melakukan kegiatan IMD pada bayi baru lahir kepada ibunya paling singkat selama 1 jam dan pada pasal 33 terdapat sanksi bagi tenaga kesehatan yang tidak melaksanakan ketentuan seperti pasal 13 tersebut yaitu sanksi administratif berupa teguran secara lisan maupun tertulis yang diberikan langsung oleh pejabat yang berwenang.

kesehatan dalam kegiatan IMD tergolong baik (69,8%), tetapi masih ada yang tindakannya cukup (20,9%) dan kurang (9,3%). Masih adanya tindakan yang kurang dari petugas kesehatan dalam kegiatan IMD padahal pemerintah kota telah mewajibkan hal tersebut, dapat terjadi karena tidak adanya peraturan yang tegas dari pihak rumah sakit sehingga petugas kesehatan merasa tidak masalah apabila tidak melakukan kegiatan IMD kepada bayi baru lahir ataupun tidak melakukan sesuai dengan prosedur yang ada. Jika pihak rumah sakit membuat peraturan mengenai hal tersebut, pasti akan menjadikan motivasi bagi petugas kesehatan sehingga memberikan dampak yang baik terhadap perilaku petugas kesehatan dalam kegiatan IMD.

Telah dilakukan tabulasi silang antara tindakan dengan karakteristik petugas kesehatan yang tujuannya untuk dapat menggambarkan pengaruh dari karakteristik tersebut terhadap tindakan. Adapun karakteristik petugas kesehatan terdiri dari umur, jenis pendidikan, lama bekerja dan pelatihan terkait IMD.

Karakteristik yang pertama yaitu umur. Umur merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembentukan perilaku sesorang termasuk tingkat kedewasaannya.

Pada penelitian ini diketahui rata-rata umur dari petugas kesehatan adalah 30,8 tahun atau 30 sampai 31 tahun. Tetapi didalam penelitian ini, umur di kategorikan menjadi 3 kelompok yaitu 21-30 tahun, 31-40 tahun dan lebih dari 40 tahun dengan kelompok umur terbanyak yaitu 21-30 tahun sebesar 58,1%. Masing-masing kelompok umur tersebut di tabulasi silangkan dengan tindakan, di dapatkan hasil bahwa sebesar 84% petugas kesehatan yang berumur 21-30 tahun memiliki tindakan yang baik dalam kegiatan IMD. Sebesar 57,1% petugas

kesehatan yang berumur 31-40 tahun memiliki tindakan baik dalam kegiatan IMD. Sebesar 50% petugas kesehatan yang berumur lebih dari 40 tahun memiliki tindakan yang cukup dalam kegiatan IMD, sedangkan tindakan yang baik hanya 25%.

Berdasarkan hasil dari tabulasi silang tersebut dapat menggambarkan bahwa tindakan petugas kesehatan dalam setiap kelompok umur sama, tidak ada kelompok umur yang memiliki tindakan yang lebih baik dibandingkan kelompok umur lainnya, bertambahnya umur bukan berarti akan mewujudkan tindakan yang semakin baik begitu juga dengan umur yang lebih muda dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa umur bukanlah faktor yang dapat memengaruhi petugas kesehatan dalam melaksanakan kegiatan IMD.

Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Idhya (2012) bahwa tidak ada hubungan antara umur bidan dengan pelaksanaan IMD yang dilakukan oleh bidan. Begitu juga dengan Indrayani (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa usia petugas kesehatan tidak berhubungan dengan perilaku pelaksanaan IMD. Namun, hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Setiarini (2012) bahwa adanya hubungan yang signifikan antara umur dengan kinerja bidan, bidan yang berumur lebih dari 35 tahun memiliki peluang 21 kali untuk memiliki kinerja yang baik dibandingkan dengan yang berumur kurang dari 35 tahun. Penelitian tersebut juga sejalan dengan penelitian Yusnita (2012) bahwa ada hubungan antara umur bidan dengan pelaksanaan IMD oleh bidan yang dengan kata lain semakin tinggi usia bidan maka kecendrungan untuk melaksanakan IMD semakin tinggi.

Karakteristik selanjutnya adalah pendidikan yaitu tingkat pendidikan formal terakhir yang sudah ditamatkan oleh petugas kesehatan. Pendidikan merupakan kesempatan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran seseorang terhadap suatu perilaku. Makin tinggi tingkat pendidikan formal yang diperoleh, akan makin mudah juga untuk menerima pengetahuan yang baru dan akan semakin mudah juga untuk merubah perilaku. Pada penelitian ini, pendidikan petugas kesehatan di kelompokkan menjadi 4 yaitu D-III Kebidanan, D-III Keperawatan, D-IV Bidan Pendidik dan S1 Keperawatan dengan jenis pendidikan terbanyak yaitu D-III Kebidanan sebanyak 79,1%.

Masing-masing jenis pendidikan tersebut di tabulasi silangkan dengan tindakan, didapatkan hasil bahwa sebesar 73,5% petugas kesehatan yang pendidikannya D-III Kebidanan memiliki tindakan yang baik dalam kegiatan IMD. Sebesar 75% petugas kesehatan yang pendidikannya D-III Keperawatan memiliki tindakan yang cukup dalam kegiatan IMD, selebihnya tindakan baik.

Sebesar 66,7% petugas kesehatan yang pendidikannya D-IV Bidan Pendidik memiliki tindakan yang baik dalam kegiatan IMD. Sedangkan petugas kesehatan yang pendidikannya S1 Keperawatan seluruhnya memiliki tindakan yang baik dalam kegiatan IMD.

Berdasarkan hasil tabulasi silang tersebut dapat diketahui bahwa petugas kesehatan yang menempuh pendidikan di akademi, tindakannya tidak lebih baik dibandingkan yang tidak di akademi. Petugas kesehatan yang menempuh pendidikan D-IV masih ada yang tindakannya kurang dalam kegiatan IMD sama dengan petugas kesehatan yang pendidikannya D-III. Dapat disimpulkan bahwa

jenis pendidikan tidak memengaruhi tindakan petugas kesehatan dalam kegiatan IMD.

Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Hajrah (2012) bahwa tidak adanya hubungan yang bermakna antara pendidikan dan perilaku bidan dalam pelaksanaan IMD. Serta hasil penelitian Yusnita (2012) bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan bidan dengan pelaksanaan IMD. Tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Setiarini (2012) bahwa bidan dengan pendidikan D4 mempunyai peluang 9 kali untuk memiliki kinerja baik dibandingkan dengan pendidikan D3.

Karakteristik berikutnya yaitu lama bekerja sebagai petugas kesehatan.

Semakin lama pengalaman seseorang bekerja pada suatu bidang maka akan semakin terampil ia dalam pekerjaan tersebut dan juga wawasannya akan lebih luas dan pengalamannya banyak sehingga akan berperan penting dalam pembentukan perilakunya. Pada penelitian ini diketahui bahwa rata-rata lama bekerja dari petugas kesehatan yaitu 9,3 tahun dan itu termasuk kepada kategori lama bekerja 1-10 tahun yang merupakan kategori lama bekerja petugas kesehatan yang paling banyak yaitu sebesar 72,1%. Lama bekerja sebagai petugas kesehatan di tabulasi silangkan dengan tindakan yang kemudian di dapatkan hasil bahwa lama bekerja 1-10 tahun sebesar 80,6% yang tindakannya baik, lama bekerja 11-20 tahun sebesar 57,1% yang tindakannya cukup sedangkan yang tindakannya baik 28,6%. Selanjtnya lama bekerja lebih dari 20 tahun sebesar 60% petugas kesehatan yang tindakannya baik.

Berdasarkan hasil tabulasi silang tersebut dapat diketahui bahwa petugas

kesehatan yang sudah bekerja lebih lama sebagai petugas kesehatan (11-20 tahun dan >20 tahun) tindakannya tidak lebih baik dibandingkan dengan petugas kesehatan yang baru bekerja selama 1-10 tahun, begitupun sebaliknya. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa lama bekerja tidak memengaruhi petugas kesehatan dalam melakukan kegiatan IMD.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hajrah (2012) bahwa tidak ada hubungan antara lama bekerja dengan perilaku bidan dalam pelaksanaan IMD dan juga dengan penelitian Idhya (2012) bahwa tidak ada hubungan antara lama kerja bidan dengan pelaksanaan IMD. Hasil tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian Juliani (2015) bahwa tidak ada hubungan masa kerja bidan praktek swasta dengan pelaksanaan IMD di Kota Binjai tahun 2015. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Indrayani (2013) bahwa lama kerja berhubungan dengan praktik pelaksanaan IMD, bidan yang sudah bekerja ≥ 5 tahun memiliki kecendrungan melaksanakan pelaksanaan IMD sepenuhnya 4,1 kali lebih tinggi dibandingkan yang baru bekerja <5 tahun.

Karakteristik petugas kesehatan yang terakhir yaitu pelatihan IMD.

Pelatihan merupakan peluang dalam meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan seseorang. Petugas kesehatan yang pernah mengikuti pelatihan terkait IMD akan mempunyai wawasan yang luas mengenai IMD. Pelatihan terkait IMD tersebut seperti pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN) yang biasanya di selenggarakan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Pada penelitian ini petugas kesehatan yang pernah mengikuti pelatihan terkait IMD hanya sebesar 32,6% sedangkan yang tidak pernah mengikuti pelatihan sebesar 67,4%. Dari

hasil tersebut dapat diketahui bahwa lebih banyak petugas kesehatan yang tidak pernah mengikuti pelatihan terkait IMD daripada yang pernah mengikuti pelatihan.

Pelatihan IMD di tabulasi silangkan dengan tindakan petugas kesehatan sehingga didapatkan hasil bahwa sebesar 7,1% petugas kesehatan yang pernah mengikuti pelatihan IMD memiliki tindakan yang cukup dalam kegiatan IMD sedangkan sebesar 58,9% petugas kesehatan yang tidak pernah mengikuti pelatihan IMD memiliki tindakan yang baik dalam pelaksanaan tindakan IMD.

Tindakan yang cukup dari petugas kesehatan yang pernah mengikuti pelatihan IMD dapat terjadi karena pengaruh dari faktor dari dalam diri petugas kesehatan diantaranya karena proses dari IMD yang biasanya berlangsung selama minimal 1 jam membuat petugas kesehatan menjadi malas menunggui bayi sampai berhasil menyusu pada ibunya dan bisa juga karena situasi dan kondisi yang dijumpai oleh petugas kesehatan, misalnya bayi atau ibu yang kondisinya kurang fit sehingga petugas kesehatan tidak melakukan IMD kepada bayi.

Tindakan yang baik dari petugas kesehatan yang tidak pernah mengikuti pelatihan dapat terjadi karena latar belakang pendidikan petugas kesehatan yang sebagian besar adalah kebidanan sehingga materi tentang IMD telah pernah dipelajari sebelumnya oleh petugas kesehatan saat masih kuliah yaitu pada saat mempelajari tentang Asuhan Persalinan Normal (APN) atau informasi tentang pelaksanaan kegiatan IMD juga dapat diperoleh oleh petugas kesehatan dari media cetak, media elektronik dan juga dari rekan kerjanya yang telah mengikuti pelatihan terkait IMD.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pelatihan IMD tidak memengaruhi petugas kesehatan dalam melakukan kegiatan IMD. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yusnita (2012) bahwa tidak ada hubungan antara pelatihan dengan pelaksanaan IMD. Juga dengan penelitian Indrayani (2013) bahwa pelatihan tidak berhubungan dengan perilaku pelaksanaan IMD, tetapi meskipun tidak ada hubungan yang bermakna, bidan yang telah mengikuti pelatihan terkait IMD seperti APN akan cenderung melaksanakan IMD 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bidan yang tidak pernah mengikuti pelatihan. Tidak sejalan dengan hasil penelitian Hajrah (2012) bahwa bidan yang telah mendapat pelatihan dan melaksanakan IMD lebih tinggi dari yang tidak pernah pelatihan, artinya ada hubungan yang bermakna antara pelatihan dengan perilaku bidan dalam pelaksanaan IMD.

Berikut pembahasan mengenai item pertanyaan pada tindakan mengenai kegiatan IMD. Pertama, yaitu memberikan penyuluhan tentang IMD kepada ibu hamil pada saat pemeriksaan kehamilan, sebesar 53,5% yang melakukan tindakan tersebut dan selebihnya tidak melakukan. Petugas kesehatan yang tidak melakukan kegiatan tersebut beralasan bahwa itu merupakan tugas dari poli KIA, tidak ada pemeriksaan kehamilan di kamar bersalin.

Kedua, yaitu memberikan penjelasan tentang kolostrum dan manfaatnya kepada ibu hamil/bersalin, sebesar 93% melakukan tindakan tersebut. petugas kesehatan yang tidak melakukan tindakan tersebut beranggapan bahwa hal itu bukanlah tugas mereka, melainkan tugas dari Poli KIA. Kolostrum merupakan ASI yang pertama kali keluar atau disebut juga sebagai cairan emas (the gift of

life) karena kaya akan daya tahan tubuh yang penting untuk ketahanan terhadap

infeksi, penting untuk pertumbuhan usus, bahkan kelangsungan hidup bayi sehingga bayi yang diberi kesempatan IMD lebih dulu mendapat kolostrum daripada yang tidak diberi kesempatan (Roesli, 2012).

Ketiga, memberi informasi kepada ibu hamil atau keluarga bahwa akan melakukan IMD pada bayi segera setelah lahir, sebesar 86% melakukan tindakan tersebut. Memberikan informasi kepada ibu yang akan bersalin dan keluarga tentang penatalaksanaan IMD merupakan salah satu peran dari petugas kesehatan yang dilakukan sebelum persalinan atau pada tahap persiapan dan informasi (Linkages, 2007).

Keempat, melaksanakan tindakan IMD pada bayi segera setelah lahir, sebesar 90,7% melakukan tindakan tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Dr.

Karen Edmond pada tahun 2006 yang dilakukan di Ghana tentang menunda permulaan/inisiasi menyusu meningkatkan kematian bayi bahwa jika bayi diberi kesempatan menyusu dalam satu jam pertama dapat menyelamatkan 22% nyawa bayi dibawah 28 hari dan selain itu penelitian Fika dan Syafiq yang dimuat dalam Jurnal Kedokteran Trisakti tahun 2003 menunjukan bahwa bayi yang diberi kesempatan untuk menyusu dini hasilnya delapan kali lebih berhasil ASI eksklusif (Roesli, 2012).

Kelima, selalu melaksanakan IMD pada setiap bayi, sebesar 30,2% yang melakukan tindakan tersebut dan sebesar 69,8% tidak melakukan. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa lebih banyak petugas kesehatan yang tidak selalu melaksanakan IMD. Hal ini dapat terjadi karena saat akan melaksanakan IMD,

perlu diperhatikan kondisi ibu dan bayi, apabila ibu dan bayi dalam kondisi fit, maka dilakukan IMD dan sebaliknya apabila keadaan ibu dan bayi tidak memungkinkan, maka tidak dilakukan IMD. Terutama apabila ibu membutuhkan tindakan pertolongan sesegera mungkin untuk mencegah terjadinya kematian ibu, maka pertolongan kepada ibu lebih utama dibandingkan dengan melakukan kegiatan IMD. Proses persalinan yang sering ditangani oleh petugas kesehatan di rumah sakit lebih banyak persalinan dengan penyulit dibandingkan dengan persalinan yang normal, sehingga hal tersebut menjadi penghambat bagi petugas untuk dapat melaksanakan IMD. Oleh karena itu, lebih banyak petugas kesehatan yang tidak selalu melakukan IMD pada setiap kelahiran yang mereka tolong.

Keenam, menyodorkan puting susu ibu ke mulut bayi saat pelaksanaan IMD, sebesar 39,5% melakukan tindakan tersebut dan hal itu merupakan tindakan yang negatif/salah. Karena pada dasarnya bayi manusia itu sama halnya dengan bayi mamalia lainnya yaitu mereka mempunyai naluri sendiri untuk menemukan puting susu ibunya sendiri (Roesli, 2012). Tindakan yang salah dari petugas kesehatan ini bisa terjadi karena lamanya proses bayi menemukan puting susu ibunya dapat menggangu petugas kesehatan untuk melakukan keperluan yang lainnya seperti membersihkan alat-alat sehingga agar proses IMD ini dapat berlangsung dengan cepat maka mereka membantu bayi dengan cara menyodorkan puting susu ibu ke mulut bayi.

Ketujuh, dalam pelaksanaan IMD bayi dibiarkan melakukan kontak skin to skin dengan ibunya, sebesar 86% petugas kesehatan menjawab ya dan tindakan tersebut adalah benar untuk dilakukan karena skin to skin atau kontak kulit bayi

dengan kulit ibunya merupakan hal utama yang harus dilakukan dalam proses IMD. Sangat banyak manfaat yang didapat dari proses skin to skin tersebut diantaranya dapat menghangatkan bayi dengan tepat karena kulit ibu secara otomatis akan menyesuaikan suhunya dengan kebutuhan bayi sehingga bayi terhindar dari hypothermia (kedinginan) serta dapat membuat rahim ibu berkontraksi sehingga dapat membantu mengeluarkan plasenta dan mengurangi perdarahan pada ibu (Depkes, 2008).

Kedelapan, dalam pelaksanaan IMD lemak putih (vernix) pada tangan bayi dikeringkan, sebesar 90,7% petugas kesehatan benar karena menjawab tidak, tetapi masih ada petugas kesehatan yang menjawab ya. Lemak putih (vernix) yang terdapat pada tangan bayi tidak boleh dibersihkan karena bau dari vernix tersebut sama dengan bau cairan yang keluar dari payudara ibu sehingga dapat menuntun bayi untuk bisa menemukan puting susu ibunya sendiri tanpa harus dibantu oleh orang lain (Roesli, 2012).

Kesembilan, melibatkan suami atau keluarga pasien dalam pelaksanaan IMD, sebesar 69,8% petugas kesehatan benar karena menjawab ya, sedangkan selebihnya menjawab tidak. Suami ataupun kelurga psien dangat penting untuk dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan IMD karena dukungan dari mereka akan sanagat membantu ibu dalam meningkatkan kepercayaan dirinya dalam menyusui bayinya segera setelah lahir (Maryunani, 2012).

Terakhir yaitu memberikan susu formula atau cairan lain selain ASI kepada bayi baru lahir, terdapat 2,3% petugas kesehatan yang melakukan tindakan tersebut sedangkan 97,7% lainnya tidak melakukannya. Pemberian

cairan selain ASI kepada bayi hanya diperbolehkan apabila dengan indikasi medis tertentu, yang diperlukan formulasi khusus demi keselamatan bayi diantaranya bayi dengan galaktosemia klasik, bayi dengan penyakit kemih beraroma sirup maple, bayi dengan fenilketonuria, dan lain-lain (Linkages, 2007).