BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
D. Sikap Terhadap Penambangan Pasir Warga Pengontel
Warga Non-pengontel
Desa Sumber terletak di lereng merapi dengan ketinggian 889m di atas permukaan laut dan berjarak 9,5km dari puncak Gunung Merapi dan terletak diantara Sungai Lamat dan Senowo yang berhulu di gunung Merapi.
Desa Sumber berada pada posisi yang berbahaya bila sewaktu-watu terjadi erupsi merapi dan banjir lahar dingin karena jarak Desa Sumber cukup dekat dengan puncak Gunung Merapi dan letak yang diapit oleh Sungai Senowo dan Lamat. Keadaan bahaya tersebut semakin diperparah dengan adanya penambangan pasir karena menyebabkan kerusakan akses jalan untuk evakuasi dan rusaknya DAM penahan bajir akibat banyaknya truk yang melintas. Kerusakan yang terjadi merupakan efek negatif penambangan pasir yang dapat membuat warga merasa semakin terancam. Menurut Azwar, (1995), ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang menekan dan tidak menguntungkan pada suatu objek maka sangat mudah terbentuk perasaan negatif yang menjadi dasar terbentuknya sikap negatif. Jadi adanya penambangan pasir akan semakin mengancam keamanan warga sehingga pada situasi ini akan muncul perasaan negatif yang dapat membentuk sikap negatif pada warga non-pengontel terhadap penambangan pasir.
Beradasarkan data dari Kantor Kelurahan Desa Sumber tahun 2009, 79% penduduk Desa Sumber berprofesi sebagai petani dengan penghasilan yang tidak dapat diprediksi setiap bulannya dan hanya bergantung pada masa panen. Berdasarkan wawancara peneliti pada para warga yang ikut menambang pasir, mengaku bahwa dengan ikut dalam penambangan pasir, mereka mampu memperoleh uang tambahan sekitar Rp 300.000-Rp 500.000 perbulan. Berdasarkan hal tersebut, penulis memiliki asumsi bahwa warga yang ikut penambangan pasir dimungkinkan karena adanya himpitan
keadaaan ekonomi yang menekan. Penghasilan tambahan dapat mendorong munculnya perasaan positif pada pengontel terhadap penambangan pasir.
Perasaan yang muncul merupakan suatu bentuk dari penilaian seseorang terhadap peristiwa yang dialami oleh seseorang. Dalam konteks penelitian ini, ketika seseorang dihadapkan pada aktivitas penambangan pasir, seseorang akan memiliki perasaan yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain. Selanjutnya, perasaan akan membentuk penilaian yang subjektif pada peristiwa yang dihadapi oleh seseorang. penilaian yang terbentuk dari perasaan dapat mendorong terbentuknya sikap pada seseorang. hal ini sejalan dengan penyataan Henerson (1978) bahwa sikap merupakan suatu kecenderungan berprilaku dan bentuk penilaian seseorang terhadap objek sikap. Sikap ditunjukkan dari perkataan seseorang dan perilaku seseorang, (et.al).
Sikap yang terbentuk dalam diri individu dikarenakan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor yang dimaksud antara lain; Pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, emosional, media massa, lembaga agama dan pendidikan, serta kebudayaan. Namun dari ke enam faktor tersebut, hanya tiga faktor yang terlihat berperan dalam pembentukan sikap warga terhadap penambangan pasir. Hal tersebut dikarenakan ketiga faktor tersebut menurut peneliti memiliki intensitas yang cukup dekat dengan warga desa sumber dalam membentuk sikap terhadap penambangan pasir. Ketiga faktor tersebut adalah pengalaman pribadi, faktor emosional, dan faktor pengaruh orang lain. Ketiga faktor
Pengalaman pribadi ini akan menjadi dasar pembentukan sikap jika pengalaman tersebut mampu meninggalkan kesan yang kuat dalam diri individu tersebut (Azwar,1995). Adanya reward atau reinforcement dari suatu peristiwa cenderung akan memberikan kesan kuat yang positif yang membentuk sikap positif (Samimora, 2002). Pengalaman pribadi seseorang akan diperoleh ketika seseorang memiliki keterlibatan yang tinggi dalam suatu peristiwa/objek. Jika individu memiliki keterlibatan tinggi dalam suatu aktivitas maka peringatan yang menjadi penghalang tidak akan berimbas pada subjek, dengan kata lain peringatan akan diabaikan oleh subjek, (Freedman dan Osears, 1985). Warga pengontel memiliki keterlibatan secara langsung dalam aktivitas penambangan pasir yang dilakukan sehingga, berdasarkan pernyataan yang dikemukakan Freedman dan Osears mereka akan mengabaikan efek negatif penambangan pasir yaitu kerusakan ekosistem, jalan sebagai jalur evakuasi, dan menurunya kualitas kesehatan bagi para pengontel akan diabaikan dan cenderung untuk tetap berpartisipasi dalam penambangan pasir serta memiliki sikap yang lebih positif terhadap penambangan pasir.
Individu cenderung akan memiliki sikap searah dengan orang yang dianggap penting. Yang dimaksud dengan orang lain yang dianggap penting adalah orang tua, guru, pemuka agama, teman sebaya, pemegang jabatan tertentu, istri, suami, dan lain sebagaianya. Seseorang atau orang yang telah ikut dalam aktivitas penambangan pasir dapat memberikan informasi kepada orang lain tentang suatu hal. Informasi yang mampu membawa pesan-pesan
yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini individu. Adanya informasi tentang penambangan pasir yang mampu memberikan keuntungan secara finansial merupakan informasi sugestif. Informasi yang sugestif dapat membentuk landasan afektif bagi terbentuknya sikap positif kepada para pengontel.
Faktor lain yang berpengaruh dalam pembentukan sikap adalah faktor emosional. Faktor emosional merupakan suatu bentuk sikap yang bersifat subjektif berdasarkan perasaan. Faktor ini berkaitan dengan adanya pengalaman pribadi dan informasi dari orang lain yang dianggap penting. Warga pengontel memiliki pengalaman pribadi dan juga informasi positif tentang penambangan pasir, hal ini akan membentuk kesan dan perasaan positif pada diri mereka terhadap penambangan pasir. Bagi para pengontel, hal tersebut akan memberikan kesan positif, bahwa penambangan pasir ini akan memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka. Hal ini akan membentuk sikap positif bagi warga pengontel.
Berbeda dengan warga pengontel, adanya penambangan pasir akan membuat warga non-pengontel memperoleh pengalaman yang tidak menyenangkan. Pengalaman yang tidak menyenangkan ini dikarenakan adanya interaksi warga dengan effek negatif yang dirasakan bagi warga non-pengontel. Selanjutnya interaksi warga dengan effek negatif akan menimbulkan penilaian negatif pula terhadap aktivitas penambangan pasir yang dilakukan. Penilaian negatif yang ditimbulkan akan membuat warga tidak memiliki harapan positif. Selain itu, tidak adanya pengalaman dengan
suatu objek psikologis cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek sikap (Middlebrook dalam Azwar,1995). Warga non-pengontel kurang memiliki keterlibatan atau tidak secara langsung ikut dalam penambangan pasir yang dilakukan. Hal-hal negatif yang dijumpai oleh warga non-pengontel tersebut akan membentuk penilaian negatif pula dalam diri individu yang pada akhirnya membentuk sikap yang negatif pula.
Faktor dari orang lain yang dianggap penting juga sangat berpengaruh pada pembentukan sikap warga non-pengontel. Salah satu contoh orang lain yang dianggap penting adalah pemuka agama katolik, Romo V. Kirjito yang cenderung memprotes kegiatan penambangan pasir melalui tema kegiatan agamanya dan ritual keagaman yang melibatakan banyak orang di luar komunitasnya. Romo V. Kirjito cenderung memberikan informasi yang berisi efek negatif tentang penambangan pasir (kompas.com, 2009). Informasi dari Romo V. Kirjito dapat memperkuat posisi sikap orang yang diberi informasi. Hal ini akan memberikan sugesti negatif sehingga akan terbentuk penilaian yang negatif pula terhadap penambangan pasir. Penilaian dari informasi ini akan membentuk landasan kognitif bagi terbentuknya sikap warga non-pengontel. Penilaian negatif selanjutnya akan membentuk sikap yang negatif pada warga non-pengontel.
Pengalaman berinteraksi dengan effek negatif dan informasi negatif tentang adanya penambangan pasir dari orang lain akan cenderung mempengaruhi faktor reaksi emosi seseorang terhadap suatu objek. Ketika warga non-pengontel dihadapkan pada pengalaman yang tidak menyenangkan
tentang effek negatif penambangan pasir dan ditambah lagi dengan adanya informasi negatif maka akan membentuk penilaian negatif pula. Penilaian negatif ini juga memiliki kecenderungan menimbulkan adanya kesan yang negatif pada warga non-pengontel yang pada akhirnya membentuk sikap negatif.
Penambangan pasir ini merupakan objek dari sikap yang mampu memberikan kesan bagi seseorang bagi warga pengontel. Hal tersebut dipicu karena adanya imbalan yang muncul dari adanya penambangan pasir. Bagi para pengontel yang memiliki keterlibatan tinggi atau terlibat secara langsung penambangan pasir yang dilakukan memberikan kesan positif seperti adanya tambahan penghasilan adanya keuntungan secara finansial, adanya harapan baru untuk masa depan yang lebih baik (status ekonomi), dibukanya lapangan kerja, naiknya status ekonomi dan sarana untuk memperoleh penghasilan tambahan maka akan menimbulkan kesan yang baik bagi seseorang. Kesan positif dari adanya imbalan ini, akan membentuk sikap positif bagi para pengontel.
Sikap negatif diperoleh ketika suatu objek menghasilkan kesan yang tidak menyenangkan bagi individu tersebut. Kesan negatif yang diperoleh didapatkan warga karena adanya effek negatif dari penambangan pasir. Pada warga non-pengontel, tidak mendapat keuntungan finansial, tidak ada harapan yang lebih baik, tidak mendaptkan pekerjaan dalam akativitas penambangan pasir, rusaknya ekosistem hutan lindung, rusaknya jalan aspal untuk jalur evakuasi, menurunya kualitas kesehatan. Situasi yang tidak menyenangkan
teresebut merupakan punisment bagi warga. Hal ini akan membuat kelompok tersebut menumbuhkan sikap negatif terhadap penambangan pasir.
Berdasarkan hal di atas maka dapat diasumsikan bahwa sikap terhadap penambangan pasir pada pengontel akan lebih positif dibandingkan non-pengontel. Osears (1986) berpendapat bahwa seseorang akan melakukan sesuatu sesuai dengan sikap yang dimiliki karena mengharapkan hasil tertentu dan adanya imbalan yang diharapkan dari perilaku yang dilakukan. Kekuatan harapan dan imbalan yang tinggi akan mendorong pengontel memiliki sikap positif. Berbeda dengan para non-pengontel, mereka dihadapkan pada effek negatif yang merugikan dan tidak adanya harapan akan adanya penambangan pasir. Hal ini akan membentuk kesan negatif yang akan mendorong munculnya sikap negatif. Adanya perkiraan bahwa sikap pengontel lebih tinggi dibandingkan sikap non-pengontel ini secara psikologis disebabkan oleh adanya posisi yang kurang menguntungkan dari non-pengontel yang hanya dihadapkan pada dampak negatif dari penambangan yang dilakukan.