BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Deskripsi Data Hasil Pengamatan
2. Siklus II
a) Tahap perencanaan
Waktu Pelaksanaan : 11,12,15 februari 2010
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dengan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan membuat instrumen-instrumen penelitian, yaitu lembar observasi aktivitas belajar siswa, lembar jurnal harian siswa, pedoman wawancara
untuk guru, serta lembar pertanyaan untuk siswa, dan soal untuk tes pada akhir siklus I ini.
b) Tahap pelaksanaan
Waktu pelaksanaan : 4,5,11,12,18 dan 19 maret 2010
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah pelaksanaan skenario dan rencana pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) yang telah dibuat sebelumnya. Dalam tahap ini, peneliti yang dalam hal ini sebagai pelaksana tindakan menyampaikan materi kemudian memperagakan bagaimana menjadi guru siswa dengan menerapkan 4 keterampilan kognitif, kemudian siswa dibuat menjadi beberapa kelompok kecil yang masing-masing terdiri dari 4-5 orang. Guru memberikan LKS kepada siswa yang di dalamnya berisi perintah merangkum, membuat pertanyaan, menjelaskan dan memprediksi. Setelah selesai di kerjakan salah satu kelompok diminta menjadi guru siswa di depan kelas yang dipilih secara di kocok.
c) Tahap observasi
Waktu pelaksanaan : 4,5,18 maret 2010
Pada tahap ini guru matematika kelas (observer) melakukan pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
d) Tahap analisis dan refleksi Waktu pelaksanaan : 3 april 2010
Pada tahap ini peneliti dan observer melakukan analisis terhadap hasil pengamatan observer untuk seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran pada Siklus I, kemudian hasil refleksi digunakan untuk perbaikan pada tahap perencanaan Siklus II.
3. Siklus II
a. Tahap perencanaan
Pada tahap ini peneliti membuat skenario dan rencana pembelajaran yang akan dilakukan pada siklus II. Pada kegiatan ini peneliti mempersiapkan hal-hal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan siklus II sesuai dengan hasil refleksi pada siklus I .
b. Tahap pelaksanaan
Waktu pelaksanaan : 15,16,22,23,dan 29 april 2010
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah pelaksanaan skenario dan rencana pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) yang telah dibuat sebelumnya. Dalam tahap ini, peneliti bermaksud meningktkan aktivitas yang kurang pada siklus 1, kemudian siswa dibuat kembali menjadi beberapa kelompok kecil yang masing-masing terdiri dari 4-5 orang. Guru memberikan bahan diskusi kepada siswa yang di dalamnya berisi perintah merangkum, membuat pertanyaan, menjelaskan dan memprediksi. Hanya saja aktivtas yang lebih ditekankan berbeda sesuai dengan aktivitas yang kurang pada siklus 1. Setelah selesai di kerjakan salah satu kelompok diminta kembali menjadi guru siswa di depan kelas yang dipilih secara di kocok.
c. Tahap observasi
Waktu pelaksanaan : 15,22,23,29 april 2010
Pada tahap ini guru matematika kelas (observer) melakukan pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model reciprocal teaching dan aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
d. Tahap analisis dan refleksi
Waktu pelaksanaan : 30 april dan 3,4 mei 2010
Pada tahap ini peneliti dan observer melakukan analisis terhadap hasil pengamatan observer untuk seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran pada siklus II. Apabila dengan hasil dari siklus II sudah menunjukkan bahwa indikator keberhasilan tercapai, maka penelitian dihentikan. Tetapi apabila indikator keberhasilan belum tercapai, maka penelitian dilanjutkan ke siklus III, dengan hasil refleksi siklus II sebagai acuannya.
G. Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu data kualitataif dan data kuantitatif.
1. Data kualitatif : hasil observasi proses pembelajaran, hasil observasi aktivitas belajar matematika siswa, lembar jurnal harian siswa, hasil wawancara terhadap guru dan siswa, dan hasil dokumentasi (berupa foto dan video kegiatan pembelajaran).
2. Data kuantitatif : nilai hasil tes tiap siklus.
Sumber data : sumber data dalam penelitian ini adalah siswa, guru, dan peneliti.
H. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Observasi aktivitas belajar matematika siswa; diperoleh dari lembar
observasi aktivitas yang diisi oleh observer pada setiap pertemuan.
2. Jurnal harian siswa; digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran terbalik.
3. Nilai hasil belajar diperoleh dari tes akhir siswa yang dilakukan pada setiap akhir siklus.
4. Wawancara; peneliti melakukan wawancara terhadap guru kelas dan siswa pada tahap pra penelitian dan pada akhir siklus.
5. Dokumentasi; dokumentasi yang dimaksud adalah berupa foto-foto yang diambil pada saat proses pembelajaran yang diperoleh dari setiap siklus.
Setelah semua data terkumpul, peneliti bersama guru kolaborator melakukan analisis dan evaluasi data untuk mengambil kesimpulan tentang perkembangan aktivitas belajar matematika siswa, tentang kelebihan dan kekurangan penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan.
I. Instrumen – instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis yaitu:
1. Instrumen Tes
Untuk tes digunakan tes formatif yaitu tes yang dilaksanakan pada setiap akhir siklus, dan tes subsumatif yang diberikan pada akhir pembelajaran, tes ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan hasil belajar matematika siswa dan ketuntasan belajar siswa terhadap seluruh materi yang telah diberikan pada kedua siklus sebagai implikasi dari PTK. 2. Instrumen Non Tes
Dalam instrumen non tes ini digunakan instrumen sebagai berikut: a. Lembar observasi aktivitas belajar matematika siswa
Lembar observasi aktivitas belajar matematika siswa digunakan untuk mengetahui tingkat aktivitas belajar matematika siswa. Lembar observasi ini juga digunakan untuk menganalisa dan merefleksi setiap siklus untuk memperbaiki pembelajaran pada siklus berikutnya.
b. Lembar observasi kelompok siswa
Lembar observasi kelompok siswa digunakan untuk mengetahui bagaimana peningkatan kelompok siswa selama pembelajaran dengan diterapkannya model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). c. Lembar jurnal harian siswa
Lembar jurnal harian siswa digunakan untuk mengetahui respon siswa dengan diterapkannya model pembelajaran terbalik.
d. Lembar wawancara
Peneliti mewawancarai guru dan siswa. Hal ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung kondisi siswa serta untuk mengetahui gambaran umum mengenai pelaksanaan pembelajaran dan masalah-masalah yang dihadapi di kelas.
J. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan (Trusworthiness) study Untuk memperoleh data yang valid digunakan teknik triangulasi yaitu :
1. Menggali data dari sumber yang sama dengan menggunakan cara yang berbeda. Dalam penelitian ini, untuk memperoleh informasi tentang aktivitas siswa dilakukan dengan mengobservasi siswa, wawancara siswa, dan memeriksa hasil kerja siswa dalam mengerjakan soal.
2. Menggali data dari sumber yang berbeda untuk informasi tentang hal yang sama. Untuk memperoleh informasi tentang pemahaman siswa dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan siswa dan mengandakan wawancara dengan guru.
3. Memeriksa kembali data-data yang terkumpul, baik tentang kejanggalan-kejanggalan, keaslian maupun kelengkapannya.
4. Mengulang pengolahan dan analisis data yang sudah terkumpul.
Berdasarkan hasil triangulasi diperoleh kesimpulan bahwa pada saat siswa diwawancara dengan pertanyaan apakah siswa merangkum rata-rata siswa menjawab dapat menjelaskan teman-temannya baik pada saat menjadi guru siswa ataupun pada saat menjelaskan kelompok yang bertanya. Berdasarkan pengamatan observasi selama pembelajaran terbukti bahwa siswa dapat menjelaskan dengan baik selama siswa menjadi guru siswa walaupun masih terlihat malu-malu dan dari data hasil diskusi yang dibagikan rata-rata siswa dapat menjelaskan latihan soal secara tertulis. Kesimpulan diperoleh bahwa teknik triangulasi menunjukkan keseragaman bahwa baik melalui wawancara, melalui observasi dan melalui soal dapat terbukti bahwa rata-rata siswa dapat menjelaskan hasil pekerjaannya.
Agar dapat diperoleh data yang valid sebelum digunakan dalam penelitian, instrumen tes hasil belajar terlebih dahulu diujicobakan untuk mengetahui validitas, reliabilitas Validitas adalah salah satu ciri yang menandai tes hasil belajar yang baik. Sebuah item tes dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Skor pada item menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah. Dengan kata lain dapat dikemukakan bahwa sebuah item memiliki validitas yang tinggi jika pada skor item mempunyai kesejajaran
dengan skor total. Kesejajaran ini dapat diartikan dengan korelasi, sehingga untuk mengetahui validitas item digunkan rumus korelasi. Dalam menghitung validitas instrumen tes hasil belajar peneliti menggunkana rumus korelasi point biserial:4
q p S M M t t p bis − = γ Keterangan: bis
γ = Koefisien korelasi biserial
Mp = Rerata skor dari subjek yang menjawab benar bagi item yang
dicari validitasnya Mt = Rerata skor total
St = Standar deviasi dari skor total
P = Proporsi siswa yang menjawab benar
q = Proporsi siswa yang menjawab salah (q = 1 – p)
Hasil validitas/hasil uji coba menyimpulkan siklus I yang terdiri dari 20 butir soal (lampiran 4) terdapat 15 butir soal yang valid (lampiran 14) dan 5 tidak valid. Butir tidak valid adalah no 4, 7, 9, 13, dan 20. pada siklus II yang terdiri dari 30 butir soal (lampiran 6) terdapat 25 butir soal yang valid (lampiran 18) dan 5 tidak valid. Butir tidak valid adalah no 4, 13, 24, 27, dan 28.
Reliabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan hasil tes. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Untuk menghitung besarnya reliabilitas instrumen hasil belajar peneliti menggunakan rumus Kuder Richardson (K-R. 20) sebagai berikut:5
4
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 79
5
⎥ ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎢ ⎣ ⎡ − ⎥⎦ ⎤ ⎢⎣ ⎡ − =
∑
2 2 11 1 t t S pq S k k r Keterangan: 11r = Reliabilitas tes secara keseluruhan k = Banyaknya item
p = Proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q = Proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q = 1 – p)
∑
pq = Jumlah perkalian antara p dan q2
t
S = Varians tes
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien reliabilitas siklus I adalah 0,37 (lampiran 13) dan nilai koefisien reliabilitas siklus II adalah 0,84 (lampiran 17).
K. Analisis Data dan Interpretasi Hasil Analisis
Sebelum melakukan analisis data, peneliti memeriksa kembali kelengkapan data dari berbagai sumber. Kemudian analisis data dilakukan pada semua data yang sudah terkumpul, yaitu berupa hasil wawancara, hasil observasi, hasil jurnal harian siswaa, hasil tes siswa dan catatan komentar observer pada lembar observasi. Semua data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif.
Menganalisis hasil observasi proses pembelajaran yaitu hasil observasi terhadap tindakan pembelajaran peneliti dan hasil observasi terhadap proses aktivitas belajar siswa. Setiap kategori pengamatan diinterpretasikan dengan sangat baik (5), baik (4), sedang (3), kurang (2), buruk (1). Menganalisis jurnal harian dengan mengelompokkan respon siswa ke dalam kelompok berkomentar positif, negatif, netral dan tidak berkomentar kemudian dihitung persentasenya. Apabila persentase respon positif mencapai minimal 70% maka penelitian dihentikan.
Tahap analisis data dimulai dengan menyajikan keseluruhan data yang diperoleh dari berbagai sumber, membaca data, kemudian mengadakan
rekapitulasi data dan menyimpulkannya. Data yang diperoleh berupa kalimat-kalimat dan skala penilaian aktivitas siswa diubah menjadi kalimat-kalimat yang bermakna.
L. Tindak Lanjut atau Pengembangan Perencanaan Tindakan
Setelah tindakan pertama (siklus I) selesai dilakukan dan hasil yang diharapkan belum mencapai kriteria keberhasilan yaitu peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika maka akan ditindak lanjuti untuk melakukan tindakan selanjutnya sebagai rencana perbaikan pembelajaran. Siklus ini terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanakan tindakan, observasi, serta analisis dan refleksi. Setelah melakukan analisis dan refleksi pada siklus I, apabila indikator keberhasilan belum tercapai maka penelitian akan dilanjutkan dengan siklus II.
Penelitian ini berakhir, apabila peneliti menyadari bahwa penelitian ini telah berhasil menguji penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dalam meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa.
Kegiatan penelitian yang penulis akan lakukan memerlukan perencanaan dan persiapan yang cukup panjang, adapun perencanaan tindakannya adalah peneliti mempersiapkan instrumen penelitian seperti lembar observasi aktivitas kelompok, observasi aktivitas belajar matematika siswa, lembar jurnal harian siswa, soal-soal yang dipergunakan untuk latihan dan soal-soal tes formatif untuk menilai hasil belajar matematika siswa. Peneliti juga dapat menggunakan lembar kerja siswa yang dibuat oleh peneliti sendiri atau yang dianjurkan oleh sekolah.
Dalam melakukan penelitian, guru bidang studi dapat berkolaborasi dengan observer yang dalam hal ini adalah teman seprofesi untuk membantu kelancaran penelitian dan dapat juga sebagai kolaborator untuk berdiskusi membicarakan kegiatan pada siklus selanjutnya.
BAB IV
DESKRIPSI, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN
A. Deskripsi Data Hasil Pengamatan 1. Penelitian Pendahuluan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dimulai dengan melakukan penelitian pendahuluan yang dilakukan dengan observasi pembelajaran serta wawancara terhadap guru dan siswa. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15,17,18,19,25 ferbruari dan 2, 3 maret di MTs Daarul Hikmah Pamulang.
Pada tanggal 15 februari 2010 peneliti menemui kepala sekolah untuk menjelaskan tujuan kedatangan peneliti ke MTs Daarul Hikmah Pamulang dan untuk menanyakan apakah pada mata pelajaran matematika di MTs Daarul Hikmah sudah atau pernah menerapkan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Sebelumnya kepala sekolah menanyakan apa itu model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan bagaimana cara penerapannya? Kemudian peneliti menjelaskan pengertian dari pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan menjelaskan langkah-langkah pembelajarannya.. Berdasarkan penjelasan dari kepala sekolah, diperoleh informasi bahwa model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) belum pernah diterapkan di MTs Daarul Hikmah karena biasanya guru matematika menerapkan pembelajaran konvensional dan belum pernah menerapkan pembelajaran berkelompok seperti pembelajaran terbalik (reciprocal teaching).
Setelah peneliti mendapatkan izin untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut, kepala sekolah menentukan kelas yang dapat dijadikan objek penelitian yaitu kelas VII-D. Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini sangat tepat untuk diterapkan di kelas VII-D karena berdasarkan pengamatan bidang kurikulum kelas ini termasuk kategori kelas yang prestasi belajarnya sedang, bukan yang terbaik ataupun terburuk diantara 7 kelas lainnya. Kepala sekolah meminta peneliti menemui guru bidang studi matematika yang mengajar di kelas VII-D tersebut.
Pada tanggal 17 februari 2010 peneliti menemui guru bidang studi matematika kelas VII-D untuk melakukan wawancara. Wawancara ini dilakukan untuk mengetahui tingkat aktivitas belajar matematika siswa, tanggapan guru tentang model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran matematika di kelas tersebut. Berdasarkan wawancara dengan guru diperoleh informasi sebagai berikut:
1. Tingkat kemampuan siswa pada mata pelajaran matematika kelas VII.D rata-rata sama, hal itu disebabkan karena siswa kurang memahami pelajaran matematika.
2. Metode yang sering digunakan guru adalah konvensional, ceramah, tanya jawab, penugasan dan belum pernah menerapkan pembelajaran berkelompok.
3. Umumnya siswa memperhatikan penjelasan guru, tetapi terkadang masih ada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, tergantung kondisi guru tersebut.
4. Siswa tidak berdiskusi dahulu dengan temannya tetapi siswa langsung bertanya kepada guru itupun masih malu-malu.
5. Siswa hanya akan menjawab atau mengajukan pendapatnya tentang materi yang disampaikan guru jika ada pertanyaan dari guru saja. Jika tidak ada pertanyaan, maka tidak ada yang berinisiatif mengajukan pendapatnya.
6. Beberapa siswa masih takut bertanya kepada guru, jika tidak diberi motivasi maka tidak ada siswa yang bertanya kebanyakan dari mereka hanya diam saja. Apabila ada siswa yang bertanya kebanyakan siswa yang lain tidak menanggapi dan tidak mendengarkan
7. Respon siswa dalam proses pembelajaran biasa-biasa saja tidak ada yang aktif mengemukakan pendapat, malah kebanyakan siswa acuh tak acuh terhadap pelajaran matematika.
8. Seluruh siswa mengerjakan setiap tugas yang diberikan guru. Namun ada beberapa siswa yang tidak semangat dalam mengerjakan tugas sehingga lamban.
9. Guru selalu memberi catatan tertulis kepada siswa dan jarang menyuruh siswa untuk membuat sendiri catatan dengan bahasa mereka sendiri.
10.Siswa yang terlihat mampu mengingat materi sebelumnya biasanya hanya siswa yang pintar saja. Kalau siswa yang agak kurang kemampuan mengingatnya, jangankan materi pada pertemuan sebelumnya, materi yang baru saja diajarkan pun terkadang sudah tidak ingat.
11.Kemampuan siswa dalam mengerjakan soal matematika berbeda-beda. Siswa yang pintar dapat menyelesaikan soal dengan baik dan benar, siswa yang sedang terbilang cukup baik karena kurang teliti, sementara siswa yang kurang biasanya mendapat nilai di bawah KKM.
12.Ekspresi siswa berbeda-beda saat belajar matematika, ada yang terlihat kurang bersemangat, ada juga yang terlihat santai
13.Kendala yang dialami guru saat mengajar adalah jika menjelaskan rumus matematika yang sulit bagi siswa, walaupun berkali-kali dijelaskan tetap saja siswa belum mengerti. Kendala lain adalah ketika menghadapi siswa yang sulit diatur dan siswa yang sering tidak masuk sekolah, karena siswa yang sering mengikuti pelajaran matematika saja belum tentu mengerti apalagi siswa yang jarang hadir di kelas. Fasilitas, media pembelajaran yang ada di MTs Daarul Hikmah Pamulang sangat terbatas. Jam belajar matematika masih kurang banyak.
Pada tanggal 18, 19, 25 februari 2010 peneliti melakukan observasi pembelajaran matematika di kelas VII-D. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran matematika di kelas tersebut dan aktivitas belajar matematika siswa. Adapun hasil observasi pembelajaran di kelas adalah sebagai berikut:
a) Metode yang digunakan guru adalah ekspositori, ceramah, simulasi dan penugasan. Guru menjelaskan materi, memberika sedikit simulasi dan waktu lebih banyak dipergunakan untuk pemberian tugas (soal latihan).
b) Selama proses pembelajaran matematika, siswa terlihat kurang mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, kebanyakan siswa malah mengobrol dengan teman sebangku atau teman belakang tempat duduknya.
c) Siswa masih merasa takut untuk bertanya dan mengajukan pendapat tentang materi pelajaran yang tidak dipahami atau belum dipahami dan banyak yang hanya diam saja.
d) Kemampuan dalam menjawab pertanyaan guru yang berkaitan dengan materi bagi beberapa siswa sudah cukup baik.
e) Pada saat guru meminta siswa bertanya siswa malah diam saja dan terlihat menunduk karena takut dan tegang.
f) 40% siswa mencatat materi yang disampaikan guru tetapi 60% catatan mereka tida lengkap.
g) Kemampuan siswa dalam mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya dianggap kurang, karena tidak merata ke semua siswa. h) Kemampuan siswa dalam mengerjakan soal matematika masih
dibawah rata-rata itu terjadi karena banyak siswa yang tidak mengerti cara mengerjakannya.
i) Setiap pertemuan selama pembelajaran berlangsung, beberapa siswa izin untuk keluar kelas secara bergantian. Hal ini dapat berdampak kurang baik bagi siswa tersebut karena tidak mendengarkan penjelasan guru secara keseluruhan.
j) Siswa yang duduk di barisan depan terlihat antusias, sementara ekspresi sebagian besar siswa terlihat biasa saja.
k) Hasil persentase aktivitas belajar siswa, rata-ratannya hanya mencapai 47,5% (lampiran 24).
Dokumentasi aktivitas siswa mengerjakan tugas pada penelitian pendahuluan ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini
Gambar 1
Aktivitas Mengerjakan Tugas pada Penelitian Pendahuluan
Pada tanggal 02 dan 03 maret 2010 peneliti melakukan wawancara dengan 6 orang siswa kelas VII-D. Keenam siswa ini terdiri dari 2 orang siswa yang aktif, 2 orang siswa yang cukup aktif, dan 2 orang siswa yang pasif. Ketentuan ini berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti terhadap aktivitas belajar siswa pada pelajaran matematika sebelumnya. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui respon dan minat siswa terhadap pelajaran matematika serta aktivitas belajar matematika siswa. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi sebagai berikut:
1. Sebagian siswa memperhatikan materi yang guru sampaikan, sementara sebagian lagi tidak memperhatikan jika materi yang guru sampaikan sulit.
2. Guru matematika tidak pernah menerapkan pembelajaran berkelompok yang sering dilakukan menerangkan materi.
3. Sebagian siswa tidak pernah berdiskusi dengan siswa lainnya, ada siswa yang lebih memilih untuk bertanya langsung ke guru daripada bertanya ke temannya.
4. Siswa tidak pernah mengajukan pendapatnya tentang materi yang disampaikan guru.
5. Sebagian siswa terkadang bertanya kepada guru jika ada materi yang kurang dimengerti. Ada siswa yang lebih sering bertanya ke temannya daripada ke guru.
6. Jika ada teman yang bertanya siswa menjawab jarang memperhatikan karena bertanyanya di tempat guru jadi tidak kedengaran.
7. Beberapa siswa menjawab tidak pernah menjawab pertanyaan guru karena takut jawaban yang diberikan salah.
8. Sebagian siswa tidak tahu bagaimana cara mereka mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya misalnya dengan mencatat, sebagian lagi mengingatnya dengan belajar di rumah.
9. Hampir semua siswa cukup mampu mengerjakan soal-soal matematika, namun tergantung tipe soalnya. Soal yang sulit biasanya tidak bisa mereka selesaikan.
10.Siswa tidak pernah menentukan atau mendapatkan rumus matematika dengan cara mereka sendiri.
11.Rata-rata siswa senang belajar matematika jika materi yang dipelajari mudah bagi mereka.
Hasil observasi pembelajaran matematika di kelas dan wawancara tersebut digunakan sebagai bahan untuk merencanakan tindakan pada siklus I nanti.
2. Tindakan Pembelajaran Siklus I
Tindakan pembelajaran siklus I merupakan tindakan awal yang sangat penting, hal ini dikarenakan analisis dari hasil tindakan pembelajaran ini akan dijadikan sebagai refleksi bagi peneliti pada tindakan pembelajaran selanjutnya. Pada pembelajaran siklus I sub pokok bahasan yang disampaikan yaitu mengenai pengertian dan jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga istimewa, jumlah sudut segitiga 1800, hubungan sudut dalam dan sudut luar segitiga, dan menjelaskan hubungan sisi dan sudut pada segitiga.
a) Tahap perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah peneliti telah mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Peneliti juga
membuat instrumen-instrumen penelitian, yaitu lembar observasi aktivitas belajar siswa, lembar observasi kelompok siswa, jurnal harian siswa, alat dokumentasi, pedoman wawancara untuk guru dan siswa, serta membuat bahan diskusi untuk tiap pertemuan dan soal tes untuk akhir siklus I ini. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dibuat dan didiskusikan bersama guru kolaborator agar rencana pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan di MTs Daarul Hikmah Pamulang (terlampir).
Bahan diskusi dibuat sendiri oleh peneliti sebagai alat bantu proses pembelajaran yang didalamnya memuat empat strategi dalam pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) yaitu kegiatan merangkum, membuat pertanyaan, menjelaskan dan memprediksi (terlampir). Lembar soal tes siklus I dibuat untuk mengetahui perkembangan kemampuan mengerjakan soal matematika. Lembar