• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Simptom Depresi dan Kecemasan

Gejala – gejala depresi adalah merasa sedih dan bersalah, merasa cemas dan kosong, merasa tidak ada harapan, merasa tidak berguna dan gelisah, merasa mudah tersinggung dan tidak ada yang peduli, gangguan berkonsentrasi, mengingat informasi, membuat keputusan, gangguan pola tidur, kehilangan nafsu makan atau makan terlalu banyak, kekurangan energi dan adanya pikiran untuk bunuh diri (NIMH, 2015).

Kecemasan adalah perasaan tidak jelas, subyektif dan tidak spesifik. (Duko et al, 2015). Kecemasan adalah gangguan alam perasaan, ketakutan atau

kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas, kepribadian masih tetap utuh, perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas-batas normal (NIMH, 2015).

Gejala-gejala kecemasan meliputi rasa khawatir, tidak tenang, ragu, bimbang, memandang masa depan dengan was-was, kurang percaya diri, gugup apabila tampil di depan umum, sering merasa tidak bersalah dan menyalahkan orang lain, tidak mudah mengalah, tidak tenang bila duduk, sering kali mengeluh, khawatir berlebihan terhadap penyakit, mudah tersinggung, suka membesarkan masalah yang kecil, sering merasa ragu dalam mengambil keputusan, bila bertanya sesuatu sering kali berulang-ulang, jika sedang emosi sering bertindak histeris (NIMH, 2015).

Depresi sering datang bersamaan dengan gejala kecemasan, masalah ini dapat menjadi kronik atau berulang dan menyebabkan kerusakan yang besar pada kemampuan seseorang untuk menjaga tanggung jawab keseharian. Kehadiran depresi dan kecemasan mempunyai dampak yang buruk pada kualitas kehidupan, pembiayaan kesehatan dan perawatan diri (Duko et al, 2015).

2.5..Pengaruh Gejala Kejiwaan Pada Pasien MDR-TB

Komplikasi gejala kejiwaan pada pasien MDR-TB dipengaruhi oleh faktor psikososial dan ekonomi. Masalah dukungan keluarga serta beberapa masalah psikososial lain yang sering menjadi keprihatinan utama pada individu dengan MDR-TB meliputi: stigma sosial, diskriminasi, takut dan rasa bersalah terkait dengan risiko infeksi, beban sosio-ekonomi dan psikologis hidup dengan penyakit kronis yang mengancam jiwa, lamanya pengobatan, jumlah obat yang banyak, ketergantungan terhadap orang lain, kegagalan beberapa pengobatan, kehilangan anggota keluarga dan mengalami kemiskinan menjadi dampak yang buruk terhadap kualitas hidup serta harapan kesembuhan pasien MDR-TB (Vega et al, 2004).

Lingkungan dan keluarga yang takut akan infeksi terhadap pasien MDR-TB merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap stigma sosial yang dapat

menghasilkan isolasi sosial sehingga mengakibatkan penolakan diagnosis pasien MDR-TB serta berdampak dalam pengobatan OAT MDR (Vega et al, 2004).

Sebagian besar pasien hidup dalam kemiskinan dan penyakit MDR-TB menempatkan beban lebih lanjut tentang keluarga mereka. Karena gejala penyakit dan efek samping obat, banyak pasien tidak mampu bekerja atau memenuhi kebutuhan sosial lainnya , mereka menyerah dan menunda akan pekerjaan maupun pendidikan dan kegiatan lainnya karena merasa frustasi (Acha et al, 2007).

Pemberian regimen pada pengobatan MDR-TB dilaporkan telah banyak memberikan efek samping lebih banyak dari OAT lini pertama sebesar 19-55%.

Sikloserin adalah salah satu regimen pada pengobatan MDR-TB yang merupakan antibiotik spektrum luas yang telah direkomendasikan oleh WHO sebagai lini kedua kelompok IV obat bakteristatik oral yang digunakan dalam dosis 250-500 mg dua kali sehari. Efek samping dari sikloserin berhubungan dengan efek kejiwaan, seperti depresi, kecemasan, halusinasi, euphoria, perubahan perilaku dan bunuh diri telah dilaporkan sebesar 9,7-50% dari setiap orang yang menggunakan sikloserin. Efek samping sikloserin yang mungkin terjadi adalah ketika penggunaan pada tiga bulan pertama (Saraf et al, 2015).

Sikloserin adalah sebuah antibiotik yang dihasilkan oleh streptomyces patorhidaceous. Sikloserin adalah obat yang larut air dan sangat tidak stabil pada pH asam. Sikloserin meiginhibisi berbagai bakteri gram positif dan gram negatif, tetapi hampir digunakan khusus untuk mengobati tuberkulosis yang disebabkan oleh strain Mtb yang resisten sebagai lini pertama. Secara struktur sikloserin analog dengan D-alanine dan menginhibisi penggabungan D-alanine menjadi peptidoglican pentapeptida dengan cara menghambat alanine racemase, yang mengubah L-alanine menjadi D-alanine, dan D-alanyl-D-alanine ligase. Setelah mengkonsumsi sikloserin sebanyak 0,25 gram mencapai sekitar 20-30 mcg/ml dalam darah yang mampu menghambat banyak strain mikobakteria dan bakteri gram negative. Sikloserin tersebar luas di jaringan. Sikloserin diekresi dalam bentuk aktif dalam urin. Dosis teurapeutik yang digunakan untuk mengobati MDR-TB 0,5 – 1 gr/hari dibagi dalam 2-3 dosis (Katzung, 2012).

Sikloserin dapat menyebabkan berbagai toksisitas pada sistem saraf pusat seperti nyeri kepala, tremor, psikosis akut dan kejang. Jika dosis oral dipertahankan dibawah 0,75 gr/hari efek samping tersebut biasaya dapat dihindarkan (Bakhla et al, 2013).

Mekanisme yang mungkin secara neurobiologis dari sikloserin yang menyebabkan gangguan psikis dengan cara mengikat dan memodulasi N-methyl-D-aspartate glutamate reseptor (NMDAR) antagonis dan agonis parsial di NMDAR yang berhubungan dengan glycine (GLY) dengan dosis 500 mg atau lebih per hari bisa menyebabkan gangguan psikiatrik pada individu yang rentan.

Meskipun dalam beberapa laporan pengobatan MDR-TB yang menyebabkan gangguan psikis pada peresepan polifarmasi tidak terbatas hanya pada obat sikloserin saja, akan tetapi gangguan psikis tersebut dapat terjadi pada pemberian obat-obatan yang bekerja pada NMDAR antagonis dan parsial agonis pada NMDAR yang berhubungan dengan glisin (Bakhla et al, 2013).

2.6. Penilaian Depresi dan Kecemasan

Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) pertama kali dikembangkan oleh Zigmont and Snait pada tahun 1983, tujuannya adalah untuk memberikan klinisi sebuah alat pemeriksaan yang dapat diterima, diandalkan dan benar untuk mengindentifikasi dan menghitung derajat depresi dan kecemasan. HADS adalah suatu metode yang telah diterjemahkan lebih dari 25 negara sejak pertama kali dikembangkan. Peran skala ini digunakan untuk mengidentifikasi pasien di rumah sakit umum yang memerlukan evaluasi dari psikiatri (Michopoulos et al, 2008).

HADS terdiri dari 14 pernyataan yang dibagi menjadi 2 subskala, yaitu untuk menilai kecemasan (7 pernyataan) dan depresi (7 pernyataan), yang mana pasien menggolongkan masing-masing pernyataan dalam 4 skala nilai, dari nilai 0 (tidak sama sekali) sampai nilai 3 (sangat sering). Nilai yang lebih tinggi mengindikasikan adanya permasalahan. Jawaban pasien dijumlahkan secara terpisah, yaitu penilaian untuk kecemasan dan penilaian untuk depresi, dengan jumlah minimum dan maksimum adalah 0 dan 21 untuk

menggolongkan pasien mengalami kecemasan dan depresi dengan pasien yang tidak mengalami kecemasan dan depresi jika dari 21 skala. Jika skala >16 menyatakan kasus berat, skala 11-15 termasuk kasus sedang, dan skala 8-10 adalah kasus ringan, sedangkan skala < 8 adalah bukan merupakan suatu kasus kecemasan atau depresi (Widyadharma et al, 2015).

Validitas dan reabilitas HADS sudah dilaporkan beberapa penelitian, di Indonesia telah dilakukan uji reliabilitas oleh Widyadharma et al pada tahun 2015.

Hasil interrater agreement untuk HADS-A adalah 0,706. Hasil interrater agreement untuk HADS-D adalah 0,681. Dimana nilai 0,61-0,80 berarti kesepakatan Kappa Cohen adalah baik (Widyadharma et al, 2015).

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan analitik berpasangan dengan studi prospektif.

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di poliklinik rawat jalan dan rawat inap di bagian paru Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan selama kurun waktu 3 bulan.

3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi penelitian adalah semua pasien MDR-TB yang berobat jalan dan rawat inap di bagian paru Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

3.3.2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

a. Kriteria Inklusi.

• Pasien MDR-TB, yaitu : MDR-TB dengan hasil GeneXpert mtb positif rifampisin resistance.

• Semua pasien MDR-TB yang belum mengkonsumsi OAT MDR.

• Semua pasien MDR-TB yang mengkonsumsi OAT MDR secara teratur pada 3 bulan awal pengobatan.

• Umur > 17 tahun dan < 70 tahun.

• Bersedia ikut penelitian dan telah menandatangani inform consent.

• Tidak disertai penyakit paru yang lain.

b. Kriteria Eksklusi

• Pasien yang memiliki riwayat skizofrenia.

Menderita penyakit kronis lain.

• Semua pasien MDR-TB yang putus pengobatan OAT MDR pada 3 bulan awal pengobatan.

3.3.3. Besar Sampel

Besar sampel dihitung berdasarkan rumus : n =

Berdasarkan penelitian Vega et al (2004), diperoleh proporsi depresi pada =

n =

n = 1,57 / 0,04

n = 39,25 ≈ 40 sampel Keterangan :

= Nilai deviat baku normal pada α = 5% (1.96) α = tingkat kemaknaan (5%)

Z = Nilai deviat baku normal untuk tingkat akurasi 80% = 0.84

β = Tingkat kemaknaan (20%)

d = Perbedaan proporsi depresi dan/atau kecemasan sebelum dan sesudah pengobatan MDR. Proporsi depresi sebelum pengobatan = 29% (Vega et al, 2004)

f = Diskordan (diasumsikan perbedaan proporsi sebesar 20%)

3.4. Definisi operasional

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien MDR-TB, usia, jenis kelamin, pendidikan, status pernikahan, riwayat merokok, riwayat pekerjaan, riwayat pengobatan, simptom depresi dan kecemasan.

Tabel 3.1 Variabel Penelitian

NO. VARIABEL DEFINISI

OPERASIONAL

CARA UKUR/

INSTRUMEN HASIL UKUR KATEGORI 1. MDR-TB Penyakit yang

3. Kecemasan Gejala- gejala

kecemasan meliputi rasa

khawatir, tidak tenang,

6. Pendidikan Tingkat pendidikan responden berdasarkan

7. Pekerjaan Profesi responden yang dilakukan pada

Rekam medik • Tidak ada pekerjaan

Nominal

keseharian-nya. • PNS

3.5. Cara Kerja Penelitian 3.5.1. Persiapan alat

• Kuesioner 3.5.2. Persiapan pasien

• Persetujuan dan menandatangani informed consent oleh pasien sebagai bukti persetujuan untuk mengikuti penelitian ini.

3.5.3. Cara kerja kuesioner

1. Kuesioner disebarkan yang kemudian diisi oleh responden pada saat sebelum mendapatkan pengobatan OAT MDR, bulan pertama pengobatan dan bulan ketiga pengobatan OAT MDR.

2. Kuesioner terdiri atas 14 pertanyaan.

3. Setelah kuesioner diisi oleh responden kemudian diserahkan langsung ke peneliti untuk dikumpulkan.

3.6. Alur penelitian

Pasien dengan MDR-TB dari hasil pemeriksaan Gene-Xpert yang tercantum pada status dan memenuhi kriteria inklusi

Informed consent kepada pasien dan keluarga

Prosedur menjawab kuesioner yaitu Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) oleh pasien MDR-TB

Penilaian oleh peneliti

Prosedur menjawab kuesioner yaitu Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) oleh pasien MDR-TB

Penilaian oleh peneliti

Prosedur menjawab kuesioner yaitu Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) oleh pasien MDR-TB

Penilaian oleh peneliti

3.7. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:

a. Coding, yaitu data diberi kode yang sesuai dengan kriteria masing-masing variabel.

b. Entry, yaitu memasukkan data ke dalam program komputer.

c. Editing, yaitu koreksi meliputi kelengkapan jawaban dan tulisan yang jelas.

d. Analyzing: pengolahan dan analisis statistik dari data yang diperoleh dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan alat bantu program Statistical Package for Social Sciences (SPSS).

3.8. Analisis data

Data hasil merupakan kuesioner. Data yang berhasil dikumpulkan diolah dan dianalisis dengan mempergunakan program komputer dengan menggunakan perangkat lunak statistic SPSS. Data akan dianalisis secara deskriptif untuk melihat distribusi frekuensi variabel serta karakteristik. Kemudian dilanjutkan dengan analisis uji hipotesis melalui uji X2 Mc Nemar.

3.9. Etika Penelitian

Sebelum dilakukan pengumpulan data terhadap subjek penelitian, peneliti mengajukan ethical clearance terlebih dahulu kepada Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Fakultas Kedokteran USU, Medan.

3.10. Jadwal Penelitian

a. Pengumpulan kepustakaan Rp. 1.000.000,-

b. Pembuatan proposal Rp. 1.000.000,-

c. Seminar proposal Rp. 1.500.000,-

d. Bahan dan alat pendukung penelitian Rp. 4.000.000,-

e. Seminar hasil penelitian Rp. 1.500.000,-

Jumlah Rp. 9.000.000,

NB : Seluruh biaya penelitian ditanggung oleh peneliti

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Karakteristik Sampel Penelitian

Penelitian ini melibatkan 40 orang pasien MDR-TB yang mendapatkan regimen pengobatan MDR-TB dan dilakukan follow up selama 3 bulan yang dimulai sejak awal sebelum pasien memulai pengobatan MDR-TB, bulan pertama dan bulan ketiga sesudah minum OAT MDR secara teratur selama periode 9 bulan dimulai dari Juni 2016 - Februari 2017. Pasien dinyatakan sebagai pasien MDR-TB jika hasil pemeriksaan GeneXpert Mtb Rif menunjukkan hasil MTb (+) Rif Res (Rifampicin Resistance).

Karateristik subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin menunjukan data bahwa sebanyak 22 orang (55%) adalah laki laki, dan sisanya sebanyak 18 orang (45%) adalah perempuan.

Adapun karakteristik sampel berdasarkan usia dijumpai bahwa usia termuda pasien yang menderita MDR-TB adalah 19 tahun dan usia tertua adalah 65 tahun.

Sampel yang berada dalam kisaran usia < 30 tahun adalah sebanyak 4 orang. Usia 30 - 39 tahun sebanyak 8 orang, usia 40 - 49 tahun sebanyak 12 orang, dan sisanya sampel yang berada dalam rentang usia lebih atau sama dengan 50 tahun adalah sebanyak 16 orang. Rata - rata usia responden dalam penelitian ini adalah 45,1 +/- 11,47 tahun. Sementara itu, karakteristik sampel berdasarkan pekerjaan didapati bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 37,5% bekerja sebagai ibu rumah tangga dan 32,5% bekerja sebagai wiraswasta.

Mayoritas responden dalam penelitian ini memiliki pendidikan terakhir tamatan SMA (67.5%) dan 95% responden sudah menikah. Dari ke 40 sampel penelitian, 35% diantaranya tidak merokok, dan 30% diantaranya adalah perokok dengan indeks brinkman (IB) sedang.

Berikut adalah tabel karaktersitik sampel dalam penelitian ini : Tabel 4.1. Karakteristisik Sampel Penelitian

Karakteristik Jumlah

N %

Jenis Kelamin

Perempuan 18 45.0

Laki laki 22 55.0

Usia

<30 tahun 4 10.0

30 – 39 tahun 8 20.0

40 – 49 tahun 12 30.0

≥ 50 tahun 16 40.0

Pendidikan

SD 2 5.0

SMP 6 15.0

SMA 27 67.5

D3 4 10

Strata 1 1 2.5

Riwayat Merokok

Bukan Perokok 14 35.0

IB ringan 7 17.5

IB sedang 12 30.0

IB berat 7 17.5

Status Pernikahan

Menikah 38 95.0

Belum menikah 2 5.0

Pekerjaan

Buruh pabrik 2 5.0

Ibu rumah tangga 15 37.5

Karyawan swasta 1 2.5

Wiraswasta 13 32.5

Supir 3 7.5

Petani 2 5.0

Tidak bekerja 4 10.0

4.2. Simptom Depresi Pada Pasien MDR-TB

Depresi merupakan salah satu simptom psikiatrik yang sering ditemui pada pasien MDR-TB. Gejala depresi diidentifikasi dengan menggunakan kuesioner HADS. Pasien dinyatakan memiliki simptom depresi jika skor kuesioner HADS memiliki nilai lebih dari atau sama dengan delapan. Pengisian kuesioner dilakukan pada sebelum pengobatan, bulan ke-1, dan pada bulan ke-3.

Adapun simptom depresi pada sampel dalam penelitian ini dapat disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Simptom Depresi Pada Pasien MDR-TB

Depresi

Ya Tidak Jumlah

Sebelum pengobatan 16 (40%) 24 (60%) 40

Bulan 1 24 (60%) 16 (40%) 40

Bulan 3 33 (82.5%) 7 (17.5%) 40

Dari tabel 4.2 terlihat jelas bahwa terjadi pertambahan jumlah yang signifikan simptom depresi dari awal mulai pengobatan hingga bulan ke- 3.

Sebelum pengobatan, sebanyak 40% sampel sudah memiliki simptom depresi saat baru terdiagnosis MDR-TB, dan angka ini meningkat lebih dari 2 kali lipat menjadi 82.5% setelah 3 bulan pengobatan.

Adapun pertambahan proporsi pasien yang memiliki simptom depresi dapat dilihat dalam grafik berikut :

Gambar 4.1. Grafik Peningkatan Simptom Depresi Pada Pasien MDR-TB 4.3. Simptom Kecemasan Pada Pasien MDR-TB

Kecemasan merupakan simptom psikiatrik yang juga sering ditemui pada pasien MDR-TB selain depresi. Gejala kecemasan diidentifikasi dengan menggunakan kuesioner HADS. Pasien dinyatakan memiliki simptom kecemasan jika skor kuesioner HADS memiliki nilai lebih dari atau sama dengan 8. Pengisian kuesioner dilakukan pada sebelum pengobatan, bulan ke-1, dan pada bulan ke-3.

Adapun simptom kecemasan pada sampel dalam penelitian ini dapat disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Simptom Kecemasan Pada Pasien MDR-TB

Kecemasan

Ya Tidak Jumlah

Sebelum pengobatan

4 (10%) 36 (90%) 40 Bulan 1

9 (22.5%) 31 (77.5%) 40 Bulan 3

21 (52.5%) 19 (47.5%) 40

Dari tabel 4.3 terlihat jelas bahwa terjadi pertambahan jumlah yang signifikan simptom kecemasan dari awal mulai pengobatan hingga bulan ke- 3.

Sebelum pengobatan, hanya sejumlah 10% sampel saja yang memiliki simptom kecemasan. Hasil yang cukup mengejutkan adalah bahwa dalam waktu 3 bulan pengobatan, kejadian simptom depresi meningkat 5 kali lipat menjadi 52.5%.

Adapun pertambahan proporsi pasien yang memiliki simptom kecemasan dapat dilihat dalam grafik berikut :

Gambar 4.2. Grafik Peningkatan Simptom Kecemasan Pada Pasien MDR-TB

4.4. Hubungan Waktu Pengobatan Dengan Simptom Depresi

Depresi telah terbukti sering menyertai pasien MDR-TB. Tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian pasien MDR-TB telah menunjukkan simptom depresi saat awal terdiagnosis yaitu pada awal sebelum pengobatan OAT MDR.

Depresi dapat pula diperberat oleh efek samping dari pengobatan MDR-TB yang dijalani. Oleh karena itu perlu diidentifikasi apakah terdapat hubungan antara waktu pengobatan dengan kejadian simptom depresi pada pasien MDR-TB.

Adapun hubungan antara waktu pengobatan dengan simptom depresi dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.4 Hubungan Waktu Pengobatan Dengan Simptom Depresi (sebelum pengobatan dan setelah 1 bulan pengobatan)

bulan 1

p value*

depresi tidak depresi

sebelum pengobatan Depresi 16 0

0.008

tidak depresi 8 16

*Uji Mc Nemar

Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan kejadian simptom depresi antara sebelum pengobatan dengan setelah 1 bulan pengobatan. Sebanyak 16 orang responden sudah memiliki simptom depresi sebelum pengobatan dimulai dan kesemuanya tetap mengalami depresi setelah 1 bulan pengobatan. Sebanyak 8 orang responden yang awalnya tidak memiliki simptom depresi sebelum pengobatan, ternyata setelah 1 bulan pengobatan telah menunjukkan gejala depresi.

Tabel 4.5 Hubungan Waktu Pengobatan Dengan Simptom Depresi (setelah 1 bulan pengobatan dan setelah 3 bulan pengobatan)

bulan 3 p value* pengobatan bulan 1 telah menunjukkan tanda depresi, ternyata kesemuanya tetap menunjukkan gejala depresi, selain itu ada sebanyak 9 orang responden yang awalnya tidak menunjukkan depresi, setelah menjalani pengobatan 3 bulan ternyata menunjukkan simptom depresi. Uji Mc Nemar memperlihatkan bahwa tidak ada perubahan yang signifikan simptom depresi pada bulan ke-1 dan bulan ke-3 pengobatan.

Tabel 4.6 Hubungan Waktu Pengobatan dengan Simptom Depresi (sebelum pengobatan dan setelah 3 bulan pengobatan)

bulan 3

p value*

depresi tidak depresi

sebelum pengobatan Depresi 16 0

0.001 tidak depresi 17 7

*Uji Mc Nemar

Dari tabel 4.6 terlihat jelas bahwa terdapat perubahan yang signifikan simptom depresi antara sebelum pengobatan dengan setelah 3 bulan pengobatan.

Keseluruhan pasien yang telah menunjukkan gejala depresi di awal pengobatan, ternyata tetap menunjukkan gejala depresi setelah 3 bulan pengobatan. Sebaliknya ada 17 orang responden yang awalnya tidak menunjukkan gejala depresi sebelum pengobatan, ternyata menunjukkan gejala depresi setelah menjalani pengobatan selama 3 bulan.

4.5. Hubungan Waktu Pengobatan Dengan Simptom Kecemasan

Kecemasan telah terbukti sering menyertai pasien MDR-TB. Tabel 4.3 menunjukkan bahwa hanya 10% saja pasien MDR-TB yang telah menunjukkan simptom kecemasan sebelum menerima pengobatan MDR-TB. Akan tetapi angka ini meningkat lima kali lipat setelah pengobatan selama 3 bulan. Kecemasan dapat pula diperberat oleh efek samping dari pengobatan MDR-TB yang dijalani. Oleh karena itu perlu diidentifikasi apakah terdapat hubungan antara waktu pengobatan dengan kejadian simptom kecemasan pada pasien MDR-TB.

Adapun hubungan antara waktu pengobatan dengan simptom kecemasan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.7 Hubungan Waktu Pengobatan dengan Simptom Kecemasan (sebelum pengobatan dan setelah 1 bulan pengobatan)

bulan 1 p

Tabel 4.7 memperlihatkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan kejadian simptom kecemasan antara sebelum pengobatan dengan setelah 1 bulan pengobatan. Sebanyak 4 orang responden sudah memiliki simptom kecemasan sebelum pengobatan dimulai dan kesemuanya tetap mengalami kecemasan setelah 1 bulan pengobatan. Sebanyak 5 orang responden yang awalnya tidak memiliki simptom kecemasan sebelum pengobatan, ternyata setelah 1 bulan pengobatan telah menunjukkan gejala kecemasan.

Tabel 4.8 Hubungan Waktu Pengobatan dengan Simptom Kecemasan (setelah 1 bulan pengobatan dan setelah 3 bulan pengobatan)

bulan 3 p pengobatan bulan 1 telah menunjukkan tanda kecemasan, ternyata setelah menjalani pengobatan selama 3 bulan, justru tidak lagi menujukkan gejala kecemasan. Akan tetapi di sisi lain, ada sebanyak 12 orang responden yang awalnya tidak menunjukkan gejala kecemasan, setelah menjalani pengobatan 3 bulan ternyata menunjukkan gejala kecemasan. Uji Mc Nemar memperlihatkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan simptom kecemasan pada bulan 1 dan bulan ke-3 pengobatan.

Tabel 4.9 Hubungan Waktu Pengobatan dengan Simptom Kecemasan (sebelum pengobatan dan setelah 3 bulan pengobatan)

bulan 3 p

value*

kecemasan tidak kecemasan

sebelum pengobatan Kecemasan 4 0

0.001

tidak kecemasan 16 20

*Uji Mc Nemar

Dari tabel 4.9 terlihat jelas bahwa terdapat perubahan yang signifikan simptom kecemasan antara sebelum pengobatan dengan setelah 3 bulan pengobatan. Keseluruhan pasien yang telah menunjukkan gejala kecemasan di awal pengobatan, ternyata tetap menunjukkan gejala kecemasan setelah 3 bulan pengobatan. Sebaliknya ada 16 orang responden yang awalnya tidak menunjukkan gejala kecemasan sebelum pengobatan, ternyata menunjukkan gejala kecemasan setelah menjalani pengobatan selama 3 bulan.

4.6. Hubungan Jenis Kelamin Dengan Simptom Depresi dan Kecemasan Analisis mengenai simptom depresi dan kecemasan pada pasien MDR-TB dilanjutkan dengan mengidentifikasi apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan proporsi kejadian simptom depresi dan kecemasan. Data yang diperoleh dapat disajikan melalui tabel berikut :

Tabel 4.10 Hubungan Jenis Kelamin dengan Simptom Depresi dan Kecemasan

Depresi Kecemasan

Tabel 4.10 memperlihatkan dengan jelas bahwa jenis kelamin tidak memiliki pengaruh dengan kejadian depresi maupun kecemasan (p > 0.05).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan proporsi depresi

dan kecemasan antara laki - laki maupun perempuan setelah 3 bulan menjalani pengobatan MDR-TB.

4.7. Pembahasan

Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif analitik yang mencoba mengidentifikasi kejadian simptom depresi dan kecemasan pada 40 orang pasien MDR-TB yang tidak memiliki komorbid penyakit lain. Dengan melakukan follow up selama 3 bulan, dilakukan penilaian gejala depresi dan kecemasan pada pasien MDR-TB dengan menggunakan kuesioner HADS.

Laporan dari World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa penyakit MDR-TB memiliki kaitan dengan economic lost yaitu kehilangan pendapatan rumah tangga. Seseorang yang menderita tuberculosis biasa diperkirakan akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 3-4 bulan (Depkes RI, 2012) dan tentunya angka ini akan meningkat pada pasien MDR-TB mengingat durasi pengobatan yang lebih lama. Pasien tuberkulosis yang kehilangan pekerjaan akan stres. Selain itu pasien juga stres karena pengobatan penyakit MDR-TB yang lama.

Salah satu dari tujuh peristiwa hidup yang paling menimbulkan stres dalam skala Family Inventory of Live Events (FILE) adalah stres karena sakit kronik.

Jika salah satu anggota keluarga mangalami penyakit tuberkulosis maka pasien akan stres karena penyakit yang dideritanya dan perannya dalam keluarga juga terganggu. Stres tersebut pada akhirnya akan menimbulkan kecemasan (Friedman, 2010).

Clark (2011) dalam studinya yang mengidentifikasi perbedaan proporsi kecemasan antara perempuan dengan laki-laki dan mendapati bahwa perempuan dua kali lebih rentan terhadap kecemasan daripada laki-laki dan juga menegaskan bahwa perempuan secara signifikan lebih cenderung ke arah emosi negatif, kritik diri, dan menggerutu tentang masalah. Beberapa studi menyebutkan bahwa perbedaan hormonal antara laki-laki dan perempuan mungkin memainkan peranan yang dapat menjelaskan mengapa perempuan secara biologis cenderung ke arah

Dokumen terkait