• Tidak ada hasil yang ditemukan

Simpul Kritis

Dalam dokumen Pedoman Teknis Pengembangan Tanaman Kare (Halaman 37-54)

1) Koordinasi antara Direktorat Tanaman Tahunan, petugas Dinas

Provinsi, Dinas Kabupaten,

Puslit/Balit/Instansi terkait, dan

2) Pemilihan lokasi/CPCL diusahakan lokasi yang mudah dijangkau dan di

monitor oleh petugas,

sehingga memudahkan pengadaan dan pengiriman bahan tanaman serta evaluasi kegiatan ke daerah tersebut.

3) Ketepatan bahan tanaman (benih karet) yang disalurkan merupakan klon unggul, dengan pertimbangan

bahwa benih merupakan salah

satu faktor kunci keberhasilan kegiatan

pengembangan tanaman karet;

4) Ketepatan waktu pengadaan dan pengiriman bahan tanaman untuk pengembangan tanaman

tahunan, sehingga tidak

menyebabkan keterlambatan.

5) Teknologi budidaya yang akan diterapkan harus sesuai dengan baku teknis serta kondisi di lapangan.

6) Penetapan waktu, frekuensi,

parameter pengamatan untuk meningkatkan produktivitas tanaman tahunan.

7) Ketersediaan sarana dan prasarana yang akan digunakan sebagai paket

teknologi budidaya tanaman

IV. PROSES PENGADAAN DAN PENYALURAN BANTUAN.

Proses pengadaan dan penyaluran kegiatan pengembangan karet dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Berdasarkan Keputusan

Bupati/Walikota atau Kepala Dinas/Badan Lingkup Pertanian atau pejabat yang ditunjuk tentang

Penetapan Kelompok Sasaran,

dilakukan proses pengadaan benih

karet unggul bermutu

bersertifikat siap tanam.

b. Prosedur pengadaan mengacu

pada Perpres 54 Tahun 2010

berikut perubahannya serta

Pedoman Pengadaan dan

Penatausahaan Barang Lingkup Satker Ditjen. Perkebunan Tahun 2013.

c. Kontrak pengadaan benih karet tersebut telah ditandatangani paling lambat

akhir triwulan I tahun 2013.

d. Penyaluran benih karet siap tanam dan atau saprodi lainnya kepada petani paling lambat menjelang awal musim hujan tahun 2013.

e. Penyaluran benih dan saprodi

tersebut kepada petani

terima barang sebagaimana format yang telah ditetapkan.

V. PEMBINAAN, PENGENDALIAN, PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN 1. Pembinaan

Pembinaan dalam kegiatan

pengembangan karet dilakukan secara berkelanjutan sehingga kelompok

tani/gapoktan penerima bantuan mampu mengembangkan usahanya secara mandiri. Untuk itu diperlukan dukungan dana pembinaan yang bersumber dari APBD.

2. Pengendalian

Pengendalian kegiatan

Pengembangan

Karet Rakyat dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya

penyimpangan (tidak sesuai dengan

perencanaan) dalam pelaksanaan.

Oleh karena itu, pengendalian

dilakukan sejak

perencanaan hingga

pelaksanaan.

3. Pengawalan dan Pendampingan

Rakyat tidak hanya menyediakan bantuan benih,

namun termasuk bimbingan dan

pengawalan/pendampingan oleh

Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten melalui unit teknis seperti

Dinas yang membidangi Perkebunan.

Bimbingan dan pengawalan/pendamping- an meliputi koordinasi antara Dinas yang membidangi Perkebunan Kabupaten ke lokasi, pengawalan di tingkat petani secara periodik dan

berkesinambungan oleh petugas

lapang (sejak penyiapan benih, penanaman hingga pemeliharaan).

VI. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

Monitoring, evaluasi dan pelaporan

mengacu kepada Keputusan Menteri Pertanian Nomor:

31/Permentan/OT.140/3/2010, tanggal 19

Maret 2010 tentang Pedoman sistem pemantauan, evaluasi dan pelaporan pembangunan pertanian. Dinas yang

membidangi perkebunan kabupaten dan provinsi wajib melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan secara berjenjang dilaporkan kepada Direktorat Jenderal Perkebunan, dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Jenis pelaporan a. SIMONEV yang meliputi:

x Kemajuan pelaksanaan kegiatan sesuai indikator kinerja;

x Perkembangan kelompok

sasaran dalam pengelolaan

kegiatan lapangan berikut realisasi fisik dan keuangan;

x Permasalahan yang dihadapi

dan upaya penyelesaian di

tingkat Kabupaten dan Provinsi;

x Format laporan

menggunakan format yang telah ditentukan;

b. Laporan perkembangan fisik yang sesuai tahapan pelaksanaan

kegiatan dengan

materi meliputi: nama petani/kelompok tani,

desa/kecamatan/kabupaten, luas

areal (target dan realisasi), waktu

pelaksanaan, perkembangan,

kendala dan permasalahan, upaya pemecahan masalah.

c. Laporan Akhir Kegiatan

yang menyangkut seluruh

pelaksanaan kegiatan ini. 2. Waktu penyampaian laporan:

a. SIMONEV dibuat per bulan dengan ketentuan:

x Pelaporan dinas yang

membidangi perkebunan

kabupaten ditujukan kepada provinsi,

disampaikan paling lambat setiap tanggal 5 bulan laporan.

membidangi perkebunan provinsi ditujukan kepada

Direktorat

Tanaman Tahunan Direktorat Jenderal

b. Laporan Perkembangan Fisik dibuat per triwulan, ditujukan

kepada Direktorat Tanaman

Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan, disampaikan paling lambat setiap tanggal 5 bulan laporan.

c. Laporan Akhir ditujukan

kepada Direktorat Tanaman

Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan,

disampaikan paling lambat tanggal 31 Desember 2013.

VII.

PEMBIAYAAN

Kegiatan Pengembangan Karet Rakyat Tahun anggaran 2013 dibiayai oleh dana APBN melalui DIPA Direktorat Jenderal Perkebunan Tugas Pembantuan (TP) Provinsi atau Kabupaten.

VIII.

PENUTUP

Dengan terlaksananya kegiatan

dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah, kesejahteraan petani di wilayah spesifik, serta serta menjaga wilayah perbatasan dari penjarahan negara lain.

Diharapkan dukungan semua pihak terkait, baik pusat maupun daerah untuk keberhasilan pelaksanaan kegiatan pengembangan tanaman karet.

Jakarta, Desember 2012 Direktur Jenderal

Perkebunan Ir. Gamal Nasir,

MS

NIP. 19560728 198603 1 001

Pedoman Teknis Pengembangan Tanaman Karet Tahun 4715 4715

23

Lampiran 1. Lokasi Pelaksanaan Pengembangan Karet Rakyat di Wilayah Spesifik Tahun 2013

PROVINSI KABUPATEN VOLUME

1,240.00 Ha 1 ACEH 1 Nagan Raya

100.00 Ha 2 Pidie Jaya 150.00 Ha 2 KEPRI 3 Natuna 150.00 Ha 4 Karimun 100.00 Ha 3 KALBAR 5 Sambas 140.00 Ha 6 Kapuas Hulu 150.00 Ha 7 Bengkayang 100.00 Ha 4 KALTIM 8 Penajam Paser Utara

100.00 Ha 9 Kutai Barat

100.00 Ha 5 PAPUA 10 Merauke

Lampiran 2. Lokasi Kegiatan Peremajaan Tanaman Karet Rakyat Tahun 2013

PROVINSI KABUPATEN VOLUM

E

9,653 Ha

1 ACEH 1 Aceh Timur 150 Ha

2 Aceh Jaya 100 Ha 2 SUMBAR 3 Pasaman 100 Ha 4 Dharmas Raya 100 Ha 5 Sijunjung 100 Ha 3 RIAU 6 Kampar 100 Ha 7 Rohil 100 Ha Meranti 100 5 KEPRI 8 Bintan 100 Ha 6 JAMBI 9 Sarolangun 800 Ha 10 Batanghari 800 Ha 11 Muaro Jambi 600 Ha 12 Tebo 600 Ha 13 Merangin 600 Ha 14 Bungo 600 Ha 15 Kerinci 218 Ha

Pedoman Teknis Pengembangan Tanaman Karet Tahun 4717 4717

25

7 SUMSEL 16 Muara Enim 125 Ha

17 Musi Rawas 250 Ha 18 PrabumulihKota 100 Ha 19 OKI 125 Ha 20 OKU 120 Ha 21 TengahBengkulu 100 Ha 22 Rejang Lebong 100 Ha 8 LAMPUNG 23 Lampung 100 Ha 24 Waykanan 200 Ha 9 BABEL 25 Bangka 150 Ha 26 TengahBangka 150 ha 10 BANTEN 27 Lebak 100 Ha 28 Pandeglang 100 Ha 11 JABAR Sukabumi Ha 29 Cianjur 100 Ha 30 Garut 100 Ha 31 Sumedang 100 Ha 12 KALBAR 32 Melawi 125 Ha 33 Sintang 150 Ha

13 KALTENG 34 BaratKotawaringin 100 Ha 35 Kapuas 100 Ha 36 TimurKotawaringin 100 Ha 37 Pulang Pisau 100 Ha 38 Gunung Mas 100 Ha 39 Barito Timur 100 14 KALSEL 40 Hulu Sungai 150 Ha 41 Tabalong 340 Ha 42 Banjar 200 Ha 43 Kotabaru 150 Ha 44 Tanah laut 100 Ha 45 Balangan 150 Ha 46 Tapin 150 Ha

15 KALTIM 47 KartanegaraKutai 100 Ha

Dalam dokumen Pedoman Teknis Pengembangan Tanaman Kare (Halaman 37-54)

Dokumen terkait