1) Koordinasi antara Direktorat Tanaman Tahunan, petugas Dinas
Provinsi, Dinas Kabupaten,
Puslit/Balit/Instansi terkait, dan
2) Pemilihan lokasi/CPCL diusahakan lokasi yang mudah dijangkau dan di
monitor oleh petugas,
sehingga memudahkan pengadaan dan pengiriman bahan tanaman serta evaluasi kegiatan ke daerah tersebut.
3) Ketepatan bahan tanaman (benih karet) yang disalurkan merupakan klon unggul, dengan pertimbangan
bahwa benih merupakan salah
satu faktor kunci keberhasilan kegiatan
pengembangan tanaman karet;
4) Ketepatan waktu pengadaan dan pengiriman bahan tanaman untuk pengembangan tanaman
tahunan, sehingga tidak
menyebabkan keterlambatan.
5) Teknologi budidaya yang akan diterapkan harus sesuai dengan baku teknis serta kondisi di lapangan.
6) Penetapan waktu, frekuensi,
parameter pengamatan untuk meningkatkan produktivitas tanaman tahunan.
7) Ketersediaan sarana dan prasarana yang akan digunakan sebagai paket
teknologi budidaya tanaman
IV. PROSES PENGADAAN DAN PENYALURAN BANTUAN.
Proses pengadaan dan penyaluran kegiatan pengembangan karet dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Berdasarkan Keputusan
Bupati/Walikota atau Kepala Dinas/Badan Lingkup Pertanian atau pejabat yang ditunjuk tentang
Penetapan Kelompok Sasaran,
dilakukan proses pengadaan benih
karet unggul bermutu
bersertifikat siap tanam.
b. Prosedur pengadaan mengacu
pada Perpres 54 Tahun 2010
berikut perubahannya serta
Pedoman Pengadaan dan
Penatausahaan Barang Lingkup Satker Ditjen. Perkebunan Tahun 2013.
c. Kontrak pengadaan benih karet tersebut telah ditandatangani paling lambat
akhir triwulan I tahun 2013.
d. Penyaluran benih karet siap tanam dan atau saprodi lainnya kepada petani paling lambat menjelang awal musim hujan tahun 2013.
e. Penyaluran benih dan saprodi
tersebut kepada petani
terima barang sebagaimana format yang telah ditetapkan.
V. PEMBINAAN, PENGENDALIAN, PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN 1. Pembinaan
Pembinaan dalam kegiatan
pengembangan karet dilakukan secara berkelanjutan sehingga kelompok
tani/gapoktan penerima bantuan mampu mengembangkan usahanya secara mandiri. Untuk itu diperlukan dukungan dana pembinaan yang bersumber dari APBD.
2. Pengendalian
Pengendalian kegiatan
Pengembangan
Karet Rakyat dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya
penyimpangan (tidak sesuai dengan
perencanaan) dalam pelaksanaan.
Oleh karena itu, pengendalian
dilakukan sejak
perencanaan hingga
pelaksanaan.
3. Pengawalan dan Pendampingan
Rakyat tidak hanya menyediakan bantuan benih,
namun termasuk bimbingan dan
pengawalan/pendampingan oleh
Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten melalui unit teknis seperti
Dinas yang membidangi Perkebunan.
Bimbingan dan pengawalan/pendamping- an meliputi koordinasi antara Dinas yang membidangi Perkebunan Kabupaten ke lokasi, pengawalan di tingkat petani secara periodik dan
berkesinambungan oleh petugas
lapang (sejak penyiapan benih, penanaman hingga pemeliharaan).
VI. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN
Monitoring, evaluasi dan pelaporan
mengacu kepada Keputusan Menteri Pertanian Nomor:
31/Permentan/OT.140/3/2010, tanggal 19
Maret 2010 tentang Pedoman sistem pemantauan, evaluasi dan pelaporan pembangunan pertanian. Dinas yang
membidangi perkebunan kabupaten dan provinsi wajib melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan secara berjenjang dilaporkan kepada Direktorat Jenderal Perkebunan, dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Jenis pelaporan a. SIMONEV yang meliputi:
x Kemajuan pelaksanaan kegiatan sesuai indikator kinerja;
x Perkembangan kelompok
sasaran dalam pengelolaan
kegiatan lapangan berikut realisasi fisik dan keuangan;
x Permasalahan yang dihadapi
dan upaya penyelesaian di
tingkat Kabupaten dan Provinsi;
x Format laporan
menggunakan format yang telah ditentukan;
b. Laporan perkembangan fisik yang sesuai tahapan pelaksanaan
kegiatan dengan
materi meliputi: nama petani/kelompok tani,
desa/kecamatan/kabupaten, luas
areal (target dan realisasi), waktu
pelaksanaan, perkembangan,
kendala dan permasalahan, upaya pemecahan masalah.
c. Laporan Akhir Kegiatan
yang menyangkut seluruh
pelaksanaan kegiatan ini. 2. Waktu penyampaian laporan:
a. SIMONEV dibuat per bulan dengan ketentuan:
x Pelaporan dinas yang
membidangi perkebunan
kabupaten ditujukan kepada provinsi,
disampaikan paling lambat setiap tanggal 5 bulan laporan.
membidangi perkebunan provinsi ditujukan kepada
Direktorat
Tanaman Tahunan Direktorat Jenderal
b. Laporan Perkembangan Fisik dibuat per triwulan, ditujukan
kepada Direktorat Tanaman
Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan, disampaikan paling lambat setiap tanggal 5 bulan laporan.
c. Laporan Akhir ditujukan
kepada Direktorat Tanaman
Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan,
disampaikan paling lambat tanggal 31 Desember 2013.
VII.
PEMBIAYAAN
Kegiatan Pengembangan Karet Rakyat Tahun anggaran 2013 dibiayai oleh dana APBN melalui DIPA Direktorat Jenderal Perkebunan Tugas Pembantuan (TP) Provinsi atau Kabupaten.
VIII.
PENUTUP
Dengan terlaksananya kegiatan
dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah, kesejahteraan petani di wilayah spesifik, serta serta menjaga wilayah perbatasan dari penjarahan negara lain.
Diharapkan dukungan semua pihak terkait, baik pusat maupun daerah untuk keberhasilan pelaksanaan kegiatan pengembangan tanaman karet.
Jakarta, Desember 2012 Direktur Jenderal
Perkebunan Ir. Gamal Nasir,
MS
NIP. 19560728 198603 1 001
Pedoman Teknis Pengembangan Tanaman Karet Tahun 4715 4715
23
Lampiran 1. Lokasi Pelaksanaan Pengembangan Karet Rakyat di Wilayah Spesifik Tahun 2013
PROVINSI KABUPATEN VOLUME
1,240.00 Ha 1 ACEH 1 Nagan Raya
100.00 Ha 2 Pidie Jaya 150.00 Ha 2 KEPRI 3 Natuna 150.00 Ha 4 Karimun 100.00 Ha 3 KALBAR 5 Sambas 140.00 Ha 6 Kapuas Hulu 150.00 Ha 7 Bengkayang 100.00 Ha 4 KALTIM 8 Penajam Paser Utara
100.00 Ha 9 Kutai Barat
100.00 Ha 5 PAPUA 10 Merauke
Lampiran 2. Lokasi Kegiatan Peremajaan Tanaman Karet Rakyat Tahun 2013
PROVINSI KABUPATEN VOLUM
E
9,653 Ha
1 ACEH 1 Aceh Timur 150 Ha
2 Aceh Jaya 100 Ha 2 SUMBAR 3 Pasaman 100 Ha 4 Dharmas Raya 100 Ha 5 Sijunjung 100 Ha 3 RIAU 6 Kampar 100 Ha 7 Rohil 100 Ha Meranti 100 5 KEPRI 8 Bintan 100 Ha 6 JAMBI 9 Sarolangun 800 Ha 10 Batanghari 800 Ha 11 Muaro Jambi 600 Ha 12 Tebo 600 Ha 13 Merangin 600 Ha 14 Bungo 600 Ha 15 Kerinci 218 Ha
Pedoman Teknis Pengembangan Tanaman Karet Tahun 4717 4717
25
7 SUMSEL 16 Muara Enim 125 Ha
17 Musi Rawas 250 Ha 18 PrabumulihKota 100 Ha 19 OKI 125 Ha 20 OKU 120 Ha 21 TengahBengkulu 100 Ha 22 Rejang Lebong 100 Ha 8 LAMPUNG 23 Lampung 100 Ha 24 Waykanan 200 Ha 9 BABEL 25 Bangka 150 Ha 26 TengahBangka 150 ha 10 BANTEN 27 Lebak 100 Ha 28 Pandeglang 100 Ha 11 JABAR Sukabumi Ha 29 Cianjur 100 Ha 30 Garut 100 Ha 31 Sumedang 100 Ha 12 KALBAR 32 Melawi 125 Ha 33 Sintang 150 Ha
13 KALTENG 34 BaratKotawaringin 100 Ha 35 Kapuas 100 Ha 36 TimurKotawaringin 100 Ha 37 Pulang Pisau 100 Ha 38 Gunung Mas 100 Ha 39 Barito Timur 100 14 KALSEL 40 Hulu Sungai 150 Ha 41 Tabalong 340 Ha 42 Banjar 200 Ha 43 Kotabaru 150 Ha 44 Tanah laut 100 Ha 45 Balangan 150 Ha 46 Tapin 150 Ha
15 KALTIM 47 KartanegaraKutai 100 Ha