• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang (Halaman 56-60)

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil Survei Persepsi Masyarakat (SPM) 2011 maka simpulan yang dapat diambil adalah:

1. Secara umum telah terjadi penurunan tingkat kesadaran, sikap, dan perilaku anti korupsi di kalangan masyarakat dibanding tahun sebelumnya, hal ini terlihat dari jawaban masyarakat yang mengetahui kelaziman korupsi di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 94,1%, namun pada tahun 2011 angka tersebut turun mencapai 92,1%. Hal ini berarti tingkat kepedulian masyarakat terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia mengalami penurunan.

2. Kesadaran, pengetahuan, sikap, dan kecenderungan perilaku masyarakat terhadap korupsi relatif tinggi (lebih dari 50%). Namun, bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi kemunduran sikap dan perilaku permisif masyarakat terhadap korupsi meningkat.

3. Pemahaman masyarakat terhadap korupsi tahun 2011 sebesar 74,73%. Nilai tersebut belum memenuhi target yang ingin dicapai oleh KPK sebesar 90,8%. Nilai pemahaman tersebut lebih rendah bila dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 75,71%.

4. Masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup terkait tugas KPK terutama dalam melaksanakan kegiatan sebagai berikut: (1) Melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan kasus tindak pidana korupsi (87,05%), (2) Menerima pengaduan dugaan tindak pidana korupsi dari masyarakat (78%), (3) Melakukan sosialisasi dan menyelenggarakan pendidikan anti korupsi (74,45%), (4) Mendaftar dan memeriksa Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) (72,95%). 5. Di lain pihak masyarakat memiliki pengetahuan yang rendah terkait tugas KPK

terutama dalam melaksanakan kegiatan sebagai berikut: (1) Menerima laporan gratifikasi (hadiah) dan menetapkan statusnya menjadi milik negara atau bukan

milik negara (56,5%), (2) Mengkaji sistem administrasi lembaga pemerintah/negara dalam rangka perbaikan kualitas pelayanan publik (58,5%), dan (3) Melakukan Koordinasi dan Supervisi dengan/terhadap lembaga penegak hukum/ penyelenggara negara lainnya (71%).

6.

Tingkat kepuasan akan kinerja KPK secara umum mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu hanya mencapai 27,7% dibandingkan pada tahun 2010 yang mencapai 49,4%, hasil ini juga tidak jauh berbeda dengan hasil yang dilaksanakan Harian Kompas Periode November 2011 yang menyatakan bahwa tingkat kepuasan masyarakat hanya mencapai 32%. Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat sebagian besar tidak puas atas upaya-upaya pencegahan dan penindakan korupsi yang dilakukan KPK selama tahun 2011

7.

Untuk tingkat kebutuhan masyarakat atas keberadaan KPK juga mengalami penurunan, yaitu mencapai 86,3% lebih rendah dibandingkan pada tahun 2010 yang mencapai angka 94,7%. Hasil ini menunjukkan masyarakat masih membutuhkan keberadaan KPK sepanjang KPK terus menunjukkan kinerja yang optimal dalam pemberantasan korupsi.

5.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan survei ini, maka saran yang disampaikan Direktorat Penelitian dan Pengembangan kepada Pimpinan KPK dan jajaran secara keseluruhan adalah: 1. KPK melakukan sosialisasi lebih intensif dalam rangka meningkatkan pemahaman

mengenai jenis korupsi yang terkait konflik kepentingan, gratifikasi, dan tindak pidana lain terkait korupsi pada masyarakat terutama Mahasiswa, Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI/POLRI, Pegawai Swasta dan Wiraswasta.

2. KPK mengkomunikasikan secara intensif mengenai jenis-jenis korupsi, dampak dan bahaya korupsi, di samping upaya penindakan terhadap tindak pidana korupsi kepada masyarakat, sehingga diharapkan dapat membantu dalam memvisualkan konsep korupsi yang abstrak.

3. Agar dapat lebih memenuhi ekspektasi masyarakat dalam upaya pemberantasan korupsi maka KPK dapat memfokuskan upayanya pada tiga sektor yang mengemuka dan menjadi prioritas menurut responden yaitu: (1) Bidang keuangan, perencanaan

pembangunan nasional, perbankan (23,53%); (2) Bidang pemerintahan dalam negeri dan daerah, aparatur negara (18,22%); dan (3) Bidang hukum, HAM dan keamanan (15,53%).

4.

Sebanyak 74,73% masyarakat pada tahun 2011 memiliki pemahaman yang baik dalam pengetahuan dan bahaya korupsi. Hasil perhitungan nilai tahun 2011 adalah 74,73% untuk nilai pemahaman pengetahuan dan bahaya korupsi. Jika target kenaikan adalah 20% dari target tahun dasar (karena angka indeks mengalami revisi, tahun dasar yang digunakan menjadi 2011) maka pada tahun 2011 target pencapaian nilai menjadi 90.8%. Pencapaian target ini merupakan tantangan yang tidak kecil di tengah keterbatasan waktu dan sumber daya yang ada. Terdapat dua alternatif langkah yang dapat ditempuh oleh KPK, yang pertama adalah membuat target yang ada menjadi lebih realistis atau yang kedua menyesuaikan strategi dan alokasi sumber daya yang dibutuhkan jika ingin tetap mencapai target tadi.

5. Beberapa tugas masih membutuhkan usaha lebih jauh dari KPK untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat ke tingkat yang lebih tinggi melalui sosialisasi, seperti tugas: (1) Menerima laporan gratifikasi (hadiah) dan menetapkan statusnya menjadi milik negara atau bukan milik negara; (2) mengkaji sistem administrasi lembaga pemerintah/negara dalam rangka perbaikan kualitas pelayanan publik; dan (3) Melakukan Koordinasi dan Supervisi dengan/terhadap lembaga penegak hukum/penyelenggara negara lainnya.

6. Diperlukan upaya yang komprehensif dalam menjawab timbulnya persepsi masyarakat mengenai rendahnya independensi KPK. Penting bagi KPK dalam melangkah untuk senantiasa mengkomunikasikan upaya-upaya yang dilakukannya, bersikap transparan, akuntabel, profesional, dan konsisten. Diharapkan hal ini dapat memperkecil peluang timbulnya persepsi negatif mengenai independensi KPK.

7. KPK perlu terus mendorong kecenderungan perilaku positif masyarakat seperti pelaporan LHKPN, gratifikasi dan dugaan tindak pidana korupsi ke KPK. Tindakan/kebijakan yang harus dilakukan oleh KPK ditujukan untuk mengurangi disparitas antara kecenderungan perilaku dengan perilaku sebenarnya melalui upaya-upaya yang memudahkan mereka untuk melapor (akses, metode dll).

a. Perlu ditambah dengan pengukuran terhadap perilaku lampau responden untuk melihat disparitas antara sikap, kecenderungan perilaku korupsi dan perilaku korupsi sebenarnya oleh responden yang diukur dari apakah mereka pernah melakukan perbuatan koruptif di masa lalu. Hal ini mengingat pengukuran ini memiliki kelemahan dalam hal bahwa perilaku sebenarnya yang diambil oleh responden bisa saja berbeda dengan perilaku yang dikatakan pada saat survei sehingga survei tidak dapat melihat disparitas antara perilaku yang diharapkan dan perilaku sebenarnya dari responden. b. Perlu dilakukan peningkatan alokasi sumber daya finansial untuk

memperbesar cakupan wilayah survei, jenis responden, dan peningkatan kompetensi enumerator. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki tingkat generalisasi, akurasi sampling dan memperkecil bias yang mungkin terjadi.

VI. DAFTAR PUSTAKA

1.

Direktorat Penelitian dan Pengembangan (2009), “Laporan Survei Persepsi Masyarakat 2009”, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

2.

Direktorat Penelitian dan Pengembangan (2008), “Laporan Survei Persepsi Masyarakat 2008”, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

3.

Direktorat Penelitian dan Pengembangan (2006), “Laporan Survei Persepsi Masyarakat 2006”, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

4.

Komisi Pemberantasan Korupsi (2007), “Stratejik Plan KPK 2007-2011” Dokumen Perencanaan Strategi KPK.

5.

Inacon (2007), “Menuju Indonesia Bebas Korupsi, Executive summary” Bahan Presentasi Riset Kuantitatif dan Kualitatif Mengenai Korupsi, Desember 2006.

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang (Halaman 56-60)

Dokumen terkait