• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR SINGKATAN

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Simpulan

Uraian hasil kajian tentang analisis komunikasi partisipatif dalam program pemberdayaan pada kasus implementasi musyawarah dalam PNPM MPd di lokasi penelitian dapat dijelaskan bahwa kegiatan PNPM MPd dikembangkan pada era dimana bangsa ini sedang mengalami masa transisi demokrasi dan menghadapi suksesi “kepemimpinan nasional” yang memungkinkan adanya tekanan atau mobilisasi dukungan politik melalui peluncuran program pembangunan kepada masyarakat secara masif. Ada kecenderungan bahwa perluasan cakupan lokasi kegiatan dari PPK menjadi PNPM MPd yang begitu besar terkesan dipaksakan oleh pemerintah. Hal ini ditunjukkan oleh perluasan cakupan lokasi tanpa dibarengi dengan proses peningkatan kualitas perangkat pelaku program termasuk fasilitator. Pemahaman pelaku termasuk fasilitator terhadap konsep PNPM MPd menjadi kurang utuh sehingga implementasi program hanya dipahami sebatas penyebaran informasi proyek, dan bukan sebagai proses penyadaran masyarakat guna memecahkan masalah yang dihadapinya secara mandiri sehingga menjadikan program tidak berhasil membawa misi pemberdayaan. Dapat juga dijelaskan bahwa penelitian ini dilaksanakan pada masyarakat beretnik Melayu Jambi yang memiliki karakter dan nilai yang bisa saja berbeda dengan tempat lain. Menjawab tujuan penelitian di awal pembahasan, peneliti dapat merinci simpulan penelitian sebagai berikut : 1. Realitas di lokasi penelitian menunjukkan bahwa peran fasilitator dominan pada aspek teknik, sementara peran fasilitasi dan pendidikan terkesan terabaikan. Hal ini disebabkan oleh jenis kegiatan PNPM MPd yang terlihat dominan pada aspek teknis yaitu pembangunan infrastruktur sehingga peran fasilitasi dan pendidikan sebagai ruh pemberdayaan menjadi terabaikan. 2. Hasil penelusuran peneliti berhasil merangkum makna kredibilitas fasilitator

perspektif partisipan, yaitu : (1) Kompetensi; (2) Berkarakter; (3) Karismatik; dan (4) Adaptif. Dari perspektif pelaku PNPM MPd dapat disimpulkan bahwa kredibilitas fasilitator menurun jika dibandingkan pada program PPK. Hal ini disebabkan oleh semakin longgarnya syarat rekruitmen calon fasilitator PNPM MPd jika dibandingkan dengan PPK dan tidak memadainya waktu pelatihan pra tugas calon fasilitator sebelum diturunkan ke lapangan sehingga praktis pelatihan hanya memberikan materi teknis.

3. Berbagai musyawarah dalam PNPM MPd yang peneliti ikuti dan fakta empirik di lapangan memberikan penjelasan bahwa, RTM juga tidak memiliki peluang dalam berpartisipasi. Hal ini ditandai dengan RTM selalu tidak menerima undangan untuk kegiatan PNPM MPd. Dengan demikian peluang RTM dalam pengambilan keputusan juga tidak ada karena musyawarah selalu didominasi oleh elit desa dan fasilitator. Komunikasi partisipatif yang mengakomodir keberagaman (heteroglasia) baik dari perspektif ekonomi maupun gender belum terimplementasi secara baik. RTM dan kelompok perempuan tidak dilibatkan dalam proses komunikasi pada aktivitas PNPM MPd. Sebagai sebuah program yang mengusung isu pemberdayaan, PNPM MPd mestinya menjadikan setiap aktivitasnya sebagai proses untuk “membantu partisipan” terutama RTM dan kelompok perempuan memperoleh “kuasa” untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan terkait dengan diri mereka. Dialog sebagai ciri komunikasi partisipatif juga belum terjadi pada berbagai musyawarah dalam PNPM MPd. Hal ini dapat dilihat dimana program belum menjamin dan memberikan setiap orang memiliki hak yang sama untuk berbicara atau untuk didengar. Kesan yang ditangkap dalam musyawarah tersebut, forum adalah “pengumuman” dari pelaku PNPM MPd sebagai perpanjangan tangan pemerintah bukan musyawarah yang selalu mengedepankan dialog. Partisipan terkondisikan oleh situasi dimana mereka harus menyepakati misi yang dibawa oleh pelaku PNPM MPd dari pemerintah. Partisipan tidak diberi kesempatan mempertanyakannya sehingga kesadaran kritis yang diharapkan muncul dari proses musyawarah tidak terjadi. Dengan merujuk pada konsep akses, heteroglasia dan dialog, komunikasi antara fasilitator dengan dan sesama partisipan dalam aktivitas PNPM MPd berlangsung secara tidak partisipatif. Proses komunikasi yang tidak partisipatif disebabkan oleh situasi dimana fasilitator tidak dapat menjalankan peran fasilitasi dan pendidikan secara optimal dan hanya dominan menjalankan peran teknik. Situasi dimana aktivitas pemberdayaan (empowerment) belum berjalan semestinya tersebut juga disebabkan oleh kredibilitas fasilitator yang cenderung menurun dibandingkan dengan program sebelumnya (PPK). Fakta dimana peran fasilitator tidak optimal dan kredibilitas fasilitator yang menurun ini disebabkan oleh “policy” pemerintah terhadap program yang kurang mendorong visi pemberdayaan.

Saran

Bertolak dari kesimpulan di atas, saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Para fasilitator (dalam hal ini sebagai komunikator) perlu memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep pemberdayaan (empowerment) dalam implementasi PNPM MPd. Untuk itu, kedepan, dalam perekrutan fasilitator harus dilakukan dengan lebih cermat dan berkualitas dan perlunya pembekalan atau pelatihan kepada mereka secara memadai.

2. Perlunya pelaksanaan sosialisasi program kepada masyarakat secara benar, dimana sosialisasi bukan semata penyebaran informasi proyek fisik, tetapi lebih dari itu, yaitu upaya membangun dialog dengan partisipan menuju penyadaran tentang permasalahan yang dihadapi dan tumbuhnya semangat untuk memecahkannya secara mandiri. Untuk itu diperlukan pelaku program yang mempunyai kualitas memadai dan memiliki kredibilitas yang mumpuni. 3. Perlunya monitoring dan evaluasi secara rutin kepada pelaku PNPM MPd di

semua tingkatan untuk memastikan bahwa proses pemberdayaan (empowerment) betul-betul dijalankan, dimana proses-proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara demokratis, mendengar dan memperhatikan suara partisipan untuk membangun daya dari partisipan.

DAFTAR PUSTAKA

Adi IR. 2003. Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas (Pengantar pada pemikiran dan Pendekatan Praktis). Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI

[Anonim]. Profil Desa Teluk Tahun 2008. Jambi: Kantor Kepala Desa Teluk Kecamatan Pemayung Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi.

Antoni. 2004. Riuhnya Persimpangan Itu. Profil dan Pemikiran Para Penggagas Kajian Ilmu Komunikasi. Solo: Tiga Serangkai.

Agusta I. 2007. Kritik Atas Komunikasi Pembangunan dan Program Pengembangan Kecamatan. Bogor: Sodality. Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi dan Ekologi Manusia. Vol. 01 No.03 Desember 2007. Departemen KPM IPB.

Bagus, L. 2002. Kamus Filsafat. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Bungin B. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2001. Data Statistik Indonesia [terhubung berkala].

http: //www.demografi.bps.go.id. [15 November 2008]

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2008. Batang Hari dalam Angka 2007. Badan Pusat Statistik Kabupaten Batang Hari 2008

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2008. Kecamatan Pemayung dalam Angka 2007. Badan Pusat Statistik Kabupaten Batang Hari 2008

Creswell JW. 2002. Research Design Qualitative & Quantitatif Approaches. Terjemahan oleh Angkatan III & IV KIK UI. Jakarta : KIK UI Press. [Depdagri] Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia. 2008. PTO (Petunjuk

Teknis Operasional) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan. Jakarta : Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan.

[Depdagri] Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia. 2008. Penjelasan PTO (Petunjuk Teknis Operasional) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan. Jakarta : Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan.

[Depdagri] Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia. 2008. Pedoman Umum (Pedum) PNPM Mandiri Tahun 2007/2008. Jakarta: Tim Koordinasi PNPM Mandiri .

Denzin. N.K. 1989. Interpretive Biography : Qualitative Research Method Series 17. Sage Publications

Dey I. 1993. Qualitative Data Analysis, A user-friendly Guide for social scientist. New York: Library of Congress Cataloging data.

Devito, 1997. Human Communication. Edisi Kelima. Jakarta: Professional Books. Dwivedi A. 2003. Metodelogi Pelatihan Partisipatif. Cetakan I Bantul: Pondok

Edukasi

Etzioni A.1964. Complex Organizations a Sociological Reader. New York: Holt Rinehart and Winston.

Freire P. 1984. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta : LP3ES.

Freire P. 1984. Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan. DiIndonesiakan oleh Alois A. Nugroho. Jakarta : PT. Gramedia.

Gube Egon G. Ed.1990. The Paradigm Dialog. Newbury Park. London. New Delhi: SAGE Publications.

Habermas J. 1984. Theory of Communicattive Action Boston: Beacon.

Hardiman FB. 1993. Menuju Masyarakat Komunikatif, Ilmu, Masyarakat Politik & Post Modernisme Menurut Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius. Hidayah N. 2005. Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Kelompok Swadaya

Masyarakat (Studi Kasus di Desa Wonokromo Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta). [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

Hidayat DN. 1999. Paradigma Klasik dan Hypoyheco Deductive Method. Bahan Penunjang Kuliah Metodologi Penelitian Sosial Program Studi Ilmu-ilmu social. Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Ife J. 1995. Community Development: Creating community lternatives-vision, analysis and practice, Australia: Longman Pty Ltd.

Khan M, Mackwon. 1997. Introduction to Political Science. Ontario:.Irwin-Dorsey Ltd.

Kuswarno E. 2008. Etnografi Komunikasi. Suatu Pengantar dan Contoh Penelitiannya. Bandung:Widya Padjajaran.

Melkote SR. 2006. Everett M. Rogers and His Contributions to the Field of Communication and Social Change in Developing Countries. Journal of Creative Communications 1:1 (2006) SAGE PUBLICATIONS New Delhi: l Thousand Oaks l London

Miles MB, Huberman AM. 1992. Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI- Press).

Moelong LJ. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Muchtar. 2007. Strategi Pemberdayaan Berbasis Kelembagaan Lokal Dalam Penanganan Kemiskinan Perkotaan(Kasus Implementasi P2KP di Desa Sukadanau). Jakarta: Jurnal BALATBANGSOS Departemen Sosial Republik Indonesia.

Nasdian. 2003. Pengembangan Masyarakat (Community Development). Bogor: Bagian Ilmu-ilmu Sosial, Komunikasi dan Ekologi Manusia. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi. Fakultas Pertanian-IPB.

Rahim SA. 2004. Participatory Development Communication as a Dialogical Process dalam White, SA. 2004. Participatory Communication Working for Change and Devwelopment. New Delhi: Sage Publication India Pvt Ltd

Rachman ZM. 2007. Teknik Fasilitasi Partisipasi Pendampingan Masyarakat. Tim Partnership for e-Prosperity for the poor (Pe-PP). Jakarta: Bappenas-UNDP.

Rogers EM. 1985. Komunikasi dan Pembangunan Perspektif Kritis. Jakarta: LP3ES.

Ritzer G, Douglas JG. 2004. Teori Sosiologi Modern (terjemahan dari Modern Sociological Theory oleh Alimandan). Jakarta : Penerbit Kencana

Sahab K. 2002. Perubahan Nilai-nilai Sosial Budaya, Kajian Kasus Perubahan Fungsi Lahan Pertanian ke Non Pertanian Pada Masyarakat Bengkulu [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor

Salim A. 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: PT Tiara Wacana

Saribanon N. 2007. Perencanaan Sosial Partisipatif dalam Pengelolaan Sampah Permukiman Berbasis Masyarakat (Kasus di Kotamadya Jakarta Timur). [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarja. Institut Pertanian Bogor.

Sarwititi. 2005. Tantangan Intelektual Terhadap ‘Komunikasi Pembangunan. Bogor: Jurnal Komunikasi Pembangunan Vol.03, No.1. Februari 2005. Sastrosasmita S. 1998. Pemberdayaan Desa-Kota bagi Penanggulangan

Kemiskinan di Perdesaan. Jakarta: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota

Servaes.J. 2002. Communication for development: one world, multiple cultures. Second printing. The Hampton Press, INC, Cresskill, New Jersy

Solihin T 2005. Evaluasi Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dalam rangka Pemberdayaan Masyarakat. Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor

Smith WA. 2008. Conscientizacao: Tujuan Pendidikan Paulo Freire. Diterjemahkan dari The Meaning of Conscientizacao, The Goal of Paulo Freire’s Pedagogi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Cetakan II .

Spradley.JP. 1997. Metode Etnografi.. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana

Suparjan. 2003. Pengembangan Masyarakat : dari Pembangunan sampai Pemberdayaan. Yogyakarta: Aditya Media.

Sutaryo. 2005. Sosiologi Komunikasi Perspektif Teoritik. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.

Susanto. S. 2007. Hubungan Ethos Komunikator dengan Sistem Latihan dan Kunjungan dalam Meningkatkan Keberhasilan Penyuluhan Pertanian Lapangan. [Tesis]. Bandung: Program Pascasarjana. Universitas Padjajaran.

Silverman D. 1993. Interpreting Qualitative Data : Methods for Analysis talk, text and interaction. Sage publications. London, thousand oals. New Delhi Sitorus MT. 1998. Penelitian Kualitatif : Suatu Perkenalan. Bogor: Dokumen Ilmu-

Ilmu Sosial IPB.

White RA. 2004. Is “Empowerment The Answer “? Current Theory and Research on Development Communication ? International Communication Gazette 2004; 66; 7. Copy right 2004 by Sage Publications

Wiradi G. Metodologi Studi Agraria : Karya terpiliha Gunawan Wiradi. Bogor: Sajogyo Institute.

Wrihatnolo. RR. 2007. Manajemen Pemberdayaan, Sebuah Pegantar dan Panduan Untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: PT. Elek Media Komputindo. Kelompok Gramedia.

Yunus FM. 2005. Pendidikan Berbasis Realitas Sosial Paulo Freire & YB. Mangunwijaya. Yogyakarta: .Logung Pustaka.

Zainuri. M. 2005. Pemberdayaan Keluarga Miskin dalam Program Pengembangan Kecamatan menurut Perspektif Pekerjaan Sosial (Studi Kasus di Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau). [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Instiut Pertanian Bogor.

Lampiran 2. Metoda Pengumpulan Data dan Informasi Penelitian

Sumber Data Jenis Data/Informasi Metode Waktu

BPS, Dinas KSPM Provinsi Jambi, KM Prov PNPM MPd Jambi, Pemkab Batanghari, BPMD Kab Batanghari, Kantor Kecamatan Pemayung dan Kantor Kepala Desa Teluk.

1. Data Sekunder 2. Indikator keberhasilan

kegiatan PNPM MPd 3. Persepsi tentang

kredibilitas fasilitator dan perannya di lokasi kegiatan PNPM MPd Studi Dokumentasi dan Wawancara 2 Minggu Fasilitator Kabupaten 1. Fasilitator Pemberdayaan 2. Fasilitator Teknik 1. Info Pelaksanaan PNPM-MP/Kecamatan 2. Info tentang kecamatan

yang berhasil melaksanakan PNPM- MP 3. Indikator keberhasilan kegiatan PNPM-MP 4. Persepsi tentang kredibilitas fasilitator dan perannya di lokasi kegiatan PNPM MPd Wawancara mendalam dan studi dokumentasi 2 Minggu Fasilitator Kecamatan 1. Fasilitator Pemberdayaan 2. Fasilitator Teknik 1. Proses Pelaksanaan PNPM- MP di Kecamatan Pemayung 2. Peta sosial lokasi

PNPM-MP

3. Aktivitas komunikasi di lokasi kegiatan program

Wawancara mendalam, studi dokumentasi dan pengamatan berperan serta 2 Bulan

Unsur Masyarakat/Penerima Program 1. Tokoh Adat dan

Budaya 2. Tokoh Agama 3. Tokoh Perempuan 4. Tokoh Pemuda 5. Rumah Tangga Miskin

(RTM)

1. Pelaksanaan kegiatan PNPM-MP dan peran fasilitator di setiap tahapan kegiatan 2. Peta sosial wilayah dan

partisipan penerima PNPM MPd

3. Riwayat dan Kredibilitas Fasilitator di lokasi kegiatan. 4. Harapan dan capaiannya dalam kegiatan PNPM MPd: perspektif partisipan. 5. Aktivitas komunikasi di

lokasi kegiatan program

Pengamatan berperan serta dan wawancara mendalam 2 Bulan