Simpulan
Proporsi perlemakan hati pada pasien kenker payudara sebesar 53%. Rata – rata usia contoh adalah 51 tahun. Proporsi usia contoh di atas 50 tahun lebih banyak ditemukan pada contoh perlemakan hati. Rata – rata usia menarche contoh adalah 13 tahun. Proporsi usia menarche ≤12 tahun lebih banyak ditemukan pada kelompok normal. Rata – rata usia menopause contoh adalah 47.3 tahun. Sebagian besar contoh mengalami menopause pada usia ≤50 tahun. Usia menopause di atas 50 tahun banyak ditemukan pada contoh perlemakan hati. Tingkat pendidikan sebagian besar berada pada jenjang SMA dan perguruan tinggi. Proporsi jenis pekerjaan baik contoh adalah ibu rumah tangga (IRT), yaitu sebesar 70%. Sebagian besar contoh tidak memiliki riwayat kanker payudara pada keluarga. Proporsi contoh normal yang memiliki riwayat kanker payudara pada keluarga lebih besar daripada contoh perlemakan hati. Proporsi stadium kanker payudara baik contoh perlemakan hati maupun normal berada pada stadium II dengan lama sakit kanker payudara lebih dari satu tahun. Rata – rata lama sakit pada contoh adalah 2.5 tahun sejak awal terdiagnosis kanker payudara. Proporsi contoh yang menggunakan terapi hormonal berupa tamoxifen banyak ditemukan pada contoh perlemakan hati akan tetapi sebagian besar contoh tidak menggunakan tamoxifen. Rata – rata lama penggunaan tamoxifen pada kedua contoh adalah ±4.3 bulan. Sebagian besar contoh tidak mengalami riwayat penyakit yang berhubungan dengan sindrom metabolik, seperti diabetes mellitus dan hipertensi.
Sebagian besar contoh perlemakan hati memiliki status gizi obesitas sedangkan contoh normal memiliki status gizi normal. Proporsi baik contoh perlemakan hati dan normal memiliki tingkat pengetahuan gizi dalam kategori sedang. Proporsi tingkat aktivitas fisik ringan pada contoh perlemakan hati lebih banyak daripada normal akan tetapi sebagian besar contoh memiliki tingkat aktivitas fisik dalam kategori ringan. Proporsi konsumsi buah dan sayur dalam kategori kurang lebih banyak pada contoh perlemakan hati dibanding kelompok normal. Sebagian besar contoh memiliki frekuensi konsumsi makanan berlemak dalam kategori sering dengan proporsi lebih besar pada contoh perlemakan hati daripada contoh normal. Tingkat kecukupan energi, protein dan karbohidrat contoh mayoritas tergolong defisit berat sedangkan tingkat kecukupan lemak tergolong dalam kategori defisit berat hingga cukup. Asupan serat pada contoh mayoritas tergolong dalam kategori kurang. Hal ini berkaitan dengan pola konsumsi contoh yang tidak teratur dan sebagian besar contoh sedang menjalani terapi kanker seperti kemoterapi dan terapi hormonal berupa pemberian obat – obatan secara oral dimana pengaruh dari terapi yang dijalani secara umum menyebabkan penurunan nafsu makan, rasa mual dan muntah serta perubahan indera. Terapi kanker dapat mempengaruhi kebutuhan gizi secara nyata dan berpengaruh pada sistem pencernaan, penyerapan dan metabolisme.
Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan, kegemukan dan konsumsi makanan berlemak dengan perlemakan hati. Tidak terdapat hubungan signifikan antara usia >50 tahun, usia 40 – 50 tahun, usia menarche, usia menopause, tingkat pengetahuan gizi, tingkat
41 aktivitas fisik, konsumsi buah dan konsumsi sayur dengan perlemakan hati. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko perlemakan hati pada pasien kanker payudara adalah kegemukan (OR =5.528, 95%CI : 1.881 – 16.243) dan konsumsi makanan berlemak (OR = 3.820, 95%CI : 1.084 – 13.455). Orang yang memiliki status gizi lebih akan beresiko 5.5 kali dan orang yang sering mengonsumsi makanan berlemak dengan frekuensi ≥7 kali per minggu akan beresiko 3.8 kali mengalami perlemakan hati dibandingkan dengan orang dengan status gizi normal dan tidak sering mengonsumsi makanan berlemak. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menghindari terjadinya perlemakan hati sebaiknya selalu menjaga berat badan ideal dan mengurangi konsumsi makanan berlemak dengan menerapkan pola hidup sehat sesuai pedoman gizi seimbang.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian bahwa terdapat proporsi perlemakan hati yang tinggi pada pasien kanker payudara. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan ultasonografi hati untuk semua pasien kanker payudara dan menilai derajat perlemakan hati yang terjadi pada pasien – pasien tersebut sebagai tambahan data untuk klinisi. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai variabel lainnya seperti konsumsi fast food, konsumsi soft drink, profil lipid darah, riwayat penyakit yang berhubungan dengan sindrom metabolik (obesitas sentral, diabetes mellitus, hipertensi, dislipidemia dan resistensi insulin), penyakit hepatitis dan jenis terapi kanker yang diberikan kepada pasien kanker payudara. Selain itu, supaya peneliti selanjutnya menggunakan desain penelitian cohort study agar terlihat lebih jelas mengenai faktor apa saja yang benar – benar mempengaruhi kejadian perlemakan hati pada pasien kanker payudara dengan jumlah contoh yang lebih besar. Saran untuk pasien kanker payudara, yaitu melakukan monitoring fungsi hati melalui pemeriksaan USG abdomen paling sedikit setiap 3 – 6 bulan sekali serta menerapkan pola hidup sehat sesuai dengan pedoman gizi seimbang seperti mengonsumsi makanan beragam, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, melakukan aktivitas fisik serta menjaga berat badan ideal.
Pada hakekatnya masalah gizi yang berkaitan dengan perlemakan hati seperti kegemukan dan kebiasaan konsumsi makanan yang tinggi lemak merupakan masalah perilaku. Oleh karena itu diharapkan supaya masyakat lebih peduli terhadap kesehatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan pendapatan seseorang seharusnya akan lebih mudah mendapatkan akses kesehatan serta kemudahan terhadap akses pangan yang sehat dan bergizi. Selain dari kesadaran individu, peran stakeholder juga diperlukan untuk mempromosikan pentingnya gizi dan kesehatan melalui kegiatan promotif dan preventif pada tingkat masyarakat melalui dinas kesehatan dan bekerjasama melalui lintas sektoral. Langkah yang dilakukan adalah peningkatan kemampuan KIE, kerja sama lintas sektoral, penyuluhan, pengembangan media, kegiatan-kegiatan yang menunjang perilaku hidup sehat. Indikator yang dapat dijadikan penilaian atas hasil kerja yang dilakukan adalah turunnya prevalensi perlemakan hati dan penyakit tidak menular lainnya, serta terbentuknya perilaku hidup sehat dalam masyarakat.
42