• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIMPULAN: FRAGMENTASI SOLIDARITAS KELOMPOK ISLAM PROGRESIF DALAM KEBIJAKAN LUAR NEGERI

Pada tanggal 27 Desember 2019 kelompok konservatif berjumlah lebih dari 1000 orang yang terafiliasi melalui Gerakan Nasional Pengawal Fatwa, FPI, dan beberapa organisasi lainnya menembus Jakarta dan berhenti di depan Kedutaan Besar Cina. Mereka membangun solidaritas aksi dengan nama ‘Aksi Bela Uighur’ untuk menyerukan luka HAM yang dihadapi oleh Muslim Uighur akibat rezim komunis di Cina. Seruan mereka ditampilkan pada berbagai spanduk, salah satunya bertulisan ‘Stop Genocide’, ‘Save Muslim Uighur’, ‘China is Terrorist’, dll. Keinginan aksi ini adalah berbicara langsung pada Dubes Cina untuk Indonesia Xiao Qian.

Namun, dubes tak kunjung tampil dihadapan pasukan aksi. Ketua FPI Jakarta Muhsin bin Zeid Alatas dalam wawancaranya, “Kenapa? karena mereka tidak punya agama. Mereka tidak mengenal Tuhan, tidak percaya dengan Tuhan. Maka mereka kejam, lebih kejam daripada binatang (VOA Indonesia, 2019).”

Di lain pihak, pemimpin Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif menyatakan bahwa bungkamnya pemerintah Indonesia pada isu Uighur menghasilkan dua kekecawaan besar (VOA Indonesia, 2019). Pertama, pemerintah Indonesia dianggap berpangku tangan melihat penindasan Muslim Uighur, dan kedua pemerintah telah mengabaikan prinsip nasionalisme dalam rangka menjunjung nilai Pancasila yang telah tertulis juga dalam Undang-Undang Dasar 1945, yakni “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Aksi ini berhenti pada kekecewaan bukan sekedar ketidakberhasilan mereka berbicara dengan Xiao Qian. Lebih dari itu, mereka harus menelan pil pahit bahwa narasi kepentingannya justru terfragmentasi sejak populisme Islam itu bangkit. Dengan kata lain, kepentingan-kepentingan ‘Ummat’ menjadi mitos yang terus dibangun guna direpresentasikan dalam kebijakan Jokowi, karena menghadapi fragmentasi solidaritas yang sejatinya telah berlangsung sebelum era Jokowi. Jelasnya, sumber mobilisasi utama yang tersedia pada pasca Orde Baru terletak pada Islam itu sejak awal menjadi tunggangan semata.

Mengapa demikian? Mudhoffir, dkk (2017) mengklaim ada dua alasan mendasar yang megakibatkan populisme Islam itu hanya menjadi jualan kelompok oligarki-predatoris

Pertama, gerakan politik progresif sejak awal mengalami senjakala atau absen sama sekali.

Indonesia yang tampil sebagai negara pasca-kolonial tidak memiliki akar yang kuat dalam menghasilkan tradisi progresif. Kekuatan politik progresif dieksklusi semenjak tragedi

‘Gerakan 30 Sepetember Partai Komunis Indonesia’. Peristiwa pembantaian dilakukan oleh negara berlangsung secara terorganisir, di mana melibatkan tidak hanya kalangan militer, melainkan juga pelibatan kelompok-kelompok sipil yang menggunakan identitas Islam serta nasioanalis-sekuler. Diskursus dan ideologi progresif yang berseberangan dari Pancasila adalah musuh negara. Soeharto tampil secara berhasil dalam mengeliminasi berbagai kemungkinan kelahiran antagonism politik, termasuk kelompok Islam (Hadiz & Bouchier, 2003).

Kedua, tampilnya krisis representasi dan tekanan elektoralisme sehingga tercipta mobilisasi narasi identitas sebagai jalan pintas. Dalam beberapa perhatian, kemunculan populisme Islam di Indonesia disebabkan oleh adanya dislokasi demokrasi representatif yang menjadikan opsi-opsi politik yang tersedia melalui mekanisme elektoral sejak awal memang terbatas. Bahkan, tidak ada. Selama masa Orde Baru, Indonesia tampil sebagai negara otokratis yang mengakibatkan representasi politik tentu saja mengalami penjinakan bahkan krisis yang mengindikasikan proyek politik progresif berada dalam inkubasi ‘depolitisasi’. Di sisi lain, kelas kapitalis Cina domestik yang tidak memliki akses politik akibat narasi anti-Cina yang kian diproduksi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah dan juga elit penguasa menjadikan mereka membentuk ‘aliansi predatoris’ dalam kompetisi elektoral. Jalan pintasnya adalah mereka dibutuhkan oleh partai-partai politik yang tidak memiliki basis kelompok kelas menengah atas. Keadaan ini justru menandai keberlangsungan krisis representasi. Meski legitimasi kekuasaan Soeharto mulai merosot sejak 1980-an akibat menghadapi friksi internal, sekaligus kekecawan oposan kian meluas (Aspinall, 2005), bukan berarti menjadi momentum untuk mengkonsolidasikan representasi progresif. Sebaliknya, gerakan politik progresif hanya terfokus untuk menjatuhkan rezim status-quo, bukan dalam rangka mengkonsolidasikan agenda politik yang sesungguhnya pasca Orde Baru.

Tidak mengherankan hari-hari reformasi masih diisi oleh rezim oligarkis yang notabene mereka telah eksis dalam rezim sebelumnya. Artinya, mereka hanya bermetamorfosis dalam rangka untuk mempertahankan hegemoninya dalam era demokrasi. Kedudukan-kedudukan aliansi predatoris ini memanfaatkan demokrasi sebagai konsolidasi oligarki. Alih-alih demokrasi yang dimajinasikan sebagai mekanisme politik dalam rangka membangun kebaikan bersama, namun yang terjadi adalah palagan baru perebutan kekuasaan dan akumulasi kekayaan guna kepentingan elit predatoris.

Dengan kondisi ini, maka era pasca Orde Baru memperlihatkan borok yang kian menganga, bahwa telah terjadi krisis representasi. Jelasnya, demokrasi yang berlangsung telah berwajah penggalangan suara dalam kontestasi electoral bukan berpijak pada agenda politik jangka panjang dengan bangunan basis sosial atas nama politik rente, akumulasi kapital, politik kekerasan, dan bahkan politisasi berbasis sentimen identitas keagamaan (Hadiz, 2010). Hal ini juga menjelaskan politisasi identitas yang eksklusioner itu menjadi jalan pintas.

Atmosfer sosial-politik pasca Orde-Baru memperlihatkan bahwa absennya agenda politik progresif tidak hanya menghasilkan krisis demokrasi representatif, melainkan juga membuat pengorganisasian menjadi sangat terfragmentasi, termasuk menyangkut aliansi yang mengatasnamakan populisme Islam. Bagi Hadiz (2019), fragmentasi populisme Islam itu

disebabkan oleh konsolidasi ‘Ummat’ sejak awal tidak terbangun secara mengakar pasca menghadapi depolitisasi di bawah rezim Soeharto. Alih-alih menyodorkan resistensi terhadap kebijakan populis nasionalis-sekular, dengan mudah mereka terpental. Meski mereka membangun kekuatan bersama dengan kekuatan predatoris, tetapi suara mereka tidak memiliki klaim representasi nyata.

Pembuktian itu paling nyata semenjak Prabowo yang dianggap sebagai tokoh yang disimbolisasikan untuk merepresentasikan kelompok Islam konservatif, justru memilih untuk berpaling dari mereka di kemudian hari pasca kemenangan Jokowi periode kedua. Dengan demikian, krisis representasi semakin tampil yang mengindikasikan tesis sederhana, bahwa pengaruh atau representasi suara kelompok Islam yang secara khusus adalah ‘Ummat’ telah tereksklusi dalam arena kebijakan luar negeri Jokowi, yang pada gilirannya juga diskursus populisme yang terbangun yang mewarnai rezim kebijakan luar negeri Jokowi adalah populis-pragmatisme.

REFERENSI

Hatta, M., 1976. Mendayung Antara Dua Karang. Jakarta: Bulan Bintang.

Sukma, R., 1997. Indonesia's bebas-aktif foreign policy and the ‘security agreement’ with Australia. Australian Journal of International Affairs, 51(2), pp. 231-241.

Leifer, M., 1983. Indonesia's foreign policy. London: George Allen& Unwin.

Sukma, R., 2003. Islam in Indonesian foreign policy. London: Routledge.

Ibrahim, A., 1985. Readings on Islam in Southeast Asia. Singapore: ISEAS.

Vickers, A., 2001. The New Order: keeping up appearances. Dalam: G. Llyod & S. Smith, penyunt. Indonesia today: challenges of history. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.

Hooker, M. B., 1983. Islam in Southeast Asia. Leiden: E.J Brill.

Liddle, W. R., 1996. The Islamic turn in Indonesia: a political explanation'. The Journal of Asian Studies, 3(August), pp. 613-634.

Nakamura, M., 1993. The Emergence of Islamizing Middle Class and the Dialectics of Political Islam in. Hawai, University of Hawai.

Perwita, A. A. B., 2007. ndonesia and the World Muslim: Islam and secularism in the foreign policy of Soeharto and beyond. Copenhagen: NIAS Pers.

Azra, A., 2006. Indonesia, Islam, and democracy: Dynamics in a global context.. Jakarta:

Solstice.

Wenstein, F. B., 1976. Indonesian foreign policy and the dilemma of dependence. Ithaca:

Cornel University Press.

Hasan, N., 2005. September 11 and Islamic militancy in post-new order Indonesia. Dalam: K.

S. Nathan & M. H. Kamali, penyunt. Islam in Southeast Asia: Political, Social and Strategic Challenges for the 21st Century. Singapore: ISEAS, pp. 301-324.

Smith, A. L., 2003. A Glass Half Full: Indonesia-U.S. Relations in the Age of Terror.

Contemporary Southeast Asia, 25(3), pp. 449-472.

Anwar, D. F., 2005. Indonesia at large: Collected writings on ASEAN, foreign policy, security and democratization. Jakarta: The Habibie Center.

Murphy, A. M., 2010. US Rapprochement with Indonesia: From Problem State to Partner.

Contemporary Southeast Asia, 32(3), pp. 362-87.

Malley, M. S., 2002. Indonesia in 2001: Restoring Stability in Jakarta. Asian Survey, 42(1), pp.

124-132.

Smith, A. L., 2010. Reluctant partner: Indonesia's response to U.S. security policies. Asian Affairs: An American Review, 30(2), pp. 142-150.

Ellemers, N., Spears, R. & Doosje, B., 2002. Self and Social Identity. Annual Review of Psychology, Volume 53, pp. 161-186.

Stets, J. & Burke, P., 2000. Identity Theory and Social Identity Theory. Social Psychology Quarterly, 63(3), pp. 193-205.

Kowert, P., 2001. Towards A Constructivist Theory of Foreign Policy. Dalam: V. Kubalkova, penyunt. Foreign Policy in A Constructed World. London: : M. E. Sharpe.

Kowert, P., 1998. Agent versus Structure in the Construction of National Identity. Dalam: V.

Kubalkova, N. Onuf & P. K. Kowert, penyunt. International Relations in A Constructed World. London: M.E. Sharpe.

Finnemore, M. & Sikkink, K., 1999. International Norm Dynamics and Political Change.

Dalam: P. Katzenstein, R. Keohane & S. Krasner, penyunt. Exploration and Contestation in the Study of World Politics. Cambridge: MIT Press, p. 247–277.

Huda, N., 2014. Pergeseran Ideologi Al-Ikhwan Al-Muslimun dari Islam Fundamentalis menjadi Islam Moderat. Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, 4(1), pp. 251-284.

Capie, D., 2004. Between a Hegemon and a Hard Place: The ‘war on Terror’and Southeast Asian–Us Relations. The Pacific Review, 17(2), pp. 223-248.

Hadiz, V. R., 2006. Indonesia: Order and Terror in a Time of Empire. Dalam: V. R. Hadiz, penyunt. Empire and Neoliberalism. London: Routledge.

Sukma, R., 2012. Domestic Politics and International Postures: Constraints and Possibilities.

Dalam: A. Reid, penyunt. Indonesia Rising: The Repositioning of Asia’s Third Giant.

Singapore: ISEAS.

Rabasa, A., 2007. Building Moderate Muslim Networks. Santa Monica: RAND Corporation.

Yi, S.-c. & Melissen, J., 2011. Public Diplomacy and Soft Power in East Asia. New York:

Palgrave.

Arifianto, A. R., 2020. The State of Political Islam in Indonesia: The Historical Antecedent and Future Prospects. Asia Policy, 15(4), pp. 111-132 .

Laclau, E., 2005. On Populist Reason. London: Verso.

Mudde, C., 2007. Populist Radical Right Parties in Europe. New York: Cambridge University Press.

Hadiz, V. R. & Robison, R., 2017. Competing Populisms in Post-Authoritarian Indonesia.

International Political Science Review , 38(4), p. 488–502.

Mietzner, M., 2015. Indonesia in 2014: Jokowi and the Repolarization of Post-Soeharto Politics. Dalam: D. Singh, penyunt. Southeast Asian Affairs 2015. Singapore: ISEAS, pp.

19-138.

Norris, P. & Inglehart, R., 2019. Cultural Backlash: Trump, Brexit, and Authoritarian Populism. Cambridge: Cambridge University Press.

Hadiz, V. R., 2019. Populisme Islam di Indonesia dan Timur Tengah. Depok: LP3ES.

Jati, W. R., 2017. Trajektori Populisme Islam di Kalangan Kelas Menengah Muslim Indonesia.

Prisma, 36(3), pp. 19-27.

Bruinessen, M. v., 2013. ontemporary Developments in Indonesian Islam: Explaining the

“Conservative Turn”. Singapore: ISEAS.

Mietzner, M., 2015. Reinventing Asian Populism: Jokowi’s Rise, Democracy, and Political Contestation in Indonesia. Honolulu: East-West Center.

Mietzner, M., 2020. Rival populisms and the democratic crisis in Indonesia: Chauvinists, Islamists and technocrats. Australian Journal of International Affairs, 74(4), pp. 420-438.

Setkab, 2015. Pembukaan KAA ke-60, Presiden Jokowi Ajak Negara Asia Afrika Dukung Negara Palestina. [Online]

Available at: https://setkab.go.id/pembukaan-kaa-ke-60-presiden-jokowi-ajak-negara-asia-afrika-dukung-negara-palestina/

[Diakses 20 Juli 2021].

Tempo, 2015. Di KAA Bandung, Jokowi Kembali Serukan Kemerdekaan Palestina. [Online]

Available at: https://nasional.tempo.co/read/660527/di-kaa-bandung-jokowi-kembali-serukan-kemerdekaan-palestina

[Diakses 21 Juli 2021].

Antara News, 2016. KTT OKI Akan Keluarkan Deklarasi Jakarta. [Online]

Available at: https://www.antaranews.com/berita/546808/ktt-oki-akan-keluarkan-deklarasi-jakarta

[Diakses 2021 Juli 2021].

Republika, 2016. Presiden Undang Akademisi Bahas Aksi Usai KTT OKI. [Online]

Available at: https://www.republika.co.id/berita/o44d48394/presiden-undang-akademisi-bahas-aksi-usai-ktt-oki

[Diakses 21 Juli 2021].

Setkab, 2017. Berbicara di KTT Luar Biasa OKI, Presiden Jokowi Sampaikan Enam Usulan.

[Online]

Available at: https://setkab.go.id/berbicara-di-ktt-luar-biasa-oki-presiden-jokowi-sampaikan-enam-usulan/

[Diakses 21 Juli 2021].

Media Indonesia, 2016. Konsulat RI di Ramallah Berdiri. [Online]

Available at: https://mediaindonesia.com/internasional/34164/konsulat-ri-di-ramallah-berdiri

[Diakses 21 Juli 2021].

Berita Satu, 2014. Terpilih, Jokowi-JK Akan Buka KBRI di Ramallah. [Online]

Available at: https://www.beritasatu.com/pemilu2014-aktualitas/192238/terpilih-jokowijk-akan-buka-kbri-di-ramallah

[Diakses 21 Juli 2021].

Reuters, 2018. Tracking China's Muslim Gulag. [Online]

Available at: https://www.reuters.com/investigates/special-report/muslims-camps-china/

[Diakses 28 Agustus 2021].

Zenz, A., 2018. Xinjiang's Re-Education and Securitization Campaign: Evidence from

Domestic Security Budgets. China Brief: A Journal of Analysis and Information, 18(17).

Furtun, F., 2010. Turkish-Chinese Relations in the Shadow of the Uyghur Problem, Istanbul:

GPT.

Republika, 2018. Soal Muslim Uighur, JK: Indonesia tak Bisa Ikut Campur. [Online]

Available at:

https://www.republika.co.id/berita/nasional/news-analysis/18/12/18/pjwvk7282-soal-muslim-uighur-jk-indonesia-tak-bisa-ikut-campur [Diakses 29 Agustus 2021].

Viva News, 2018. Kubu Prabowo Sebut Utang Alasan Pemerintah Netral Soal Muslim Uyghur. [Online]

Available at: https://www.viva.co.id/pemilu/berita-pemilu/1104848-kubu-prabowo-sebut-utang-alasan-pemerintah-netral-soal-muslim-uyghur

[Diakses 21 Agustus 2021].

Anwar, D. F., 2019. Indonesia-China Relations: Coming Full Circle?. Dalam: D. Singh & M.

Cook, penyunt. Southeast Asian Affairs. Singapore: ISEAS, pp. 146-161.

Jakarta Post, 2018. Indonesian Muslims stage rally in support of Uighurs. [Online]

Available at: https://www.thejakartapost.com/news/2018/12/22/indonesian-muslims-stage-rally-in-support-of-uighurs.html

[Diakses 29 Agustus 2021].

CNN Indonesia, 2018. Dubes China Temui Ketum PBNU Said Aqil Bahas Muslim Uighur.

[Online]

Available at: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181224202029-20-356112/dubes-china-temui-ketum-pbnu-said-aqil-bahas-muslim-uighur [Diakses 21 Agustus 2021].

Antara News, 2018. Dubes China Kunjungi Muhammadiyah Bahas Uighur. [Online]

Available at: https://www.antaranews.com/berita/782008/dubes-china-kunjungi-muhammadiyah-bahas-uighur

[Diakses 29 Agustus 2021].

Republika, 2019. Ketum PBNU Said Aqil Buka Puasa Bersama Dubes Cin. [Online]

Available at:

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam- nusantara/19/05/09/pr8ure458-ketum-pbnu-said-aqil-buka-puasa-bersama-dubes-china

[Diakses 29 Agustus 2021].

Detik, 2015. Dubes Tiongkok Serahkan Santunan Rp 100 Juta ke PBNU. [Online]

Available at: https://news.detik.com/berita/d-2961884/dubes-tiongkok-serahkan-santunan-rp-100-juta-ke-pbnu

[Diakses 29 Agustus 2021].

CNN Indonesia, 2019. PBNU Sebut China Buat Kamp Uighur untuk Jauhkan Radikalisme.

[Online]

Available at: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191213215024-20-456898/pbnu-sebut-china-buat-kamp-uighur-untuk-jauhkan-radikalisme [Diakses 29 Agustus 2021].

Suara Muhammadiyah, 2021. Delegasi Muhammadiyah Kunjungi Muslim Uighur di Xinjiang.

[Online]

Available at: https://suaramuhammadiyah.id/2019/03/06/delegasi-muhammadiyah-kunjungi-muslim-uighur-di-xinjiang/

[Diakses 29 Agustus 2021].

Sindo News, 2019. Kisah Ormas Islam Indonesia ke Xinjiang Melihat dari Dekat Muslim Uighur. [Online]

Available at: https://nasional.sindonews.com/berita/1471969/15/kisah-ormas-islam-indonesia-ke-xinjiang-melihat-dari-dekat-muslim-uighur

[Diakses 29 Agustus 2021].

RMOL, 2019. Ini Kronologis Lengkap Ormas Islam Penuhi Undangan China Terkait Muslim Uighur. [Online]

Available at: https://politik.rmol.id/read/2019/12/17/413845/ini-kronologis-lengkap-ormas-islam-penuhi-undangan-china-terkait-muslim-uighur

[Diakses 29 Agustus 2021].

Wall Street Journal, 2019. How China Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps. [Online]

Available at: https://104.149.175.154/articles/how-china-persuaded-one-muslim-

nation-to-keep-silent-on-xinjiang-camps-11576090976?__cpo=aHR0cHM6Ly93d3cud3NqLmNvbQ [Diakses 1 September 2021].

Tempo, 2019. Diminta Bersikap Soal Uighur, Ini Respon Moeldoko dan Mahfud Md. [Online]

Available at: https://nasional.tempo.co/read/1287241/diminta-bersikap-soal-uighur-ini-respon-moeldoko-dan-mahfud-md

[Diakses 21 Juli 2021].

Tempo, 2019. FPI Sebut Pernyataan Moeldoko soal Uighur Tidak Pancasilais. [Online]

Available at: https://nasional.tempo.co/read/1287283/fpi-sebut-pernyataan-moeldoko-soal-uighur-tidak-pancasilais

[Diakses 21 Juli 2021].

Republika, 2019. Menlu Retno Singgung Uighur Saat Bertemu Menlu Cina. [Online]

Available at: https://www.republika.co.id/berita/q2murq382/menlu-retno-singgung-uighur-saat-bertemu-menlu-china

[Diakses 21 Juli 2021].

CNN Indonesia, 2019. Mengukur dan Mengeker Sikap Jokowi ke China soal Uighur. [Online]

Available at: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20181221123408-106-355476/mengukur-dan-mengeker-sikap-jokowi-ke-china-soal-uighur

[Diakses 21 Juli 2021].

Sandee, H., 2009. Mempromosikan Pembangunan Daerah di Indonesia Melalui Konektivitas yang Lebih Baik. [Online]

Available at: https://goo.gl/GuXyaX [Diakses 9 May 2018].

Shekhar, V. & Liow, J. C., 2014. Indonesia as a Maritime Power: Jokowi's Vision, Strategies, and Obstacles Ahead. [Online]

Available at: https://goo.gl/2sw6TK [Diakses 9 May 2018].

BCC, 2017. Jokowi Tawarkan Tiga Megaproyek ke Xi Jinping. [Online]

Available at: https://goo.gl/N4i3vu [Diakses 9 May 2018].

Kontan, 2017. Ini yang Ditawarkan Kemenperin ke Investor China. [Online]

Available at: https://goo.gl/WhbHao [Diakses 9 May 2018].

Republika, 2017. Indonesia Tawarkan Cina Proyek Infrastruktur Rp 217 Triliun. [Online]

Available at: https://goo.gl/zHpDk7 [Diakses 9 May 2018].

Pradityo, R., 2020. Indonesia di Antara Masalah Etnis Rohingya dan Etnis Uighur, 2014-2019.

Indonesian Perspective, 5(2), pp. 138-158.

Rosyidin, M., 2017. Foreign policy in changing global politics: Indonesia’s foreign policy and the quest for major power status in the Asian Century. South East Asia Research, 25(2), pp. 175-191.

VOA Indonesia, 2019. Ratusan Orang Unjuk Rasa Bela Uighur di Depan Kedubes China.

[Online]

Available at: https://www.voaindonesia.com/a/ratusan-orang-unjuk-rasa-bela-uighur-di-depan-kedubes-china/5223220.html

[Diakses 21 Juli 2020].

Mudhoffir, A. M., Yasih, D. W. P. & Hakim, L.-n., 2017. Populisme Islam dan Tantangan Demokrasi di Indonesia. Prisma, 36(3), pp. 48-59.

Hadiz, V. R. & Bouchier, D., 2003. Indonesian Politics and Society: A Reader. London:

Routledge.

Aspinall, E., 2005. Opposing Soeharto: Compromise, Resistance, and Regime Change in Indonesia. Stanford: Stanford University Press.

Hadiz, V. R., 2010. Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia: A Southeast Asia Perspective. Stanford: Stanford University Press.

Dokumen terkait