JOKO WIDODO, ISLAM, DAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI: TINJAUAN BERDASARKAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME
PENDAHULUAN
Diskusi seputar penyelenggaraan kebijakan Joko Widodo (Jokowi) paruh pertama dan kedua menampilkan beberapa perhatian mendasar. Proses demokratisasi Indonesia yang telah memasuki dua dekade pasca tumbangnya rezim Orde Baru harus diakui bahwa Indonesia telah mengkonsolidasikan program substantif demokrasi selain program prosedural. Akan tetapi, dalam proses keterpilahan Jokowi di periode pertama menunjukkan peningkatan polarisasi yang boleh dikatakan cukup tajam mengingat adanya politisasi isu identitas keagamaan kian bereskalasi. Perlahan katup politik identitas semakin menganga di tengah pilpres tahun 2019. Banyak pengamat meyakini bahwa kemunculan ini hampir pasti memberikan ujian baru bagi demokrasi sekaligus juga menguji tindakan kebijakan luar negeri Jokowi.
Pembahasan di sini bertujuan untuk menjawab pertanyaan penting, yakni karakteristik seperti apa yang membedakan kepemimpinan Jokowi dibandingkan pemimpin sebelumnya dalam memposisikan Islam dalam kebijakan luar negeri?
Tulisan ini menunjukkan bahwa kebangkitan populisme Islam memiliki korelasi penting terhadap kebijakan luar negeri Indonesia. Jika dibandingkan kepemimpinan sebelumnya, baik Gusdur, Megawati, dan SBY kesemuanya memperlihatkan bahwa pengaruh Islam dalam kepentingan luar negerinya hampir banyaknya dipengaruhi oleh kondisi global, yakni peristiwa 9/11. Jelasnya, diksursus Islam Moderat sebagai citra politik global, dan mengkompatibelkan dengan norma global, yaitu GWOT. Terlihat secara spesifik kepemimpinan SBY yang berusaha memproyeksikan Islam Moderat sebagai profil negara Muslim dalam arena internasional. Sementara itu, Jokowi justru menghadapi distraksi cukup besar, yakni kebangkitan populisme Islam atau populisme kanan. Hal itu berakibat semakin menguatnya dilema identitas, di mana adanya kontestasi kepentingan politik yang berasal dari faksi nasionalis, islam moderat, dan islam konservatif. Berbeda dengan kepemimpinan Gudur, Megawati, dan SBY bahwa dilema identitas mereka berasal apakah memprioritaskan kepentingan global, yakni norma GWOT ataukah merespon kehendak kelompok muslim.
PERSPEKTIF KONSTRUKTIVISME
Menurut konstruktivisme, realitas sosial dan dunia merupakan suatu hasil pembentukan- pembentukan manusia. Demikian halnya, manusia-manusia terbentuk oleh hubungan sosial yang terjalin satu sama lain. Dengan kata lain, mansia membentuk masyarakat dan masyarakat membentuk manusia sebagai sebuah proses yang terus berlanjut dan berlangsung secara dua arah. Di samping itu, asumsi dasar pendekatan ini adalah dimensi ide lebih penting dibandingkan aspek material. Di samping itu juga, konstruktivis menekankan aspek identitas berdasarkan dua alasan. Pertama, identitas sebagai kategori ‘sosial’ yaitu atribut atau karakteristik yang membedakannya dengan yang lain. Konsepsi ini
mengimplikasikan identitas sebagai sesuatu yang terkonstruk dalam proses interaksi dengan pihak lain (significant other). Jadi dibutuhkan intersubyektivitas untuk memberi makna siapa
‘aku/kami’ dan siapa ‘kamu/mereka’. Bagaimana kelompok atau individu-individu di luar aktor berpengaruh terhadap bagaimana cara aktor memandang dirinya dan di luar dirinya tidak bisa dimengerti tanpa memahami konteks sosial yang lebih luas dimana aktor yang bersangkutan berada (Ellemers, et al., 2002).
Identitas ini jauh lebih mudah berubah tergantung proses interaksi. Misalnya, Indonesia negara demokratis, berarti Indonesia mendukung kebebasan sipil tanpa melihat latar belakang identitas yang melekat dari diri seseorang, entah suku, agama, ras, dst. Kedua, identitas sebagai kategori ‘personal’ yaitu atribut atau karakteristik yang melekat dalam diri aktor yang keberadaannya muncul tanpa perlu proses pembedaan dengan yang lain. Definisi kedua ini mengandaikan identitas sebagai sesuatu yang disadari sendiri (self-awareness) oleh aktor bersangkutan tanpa perlu intersubyektivitas. Identitas personal memandang aktor sebagai pribadi yang unik yang membedakannya dengan pribadi lain. Aktor bertindak atas kehendak dan tujuannya tanpa melihat posisi atau kedudukannya dalam konteks sosial (Stets
& Burke, 2000). Identitas kategori ini relatif stabil karena atribut yang dimiliki melekat sejak awal. Contohnya adalah identitas etnis, agama, budaya, dan sebagainya.
Di samping itu juga, klaim konstruktivis terhadap Identitas adalah dasar dari kepentingan.
Identitas membentuk kepentingan yang teraktualisasi. Konstruktivis menilai bagaimana aktor-aktor politik mengembangkan kepentingan-kepentingan mereka dalam menjelaskan fenomena politik global. Paul Kowert (2001) menyatakan bahwa pembentukan identitas suatu aktor juga dipengaruhi oleh dimensi semantik bahasa. Dengan Bahasa, maka semuanya dapat direalisasikan kepada knowledgeable practices. Konsep ini bermaksud menjelaskan praktik-praktik suatu aktor berhasil menyebarkan suatu norma atau nilai ke dalam masyarakat. Setelah norma, nilai, bahkan istilah-istilah simbolis dilempar ke dalam masyarakat kemudian diterima secara mayoritas suatu kelompok atau masyarakat pada umumnya, maka itulah disebut sebagai diskursus. Diskursus secara sederhana adalah formasi Bahasa yang bertalian dengan ide-ide dan Lontara pernyataan-pernyaraan yang menampakkan nilai-nilai utama (Kowert, 1998).
Sementara pihak yang menyebarkan knowledgeable practice disebut sebagai agen karena aktivitasnya membentuk struktur. Pada gilirannya struktur yang telah diciptakan akan menentukan dan memepengaruhi perilaku aktor yang disasar. Keberhasilan agen dalam menyebarkan diskursus ditandai dengan agenda diskursif mereka apakah mampu mengkonstruksikan nilai-nilai dan pemahaman agen kepada aktor lain, sehingga mencapai norma bersama.
Pendekatan Kowert tentang praktik knowledgeable dianggap terbatas mengingat tidak menawarkan panduan atau kerangka dalam menjelaskan proses agen membentuk struktur atau diskursus. Penulis membawa gagasan Finnemore dan Sikkink (1999) untuk menjelaskan etape difusi norma internasional pada gilirannya menciptakan struktur baru. Teori itu bernama internalisasi norma. Dalam hal ini, norma didefinisikan sebagai aturan tunggal yang disepakati bersama untuk mengendalikan perilaku suatu entitas. Pada tingkat internasional, norma akan mengendalikan dan mendikte hal-hal yang pantas dilakukan oleh aktor internasional. Menurut, Finnemore dan Sikkink (1998), Norma internasional berkembang dari norma domestik yang bertransformasi menjadi norma internasional berkat dipromosikan
suatu aktor. Norma yang telah dipromosikan di tingkat internasional kemudian akan turun kembali ke tingkat domestik, menembus filter negara yang diciptakan oleh norma-norma domestik, dan kemudian menggantikan norma domestik. Serangkaian proses inilah yang dimaksud dengan difusi norma internasional.
Secara spesifik, Finnemore dan Sikkink (1998) berargumen bahwa difusi norma internasional berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah kemunculan norma (norm emergence).
Hal ini terjadi berkat sinergi dari dua elemen, yaitu enterprenir norma (norm entrepreneur) dan organisasi. Enterprenir norma menciptakan dan mempromosikan norma melalui organisasi yang ia bentuk; serta secara persuasif, enterprenir norma berusaha meyakinkan masyarakat untuk menerima norma yang ia promosikan. Tahap kedua dari siklus norma pun dimulai, yaitu norm cascade. Pada tahap ini, norma yang berada di titik puncak tersebut mengalami penyebaran (cascading), ditandai dengan meningkatnya negara-negara yang menerima norma tersebut. Tahap ketiga terjadi ketika suatu norma sudah diterima dengan sangat luas (titik ekstrim dari cascading) dan terinternalisasi menjadi sesuatu yang diterima begitu saja (taken for granted). Publik tidak akan lagi mendebatkan mengenai kebenaran suatu norma. Inilah tahap terakhir dari siklus norma, yaitu internalisasi norma. Pada tahap ini, sebuah norma menjadi sangat kuat karena standar perilaku yang diatur norma tersebut tidak lagi dipertanyakan. Akibatnya, norma tersebut menjadi tidak terlihat dan diabaikan oleh akademisi. Dapat dikatakan bahwa norma tersebut telah menjadi sebuah kebenaran absolut.
Ketika norma sudah terinternalisasi, akan terbentuk berbagai institusi yang ditujukan untuk melanggengkan kebenaran dari norma tersebut. Secara ringkas, tahapan difusi norma internasional yang dimaksud oleh Finnemore dan Sikkink dapat diilustrasikan seperti gambar di bawah.
PERUBAHAN PERAN KELOMPOK ISLAM INDONESIA PASCA 9/11
Semenjak serangan teroris 9 September 2001 (9/11) di AS, peranan Islam dalam ranah kebijakan luar negeri Indonesia mengalami perubahan transformatif. Penulis mencatat ada tiga alasan atas dinamika ini.
Pertama, Islam telah disorot secara negatif pasca tragedy 9/11. Sorotan itu kian tajam kepada Indonesia mengingat sebagai dengan jumlah populasi Muslim terbesar dunia, sehingga profil kebijakan luar negerinya dikhususkan kepada pemulihan citra tersebut. Dalam banyak hal,
•Enterprenir norma menciptakan dan mempromosikan norma internasional
Pencuatan Norma
•Norma yang terlah diterima di tingkat internasional disosialisasikan ke tingkat domestik
Difusi Norma • Masyarakat di tingkat domestik menerima norma internasional sebagai sumber inspirasi tindakan atau menjadi struktur baru
Internalisasi Norma
pemerintah merasa bertanggungjawab untuk memisahkan Islam dan Muslim dari terorisme.
Di saat bersamaan, pemerintah Indonesia era Reformasi berusaha untuk memproyeksikan wajah ‘Islam Indonesia’ berciri damai, terbuka, dan moderat.
Kedua, tragedy 9/11 menjadi katalisator bagi kelompok Muslim untuk terlibat aktif dalam kebijakan luar negeri Indonesia. Kelompok-kelompok tersebuy memanfaatkan momentum ini guna mengkonsolidasikan kekuatan mereka sekaligus menunjukkan kekuatannya pada isu-isu internasional yang menjadi perhatian mereka. Era reformasi yang melegitimasi kebebasan sipil memberikan peluang bagi banyak aspek masyarakat, terutama kelompok Muslim dalam mengaspirasikan kepentingan atau pendapatnya. Hal ini menyebabkan kelompok Muslim di Indonesia melakukan aksi protes lantang ketika AS mensinonimkan peristiwa 9/11 dengan Islam.
Ketiga, tidak seperti kepemimpinan Soeharto yang berusaha mengisolasi politik dalam negeri dari pengarus Islam internasional, pemerintah pasca Orde Baru lebih terbuka dalam menanggapi pengaruh tersebut. Bahkan pemerintah tampak menggunakan factor ini untuk memperoleh legitimasi besar di tingkat akar rumput. Tampak juga bahwa pemerintah lebih responsif dan akomodatif terhadap kelompok-kelompok Muslim terhadap isu-isu internasional yang menjadi perhatian mereka, sepanjang tidak bertentangan secara tajam dengan prinsip-prinsip dasar kebijakan luar negeri Indonesia dan/atau kepentingan nasional yang fundamental.
Pandangan penulis ini jika diurai secara eksploratif sejatinya memperlihatkan bahwa hampir banyaknya dampak dari dinamika internasional berkorelasi langsung pada hubungan antara Islam dan kebijakan luar negeri Indonesia.
Reaksi AS terhadap peristiwa 9/11 melalui diskursus Global War on Terror (GWOT) pada gilirannya memicu reaksi tajam dari kaum Islam di seluruh dunia. Tidak lama sejak penyerangan terorisme yang menghancurkan Gedung kembar WTC, Bush memproklamirkan terorisme adalah musuh dunia. Tindakan awal Bush adalah menargetkan Osama bin Laden, dan Al-Qaeda sebagai aktor yang bertanggungjawab di balik kekacauan keji. Kemudian, diskursus ini menciptakan kutub dunia, di mana negara atau kelompok yang mendukung aksi terorisme berposisi ‘against us’, sementara pihak yang menolak segala macam bentuk aksi dan ideologi terorisme sebagai ‘with us.’
Serangan ini telah menjadi titik balik bagi lingkungan politik dan keamanan global, sebab KLN Bush telah memposisikan prioritas tertinggi dalam memerangi terorisme. Akibatnya, doktrin neo-konservatisme AS yang menekankan pemajuan HAM dan demokrasi perlahan diabaikan.
Bush mengembangkan wacana GWOT dengan beragam istilah seperti ‘Against Terrorism’ dan
‘Operation Enduring Justice’ yang berkonsekuensi memicu kebencian Barat kepada Dunia Islam. Dampak kekacauan yang ditimbulkan oleh gerakan terorisme global – Al-Qaeda – menghasilkan dikursus GWOT sebagai identitas baru dunia, di mana di satu sisi ancaman berasal dari non-negara, di sisi lain adalah dunia diselimuti oleh ketakutan akan kebangkitan kelompok Islam Fundamentalis yang menyasar bukan hanya Barat tetapi juga pemimpin- pemimpin negara Muslim yang tidak bersesuian dengan kepentingan kelompok fundamentalis.
Penulis mengamati setidaknya diskursus GWOT memuat berbagai dampak krusial. Pertama, gagasan ini harus dipahami sebagai proses menuju norma internasional yang pada gilirannya memunculkan kebingungan tentang watak musuh, sebab terror merupakan suatu kata benda bersifat abstrak, sementara terorisme adalah taktik militer. Sehingga sejak awal juga diskursus ini bermasalah pada level konseptual. Kedua, diskursus ini menggambarkan terorisme sebagai fenomena tunggal. Maka, slogan tersebut mengaburkan perbedaan antara beragam jenis terorisme dan mengabaikan beragam tujuan politik, ideologi, atau hal-hal yang diperjuangkan oleh teroris. Ketiga, dengan mendeskripsikan GWOT sebagai ‘perang’ maka diartikan bahwa terorisme harus dan hanya dapat ditangani melalui kekuatan militer.
Pendekatan semacam itu lebih berfokus pada manifestasi terorisme, dan pada gilirannya berkonsekuensi mengabaikan sebab atau latar belakang yang membayangi tindakan tersebut.
Terakhir, gagasan GWOT dapat menjadi kontra-produktif. Dari sudut pandang masyarakat umum saat membesar-besarkan ancaman terorisme, berakibat menciptakan ketakutan dan kecemasan yang pada gilirannya tujuan para teroris itu tercapai. Sementara berdasarkan sudut pandang pelaku kebijakan, dorongan reaksi berlebihan memiliki problematika lanjutan di mana aktivisme teroris semakin kekal dengan mendorong ketidakpuasan di kalangan yang terpinggirkan. Hal ini justru menguatkan simpul solidaritas kelompok konservatif yang terabaikan yang justru mengarah pada reproduksi aksi-aksi terorisme.
Dampak ini juga diamati oleh Azra (2006) bahwa meski Bush menyangkal perang AS atau narasi GWOT dikhsusukan melawan Taliban dan Al-Qaeda, sebagian kelompok Islam fundamentalis merasa bahwa tindakan-tindakan itu justru memposisikan perang terhadap Islam. Kelompok ini bahkan di tingkat Indonesia memposisikan Megawati sebagai fasilitator dari kepentingan rahasia AS kepada Umat Muslim. Kelompok ini menanggap bahwa Megawati tidak melihat potensi-potensi saat menerima norma GWOT dan terkhusus lagi saat AS menginvansi Afghanistan sesungguhnya sebagai bentuk kebijakan melanggar kedaulatan negara sekaligus merealisasikan gagasan anti-Islam. Kelompok Muslim garis keras terkemuka di Indonesia yang menyatakan ketidakpuasan terhadap Megawati dan menentang kebijakan AS termasuk FPI, Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jamaah (FKAWJ) dan sayap milisinya, Pasukan Milisi Jihad (Laskar Jihad), dan HTI. MUI, dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) juga kritis terhadap pemerintah. Yang terakhir bahkan melakukan protes jalanan massal terhadap serangan di Afghanistan. Demikian pula kelompok Muslim moderat NU dan Muhammadiyah juga kritis terhadap diskursus GWOT Amerika Serikat, terutama invansi ke Afghanistan dan Irak. Situasi ini membawa berbagai kelompok Muslim ke dalam solidaritas bersama (Hasan, 2005). Semenjak respon AS pasca serangan 9/11, Hamza Haz, wakil presiden Indonesia dan juga sebagai ketua PPP menolak narasi itu karena itu bermuatan politis dan mendiskreditkan umat Islam (Smith, 2003).
Hal menarik sebenarnya tampil. Seminggu setelah peristiwa terorisme Al-Qaeda, Megawati memutusukan mengunjungi Gedung Putih. Presiden Bush menerima kunjungan Megawati dengan dalil bahwa AS tidak memposisikan negara Muslim Indonesia dalam sasaran GWOT (Anwar, 2005). Megawati mendukung kebijakan GWOT dalam menumpas dan membendung terorisme, sehingga kepemimpinan Bush merasa cara tersebut sebagai bentuk solidaritas global. Sebagi imbalannya, Bush menegaskan kembali dukungan AS atas integritas teritorial Indonesia (Murphy, 2010), berjanji untuk memberikan paket bantuan keuangan senilai US$
567,7 juta, dan memperbarui hubungan militer termasuk pencabutan embargo penjualan komersial pertahanan non-mematikan. Peralatan (Malley, 2002). Kedua negara juga membentuk aransemen keamanan bilateral.
Namun, misi kerja sama Megawati itu tidak memuaskan seluruh kelompok masyarakat, khususnya beberapa kelompok Muslim. Menurut mereka, kepentingan Indonesia telah disesuaikan bahkan ditundukkan oleh AS hina mendukung kampanye invansi AS kepada Afganistan (Anwar, 2005). Dalam situasi politik domestik, terjadi perebutan kekuasaan antara kelompok Muslim moderat dengan kelompok Muslim non-moderat bahkan fundamentalis.
Muslim di seluruh dunia juga mulai menekan pemerintah-pemerintah mereka.
Kelompok-kelompok militan memanfaatkan serangan 9/11 dan perang selanjutnya di Afghanistan dan Irak untuk menggunakan legitimasi mereka sebagai pembela Islam (Hasan, 2005). Sekaligus juga untuk mengkonsolidasikan kekuatan politik mereka. Reaksi keras umat Islam juga dapat diartikan sebagai tekad yang kuat untuk ikut serta dalam perumusan luar negeri (Perwita, 2007). Reaksi dan protes jalanan yang meluas oleh kelompok-kelompok Muslim terhadap aksi pembalasan yang direncanakan Amerika Serikat terhadap Afghanistan memberi Megawati peluang kecil. Menurut Pew Global Attitudes Projects, publik Indonesia secara garis besar menentang invansi AS di Afghanistan (Smith, 2003). Di sisi lain, pemerintah sendiri khawatir bahwa perang GWOT yang dipimpin oleh AS akan menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi kebangkitan kelompok Muslim radikal.
Dari seluruh sikap publik dan kecemasan pemerintah Indonesia, sejatinya Megawati dihadapkan dalam situasi dilemma. Maksudnya, Megawati antara harus menyerap aspirasi domestika ataukah memusatkan perhatiannya pada dukungan norma GWOT. Dalam konteks ini, pemerintah harus mendamaikan masalah domestik dan internasional. Di ranah domestik, diplomasi dan kebijakan luar negeri harus mendapat persetujuan dari sebanyak mungkin pemangku kepentingan, termasuk dari kelompok Muslim.
Hal ini menjadikan Megawati berada dalam posisi yang serba sulit. Azyumardi Azra (2006) berpendapat bahwa sikap kebimbangan yang dihadapi oleh Megawati menjadikan pengambilan keputusan memakan waktu cukup lama. Kalkulasi kebijakannya harus berkiblat pada orientasi penyeimbangan imperatif domestik dan internasional.Tantangan domestik itu menghasilkan respons yang lambat, apakah Indonesia mendukung invansi AS ke Afghanistan.
Tiga hal yang dapat menjelaskan keragu-raguan ini. Pertama, megawati tidak memiliki kredensial Islam. Partainya dianggap sebagai partai nasionalis. Kedua, Megawati membutuhkan dukungan dari partai-partai Islam, karena sumber legitimasinya juga harus berasal dari partai-partai Islam yang di mana partai ini merupakan pemenang sebagai pemilu terbanyak waktu pemilu lalu. Di sisi lain, pasca Gusdur dimakzulkan oleh MPR, Megawati terpilih sebagai presiden yang sah itu disebabkan juga dari koalisi partai-partai Islam yang dipelopori oleh Amien Rais, sebagai ketua PAN dan mantan ketua Muhammadiyah. Ketiga, Megawati tidak memiliki kapasitas kepemimpinan dalam struktur kekuasaan politik yang terfragmentasi di era pasca-Soeharto.
Sentimen anti-AS di Indonesia mencapai puncaknya ketika AS dan sekutunya melancarkan operasi militer di Afghanistan pada tanggal 7 Oktober 2001. Peristiwa invansi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Megawati. Keesokan harinya pada tanggal 8 Oktober 2001, pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menguraikan enam poin mendasar atas peristiwa tersebut. Pertama, bahwa pemerintah sangat prihatin dengan aksi militer yang terjadi setelah serangan teroris 9/11. Kedua, pemerintah mencatat pernyataan pemerintah AS bahwa operasi militer hanya ditujukan untuk sasaran terbatas, yaitu kamp pelatihan
teroris dan instalasi militer di Afghanistan. Juga, mendukung aksi itu hanya dalam konteks operasi militer terhadap terorisme, bukan kepada aksi pembalasan terhadap Islam. Ketiga, Indonesia mendesak agar operasi militer dibatasi secara ketat dari segi intensitas, sasaran, dan durasinya untuk meminimalkan korban sipil. Keempat, Indonesia meminta PBB, khususnya Dewan Keamanan PBB, untuk bersama-sama menanggapi situasi tersebut. Kelima, pemerintah menyatakan solidaritas masyarakat Indonesia dengan rakyat Afghanistan, menyatakan bahwa tindakan tidak boleh dilakukan secara melawan hukum atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum. Terakhir, pemerintah Indonesia akan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Afghanistan dan mendesak partisipasi masyarakat Indonesia dalam hal ini.
Meski pidato Megawati itu dilandasi oleh pemahaman mendalam tentang kepentingan nasional dan aspirasi umat Islam, sebagaimana diakui oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat itu. Akan tetapi, pernyataan ini justru dikritik habis-habisan oleh kelompok Muslim. Kelompok Muslim militan kecewa atas sikap pemerintah sebab mendukung kepentingan AS, sekaligus juga inkonsisten dalam operasi militer di Afghanistan. Baik kelompok Muslim radikal maupun moderat mengecam serangan itu, dan sentimen anti-Amerika tumbuh kuat di berbagai kota Indonesia.
Ketidakpuasan kelompok-kelompok ini pada pemerintah menghasilkan beragam tindakan dan manuver aksi. Kelompok-kelompok militan berdemonstrasi di jalan-jalan, termasuk di depan Kedutaan Besar AS di Jakarta dan kantor perwakilan AS di yang tersebar di beberapa provinsi. Mereka mengancam warga negara AS dan orang asing serta memboikot produk, properti, dan simbol terkait AS, termasuk restoran McDonald's. Mereka juga menekan pemerintah untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan AS (Anwar, 2005). Kampanye nasional untuk membela Afghanistan juga diluncurkan. Kelompok-kelompok ini merekrut, melatih, dan kemudian mengirimkan pasukannya ke Afghanistan. Pasukan itu merupakan sejumlah sukarelawan di mana tercatat mencapai 1800 orang. Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) menyelenggarakan rekrutmen jihad di Jakarta, dan rekrutmen dilakukan di sejumlah kota di seluruh Indonesia (Azra, 2006).
Sebaliknya, kelompok Muslim moderat seperti NU dan Muhammadiyah mengutuk tindakan AS di Afghanistan tetapi tidak seirama dengan tindakan kelompok radikal tentang pengiriman jihadis ke Afghanistan. Kelompok moderat ini berpendapat bahwa jihad tidak selalu berarti 'perang suci'. Misalnya, upaya membangun ummat Islam juga bisa disebut jihad. Mereka membantah anggapan bahwa serangan 9/11 adalah tragedi agama, dan malah membingkainya sebagai tragedi kemanusiaan. Mereka mendesak dunia Muslim untuk menahan diri dari menghubungkan serangan teroris dengan konflik agama. Singkatnya, kelompok moderat tidak mengikuti cara kelompok yang lebih militan, meskipun memiliki tujuan yang sama dalam mengutuk serangan AS ke Afghanistan (Azra, 2006).
Tekanan dan suara yang berasal dari dua spektrum kelompok Muslim menjadikan Megawati untuk tetap bertahan pada sikapnya semula. Namun, perlahan juga Megawati inkonsisten atas pernyataan sebelumnya. Itu terlihat saat kehadirannya pada acara peringatan Mauli Nabi di Masjid Istiqlal pada tanggal 14 Oktober 2001. Megawati menyatan bahwa ‘siapapun yang melakukan aksi teror maka harus dihukum. Akan tetapi tidak dapat juga dibenarkan bahwa seseorang, kelompok atau bahkan pemerintah menyerang orang atau negara dengan alasan apapun’ (Azra, 2006). Lebih lanjut, Megawati menekankan pentingnya mematuhi aturan yang ada, karena tindakan yang awalnya dimaksudkan untuk memerangi kekerasan pada akhirnya
dapat menciptakan tindakan teror dan permusuhan baru. Teror tidak bisa diselesaikan melalui teror, tegasnya (Sukma, 2003).
Pernyataan Megawati itu lantas menciptakan pelemahan kepercayaan Barat kepadanya.
Bahkan, menjadikan AS bersama sekutunya kecewa atas sikap tersebut (Smith, 2003).
Perdana Menteri Australia John Howard juga mengkritik sikap itu dengan klaim bahwa pernyataan Megawati berpotensi membawa ketidakstabilan di kawasan Asia-Pasifik (Sukma, 2003). Perubahan sikap pemerintah ini mendapat respon positif dari seluruh pelosok tanah air. Ketua Muhammadiyah Syafii Ma’arif, misalnya, mengaku puas dan mengapresiasi langkah pemerintah yang mendesak ditindaklanjuti sikap Megawati dengan tindakan yang berarti.
Sementara itu, kelompok garis keras berharap agar posisi Indonesia tersampaikan dengan nada yang lebih tegas lagi (Azra, 2006). Akhirnya, sikap yang lebih tegas diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda pada awal puasa Ramadhan pada pertengahan November 2001, dan Presiden Megawati pada pembukaan Sidang MPR. Megawati meminta AS menghentikan pemboman selama Ramadhan dan Natal, menyatakan perlunya gencatan senjata kemanusiaan, dan perlunya penyelesaian politik melalui sarana diplomatis atau soft- power (Sukma, 2003).
Indonesia juga mengartikulasikan posisinya dalam forum internasional. Dalam pertemuan APEC di Shanghai, Indonesia meminta agar PBB mengambil peran penting dan memulai respon kolektif untuk memerangi terorisme global. Indonesia juga mendesak negara-negara anggota OKI untuk mengambil sikap serupa, yaitu mengakhiri operasi militer AS sebelum dimulainya Ramadhan. Indonesia tentu tampak mengambil sikap yang lebih tegas dari negara-negara anggota OKI lainnya, yang hanya mengungkapkan keprihatinan mereka terkait operasi militer dan mendesak agar korban jiwa yang tidak bersalah diminimalkan.
Respon positif pemerintah terhadap aspirasi umat Islam terhadap isu ini menunjukkan kebijakan yang lebih akomodatif terhadap persoalan umat Islam. Kebijakan luar negeri yang lebih akomodatif terhadap aspirasi umat Islam di era pasca Suharto menunjukkan pergeseran dari kebijakan yang umumnya ‘ambigu’ menjadi sebaliknya. Selanjutnya, Megawati tampak enggan untuk berpartisipasi secara penuh dalam norma GWOT (Smith, 2010).
Pemerintah juga tidak ingin terlihat ditekan oleh Washington, karena ini akan berdampak negatif di dalam negeri. Keengganan Indonesia juga dapat diartikan sebagai kurangnya antusiasme dalam menanggapi tuntutan AS untuk membekukan sumber daya keuangan dari organisasi yang dicurigai yang mungkin memiliki koneksi terorisme internasional (Sukma, 2003).
Keengganan Megawati untuk memasuki pertarungan global berlangsung selama setahun setelah serangan 9/11. Menurut Murphy (Murphy, 2010), Bom Bali merupakan titik balik bagi Indonesia, yang kemudian membawa kebijakan yang lebih tegas terkait radikalisme dan terorisme. Sehingga kebijakan Indonesia secara sistematis lagi mereproduski norma GWOT, sekaligus juga memporomiskan identitas Islam Moderat sebagai sarana kunci memutus kontra-diskursus fundamentalisme. Di saat bersamaan juga, bahwa kebijakan-kebijakan pasca kepemimpinan Megawati menjadikan diskursus Islam Moderat sebagai instrument penting dalam pelaksanaan agenda dalam dan luar negeri Indonesia.
DETERMINASI DAN SIGNIFIKANSI ISLAM MODERAT SEBAGAI KERANGKA IDENTITAS KEBIJAKAN LUAR NEGERI
Ada dua hal yang menarik menjelaskan situasi Dunia Islam pasca Perang Dingin. Pertama, adalah adanya simptom dan kenyataaan kebangkitan Islam seperti penulis gambarkan sebelumnya dalam wujud aktivisme Islam. Kedua, peristiwa 9/11 yang menghasilkan diskursus GWOT memberikan irisan ke berbagai konstelasi agen di sector domestik maupun global.
Fenomena kebangkitan Islam jika diurai secara sederhana menyajikan hal mendasar, yakni adanya interaksi yang terjalin antara Dunisa Islam dan Barat selama ini telah membuat umat Islam menyadari ketertinggalan peradabannya dibandingkan Barat. Kesadaran tersebut memunculkan rasio instrumental terhadap proses modernisasi, bahwa adanya kesadaran peradaban Islam yang tidak lagi tertutup di tengah modernitas berlangsung. Di sisi lain, interaksi yang terjadi antara Dunia Islam ke Barat di tengah modernitas itu dianggap pesimis oleh kelompok ekstrimis, radikalis, dan fundamentalis bahwa dunia pasca Perang Dunia II adalah bentuk kolonialisme dan imprealisme baru, di mana Dunia Islam berusaha dibatasi ruang geraknya, sehingga narasi yang dibangun adalah pembenturan identitas Islam yang sama sekali menyangkal narasi kemajuan yang ditentukan oleh Barat. Ketakutan umat ini sebagai wujud rasio pesimitas atas agenda Barat yang akan menghilangkan identitas Islam.
Dua identitas ini pada gilirannya menciptakan tabrakan cukup besar, yang pada gilirannya semakin sulit untuk menunjukkan di mana letak identitas Islam sesungguhnya?
Penulis mengafirmasi bahwa pertanyaan itu tidak menjadi penting mengingat pendekatan konstruktivis menegaskan bahwa identitas adalah sesuatu dinamis. Kelompok fundamentalis bisa bergeser menjadi kelompok pragmatis dan modernis, begitupun sebaliknya. Bahkan pergeseran ini tidak hanya berlangsung dalam level transnasional, melainkan juga pada level domestik. Misalnya, dalam penelitian Nurul Huda (2014) yang mengamati Ikhwanul Muslimin di Mesir yang semula mengidentifikasi dirinya bertahan pada ideologi Islam Fundamentalis lambat laun bergeser menjadi Islam Moderat. Mengapa terjadi perubahan itu? Reformasi di Mesir yang semula dianggap sebagai akhir dari system politik Islam mengarah pada proses konsolidasi demokrasi. Semula, Ikhawanul Muslimin (IM) mampu memenagi pemilu akan tetapi revolusi yang terjadi menjadikan kekuatan mereka kian menyempit. Identitas Mesir tidak lagi diasosiasikan sebagai negara otokratis, melainkan mulai terbiasa membangun sistem demoratis. Fakta berikutnya, revolusi ini menjadikan ideologi Islam mulai beradaptasi dengan demokrasi sehingga mengakibatkan kelompok-kelompok Islam memposisikan demokrasi sebagai bagian dalam memenuhi kepentingan mereka. Model praktik ini memperlihatkan bahwa Mesir mulai memperkenalkan identitas Islam Moderat, sebagai upaya penyempitan dan penghilangan watak fundamentalisme Islam. Uniknya, IM merupakan organisasi keagamaan yang justru menjadi representasi kekuatan Islam Moderat, sekaligus menyegarkan warna politik Mesir yang tidak lagi beratmosfir fanatisme Islam dan fundamentalis tetapi menuju pola pikir dan gerakan politik secara kompromi dan adaptif.
Mengapa IM mengalami perubahan identitas? Berdasarkan gagasan Konstruktivis, perubahan itu disebabkan oleh lingkungan yang mengelilingi agen, entah peran tokoh, perlakuan atau kebijakan pemerintah, kondisi sosial, hingga kekuatan institusi dan kelompok-kelompok sosial lainnya.
Fenomena pertama sejatinya berkorelasi juga dengan fenomena kedua, yakni 9/11. Tragedi ini disebabkan oleh reaksi benturan Islam fundamentalis terhadap Barat, di mana AS sebagai kekuatan hegemon dunia. Dalam konteks diskursus GWOT sebagai kontra-produktif gagasan fundamentalis sejatinya AS merumuskan kebijakan tersebut berdasarkan tiga preposisi sederhana. Pertama, citra AS tidak ingin diamati sebagai pihak yang memusuhi Dunia Islam.
Kedua, AS secara pasif untuk membuka diri dalam mendukung kelompok Islam tertentu kecuali didasari oleh kepentingan strategis. Ketiga, adanya ketidakpercayaan bahwa Islam dan demokrasi tidak bisa bersesuaian atau kompatibel. Dari ketiga proposisi ini kemudian AS merumuskan sikap KLN jauh sebelum meletusnya peristiwa 9/11 dengan mengingatkan kepada dunia bahwa agenda global akan terganggu di tengah eksistensi Islam Fundamentalis atau Islam radikal. Istilah ini kemudian digelembungkan ke komunitas-komunitas epistemik AS ke ranah internasional guna menyebarkan diskursus. Diskursus Islam Moderat merupakan kontra-diskursus terhadap label Islam fundamentalis. Diskursus ini kemudian sebagai gerakan pemikiran yang terbuka dan akomodatif terhadap Barat demikian juga di hadapan Dunia Islam itu sendiri. Difusi diskursus ini kemudian mendapat momentum saat masyarakat dunia dihadapkan kemuculan gerakan transnasional bernama terorisme [Al-Qaeda] saat melancarkan aksinya di New York dan Washington. Serangan ini dimanfaatkan oleh AS guna membangun semacam ‘musuh bersama’ lewat pengembangan definisi terhadap istilah terorisme, sekaligus jug memposisikan ancaman baru dunia tidak lagi berwatak tradisional seperti ancaman negara, melainkan juga ancaman transnasional dalam masyarakat abad 21.
Jika diamati lebih mendalam, terorisme merupakan istilah yang tidaklah baru secara praktik.
Tetapi istilah ini bertransformasi secara signifikan ketika 9/11 di mana penyebutan terorisme bersesuaian sebagai ancaman stabilitas negara dan system internasional, sekaligus tindakan mereka bukan berada dalam ruang hampa. Melainkan, desain dan bentuk ancaman yang berasal dari teroris ini memiliki muatan atau basis sistematis guna meraih tujuan-tujuan politik. AS lantas memposisikan sumber ancaman tersebut dengan beberapa pengistilahan, misalnya Islam fundamentalis atau Islam radikal. Praktik knowledgeable tentang perlawanan teroris yang dikumandangkan AS kemudian menjadi shared ideas di negara-negara lainnya guna berupaya meminimalisasi gerakan-gerakan fundamentalis tersebut.
Pertanyaannya, bagaimana difusi diskursus GWOT menjadi norma bersama atau bagaimana diskursus menciptakan struktur baru di Indonesia?
Berangkat dari kerangka internalisasi norma, bahwa diskursus-diskursus yang disebarkan oleh AS telah tampil menjadi norma global. Dewan Keamanan PBB juga mengeluarkan beberapa resolusi yang harus diikuti oleh seluruh negara anggota dalam rangka memerangi terorisme berdasarkan Pasal 25 Piagam PBB. Situasi menggambarkan bahwa dunia mengarah pada perang jenis baru, yakni perang terhadap terorisme. Implikasi ini mengharuskan seluruh entitas khususnya negara dunia memerangi terorisme. Termasuk Indonesia. Selang setahun peristiwa 9/11, Indonesia juga menghadapi masalah yang sama, yakni aksi terorisme melululantakkan Denpasar. Aksi ini dideklarasikan sebagai bentuk jaringan Al-Qaeda.
Menyusul serangan teror tersebut, Megawati menandatangani beberapa perjanjian kerjasama terkait pertahanan dan keamanan dengan pemerintah AS, sehingga membawa Indonesia menjadi bagian dari GWOT yang dipimpin AS.
Keterlibatan dalam perang melawan teror yang dipimpin AS memberikan momentum bagi kebijakan luar negeri Indonesia. Melalui pengesahan UU 15/2003 tentang Tindak Pidana
Terorisme, Indonesia telah terlibat aktif dalam mengusut kegiatan terorisme di Asia Tenggara.
AS dan Australia, dua korban utama bom Bali, memberikan dukungan luas terhadap kegiatan Indonesia dalam memerangi terorisme. AS membantu program kontra-terorisme Indonesia melalui Program Bantuan Anti-Terorisme, memberikan keamanan sipil dan memberikan bantuan teknis kepada satuan tugas anti-terorisme Indonesia, serta mengamankan US$ 150 juta dalam bantuan ekonomi untuk Jakarta (Capie, 2004). Indonesia segera menjadi bagian tak terpisahkan dari perang melawan teror yang dipimpin AS di Asia Tenggara (Hadiz, 2006).
Keterlibatan ndonesia dalam perang melawan teror mencerminkan pergeseran kebijakan luar negeri Indonesia, khususnya dalam posisi Islam. Pergeseran ini, menurut Rizal Sukma, telah menempatkan Indonesia dalam “dilema identitas ganda”. Di satu sisi, Megawati harus merespon serangan teroris melalui tindakan pengamanan, yang melibatkan pemberantasan jaringan Islam radikal di Indonesia. Namun, di sisi lain, ia juga harus berhadapan dengan komunitas Muslim yang akan terkena dampak kebijakannya terhadap terorisme, karena para teroris menggunakan simbol-simbol Islam untuk membenarkan tindakan mereka.
Dalam konteks inilah Megawati menganut gagasan Islam Moderat (sebuah langkah yang kemudian diikuti oleh penggantinya, yakni SBY). Dengan melibatkan Indonesia dalam Perang Global Melawan Teror untuk memerangi terorisme, Megawati mencoba mengangkat Islam Moderat sebagai wajah “resmi” umat Islam Indonesia sekaligus bergabung dalam pertempuran sengit melawan jaringan Islam radikal.
Agenda ini terlihat dalam proyek diplomasi publik yang digagas oleh Menlu. Setelah 9/11, Indonesia berusaha untuk menegaskan Islam Moderat sebagai citra mereka dalam politik dunia (Sukma, 2012). Sebagai negara dengan demokrasi yang berkembang dan jumlah warga Muslim terbesar di dunia, Indonesia berusaha membangun citra Islam yang moderat dan demokratis untuk mendapatkan dukungan eksternal. Proyek Islam Moderat ini dimulai melalui dialog antaragama, dialog antarperadaban, dan menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Cendekiawan Islam yang berupaya mempromosikan aspek moderat Peradaban Islam, yang diselenggarakan di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Diplomasi Publik di Kementerian Luar Negeri.
Masuknya kembali Islam Moderat dalam politik luar negeri Megawati, meski dengan referensi yang berbeda, telah membuka beberapa ruang baru bagi artikulasi Islam dalam politik luar negeri Indonesia. Meski faktor pendorongnya tidak semata-mata datang dari wacana
“internal” Islam Indonesia, tumbuhnya harapan untuk mengartikulasikan dan mempromosikan Islam Moderat telah memberikan momentum bagi beberapa kelompok Islam untuk melibatkan diri dalam kampanye tersebut. Misalnya, Indonesia memfasilitasi Konferensi Ulama Internasional Pertama di Jakarta pada 23-25 Februari 2004. Konferensi ini diprakarsai oleh Nahdlatul Ulama, organisasi Muslim terbesar di Indonesia. Konferensi ini mendeklarasikan bahwa “Ajaran Islam menjunjung tinggi nilai-nilai martabat manusia dan mengakui kesempatan yang sama bagi manusia dalam hubungan antar pribadi, dalam memelihara hubungan antaragama yang harmonis dan dalam seluruh proses pengambilan keputusan internasional”. Setelah konferensi, deklarasi ini lantas disambut hangat oleh banyak pemimpin dunia yang menghadiri ASEAN Regional Forum pada Juli 2004.
Meskipun Konferensi tersebut terkait dengan isu-isu keagamaan dan dihadiri secara eksklusif oleh para ulama, namun tanggapan datang dari ASEAN Regional Forum yang notabene
merupakan forum kerjasama keamanan di kawasan. Ketua ARF menyatakan, dalam kaitannya dengan Konferensi, bahwa, “cendekiawan Muslim dari seluruh belahan dunia menekankan fakta bahwa kampanye melawan terorisme hanya dapat dimenangkan melalui langkah- langkah yang komprehensif dan seimbang.” Pernyataan itu juga mengatakan bahwa konferensi itu “mengutuk tindakan terorisme dengan agama apa pun, khususnya Islam, dan ras apa pun.”
Oleh karena itu, pernyataan ini jelas menunjukkan kaitan antara ICIS –sebagai kampanye Islam Moderat—dengan proyek kontra-terorisme di tingkat global. Pada tahun 2004, SBY menggantikan Megawati sebagai Presiden setelah memenangkan pemilihan presiden langsung pertama di Indonesia. SBY segera melanjutkan proyek Megawati tentang Islam Moderat dengan menginisiasi Dialog Pertama Kerjasama Antar Agama di Yogyakarta, 6-7 Desember 2004, bekerja sama dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia. Acara ini menandai kelanjutan dari “mempromosikan Islam Moderat” sebagai bagian dari agenda diplomasi publik. Setelah itu, beberapa rangkaian dialog antaragama diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia, serta ICIS tahunan.
Penulis menilai bahwa Islam Moderat merupakan profil baru dalam penyelenggaraan KLN era SBY. Bahkan menjadi salah satu pilar dalam doktrin kebijakan luar negeri Indonesia, yang bertujuan untuk mencari “zero enemy, thousand friends” di tingkat internasional. Melalui dialog antaragama dan pemajuan demokrasi Indonesia di era SBY, Indonesia berusaha membangun citranya sebagai negara Muslim terbesar yang mempraktikkan demokrasi sejati.
Indonesia juga ingin menjadi model negara di mana Islam dan demokrasi berjalan beriringan tanpa adanya kontradiksi di antara keduanya. Oleh karena itu, SBY berkeyakinan untuk membuktikan bahwa praktik demokrasi, serta mempromosikan pemimpin Muslim moderat- demokratis, adalah strategi yang lebih baik untuk meminimalkan ancaman teroris daripada sekadar invasi militeristik dengan kekerasan.
Dengan demikian, pengesahan wacana Islam moderat sebagai citra telah menandai wacana baru dalam kebijakan luar negeri Indonesia. Tidak seperti kepemimpinan sebelumnya yang mencoba mengartikulasikan wacana yang sama dalam usulannya tentang pergeseran ke arah Asia dan kebijakan luar negeri ekonominya, citra ini disebarkan melalui diplomasi publik.
Usulan SBY dalam mendukung dialog lintas agama adalah untuk masyarakat Barat, yang ingin menyebarkan wacana Islam liberal di dunia Muslim. Hal ini juga tercermin dalam Indonesia- US Comprehensive Partnership Agreement (Rabasa, 2007).
Atas dasar itu, penulis menilai bahwa diskursus Islam Moderat yang dibangun oleh Megawati dan khususnya SBY didorong oleh dua faktor yang saling terkait. Pertama, kemunculan GWOT mendorong beberapa negara termasuk Indonesia untuk mengartikulasikan visi Islam yang
‘moderat’ guna melawan paham ‘radikal’. Pertama, reartikulasi Islam Moderat dimungkinkan oleh keterlibatan Indonesia dalam Perang Global Melawan Teror. Setelah Bom Bali pertama pada tahun 2002, Indonesia juga dipengaruhi oleh kelompok jihad dan memutuskan untuk mengatasi ancaman teroris melalui berbagai program. Program-program ini melibatkan kombinasi pendekatan berbasis keamanan dan program kontra-radikalisasi, yang tertanam dalam diplomasi publik Indonesia untuk melawan narasi Islam radikal di Indonesia (Yi &
Melissen, 2011).
Kedua, reartikulasi Islam moderat juga dimungkinkan dengan meningkatnya keterlibatan
“aktor non-negara” dalam diplomasi publik dan kerja sama internasional. Peran AS dalam mempromosikan Islam Moderat berperan di sini. Sebagai contoh, di Indonesia, pemerintah AS memberikan bantuan untuk membuat jejaring di antara jaringan Muslim moderat yang telah ada sejak awal 2000-an, seperti Jaringan Islam Liberal (JIL), elemen progresif di Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, ulama moderat dari IAIN (kemudian berubah menjadi UIN), dan banyak entitas moderat lainnya di Indonesia. Namun, pemerintah AS tidak secara langsung membantu jaringan tersebut. Terdapat banyak organisasi donor yang terlibat dalam mensosialisasikan platform Islam moderat kepada lembaga-lembaga masyarakat sipil Indonesia (Rabasa, 2007). Meskipun tujuan awalnya adalah untuk melawan ide-ide radikal, proses ini telah membawa beberapa dinamika baru dalam Islam Indonesia, yang menyaksikan munculnya beberapa gagasan liberal (dipropagandakan oleh Jaringan Islam Liberal dan mitranya di Muhammadiyah, Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) dan dinamika lebih lanjut dalam wacana Islam Indonesia selama tahun 2000-an dan awal 2010-an (Arifianto, 2020).
Munculnya diskursus Islam moderat dalam GWOT yang dipimpin AS dan meningkatnya keterlibatan aktor non-negara Islam Moderat di Indonesia membuka jalan bagi kemunculan kembali Islam dalam kebijakan luar negeri Indonesia pada masa pemerintahan SBY. Pada titik inilah, norma global itu telah terinternalisasi. Hal itu pula melandasi pandangan bahwa tanpa dukungan internasional, proyek semacam itu tidak akan terartikulasikan secara adil dalam kebijakan luar negeri Indonesia, yang secara historis dibangun di atas aturan teknokratis yang kuat di Kementerian Luar Negeri. Ini juga menjelaskan mengapa eksperimen intelektual Wahid dalam kebijakan luar negerinya gagal dan mengapa proyek serupa, meskipun dengan tujuan politik yang berbeda, berhasil di bawah Megawati dan SBY. Dimensi internasional penting. GWOT telah memungkinkan untuk berbicara tentang Islam Moderat dalam politik internasional dan, terlebih lagi kebijakan luar negeri Indonesia.
Dalam konteks ini, dapat penulis justifikasi bahwa baik Gusdur, Megawati, maupun SBY berusaha untuk mengartikulasikan Islam Moderat sebagai proyek politik dalam kebijakan luar negeri mereka. Namun, ada beberapa perbedaan pada sumber ideologis dan latar belakang sosial-politik yang membentuk proyek mereka berbeda. Gusdur berusaha untuk mengartikulasikan proyeknya sendiri berdasarkan pemahaman intelektualnya tentang Islam.
Sedangkan, Megawati dan SBY sangat dipengaruhi oleh proyek GWOT yang dipimpin AS dan secara politis menempatkan Islam Moderat di bawah bentuk pemerintahan global tertentu yang diproyeksikan oleh AS. Inilah yang kemudian membedakan Gusdur dari Megawati dan Yudhoyono dalam hal dukungan eksternal. Gusdur harus menghadapi kendala domestik dan kurangnya dukungan internasional. Sementara itu, Megawati dan SBY tampaknya lebih berhasil dalam memproyeksikan Islam Moderat dalam kebijakan luar negeri Indonesia, terutama karena dukungan internasional yang kuat
KEBANGKITAN POPULISME BARU
Istilah populisme dalam beberapa tahun terakhir kian menggema. Istilah ini tidak hanya ditujukan menjelaskan bagaimana isu identitas yang berwajah etnis, agama, peradaban, dll tampil dalam permukaan publik domestik di belahan Dunia Islam, tetapi juga berlangsung di Barat. Olehnya itu, fenomena ini dianggap sebagai isu global. Misalnya, keterpilihan Donald Trump di AS disebabkan oleh dukungan besar berasal dari kelompok konservatif. Dalam masa
kampanye, Donald Trump menempatkan istilah America First atau America great again.
Istilah semacam ini diartikan sebagai wujud knowledgeable practices untuk merealisasikan imaji kebesaran AS seperti tiga dekade lalu. Imaji ini berasal dari kekecawaan kelompok konservatif terhadap pemimpin sebelumnya.
Apakah narasi ini sesuai dengan faktanya? Di sinilah letak populisme yang sesungguhnya, bahwa ekspresi politik ditujukan untuk membangun solidaritas bersama bagi pihak-pihak yang dikecewakan atau terkucilkan oleh kompetisi ekonomi-politik. Sementara, tokoh populis memainkan isu ketidakadilan, ketimpangan, kegagalan, dst sebagai jalan menuju pembaruan.
Kemudian, isu identitas menjadi tali pengikat solidaritas mereka. Pendekatan konstruktivis menilai pola semacam ini sebagai shared ideas guna mengkonsruksi struktur baru.
Harus juga diakui bahwa perbincangan ini populisme yang tidak hanya menghinggapi Barat, tetapi juga terjadi di sepanjang gugusan negara modern. Tanpa terkecuali juga Indonesia.
Populisme di Indonesia tampil mengemuka semenjak kontestasi pemilihan presiden 2014 antara Jokowi dan Prabowo Subianto. Pihak Prabowo memainkan gelagat populisme bersifat ultra-nasionalis dan konfrontatif di mana mengimajinasikan kejayaan Indonesia seperti masa lalu (era Orde Baru), sementara Jokowi menampilkan populisme pragmatis nir-ideologis dan teknokratis dengan tetap merujuk pandangan nasionalis kerakyatan dengan dikombinasikan antara pengalaman teknokrasi dan komunikasi langsung ke akar-rumput (media melabeli aksinya sebagai blusukan) (Mietzner, 2015). Situasi ini kian mencekam sebab atmosfer politik Indonesia dikelillingi oleh isu identitas keagamaan (Islam) dan etnis (Tionghoa).
Apakah fenomena populisme Islam di Indonesia merupakan fenomena sosial-politik baru?
Sebelum mengeksplorasi pertanyaan ini, penulis menyadari perlu untuk secara sederhana menampilkan debat tentang populisme itu sendiri. Harus diakui, bahwa beragam literatur yang menyampaikan tema ini tampil secara debatable. Olehnya itu, konsep populisme sering ambigu, elusif, dan tumping tindih. Penulis memandang konsep ini bersifat kontestatif karena praktik populisme hampir banyaknya tampil di berbagai negara memiliki indikasi, watak, dan trajektori yang berbeda-beda.
Populisme secara sederhana dapat bermakna sebagai ekspresi politik yang merepresentasikan identitas sosial politik, seperti kelompok menengah ke bawah yang termarjinalkan, dan juga melalui figure personal yang bersifat apokalipstik. Pada gilirannya, praktik populisme tergambar dalam watak ‘kita’ dan ‘mereka’. Inglehart dan Norris (2019) mengidentifikasi kebangkitan populisme sebagai fenomena global kontemporer itu disebabkan oleh dampak krisis finansial global telah menciptakan ketidakseimbangan pendapatan, pemeresotan pertumbuhan ekonomi dunia dan domestik, serta kesenjangan kian meningkat justru sebagai katalisator membayangi kekecawaan suatu kelompok terhadap janji-janji pasar itu sendiri. Akan tetapi, kesenjangan ini tidak ditampilkan melalui ekspresi pada pemerintah semata, melainkan juga pada gesekan terhadap identitas agama, etnis, suku, dst. Dengan demikian, populisme yang sedang bangkit itu semula dari kekecawaan ekonomi menuju pertentangan kultural (cultural backlash).
Sebaliknya, kebangitan populisme baru menurut Vedi R. Hadiz (2019) senantiasa disebabkan oleh pertentangan neoliberalisme. Dalam penelitiannya yang hendak mengkomparasi antara Timur Tengah dan Indonesia yang pada khsususnya adalah kebangkitan populisme Islam di Dunia Islam sejatinya memperlihatkan bahwa apa yang terjadi dalam hiruk-pikuk sosial politik
di Indonesia telah mencerminkan suatu trajektori Panjang kekecawan masyarakat Islam pada suatu system dan kekuasaan structural yang tidak hanya berlangsung pada level domestik, melainkan juga di tingkat global. Populisme bisa disederhanakan sebagai wujud resistensi identitas terhadap identitas yang lebih sistemik. Gerakan sosial-politik Islam mewakili sebuah ekspresi kritik atas ketidakadilan yang muncul dari serangkaian praktik-praktik ekonomi politik neo-liberalisme. Suara mereka tidak menyebut secara eksplisit neoliberalisme, tetapi ada pada Barat, di mana dunia modern merupakan system politik global yang menjadikan komunitas-komunitas Islam memiliki satu persamaan mendasar, yakni tertindas atau termarjinalisasi. Hal ini pada gilirannya menciotakan wujud populisme Islam sebagai ciri mendasar populisme baru dewasa ini, khususnya tampil dalam permukaan politik Indonesia.
Praktik kolonialisme, hegemoni, dan dominasi Barat atas Dunia Islam merupakan gerbang memasuki populisme Islam. Sistem Barat yang dilambangkan semacam itu melahirkan ketimpangan antar kelas sosial. Antagonisme kelas kian dipampang oleh mereka bahwa satu budaya atas budaya lainnya melahirkan banyak pihak yang tereksklusikan. Kelas borjuasi kecil di Dunia Islam Dunia Islam pun posisinya nyaris tereklusi oleh system hegemonis tersebut.
Indonesia, Mesir, dan Turki dalam pengamatan Vedi (2019) adalah deretan negara yang memiliki kesamaan di mana pihak yang terekslusi ini berusaha meresistensi dominasi Barat melalui spirit solidaritas bersama atas nama ‘Ummat’.
Resistensi mereka dari belenggu kolonialisme telah berlangsung semenjak akhir Perang Dunia II. Pengalaman Indonesia misalnya, gerakan-gerakan ini mengusung ide-ide klasik populisme Islam itu bukan hanya mampu menjangkau kelas-kelas buruh, tetapi juga bertemu dengan gerakan-gerakan anti-kolonial dan gerakan nasionalis dari kalangan borjuasi dan feudal.
Dengan demikian, populisme Islam dianggap berhasil saat di masing-masing pihak yang berbeda memiliki musuh bersama, yakni kolonialisme Barat.
Babak kedua eksistensi populisme Islam berlangsung pasca Perang dingin. Semenjak keruntuhan Uni Soviet akibat ketidakmampuan mengimbangi kekuatan AS, Dunia Islam mengalami proses peminggiran di berbagai aspek. Proyek modernisasi yang dipimpin oleh Barat telag mengeksklusi kelas-kelas spesifik dan dalam beberapa momentum juga telah memberikan borok luka cukup menganga bagi gerakan-gerakan Islam sosial-politik. Di Indonesia sendiri, kelompok Islam bersama kelompok sekuler sama-sama berjuang untuk menyingkirkan kelompok atau gerakan komunis dalam struktur sosial. Persoalannya, kelompok Islam yang merasa akan mendapat legitimasi semenjak kekuasaan Orde Baru, tampaknya hanya menjadi wishful thinking. Kelompok seluler, nasionalis, dan teknokratis menurunkan kelompok Islam karena dianggap sebagai potensi musuh kedua setelah komunisme. Akibatnya, peminggiran itu semakin memperlebar jurang kesejahtraan. Hasilnya, asumsi publik tentang status Ummat sebagai pihak yang secara spesifik tertindas lambat laun menguat dan menjadi liar. Vedi lantas menimpali kondisi semacam itu bahwa aspirasi dan frustasi Ummat yang kian waktu terus besar, ditambah lagi fusi antar kelas yang secara sistematis terpinggirkan dalam arena sosial selama Perang Dinging mengakibatkan kemunculan reorientasi populisme Islam.
Bagaimana babak ketiga populisme Islam pasca Perang Dingin? Vedi (2019) memandang trajektori tentang populisme Islam akan terus berlangsung hingga menggapai satu elemen penting, yakni kendaraan yang dapat membonceng banyak aspirasi mereka. Hal paling mengemuka tentang bagaimana eksistensi populisme Islam penulis anggap adalah
menjelaskan tentang situasi dan dinamika kepemimpinan Jokowi. Semenjak Jokowi berlabuh dari memimpin Jakarta menuju Indonesia, kasak-kusuk politik terjadi. Basuki T. Purnama (Ahok) mengganti posisi Jokowi dalam tampuk kekuasaa Jakarta mulai mendapat resistensi besar dari kelompok Islam konservatif – sebagai gerbang populisme Islam ketiga. Fenomena Pilkada Jakarta 2017 menunjukkan bahwa beberapa kelompok Islam menjadi tunggangan dalam menyatukan beragam visi- misi politik banyak kelompok. Lahir setelah era Reformasi bergulir, organisasi massa Islam yang menemukan momentumnya itu, berhasil memainkan isu populisme Islam guna mencapai tujuannya: menjatuhkan Ahok dari kontestasi Pilkada Jakarta 2017. Front Pembela Islam memainkan kartu yang menjadi sprit mobilisasi antar kelas, yakni Anti-Tioghoa, penista agama, dan kafir guna memobilisasi resistensi mereka ke berbagai drama yang berjilid-jilid, yang disebutnya ‘Aksi Bela Islam’ dengan orientasi mencapai beragam motif yang terhimpun dalam aliansi antar kelas. Aliansi-aliansi ini terdiri dari beragam latar belakang kelas dan sosial yang pada gilirannya solid karena menganggap agamanya telah dilecehkan. Sementara itu, kelompok muslim moderat yang diasosiasikan seperti NU dan Muhammadiyah memilih tidak mengikut arus solidaritas, sebab keduanya secara pengalaman bekecenderungan memilih program dakwah mereka yang bersifat inderektif. Artinya, dakwah mereka tidak lagi menyasar pada debat antara apa yang disebut, halal atau haram. Identitas mereka bertahan pada keterbukaan.
Di lain pihak, kemunculan populisme merupakan bentuk kekecewaan terhadap rezim demokrasi. Semula, populisme hanya diposisikan dengan tujuan konstruktif terhadap demokrasi agar lebih merepresentasikan aspirasi masyarakat secara inklusif, maka populisme baru atau populisme Islam menempuh pemaknaan yang lebih kontradiktif. Alasannya, menurut Wasisto R. Jati (2017), adalah terma ‘Ummat’ diasosiasikan sebagai proksi raktat yang secara eksklusif berorientasi pada perjuangan umat Muslim. Kedua, alih-alih mendukung praktik demokrasi, populisme Islam lebih kepada memperjuangkan teokrasi yang berujung pada otokrasi. Terakhir, watak populisme islam sejatinya mengedepankan sisi penguatan identitas berbasis simbol keagamaan yang pada umumnya lebih memprioritaskan kolektivitas gerakan. Guna menggambarkan bagaimana trajektori populisme Islam di Indonesia, Martin van Bruinessen (2013) menilai tampilan populisme Islam itu senantiasa sebagai tahap ketiga setalah pembelokan konservatif (conservative turn) dan pengklaiman religiusitas (religious claimant). Tahap pertama merupakan pmurnian identitas Islam yang telah tercerabut, terpengaruh, atau terfragmentasi akibat proyek modernism Barat atau identitas superior lainnya, sehingga suatu kelompok hendak untuk mengumandangkan otensitas Islam yang memang didesain secara fundamental. Tahap berikutnya adalah di mana politik kesalahenan tampil dalam panggung sosial-politik. Nilai kesalehan tidak semata-mata menurut versi mereka ada pada ruang privat, melainkan pada ruang publik. Sehingga simbol-simbol sosial- politik ditampilkan melalui promosi politik kesalehan.
Etape Politik Islam Pasca Orde Baru
Dalam eksplorasi yang lebih besar mengenai dinamika politik domestik, penulis menilai bahwa kebangkitan populisme itu tidak hanya diwakili oleh kelompok Islam yang merasa tereksklusi tetapi juga kelompok-kelompok lainnya pasca Orde Baru. Pasca berakhirnya kepemimpinan SBY boleh dikatakan sebagai gerbang besar atau momentum sirkulasi elit yang menghasilkan ekspektasi dan harapan yang lebih maju bahkan baru di pilpres 2014.
Ekspektasi itu ditujukan dengan kemunculan tokog reformis yang kredibel dan kapabel dalam memegang tongkat estafet reformasis. Hal ini sebagai suatu kondisi real bahwa sebelumnya banyak kecacatan yang harus dibenahi. Olehnya itu, respon atas masalah itu sebagai referensi utama dalam menghasilkan visi dan misi politik kandidat populis dalam menjamin harapan- harapan publik terealisasi melalui tangannya.
Suguhan dan tontonan pilpres 2014 telah menjadi turning-point menguatnya pengaruh populisme dalam wajah politik Indonesia pasca SBY. Jokowi dan Prabowo merupakan dua calon yang mengusung tema populis dengan membawa retorika nasionalisme, sentimen neoliberalisme, dan klaim anti-establishment. Kendati begitu, penulis menilai ada beberapa perbedaan cukup mendasar antara keduanya.
Prabowo yang memberanikan diri maju dalam kontestasi pilpres di mana semula pernah kalah saat berkoalisi dengan Megawati menandakan keberlanjutan kebijakan populis nasionalis bahkan ultra-nasionalis dengan menekankan wacana politik pada isu pembangunan yang berpihak sepenuhnya pada kepentingan rakyat melalui retorika patriotisme. Misalnya, bahwa pemerintah saat ini harus melindungi kepentingan rakyat di mana kian hari Indonesia telah menjadi kerdil di hadapan persaingan ekonomi global. Kekayaan negara ‘bocor’ ke luar negeri, dan terjebak pada ketergantungan ekonomi asing. Tampak, visi kebijakan luar negerinya berorinetasi isolasionis dan skeptis terhadap globalisasi. Prabowo menyatakan apa yang telah dilakukan oleh rezim Soekarno dan Soeharto di masa lalu harus dihidupkan kembali, dengan dalil bahwa Indonesia dikenal sebagai pemain penting dalam pencaturan global. Memang, narasi yang disampaikan oleh Prabowo memiliki kesan berlebihan dan jauh pada fakta. Meski
Pembelokan Konservatif
•Islam tidakn sekedar sebagai kebutuhan teologis, melainkan sebagai kebutuhan ideologis
•Neksus agama dan masyarakat merupakan bentuk proksi
Pengklaiman Religiusitas
•Kelas-kelas sosial yang terkucilkan yang berasal dari kelas mengengah ke bahwa membangun kekuatan organik melalui patron-patron moral
•Spektrum teologi dieskalasi sebagai sikap politik
Populisme Islam
•Pengakuan kelas yang terkucilkan atau tereksklusi ditampilkan ke dalam
resistensi sosial-politik
•Kekuasaan merupakan jalan penting untuk
mengakomodir posisi mereka yang
terkucilkan
begitu, narasi patriotisme semacam ini menjadi wujud populisme yang berhaluan ultra- nasionalis.
Sementara itu, Jokowi tampak memperlihatkan ciri yang berbeda dari model populis lawannya. Visi politiknya tidak menawarkan perubahan system politik secara radikal dengan menyerang eksistensi elit-elit politik status-quo. Retorika kampanye seperti anti-asing atau anti-elit disampaikan secara lunak. Meskipun, populisme Jokowi tidak menjadikan sentimen ini sebagai basis mobilisasi politiknya, namun persoalan tentang layanan kepada masyarakat merupakan fokus utamanya. Artikulasi itu terinspirasi melali pengalaman kepemimpinannya sebagai Walikota Solo dan Gubernur Jakarta, dan juga sebagai seorang teknoratis. Dengan demikian, citra populis Jokowi terkesan pragmatis dan berorientasi perubahan nyata ketimbang visi politik yang lebih besar (Mietzner, 2015).
Pasca pemilu 2014 menghasilkan temuan konklusif, bahwa populsime ultra-nasionalis konfrontatif yang diartikulasikan oleh Prabowo justru tidak mendapat minat besar di hadapan konstituen, sementara populisme Jokowi yang bergaya teknokratis-inkulif justru lebih popular. Pertanyaannya, apakah produksi diskursus populisme terus berlanjut? Penulis menilai, bahwa baik pasca pilpres 2014 tensi populisme kian kompleks sehingga menghasilkan debat baru.
Menurut Marcus Mietzner (2015) terdapat empat prasyarat mengarah pada perkembangan populisme di Indonesia. Pertama, adanya perbedaan mendalam dalam politik agama, ras, dan kelas yang telah eksis sebelumnya. Kelompok Islam pada khususnya menghendaki akan peran formal Islam yang lebih domunan dalam negara, sementara kelompok Islam moderat dan pluralis tidak menghendaki pelembagaan peran Islam. Kedua, kemunculan politisasi kesenjangan sosial-ekonomi dalam diskursus di mana kaum Islam merasa dirugikan, sementara kelompok pluralis menganggap dirinya telah dikambinghitamkan. Ketiga, keberadaan etnis minoritas, khusunya Tionghoa, menjadi sasaran mobilisasi populis. Terakhir, ketersediaan partai-partai yang mampu mengakomodir pemimpin populis, yang umumnya berasal dari luar lingkaran partai-partai arus utama dengan imbalan pemeliharaan kepentingan politik dan ekonomi partai. Lebih lanjut, Mietzner (2020) mencatat bahwa elemen penting tentang populisme di Indonesia pada gilirannya mencipitakan tiga faksi kekuatan populis yang saling bersaing, yakni faksi chauvinis, islamis, dan teknokratis. Hal itu tampak pada pilpres tahun 2014, di mana Jokowi diposisikan sebagai seorang populis teknokrat yang berkompetisi dengan Prabowo yang diposisikan sebagai seorang chauvinis yang didukung oleh Islamis. Kontestasi keduanya terus bergulir dan kian tajam saat pilpres tahun 2019.
Pada gilirannya juga, kemunculan faksi kekuatan ini menciptakan dilema identitas bagi kebijakan luar negeri. Harus digaris-bawahi bahwa pandangan Mietzner dengan adanya tiga klasifikasi itu tidak bertahan lama pasca pilpres 2014. Justru, faksi chavinis dengan label ultra- nasionalis dan konfrontatif itu berhimpun dengan kelompok Islam konservatif. Persisnya saat kontestasi pilpres 2019, di mana Prabowo membangun koalisi akbar bernama ‘Koalisi Merah Putih’. Peserta koalisi ini berasal dari Partai Gerindra, PAN, PPP, PKS, PBB, dan Partai Golkar.
Termasuk FPI sebagai kelompok Islam konservatif ikut serta mejadi pengusung Prabowo di tingkat akar rumput. Dengan demikian, tantangan kebijakan luar negeri Indonesia di bawah Jokowi semenjak keterpilihannya di pilpres 2019 berada dalam dilema antara faksi nasionalis- sekularis versus islam konservatif.
SIKAP JOKOWI PADA ISU PALESTINA: MERANGKUL KEPENTINGAN POPULIS ISLAM?
Semasa kampanye kepresidenannya tahun 2014, Jokowi mengungkapkan bahwa akan lebih memperhatikan nasib umat Islam di seluruh dunia. Dukungan untuk kemerdekaan bangsa Palestina merupakan salah satu fokus agenda luar negeri Indonesia. Semenjak pelantikannya, forum pertama untuk menyampaikan agenda dan urgensi isu Palestina ada pada peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika pada bulan April 2015. Pada kesempatan itu, Jokowi kembali menyerukan kemerdekaan Palestina meski masih menyimpan ketidakadilan global (Setkab, 2015). Persisnya dalam pernyataannya, “Karena itu, saya serukan dalam Konferensi Asia- Afrika ini, mari kita gelorakan kembali semangat Bandung. Kemerdekaan Palestina harus terus diperjuangkan (Tempo, 2015).”
Bagi Jokowi, sikap ini tergolong efektif untuk mendapat perhatian di hadapan kelompok Muslim di Indonesia, khususnya kelompok Islam konservatif, tanpa kesan sedang memainkan gaya populis dalam diplomasinya. Cara ini juga sebagai wujud meningkatkan statusnya sebagai pemimpin Muslim dunia yang mengedepankan solidaritas bersama Palestina. Di samping itu, deklarasi terhadap dukungan Palestina pada konferensi tersebut menujukkan ketegasan Indonesia yang tidak pernah berubah sejak awal, sekaligus juga membangun citra bahwa sikap populis-nasioalis memiliki solidaritas yang sama dengan kelompok Islam terkait isu Palestina.
Jokowi juga menyampaikan visi dan sikapnya secara konsisten di hadapan OKI. Institusi ini dianggap penting bagi Jokowi, mengingat kepemimpinan di masa lalu kurang memberi prioritas dalam menyampaikan agenda Indonsia terhadap Dunia Islam. Di samping itu, OKI dianggap sebagai wadah tepat dalam mengartikulasikan kepentingan Indonesia di hadapan dunia, sekaligus juga memperkuat hubungan strategisnya di Timur Tengah. Artinya, institusi ini menjadi instrumen cermat Jokowi dalam memperkuat dirinya sebagai figur nasionalis guna mendapat popularitas dan dukungan dari kelompok Islam.
Setahun setelah pertemuan KAA di Bandung, Jokowi tetap menggaungkan isu Palestina melalui KTT OKI yang dihelat pada 6-7 Maret 2016. Jokowi merasa prihatin dengan eskalasi kekerasan terhadap warga Palestina serta pembatasan akses mereka dalam beribadah yang dilakukan oleh Israel. Jokowi mengharapkan KTT ini menghasilkan kesepakatan atau strategi baru guna mengaktivasi proses perdamaian Timur Tengah yang selama ini tertunda. Boleh dikatakan KTT ini merupakan KTT perdana yang mengangkat secara khusus isu Palestina. Bagi Jokowi, KTT ini setidaknya menentukan tiga langkah nyata untuk mengatasi masalah utama Palestina, yakni negara keanggotaan dapat menekan Israel untuk patuh kepada komitmen Resolusi PBB, menemukan langkah tepat dalam menghasilkan atau menetapkan perbatasan Israel-Palestina, dan menekankan perlunya langkah konkret mengembalikan rakyat Palestina yang berada di luar wilayah Palestina akibat pendudukan illegal Israel (Antara News, 2016).
KTT ini telah dihadiri lebih dari 600 anggota delegasi dari 55 negara, lima anggota permanen Dewan Keamanan PBB, dan dua organisasi dunia yakni PBB dan Uni Eropa dengan menyaksikan Deklarasi Jakarta yang memuat komitmen OKI terhadap Palestina. Pasca KTT ini, Jokowi kembali mengundang beberapa kelompok Islam (khususnya NU dan Muhammadiyah), dan Anggota Komisi I DPR-RI untuk merespon sekaligus menilai masa depan Palestina di tengah sikap aktif Indonesia (Republika, 2016)
Setahun kemudian juga, KTT OKI yang berlangsung di Istanbul, Turki, Jokowi tetap menegaskan sikapnya pada perjuangan Palestina. Hal itu disampaikan melalui nota usulan dalam merespon pengakuan AS terhadap wilayah Palestina sebagai wilayah Israel, yakni (1) mengedepankan strategi two-state solution sebagai langkah utama untuk menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Palestina; (2) megajak seluruh negara yang memiliki Kedutaan Besar di Tel Aviv, Israel, untuk tidak mengikuti keputusan Amerika Serikat memindahkan kedutaan mereka ke Yerusalem; (3) negara keanggotaan harus menjadi mesin penggerak untuk mengajak pihak negara lain dalam memprioritaskan dukungan kepada Palestina; (4) negara yang memiliki hubungan dengan Israel untuk mengambil sikap diplomatik; (5) meningkatkan bantuan kemanusiaan, dan penguatan kapasitas kerja sama ekonomi kepada Palestina; dan (6) menjadikan OKO sebagai motor penggerak di berbagai forum dunia untuk mendukung Palestina (Setkab, 2017).
Selain diplomasi multilateral yang ditempuh Indonesia untuk memperjuangkan Palestina, Jokowi juga melakukan skema diplomasi unilateral. Hal itu dimulai dengan pembentukan Konsul Kehormatan Indonesia, di Ramallah. Pembukaan kantor ini merupakan bukti konkret Indonesia sebagai negara aktif dalam memperjuangkan kedaulatan Palestina. Dengan posisi Palestina yang belum diakui sebagai entitas negara oleh PBB, maka Indonesia secara unilateral mengakui kedaulatannya dengan kehadiran kantor konsul tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Menlu RI Retno Marsudi, “Dukungan Indonesia kepada perjuangan rakyat Palestina tidak pernah padam dan pada hari ini kita maju satu langkah lagi dengan pelantikan Konsul Kehormatan RI di Ramallah (Media Indonesia, 2016).” Patut diakui bahwa Jokowi telah merepresentasikan kejelasan sikap yang lebih transformatif dibandingkan kepemimpinan sebelumnya. Pendirian kantor konsul ini sebagai wujud realisasi kampanye Jokowi-Jusuf Kalla, yakni mendasar pada isu kemerdekaan Palestina dengan tindakan konkret adalah mendirikan Keduataan Besar Republik Indonesia di ibukota Palestina (Berita Satu, 2014).
Tindakan multilateral dan unilateral yang ditempuh oleh Jokowi bisa dipahami sebagai peredaman atas penyudutan kelompok nasionalis yang dilancarkan oleh kelompok konservatif. Di samping itu, kebijakan Jokowi terhadap isu Palestina telah mencerminkan kejelasan dalam mengaspirasikan kedua belah faksi, yakni kelompok nasionalis di mana Palestina telah menjadi konsentrasi kebijakan Indonesia semenjak kepemimpinan Soekarno, demikian juga kelompok Islam bersimpati dengan tindakan Jokowi mengingat Indonesia sebagai negara aktif dalam menekan aksi Barat dan Israel dalam menciptakan ketidakadilan dan peminggiran masyarakat Muslim di Palestina.
MEMBACA POSISI INDONESIA TERHADAP ISU UIGHUR
Isu represi dan genosida yang dilancarkan oleh pemerintah Beijing terhadap kelompok etnis Muslim Uighur telah mendapat sorotan tajam dunia, khususnya juga Dunia Islam. Pemerintah Cina dilaporkan telah menahan lebih dari satu juta Muslim di kamp-kamp re-edukasi.
Sebagian besar orang yang telah ditahan secara sewenang-wenang adalah Uyghur, kelompok etnis yang sebagian besar berbahasa Turki yang berada di wilayah barat laut Cina, yakni Provinsi Xinjiang.
Berbagai organisasi pembela HAM, PBB, dan termasuk berbagai negara mendesak Cina untuk menghentikan aksi pelanggaran HAM terhadap kelompok minoritas. AS secara tegas bahkan memposisikan tindakan pemerintah Beijing merupakan genosida yang dilakukan secara