Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil koefisien korelasi (r) sebesar -0,536 dengan nilai signifikansi 0,000 maka dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan kearah yang negatif antara Adversity Quotient dengan Menyontek pada siswa SMP. Adanya hubungan tersebut menunjukkan, semakin tinggi Adversity Quotient maka semakin rendah perilaku menyontek, demikian pula semakin rendah Adversity Quotient maka semakin tinggi pula perilaku menyontek. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa hipotesa dalam penelitian ini terbukti dan dapat diterima. Adapun sumbangan efektif yang diberikan Adversity Quotient terhadap Perilaku Menyontek sebesar 28,7%.
Perhitungan skor mean pada masing-masing variabel untuk mendeskripsikan perbedaan
Adversity Quotient dan Mencontek ditinjau dari jenis kelamin, tingkatan kelas serta kelompok kelas menjelaskan temuan, Adversity Quotient pada siswa perempuan lebih tinggi dibandingkan siswa laki-laki, sejalan dengan itu skor mean menyontek berdasarkan jenis kelamin menunjukkan siswa perempuan memiliki tingkat menyontek lebih rendah daripada siswa laki-lak.Adapun perbedaan skor mean berdasarkan tingkatan kelas menunjukkan tingkat kelas yang memiliki Adversity Quotient paling tinggi adalah kelas VII dan yang paling rendah adalah kelas IX. Demikian pula skor mean perilaku menyontek berdasarkan tingkatan kelas menunjukkan kelas yang paling rendah keterlibatan pada menyontek adalah kelas VII dan yang paling tinggi adalah kelas IX.
Selanjutnya, melihat perbedaan skor mean pada masing-masing variabel Adversity Quotient dan Mencontek ditinjau dari kelompok kelas siswa yaitu kelas unggulan dan kelas Reguler. Diketahui bahwa Adversity Quotient pada kelompok kelas unggulan lebih tinggi dibandingkan skelompok kelas reguler, Sejalan dengan itu skor mean mencontek berdasarkan kelompok kelas juga menunjukkan kelompok kelas Unggulan memiliki perilaku menyontek yang lebih rendah dibandingkan kelompok kelas reguler.
Adapun implikasi dari penelitian ini yaitu menunjukkan bahwa Adversity Quotiet juga memiliki peranan yang dapat mendorong siswa untuk memunculkan atau tidak memunculkan perilaku menyontek di sekolah. Berdasarkan temuan bahwa Adversity Quotient siswa justru semakin rendah seiring tingginya tingkatan kelas siswa agar menjadi perhatian: 1) Bagi siswa hendaknya siswa menyadari bahwa seiring meningkatnya jenjang kelas sudah pasti tuntutan penguasaan kompetensi, tingkat kesulitan dan tantangan kerumitan belajar yang dihadapi akan semakin kompleks dimana hal tersebut dapat menggoyahkan daya juang. Jika kemampuan daya juang (Adversity Quotient) tidak dikembangkan sejak dini maka, kesulitan beradaptasi pada tuntutan pencapaian kompetensi belajar akan menjadi permasalahan yang akan ditemui siswa ditingkatan kelas yang lebih tinggi.
Dengan menyadari perlunya membekali diri dengan mematangkan aspek-aspek Advesity Quotient yaitu control, origin and ownership, reach dan endurance pada diri sendiri, dapat membantu siswa lebih siap dan mantap mengerahkan kinerja secara aktif dan mandiri dalam menghadapi tantangan penguasaan kompetensi pelajaran yang lebih sulit di jenjang yang lebih tinggi sehingga tidak lagi memandang menyontek sebagai kebutuhan atau jalan keluar kesulitan yang dihadapi untuk memenuhi standar belajar. Sejalan dengan itu juga perlu siswa mengembangkan cara pandang dan tindakan yang positif dalam mengemban tugas akademik dimana tolak ukur keberhasilan belajar adalah pada penguasaan kompetensi bukan pada nilai akhir.
26 Bagi pendidik untuk lebih memperhatikan pentingnya menyusun strategi dalam mendidik siswa mengembangkan Adversity Quotientdalam diri siswa sejak berada di jenjang pertama, selain itu dapat pula mengadakan pelatihan sebagai salah satu solusi yang mendorong aspek- aspek Adversity Quotient dalam diri siswa dapat berkembang dengan baik. Misalnya melakukan pelatihan pengembangan aspek-aspek Control, Origin and Ownership, Reach dan Endurance untuk meningkatkan Adversity Quotient pada remaja yang digagas oleh Priyanka Jain (Jain, 2012). Sehingga dengan Adversity Quotient yang baik, sekolah tidak hanya memperkecil keterlibatan siswanya dalam perilaku menyontek namun juga untuk menunjang keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar serta mempersiapkan peserta didik untuk lebih matang menjalani jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan tantangan yang lebih sulit. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik meneliti Adversity Quotient agar mengembangkan skala dengan model yang lain agar penelitian terkait Adversity Quotient memiliki instrumen dan dapat diukur dengan cara yang lebih variatif. Bagi peneliti yang ingin meneliti tentang menyontek, dapat memperdalam perilaku menyontek pada pembahasan sosial kognitif dan kompetensi moral yang dimiliki oleh subjek. Saran tambahan terkait penelitian dengan judul yang sama adalah, ada baiknya lebih memperhatikankeseimbangan prosentase antara subjek laki-laki dan perempuan.
REFERENSI
Alhadza, A. (1998). Masalah Menyontek (Cheating) di Dunia Pendidikan
http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/38/MASALAH_MENYONTEK_DI_DUNIA_% 20PENDIDIKAN.htm.
Anderman dan Mudrock. (2006). Motivational Perspectives on Student Cheating: Toward an Integrated Model of Academic Dishonesty. Educational Psychologist, 41(3), 129–145
Anderman, E. M., & Midgley, C. (2004). Change in Self-Reported Academic Cheating Across the Transition From Fiddle School to High School. Contemporary Educational Psychology, 29, 499-517
Anderman, E. M., Griesinger,T., dan Westerfield, G. (1998). Motivation and Cheating During Early Adolescence. Journal of Educational Psychology. 90, 1, 84-93.
Anderman, E.M., & Murdock, T.B. (2006). Psychology of Academic Cheating. New
Anderman, Erick M; Mudrock, Tamerra B. (Eds). (2007). Psychology of Academic Cheating. USA Alfie KohnAll Right of reproduction in any from reserved. www.scribd.com
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rieneka Cipta Baldwin, R.D.(2002). Stress and Illnes in Adolescenes: Issue of Race and Gender.
http://www.fidarticles.com
Buechela, Berno. Mechtenberga, Lydia, and Petersena Julia. (2014). Peer Effects and Students’ Self-Control. A Department of Economics, University of Hamburg.
27 Callahan, D. (2004). The cheating culture: Why more Americans are doing wrong to get
ahead. Orlando, FL: Hartcourt.
Carrel, Scott E., Malmstrom, Frederick V., & West, James E. (Tanpa tahun). Peer Effects in Academic Cheating.The Journal Of Human Resources. XLIII. 1
Cornista, G., & Macasaet, C. (2012). Studied Adversity Quotient and Achievement Motivation of Third Year and Fourth Year Psychology Students of de la Salle Lipa.
Retrieved in August, 2012, from
http://www.peaklearning.com/documents/PEAK_GRI_cornista-macasaet.pdf
Cura, J., & Gozum, J. (2011).Correlational Study on Adversity Quotient and the Mathematics Achievement of Sophomore Students of College of Engineering and Technology in
Pamantasan ng Lungsod ng Maynilaw.
Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.http://www.unissula.ac.id/v1/download/Peraturan/PP_19_2005 STANDAR_NAS_PENDDKN.PDF.
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2006. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989tentangSistemPendidikanNasional.http://www.dikti.org/uu_no2_1989.htm.
Gage N. L. and Berliner David C (1976). Educational psychology third edition. Boston : Houghton Mifflin Company
Hasanah, Khuswatun. (2013). Uji Koreasi Product Moment. Copyright 2013 StatistikaPendidikan.com. Accesed on Desember 28, 2015 from http://statistikapendidikan.com
Hendro & Taufiq. (2014). Contek Massal: Tidak Sah, Siswa SMPN 67 Ikut UN Susulan. Diunduh pada www.harianterbit.com-April 2015)
http://cetak.kompas.com/read/2009/11/25/14475866/Menyontek.Masih.Dilakukan.di.ITB
Idrus, Muhammad. (2009). Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Jain, MS Priyanka. (2012). Dissertation Development Of A Programmme For Enhancing Adversity Quotient Of Std Vith Students. Department of education s.n.d.t. Women’s University
Klausmeier, H.J. 1985. Educational Psychology. New York: Harper and Row
Korir, Daniel K., & Klipkemboi, Felix.(2014). The Impact of School Environment and Peer Influences on Students’ Academic Performance in Vihiga County,Kenya.
International Journal of Humanities and Social Science. Vol. 4, No. 5(1)
McCabe, D. L., Trevino, L.K. & Butterfield, K.D (2001). Cheating in Academic institutions: Adecademic of research. Ethic & Behaviour, 11(3), 219-232
28 Menyontek, Langkah Pertama Menjadi Koruptor (2006, 9 Septrember). SuaraMerdeka, hal
18.
Muammar, Omar. (2011). Intelligence and Self-Control Predict Academic Performance of Gifted and Non-gifted Students. Asia-Pacific Journal of Gifted and Talented Education, Volume 3, Issue 1, 2011 Intelligence and Self-Control. University of Dammam, Saudi Arabia
Peer, E., Acquisti, A., and Shalvi, S. (2014). “I Cheated, but Only a Little”: Partial Confessions to Unethical Behavior. Journal of Personality and Social Psychology. Vol. 106, No. 2, 202–217
Pincus, H. S. & Schmelkin, L. P. (2003). Faculty Perceptions of Academic Dishonesty. A Multidimensional Scaling Analysis. Journal of Higher education – volume 74, Number 2, pp. 196-209
Poedjinoegroho, B. (2005, 7 Januari). Biasa Menyontek Melahirkan Koruptor. Kompas, hal 49.
Priyatno, D. (2011). Buku saku analisisi atatistika data SPSS. Jakarta: PT. Usaha Nasional Santrock, J.W. (2002). Life-Span development (Perkembangan Masa Hidup) edisi kelima.
(Ter. Darmanik, J., & Chusairi, A). Jakarta: PT. Erlangga
Sarwono, S. (1994). Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Stoltz. (2000). Adversity Quotient (Alih Bahasa: Hermaya, T). Jakarta: PT. Grasindo.
Sujana, Y.E., dan Wulan, R. (1994). Hubungan Antara Kecenderungan Pusat Kendali dengan Intensi Menyontek. Jurnal Psikologi, XXI, 2, Desember, 1-7. UNIA_%20PENDIDIKAN.htm. York: Academic Press.
Titus. (2013). Organizational Resilience and Adversity Quotient of Singapore. Companies. DOI: 10.7763/IPEDR. 2013. V65. 17
Ying Shen, Chao. (2014). The Relative Study of Gender Roles, and Job Stress and Adversity Quotient. The Journal of Global Business Management Volume 10 * Number 1
29