Berdasarkan hasil penelitian dari 50 orang guru pembimbing khusus dalam sekolah inklusi yang berpartisipasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara caregiver strain dengan subjective well being. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara caregiver strain dengan subjective well being. Hal tersebut diperkuat dengan nilai korelasi sebesar -0.30 dengan nilai signifikasi 0.03.
Implikasi dan penelitian ini yaitu, bagi sekolah inklusi untuk dapat memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada tenaga pengajar untuk mengkaji pembinaan profesi secara rutin, namun materi yang dikaji lebih diarahkan pada pengenalan terhadap anak berkebutuhan khusus, menyusun rencana aktifitas pembelajaran kolaboratif serta mengembangkan pembelajaran dalam setting pendidikan inklusif. Selain itu,
perlunya kerjasama antara pihak sekolah dengan guru pembimbing khusus juga harus menjadi perhatian, karena tidak jarang terjadi misunderstanding antara pihak sekolah inklusi mengenai peran dari guru pembimbing khusus di sekolahnya. Tanggung jawab terhadap anak berkebutuhan khusus dikelas tidak serta merta dipegang sepenuhnya kepada guru pembimbing khusus, melainkan antara guru kelas dan guru pembimbing khusus harus saling bekerjasama dalam melayani anak berkebutuhan khusus, mulai dari mengidentifikasi anak, mengasesmen anak, sampai pada menyusun program pembelajaran individual. Bagi guru pembimbing khusus, diharapkan untuk dapat lebih memahami keadaan anak didik. Diharapkan guru pembimbing khusus dapat melakukan proses penilaian secara berkelanjutan atau terus menerus, tidak hanya didasarkan pada standar pendidikan pada umumnya, sehingga guru pembimbing khusus dapat mengadaptasi perencanaan dan pengajaran selanjutnya menurut kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan begitu, akan memudahkan kinerja guru pembimbing khusus dalam memberikan perawatan terhadap anak berkebutuhan khusus dan secara tidak langsung dapat meningkatkan subjective well being pada guru pembimbing khusus yang bersangkutan. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema yang sama, peneliti sangat menyadari bahwa penelitian ini masih ada sisi kekurangan dan kelemahan baik dilihat dari aspek metodologis maupun analisis. Kekurangan dan kelemahan dirasakan peneliti setelah adanya masukan dari berbagai pihak baik dalam kritik maupun saran, hal ini yang mendorong peneliti untuk berharap kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian yang sudah peneliti lakukan dengan melakukan pengembangan permasalahan atau variabel-variabel yang dirasakan perlu untuk diteliti, sehingga menghasilkan simpulan yang memiliki akurasi dan validitas yang lebih baik serta menghasilkan temuan baru yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan inklusif
REFERENSI
Abbeduto, L., Seltzer, M. M., Shattuck, P., dkk (2004). Psychological well being and coping in mothers of youths with autism, down syndrome, or fragile x syndrome. American journal on mental retardation. 109, 3, 237-254
Alliance, F. C. (2012). Fact sheet : Selected caregiver statistics. (online) http://www.caregiver.org. diakses pada 14 Novermber 2014
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian ( Susunan Pendekatan Praktek ) Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta
Azwar, S. (2010). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Azwar. S. (2013). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Compton, W.C. (2005). Introduction to Positive Psychology. New York : Thomson Wodsworth. (online). http://www.mheducation.co.uk. diakses pada 23 November 2014
Cramm, J. M. and A. P. Nieboer. (2011). Psychological well-being of caregivers of children with intellectual disabilities : Using parental stress as a mediating factor. Journal of Intellectual Disabilities. 15(2) 101–113. (online). http://www.researchgate.net. diakses pada 23 November 2014
Diener, ED., Scollon, CN., Oishi, S., Dzukoto, V., dan Suh, M. (1997). Recent Findings on Subjective Well-Being. Indian Journal of Clinical Psychology. 1. 159-76. (online). http://siteresources.worldbank.org. diakses pada 14 Januari 2015
Diener, E. dkk. (1999). Subjective Well Being : Three Decades of Progress. Psychological Bulletin, 2: 276-302. (online). http://doi.apa.org. diakses pada 23 November 2014
Duxbury, L., Higgins, C. & Schroeder. B. (2009). Balancing paid work and caregiving responsibilities : A closer look at family caregiver in Canada. (online) http://www.cprn.org, diakses pada 12 Januari 2015
Given, B., Given, C.W., & Sherwood, P. R. (2008). What knowledge and skills do caregivers need. American journal of nursing, 108, (9), 28-34.
Ha, J., Hong, J., Seltzer, M. M., dkk. (2008). Age and gender differences in the well-being of midlife and aging parents with children with mental health or developmental problems : Report of a national study. Journal of health and social behavior, 49 (3), 301-316. (online). http://www.ncbi.nlm.nih.gov.diakses pada 14 Januari 2015
Hoyert, D. L. & Seltzer, M. M. (1992). Factor related to the well-being and life activities of family caregivers. Family relations, 41(1), 78-81 Linley, P.A & Joseph S. 2004. Positive Psychology in Practice. New Jersey: John Wiley & Sons. Inc. (online). http://www.waisman.wisc.edu.diakses pada 23 November 2014
Howlin, P. (1998). Children with autism and asperger syndrome : A guide for practitioners and carers. West Sussex : John Wiley & Sons
Kahneman, D and Krueger, A.B (2006). Developments in the Measurement of Subjective Well-Being. Journal of Economic Perspectives. 20(1), 3–24. (online). http://international.ucla.edu.diakses pada 14 November 2014
Kashdan, T.B (2004). The assessment of subjective well-being (issues raised by the Oxford Happiness Questionnaire). University at Bu.alo, Department of Psychology, State University of New York : Park Hill. (online). http://mason.gmu.edu.diakses pada 24 November 2014
Linley, P.A & Joseph S. (2004). Positive Psychology in Practice. New Jersey: John Wiley & Sons. Inc. (online). http://www.imd.inder.cu. diakses pada 14 Januari 2015
Liu, J. (2013). Caregiver Strain Among Chinese Adult Children of Oldest Old Parents. Dissertation. University of Lowa : Lowa Research Online. (online). http://ir.uiowa.edu/etd/2568 diakses pada 11 Desember 2015
Malak, M. (2013). Inclusive education reform in Bangladesh: pre-service teacher’s
responses to include students with special educational needs in regular classrooms. International Journal of Instruction. 6 (1), 210-211.
Newton, N. G. L., Janelle C. J. (2014). What does teachers' perception have to do with inclusive education : A bahamian context. International journal of special education. 29(1).
Putri, G. K. R. (2013). Hubungan antara caregiver strain dan psychological well-being pada ibu sebagai caregiver dari anak dengan autism spectrum disorders. Skripsi. Depok : Universitas Indonesia
Shaffer, C. M (2012). Dissertation : Parenting stress in mothers of preschool children recently diagnosed with autism spectrum disorder. New Jersey : The state university of New Jersey
Seligman, M.E.P. (2002). Autenthic Happiness. Bandung : Mizan Media Utama Serrata, C. S. (2012). Psychosocial aspects of parenting a child with autism. Journal
of applied rehabilitation counseling. 43, 4, 29-35
Schimmack, U., Oishi, S., Diener, E. (2002). Cultural influences on the relation between pleasant emotions and unpleasant emotions : Asian dialectic philosophies or individualism-collectivism?. Cognition and Emotion Volume 16 p705-719. Psychology Press. http://www.tandf.co.uk/journals /pp/02699931.html Schoeder, C.E. & Remer, R. (2007). Perceived Social Support and Caregiver Strain in
Caregivers of Children with Tourette's Disorder. Journal of Child and Family Study, 16, 888-901.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta
Suryabrata, S. (2005). Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta : Penerbit ANDI
Smith, C. A., Dennis, W. O., Janet, P. N. (1983). Organizational Citizenship Behavior: Its nature and antecedent. Indiana University : School of Business
Thornton, M. & Travis, S. S. (2003). Analysis of reliability of the modified caregiver strain index. Journal of gerontology, 58B, 2, 127-132
Walker, J. (2007). Teens in Distress Series Adolescent Stress and Depression, Minnesota University. (online) http://www.extension.umn.edu di akses pada 26 April 2015
Wibowo, A. E. (2012). Aplikasi praktis SPSS dalam penelitian. Yogyakarta : Gaya Media
Winarsih, Tri. (2006). Subjective Well-Being pada Wanita Menopause. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta : Fakultas Psikologi
Woo, B. (2009). Cultural effects on Work Attitudes & Behavior: The case of American and Korean fitness employees. Desertation The Ohio State University
Wu, K. K., Cho, V. W., Li, A., dkk. (2010). Development of a psychological well-being for family caregivers in palliative care. East asian arch psychiatry. 20, 3, 109-115
LAMPIRAN
1
Blue Print Skala (Try Out)
a. Skala Caregiver Strain
No Aspek Favorable Unfavorable Total
1. Physical Strain 5,6,13,14,21,22,29, 30 3,4,11,12,19,20 14 2. Emotional Strain 1,2,9,10,17,18,25,2 6 7,8,15,16,23,24,2 7,28 16 Total 16 14 30
b. Skala Subjective Well Being
No Aspek Favorable Unfavorable Total
1. Afek Positif 5,6,17,18,23,24,29, 30 8 2. Afek Negatif 9,10,19,20,25,26,31 ,32 8 3. Kepuasan hidup 1,2,13,14,21,22,27, 28 3,4,7,8,11,12,15,1 6 16 Total 24 8 32
LAMPIRAN
2
Instrumen Penelitian : Kuesioner Try Out
Identitas Responden
Nama (inisial) : Tempat, tanggal lahir :
Usia :
Jenis Kelamin : P / L* * = coret yang tidak perlu
Petunjuk Pengisian
Dengan hormat,
Di tengah kesibukan Saudara saat ini, perkenankanlah saya memohon bantuan Saudara untuk meluangkan waktu sejenak guna mengisi skala yang saya lampirkan. Hal-hal yang perlu saya jelaskan dalam skala ini adalah sebagai berikut :
1. Bahwa skala ini saya buat murni untuk tujuan penelitian yang bersifat ilmiah, maka saya mengharapkan kejujuran Saudara dalam mengisinya
2. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, sehingga Saudara tidak perlu ragu-ragu untuk menentukan pilihan jawaban
3. Semua jawaban yang Saudara berikan kami jamin kerahasiaannya
4. Kami mohon jangan sampai ada satu nomorpun yang terlewati jawabannya Bacalah baik-baik setiap pernyataan berikut dan pilihlah salah satu alternatif jawaban yang sesuai dengan keadaan diri Saudara dengan memberi tanda check list
(√) pada salah satu jawaban yang sudah tersedia, yaitu :
SS : Sangat Setuju S : Setuju
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
Atas kesediaan dan bantuan Saudara untuk mengisi skala ini, saya ucapkan terima kasih
SKALA X
NO PERNYATAAN SS S TS STS
1 Saya tidak tahu bagaimana rasanya hidup tentram, karena kegiatan ini membuat saya gelisah. 2
Saya merasa kelelahan sehingga mudah sekali menganggap takdir yang diterima oleh siswa berkebutuhan khusus tidak adil
3
Saya tidak membutuhkan banyak tenaga ketika mendidik siswa inklusi karena saya memiliki metode yang efektif bagi mereka
4 Saya tidak merasa lelah walaupun harus seharian membimbing siswa inklusi
5
Membimbing siswa inklusi cukup menguras tenaga saya sehingga membuat saya mudah merasa lelah
6 Saya merasa bahwa tugas sebagai guru pembimbing khusus menguras banyak tenaga 7
Saya terbiasa berterima kasih dalam hati/lisan, karena takjub dengan kebesaran Tuhan atas perbedaan pada anak-anak didik saya
8
Saya menerima tanggung jawab sebagai guru pembimbing khusus dengan rasa percaya diri yang tinggi
9 Saya merasa tidak nyaman berada dalam kelas inklusi
10 Saya mudah mengeluh jika membimbing kelas inklusi
11
Ketika kelas inklusi belum menunjukkan perkembangan yang signifikan, saya semakin bekerja keras untuk memberikan bimbingan khusus pada mereka
12 Saya bekerja keras demi hasil terbaik, walaupun harus mengorbankan banyak waktu
13
Salah satu yang harus dipersiapkan dalam menghadapi kelas inklusi adalah fisik yang kuat, karena diperlukan banyak tenaga untuk menghadapinya.
14 Saya merasa mudah lelah jika kelas inklusi membuat kegaduhan
15 Saya yakin bisa menjalankan tugas saya sebagai guru pembimbing khusus dengan baik
16 Mendidik kelas inklusi merupakan tanggung jawab yang cukup mudah bagi saya
17 Saya mengajar kelas inklusi dengan setengah hati karena mudah bosan dan tidak menikmatinya. 18 Saya merasa putus asa ketika tidak bisa
menemukan metode pembelajaran yang tepat untuk mengembangkan kemampuan dan potensi kelas inklusi
19 Saya tidak merasa letih dan lesu ketika berinteraksi dengan kelas inklusi
20
Saya rela kehilangan sedikit waktu istirahat saya demi mempersiapkan kebutuhan bagi kelas inklusi
21
Saya menghabiskan lebih banyak waktu di sekolah bersama dengan siswa inklusi daripada dirumah sehingga saya secara fisik menjadi mudah lelah
22
Mempersiapkan segala sesuatu untuk kebutuhan kelas inklusi membuat waktu tidur saya menjadi berkurang
23 Saya senang bisa beraktifitas dengan kelas inklusi, bebas tanpa beban
24 Saya bersemangat ketika harus berinteraksi dengan kelas inklusi
25
Saya tidak mengerti apa yang ada di balik kehidupan ini, mengapa Tuhan mentakdirkan saya sebagai guru pembimbing khusus.
26
Dengan menjadi guru pembimbing khusus, beban kerja saya semakin berat yang membuat saya merasa khawatir tidak mampu melakukan tugas dan kewajiban saya dengan baik
27 Waktu yang saya miliki, akan sepenuhnya saya dedikasikan untuk mendidik kelas inklusi
28 Saya tidak merasa lelah ketika harus mendidik kelas inklusi
29 Berkurangnya waktu istirahat saya membuat pekerjaan saya terbengkalai
30 Saya menjadi sering mengantuk dalam kelas karena kurangnya waktu tidur
SKALA Y
NO PERNYATAAN SS S TS STS
1 Saya bersyukur dengan kehidupan saya dan tidak ingin menukarnya dengan kehidupan orang lain 2 Saya menemukan pelajaran berharga dari banyak
aktifitas dan peristiwa khidupan
3 Saya ingin menukar hidup saya dengan hidup orang lain yang lebih menyenangkan
4 Kehidupan saya berisi aktifitas yang monoton dan membosankan
5 Saat bangun di pagi hari, saya tidak sabar memulai hari dan melakukan aktifitas
6
Rutinitas yang saya lakukan membuat saya bersemangat dan ingin menambah pengalaman baru
7 Saya merasa tidak beruntung dan iri, karena orang lain diberi lebih banyak reeki oleh Tuhan
8 Saya rasa apa yang sudah saya lakukan tidak sebanding dengan apa yang saya dapatkan
9 Kehidupan ini terasa mengecewakan, karena jauh dari kehidupan yang saya impikan
10 Saya jarang semangat menjalani hari-hari karena kecewa dengan keadaan hidup saat ini.
11 Saya merasa beban kerja saya sangat berat
12 Status pekerjaan yang saya dapatkan saat ini tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan
13 Dalam banyak hal, hidup saya mendekati kehidupan ideal yang saya inginkan
14 Hidup ini indah, dengan cerita sedih dan bahagia, saya berusaha mencari hikmah positif
15 Saya memahami bahwa hidup ini sulit untuk dijalani
16 Saya iri ketika membandingkan hidup saya dengan hidup orang lain.
17 Saya jarang menganggur, karena selalu aktif dan semangat ingin melakukan kegiatan
18 Setiap hari saya bersemangat menjalani hari karena bahagia dengan kehidupan ini.
19
Dalam sehari, ada saja yang membuat saya terancam dan terbebani, hingga saya mudah tahut dan cemas
20 Saya sedih dan kecewa karena hal-hal yang terjadi dalam hidup ini
21 Saya menerima apapun yang Tuhan berikan untuk saya
pekerjaan, termasuk tempat tinggal yang membuat saya nyaman
23 Karena bangga menjadi diri sendiri, saya merasa dilimpahi kasih sayang Tuhan
24 Hal kecil pun bisa membuat saya gembira, karena hal tersebut adalah anugerah dari Tuhan
25 Saya tidak tahu bagaimana merasa tentram, karena hidup ini membuat saya gelisah
26 Dalam satu hari, ada saja sesuatu yang membuat saya gelisah atau jengkel
27
Saya merasakan anugerah yang besar karena keluarga dan lingkungan tempat tinggal saya mendukung apa yang saya lakukan
28
Hidup ini indah dengan hal yang terjadi didalamnya, itu prinsip yang membuat saya tenang dan tentram
29
Saya senang bisa beraktifitas bebas tanpa beban, tetapi tetap bertanggung jawab sebagai pribadi yang mandiri
30
Saya menunjukkan kepedulian dan saling perhatian dengan orang-orang terdekat setiap harinya.
31 Karena merasa rendah diri, saya sedih dan merasa tidak beruntung
32 Saya mudah emosi dan bermusuhan dengan orang lain karena hal sepele.