Dari temuan dan analisis data dalam penelitian ini, ada beberapa fakta yang cukup menarik untuk dijadikan kesimpulan dan saran. Di mana partisipasi masyarakat dalam Pemilu 2014 meningkat cukup signifikan secara nasional. Termasuk di Kabupaten Brebes, yang meskipun masih berada di bawah prosentase nasional.
Dengan mengambil tema “Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih di TPS”, dengan metode penelitian kualitatif, dihasilkan beberapa fakta tentang perilaku politik pemilih. Hasil penelitian dengan kuesioner disandingkan atau dikomparasikan dengan data yang ada, menunjukkan fenomena dan penyebab kehadiran dan ketidakhadiran pemilih. Ada pun kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
6.1. Simpulan
Dari temuan dan analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini, ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil, diantaranya sebagai berikut: 1. Adanya perbedaan data penduduk dari instansi yang berbeda, dalam hal ini Disdukcapil dan BPS, menunjukkan kondisi riil penduduk saat Pemilu berlangsung. Ditambah lagi dengan adanya data pendukung dari instansi lain, yakni Dinsosnakertrans terkait fenomenna banyaknya penduduk perantauan, khususnya ke luar negeri, menjadi TKI. Hal ini dibuktikan dengan jawaban responden terhadap kuesioner yang diberikan selama penelitian berlangsung.
2. Dari temuan data tersebut, kesadaran pemilih dalam menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu cukup tinggi. Khususnya di kalangan petani dan ibu rumah tangga, begitu pula pekerjaan lainnya, meskipun dengan prosentase yang berbeda. Kehadiran dan ketidakhadiran pemilih ternyata juga dipengaruhi oleh latar belakang pekerjaan yang ada.
41
3. Ada pun terkait dengan lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebagian besar mudah dijangkau. Artinya keberadaan TPS yang dibangun oleh para petugas KPPS berada pada posisi yang mudah dijangkau oleh pemilih.
4. Para pemilih juga semakin melek politik, hal itu ditunjukkan oleh bagaimana pemilih menggunakan hak pilihnya. Sebagian besar mereka menggunakan hak pilih karena kesadaran sendiri. Hanya sebagian kecil saja yang menyatakan memilih karena diberi uang atau barang. Artinya money politics yang saat Pemilu diberitakan cukup menghantui, ternyata sebagian besar para pemilih tidak terpengaruh adanya isu tersebut.
5. Tidak berbeda jauh antara Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Di mana mereka yang menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu Legislatif, juga menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Bahkan mereka yang tidak sempat menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Legislatif, ternyata menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. 6. Keberadaan golongan putih (Golput) dalam Pemilu, baik Pemilu
Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden sangat kecil. Dari 100 responden yang ada, hanya satu responden saja yang menyatakan dirinya golput, tidak memilih satu partai dan caleg mana pun. Itu didukung dengan fakta-fakta dari hasil jawaban kuesioner yang ada.
7. Para Pemilih juga berharap agar pemerintah lebih banyak melakukan sosialisasi, begitu juga penyelenggara Pemilu yakni KPU. Fakta bahwa partai politik masih minim dalam sosialisasi politik, juga berdasarkan jawaban responden yang hanya sebagian kecil menjawab informasi Pemilu dari partai politik. Dan harus diakui, peran serta media massa dalam menginformasikan berita-berita seputar Pemilu juga sangat besar. Sebagian besar responden justru mendapat pengetahuan Pemilu dari media massa.
42 6.2. Saran
Dari riset partisipasi masyarakat dengan tema Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih di TPS (voter turn-out) ini, ada beberapa saran atau rekomendasi kepada para pengambil kebijakan dalam bidang Pemilu, antara lain sebagai berikut.
1. Terkait dengan pendaftaran pemilih, yang hingga saat ini masih terus disempurnakan, perlu dilakukan kajian kembali. Hal ini terkait dengan mobilitas warga yang cukup tinggi. Di mana mereka yang merantau, ternyata banyak yang tidak menggunakan hak pilihnya. Mereka tidak mau ribet dengan proses politik, yakni Pemilu. Seperti mengurus surat pindah memilih (A-5), yang berdasarkan pengalaman Pemilu 2014, mereka baru bertanya pada saat hari H. Padahal aturan sudah ada, agar mereka yang terdaftar di daerah asal, dan tidak bisa memilih di TPS yang terdaftar namanya, bisa mengurus surat pindah memilih. 2. Perbedaan data penduduk antara Disdukcapil dan BPS, hendaknya
dijadikan pertimbangan dalam menentukan daftar pemilih dalam Pemilu. Hal itu merujuk pada poin nomor 1. Di mana fakta yang ada, banyak warga yang merantau, baik menuntut ilmu maupun bekerja. Fenomena lebaran, pemudik keluar dari ibukota Jakarta ke kampung-kampung halaman. Hal itu menunjukkan bahwa banyak dari penduduk suatu daerah yang merantau di luar kota, khususnya Jakarta sehingga ada regulasi.
3. Dengan fenomena dan data hasil penelitian ini, kiranya dalam pendaftaran pemilih dalam Pemilu diperlukan pendekatan yang baru, yakni pendataan faktual. Bagi mereka yang belum terdaftar, karena saat pendaftaran faktual, mereka masih bisa menggunakan hak pilihnya dengan menunjukkan identitas dirinya yang masih berlaku. Apalagi sekarang ini dengan berlakunya KTP elektronik, semakin mengecilkan kemungkinan seseorang memiliki identitas ganda.
4. Terkait dengan pendidikan politik, pemerintah, penyelenggara pemilu dan partai politik agar lebih mengintensifkan sosialisasi atau pendidikan politik. Munculnya isu money politics membuat masyarakat
43
resah dan gelisah, bahkan menyebabkan salah satu apatisme masyarakat terhadap politik. Partai politik dituntut untuk lebih aktif lagi dalam pendidikan politik ini. Sehingga ada keterikatan antara partai politik dengan konstituennya. Bukan hanya pada saat Pemilu saja, tetapi sepanjang tahun, di mana partai politik sebagai kepanjangan tangan masyarakat/rakyat di pemerintahan.
5. Salah satu cara sosialisasi yang cukup efektif untuk mempublikasikan keberadaan Pemilu kepada masyarakat adalah melalui media massa. Karenanya, diharapkan setiap tahapan atau pun kegiatan terkait dengan Pemilihan Umum diharapkan selalu mengikutkan awak media massa. Atau minimal mengadakan konferensi pers atau press release untuk mempublikasikan tahapan, kegiatan atau pun hasil-hasil Pemilihan Umum.
44