Berdasarkan data sekunder yang dimiliki KPU Kabupaten Brebes dari jumlah pemilih sebesar 1.487.556 pada Pemilu Legislatif 2014, yang menggunakan hak pilih hanya 955.551 atau hanya 64,49 persen saja. Prosentase tingkat kehadiran pemilih ini termasuk paling rendah di Jawa Tengah.
Pada Pemilu legislatif tahun 2014 di tingkat nasional hanya mencapai sekitar 75 persen, sedangkan pada Pilpres menurun menjadi hanya 69 persen. Namun diakui, kualitas pemilu pada tahun 2014 ini mengalami peningkatan di bandingkan pemilu-pemilu sebelumnya.
Sedangkan pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014, prosentase pemilih di Kabupaten Brebes hanya 61,67 persen saja. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan prosentase Pemilu Legislatif tahun 2014. Tingkat prosentase ini berarti selaras dengan prosentase di tingkat nasional. Di mana terjadi penurunan prosentase antara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dengan Pemilu Legislatif.
Berdasarkan data tingkat kehadiran pemilih di masing-masing kecamatan di Kabupaten Brebes, Kecamatan Salem menjadi kecamatan dengan prosentase kehadiran pemilih yang terbesar, sebanyak 76,31 persen, kemudian Kecamatan Songgom menjadi kecamatan dengan prosentase kehadiran terendah, sebanyak 58,46 persen.
Dari data jumlah penduduk, yang menjadi dasar dalam penentuan jumlah pemilih dalam pemilu, data yang berasal dari instansi berbeda di Kabupaten Brebes terdapat perbedaan. Yakni yang berasal dari data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) dengan data yang berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Brebes. Perbedaan ini bisa dipahami, karena memang metode dan cara yang digunakan berbeda pula.
Berikut data yang diperoleh dari dua instansi tersebut, berdasarkan data tahun 2013.
31
Tabel Selisih Jumlah Penduduk Kabupaten Brebes
Jenis Kelamin BPS Disdukcapil Selisih
Laki-laki 886.698 944.651 57.953
Perempuan 877.950 891.903 13.953
Jumlah 1.764.648 1.836.554 71.906
Berdasarkan data tersebut, terdapat selisih jumlah penduduk yang cukup besar, yakni 71.906 jiwa. Selisih tersebut menyebar di seluruh kecamatan dan desa yang ada di Kabupaten Brebes. Perbedaan jumlah penduduk, khususnya jumlah penduduk kabupaten/kota yang dirilis oleh BPS dan Pemerintah Daerah sangat mungkin terjadi karena dua hal besar, yaitu perbedaan metodologi dan perbedaan waktu pendataan. (www.academia.edu)
Perbedaan jumlah penduduk ini jelas sangat berpengaruh terhadap prosentase kehadiran jumlah pemilih dalam Pemilu. Berdasarkan pengertian penduduk yang digunakan sebagai dasar untuk menetapkan pemilih, seperti dalam UU No 8 tahun 2012 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD, pada pasal 23 bahwa penduduk adalah Warga Negara Indonesia yang berdomisili di wilayah Republik Indonesia dan luar negeri. Dengan pengertian tersebut, maka penduduk suatu daerah dibuktikan dengan kepemilikan identitas diri, baik KTP, KK, SIM, Paspor dan lainnya. Sedangkan jika mengacu pada istilah yang ditentukan BPS, penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap. Jika seseorang beridentitas suatu daerah, namun tidak berada di daerah tersebut dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan, maka tidak dimasukkan dalam penduduk daerah tersebut. Namun yang bersangkutan dicatat dalam daerah yang ditempati saat pendataan.
Dengan asumsi tersebut, maka selisih jumlah penduduk antara BPS Kabupaten Brebes dengan Disdukcapil Kabupaten Brebes adalah hal
32
yang wajar. Sehingga otomatis pula, pada saat pemilihan umum terjadi, mereka yang didata dalam daftar pemilih mengacu pada pengertian Pemda, bisa terjadi yang bersangkutan masih berada di luar daerah di mana dia terdaftar.
Dari hasil jawaban kuesioner dari 100 responden yang dijadikan sampel, 13 orang atau 13 persen yang menyatakan tidak menggunakan hak pilih dalam Pemilu Legislatif 2014, alasan mereka adalah sibuk bekerja sebanyak 2 orang atau 15,38 persen, dan merantau ke luar kota/luar negeri sebanyak 7 orang 53,84 persen, dan 2 orang karena tidak terdaftar, serta 2 orang lainnya memberikan jawaban lainnya.
Sebagian besar responden yang tidak menggunakan hak pilihnya tersebut juga merasa menyesal. Itu terlihat dari jawaban responden yang berjumlah 9 orang atau 69,23 persen yang mengaku menyesal. Sedangkan yang merasa tidak menyesal hanya 4 responden atau 30,77 persen saja.
Dengan jawaban responden tersebut, data jumlah penduduk dari Disdukcapil yang dijadikan dasar penetapan daftar pemilih, yang jumlahnya lebih besar dari data jumlah penduduk dari BPS, ada indikasi atau diasumsikan bahwa selisih data tersebut adalah mereka yang merantau ke luar kota atau luar negeri. Mereka yang merantau, sebagian besar tidak menggunakan hak pilihnya.
Hal ini diperkuat dengan data rekomendasi dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Brebes, untuk mereka yang akan berangkat menjadi Tenaga Kerja (TKI) ke luar negeri. Selama tahun 2013 tercatat 6.591 orang dan tahun 2014 tercatat 2.867 orang. Keberadaan para TKI di luar negeri itu, rata-rata terikat kontrak selama dua tahun. Sehingga hampir dipastikan, mereka yang berangka menjadi TKI pada tahun 2013 dan 2014 tidak berada di Indonesia atau di daerah asal mereka. Namun mereka tetap tercatat sebagai pemilih di daerah asalnya. Meskipun di negara tujuan di luar negeri, mereka kemungkinan juga tercatat sebagai pemilih di luar negeri.
33
Belum lagi mereka yang sudah berangkat tahun-tahun sebelumnya dan kontraknya diperpanjang untuk beberapa tahun lagi. Termasuk warga Brebes yang berangkat menjadi TKI dari daerah lain di luar Brebes juga ada, meski tidak tercatat seberapa banyak. Namun itu fakta di sebagian masyarakat di Kabupaten Brebes yang mengadu nasib menjadi TKI di luar negeri.
Berikut data rekomendasi pembuatan paspor di kantor Disnakertrans Kabupaten Brebes tahun 2013 dan 2014.
NO KECAMATAN TAHUN JUMLAH
2013 2014 1 BANJARHARJO 558 257 815 2 BANTARKAWUNG 60 13 73 3 BREBES 109 51 160 4 BULAKAMBA 234 134 368 5 BUMIAYU 114 34 148 6 JATIBARANG 167 83 250 7 KERSANA 154 88 242 8 KETANGGUNGAN 140 64 204 9 LARANGAN 1,105 453 1,558 10 LOSARI 1,396 543 1,939 11 PAGUYANGAN 77 21 98 12 SALEM 0 3 3 13 SIRAMPOG 68 16 84 14 SONGGOM 1,427 637 2,064 15 TANJUNG 438 226 664 16 TONJONG 134 65 199 17 WANASARI 410 179 589 JUMLAH 6,591 2,867 9,458
Sumber: Dinsosnakertrans Kabupaten Brebes
Berdasarkan rumusan masalah yang pertama, apakah jenis pekerjaan dan kondisi geografis mempengaruhi tingkat kehadiran pemilih?
34
Berdasarkan data yang diperoleh di tiga kecamatan yang menjadi sampel dalam penelitian ini, Kecamatan Salem dengan kondisi geografis berupa daerah pegunungan, dengan mata pencaharian terbesar petani/peternak sebesar 57,25 persen dan buruh tani 29,28 persen, sehingga total penduduk dengan mata pencaharian petani/peternak dan buruh tani, ada 86,53 persen, ternyata tingkat kehadirannya tertinggi dibanding dengan kecamatan lain yang dijadikan sampel, yakni Kecamatan Songgom dan Kecamatan Brebes.
Berdasarkan data yang ada, Kecamatan Songgom yang merupakan dataran rendah, mata pencaharian penduduknya terbanyak adalah sebagai buruh tani sebesar 50,28 persen dan petani/peternak 26,42 persen. Sehingga total mata pencaharian buruh tani dan petani/peternak sebesar 76,70 persen.
Sementara di Kecamatan Brebes, buruh tani sebesar 29,47 persen dan petani/peternak 22,29 persen. Total mata pencaharian buruh tani dan petani/peternak sebesar 51,76 persen.
Dari data tersebut, bahwa kecamatan dengan mata pencaharian petani terbanyak, yakni Kecamatan Salem, ternyata memiliki tingkat kehadiran pemilih tertinggi. Hal itu juga terlihat dari jawaban responden yang dijadikan sampel, di Desa Kadumanis Kecamatan Salem, dari 19 responden yang pekerjaannya petani, semuanya atau 100 persen menggunakan hak pilihnya, baik pada saat Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
Sementara di Desa Jatimakmur Kecamatan Songgom, dari responden yang berprofesi sebagai petani sebanyak 11 orang, ternyata yang menggunakan hak pilihnya hanya 8 orang dan 3 orang tidak menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Legislatif. Sedangkan pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, 11 petani tersebut menggunakan hak pilihnya.
Di Kecamatan Brebes, di Desa Lembarawa dan Kelurahan Brebes, dari 5 responden yang berprofesi sebagai petani, hanya 4 orang yang
35
menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Legislatif. Namun pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden menggunakan hak pilih semuanya.
Sementara ibu rumah tangga, yang menjadi responden dalam penelitian ini ada 15 orang, dari tiga kecamatan yang ada, semuanya atau 100 persen menggunakan hak pilihnya. Sementara pekerja swasta, hanya 50 persen saja yang menggunakan hak pilihnya baik saat Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Dari 6 orang responden swasta, hanya tiga orang yang menggunakan hak pilihnya.
Di Kecamatan Songgom, penduduknya yang banyak menjadi TKI, dari 3 responden yang ada, 2 orang tidak menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Legislatif, dan hanya satu orang yang tidak menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
Secara lengkap, berdasarkan pekerjaan responden di tiga kecamatan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini, yang menggunakan hak pilihnya tercatat dalam tabel berikut ini.
REKAP HASIL SAMPLING KUESIONER RISET
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMILU BERDASARKAN PEKERJAAN
KABUPATEN : BREBES
KECAMATAN : BREBES, SONGGOM, SALEM JUMLAH RESPONDEN : 100 ORANG
NO PEKERJAAN PEMILU LEGISLATIF
MEMILIH TIDAK MEMILIH JUMLAH
1 2 3 4 5
1 KARYAWAN HONORER 1 0 1
2 PEDAGANG 14 2 16
3 PENSIUNAN 5 0 5
4 IBU RUMAH TANGGA 15 0 15
5 BURUH 5 1 6
6 SWASTA 3 3 6
36 8 PETANI 31 4 35 9 PELAJAR 1 0 1 10 TKI 1 2 3 11 GURU 2 0 2 JUMLAH 87 13 100 PROSENTASE (%) 87.00 13.00 100.00
NO PEKERJAAN PEMILU PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN
MEMILIH TIDAK MEMILIH JUMLAH
1 2 3 4 5
1 KARYAWAN HONORER 1 0 1
2 PEDAGANG 16 0 16
3 PENSIUNAN 5 0 5
4 IBU RUMAH TANGGA 15 0 15
5 BURUH 6 0 6 6 SWASTA 3 3 6 7 WIRASWASTA 9 1 10 8 PETANI 35 0 35 9 PELAJAR 1 0 1 10 TKI 2 1 3 11 GURU 2 0 2 JUMLAH 95 5 100 PROSENTASE (%) 95.00 5.00 100.00
Menjawab rumusan masalah kedua, yakni sejauh mana tingkat kesadaran pemilih dalam menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2014, dari 100 responden yang menyatakan menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Legislatif 2014 ada 87 orang atau 87 persen. Dari 87 orang yang menggunakan hak pilih, 73 orang atau 83,9 persen menjawab karena kesadaran sendiri. Kemudian 10 orang atau 11 persen menjawab karena ajakan tokoh masyarakat/KPPS/RT/RW. Dan 3 orang saja atau 3,3 persen
37
yang menjawab karena disuruh oleh caleg yang bersaing dalam Pemilu Legislatif tersebut.
Dalam hal lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS), untuk menjawab rumusan masalah kedua, juga didapati fakta berikut. Di mana TPS yang menjadi tempat pemilih menggunakan haknya, sebanyak 77 orang atau 88,5 persen menjawab mudah, karena TPS berada di dekat rumah mereka. Hanya 2 orang saja atau 2,29 yang menjawab susah, karena TPS jauh dari rumah. Dan 6 orang atau 6,89 persen menjawab lainnya.
Para pemilih juga semakin cerdas dalam menggunakan hak pilihnya. Hal ini dilihat dari jawaban responden untuk menjawab rumusan masalah keempat, tentang bagaimana pemilih menggunakan hak pilihnya. Di mana sebagian besar pemilih telah menggunakan hak pilihnya dengan memilih caleg secara langsung, yang memang menjadi pilihannya. Total ada 40 orang atau 45,97 persen yang memilih langsung calegnya saja. Sedangkan yang memilih partai dan calegnya ada 34 orang atau 39 persen. Dan yang memilih partainya saja ada 12 orang atau 13,79 persen. Hanya satu orang saja atau 1,14 persen yang menyatakan tidak memilih salah satu partai atau caleg alias golput. Alasannya tidak ada partai dan caleg yang cocok menurut dia.
Para responden juga memberikan alasan dalam menentukan pilihannya tersebut. Di mana mereka yang memilih caleg karena kenal dekat/teman/saudara dengan caleg yang bersangkutan, yakni sebanyak 23 orang. Kemudian karena visi dan misinya ada 19 orang dan arena partainya 13 orang. Kemudian asal pilih ada 15 orang dan hanya 2 orang saja yang memilih karena diberi uang/barang oleh caleg tersebut.
Terkait dengan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, ternyata dari 100 responden yang dijadikan sampel, 95 orang atau 95 persen menyatakan menggunakan hak pilihnya. Hal ini untuk menjawab rumusan masalah kelima, yakni sejauh mana pemilih tertarik pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. berdasarkan jawaban responden, hanya 5 orang atau 5 persen saja yang menyatakan tidak menggunakan hak pilihnya. Mereka
38
memilih dengan alasan karena kesadaran sendiri untuk memilih pemimpin sebanyak 67 orang (70,52 persen), calon presiden dan wakil presiden yang diidolakan 31 orang (32,63 persen), diajak tokoh masyarakat/ KPPS/ RT/ RW ada 2 orang (2,10 persen). Dan yang mengaku memilih karena diberi uang/barang ada 3 orang (3,15 persen).
Menjawab rumusan masalah keenam, terkait apa penyebab golput di kalangan masyarakat pemilih dan bagaimana harapan mereka, ditemukan beberapa jawaban. Berdasarkan data yang telah ditemukan dan dikomparasikan atau diperbandingkan, bahwa keinginan untuk tidak memilih dalam Pemilu, baik Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden dan Wakil Presiden hanya 1 orang saja atau 1 persen. Dengan alasan tidak ada partai atau caleg yang cocok. Sementara dari 13 orang atau 13 persen yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu 2014 lalu, sebagian besar karena merantau ke luar kota/luar negeri, yakni 7 orang atau 53,38 persen. Sibuk bekerja sebanyak 2 orang atau 15,38 persen, dan 2 orang karena tidak terdaftar, serta 2 orang lainnya memberikan jawaban lainnya.
Sebagian besar responden yang tidak menggunakan hak pilihnya tersebut juga merasa menyesal. Itu terlihat dari jawaban responden yang berjumlah 9 orang atau 69,23 persen yang mengaku menyesal. Sedangkan yang merasa tidak menyesal hanya 4 responden atau 30,77 persen saja.
Para responden sendiri berharap agar Pemilu yang ada berjalan sukses dan lancar, para wakil rakyat dan pemimpin yang terpilih untuk menepati janji-janjinya selama kampanye. Itu disampaikan para pemilih dalam menjawab pertanyaan kuesioner terkait harapan agar Pemilu sukses dan lancar.
Selain itu, para responden juga berharap pemerintah banyak melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Total ada 32 responden yang mengharapkan itu. Kemudian juga harapan 27 responden pemilih kepada KPU untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat. 8 responden
39
lainnya meminta agar partai politik melakukan sosialisasi kepada konstituennya.
Selama ini masyarakat mengetahui Pemilu paling banyak diperoleh dari media massa (TV, Koran, majalah, tabloid dan lain-lain) sebanyak 43 responden. Kemudian mengetahui Pemilu dari penyelenggara Pemilu (KPU, PPP, PPS, maupun KPPS) sebanyak 33 responden. Sedangkan responden yang mendapat pengetahuan Pemilu dari partai politik hanya 5 orang saja. Kemudian dari pemerintah sebanyak 14 orang dan tokoh masyarakat 20 orang. Sementara dari internet 2 orang, walaupun internet yang dimaksud juga termasuk kategori media massa.
40