• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Gabungan antara Existing Condition dan Need Analysis

V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

a. Pencemaran fisik-kimia dan biologi di sumur bawah dan atas dari TPA seperti: pH, BOD5, COD, nitrat, nitrit, padatan terlarut, E. coli dan coliform, dan sumur yang di atas dari TPA telah melampaui baku mutu lingkungan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 1988 dan Keputusan Gubernur KDH Ibukota Jakarta Nomor 1608. Kualitas rata-rata air Sungai Ciketing secara keseluruhan telah terjadi peningkatan pencemaran.

b. Pemanfaatan sebagai TPA Terpadu menyatukan pemanfaatan nilai ekonomi sampah baru dan sampah lama menjadi kompos dan sampah non organik bahan daur ulang, dimana pemanfaatan setiap zone sebagai berikut: 1). Zone I dan II digunakan sebagai hutan kota dan penghijauan; 2). Zone III sampai dengan Zone V sebagai TPA Sampah. Jadi pemanfaatan TPA pascaoperasi terjadi keterpaduan antara hutan kota/penghijauan dan TPA sampah. Untuk itu TPA Terpadu mempunyai kesesuaian terbaik dan sinergis antara pengelolaan sampah dengan hutan kota/penghijauan, komposting serta daur ulang. Keterpaduan pengelolaan sampah DKI Jakarta dan Kota Bekasi dengan penghijauan, dan kawasan TPA menjadi strategis, potensial untuk pembuatan kompos dan proses daur ulang. Artinya dengan memanfaatkan menjadi TPA Terpadu secara propesional TPA menjadi kegiatan mengolah sampah dan kegiatan ekonomi dengan keterlibatan swasta sebagai pengelola, masyarakat sekitar lokasi sebagai tenaga kerja dan pemulung sebagai pemilah dan pengumpul sampah untuk di daur ulang serta lokasi tersebut dapat menjadi pusat kajian atau penelitian model pengolahan sampah Asia.

c. Dengan memanfaatkan sebagai TPA Terpadu akan menimbulkan multiplier effect

bagi lingkungan, masyarakat sekitar TPA dan pemerintah sebagai berikut:

1). Bagi masyarakat sekitar TPA, terciptanya lapangan kerja dengan pelibatan secara langsung dalam pemanfaatan TPA pascaoperasi pada saat perencanaan, kontruksi maupun operasi, karena operasional TPA dapat menciptakan lapangan kerja yang melibatkan tenaga kerja unskill dalam proses pemilahan sampah, pembuatan kompos, pembuatan bahan bangunan dan lainnya;

2). Bagi lingkungan, kompos yang dihasilkan bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan lingkungan melalui kegiatan penghijauan, pemulihan ekosistem yang rusak, dan menghemat penggunaan lahan TPA.

3). Bagi pertanian, kompos yang dihasikan dapat mengurangi tingkat keasaman tanah lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia secara terus menerus, disamping itu kompos dapat meningkatkan produktivitas lahan serta membantu perairan dalam menga tasi kelengkapan fisik.

4). Pengembangan ekonomi lokal, dengan terkonsentrasinya tenaga kerja dalam jumlah besar, membuka peluang usaha baru bagi kegiatan lainnya berupa kegiatan warung, jasa keuangan, ketring serta usaha rumah/kost/pengontrakan rumah.

5). Bagi Pemerintah Daerah, terserapnya tenaga kerja unskill dapat mengurangi kerawanan sosial yang ditimbulkan karena ketiadaan lapangan kerja, hasil produk kegiatan ini, menjadi sumber PAD dan penerimaan pajak bagi negara.

d. Berhasil tidaknya TPA Terpadu, tergantung dari dukungan masyarakat dan empat faktor yang mempunyai pengaruh tinggi dan ketergantungan yang tinggi yaitu: 1). Luas Lahan; pemanfaatan lahan TPA pada zone I sampai dengan zone V perlu dilengkapi dengan rencana tindak sebagai arahan dan acuan Pemerintah DKI Jakarta, Pemda Kota Bekasi, swasta dan masyarakat. 2). Instalasi Pengelolaan Air Sampah (IPAS), perlu ditingkatkan dengan pengurangan BOD, COD sampai batas baku mutu lingkungan, melengkapi dengan aerator dan kapasitasnya ditingkatkan sampai dengan 130 persen dan menghilangkan unsur toxic. 3). Peraturan Perundangan; Pusat sudah saatnya merumuskan sampah regional dan menerbitkan Undang- undang tentang pembentukan organisiasi untuk pemusnahan sampah gabungan, segera dibuat standar pengumpulan, pengolahan dan pemusnahan sampah. Dasar hukum tentang fungsi operator seperti menerima limpahan wewenang dan tanggung jawab pengelolaan sampah dari Pemerintah Daerah, perlu segera dirumuskan. 4). Pendanaan; Biaya pendampingan investasi oleh swasta dibatasi pada dana conterpart seperti prasarana dan sarana pendukung yang strategis seperti penyediaan lahan, jalan lingkungan, prasarana dan sarana ke PU-an. Dana pinjamman jangka panjang Pemda DKI Jakarta mengacu

Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Serta tiga faktor yang mempunyai pengaruh tinggi walauapun ketergantungan antara faktor yang rendah: 1). Teknologi; Pemilihan teknologi agar dapat memadukan beberapa metode pemusnahan sampah upaya mengurangi

(reduce), memakai kembali (re-use), mendaur ulang (recyeling) sampah dan

mengganti (replace) secara lebih terpadu. 2). Keterlibatan swasta; Perlu ditingkatkan dan dikembangkan untuk berinvestasi membangun fasilitas pengelolaan sampah termasuk pengoperasiannya. Pengembangan kemitraan dengan swasta dalam penyediaan pelayanan dan investasi prasarana dan sarana persampahan dengan meningkatkan iklim yang kondusif. dan 3). Donor Agency;

investasi ini mengutamakan perbaikan pengembangan lokasi TPA. Sumberdana untuk investasi adalah anggaran tahunan (APBD) dan pinjaman luar negeri dan dalam negeri dalam bentuk Subsidiary Loan Agreement (SLA).

Faktor dominan dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat, hasil gabungan antara existing condition dengan need analysis antara lain adalah keterlibatan swasta, donor agency dan teknologi.

e. Model pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat melibatkan pihak swasta untuk mendisiminasikan faktor teknologi, sedangkan keterlibatan pihak asing (donor agency) perlu dikoordinasikan dengan pihak pemerintah. 5.2. SARAN

a. Pengelolaan air lindi pada IPAS 1 sampai dengan IPAS 4 sebaiknya masih tanggung jawab Pemerintah DKI Jakarta, perlu ditingkatkan dengan pengurangan BOD dan COD sampai dengan batas yang dipersyaratkan baku mutu lingkungan agar tidak mencemari sungai dan sumur-sumur penduduk sekitar TPA, beban IPAS perlu dijaga dengan menambahkan bangunan interciptor agar air hujan tidak masuk dan melengkapi IPAS dengan aerator, dan kapasitasnya ditingkatkan sampai 130 %, menghilangkan unsur toxic melalui pengolahan kimia- fisik sebelum memasuki proses biologi.

b. Agar TPA Terpadu dapat efektif dan optimal, sampah yang ke TPA terlebih dahulu dilakukan pemisahan sampah organik dan an organik dan memperhatikan

luas lahan yang efektif digunakan dan melengkapi rencana tindak sebagai acuan DKI Jakarta, Pemda Kota Bekasi, swasta dan masyarakat yang dilengkapi zone penyangga yang berfungsi untuk mengurangi gangguan bau, kebisingan dan estetika.

c. Keterbatasan dana operasional dan ivestasi, pembangunan dan pengelolaan TPA, harus memperhitungkan dalam menentukan teknologi, investasi yang murah salah satu kriteria. Pendampingan investasi swasta dibatasi pada dana conterpart prasarana dan sarana pendukung yang strategis seperti penyediaan lahan, jalan lingkungan prasarana dan sarana. Pemerintah Daerah DKI Jakarta me mungkinkan perolehan pinjaman jangka panjang dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah lain, lembaga keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank dan dana luar negeri, mengacu Undang- undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

d. Pemanfaatan sebagai TPA Terpadu sebaiknya digunakan bersama oleh Pemerintah DKI Jakarta dan Kota Bekasi yang secara geografis letaknya berdekatan, operator pelaksana dibentuk perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas, yang kepemilikan sahamnya dimiliki oleh pemerintah, pemerintah daerah dan swasta serta masyarakat. Keterlibatan masyarakat sekitar TPA dalam memanfaatkan TPA sampah pascaoperasi perlu diperhatikan oleh pengambil keputusan baik pihak pemerintah maupun swasta.

e. Model pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi perlu dilengkapi dengan analisis dinamis agar dapat dipridiksi perubahan dari waktu kewaktu, hal ini dapat dijadikan dasar operasional bagi pengambil keputusan.

DAFTAR PUSTAKA

Adimihardja, K. dan H, Hikmat. 2001. Participatory Research Appraisal: Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat. Humaniora Utama Press. Bandung.

Alaer, G.S. dan Sumesti. 1984. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional. Surabaya.

Arianta, I.M. 1995. Aspek Sosial Lembaga Perkeriditan Desa: Paktor Penyebab Partisipasi dan Status Sosial Anggota (Kasus Perbedaan LPD Berhasil dan Kurang Berhasil di Kabupaten Badung, Bali) (Tesis). Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Azwar, A. 1983. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Penerbit Mutiara. Jakarta.

Bernadette, W. 1998. Panduan Pemberitaan Lingkungan Hidup (Acuan untuk Wartawan), Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Bouwer, H. 1978. Groundwater Hydrology. Mc.Grow-Hill Kogakusha, Ltd.Tokyo.

Bumberger, M dan K. Shams. 1989. Community Participation in Project Management. Asian and Pacific Development Centre. Kuala Lumpur.

Butler, K. 2002. Landfill Resource Recovery (LRR) on LPA Bantar Gebang. International Centre for Application of Solar Energy.

Cary, L. J. 1970. Community Development as a Perocess. University of Missouri. Columbia.

Center, L.W. 1977. Environmental Impac Assessment. Mc.Graw Hill. N.Y. 331 pp.

Chen, K.Y.and F.R. Bowerman. 1975. Mechanisms of leachate Formation in Sanitary Landfill, Rececling and Disposal of Solid Waste, Industrial, Agriculter, Domestic. F.F. Yen (ed). Ann Arbor Science. Michigan.

Clark, J.R. 1977. Costal Ecosystem Management. Jhon Wiley & Sons. New York.

Craig, G. dan M. Mayo (ed). 1995. Community Enpowerment: A Reader in Participation and Development. Zed Books. London.

Cressey, R.P. 1987. Participation Review. University Glasgow Europeans Foundation. Glasgow.

Departemen PU RI. 1999. Tata Cara Pere ncanaan Tempat Pembuangan Akhir. Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta.

Depdagri RI. 1996. Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa. Departemen Dalam Negeri. Jakarta.

Depkes RI. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat Pengawasan Kualitas Air Minum. Departemen Kesehatan. Jakarta.

Diana, E. 1992. Pemantauan Dampak Lokasi Pembuangan Akhir Sampah secara Sanitary Landfill Bantar Gebang terhadap Kualitas Air Permukaan, Air Tanah dan Sosial Ekonomi Masyarakat di Sekitarnya. (Tesis) Program Pascasarjana. IPB Bogor.

Dinas Kebersihan DKI Jakarta. 2002. Evaluasi Pemantauan TPA Sampah Bantar Gebang Bekasi.

Dinas Kebersihan DKI Jakarta. 2005. Laporan Akhir Western Java Environmental Management Project, Solid Waste Management for Jakarta.

El-Fadel, M., A.N. Findikakis, and O.J. Leckie, 1997. Environmental Impacts of Solid Waste Landfilling, J. Environ Mgort. 50-1-25.

Elfian, E. 2001. Jangan Menunggu Kapal Pecah. Lembaga Penerbit FE-UI. Jakarta.

Emilsalim. 2004. Bumi Makin Panas, Banjir Makin Luas, Banyak Tragedi Kehancuran Hutan. Yayasan Nuansa Cendekia.

Environmental Protection Agency. 1977. Water quality criteria: A. Report of the Committee on water quality criteria. Environmental Agency. Washington D.C.

Fairchild, H. P. 1977. Dictionary of Social Science and Related Science and Related Science. Littlefield, Adams & Co. New Jersy.

Foundation Environmental Management Couses from AusAID’s PCI Project. 1999. Water Quality Management Course.

Friedmann, J. 1992. Empowerment the politics of alternative development. Cambrigl. Black Will.

Garna, J., H. Versnel, dan A. Enka. 1982. Sistim Mulung di Sukabumi, Informala Sector Project Cooverative Action Research Program, Bandung.

Godet, M. 1999. Scenarios and Strategies, A. Toolbox For Scenario Planning Librairie des Arts et Matiers. Paris. France.

GTZ dan Meneg LH RI. 1997. Pedoman Pendekatan Partisipatif Prencanaan Program Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Jakarta.

Hadiwiyoto, S, 1993. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Idaya. Jakarta.

Haeruman, H. 1979. Perencanaan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sekolah Pascasarjana. Jurusan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Institut Pertanian Bogor.

Hamidjojo, S. 1993. Strategi Pengembangan dan Peningkatan Pembangunan Masyarakat dalam Pembangunan Desa: Suatu Evaluasi dan Tinjauan Perspektif Masa Depan. BKKBN, Jakarta.

Hardjomidjojo. 2002. Panduan Analisis Prospektif. Bahan Kuliah Analisis System dan Permodelan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan. Program Pascasarjana IPB Bogor.

Hassan. 1973. Peranan Pemuka-Pemuka Agama Dalam Peningkatan Partisipasi Agama Dalam Pembangunan. YTKI Departemen Agama, FES. Jakarta.

Hikmat, H. 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Humaniora Utama Press. Bandung.

Huntington, Samuel P. and Joan M. Nilson, 1977. No. Eary Choice: Political Participation In Developing Countries Harvard University Press, Cambrige, Massachusets.

Husin, Y.A. dan E. Kustaman. 1992. Metoda dan Teknik Analisis Kualitas Air. PPLH- Lembaga Penelitian IPB. Bogor.

(IRC) International Resource Centre (UNICEF) United Nations Children's Fund, Yayasan Dian Desa, 1999. Pengelolaan yang Berkesinambungan dalam Program Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi, Jakarta.

Jensen, B. 1992. Spring Research Series Planning as a Dialogue.

Juli, S.S. 1994. Kesehatan Lingkungan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Koentjaraningrat. 1984. Masyarakat Desa di Indonesia. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Konsultan Independen. 2003. Final Report Evaluasi Pemanfaatan TPA Bantargebang Kerjasama Dinas Kebersihan Propinsi DKI Jakarta, Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Universitas Indonesia dan Pusat Studi Pengembangan Lingkungan Universitas Islam ”45” Bekasi.

Kota Bekasi. 1999. Kota Bekasi Dalam Angka. Badan Pusat Statistik. Bekasi.

MacArdle, J. 1989. Community Development Tools of Trade. Community Quartely Journal. Vol. 16.

Marimin. 1999. Penyelesaian persoalan AHP (Analytical Hierarchy Process) dengan Criterium Decision Plus. Group Pengembangan Teknologi Manajemen dan Sistem Informasi Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB.

Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Marzali, A. 2003. Teknik Identifikasi Kebutuhan dalam Program Community Development dalam Akses Peranserta Masyarakat: Lebih Jauh Memahami Community Development. Diedit oleh Bambang Rudito, Adi Prasetijo, dan Kusairi. Penerbit ICSD. Jakarta.

Meneg LH RI dan Japan International Cooperation Agency (JICA). 2003. The Study for Development of Regulatory System of Solid Waste Management. Jakarta.

Meneg LH RI. 1999. Kebijaksanaan, Strategi dan Rencana Aksi Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2000-2025. Menteri Negara Lingkungan Hidup. Jakarta.

Meneg LH RI. 2002. Himpunan Peraturan Perundang-undangan di Bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pengendalian Dampak Lingkungan Era Otonomi Daerah, Jakarta: Koperasi Bapedal Lestari.

Moeliono, I. 2004. Partisipasi Manipulatif: Catatan Reflekktif tentang Pendekatan PRA dalam Pembangunan Masyarakat. http://www.balaidesa.or.id/prapar.htm.

Mubyarto. 1985. Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan BPEE. Yogyakarta.

NTAC. 1968. Water Quality Criteria. Federal Water Pollution Control Administration. Washington.

Oppenheim, A.N. 1973. Questionnare Design and Attitude Measurement. Heinemanm, London.

Partoatmodjo, S. 1993. Pengelolaan Sampah Pola Padang. Bahan Kuliah masalah Pembangunan da n Lingkungan. Pascasarjana IPB Bogor.

Payne, M. 1997. Modern Social Work Theory. Macmillan Press Ltd. London.

Pemda DKI Jakarta, 1997. Analisis Dampak Lingkungan Pembangunan dan Pengelolaan TPA Bantar Gebang Bekasi.

Pescod, M.B. 1973. Investigation of Rational Effluen and Stream Standa rd for Tropical Countries. AIT. Bangkok.

Poerwadarminto. 1986. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka. Jakarta.

Prijono dan Pranarka. 1996. Pemberdayaan: Konsep, Kebijakan, dan Implementasi. CSIS. Jakarta.

Rojek and Chris. 1986. The Subject in Social Work. British Journal of Social Work 16(1) 65-79.

Rozaki A. 2004. Promosi Otonomi Desa, Penerbit IRE Press Yogyakarta.

Saeni, M.S. 1989. Bahan Pengejaran Kimia Lingkungan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Institut Pertanian Bogor.

Saeni, M.S. 1991. Dampak pada kualitas air. Kursus Dasar Penyusun AMDAL PPLH Lembaga Penelitian IPB-Bogor.

Saeni, M.S. 1997. Penentuan Tingkat Pencemaran Logam Berat dengan Analisis Rambut. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Kimia Lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. IPB.

Sa’id, G. 1987. Sampah Masalah Kita Bersama. Madiyatama Sarana Perkasa. Jakarta.

Saaty, T.L. 1983. Decision Making for Leaders: The Analytical Hierarchy Process for Decision in Complex World RWS Publication, Pittsburgh.

Sahidu, A. 1998. Partisipasi Masyarakat TaniPengguna Lahan Sawah dalam Pembangunan Pertanian di Daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat. (Disertasi) Program Pascasarjana, IPB. Bogor.

Samom, M., C.L. Sales, and S. Phunsiri. 2002. Solid Waste Racycling Disposal and Management in Bangkok. J. Environ Res 28:106-112.

Santoso, P. 2002. Merubah Watak Negara. LAPPERA. Pustaka Utama. Yogyakarta.

Saruji, D. 1986. Sampah Ditinjau dari Segi Kesehatan Lingkungan. Dalam Seminar Pengelolaan Sampah di Kotamadya Surabaya.

Sastropoetro, R. A. dan Santoso, 1988. Partisipasi Komunikasi, Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan. Penerbit, Alumni. Bandung.

Schmeider, W. 1970. Hydrologic Imlication of Solid Waste Disposal.U.S. Geological Survey. Washington D.C.

Siegel, S. 1990. Statistik Nonparametrik, untuk Ilmu- ilmu Sosial. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Silalahi, T.S. 1980. Studi Kualitas Fisik -Kimia Air Kali Cakung Sehubungan dengan Daerah Industri Pulo Gadung di DKI Jakarta. (Tesis) Fakultas Pascasarjana, IPB. Bogor.

Slamet, J.S. 1994. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Soekanto. 1986. Sosiolog: Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Soemirat, J. 1994. Kesehatan Lingkungan. Gajah Mada Press. Jakarta.

Soeratmo, F.G. 1998. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Soeratmo, F.G. 2001. Panduan Penelitian Multidisiplin. IPB Press.

Soeratmo, F.G. 2002. Penanganan Sampah di Daerah, bahan rapat teknis alternatif solusi penangan sampah di daerah.

Soewedo, H. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Indayu. Jakarta.

Syaukani, H.R. 1999. Pokok-pokok Pemikiran Pemberdayaan Masyarakat. Gerbang Dayaku.

Suryanto. 1988. Persampahan. Jakarta.

Surat Perjanjian antara Pemda DKI Jakarta dengan Kota Bekasi. 1999. Nomor 96 Tahun 1999/168 tentang Pengelolaan Sampah dan tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kecamatan Bantar Gebang. Bekasi.

Sumodiningrat, G. 1997. Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat PT. Bina Rena Pariwara, Jakarta.

Sumardjo dan Saharudin. 2003. Metode-Metode Partisipatif Dalam Pengembangan Masyarakat.

Sumitro, B.S. 1991. Studi Pendahuluan tentang Komposisi Kimia Energi Pembakaran dan Mikroorganisme Dominan pada Sampah di Kotamadya Malang. Jurnal Universitas Brawijaya, Malang 3:9 -15.

Supriatna, T. 1997. Birokrasi, Pemberdayaan dan Pengentasan Kemiskinan. Humaniora Utama Press. Bandung.

Suyoto, B. 2001. Progress Report I Proyek Community Development Dalam Pengelolaan Sampah Secara Partisipatif di Desa Sumur Batu Kecamatan Bantar Gebang, Bekasi. Proyek Kerjasama antara Komite Pemantauan Sampah oleh YPKM dengan dukungan dana UNDP.

Suyoto, B. 2004. Malapetaka Sampah, Kasus TPA Bantar Gebang, Kasus TPA dan IPLT Sumur Batu serta Kasus TPST Bojong. Adi Kencana Aji. Jakarta.

Stewart, Aileen Mitchell. 1994. Empowering People. Pitmen Publishing. London.

Supardi, I. 1994. Lingkungan Hidup dan Kelestariannya. Penerbit Alumni. Bandung.

Tchobanolous.1977. Solid Waste Engeneering Principles and Management Issues. Mc. Graw Hill Book Company. New York.

Tchobanolous. 2002. Introduction In George Tchobanolous dan Frank Kreith, Handbook of Solid Maste Management. McGrow-Hill Companies, Inc., New York.

Thank. 1985. Waste disposal and resource recovery. In Proceeding of Seminar on Solid Management Asian Institut of Tehchnological. Bangkok.

Tjokroamidjojo, H. Bintoro dan A.R, Mustopadidjaja. 1980. Teori Strategi Pembangunan Nasional. Gunung Agung. Jakarta.

Tonny, F. 1990. Metoda dan Teknik Sosial Ekonomi. Kursus Penyusunan AMDAL IPB Bogor.

Untung, O. 1995. Menjernihkan Air Kotor. Puspa Swara. Jakarta.

Uphoff. 1988. Menyesuaikan Proyek pada Manusia. Dalam Mengutamakan Manusia di dalam Pembangunan: Variabel- variabel Sosiologi di dalam Pembangunan Pedesaan. UI-Press. Jakarta.

Usman, S. 2003. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Widarto L. 1996. Membuat Alat Penjernih Air. Kanisius. Yogyakarta.

Widjaja, A.W. 1986. Peranan Motivasi dalam Kepemimpinan. Akademika Pressindo. Jakarta.

Widyatmoko. 2001. Menghindari, Mengolah dan Menyingkirkan Sampah. Abdi Tandur. Jakarta.

Wuryadi. 1990. Telaah Kelangsungan Hidup Escherichia coli dalam Air Sumur Gali dan Kaitannya sebagai Indikator Pencemaran Tinja dalam System Air Tanah. Fakultas Pascasarjana IPB. Bogor.

Lampiran 1: Pertanyaan Analisis Prospektif

PEMANFAATAN TPA SAMPAH

PASCA OPERASI BERBASI S MASYARAKAT

( Studi Kasus TPA Bantar Gebang, Bekasi )

Identitas Responden

Nama : ...

Alamat : ...

Assalamualaikum Wr.Wb.

Nama saya Royadi, pekerjaan Staf Ditjen Bina Bangda, Departemen Dalam Negeri. Sementara ini saya sedang mengikuti Sekolah Pascasarjana S3 IPB, Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, dibawah Bimbingan Prof.Dr.Ir.M. Sri Saeni, MS, Dr.Ir. Hartrisari H, DEA dan Dr.Ir. Lala M. Kolopaking, MS. Sehubungan dengan penyusunan disertasi yang berjudul ”Pemanfaatan TPA Sampah Pascaperasi Berbasis Masyarakat, studi Kasus TPA Bantar Gebang Bekasi”. TPA Bantar Gebang luas 108 Ha terdiri 5 zona, secara administrative berada di Kota Bekasi. Kondisi TPA saat ini sudah penuh, keadaan yang terjadi dalam TPA proses akumulasi, pembentukan air lindi, gas, degradasi dan perasapan air lindi. Oleh karena itu dampak lingkungan pascas operasi tergantung dari pemanfaatannya.

Besar harapan saya Bapak/Ibu dapat berpartisipasi dalam penelitian ini dengan cara: !). Menuliskan jawaban apa yang menjadi faktor kunci/penting/strategis, 2).Membandingkan pengaruh langsung antar faktor (pada butir a) dalam pemanfaatan TPA sampah pasca operasi berbasis partisipasi masyarakat. Atas kesediaan Bapak/Ibu saya haturkan terima kasih.

SEKOLAH PASCASARJANA

I NSTI TUT PERTANI AN BOGOR

1. Faktor - faktor kunci (penting dan strategis) dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat (Need Analysis):

A.Pendanaan B.Dukungan Pemda C.Teknologi D.Kelembagaan E.Peraturan Perundangan F.RTRWK G.SDM

H.Kerjasama Lintas Sektor I. Persepsi masyarakat

J. Partisipasi masyarakat ikut dalam perencanaan K.Proses akumulasi dan degradasi

L.Limpasan dan penyerapan air lindi M. Pencemaran sumur

N.Pencemaran sungai O.Konflik

P.Keterlibatan Pemerintah Pusat

Q.Donor Agency

R.Dukungan legislatif DPRD/DPR-RI S.Keterlibatan Swasta

1. Pengaruh langsung antar faktor dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyar akat di TPA Bantar Gebang Bekasi.

Pedoman penilaian:

Skor: O

Keterangan:

Tidak ada pengaruh; 1. Berpengaruh kecil; 2. Berpengaruh sedang; 3. Berpengaruh kuat. Pedoman pengisian:

§ Dilihat dulu apakah faktor tersebut tidak ada pengaruhnya terhadap faktor lain, jika ya beri nilai O.

§ Jika ada pengaruh, selanjutnya dilihat apakah pengaruhnya sangat kuat, jika ya beri nilai 3.

§ Jika ada pengaruh, baru dilihat jika pengaruhnya kecil=1, atau berpengaruh sedang=2.

Tabel 1: Pengaruh langsung antar faktor dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat (need analysis).

Dari Terhadap A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S A 3 3 2 2 3 2 2 2 1 2 2 1 1 2 3 3 3 3 B 3 2 3 3 2 3 3 2 3 1 2 2 2 3 3 2 3 3 C 3 3 2 2 2 3 2 2 3 1 2 2 2 1 2 2 3 3 D 2 2 2 2 2 3 2 2 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 E 2 3 2 3 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 F 1 2 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 1 2 2 G 2 2 3 2 2 1 2 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 H 2 2 2 1 2 1 1 1 1 0 0 0 0 1 2 1 3 1 I 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 2 1 3 1 0 1 0 J 1 2 1 1 1 1 2 1 3 1 0 0 1 2 0 2 1 2 K 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 2 2 2 2 0 0 1 0 L 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 2 3 3 2 1 0 1 0 M 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 3 1 3 3 1 0 1 0 N 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 2 1 2 2 0 0 2 1 O 1 2 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 0 P 2 3 2 2 3 2 1 3 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 Q 3 3 2 3 3 1 3 2 1 1 0 0 0 0 0 1 3 3 R 3 3 2 3 3 2 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 1 2 S 3 3 3 1 3 2 1 3 1 2 1 1 2 1 1 2 2 2 Sumber: godet, 1999.

2. Faktor-faktor kunci (penting/strategis) dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat (existing condition):

A. Luas lahan

B. Volume sampah

C. Tinggi tumpukan sampah

D. Pembentukan air lindi

E. Gas metan F. Pencemaran sumur G. Pencemaran sungai H. E. Coli I. Distribusi Lalat J. I PAS K. Pendapatan Masyarakat L. Partisipasi masyarakat M. Frekwensi konflik

N. Pengaruh daerah sekitar

O. Pemulung

P. Pengelola

Q. Kebijakan Pemerintah

R. Pencemaran udara

S. Kebisingan

2. Pengaruh langsung antar faktor dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat di TPA Bantar Gebang Bekasi.

Pedoman penilaian: Skor:

O

Keterangan:

Tidak ada pengaruh; 1. Berpengaruh kecil; 2. Berpengaruh sedang; 3. Berpengaruh kuat. Pedoman pengisian:

§ Dilihat dulu apakah faktor tersebut tidak ada pengaruhnya terhadap faktor lain, jika ya beri nilai O.

§ Jika ada pengaruh, selanjutnya dilihat apakah pengaruhnya sangat kuat, jika ya beri nilai 3.

§ Jika ada pengaruh, baru dilihat jika pengaruhnya kecil=1, atau berpengaruh sedang=2. Tabel 2: Pengaruh langsung antar faktor dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat (existing condition).

Dari Terhadap A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S A 3 2 2 1 1 2 1 1 2 2 1 1 2 2 2 3 2 2 B 3 3 1 3 3 3 2 3 2 2 1 3 3 3 3 2 2 1 C 3 3 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 D 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 E 2 2 3 1 0 0 0 0 0 1 2 1 2 0 2 2 3 0 F 3 2 2 2 0 3 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 0 0 G 2 2 2 2 0 2 1 0 2 0 0 2 1 1 2 2 1 0 H 1 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 0 I 1 3 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 2 1 1 0 J 3 2 2 2 2 2 2 1 0 0 1 2 2 1 2 2 1 0 K 1 2 1 0 2 0 0 0 0 0 1 0 1 2 1 1 0 1 L 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 2 1 0 0 M 1 1 2 1 2 1 2 1 1 1 0 1 1 1 2 1 0 0 N 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 O 3 3 2 1 2 1 2 2 3 1 2 1 2 2 2 2 1 2 P 2 2 2 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 Q 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 R 1 2 2 1 1 0 0 1 1 0 0 0 3 2 1 3 3 1 S 2 2 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 2 1 2 1 1 Sumber: godet, 1999.

Tabel 3: Faktor-faktor Pene ntu Hasil Gabungan (existing condition dan need anayis). Dari Terhadap A B C D E F G H I J A 3 3 3 3 1 0 2 3 0 B 3 3 3 2 0 0 1 2 0 C 3 2 3 3 1 0 2 3 0 D 3 3 3 2 2 0 2 2 0 E 2 1 3 2 1 0 1 3 0 F 0 0 2 1 1 0 3 2 0 G 0 0 0 0 0 0 2 3 1 H 1 0 2 1 0 1 2 3 1 I 3 2 3 2 1 1 3 2 0 J 1 1 0 0 0 0 1 2 0 Sumber: godet, 1999.

Lampiran: 2. Curah Hujan Bulanan di Bekasi (mm), tahun 1979-1988, Sta 841 Bekasi

No Tahun Jan Feb Mar April Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nop Des

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 1 1988 339 - - - - 2 1987 382 - - - - 3 1986 190 136 222 282 112 194 141 172 241 255 295 198 4 1985 - - - 241 - 109 184 - 182 198 47 5 1984 - 271 205 - 206 - 43 26 - - - 6 1983 372 170 105 315 403 - - - - 7 1982 333 187 360 265 54 121 6 - - - - 8 1981 464 121 270 327 26 159 153 136 50 199 244 464 9 1980 454 162 318 72 109 36 88 170 87 250 394 304 10 1979 391 132 159 205 147 5 27 113 195 286 533 293 Rata-rata 3666 168 234 244 151 104 92 123 151 238 31 157,30

Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta. Keterangan: - : Tidak terdeteksi.

Lampiran: 3. Jumlah Curah Hujan Bulanan di Bekasi (mm), tahun 1979-1988, Sta 841 Bekasi

No Tahun Jan Feb Mar April Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nop

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1 1988 21 - - - - 2 1987 25 - - - - 3 1986 18 16 14 14 6 10 9,5 9 10 12 20 4 1985 - - - 5 11 0 11 12 6 5 1984 - 15 9 9 7 - 3 5 - - - 6 1983 14 7 7 7 7 - - - - 7 1982 15 6 13 13 3 3 1 - - - - 8 1981 13 6 13 13 3 5 10 7 4 7 7 9 1980 17 11 12 72 6 4 6 7 4 9 14 10 1979 18 19 13 12 4 2 2 7 13 8 19 Rata-rata 18 11 12 11 129 9 6 7 8 10 13

Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta. Keterangan: - : Tidak terdeteksi.

Lampiran 4: Analisis Kualitas Air Lindi sebelum diolah IPAS 1 (Inlet), 2004. Air Lindi IPAS I (Inlet)

Dokumen terkait